“Hanya ada satu masalah filsafat yang sungguh-sungguh serius, yaitu bunuh diri. Menilai apakah hidup layak atau tidak layak dijalani — itulah menjawab pertanyaan dasar filsafat.” — Albert Camus, ‘Le Mythe de Sisyphe‘ (1942)
Pada suatu sore di sebuah warung kopi di tepi Kawasan Industri Morowali, seorang operator tungku peleburan bernama Rahmat — sebut saja begitu, sebab namanya tak penting dan kisahnya berlaku untuk ribuan orang seperti dia — duduk memandang asap yang naik dari cerobong pabrik tempat ia menghabiskan dua belas jam sehari. Ia baru saja menyelesaikan giliran malam. Upahnya, jika dihitung dengan cermat, lebih tinggi daripada yang pernah dibayangkan ayahnya, seorang petani yang tak pernah memegang slip gaji seumur hidup. Rahmat punya sepeda motor baru, ponsel pintar, dan tabungan yang perlahan menebal. Dan toh, di antara seruputan kopi yang sudah dingin, ia melontarkan satu kalimat yang barangkali adalah pertanyaan filsafat tertua yang pernah diajukan manusia, hanya saja diucapkan dengan dialek pekerja pabrik: “Untuk apa, sebenarnya, semua ini?”
Pertanyaan itu — *untuk apa semua ini* — adalah versi sehari-hari dari pertanyaan yang membuat Camus menulis bahwa menilai apakah hidup layak dijalani adalah satu-satunya persoalan filsafat yang benar-benar serius. Pertanyaan itu tampak besar, abstrak, hampir mewah, sesuatu yang seolah hanya pantas dibicarakan oleh para filsuf di ruang seminar atau oleh orang-orang yang sedang mengalami krisis. Tetapi sesungguhnya ia adalah pertanyaan paling membumi yang ada. Ia muncul di tengah malam ketika seseorang tak bisa tidur. Ia muncul setelah pemakaman. Ia muncul, secara mengejutkan, justru ketika seseorang telah mendapatkan semua yang ia kejar dan menemukan dirinya tetap kosong. Dan ia adalah pertanyaan yang, dalam beberapa dekade terakhir, mulai dicoba dijawab bukan hanya oleh para filsuf, tetapi juga oleh para ilmuwan — psikolog, ekonom, epidemiolog — yang dengan tekun dan sabar mengumpulkan data tentang ribuan kehidupan manusia untuk mencari tahu apa, sebenarnya, yang membuat hidup terasa layak.
Mari kita mulai dengan membersihkan kekeliruan yang paling umum. Ketika orang bertanya apa yang membuat hidup layak dijalani, jawaban refleks yang paling sering muncul — di iklan, di media sosial, dalam nasihat motivasional yang membanjiri linimasa — adalah *kebahagiaan*. Hiduplah supaya bahagia, demikian bunyinya. Kejar apa yang membuatmu senang. Tetapi kata “kebahagiaan” itu sendiri menyembunyikan sebuah kekaburan yang serius, dan untuk memahami pertanyaan ini dengan jujur, kita harus membongkarnya terlebih dahulu. Para filsuf Yunani kuno sudah membedakan dua hal yang dalam bahasa sehari-hari kita campuradukkan. Yang pertama mereka sebut *hedonia* — kesenangan, kenikmatan, perasaan baik, ketiadaan derita. Yang kedua mereka sebut *eudaimonia* — sebuah kata yang sering diterjemahkan sebagai “kebahagiaan” tetapi sesungguhnya jauh lebih dekat dengan “keberkembangan” atau “kehidupan yang berjalan baik” (*flourishing*). Aristoteles, dalam *Etika Nikomakea*, berargumen bahwa eudaimonia bukanlah perasaan melainkan sebuah kondisi — kondisi menjalani hidup sesuai dengan keutamaan (*virtue*), mengaktualisasikan potensi terbaik diri, hidup dengan cara yang pantas disebut baik. Seorang yang eudaimon tidak selalu sedang merasa senang; ia mungkin sedang berjuang, sedang lelah, sedang berkorban. Tetapi hidupnya, dilihat secara keseluruhan, sedang berjalan sebagaimana mestinya.
Pembedaan kuno ini ternyata bukan sekadar permainan kata. Ia memetakan dua jenis pengalaman manusia yang, sebagaimana kini ditunjukkan oleh riset empiris, dapat bergerak ke arah yang berbeda — bahkan berlawanan. Seseorang dapat memiliki hidup yang penuh kesenangan namun terasa hampa; dan seseorang dapat menjalani hidup yang penuh kesulitan namun terasa dalam dan berharga. Orang tua yang merawat anak yang baru lahir akan langsung mengenali kebenaran ini: malam-malam tanpa tidur, kelelahan yang menggerogoti, hilangnya kebebasan — secara hedonis, periode itu sering kali adalah salah satu yang paling tidak menyenangkan dalam hidup. Namun banyak yang menyebutnya sebagai periode paling bermakna yang pernah mereka jalani. Di sinilah letak persoalannya: jika kita hanya mengukur kesenangan, kita akan melewatkan sebagian besar dari apa yang sebenarnya membuat hidup layak.
Maka pertanyaannya bergeser. Bukan lagi “apa yang membuatku senang,” melainkan “apa yang membuat hidupku bermakna.” Dan untuk pertanyaan kedua inilah ilmu pengetahuan modern, agak mengejutkan, punya banyak hal untuk dikatakan.
Tokoh sentral dalam upaya mengukur makna ini adalah Michael Steger, seorang psikolog di Colorado State University yang mendirikan Center for Meaning and Purpose. Steger membuat satu pembedaan yang penting untuk kita pegang sejak awal: ada perbedaan antara *makna kehidupan* (*the meaning of life*) dan *makna dalam hidup* (*meaning in life*). Yang pertama adalah pertanyaan metafisik raksasa — mengapa ada sesuatu alih-alih ketiadaan, apa tujuan kosmis dari eksistensi — dan ia mungkin memang tak terjawab, atau setidaknya bukan urusan psikologi. Yang kedua jauh lebih sederhana dan, justru karena itu, jauh lebih berguna: ia adalah pengalaman individual bahwa hidupku punya arti, bahwa ia masuk akal, bahwa ia terarah pada tujuan yang berharga (Steger et al., 2006). Steger, bersama Patricia Frazier dan koleganya, mengembangkan sebuah instrumen bernama Meaning in Life Questionnaire — sepuluh pernyataan sederhana yang mengukur dua dimensi: seberapa hadir makna dalam hidup seseorang (*presence*), dan seberapa giat ia mencarinya (*search*). Instrumen ini, yang kini menjadi salah satu alat ukur makna paling banyak digunakan di dunia, membuka pintu bagi ratusan studi empiris yang sebelumnya mustahil dilakukan, karena tak ada cara untuk mengukur sesuatu yang tampaknya begitu tak teraba.
Apa yang ditemukan studi-studi itu cukup konsisten untuk membuat kita memperhatikan. Kehadiran makna dalam hidup berkorelasi dengan harga diri yang lebih tinggi, pertumbuhan pribadi yang lebih besar, dan motivasi yang lebih kuat untuk mengejar tujuan (Steger, 2017). Intervensi psikologis yang berpusat pada makna — yang membantu orang menemukan dan memperkuat rasa keterarahan dalam hidup mereka — terbukti memiliki efek besar dalam meningkatkan kesejahteraan dan mengurangi tekanan psikologis. Tetapi temuan yang paling mencengangkan, yang membuat saya berhenti dan membaca ulang ketika pertama kali menemukannya, datang dari ranah yang sama sekali tak terduga: kematian.
Pertimbangkan satu garis riset yang membalikkan intuisi umum kita. Ketika para peneliti bertanya faktor mana yang sebenarnya memprediksi berapa lama seseorang akan hidup, dan menguji dua kandidat — kepuasan hidup (*life satisfaction*), yakni seberapa puas seseorang dengan hidupnya secara keseluruhan, dan tujuan hidup (*purpose in life*), yakni rasa bahwa hidup seseorang terarah pada sesuatu yang berarti — hasilnya kerap tajam dan tak terduga. Bukti yang paling kokoh datang dari studi Patricia Boyle dan koleganya, yang terbit di *Psychosomatic Medicine* (2009), yang menemukan bahwa tujuan hidup berkaitan dengan tingkat kematian yang lebih rendah di kalangan orang lanjut usia yang tinggal di komunitas — mereka yang memiliki rasa tujuan yang lebih kuat sederhananya lebih kecil kemungkinannya meninggal selama periode studi. Bukan seberapa baik perasaanmu tentang hidupmu yang memperpanjang umurmu, melainkan apakah hidupmu mengarah ke suatu tempat. Tubuh, tampaknya, mendengarkan jawaban kita atas pertanyaan “untuk apa semua ini.” Rasa keterarahan bukan sekadar hiasan psikologis; ia menorehkan jejaknya pada fisiologi, pada sistem kekebalan, pada umur. Rahmat di warung kopi itu, ketika ia bertanya untuk apa semua ini, sedang menyentuh sesuatu yang ternyata bukan hanya soal perasaan — melainkan, secara harfiah, soal hidup dan mati.
Namun jika tujuan dan makna begitu penting, dari mana keduanya berasal? Di sinilah kita tiba pada salah satu temuan ilmiah paling kokoh — dan paling menenangkan — tentang apa yang membuat hidup layak dijalani. Untuk sampai ke sana, kita harus berkenalan dengan sebuah studi yang telah berlangsung lebih lama daripada kebanyakan negara modern: Harvard Study of Adult Development.
Studi ini dimulai pada 1938, di tengah Depresi Besar, ketika sekelompok peneliti memutuskan untuk melakukan sesuatu yang hampir tak pernah dilakukan dalam ilmu pengetahuan: melacak kehidupan sekelompok manusia bukan selama setahun atau lima tahun, melainkan selama seluruh rentang hidup mereka, dari masa muda hingga usia senja, bahkan hingga kematian. Mereka mulai dengan 268 mahasiswa Harvard, lalu menambahkan sekelompok pemuda dari lingkungan miskin di kota Boston. Selama lebih dari delapan dekade — kini sudah hampir sembilan puluh tahun — para peneliti memeriksa rekam medis para peserta, mewawancarai mereka, mendatangi rumah mereka, berbicara dengan pasangan dan anak-anak mereka, dan dengan tekun mencatat: siapa yang berkembang, siapa yang terpuruk, dan mengapa. Ketika para peserta asli meninggal, studi terus berjalan dengan melacak keturunan mereka. Robert Waldinger, psikiater Harvard yang kini memimpin studi ini bersama Marc Schulz, menyebutnya sebagai sebuah “harta karun” data tentang kehidupan manusia yang nyaris tak ada bandingannya.
Pertanyaan yang dikejar studi ini persis pertanyaan kita: apa yang membuat hidup berjalan baik? Bukan dalam teori, bukan dalam khotbah, melainkan dalam fakta empiris yang terkumpul selama berpuluh tahun. Dan setelah delapan dekade lebih menggali data — ribuan halaman wawancara, rekam medis, hasil tes — jawaban yang muncul ternyata sederhana, hampir mengecewakan dalam kesederhanaannya. Waldinger dan Schulz merangkumnya dalam satu kalimat yang menolak segala hiasan: hubungan yang baik membuat kita lebih sehat dan lebih bahagia. Titik (Waldinger & Schulz, 2023).
Bukan kekayaan. Bukan ketenaran. Bukan IQ. Bukan kelas sosial. Bukan bahkan gen. Faktor tunggal yang paling konsisten memprediksi siapa yang menjalani hidup baik dan panjang adalah kualitas hubungan seseorang dengan orang lain — dengan keluarga, dengan teman, dengan komunitas. Temuan ini berlaku merata, baik di kalangan lulusan Harvard yang istimewa maupun di kalangan pemuda miskin Boston. Salah satu hasil yang paling sering dikutip dari studi ini: tingkat kepuasan seseorang terhadap hubungan-hubungannya pada usia lima puluh tahun ternyata adalah prediktor kesehatan fisiknya di kemudian hari yang lebih baik daripada kadar kolesterolnya. Bukan kolesterolmu yang meramalkan bagaimana tubuhmu akan menua, melainkan apakah engkau punya orang-orang yang sungguh-sungguh dekat denganmu.
Mengapa? Mekanismenya, sejauh yang dapat ditafsirkan para peneliti, berkaitan dengan stres. Hubungan yang baik tampaknya berfungsi sebagai semacam peredam (*buffer*) terhadap tekanan-tekanan hidup. Dalam sebuah studi atas pasangan-pasangan berusia delapan puluhan, Waldinger dan Schulz menemukan bahwa mereka yang puas dengan pernikahannya mampu menahan dampak negatif kesehatan yang buruk terhadap suasana hatinya: pada hari-hari ketika mereka mengalami nyeri fisik yang lebih besar, suasana hati mereka tetap stabil. Sebaliknya, mereka yang tidak puas dengan hubungannya merasakan nyeri fisiknya diperbesar oleh ketidakbahagiaan emosional. Hubungan yang hangat, dengan kata lain, secara harfiah meredam rasa sakit. Dan Waldinger menarik kesimpulan yang sering luput dari perhatian kita di dunia yang terobsesi pada olahraga dan diet: merawat hubunganmu adalah bentuk perawatan diri (*self-care*) yang setara pentingnya dengan merawat tubuhmu.
Sebelum kita terlalu cepat mengubah temuan ini menjadi slogan, kejujuran intelektual menuntut kita untuk berhenti dan mendengarkan para pengkritiknya — sebab steelman atas keberatan adalah bagian dari berpikir yang jujur. Para kritikus menunjuk bahwa Harvard Study, betapapun mengesankan durasinya, didasarkan pada sampel yang sempit: sebagian besar laki-laki, sebagian besar kulit putih, di Amerika Serikat, pada periode sejarah yang sangat spesifik. Apakah temuan tentang pernikahan dan kepuasan hubungan dari kohort itu benar-benar berlaku universal — untuk perempuan, untuk budaya kolektivis seperti Indonesia, untuk struktur keluarga yang sama sekali berbeda? Mengukur apa yang membuat sebuah hubungan “baik” atau “memuaskan” adalah pekerjaan yang licin, dan menautkan perasaan-perasaan itu secara langsung pada keluaran kesehatan adalah pekerjaan yang bahkan lebih sulit lagi. Keberatan-keberatan ini sah dan tak boleh disepelekan. Namun yang menarik, justru karena temuan tentang sentralitas hubungan dikonfirmasi pula oleh garis-garis riset yang sepenuhnya independen — studi-studi tentang kesepian, misalnya, yang menunjukkan bahwa isolasi sosial kronis berdampak pada tubuh setara dengan merokok — maka inti temuannya bertahan meski sampelnya terbatas. Bukan detail kulturalnya yang universal, melainkan kebutuhan dasarnya: manusia, sebagai spesies, dibentuk oleh evolusi untuk hidup dalam ikatan dengan sesamanya, dan ketika ikatan itu putus, sesuatu dalam diri kita ikut rusak.
Lalu bagaimana dengan uang? Pertanyaan ini tak bisa kita hindari, sebab Rahmat di warung kopi itu, dan jutaan orang seperti dia, menjalani hidup yang sebagian besar dihabiskan untuk mengejarnya. Dan di sini ilmu pengetahuan menawarkan sebuah jawaban yang lebih bernuansa daripada klise mana pun — baik klise “uang tak bisa membeli kebahagiaan” maupun klise sebaliknya.
Kisahnya bermula pada 2010, ketika Daniel Kahneman, psikolog peraih Nobel, bersama ekonom Angus Deaton, menerbitkan sebuah temuan yang menjadi sangat terkenal: kesejahteraan emosional sehari-hari memang meningkat seiring pendapatan, tetapi hanya sampai sekitar 75.000 dolar AS per tahun, setelah itu mendatar (Kahneman & Deaton, 2010). Pesannya tampak jelas dan memuaskan secara moral: setelah kebutuhanmu terpenuhi, uang tambahan tak lagi membeli kebahagiaan. Tetapi satu dekade kemudian, Matthew Killingsworth dari University of Pennsylvania, dengan memanfaatkan ponsel pintar untuk mengumpulkan lebih dari 1,7 juta laporan suasana hati secara *real-time* dari puluhan ribu orang, menemukan hal yang bertentangan: kebahagiaan terus meningkat seiring pendapatan, bahkan jauh di atas 75.000 dolar, tanpa dataran yang jelas (Killingsworth, 2021).
Yang terjadi selanjutnya adalah salah satu episode paling elegan dalam sejarah ilmu sosial. Alih-alih saling menyerang lewat jurnal, kedua peneliti dengan temuan yang berlawanan itu memutuskan untuk berkolaborasi — sebuah praktik yang Kahneman sebut *adversarial collaboration*, kolaborasi antarseteru — dengan menggandeng Barbara Mellers sebagai penengah. Mereka membongkar ulang data masing-masing untuk mencari di mana letak perbedaannya. Dan jawaban yang mereka temukan, terbit di *PNAS* pada 2023, jauh lebih menarik daripada kedua temuan asli (Killingsworth et al., 2023). Bagi sebagian besar orang, ternyata, kebahagiaan memang terus meningkat seiring pendapatan, bahkan jauh di atas 75.000 dolar — Killingsworth benar. Tetapi bagi sekitar dua puluh persen orang yang paling tidak bahagia dalam sampel, kebahagiaan meningkat seiring pendapatan hanya sampai sekitar 100.000 dolar, lalu mendatar — Kahneman juga benar, untuk kelompok ini. Dengan kalimat Killingsworth sendiri yang patut direnungkan: bagi orang yang sangat miskin, uang jelas sangat membantu; tetapi jika engkau sudah punya pendapatan yang layak dan tetap merasa sengsara, sumber kesengsaraanmu kemungkinan besar bukanlah sesuatu yang bisa diperbaiki oleh uang.
Inilah temuan yang, menurut saya, paling jujur dan paling berguna tentang uang dan kehidupan yang baik. Uang itu nyata pentingnya — bukan ilusi, bukan jebakan, melainkan kebutuhan riil, terutama bagi mereka yang masih bergulat dengan kemiskinan. Mengabaikan ini, berkhotbah kepada operator tungku bahwa “uang tak membeli kebahagiaan” sementara ia bekerja dua belas jam sehari untuk menafkahi keluarganya, adalah kemewahan moral yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang sudah kenyang. Tetapi uang memiliki batas terhadap apa yang bisa diperbaikinya. Ia dapat menghapus penderitaan yang lahir dari kekurangan; ia tak dapat mengisi kehampaan yang lahir dari ketiadaan makna. Jika kesengsaraanmu berakar pada kesepian, pada hubungan yang rusak, pada rasa bahwa hidupmu tak mengarah ke mana-mana — maka tak ada jumlah angka di rekening yang akan menyembuhkannya. Engkau hanya akan menjadi orang yang sengsara dengan rekening yang lebih besar.
Kita kini punya cukup kepingan untuk menyusun sebuah gambaran. Hidup yang layak dijalani, jika kita percaya pada bukti yang terkumpul, tampaknya berdiri di atas tiga pilar yang saling menopang. Yang pertama adalah *hubungan* — ikatan yang hangat dan andal dengan orang lain, yang merupakan prediktor tunggal terkuat dari kesehatan dan kebahagiaan jangka panjang. Yang kedua adalah *makna dan tujuan* — rasa bahwa hidupmu terarah pada sesuatu yang berharga, yang ternyata berkaitan bahkan dengan umur panjang itu sendiri. Dan yang ketiga adalah *kecukupan material* — bukan kekayaan tanpa batas, melainkan pondasi yang cukup untuk menghapus penderitaan yang lahir dari kekurangan. Ketiganya bukan saling bersaing melainkan saling menyokong: hubungan yang baik sering kali menjadi sumber makna; tujuan yang jelas sering kali kita kejar bersama orang lain; kecukupan material memberi ruang bagi keduanya untuk tumbuh.
Tetapi ada sesuatu yang masih kurang dari gambaran ini, sesuatu yang terlalu rapi, terlalu mirip dengan daftar resep. Dan di sinilah kita harus kembali ke Camus, yang dengan jujur menolak segala resep semacam itu.
Sebab perhatikan: semua temuan yang baru saja kita susun mengandaikan bahwa hidup *bisa* dibuat bermakna, bahwa ada bahan-bahan yang, jika dikumpulkan dengan benar, akan menghasilkan kehidupan yang layak. Camus mengajukan kemungkinan yang lebih gelap dan, justru karena itu, lebih membebaskan. Bagaimana jika alam semesta sebenarnya diam — tak peduli, tak punya tujuan kosmis yang disiapkan untuk kita? Bagaimana jika tak ada makna *di luar sana*, menunggu ditemukan? Camus menyebut kondisi ini *absurd*: jurang antara kerinduan manusia akan makna dan keheningan dunia yang menolak memberikannya. Manusia menuntut alasan; alam semesta tak menjawab. Dari konfrontasi inilah, menurut Camus, lahir pertanyaan tentang apakah hidup layak dijalani.
Jawaban Camus terkenal dan, bagi saya, lebih dalam daripada yang sering dipahami. Ia menolak bunuh diri, tetapi ia juga menolak “lompatan iman” — penyerahan diri pada agama, ideologi, atau filsafat apa pun yang berpura-pura telah memecahkan keabsurdan. Jalan ketiga yang ia tawarkan adalah *pemberontakan*: hidup justru *dengan* kesadaran penuh akan keabsurdan, menolak menyerah pada keputusasaan maupun pada penghiburan palsu. Sisifus, yang dikutuk para dewa untuk selamanya mendorong batu ke puncak bukit hanya untuk melihatnya menggelinding kembali, adalah pahlawan absurd Camus. Dan kalimat penutup esainya yang masyhur — kita harus membayangkan Sisifus berbahagia — bukanlah optimisme murahan. Ia adalah pernyataan bahwa makna bukanlah sesuatu yang kita *temukan* di dunia, melainkan sesuatu yang kita *ciptakan* lewat cara kita menjalani, lewat sikap kita terhadap batu yang harus didorong, lewat keberanian untuk terus mendorong tanpa jaminan apa pun.
Di sinilah, menariknya, filsafat dan ilmu pengetahuan bertemu di tempat yang tak terduga. Sebab temuan-temuan empiris itu — bahwa makna berkaitan dengan tujuan, bahwa tujuan adalah sesuatu yang kita arahkan, bahwa hubungan adalah sesuatu yang harus dirawat dan diperjuangkan, bukan ditemukan dalam keadaan jadi — semuanya menunjuk pada kesimpulan yang sama dengan Camus, hanya saja dengan bahasa yang berbeda. Steger membedakan antara *kehadiran* makna dan *pencarian* makna; Waldinger menekankan bahwa hubungan, seperti investasi mana pun, akan layu jika dibiarkan terbengkalai, dan bahwa orang-orang yang paling berkembang adalah mereka yang paling *sengaja* (*intentional*) dalam merawat ikatan mereka. Kata kuncinya, baik dalam filsafat maupun dalam data, adalah *agensi*. Makna bukanlah hadiah yang menunggu dibuka; ia adalah hasil dari tindakan, perhatian, dan komitmen yang berulang. Sisifus mendorong batunya; orang tua merawat anaknya melalui malam-malam tanpa tidur; Rahmat, jika ia memilihnya, dapat menjadikan dua belas jam di depan tungku itu bukan sekadar pertukaran waktu demi upah, melainkan bagian dari sebuah kisah yang ia ceritakan tentang dirinya sendiri — kisah seorang anak petani yang menafkahi, yang membangun, yang menolak menyerah.
Namun saya harus berhenti di sini dan jujur tentang batas-batas dari segala yang telah saya paparkan, sebab menyembunyikan keterbatasan adalah bentuk ketidakjujuran yang paling halus. Pertama, hampir seluruh riset empiris yang saya kutip berasal dari konteks Barat — Amerika Serikat, Eropa — dengan sampel yang sering kali tak mewakili dunia tempat sebagian besar manusia, termasuk Rahmat dan saya, sebenarnya hidup. Bagaimana makna, hubungan, dan tujuan bekerja dalam masyarakat yang lebih kolektivis, lebih religius, lebih komunal seperti Indonesia adalah pertanyaan yang sebagian besar masih belum terjawab oleh ilmu pengetahuan. Boleh jadi pilar-pilar yang sama tetap berlaku; boleh jadi bobotnya berbeda; boleh jadi ada pilar keempat — keterikatan pada yang transenden, pada komunitas, pada tanah — yang luput dari instrumen-instrumen yang dirancang di laboratorium Barat. Kedua, korelasi bukanlah kausalitas. Bahwa orang yang punya tujuan hidup lebih panjang umur tidak serta-merta berarti bahwa menanamkan tujuan akan memperpanjang umur siapa pun; mungkin ada faktor ketiga — kesehatan, temperamen, keberuntungan — yang menghasilkan keduanya sekaligus. Para peneliti berusaha mengendalikan variabel-variabel ini, tetapi tak ada studi observasional yang sepenuhnya bebas dari keraguan ini. Ketiga, dan paling mendasar: ada sesuatu yang barangkali tak pernah bisa ditangkap oleh kuesioner mana pun. Pengalaman batin tentang makna — momen ketika seseorang memandang anaknya yang tertidur, atau ketika ia menyelesaikan sesuatu yang ia perjuangkan bertahun-tahun, atau ketika ia merasakan kehadiran sesuatu yang lebih besar dari dirinya — adalah pengalaman yang, pada akhirnya, hanya bisa dijalani, tak bisa diukur. Ilmu pengetahuan dapat menunjuk ke arah pintu; ia tak bisa melewatinya untuk kita.
Maka, apa yang membuat hidup layak dijalani? Saya tak akan menutup tulisan ini dengan jawaban yang rapi, sebab pertanyaan ini menolak jawaban yang rapi, dan setiap kali seseorang menawarkannya kepada Anda dengan terlalu percaya diri, ada baiknya Anda waspada. Yang bisa saya katakan adalah ini: bukti terbaik yang kita miliki — dari studi yang melacak ribuan kehidupan selama hampir satu abad, dari pengukuran makna yang teliti, dari rekonsiliasi atas perdebatan tentang uang dan kebahagiaan — secara mengejutkan tidak menunjuk pada hal-hal yang dikejar oleh sebagian besar dari kita di sebagian besar waktu kita. Bukan akumulasi, bukan status, bukan kesenangan yang terus diperbarui. Melainkan hal-hal yang lebih tua, lebih lambat, lebih sulit: orang-orang yang kita pegang erat, pekerjaan yang kita anggap berarti, dan keberanian untuk terus mendorong batu kita meskipun kita tahu — atau justru karena kita tahu — bahwa tak ada jaminan ia akan tetap di puncak.
Rahmat masih duduk di warung kopi itu, kopinya kini benar-benar dingin. Pertanyaannya tetap menggantung: untuk apa, sebenarnya, semua ini? Ilmu pengetahuan dan filsafat, setelah berabad-abad bekerja, tak memberinya jawaban yang bisa diminum bersama kopinya. Tetapi mungkin keduanya memberinya sesuatu yang lebih jujur — bukan jawaban, melainkan arah. Pulanglah, kata mereka. Telepon orang yang kaukasihi. Temukan, dalam pekerjaan kerasmu, sebuah kisah yang layak diceritakan. Dan jangan pernah berhenti bertanya, sebab pertanyaan itu sendiri — *untuk apa semua ini* — bukanlah tanda bahwa ada yang salah denganmu. Ia adalah tanda yang paling pasti bahwa engkau masih hidup.
—
## Daftar Pustaka
Boyle, P. A., Barnes, L. L., Buchman, A. S., & Bennett, D. A. (2009). Purpose in life is associated with mortality among community-dwelling older persons. *Psychosomatic Medicine, 71*(5), 574–579.
Camus, A. (1942). *Le mythe de Sisyphe*. Gallimard.
Kahneman, D., & Deaton, A. (2010). High income improves evaluation of life but not emotional well-being. *Proceedings of the National Academy of Sciences, 107*(38), 16489–16493.
Killingsworth, M. A. (2021). Experienced well-being rises with income, even above $75,000 per year. *Proceedings of the National Academy of Sciences, 118*(4), e2016976118.
Killingsworth, M. A., Kahneman, D., & Mellers, B. (2023). Income and emotional well-being: A conflict resolved. *Proceedings of the National Academy of Sciences, 120*(10), e2208661120.
Steger, M. F., Frazier, P., Oishi, S., & Kaler, M. (2006). The Meaning in Life Questionnaire: Assessing the presence of and search for meaning in life. *Journal of Counseling Psychology, 53*(1), 80–93.
Steger, M. F. (2017). Meaning in life and wellbeing. Dalam M. Slade, L. Oades, & A. Jarden (Eds.), *Wellbeing, recovery and mental health*. Cambridge University Press.
Waldinger, R. J., & Schulz, M. (2023). *The good life: Lessons from the world’s longest scientific study of happiness*. Simon & Schuster.
