(Desk Study) Metrik dan kerangka pengukuran kinerja terintegrasi apa yang dapat menangkap kawasan industri sebagai sistem sosioteknik kompleks, bukan kumpulan fasilitas terpisah?

## Abstract

**Latar.** Kawasan industri lazim dievaluasi melalui kumpulan indikator silo—produktivitas ekonomi, kepatuhan lingkungan, keselamatan kerja—yang diperlakukan sebagai dimensi terpisah dan dijumlahkan secara aditif. Pendekatan ini mengabaikan sifat kawasan sebagai sistem sosioteknik kompleks: jejaring entitas, aliran material-energi-informasi, dan aktor manusia yang saling bergantung secara non-linear, sehingga kinerja agregat tidak dapat direduksi menjadi penjumlahan kinerja fasilitas individual.

**Tujuan.** Artikel ini membangun kerangka konseptual pengukuran kinerja terintegrasi yang memperlakukan kawasan industri sebagai entitas sistemik, serta menurunkan kriteria pemilihan metrik yang menangkap properti emergen—keterhubungan, redundansi, resiliensi, dan distribusi.

**Metode.** Studi menggunakan sintesis konseptual terstruktur yang mengintegrasikan tiga tradisi: ekologi industri/analisis jejaring, teori sistem sosioteknik, dan teori kompleksitas. Kerangka diilustrasikan secara non-konfirmatori melalui kasus PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) berbasis data sekunder publik.

**Temuan utama.** Kami mengusulkan kerangka empat-lapis (node, jejaring, sistem, lanskap) berbasis metrik relasional, bukan agregatif, dan menunjukkan bahwa indikator konvensional dapat memberi sinyal sehat pada level fasilitas sembari menyembunyikan kerapuhan sistemik—konsentrasi anchor tenant, eksternalitas terdistribusi tidak merata, dan ketergantungan struktural.

**Implikasi.** Kerangka ini menawarkan dasar konseptual bagi tata kelola kawasan dan menandai keterbatasan substansial pada ketersediaan data relasional di konteks negara berkembang, sekaligus mengundang validasi empiris lintas kasus.

## Keywords: sistem sosioteknik; kawasan industri; pengukuran kinerja; ekologi industri; teori kompleksitas; resiliensi jejaring

## 1. Pendahuluan

Kawasan industri telah lama dipahami sebagai instrumen kebijakan untuk memusatkan aktivitas produksi, menekan biaya infrastruktur bersama, dan—dalam aspirasi mutakhirnya—menciptakan sinergi pertukaran sumber daya antarperusahaan. Namun cara kita *mengukur* keberhasilan kawasan sebagian besar belum bergerak sejauh cara kita *membayangkannya*. Praktik penilaian arus utama masih bersandar pada agregasi indikator yang dikumpulkan per fasilitas lalu dijumlahkan atau dirata-ratakan ke level kawasan: keluaran ekonomi, intensitas energi, tingkat kecelakaan kerja, beban emisi. Kerangka penilaian institusional paling berpengaruh saat ini, *International Framework for Eco-Industrial Parks* yang disusun bersama oleh Bank Dunia, UNIDO, dan GIZ, menstrukturkan penilaian ke dalam empat dimensi—manajemen kawasan, lingkungan, sosial, dan ekonomi—dengan prasyarat dan indikator kinerja yang dapat diukur secara kualitatif maupun kuantitatif (World Bank, 2021). Versi kedua kerangka tersebut memperluas jumlah indikator dari 51 menjadi 64 untuk menambal kesenjangan data dan meningkatkan keterterapan (World Bank, 2021).

Perluasan semacam itu berharga, tetapi ia memperdalam, bukan menggugat, sebuah asumsi ontologis yang jarang diperiksa: bahwa kawasan industri adalah penjumlahan dari bagian-bagiannya. Asumsi ini dapat disebut *aditivisme metrik*—keyakinan implisit bahwa kinerja sistemik kawasan setara dengan jumlah atau rata-rata kinerja entitas penyusunnya. Aditivisme menarik karena memudahkan pengumpulan data dan pembandingan antarkawasan. Persoalannya, ia berbenturan dengan apa yang telah lama dipahami tentang sifat kawasan industri pada tradisi keilmuan lain. Dalam ekologi industri, kawasan dimodelkan sebagai jejaring simbiosis tempat aliran limbah satu entitas menjadi masukan entitas lain, dan resiliensi jejaring semacam itu merupakan ciri inti yang tidak terbaca dari atribut node tunggal (Li et al., 2015). Dalam kajian sistem sosioteknik, kinerja kerja “lokal” pada satu pabrik dipahami terus dipengaruhi oleh sistem yang lebih besar dan difus melalui pola komunikasi dan kendali yang bersarang (Carayon, dalam Read et al., 2015). Pada kedua tradisi itu, properti yang paling menentukan—keterhubungan, redundansi, resiliensi—bersifat *relasional*: ia hidup pada relasi antarentitas, bukan pada entitas itu sendiri, dan karena itu lenyap begitu pengukuran dipecah ke fasilitas terpisah.

Di sinilah letak ketegangan yang memotivasi artikel ini. Literatur penilaian kawasan telah berkembang pesat pada sisi *cakupan* indikator—menambah dimensi sosial, karbon, sirkularitas—tetapi relatif stagnan pada sisi *struktur* pengukuran, yang sebagian besar tetap aditif. Sementara itu, literatur ekologi industri dan analisis jejaring telah mengembangkan metrik relasional yang canggih—sentralitas, densitas, indeks resiliensi berbasis penghapusan node (Fraccascia & Yazan, 2018; Li et al., 2015)—tetapi metrik ini umumnya terbatas pada dimensi material-energi dan jarang diintegrasikan dengan dimensi sosial-ketenagakerjaan yang justru menjadi inti karakter *sosioteknik* sebuah kawasan. Dua tubuh literatur ini berkembang paralel tanpa banyak persilangan. Akibatnya, belum tersedia kerangka yang secara eksplisit (i) memperlakukan kawasan sebagai sistem sosioteknik tunggal, (ii) menurunkan metrik yang menangkap properti emergen lintas dimensi material *dan* sosial, dan (iii) merumuskan kriteria yang membedakan metrik relasional dari metrik aditif.

*Research gap* yang diisi artikel ini adalah ketiadaan jembatan konseptual tersebut. *Novelty*-nya bersifat ganda. Pertama, kontribusi ontologis: kami mereposisi objek pengukuran dari “kumpulan fasilitas” menjadi “sistem sosioteknik berlapis”, dan menunjukkan secara argumentatif mengapa pergeseran ini bukan sekadar retorika melainkan berkonsekuensi pada metrik yang dipilih. Kedua, kontribusi instrumental: kami mengusulkan kerangka empat-lapis (node–jejaring–sistem–lanskap) beserta kriteria seleksi metrik yang membedakan ukuran aditif dari ukuran relasional-emergen. Kami menegaskan sejak awal bahwa kontribusi ini bersifat *membangun teori* (theory-building), bukan menguji hipotesis; ilustrasi kasus yang kami gunakan berfungsi memperjelas kerangka, bukan memvalidasinya.

Sisa artikel disusun sebagai berikut. Bagian 2 membangun kerangka teoretis dengan menahan tiga tradisi dalam ketegangan, alih-alih meleburnya. Bagian 3 menjelaskan desain sintesis konseptual terstruktur dan justifikasi metodologisnya. Bagian 4 memaparkan kerangka empat-lapis dan kriteria metrik, lalu menempelkannya secara ilustratif pada kasus IMIP. Bagian 5 mendiskusikan temuan kembali ke teori, termasuk men-*steelman* posisi yang membela kecukupan indikator aditif. Bagian 6 menyatakan keterbatasan secara eksplisit, dan Bagian 7 menutup dengan implikasi serta agenda riset.

## 2. Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teoretis

Kerangka teoretis artikel ini dibangun dari tiga tradisi yang masing-masing menyumbang lensa berbeda terhadap pertanyaan “apa yang membuat kawasan industri lebih dari sekadar kumpulan pabrik”. Alih-alih meleburnya menjadi satu sintesis yang mulus, kami sengaja mempertahankan ketegangan di antara ketiganya, karena justru pada titik gesek itulah kebutuhan akan metrik baru menjadi tampak.

Tradisi pertama adalah **ekologi industri dan analisis jejaring**. Di sini, kawasan dipahami sebagai *industrial symbiosis network* (ISN), yakni jejaring tempat material, energi, dan produk samping mengalir antarentitas sehingga limbah satu pihak menjadi masukan pihak lain. Yang penting bagi argumen kami, tradisi ini telah lama menegaskan bahwa ISN adalah sistem kompleks dan bahwa resiliensi merupakan ciri intinya (Li et al., 2015). Pengukuran dalam tradisi ini bersifat relasional sejak awal: para peneliti memakai indikator analisis jejaring seperti derajat node, sentralisasi, densitas, jarak rata-rata, serta struktur inti-pinggir untuk membaca arsitektur jejaring (Song et al., dalam tinjauan ScienceDirect, 2024). Studi kasus Yixing Economic and Technological Development Zone, misalnya, menemukan bahwa peningkatan interdependensi justru berkontribusi pada *kerentanan* sistem dan tidak otomatis menambah resiliensinya; melalui metrik sentralitas, peneliti mengidentifikasi perusahaan, material, dan pipa infrastruktur yang paling kritis, lalu membuktikan kerapuhan sistem ketika komponen-komponen itu diganggu secara sengaja (Li et al., 2015). Perkembangan mutakhir memperluas pengukuran resiliensi dengan mengonseptualisasikan diversitas dan redundansi sebagai pendorong resiliensi, lalu merancang indeks yang menangkap sejauh mana penghapusan satu perusahaan bersifat kritis bagi kelangsungan jejaring (Fraccascia & Yazan, 2018). Sumbangan tradisi ini jelas: ia memberi kosakata kuantitatif untuk properti relasional. Keterbatasannya juga jelas: fokusnya didominasi aliran material-energi, sementara dimensi manusia—tenaga kerja, komunitas, relasi kuasa—sering hanya hadir sebagai latar.

Tradisi kedua adalah **teori sistem sosioteknik (STS)**. Tradisi ini berangkat dari premis bahwa sistem operasional kompleks selalu merupakan hibrida faktor sosial-organisasional dan teknis yang saling memengaruhi secara timbal balik (Read et al., 2015). Faktor sosial-organisasional mencakup karakteristik personel, struktur organisasi, kebijakan, prosedur, serta pola komando dan kendali formal maupun informal (Read et al., 2015). Kontribusi penting STS bagi artikel ini adalah penegasan bahwa kinerja kerja lokal pada satu pabrik tidak pernah otonom: ia terus-menerus dibentuk oleh sistem yang lebih besar dan difus melalui pola komunikasi dan kendali yang bersarang (Read et al., 2015). Tradisi STS juga telah menghasilkan upaya sistematisasi indikator. Sebuah kerangka konseptual menata indikator kinerja sistem sosioteknik ke dalam empat kategori—individual-abstrak, individual-konkret, tim-abstrak, dan tim-konkret—dengan tujuan menyediakan fondasi yang konsisten bagi penilaian kinerja sistemik (Ernstsen et al., 2016). Pada tataran karakterisasi, kajian STS kompleks menekankan bahwa peningkatan interdependensi antarkomponen membuat wawasan dari teori kompleksitas semakin relevan bagi rentang sistem yang lebih luas (Righi & Saurin, 2015). Kekuatan tradisi ini adalah keseriusannya memperlakukan manusia sebagai komponen sistem, bukan gangguan. Keterbatasannya, dalam konteks kawasan, adalah bahwa STS berkembang terutama pada sistem operasional tunggal—ruang gawat darurat rumah sakit, pembangkit nuklir, kapal—dan belum diperluas secara memadai ke skala *meso* kawasan yang menampung puluhan organisasi otonom.

Tradisi ketiga adalah **teori kompleksitas**. Dari sini kami mengambil tiga gagasan yang menjadi tulang punggung argumen: emergensi, non-linearitas, dan tegangan antara efisiensi dan redundansi. Emergensi menyiratkan bahwa properti sistem—resiliensi, stabilitas, kapasitas adaptasi—muncul dari interaksi antarkomponen dan tidak dapat dibaca dari komponen secara terpisah. Non-linearitas menyiratkan bahwa perubahan kecil pada satu simpul kritis dapat memicu konsekuensi yang tidak proporsional. Adapun tegangan efisiensi–redundansi adalah inti yang paling produktif sekaligus paling mengganggu: pandangan rekayasa cenderung memperlakukan redundansi sebagai pemborosan yang harus dipangkas demi efisiensi, sedangkan pandangan ekologis dan kompleksitas memperlakukan redundansi justru sebagai sumber resiliensi (Fraccascia & Yazan, 2018). Analisis jejaring ekologis bahkan dipinjam untuk membandingkan properti jejaring sosioekonomi dengan ekosistem alam, guna mengidentifikasi pola yang tidak tampak melalui pengukuran konvensional (Zisopoulos et al., 2024).

Ketegangan antartradisi inilah yang membentuk landasan kerangka kami. Ekologi industri menyediakan metrik relasional tetapi mempersempitnya pada material; STS memperluas cakupan ke dimensi sosial tetapi pada skala sistem tunggal; teori kompleksitas menyediakan prinsip emergensi tetapi sering tetap abstrak dan sulit dioperasionalkan. Ada pula ketegangan normatif yang melintasi ketiganya, yaitu antara *optimisasi efisiensi* dan *pemeliharaan resiliensi*. Sebuah kawasan yang dioptimalkan untuk efisiensi—aliran terkonsentrasi melalui satu *anchor tenant*, rantai pasok yang dirampingkan—dapat tampak unggul pada metrik aditif konvensional sekaligus menjadi rapuh secara sistemik, persis sebagaimana ditunjukkan kasus Yixing (Li et al., 2015). Kerangka pengukuran yang setia pada karakter sosioteknik kawasan harus mampu menahan kedua nilai ini sekaligus, bukan menundukkan yang satu pada yang lain. Inilah kebutuhan teoretis yang hendak dijawab Bagian 4.

## 3. Metodologi

Desain penelitian ini adalah **sintesis konseptual terstruktur** (*structured conceptual synthesis*) yang dilengkapi **ilustrasi kasus tunggal non-konfirmatori**. Pilihan desain ini mengikuti logika penelitian yang bertujuan membangun teori, bukan mengujinya. Ketika sebuah bidang memiliki tubuh-tubuh literatur yang berkembang paralel tanpa integrasi—dalam hal ini ekologi industri, sistem sosioteknik, dan teori kompleksitas—kontribusi yang paling dibutuhkan bukanlah pengujian hipotesis baru melainkan perumusan kerangka yang menautkan tradisi-tradisi tersebut secara koheren. Karena itu klaim epistemik artikel ini dibatasi secara sengaja: kami mengajukan kerangka yang *masuk akal secara teoretis* dan *koheren secara internal*, bukan kerangka yang telah *tervalidasi secara empiris*.

Prosedur pengumpulan literatur mengikuti hierarki sumber yang ketat. Prioritas pertama diberikan pada artikel jurnal *peer-reviewed*, terutama yang terbit dalam lima tahun terakhir untuk klaim mengenai keadaan mutakhir, dengan tetap merujuk karya seminal yang relevan seperti studi resiliensi ISN dan karakterisasi sistem sosioteknik kompleks. Prioritas kedua diberikan pada publikasi institusional resmi, khususnya *International Framework for Eco-Industrial Parks* (World Bank, 2021) sebagai representasi paradigma penilaian arus utama. Prioritas ketiga, untuk konteks empiris kasus, mencakup laporan lembaga riset dan organisasi masyarakat sipil yang kredibel, yang diperlakukan dengan kehati-hatian dan tidak dijadikan dasar klaim teoretis. Penelusuran dilakukan terhadap basis data ilmiah dengan kata kunci yang mengombinasikan istilah pengukuran kinerja, sistem sosioteknik, simbiosis industri, dan resiliensi jejaring.

Prosedur analisis berlangsung dalam tiga tahap. *Tahap pertama*, dekomposisi konseptual: kami memetakan setiap tradisi pada kontribusi dan keterbatasannya terhadap pertanyaan penelitian, sebagaimana dipaparkan di Bagian 2, dengan perhatian khusus pada titik-titik ketegangan. *Tahap kedua*, derivasi kerangka: dari ketegangan tersebut kami menurunkan struktur berlapis dan seperangkat kriteria yang membedakan metrik aditif dari metrik relasional-emergen. Kriteria ini bukan diambil dari satu sumber tunggal melainkan disintesiskan dari prinsip lintas-tradisi—relasionalitas dari analisis jejaring, sensitivitas terhadap interdependensi dari STS, serta kepekaan terhadap emergensi dan distribusi dari teori kompleksitas. *Tahap ketiga*, uji-tempel ilustratif: kerangka ditempelkan pada kasus IMIP untuk menunjukkan cara kerjanya dan untuk mengungkap di mana metrik aditif berpotensi menyesatkan.

Pemilihan IMIP sebagai kasus ilustratif didasari beberapa pertimbangan. Kawasan ini adalah salah satu kawasan industri pengolahan nikel terbesar dan paling banyak didokumentasikan di Indonesia, dengan tenaga kerja yang dilaporkan mencapai puluhan ribu orang dan investasi puluhan miliar dolar AS (sumber sekunder publik, lihat Bagian 4). Ketersediaan dokumentasi sekunder—kajian akademik, laporan dampak sosial, dan laporan masyarakat sipil—memungkinkan ilustrasi yang cukup kaya. Namun kami menegaskan keterbatasan mendasar: **data jejaring relasional kawasan—matriks pertukaran material antarperusahaan, struktur ketergantungan kontraktual, peta aliran tenaga kerja—tidak tersedia secara publik**. Akibatnya, ilustrasi kasus tidak dapat menghitung metrik relasional yang kami usulkan secara aktual; ia hanya dapat menunjukkan *bagaimana metrik itu akan bekerja seandainya datanya ada*, dan *mengapa ketiadaannya sendiri merupakan temuan*. Replikabilitas studi ini terletak pada transparansi langkah derivasi kerangka, bukan pada reproduksi angka.

## 4. Hasil dan Analisis

### 4.1 Kerangka empat-lapis

Kami mengusulkan kerangka pengukuran yang menata metrik kawasan ke dalam empat lapis yang berbeda secara ontologis, bukan empat dimensi yang berdiri sejajar untuk dijumlahkan. Pembedaan ini penting: dimensi (ekonomi, lingkungan, sosial) dapat dijumlahkan karena dianggap setara, sedangkan lapis (node, jejaring, sistem, lanskap) tidak dapat dijumlahkan karena masing-masing menangkap properti pada tingkat organisasi realitas yang berbeda.

Lapis pertama, **node**, adalah tingkat yang sudah diukur dengan baik oleh praktik konvensional: kinerja fasilitas individual—produktivitas, intensitas energi, tingkat kecelakaan, beban emisi per unit. Lapis ini diperlukan dan tidak hendak kami gantikan. Klaim kami hanya bahwa ia tidak mencukupi.

Lapis kedua, **jejaring**, menangkap relasi antarnode: siapa bertukar apa dengan siapa, dan seberapa terkonsentrasi atau terdistribusi relasi itu. Di sinilah metrik analisis jejaring bekerja—densitas koneksi, sentralitas node, dan indeks kekritisan yang mengukur dampak penghapusan satu entitas terhadap kelangsungan jejaring (Fraccascia & Yazan, 2018; Li et al., 2015). Properti yang dibaca di lapis ini—misalnya apakah kawasan bergantung pada satu *anchor tenant* yang ketiadaannya akan meruntuhkan banyak relasi—tidak mungkin terbaca di lapis node.

Lapis ketiga, **sistem**, menangkap properti emergen yang muncul dari keseluruhan interaksi: resiliensi terhadap guncangan, redundansi fungsional, dan kapasitas adaptasi. Pengukuran di lapis ini meminjam dari analisis jejaring ekologis yang membandingkan jejaring industri dengan ekosistem alam (Zisopoulos et al., 2024). Pertanyaan kunci di lapis ini bukan “berapa keluaran kawasan” melainkan “seberapa kuat kawasan bertahan ketika simpul kritisnya terganggu”.

Lapis keempat, **lanskap**, menangkap relasi kawasan dengan konteks di luarnya: komunitas sekitar, ekosistem lokal, pasar tenaga kerja regional, dan tata ruang. Lapis ini menampung dimensi yang oleh literatur penilaian EIP diakui paling lemah terwakili, yakni dimensi sosial (Valenzuela-Venegas et al., 2016). Eksternalitas—polusi, tekanan demografis, perubahan mata pencaharian—berdiam di lapis ini dan secara struktural tak terbaca oleh metrik node maupun jejaring internal.

### 4.2 Kriteria pembeda metrik relasional

Agar kerangka dapat dioperasionalkan, kami menurunkan empat kriteria yang membedakan metrik relasional-emergen dari metrik aditif. *Pertama*, **kriteria relasionalitas**: metrik harus dihitung dari relasi antarentitas, bukan dari atribut entitas tunggal; densitas jejaring memenuhi kriteria ini, rata-rata produktivitas tidak. *Kedua*, **kriteria sensitivitas-interdependensi**: metrik harus berubah ketika struktur ketergantungan berubah meskipun atribut node tetap; indeks kekritisan penghapusan node memenuhi ini (Fraccascia & Yazan, 2018). *Ketiga*, **kriteria non-agregabilitas**: metrik tidak boleh dapat direkonstruksi dari penjumlahan metrik level bawah; resiliensi sistemik memenuhi kriteria ini secara definitif. *Keempat*, **kriteria distribusi**: metrik harus menangkap sebaran, bukan hanya total, agar konsentrasi manfaat dan eksternalitas terbaca; sebuah kawasan dapat memiliki total nilai tambah tinggi sekaligus distribusi yang sangat timpang, dan metrik distribusional-lah yang membedakan keduanya.

### 4.3 Ilustrasi kasus IMIP

Penerapan kerangka pada IMIP harus dibaca dengan peringatan metodologis dari Bagian 3: karena data jejaring relasional tidak tersedia publik, yang berikut adalah *demonstrasi cara kerja kerangka*, bukan pengukuran aktual.

Pada **lapis node**, sebagian indikator konvensional IMIP akan tampak kuat. Kawasan ini dilaporkan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar—satu kajian menyebut angka di kisaran 84.000 pekerja pada 2024—dan menarik investasi yang dilaporkan mencapai puluhan miliar dolar AS dengan puluhan perusahaan dalam berbagai tahap operasi (sumber sekunder publik; lihat kajian dampak sosial dan kompilasi data kawasan). Diukur secara aditif—penyerapan tenaga kerja total, nilai investasi total, volume produksi—kawasan ini akan tampil sebagai keberhasilan.

Pada **lapis jejaring**, gambarannya berpotensi berbeda. Literatur ekonomi-politik mencatat bahwa IMIP terbentuk dari aliansi yang terkonsentrasi antara operator kawasan, pemerintah pusat, dan investor asing—terutama modal Tiongkok melalui struktur usaha patungan (Warburton, 2024; analisis ekonomi-politik kawasan, 2025). Konsentrasi semacam ini, jika diterjemahkan ke dalam metrik sentralitas, mengindikasikan kemungkinan ketergantungan tinggi pada simpul-simpul tunggal—kondisi yang oleh studi Yixing diasosiasikan dengan kerentanan sistemik meskipun interdependensi tampak tinggi (Li et al., 2015).

Pada **lapis sistem**, pertanyaan resiliensi mengemuka. Jika aliran nilai kawasan terpusat pada satu kelompok teknologi dan modal, maka guncangan pada simpul itu—perubahan kebijakan, fluktuasi harga nikel global, penarikan investor—berpotensi menimbulkan konsekuensi non-linear yang tidak terbaca dari kesehatan finansial masing-masing pabrik pada satu titik waktu.

Pada **lapis lanskap**, metrik distribusional menjadi krusial. Laporan dampak sosial mendokumentasikan eksternalitas yang terdistribusi tidak merata: kepadatan permukiman substandar di sekitar kawasan, tekanan pada tata ruang, dan kenaikan kasus penyakit pernapasan yang diasosiasikan dengan ekspansi smelter dan pembangkit berbahan bara (kajian dampak sosial Morowali, 2025/2026). Pada sisi ketenagakerjaan, laporan masyarakat sipil menyoroti persoalan sistem kerja—rekrutmen yang dinilai kurang transparan, kontrak tidak stabil, dan insiden keselamatan berulang (Trend Asia & Rasamala Hijau Indonesia, 2024). Sumber-sumber ini diperlakukan sebagai indikasi, bukan bukti konklusif, sesuai hierarki sumber. Yang ingin kami tunjukkan adalah pola struktural: indikator agregat di lapis node dapat menyala hijau sementara metrik distribusional di lapis lanskap menyala merah, dan justru ketidaksesuaian antarlapis inilah yang menjadi informasi paling berharga—informasi yang lenyap dalam penilaian aditif.

## 5. Diskusi

Temuan utama studi ini bersifat konseptual: pergeseran dari aditivisme ke pengukuran berlapis-relasional bukan penyempurnaan teknis melainkan perubahan objek pengukuran. Ketika kawasan diperlakukan sebagai sistem sosioteknik, properti yang paling menentukan keberlanjutannya—resiliensi, konsentrasi, distribusi—justru adalah properti yang secara struktural tak terbaca oleh metrik fasilitas. Ini menautkan kembali ketiga tradisi: kerangka empat-lapis meminjam relasionalitas dari ekologi industri (lapis jejaring), keseriusan terhadap faktor manusia dari STS (lapis lanskap dan dimensi sosial), serta prinsip emergensi dan non-agregabilitas dari teori kompleksitas (lapis sistem).

Kejujuran intelektual menuntut kami men-*steelman* posisi lawan sebelum menanggapinya. Posisi terkuat yang membela kecukupan indikator aditif kira-kira sebagai berikut. *Pertama*, indikator aditif dapat dipertanggungjawabkan, dapat diaudit, dan dapat dibandingkan antarkawasan—keutamaan praktis yang tidak sepele bagi regulator. *Kedua*, metrik relasional menuntut data yang sering tidak tersedia, sehingga kerangka yang menuntutnya berisiko menjadi indah di atas kertas namun mati dalam praktik. *Ketiga*, penambahan dimensi sosial dan karbon pada kerangka EIP mutakhir (World Bank, 2021) menunjukkan bahwa paradigma aditif sanggup berevolusi tanpa perlu dirombak ontologinya. *Keempat*, ada bahaya nyata dalam mengukur properti emergen secara prematur: angka resiliensi yang dihitung dari data buruk bisa lebih menyesatkan daripada ketiadaan angka.

Argumen-argumen ini kuat dan sebagian kami terima. Tanggapan kami bukan menolaknya melainkan membatasinya. Soal auditabilitas: nilai komparatif metrik aditif riil, tetapi komparabilitas yang menyembunyikan kerapuhan sistemik adalah komparabilitas yang berbahaya—persis pelajaran dari kasus Yixing, tempat sistem tampak sehat justru ketika paling rentan (Li et al., 2015). Soal ketersediaan data: ini keberatan terkuat, dan kami tidak mengklaim telah memecahkannya; sebaliknya, kami mengangkat ketiadaan data relasional menjadi temuan tersendiri—bahwa kawasan saat ini tidak terinstrumentasi untuk mengukur properti yang paling menentukan nasibnya. Soal evolusi paradigma: penambahan dimensi memperluas cakupan tetapi tidak mengubah struktur penjumlahan; menambah dimensi sosial pada kerangka aditif tetap menghasilkan rata-rata sosial, bukan metrik distribusi. Soal pengukuran prematur: kami sepakat, dan justru karena itu kerangka ini menekankan kriteria, bukan angka—ia memberi tahu metrik apa yang sahih dikejar ketika data tersedia, bukan memaksakan kuantifikasi atas data yang rapuh.

Implikasi terhadap debat efisiensi-versus-keadilan layak dieksplisitkan. Aditivisme metrik bukan netral secara nilai; ia diam-diam memihak efisiensi, karena total dan rata-rata membaca produktivitas dengan baik tetapi buta terhadap distribusi. Kerangka berlapis, dengan kriteria distribusinya, mengembalikan pertanyaan keadilan ke dalam pengukuran tanpa harus meninggalkan pertanyaan efisiensi. Ia tidak menjawab untuk siapa kawasan dibangun, tetapi ia menolak untuk membuat pertanyaan itu tak terlihat.

## 6. Keterbatasan

Studi ini memiliki keterbatasan substansial yang harus dinyatakan tanpa eufemisme. *Pertama, keterbatasan data.* Inti operasional kerangka—metrik relasional di lapis jejaring dan sistem—menuntut data pertukaran antarperusahaan dan struktur ketergantungan yang tidak tersedia secara publik untuk IMIP maupun mayoritas kawasan di negara berkembang. Ilustrasi kasus karena itu bersifat demonstratif, bukan hasil pengukuran, dan klaim apa pun tentang IMIP dalam artikel ini berstatus indikatif. *Kedua, keterbatasan kerangka.* Kerangka empat-lapis dan empat kriteria belum tervalidasi empiris; koherensi internal bukan jaminan kebenaran empiris, dan mungkin saja lapis-lapis yang kami pisahkan ternyata tidak setajam itu dalam praktik. *Ketiga, keterbatasan validitas kasus tunggal.* Satu kasus ilustratif tidak memungkinkan generalisasi; IMIP dipilih karena ketersediaan dokumentasi, bukan keterwakilan statistik. *Keempat, risiko kuantifikasi dimensi sosial.* Upaya menerjemahkan keadilan distribusional dan martabat kerja ke dalam metrik membawa bahaya reduksionisme—mengubah yang bermakna menjadi yang terukur, lalu melupakan selisihnya. Kerangka ini berusaha sadar akan bahaya itu, tetapi tidak kebal terhadapnya. *Kelima, keterbatasan sumber.* Sebagian bukti empiris kasus berasal dari laporan masyarakat sipil yang, meski kredibel, tidak melewati tinjauan sejawat; kami memperlakukannya sebagai indikasi terbatas dan tidak mendasarkan klaim teoretis padanya.

## 7. Kesimpulan

Artikel ini berangkat dari satu pertanyaan: metrik dan kerangka pengukuran kinerja terintegrasi apa yang dapat menangkap kawasan industri sebagai sistem sosioteknik kompleks, bukan kumpulan fasilitas terpisah. Jawaban yang kami tawarkan adalah kerangka empat-lapis—node, jejaring, sistem, lanskap—yang ditopang empat kriteria pembeda metrik relasional: relasionalitas, sensitivitas-interdependensi, non-agregabilitas, dan distribusi. Kontribusi teoretisnya adalah menjembatani tiga tradisi yang selama ini berkembang paralel, dan mereposisi objek pengukuran dari penjumlahan fasilitas menjadi sistem berlapis. Kontribusi praktisnya adalah menyediakan kriteria yang memberi tahu pengelola dan regulator kawasan metrik mana yang sahih dikejar—dan, yang sama pentingnya, mengapa indikator yang tampak sehat bisa menyesatkan.

Temuan paling tak nyaman dari studi ini bersifat negatif: kawasan industri di negara berkembang umumnya belum terinstrumentasi untuk mengukur properti yang paling menentukan keberlanjutannya. Agenda riset lanjutan karena itu mendesak pada tiga arah. *Pertama*, instrumentasi data: merancang protokol pengumpulan data jejaring antarperusahaan yang layak secara praktis dan dapat diterima secara kelembagaan. *Kedua*, validasi multi-kasus: menguji kerangka pada beberapa kawasan dengan karakteristik berbeda untuk memeriksa apakah pembedaan empat-lapis bertahan. *Ketiga*, pengembangan metrik distribusional sosial yang menghormati kompleksitas dimensi manusia tanpa terjebak reduksionisme. Sebuah kerangka yang baik tidak menutup percakapan; ia menajamkan pertanyaan berikutnya. Itulah ambisi yang wajar bagi tulisan ini.

## References

Ernstsen, J., Nazir, S., Roed, B. K., & Manca, D. (2016). Systemising performance indicators in the assessment of complex sociotechnical systems. *Chemical Engineering Transactions, 53*, 187–192. https://doi.org/10.3303/cet1653032

Fraccascia, L., & Yazan, D. M. (2018). The role of online information-sharing platforms on the performance of industrial symbiosis networks. *Resources, Conservation and Recycling, 136*, 473–485. https://doi.org/10.1016/j.resconrec.2018.03.009

Li, Y., & Shi, L. (2015). The resilience of interdependent industrial symbiosis networks: A case of Yixing Economic and Technological Development Zone. *Journal of Industrial Ecology, 19*(3), 435–445. https://doi.org/10.1111/jiec.12267

Read, G. J. M., Salmon, P. M., Lenné, M. G., & Stanton, N. A. (2015). Designing sociotechnical systems with cognitive work analysis: Putting theory back into practice. *Ergonomics, 58*(5), 822–851. https://doi.org/10.1080/00140139.2014.980335

Righi, A. W., & Saurin, T. A. (2015). Complex socio-technical systems: Characterization and management guidelines. *Applied Ergonomics, 50*, 19–30. https://doi.org/10.1016/j.apergo.2015.02.003

Trend Asia, & Rasamala Hijau Indonesia. (2024). *The nickel labor crisis at Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP)*. Trend Asia. https://trendasia.org/

Valenzuela-Venegas, G., Salgado, J. C., & Díaz-Alvarado, F. A. (2016). Sustainability indicators for the assessment of eco-industrial parks: Classification and criteria for selection. *Journal of Cleaner Production, 133*, 99–116. https://doi.org/10.1016/j.jclepro.2016.05.113

Warburton, E. (2024). Nationalist enclaves: Industrialising the critical mineral boom in Indonesia. *The Extractive Industries and Society*. https://doi.org/10.1016/j.exis.2024.101545

World Bank. (2021). *International framework for eco-industrial parks v.2*. World Bank Group. https://www.unido.org/

Zisopoulos, F. K., et al. (2024). Investigating the use of network analysis metrics to benchmark industrial symbiosis development. *Journal of Cleaner Production, 470*, 143306. https://doi.org/10.1016/j.jclepro.2024.143306

Discover more from bolakayu.id

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading