Siapa yang memikul tanggung jawab moral atas dampak industri?

Pada suatu pagi di pertengahan 2023, seorang insinyur proses bernama—sebut saja—Rangga berdiri di tepi tanur peleburan di sebuah kawasan industri nikel di pesisir timur Sulawesi. Ia memegang tablet berisi data emisi, angka-angka yang ia sendiri kalibrasi dan tanda tangani setiap shift. Di belakangnya, asap putih kelabu naik dari cerobong dengan ritme yang nyaris teratur, seperti napas raksasa yang tidur. Di depannya, melewati pagar dan jalan tanah, ada perkampungan yang dua dekade lalu masih menanam cengkih dan menjala ikan di teluk yang kini berwarna keruh. Rangga tahu betul bahwa pekerjaannya memberi makan ribuan keluarga. Ia juga tahu bahwa sesuatu di kampung itu sedang mati pelan-pelan. Pertanyaan yang ia tak pernah ucapkan kepada siapa pun, bahkan kepada istrinya, adalah pertanyaan yang sederhana sampai mengerikan: kalau teluk itu benar-benar tak bisa dipulihkan, apakah itu salahku?

Pertanyaan Rangga bukan pertanyaan teknis. Ia bisa menjawab dengan presisi berapa partikulat yang lolos dari penyaring, berapa ton terak yang ditimbun, berapa derajat suhu air buangan. Yang tak bisa ia jawab adalah pertanyaan yang berdiri di belakang semua angka itu: ketika sebuah industri merusak dunia di sekitarnya—mencemari, menggusur, menghabiskan, memanaskan—siapa sebenarnya yang memikul tanggung jawab moral atas kerusakan itu? Apakah ia, si insinyur yang menekan tombol? Apakah perusahaan, entitas hukum tak berwujud yang menandatangani izin? Apakah konsumen di belahan dunia lain yang mobil listriknya butuh nikel itu? Apakah negara yang membuka keran investasi? Atau apakah pertanyaan itu sendiri keliru, karena tak ada satu pun pemikul yang cukup besar untuk memuat beban sebesar itu?

Kegamangan Rangga adalah kegamangan zaman kita. Kita hidup di tengah mesin-mesin yang menghasilkan kemakmuran sekaligus kehancuran dalam tarikan napas yang sama, dan kita kehilangan kosakata moral untuk menjelaskan siapa yang harus menanggung apa. Filsafat punya banyak jawaban untuk pertanyaan ini—jawaban yang saling bertabrakan, saling membatalkan, dan kadang saling membutuhkan. Esai ini bukan upaya memilih satu di antara mereka. Ia adalah upaya berdiri, sebentar, di tempat Rangga berdiri, dan mendengarkan apa yang dikatakan tradisi-tradisi pemikiran yang berbeda ketika mereka menatap teluk yang sama.

## **Mesin yang Tak Punya Hati: Warisan Liberalisme dan Batas Tanggung Jawab Individual**

Tradisi pertama yang berbicara—dan biasanya yang paling keras suaranya dalam ruang hukum dan ekonomi modern—adalah tradisi liberal yang meletakkan individu sebagai pusat agensi moral. Dalam pandangan ini, tanggung jawab adalah urusan pribadi: ia melekat pada seseorang yang punya niat, yang punya pilihan, yang bisa berbuat lain. Akar pandangan ini terbentang jauh ke belakang, ke etika Aristotelian tentang tindakan sukarela, lalu mengeras dalam pemikiran modern tentang agensi rasional. Seorang aktor moral bertanggung jawab atas akibat yang ia ketahui dan ia kehendaki, atau yang sepatutnya ia ketahui.

Bagi seorang seperti Rangga, tradisi ini menawarkan kelegaan sekaligus jebakan. Kelegaannya begini: ia hanyalah satu mata rantai. Ia tidak merancang kawasan industri itu, tidak memutuskan untuk membangunnya di teluk yang subur, tidak menentukan standar emisi yang longgar. Ia menjalankan tugas dalam koridor yang ditetapkan orang lain. Argumen klasik di sini adalah argumen tentang “tangan yang banyak”—the problem of many hands—yang dirumuskan dengan tajam oleh Dennis Thompson dalam konteks etika birokrasi. Ketika sebuah hasil buruk diproduksi oleh ribuan keputusan kecil yang tersebar di banyak orang, tanggung jawab tiap individu menjadi begitu encer sehingga nyaris hilang. Tak ada satu pun yang melakukan kerusakan; semua hanya melakukan sebagian.

Tetapi di sinilah jebakannya. Jika tanggung jawab encer karena tersebar, maka tak seorang pun bertanggung jawab penuh, dan kerusakan menjadi yatim piatu—nyata tetapi tak berbapak. Hannah Arendt, menatap birokrasi pembunuhan di abad kedua puluh, menyebut ini sebagai bentuk paling mengerikan dari pemerintahan: “tirani tanpa tiran”, rule by Nobody, di mana sistem memproduksi kengerian tanpa ada satu pun penjahat yang bisa ditunjuk. Industri kontemporer, dalam skalanya yang raksasa dan rantai pasoknya yang berkelok, mewujudkan persis struktur ini. Setiap orang patuh; setiap orang menjalankan perannya dengan kompeten; dan di ujungnya teluk itu mati.

Liberalisme klasik menjawab kegamangan Rangga dengan menggeser beban ke struktur kelembagaan: yang bersalah bukan individu, melainkan korporasi sebagai persona ficta, badan hukum yang sengaja diciptakan agar bisa menanggung tanggung jawab yang melampaui kapasitas orang-perorang. Inilah logika di balik doktrin pertanggungjawaban korporasi. Peter French, filsuf yang paling sistematis membela gagasan ini, berargumen bahwa korporasi memiliki “struktur keputusan internal” yang membuatnya layak disebut agen moral sejati—bukan sekadar kumpulan individu, melainkan entitas dengan niat dan kebijakannya sendiri. Jika benar demikian, maka beban Rangga berpindah ke pundak yang lebih luas: perusahaanlah yang bertanggung jawab, bukan dia.

Namun di sini muncul keberatan yang tak mudah dipatahkan. Sebuah korporasi tidak bisa merasakan malu. Ia tidak bisa terjaga di malam hari memikirkan teluk yang keruh. Ia tidak bisa, dalam pengertian yang paling dalam, menyesal. Tanggung jawab moral yang dilekatkan pada entitas yang tak mampu menderita konsekuensi batinnya adalah tanggung jawab yang hampa—sebuah fiksi hukum yang berguna untuk menarik denda, tetapi mungkin kosong secara moral. Dan ketika korporasi membayar denda lalu melanjutkan operasinya, ada perasaan mengganjal bahwa keadilan belum terjadi, hanya transaksi.

## **Bukan Niat, Melainkan Struktur: Pembacaan Material-Historis**

Jika tradisi liberal bertanya “siapa yang berniat?”, tradisi material-historis yang berakar pada Marx dan diteruskan oleh para pemikir kritis bertanya sebaliknya: mengapa kita begitu yakin bahwa niat individual adalah tempat yang tepat untuk mencari tanggung jawab? Bagi tradisi ini, fokus pada agen-agen perorangan justru merupakan kekeliruan ideologis yang menyembunyikan sumber kerusakan yang sesungguhnya: struktur akumulasi kapital itu sendiri.

Dalam pembacaan ini, Rangga dan bahkan para manajer di atasnya bukanlah pengambil keputusan bebas melainkan pengemban fungsi—Charaktermasken, “topeng karakter”, dalam istilah Marx, personifikasi dari kategori-kategori ekonomi yang bergerak menurut logikanya sendiri. Kapital harus tumbuh; pertumbuhan menuntut ekstraksi; ekstraksi mengeksternalkan biayanya ke alam dan tubuh pekerja. Tak ada kejahatan personal di sini, hanya keniscayaan sistemik. Seorang kapitalis yang menolak mengeksternalkan biaya akan tersingkir dari pasar oleh pesaing yang lebih kejam. Sistem menyeleksi kekejaman.

Pandangan ini punya daya jelas yang menakutkan. Ia menjelaskan mengapa pergantian individu—mengganti CEO, memenjarakan satu pelaku—jarang mengubah apa pun. Ia menjelaskan mengapa regulasi sering kandas: karena yang harus diubah bukan perilaku orang, melainkan insentif struktural yang membentuk perilaku itu. John Bellamy Foster, mengembangkan konsep yang ia sebut “metabolic rift”, retakan metabolik, menunjukkan bahwa kapitalisme secara inheren memutus sirkuit pertukaran berkelanjutan antara masyarakat dan alam, mengubah tanah dan tubuh menjadi sumber daya yang dikuras tanpa pemulihan. Teluk yang mati di Sulawesi, dalam kerangka ini, bukan kecelakaan yang bisa dihindari dengan teknologi lebih baik atau manajer lebih bermoral. Ia adalah ekspresi logis dari sistem yang berfungsi persis sebagaimana dirancang.

Tetapi tradisi ini menyimpan paradoks yang membuat gamang. Jika kerusakan adalah produk struktur dan bukan agen, jika Rangga hanyalah topeng yang dipakai kapital, maka tampaknya tak seorang pun bisa disalahkan—dan kita kembali ke tirani tanpa tiran, kali ini dari arah yang berlawanan. Determinisme struktural yang terlalu kuat menelan tanggung jawab moral seutuhnya. Jika tak ada yang bisa berbuat lain, maka tak ada yang bersalah, dan kita berakhir di tempat yang sama dengan liberalisme yang gagal: kerusakan tanpa pemikul.

Para pemikir kritis yang lebih hati-hati menolak determinisme telanjang ini. Mereka berargumen bahwa struktur memang membentuk pilihan, tetapi tidak meniadakannya; bahwa tanggung jawab di bawah kapitalisme bersifat berlapis dan tidak merata; bahwa mereka yang mengakumulasi keuntungan terbesar dari kerusakan memikul beban yang lebih berat daripada mereka yang sekadar bertahan hidup di dalamnya. Rangga yang menjalankan tanur untuk menghidupi keluarganya tidak berdiri di tempat moral yang sama dengan pemegang saham yang dividennya tumbuh dari teluk yang sekarat. Tanggung jawab, dalam pembacaan yang lebih matang ini, mengalir mengikuti aliran keuntungan—bukan secara mekanis, tetapi sebagai prinsip orientasi.

## **Teknologi yang Memilih untuk Kita: Suara Ellul dan Para Pemikir Teknik**

Ada tradisi ketiga yang menggeser pertanyaan ke arah yang lebih asing dan, bagi banyak orang, lebih meresahkan. Bagaimana jika yang bertanggung jawab bukan manusia maupun struktur ekonomi, melainkan teknologi itu sendiri—bukan sebagai alat netral, tetapi sebagai kekuatan dengan logika otonomnya sendiri?

Jacques Ellul, dalam karyanya yang masif tentang apa yang ia sebut la technique, berargumen bahwa peradaban teknis modern telah melampaui kendali manusia. Teknik bukan sekadar kumpulan mesin; ia adalah cara berpikir, sebuah imperatif efisiensi yang merembes ke setiap sudut kehidupan dan menundukkan semua nilai lain pada pertanyaan tunggal: apa cara paling efisien? Dalam pandangan Ellul yang suram, manusia modern tidak lagi memilih teknologi; teknologi memilih dirinya sendiri, berkembang menurut momentumnya sendiri, dan manusia sekadar menyesuaikan diri. Kawasan industri nikel itu ada bukan karena seseorang memutuskan ia harus ada, melainkan karena logika teknis-ekonomi global menuntut nikel, dan tuntutan itu menemukan teluk yang subur sebagai titik realisasinya yang paling efisien.

Jika Ellul benar, maka pertanyaan Rangga kehilangan pijakannya. Bertanya “apakah ini salahku” mengandaikan ada ruang untuk memilih lain, sementara Ellul menyangkal ruang itu pernah ada. Namun di sinilah para penerusnya melakukan koreksi penting. Langdon Winner, dalam esainya yang termasyhur tentang apakah artefak punya politik, menolak baik netralitas teknologi maupun otonomi total Ellul. Ia berargumen bahwa teknologi mewujudkan pilihan politik—bahwa cara kita merancang sistem teknis mengandung dan memaksakan bentuk-bentuk kekuasaan tertentu. Sebuah pabrik yang dirancang agar buangannya mengalir ke teluk alih-alih diolah bukanlah keniscayaan teknis; ia adalah keputusan politik yang dibekukan ke dalam beton dan pipa.

Bernard Stiegler mendorong percakapan ini lebih jauh dengan gagasannya bahwa teknologi adalah pharmakon—racun dan obat sekaligus. Teknik yang sama yang menghancurkan juga yang membentuk kemampuan kita untuk berpikir dan peduli. Maka tanggung jawab, bagi Stiegler, tidak terletak pada menolak teknologi atau menyerah padanya, melainkan pada perawatan—merawat arah perkembangan teknis agar ia tidak menghabiskan kondisi-kondisi bagi keberadaan manusia yang bermakna. Ini menggeser pertanyaan dari “siapa yang salah” ke “siapa yang merawat”, sebuah pergeseran yang akan kita temui lagi nanti.

Tradisi ini meninggalkan Rangga dalam posisi yang aneh. Ia bukan penjahat dan bukan pula sekadar korban; ia adalah simpul dalam sebuah sistem teknis yang sebagiannya melampaui kehendak siapa pun, tetapi yang setiap simpulnya tetap memikul fragmen tanggung jawab atas bagaimana sistem itu dirawat atau ditelantarkan. Beban itu tidak hilang; ia berubah bentuk dari rasa bersalah menjadi semacam panggilan kewaspadaan.

## **Wajah di Seberang Pagar: Etika Tanggung Jawab dan Relasi**

Tradisi-tradisi sejauh ini berdebat tentang sebab dan agensi. Sebuah tradisi keempat memulai dari tempat yang sama sekali berbeda: bukan dari pertanyaan siapa yang menyebabkan, melainkan dari hadirnya yang menderita.

Emmanuel Levinas membangun seluruh etikanya di atas perjumpaan dengan wajah Liyan—le visage d’autrui—yang dalam kehadirannya yang telanjang memerintahkan: jangan biarkan aku binasa. Bagi Levinas, tanggung jawab bukan sesuatu yang kita pikul karena kita menyebabkan; ia mendahului segala sebab. Aku bertanggung jawab atas Liyan bahkan untuk hal-hal yang tidak kulakukan, semata karena ia ada di hadapanku dan memanggil. Dalam kerangka ini, fakta bahwa Rangga tidak merancang kawasan industri itu menjadi tidak relevan secara moral. Yang relevan adalah bahwa di seberang pagar ada wajah-wajah—nelayan yang teluknya keruh, anak-anak yang udaranya beracun—dan kehadiran mereka membebani Rangga dengan tanggung jawab yang tak bisa ia oper ke korporasi atau ke struktur.

Hans Jonas, dari sudut yang berbeda, merumuskan apa yang ia sebut “imperatif tanggung jawab” untuk era teknologis. Etika tradisional, katanya, dirancang untuk dunia di mana akibat perbuatan kita berhenti di dekat kita, baik dalam ruang maupun waktu. Tetapi teknologi modern memperpanjang jangkauan tindakan kita sampai ke generasi yang belum lahir dan ke ekosistem yang utuh. Maka kita butuh prinsip baru: bertindaklah sedemikian rupa sehingga akibat perbuatanmu tidak menghancurkan kemungkinan kehidupan manusiawi di masa depan. Jonas memberi Rangga sesuatu yang tidak diberikan tradisi lain: alasan untuk merasa bertanggung jawab justru karena kekuatan teknologis yang ia layani begitu besar. Semakin besar kuasa untuk merusak, semakin berat beban untuk berhati-hati.

Iris Marion Young, dalam karyanya yang belum selesai saat ia wafat tetapi sangat berpengaruh, menawarkan jembatan antara tradisi struktural dan tradisi relasional ini. Ia membedakan antara “model tanggung jawab kesalahan”—yang mencari siapa yang patut disalahkan atas pelanggaran masa lalu—dan “model tanggung jawab sosial-koneksi” yang ia usulkan untuk ketidakadilan struktural. Dalam model Young, kita memikul tanggung jawab bukan karena kita bersalah secara langsung, melainkan karena kita terhubung melalui partisipasi kita dalam proses-proses yang menghasilkan ketidakadilan. Tanggung jawab ini bersifat ke depan, bukan ke belakang: ia menuntut kita berbuat sesuatu untuk mengubah struktur, bukan sekadar menentukan siapa yang harus dihukum. Bagi Young, Rangga, konsumen mobil listrik, pejabat perizinan, dan pemegang saham semua terhubung dalam jaring yang sama—dan tanggung jawab masing-masing diukur bukan dari sumbangan kausal yang presisi, melainkan dari posisi, kuasa, kepentingan, dan kemampuan kolektif untuk bertindak.

Tradisi relasional ini memiliki kekuatan moral yang langsung terasa karena ia mengembalikan teluk yang sekarat ke pusat percakapan. Tetapi ia pun menyimpan ketegangan. Jika aku bertanggung jawab atas semua wajah yang menderita karena rantai pasok yang kuhuni, tidakkah beban itu menjadi tak terhingga, lumpuh oleh skalanya sendiri? Levinas sendiri mengakui bahwa kehadiran “yang ketiga”—masyarakat luas di luar perjumpaan tatap muka—menuntut keadilan dan perhitungan, bukan sekadar tanggung jawab tak terbatas. Dan di situ kita kembali memerlukan struktur, lembaga, hukum: hal-hal yang justru hendak dilampaui oleh etika wajah.

## **Suara dari Selatan: Yang Hilang dari Peta Filosofis**

Ada sesuatu yang ganjil bila kita menyusun debat ini hanya dari para pemikir Eropa, sementara teluk yang sekarat berada di Sulawesi. Sebagian besar kerangka yang baru saja dibentangkan lahir dari pengalaman masyarakat industri Utara, di mana pabrik adalah pemandangan lama dan pekerja adalah subjek yang relatif terlembagakan. Mereka cenderung membayangkan dua aktor: kapital dan buruh, korporasi dan negara, perancang dan pengguna. Tetapi peta tanggung jawab di kawasan ekstraksi Selatan jauh lebih ramai dan lebih kabur.

Di sekitar teluk Rangga hidup orang-orang yang tak masuk dalam kategori mana pun: petani yang tanahnya dibeli dan kini menjadi buruh harian; nelayan yang tidak menjadi pekerja pabrik tetapi kehilangan lautnya; perempuan yang menanggung beban reproduksi sosial seluruh kampung pekerja migran tanpa pernah tercatat dalam statistik ketenagakerjaan; pemuda yang berpindah antara kerja informal, ojek daring, dan shift pabrik dalam lingkaran ketidakpastian. Literatur filsafat dominan nyaris bisu tentang mereka. Kerangka tanggung jawab yang dibangun untuk buruh pabrik terlembaga gagal menangkap realitas buruh agraria-transisional, pekerja informal, dan ekonomi gig yang justru menjadi mayoritas di banyak kawasan industri Selatan.

Tradisi pemikiran pascakolonial dan ekologi politik mengisi sebagian kekosongan ini. Konsep “akumulasi melalui perampasan” yang dirumuskan David Harvey, dan kajian-kajian tentang keadilan lingkungan, menunjukkan bahwa beban kerusakan industri tidak jatuh secara acak melainkan mengikuti garis-garis lama kolonialisme dan ras. Teluk yang dikorbankan hampir selalu adalah teluk di mana penduduknya paling sedikit kuasa untuk menolak. Maka pertanyaan “siapa yang bertanggung jawab” tak bisa dipisahkan dari pertanyaan “atas beban siapa kemakmuran ini dibangun”—dan jawabannya membentang melintasi batas negara, dari konsumen di Utara yang transisi energinya bersih di atas kertas, sampai ke teluk di Selatan yang menyerap kotorannya.

Suara ini penting karena ia mengganggu kenyamanan semua tradisi sebelumnya. Ia mengingatkan bahwa debat filosofis tentang tanggung jawab moral, bila tidak hati-hati, bisa menjadi cara halus untuk mengaburkan ketimpangan kuasa yang sangat konkret antara mereka yang memutuskan dan mereka yang menanggung.

## **Kegamangan yang Tak Terselesaikan**

Mari kita kembali kepada Rangga, kali ini di malam hari, di teras rumahnya yang dindingnya bergetar tipis oleh dengung pabrik yang tak pernah tidur. Ia telah, tanpa pernah membaca satu pun nama yang disebut di atas, menjalani semua argumen itu dalam tubuhnya sendiri.

Ada malam ketika ia merasa lega seperti seorang liberal: aku hanya menjalankan tugas, keputusan besar ada di tangan orang lain, beban ini bukan milikku. Tetapi kelegaan itu tak pernah bertahan sampai pagi, karena ia tahu—dengan pengetahuan yang lebih tua daripada argumen apa pun—bahwa tangannyalah yang menekan tombol, matanyalah yang membaca angka, tanda tangannyalah yang membuat semuanya resmi. Lalu datang malam ketika ia merasa seperti seorang Marxis: ini bukan tentang aku, ini tentang sistem yang akan menggilas siapa pun yang menolak; berhenti pun teluk tetap akan mati, hanya tangan lain yang akan menekan tombol yang sama. Dan argumen itu benar, sehingga membuatnya makin gamang, karena kebenaran struktural itu sama sekali tidak meringankan beban di dadanya. Determinisme yang sempurna pun tidak pernah berhasil membujuk hati nuraninya untuk tidur.

Ada pula malam ketika ia memikirkan teknologi dengan getir, seakan kawasan industri ini adalah makhluk yang tumbuh sendiri, tak terbendung, menuntut nikel sebagaimana api menuntut kayu, dan ia sekadar pelayan altar yang tak pernah memilih dewa yang ia layani. Tetapi justru pada malam-malam itu kalimat Stiegler—yang tak pernah ia baca tetapi ia rasakan—mendesak: kalau begitu, rawatlah; kalau kau tak bisa menghentikan api, jagalah agar ia tidak membakar lebih dari yang seharusnya. Dan ia teringat bahwa ia memang, diam-diam, melakukan itu: berkali-kali ia melaporkan kebocoran yang bisa ia tutupi, berkali-kali ia mendesak perbaikan penyaring yang bisa ia abaikan. Tindakan-tindakan kecil yang tak mengubah teluk, tetapi mengubah dirinya.

Dan ada malam—yang paling berat—ketika tak ada argumen yang datang sama sekali, hanya wajah. Wajah Pak Hasan, nelayan tua yang dulu mengajarinya memancing waktu kecil, yang kini duduk di dermaga memandang air yang tak lagi memberinya apa-apa. Pada malam-malam itu Rangga mengerti, tanpa perlu nama Levinas, bahwa ada bentuk tanggung jawab yang tidak menunggu pembuktian sebab-akibat, yang tidak bisa dialihkan ke korporasi atau dilarutkan ke dalam struktur, yang datang semata karena ia mengenal wajah itu dan wajah itu menderita. Beban itu tidak adil—ia bukan satu-satunya penyebab, bahkan bukan penyebab utama—tetapi keadilan distribusi kesalahan ternyata bukan hal yang bisa menenangkan seseorang yang mengenal nama korban.

Inilah kegamangan yang sesungguhnya: bukan karena Rangga tidak tahu jawaban yang benar, melainkan karena setiap jawaban benar pada saat yang berbeda, dan tak satu pun cukup. Liberalisme benar bahwa ia hanya satu mata rantai; tetapi ia berbohong jika ia memakainya untuk mencuci tangan. Marxisme benar bahwa struktur yang menggerakkan semuanya; tetapi ia menipu jika ia memakainya untuk menghapus agensi. Kritik teknologi benar bahwa mesin punya momentumnya sendiri; tetapi ia menyerah terlalu cepat jika ia melupakan ruang perawatan. Etika wajah benar bahwa penderitaan Liyan membebani kita langsung; tetapi ia naif jika ia mengira beban tak terbatas bisa dipikul tanpa lembaga yang membaginya.

## **Refleksi: Tentang Beban yang Memang Tak Bisa Dibagi Rata**

Mungkin kekeliruan kita sejak awal adalah membayangkan bahwa tanggung jawab moral adalah benda yang bisa ditimbang dan dialokasikan—seolah ada sejumlah tertentu kesalahan atas teluk yang mati, dan tugas filsafat adalah membaginya ke dalam kantong-kantong: sekian untuk Rangga, sekian untuk korporasi, sekian untuk konsumen, sekian untuk negara, hingga semuanya habis terbagi dan neraca seimbang. Gambaran ini menenangkan karena ia menjanjikan penyelesaian. Tetapi mungkin ia salah secara mendasar.

Barangkali tanggung jawab moral atas dampak industri bukanlah kuantitas yang terbatas melainkan medan yang menyelimuti semua yang berdiri di dalamnya, dengan kepekatan yang berbeda-beda. Ia paling pekat di sekitar mereka yang memutuskan dan paling diuntungkan, lebih tipis di sekitar mereka yang sekadar bertahan hidup di dalamnya, tetapi tidak pernah benar-benar nol bagi siapa pun yang ikut menghuninya—termasuk kita, para penulis dan pembaca esai ini, yang hidupnya pun dirajut dari logam-logam yang ditambang di teluk-teluk yang tak pernah kita lihat. Beban itu tidak terbagi habis. Ia menumpuk. Ia berlebih. Dan justru kelebihannya itulah yang membuat kita gamang, karena ia menolak diselesaikan oleh perhitungan apa pun.

Maka mungkin pertanyaan yang lebih jujur bukanlah “siapa yang memikul tanggung jawab”, seakan ada satu pemikul yang menunggu untuk diidentifikasi, melainkan “bagaimana kita hidup dengan tanggung jawab yang tak satu pun dari kita bisa pikul sendirian dan tak satu pun dari kita bisa tolak sepenuhnya”. Pertanyaan pertama mencari kambing hitam atau pembebasan; pertanyaan kedua mencari cara untuk tetap terjaga.

Rangga, di teras rumahnya, akhirnya tidak menemukan jawaban. Ia menemukan sesuatu yang barangkali lebih penting: ia berhenti mencari jawaban yang akan membebaskannya dari beban, dan mulai bertanya apa yang bisa ia lakukan dengan beban yang akan tetap ada apa pun yang ia putuskan. Ia tidak berhenti dari pekerjaannya—keluarganya butuh makan, dan teluk tak akan pulih hanya karena ia pergi. Tetapi ia juga tidak lagi berpura-pura bahwa beban itu bukan miliknya. Ia memilih untuk memikulnya dengan mata terbuka: melaporkan apa yang bisa ia laporkan, mendesak apa yang bisa ia desak, dan menolak untuk membiarkan dirinya nyaman. Mungkin itu bukan keadilan. Mungkin teluk tetap akan mati. Tetapi ada perbedaan, yang ia rasakan tanpa bisa ia jelaskan, antara seseorang yang merusak sambil tidur nyenyak dan seseorang yang merusak sambil terjaga dan gelisah dan mencari celah sekecil apa pun untuk merusak lebih sedikit.

Mungkin di situlah, pada akhirnya, tanggung jawab moral itu sungguh-sungguh tinggal: bukan pada jawaban yang kita berikan kepada pertanyaan itu, melainkan pada penolakan kita untuk membiarkan pertanyaan itu berhenti menghantui kita. Teluk yang keruh tidak menuntut kita menemukan siapa yang bersalah. Ia menuntut kita untuk tidak berpaling. Dan itu, barangkali, adalah satu-satunya beban yang sungguh bisa dipikul oleh siapa pun—termasuk oleh seorang insinyur yang berdiri di tepi tanur pada suatu pagi, memegang tablet berisi angka-angka yang ia tahu tidak akan pernah menjawab pertanyaan yang sesungguhnya.



## **Catatan untuk Bacaan Lanjutan**

Pembaca yang ingin menyusuri jalan pemikiran yang melintasi esai ini bisa memulai dari beberapa arah. Persoalan “tangan yang banyak” yang membuat tanggung jawab encer dalam organisasi besar dirumuskan dengan jernih oleh Dennis Thompson dalam tulisan-tulisannya tentang etika administrasi dan demokrasi, sementara potret paling menghantui tentang kengerian yang diproduksi oleh kepatuhan birokratis tanpa pelaku jahat tetaplah karya Hannah Arendt, terutama renungannya tentang banalitas kejahatan dan tentang “tirani tanpa tiran” dalam tulisannya mengenai kekerasan. Untuk membela gagasan bahwa korporasi bisa menjadi agen moral sejati dan bukan sekadar fiksi hukum, tulisan Peter French tentang pertanggungjawaban kolektif dan korporasi adalah titik masuk yang paling sistematis, meski pembaca sebaiknya membacanya berdampingan dengan para pengkritiknya yang meragukan apakah entitas yang tak bisa menderita layak disebut bertanggung jawab.

Bagi yang ingin menyelami pembacaan material-historis, Karl Marx sendiri—khususnya bagian-bagian Capital yang berbicara tentang manusia sebagai “topeng karakter” dari kategori ekonomi—tetap menjadi sumber yang tak tergantikan, sementara pembaharuan ekologisnya yang paling kuat ada pada John Bellamy Foster dan konsepnya tentang “retakan metabolik”, serta pada David Harvey yang merumuskan “akumulasi melalui perampasan” untuk menjelaskan bagaimana kapital memperluas dirinya dengan merampas yang belum terkomodifikasi. Tradisi kritik teknologi dibuka oleh Jacques Ellul dengan tesisnya yang suram tentang otonomi teknik, lalu diperhalus dan diperdebatkan oleh Langdon Winner dalam esainya yang masyhur tentang apakah artefak memiliki politik, dan didorong ke arah yang lebih terbuka oleh Bernard Stiegler dengan gagasannya tentang teknologi sebagai pharmakon yang sekaligus meracuni dan menyembuhkan.

Pada poros etika dan relasi, pembaca akan menemukan Emmanuel Levinas sebagai sumber yang paling menantang dengan etika wajahnya, meski karyanya menuntut kesabaran; Hans Jonas menawarkan jalan yang lebih terstruktur lewat “imperatif tanggung jawab”-nya yang dirancang khusus untuk kekuatan teknologis era kita; dan Iris Marion Young, dalam karyanya tentang tanggung jawab atas keadilan, memberikan jembatan paling praktis antara analisis struktural dan tuntutan moral personal melalui pembedaannya antara model kesalahan dan model koneksi sosial. Akhirnya, bagi pembaca yang merasa—dengan benar—bahwa peta ini terlalu Utara untuk teluk yang ada di Selatan, kajian-kajian keadilan lingkungan dan ekologi politik, bersama literatur pascakolonial tentang ekstraktivisme, menawarkan koreksi yang penting; mereka mengingatkan bahwa di balik setiap perdebatan abstrak tentang agensi dan struktur, selalu ada teluk yang konkret, dan selalu ada orang yang menanggung beban yang tidak mereka pilih.



## **Catatan tentang Batas Esai Ini**

Kejujuran menuntut esai ini mengakui apa yang tidak dilakukannya. Pertama, ia bersandar pada satu figur tunggal—seorang insinyur—sebagai pintu masuk, dan dengan itu tanpa sengaja mengulangi bias yang dikritiknya sendiri: ia menempatkan pekerja terlembaga di pusat narasi, sementara nelayan, petani transisional, perempuan yang menanggung kerja reproduktif, dan pekerja informal tetap menjadi latar, bukan subjek. Sebuah esai yang sungguh-sungguh setia pada keberatannya sendiri mungkin harus ditulis dari teras Pak Hasan, bukan dari teras Rangga.

Kedua, esai ini memperlakukan tradisi-tradisi filosofis sebagai suara yang relatif utuh dan koheren, padahal masing-masing penuh perdebatan internal yang tak sempat dibuka; Marxisme tidak tunggal, liberalisme bercabang banyak, dan menyebut “tradisi” sering kali menyembunyikan lebih dari yang diungkapkannya. Ketiga, dan paling mendasar, esai ini tidak menyediakan satu pun mekanisme konkret—hukum, kelembagaan, atau politik—untuk benar-benar mendistribusikan atau menegakkan tanggung jawab yang dibahasnya. Ia berakhir pada refleksi tentang sikap batin, dan sikap batin, betapapun jujurnya, tidak memulihkan teluk. Ada risiko nyata bahwa esai semacam ini, dengan kehalusannya, justru menjadi penghiburan bagi nurani tanpa mengubah apa pun di dunia material—persis bahaya yang diperingatkan oleh tradisi struktural. Pembaca berhak menuntut lebih dari sekadar keterjagaan; mereka berhak menuntut perubahan struktur insentif, penegakan hukum yang nyata, dan redistribusi kuasa kepada mereka yang menanggung beban. Esai ini hanya membuka pertanyaan; ia tidak, dan tidak bisa, menutupnya.

Discover more from bolakayu.id

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading