On Research Publication

Input Security and Industrial Vulnerability: The Impact of U.S.–Iran Tensions on Indonesia’s Nickel Industry

Authors: Hanan Nugroho, Achmanto Mendatu, Muhyiddin Muhyiddin

American Journal of Energy and Natural Resources, 2026

DOI: https://doi.org/10.54536/ajenr.v5i1.7466

Keywords: Critical Minerals, Geopolitics, Indonesia, Input Security, Nickel Industrialization, Supply Chain Vulnerability

Abstract: This study examines how geopolitical tensions between the United States and Iran affect Indonesia’s nickel industrialization by disrupting sulfur supply chains linked to the Strait of Hormuz. While existing research focuses primarily on energy markets, the implications for industrial input dependencies remain underexplored. Using a qualitative analytical approach that combines value chain analysis, geopolitical risk assessment, and scenario-based reasoning, the study traces how external shocks propagate through intermediate external shocks propagate through intermediate input constraints into domestic industrial systems. The findings show that High Pressure Acid Leach (HPAL) technology—critical for producing battery-grade nickel—is structurally dependent on sulfur, a largely imported and non-substitutable input sourced from geopolitically sensitive regions. This dependence exposes Indonesia’s nickel industry to chokepoint risks, where supply disruptions increase costs, compress margins, and constrain production. The study advances the concept of input security, demonstrating that industrial upgrading does not eliminate vulnerability but reconfigures it through new external dependencies. It highlights the need for supply diversification, domestic capacity development, and proactive geoeconomic strategies to strengthen industrial resilience

From Resource Abundance to Industrial Constraint: Managing Upgrading and Structural Dependencies in Indonesia’s Nickel Value Chain

Authors: Hanan Nugroho, Achmanto Mendatu, Usamah Widiatmoko, Muhyiddin Muhyiddin 

International Journal of Research and Innovation in Social Science, 2026

DOI:10.47772/ijriss.2026.1014mg0098

Abstract:
Indonesia’s nickel sector has undergone a rapid structural transformation following the implementation of downstream industrial policies, shifting from a primary exporter of raw materials to a major global hub for nickel processing. While this transition has significantly expanded domestic value addition and strengthened Indonesia’s position in global supply chains, its long-term developmental implications remain contested. This paper examines Indonesia’s position within the global nickel value chain through the lens of industrial upgrading and structural dependency. Drawing on the global value chain framework, the study argues that Indonesia’s upgrading trajectory remains incomplete and uneven, characterized by concentration in upstream and midstream activities, continued reliance on foreign technology, and vulnerability to critical input dependencies. The findings suggest that rather than following a linear progression toward higher-value activities, resource-based industrialization may become locked in an intermediate stage of “midstream entrapment,” in which industrial expansion does not translate into technological autonomy or innovation capacity. The paper contributes to the literature by refining the concept of industrial upgrading in resource-rich economies and highlighting the structural constraints that shape their development pathways. Policy implications emphasize the need for deliberate capability-building strategies, including technological learning, domestic innovation, and stronger industrial linkages, to enable a transition from resource-driven growth toward sustainable, innovation-led development.

Dapatkah Hilirisasi Mineral Mendorong Transformasi Ekonomi Daerah? Bukti dari Indonesia Morowali Industrial Park

Authors: Muhyiddin Muhyiddin; Achmanto Mendatu; M Dio Rhiza Amrizal; Johan Wahyuningrat

Bappenas Working Papers, 2026

DOI: 10.47266/bwp.v9i2.559

Abstract: Kebijakan hilirisasi mineral dalam satu dekade terakhir menjadi salah satu strategi utama pemerintah Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus memperkuat basis industrialisasi nasional. Melalui kebijakan ini, pemerintah mendorong pengolahan dan pemurnian mineral di dalam negeri sehingga aktivitas ekonomi tidak lagi hanya bergantung pada ekspor bahan mentah. Meskipun demikian, sejauh mana kebijakan hilirisasi mampu mendorong transformasi ekonomi di tingkat daerah masih menjadi pertanyaan penting dalam literatur pembangunan ekonomi, khususnya di wilayah yang sebelumnya bergantung pada sektor pertambangan.Artikel ini menganalisis peran pengembangan kawasan industri Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dalam mendorong transformasi ekonomi regional, penciptaan lapangan kerja, serta multiplier effect terhadap perekonomian wilayah. Penelitian menggunakan pendekatan analisis campuran yang menggabungkan analisis deskriptif terhadap perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), analisis laju pertumbuhan ekonomi daerah, model regresi ekonometrik sederhana untuk menguji hubungan antara output industri dan penyerapan tenaga kerja, serta interpretasi multiplier effect berbasis kerangka input–output. Data yang digunakan terutama berasal dari publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) serta berbagai laporan terkait perkembangan industri di kawasan IMIP selama periode 2014–2024.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan industri pengolahan nikel di kawasan IMIP telah mendorong perubahan struktur ekonomi Kabupaten Morowali secara signifikan dari ekonomi berbasis pertambangan menuju ekonomi industri pengolahan. Pertumbuhan ekonomi Morowali secara konsisten berada jauh di atas rata-rata nasional maupun provinsi, sementara kontribusi wilayah tersebut terhadap perekonomian Provinsi Sulawesi Tengah meningkat secara signifikan hingga mencapai hampir setengah dari total PDRB provinsi pada periode terbaru. Analisis ekonometrik menunjukkan bahwa peningkatan output industri memiliki hubungan yang kuat dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja, sedangkan analisis multiplier effect menunjukkan bahwa ekspansi industri pengolahan menciptakan keterkaitan ekonomi yang luas dengan sektor-sektor lain seperti konstruksi, transportasi, perdagangan, dan jasa.Temuan ini menunjukkan bahwa hilirisasi mineral berpotensi menjadi instrumen penting dalam mendorong industrialisasi dan transformasi ekonomi regional apabila didukung oleh investasi industri, pembangunan infrastruktur, serta penguatan keterkaitan industri domestik

Ekonomi Politik Hilirisasi Nikel dan Transformasi Morowali sebagai Episentrum Industrialisasi Baru Indonesia

Authors: Muhyiddin Muhyiddin; Achmanto Mendatu; M Dio Rhiza Amrizal

Bappenas Working Papers, 2026

DOI: 10.47266/bwp.v9i2.567

Abstract: salah satu fenomena industrialisasi paling signifikan di Indonesia. Kawasan industri berbasis pengolahan nikel ini tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi mineral strategis, tetapi juga memicu perubahan mendasar dalam struktur ekonomi regional. Artikel ini bertujuan menganalisis transformasi ekonomi dan ketenagakerjaan yang terjadi di Kabupaten Morowali setelah berkembangnya industri pengolahan nikel melalui IMIP.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan memanfaatkan data sekunder dari Badan Pusat Statistik (BPS), khususnya data produk domestik regional bruto (PDRB) dan statistik ketenagakerjaan. Analisis dilakukan melalui beberapa metode, yaitu analisis deskriptif ekonomi regional, analisis before–after untuk mengidentifikasi perubahan struktural setelah berkembangnya kawasan industri, serta analisis elastisitas kesempatan kerja dan multiplier ketenagakerjaan untuk menilai dampak industrialisasi terhadap pasar tenaga kerja.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan IMIP telah mendorong pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat di Kabupaten Morowali. Struktur ekonomi daerah mengalami perubahan signifikan dari dominasi sektor ekstraktif menuju sektor industri pengolahan. Kontribusi sektor industri terhadap PDRB meningkat secara tajam, sementara pendapatan per kapita mengalami peningkatan yang signifikan. Pada saat yang sama, dinamika pasar tenaga kerja juga mengalami transformasi, ditandai dengan meningkatnya jumlah tenaga kerja yang bekerja, relatif rendahnya tingkat pengangguran, serta meningkatnya proporsi pekerjaan formal dan pekerjaan penuh waktu.
Analisis elastisitas ketenagakerjaan menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi di Morowali memiliki hubungan positif dengan penciptaan kesempatan kerja, meskipun tingkat elastisitasnya relatif moderat karena karakteristik industri pengolahan yang memiliki produktivitas tinggi. Selain itu, aktivitas industri juga menghasilkan multiplier effect yang signifikan melalui perkembangan sektor-sektor pendukung seperti perdagangan, transportasi, konstruksi, dan jasa.
Temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan hilirisasi mineral dapat menjadi instrumen penting dalam mendorong transformasi ekonomi regional di negara berkembang yang kaya sumber daya alam. Namun keberlanjutan transformasi tersebut memerlukan penguatan sumber daya manusia, pengembangan keterkaitan industri lokal, serta strategi diversifikasi ekonomi untuk memastikan bahwa manfaat industrialisasi dapat dirasakan secara lebih luas dan berkelanjutan