Thomas Piketty’s Capital in the Twenty-First Century

“Ketika tingkat pengembalian atas modal melampaui laju pertumbuhan output dan pendapatan secara persisten, kapitalisme secara otomatis menghasilkan ketimpangan yang sewenang-wenang dan tak tertanggungkan.” — Thomas Piketty

Buku itu tergeletak di atas meja hitam di sebuah ruang publik—mungkin lobi, mungkin kantor, mungkin ruang tunggu—dengan sampul merah yang sudah retak di sudut, label kuning bertuliskan “PAID” menempel miring, dan sapuan cahaya neon yang memantul di plastik laminasinya. Ada sesuatu yang nyaris ironis dalam komposisi itu: sebuah risalah hampir seribu halaman tentang akumulasi kekayaan lintas abad, tergeletak di lantai keramik murahan, dipotret sambil berdiri, sepatu pemiliknya masuk ke dalam bingkai. Inilah nasib Capital in the Twenty-First Century—buku yang dibeli jauh lebih banyak orang daripada yang menyelesaikannya, sebuah fenomena yang oleh sebagian pengamat dijuluki sebagai kandidat “buku paling tidak terbaca sepanjang masa.” Dan justru di situlah letak persoalan pertama yang menarik untuk direnungkan: bagaimana sebuah karya akademik yang padat dengan tabel, persamaan, dan rangkaian data fiskal sepanjang dua abad bisa menjadi international bestseller, lengkap dengan stiker merah yang membanggakannya di pojok kiri atas?

Thomas Piketty, ekonom Prancis dari Paris School of Economics, menulis buku ini bukan sebagai pamflet politik melainkan sebagai upaya empiris yang ambisius: merekonstruksi sejarah distribusi kekayaan dan pendapatan di sejumlah negara maju—Prancis, Inggris, Amerika Serikat, Jerman, Swedia, Jepang—dengan menggali catatan pajak penghasilan, pajak warisan, arsip probat, neraca pendapatan nasional, dan survei kekayaan, sebagian membentang hingga abad kedelapan belas. Terjemahan Arthur Goldhammer ke dalam bahasa Inggris yang terbit pada 2014—edisi yang persis tampak dalam foto—adalah yang melontarkannya ke puncak daftar buku terlaris dan memantik perdebatan yang jarang dialami sebuah teks ekonomi. Untuk memahami mengapa, kita harus mulai dari klaim sentralnya, lalu memeriksa apakah klaim itu bertahan ketika diuji.

Inti argumen Piketty bisa dipadatkan ke dalam tiga karakter aljabar yang kini hampir menjadi semboyan: r > g. Di sini r adalah tingkat pengembalian atas modal (rate of return on capital)—gabungan dari laba, dividen, sewa, dan bunga yang dihasilkan oleh aset dalam segala bentuknya, dari saham dan properti hingga emas—sementara g adalah laju pertumbuhan ekonomi (rate of economic growth), yakni kecepatan bertambahnya output dan pendapatan suatu masyarakat secara keseluruhan. Tesis Piketty sederhana dalam bentuk dan mengganggu dalam implikasinya: sepanjang sebagian besar sejarah, r cenderung berkisar di angka empat hingga lima persen, sementara g sebelum revolusi industri nyaris nol dan, bahkan pada puncak abad kedua puluh, jarang melampaui beberapa persen sebelum kembali menurun. Ketika modal tumbuh lebih cepat daripada perekonomian yang menampungnya, mereka yang sudah memiliki modal—dan terutama mereka yang mewarisinya—akan menarik diri menjauh dari mereka yang hanya mengandalkan upah kerja. Ketimpangan, dalam pembacaan ini, bukan kecelakaan atau penyimpangan pasar yang sedang menuju keseimbangan, melainkan kecenderungan struktural kapitalisme itu sendiri—sebuah gaya divergen (force for divergence) yang bekerja diam-diam selama tidak ada yang mengganggunya.

Yang membuat argumen ini layak ditanggapi dengan serius—dan inilah yang harus diakui sebelum kritik apa pun dilancarkan—adalah bahwa Piketty tidak sekadar berteori. Ia membangun dasar empiris yang, dalam pengakuan bahkan para pengkritiknya, merupakan pencapaian riset yang luar biasa. Rekonstruksi rasio modal terhadap pendapatan (capital-to-income ratio) untuk negara-negara maju sejak revolusi industri hingga kini adalah kerja arsip yang sabar dan kolosal. Temuan empiris intinya elegan: rasio modal terhadap output di ekonomi maju tampak kembali ke level historisnya yang lama, sekitar enam hingga tujuh kali besarnya output tahunan, setelah selama setengah abad tertekan di kisaran tiga hingga empat kali. Dengan kata lain, abad kedua puluh—dengan dua perang dunia, Depresi Besar, dan rezim pajak progresif yang lahir dari kehancuran itu—ternyata bukan kondisi normal kapitalisme, melainkan jeda yang anomali. Distribusi kekayaan yang relatif setara yang dinikmati generasi pascaperang, yang sempat kita anggap sebagai tatanan alamiah masyarakat modern, hanyalah produk dari serangkaian bencana yang menghapus tumpukan modal lama. Begitu debu mengendap dan modal kembali terakumulasi tanpa gangguan, hukum lama kembali berlaku. Piketty terampil—dan di sinilah salah satu kekuatan buku ini—dalam memandu pembaca melewati data yang rumit; ada rasa berada di tangan yang aman ketika ia menjelaskan neraca pendapatan nasional dan komponen pengembalian modal. Kesimpulan yang ditariknya terasa mendesak: tanpa gaya penyeimbang yang memadai, ekonomi kapitalis akan melayang secara terprediksi menuju oligarki—sebuah masa depan yang, jika Piketty benar, tidak kompatibel dengan demokrasi.

Maka resep yang diajukannya pun radikal dalam ambisinya sekaligus moderat dalam mekanismenya: pajak kekayaan progresif yang bersifat global (global progressive wealth tax). Global, karena Piketty paham betul logika perlombaan ke dasar (race to the bottom)—jika hanya satu negara yang memajaki modal, modal itu akan mengalir ke yurisdiksi yang tidak memajakinya, persis seperti yang telah terjadi dalam penurunan pajak modal di dunia maju selama beberapa dekade. Hanya koordinasi lintas batas, dalam pandangannya, yang bisa menjinakkan aritmetika r > g tanpa menghancurkan mesin pertumbuhan itu sendiri. Ini bukan seruan untuk menggulingkan kapitalisme, melainkan untuk menyelamatkannya dari kecenderungan dirinya sendiri—sebuah posisi yang, ironisnya, membuatnya diserang dari dua arah sekaligus: terlalu radikal bagi penjaga status quo, terlalu reformis bagi mereka yang menghendaki perombakan struktural.

Namun sebuah tinjauan yang jujur tidak boleh berhenti pada kekaguman. Justru karena buku ini penting, kelemahannya harus diperiksa dengan sama telitinya—dan kelemahan itu ada, sebagian bahkan diakui oleh penulisnya sendiri. Keberatan yang paling sering diajukan para ekonom menyangkut perlakuan Piketty terhadap modal sebagai entitas yang homogen dan dapat dipertukarkan. Ekonomi standar mengajarkan bahwa pengembalian atas modal mestinya tunduk pada hukum pengembalian yang menurun (diminishing returns): ketika modal semakin melimpah, pengembalian per unitnya cenderung turun, bukan tetap di lima persen selamanya. Jika imbal hasil tinggi menarik lebih banyak modal, peluang untuk meraih imbal hasil tinggi semestinya menyusut; dan jika modal tetap mahal karena pemiliknya menuntut pengembalian besar, ada ruang untuk menggantikan tenaga kerja dengan modal—yang justru bisa menaikkan g. Dengan kata lain, asumsi bahwa kesenjangan antara r dan g akan bertahan lebar dalam jangka panjang bukanlah hukum besi, melainkan satu skenario di antara beberapa kemungkinan. Sejumlah ekonom dari kalangan yang sangat berbeda berpendapat bahwa Piketty melebih-lebihkan seberapa jauh ketimpangan akan terus meningkat, dan seberapa besar masalah yang akan ditimbulkannya bagi masyarakat.

Ada pula keberatan yang lebih halus: bahwa fokus Piketty pada lapisan teratas distribusi—satu persen, sepersepuluh persen—membuatnya kadang melewatkan dinamika yang terjadi di tempat lain. Dalam beberapa kasus, seperti Jerman, kenaikan pangsa pendapatan tampak jelas hanya pada kelompok sepuluh persen teratas, bukan pada lapisan paling atas; di situ indikator seperti koefisien Gini atau rasio pendapatan kelompok terkaya terhadap termiskin—justru ukuran yang kurang disukai Piketty—mungkin lebih informatif. Mencari ketimpangan hanya di puncak, demikian sindiran seorang pengulas, bisa seperti mencari kunci yang hilang hanya di bawah lampu jalan karena di situlah terangnya. Dan resep kebijakannya, betapapun logis secara internal, tidak ditopang oleh bobot bukti yang sama dengan analisis positifnya; pajak kekayaan global lebih merupakan kesimpulan moral dan politik daripada konsekuensi yang dipaksakan oleh datanya.

Yang paling menarik—dan yang jarang diingat oleh mereka yang menjadikan r > g sebagai mantra—adalah bahwa Piketty sendiri, dalam sebuah makalah pada akhir 2014, mengambil jarak dari pembacaan yang terlalu mekanistis atas formulanya. Ia menegaskan bahwa hubungan antara tingkat pengembalian modal dan laju pertumbuhan bukanlah satu-satunya, atau bahkan alat utama, untuk memahami perubahan ketimpangan pendapatan dan kekayaan. Ia bahkan mencatat bahwa r > g bukan alat yang berguna untuk membahas naiknya ketimpangan pada pendapatan kerja (labor income)—yang, di Amerika Serikat khususnya, lebih banyak didorong oleh ledakan kompensasi para “manajer super” (supermanagers) ketimbang oleh warisan modal lama. Kerendahan hati intelektual ini, yang ironisnya hilang dalam resepsi populer bukunya, justru memperkuat bukannya melemahkan otoritasnya. Sebuah klaim yang penulisnya sendiri bersedia mengkalibrasi ulang adalah klaim yang hidup, bukan dogma.

Di sinilah saya merasa perlu menahan diri dari satu godaan: membaca Capital sebagai kitab nubuat tentang takdir global yang berlaku merata di mana saja. Buku ini, harus diingat, adalah studi tentang negara-negara maju—Eropa Barat, Amerika Utara, Jepang—dengan arsip fiskal yang panjang dan negara yang cukup kapabel untuk mencatat warisan dan pendapatan selama berabad-abad. Apakah aritmetika yang sama berlaku di ekonomi yang strukturnya sangat berbeda—di mana sebagian besar kekayaan tidak tercatat, di mana ekonomi informal mendominasi, di mana akumulasi modal lebih banyak ditentukan oleh kedekatan dengan kekuasaan politik daripada oleh imbal hasil pasar atas aset yang diwarisi? Pertanyaan ini bukan keberatan terhadap Piketty melainkan batas dari proyeknya, dan ia cukup jujur untuk tidak terlalu sering melampauinya. Bagi pembaca dari Selatan global, nilai buku ini barangkali bukan pada kesimpulan spesifiknya melainkan pada metodenya: ketelatenan menggali data sepanjang waktu, kesediaan memperlakukan ketimpangan sebagai pertanyaan empiris dan historis alih-alih sebagai keniscayaan moral atau ideologis.

Lalu apa yang tersisa ketika kita menutup buku setebal ini—jika kita benar-benar menutupnya dan bukan hanya membeli serta memajangnya? Bukan jawaban final, melainkan sebuah cara melihat. Piketty mengembalikan ketimpangan ke pusat percakapan ekonomi setelah beberapa dekade ia terpinggirkan oleh keyakinan bahwa pasar yang dibiarkan bekerja akan mengurus distribusi dengan sendirinya. Ia menunjukkan, dengan bukti dan bukan dengan retorika, bahwa distribusi kekayaan memiliki sejarah—bahwa ia naik dan turun karena perang, pajak, kebijakan, dan kecelakaan, bukan karena hukum alam yang tak tersentuh. Dan itu, pada gilirannya, mengandung implikasi yang membebaskan sekaligus membebani: jika ketimpangan adalah produk pilihan kolektif dan keadaan historis, maka ia juga bisa diubah oleh pilihan kolektif—tetapi hanya jika kita memutuskan bahwa ia layak diubah. Aritmetika r > g mungkin benar atau mungkin terlalu disederhanakan; rezim pajak global Piketty mungkin tak akan pernah terwujud. Namun pertanyaan yang ditinggalkannya tetap menggantung di udara, sekeras dan sejelas label merah “Bestseller” di sudut sampul itu: masyarakat seperti apa yang sebenarnya kita inginkan, dan apakah kita bersedia membayar harga aritmetisnya?


Catatan bacaan lanjutan: edisi yang ditinjau di sini adalah terjemahan Arthur Goldhammer (Harvard University Press / Belknap, 2014) atas Le Capital au XXIe siècle (2013). Bagi yang ingin menelusuri perdebatan teknis di sekitarnya, tinjauan kritis di Journal of Economic Literature dan serangkaian pos di blog Liberty Street Economics dari Federal Reserve Bank of New York menawarkan keberatan yang terukur tanpa terjebak polemik. Klarifikasi Piketty sendiri pada makalah akhir 2014 tentang batas penggunaan formula r > g patut dibaca berdampingan dengan bukunya, sebagai pengingat bahwa penulis terbaik adalah pembaca paling kritis atas karyanya sendiri.

Discover more from bolakayu.id

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading