Pada suatu pagi di awal musim hujan, seorang lelaki bernama Rahmat berdiri di gerbang sebuah kawasan industri pengolahan nikel di pesisir timur Sulawesi, menunggu bus jemputan yang akan membawanya menempuh tiga kilometer terakhir menuju tungku peleburan tempat ia bekerja. Ia memegang kartu identitas pekerja yang menggantung di lehernya, sebuah benda plastik tipis yang menentukan apakah ia boleh masuk atau tidak, apakah ia tercatat hadir atau dianggap mangkir, apakah ia akan menerima upah penuh atau dipotong. Kartu itu, dalam segala kesederhanaannya, adalah sebuah artefak kekuasaan. Tetapi pertanyaan yang membuat Rahmat termenung pagi itu—pertanyaan yang sebenarnya telah lama mengendap tanpa pernah ia rumuskan dengan jelas—adalah ini: siapa sebenarnya yang menentukan bahwa kartu itu harus ada, bahwa ia harus berdiri di sini pada pukul setengah enam pagi, bahwa hidupnya selama dua belas jam ke depan akan diatur oleh ritme yang bukan ritmenya sendiri? Ia tahu nama mandornya. Ia tahu nama perusahaan tempatnya bekerja. Tetapi di balik itu, ada lapisan-lapisan yang kabur: pemegang saham yang tak pernah ia lihat, regulasi yang ditulis di ibu kota yang jauh, harga komoditas yang ditentukan di bursa logam London, permintaan baterai kendaraan listrik dari pabrik-pabrik di benua lain. Di manakah, dalam jaringan yang luas dan berlapis ini, kekuasaan itu sesungguhnya berdiam?
Pertanyaan Rahmat bukan pertanyaan baru. Ia adalah salah satu pertanyaan filosofis tertua yang dipicu oleh kelahiran sistem industri modern, dan ia tetap menjadi salah satu yang paling sulit dijawab. Siapa yang memegang kekuasaan dalam sistem industri, dan bagaimana kekuasaan itu dikendalikan? Pertanyaan ini tampak sederhana, hampir naif, tetapi setiap kali kita mencoba menjawabnya, jawabannya larut di antara jari-jari kita seperti pasir. Sebab kekuasaan dalam sistem industri bukanlah benda yang dapat ditunjuk, bukan takhta yang diduduki seseorang, bukan tongkat komando yang dipegang satu tangan. Ia adalah sesuatu yang sekaligus sangat konkret—terasa di punggung yang lelah, di paru-paru yang menghirup debu, di rekening yang menipis di akhir bulan—dan sangat abstrak, tersebar di seluruh struktur sedemikian rupa sehingga seolah-olah tidak ada siapa pun yang benar-benar memegangnya.
## **Warisan Marx dan Pertanyaan tentang Kepemilikan**
Tradisi pemikiran pertama yang harus kita datangi adalah yang paling lugas dalam menjawab pertanyaan ini, dan justru karena kelugasannya, ia tetap memikat. Bagi Karl Marx dan para pewarisnya, jawaban atas pertanyaan “siapa yang memegang kekuasaan” tidaklah misterius sama sekali. Kekuasaan dipegang oleh mereka yang memiliki alat-alat produksi—tungku peleburan, mesin, tanah tempat pabrik berdiri, modal yang membiayai semuanya. Rahmat, yang hanya memiliki tenaga kerjanya sendiri, terpaksa menjualnya kepada pemilik modal demi bertahan hidup. Dalam relasi inilah, menurut Marx, terletak inti dari seluruh persoalan: bukan dalam kekejaman individu majikan, melainkan dalam struktur yang membuat sebagian kecil orang menguasai sarana yang dibutuhkan semua orang untuk hidup, sehingga sisanya harus tunduk pada syarat-syarat yang ditetapkan segelintir pemilik itu.
Yang membuat analisis Marx tetap tajam setelah seabad lebih adalah konsepnya tentang nilai lebih. Rahmat bekerja dua belas jam, tetapi nilai yang ia hasilkan jauh melampaui upah yang ia terima. Selisih itu—yang oleh Marx disebut nilai lebih—mengalir ke atas, menumpuk sebagai keuntungan, modal yang kemudian diinvestasikan kembali untuk memperluas kapasitas produksi, membeli lebih banyak mesin, mempekerjakan lebih banyak Rahmat. Kekuasaan, dalam kerangka ini, bukan sekadar dominasi statis; ia adalah proses akumulasi yang terus berputar dan memperbesar dirinya sendiri. Pemilik modal berkuasa bukan karena ia jahat, melainkan karena posisi strukturalnya memaksanya untuk terus mengakumulasi, sebab modal yang tidak tumbuh akan tergilas oleh modal pesaing yang tumbuh lebih cepat.
Namun di sinilah kerangka Marxis mulai berhadapan dengan kompleksitas dunia yang ia coba jelaskan. Siapa “pemilik” dalam sistem industri kontemporer seperti yang dihadapi Rahmat? Perusahaan tempatnya bekerja mungkin merupakan usaha patungan antara modal asing dan domestik, dengan struktur kepemilikan yang berlapis melalui perusahaan-perusahaan induk yang terdaftar di yurisdiksi yang berbeda-beda. Pemegang saham terbesarnya mungkin sebuah dana investasi yang mengelola tabungan pensiun jutaan orang biasa di negeri yang jauh—orang-orang yang, secara teknis, adalah bagian dari “pemilik modal” yang menindas Rahmat, namun yang sama sekali tidak menyadari keberadaannya, apalagi memegang kendali nyata atas nasibnya. Kelas pemilik yang dahulu berwajah jelas—sang pabrikan dengan cerutu dan jam saku—kini telah mencair menjadi abstraksi finansial yang tersebar di seluruh dunia. Marx melihat tendensi ini sejak awal ketika ia menulis tentang kapital saham, tetapi skala dan kerumitannya hari ini barangkali melampaui apa yang dapat ia bayangkan.
## **Birokrasi Weber dan Penjara Rasionalitas**
Jika Marx mengarahkan pandangan kita pada kepemilikan, Max Weber mengarahkannya pada sesuatu yang lain: organisasi. Bagi Weber, hal yang paling menentukan dalam dunia modern bukanlah siapa yang memiliki, melainkan bagaimana kekuasaan disusun dan dijalankan secara rasional melalui aparatus administratif. Kartu identitas yang digantung Rahmat di lehernya adalah ikon Weberian yang sempurna: ia adalah perpanjangan dari sebuah sistem birokratis yang mencatat, mengklasifikasi, mengawasi, dan mengatur, tanpa perlu kehadiran fisik seorang penguasa.
Weber melihat bahwa kekuasaan modern semakin bersandar pada apa yang ia sebut otoritas legal-rasional—otoritas yang berasal bukan dari tradisi atau kharisma seorang pemimpin, melainkan dari sistem aturan yang impersonal dan dianggap sah. Mandor yang memerintah Rahmat tidak memerintah atas nama dirinya sendiri; ia memerintah atas nama jabatan, atas nama prosedur, atas nama “begitulah aturannya.” Dan inilah yang membuat kekuasaan birokratis begitu efisien sekaligus begitu menggidikkan: ia melepaskan dominasi dari individu dan menanamkannya ke dalam struktur, sehingga tidak ada seorang pun yang benar-benar bertanggung jawab, karena semua orang hanya “menjalankan tugas.”
Weber menggambarkan kondisi akhir dari proses rasionalisasi ini dengan sebuah metafora yang menghantui: sangkar besi. Manusia modern, katanya, terperangkap dalam sebuah tatanan yang ia bangun sendiri untuk mengejar efisiensi, tetapi yang kemudian mengurungnya. Rahmat tidak ditindas oleh seorang tiran yang dapat ia lawan, ia bahkan tidak ditindas oleh pemilik modal yang dapat ia tunjuk; ia hidup di dalam mesin administratif yang menentukan jam kerjanya, mengukur produktivitasnya, mendisiplinkan tubuhnya, semuanya atas nama rasionalitas yang dingin dan tampak tak terbantahkan. Pertanyaan “siapa yang berkuasa” menjadi sulit dijawab dalam kerangka Weber justru karena kekuasaan telah menjadi sistemik, tersebar dalam ribuan prosedur kecil yang masing-masing tampak masuk akal, namun yang bersama-sama membentuk sebuah genggaman yang tak terlepaskan.
Di sinilah Weber dan Marx, meski berangkat dari titik berbeda, saling melengkapi sekaligus saling menantang. Marx akan berkata bahwa birokrasi Weberian pada akhirnya melayani kepentingan kepemilikan modal—bahwa rasionalitas administratif itu bukan netral, melainkan rasionalitas yang dikalibrasi untuk akumulasi. Weber akan membalas bahwa logika birokrasi memiliki momentum sendiri yang melampaui kepentingan kelas mana pun, bahwa ia akan tetap mengurung manusia bahkan seandainya alat produksi dimiliki bersama, sebagaimana terbukti dalam birokrasi negara-negara sosialis yang justru menjadi sangkar besi yang lebih sesak. Perdebatan ini belum selesai, dan barangkali tidak akan pernah selesai, karena keduanya menangkap sisi yang berbeda dari kenyataan yang sama.
## **Foucault dan Kekuasaan yang Mengalir**
Lalu datanglah Michel Foucault, yang menggeser seluruh medan pertanyaan. Bagi Foucault, kesalahan kita selama ini adalah membayangkan kekuasaan sebagai sesuatu yang dimiliki—seolah-olah ia adalah komoditas yang dapat digenggam, ditimbun, atau direbut. Kekuasaan, kata Foucault, bukanlah benda melainkan relasi. Ia tidak berdiam di satu pusat melainkan beredar di seluruh tubuh sosial, hadir di setiap titik interaksi, mengalir melalui pengetahuan, melalui norma, melalui cara kita memandang dan memperlakukan diri sendiri.
Pertimbangkan kembali kartu identitas Rahmat, kamera pengawas yang merekam gerak-geriknya, catatan produktivitas yang mengukur setiap menit kerjanya. Dalam kerangka Foucault, semua ini bukan sekadar alat yang dipakai penguasa untuk menindas yang dikuasai; mereka adalah teknologi disiplin yang membentuk Rahmat menjadi subjek tertentu—pekerja yang patuh, terukur, dapat diprediksi. Yang paling halus dan paling kuat dari kekuasaan disipliner ini adalah bahwa ia tidak bekerja terutama melalui paksaan dari luar, melainkan melalui internalisasi. Rahmat datang tepat waktu bukan hanya karena takut dipotong upahnya, tetapi karena ia telah menjadi seseorang yang datang tepat waktu, yang menganggap ketepatan sebagai bagian dari siapa dirinya. Kekuasaan telah merembes ke dalam, menjadi cara ia memandang dirinya sendiri.
Inilah yang membuat jawaban Foucault sekaligus membebaskan dan membuat putus asa. Membebaskan, karena jika kekuasaan ada di mana-mana dan mengalir melalui relasi, maka perlawanan pun mungkin di mana-mana—setiap titik kekuasaan adalah juga titik di mana perlawanan dapat muncul. Membuat putus asa, karena jika tidak ada pusat kekuasaan yang dapat direbut, tidak ada Bastille yang dapat diserbu, maka pembebasan tidak pernah bisa final; kita hanya berpindah dari satu konfigurasi relasi kuasa ke konfigurasi lainnya. Pertanyaan Rahmat—”siapa yang memegang kekuasaan”—dalam kerangka Foucault menjadi pertanyaan yang salah letak sejak awal. Tidak ada “siapa” tunggal. Ada jaringan, ada dispositif, ada rezim kebenaran yang menentukan apa yang dianggap normal, wajar, tak terhindarkan. Dan Rahmat sendiri, dengan kartunya, dengan kepatuhannya, dengan caranya memahami pekerjaannya sebagai nasib, turut menjadi salah satu titik tempat kekuasaan itu mengalir dan menggandakan dirinya.
## **Mereka yang Membela Pasar**
Akan tetapi, akan keliru jika kita hanya menghadirkan tradisi-tradisi kritis dan membiarkan pertanyaan ini seolah hanya memiliki satu kutub jawaban. Ada mazhab pemikiran yang akan menolak seluruh kerangka pertanyaan tadi, atau setidaknya menolak nada kecurigaan yang menyertainya. Bagi para pemikir tradisi liberal-pasar—dari Adam Smith hingga Friedrich Hayek dan Milton Friedman—pertanyaan “siapa yang memegang kekuasaan” mengandung asumsi yang menyesatkan, yaitu asumsi bahwa harus ada seseorang yang memegangnya.
Adam Smith memberi kita metafora yang termasyhur: tangan tak terlihat. Dalam tatanan pasar, menurut Smith, koordinasi ekonomi terjadi bukan karena ada otak pusat yang mengaturnya, melainkan karena jutaan keputusan individu yang dibuat demi kepentingan masing-masing, secara tak sengaja, menghasilkan keteraturan yang menguntungkan semua. Pemilik tungku nikel tempat Rahmat bekerja tidak berkuasa dalam arti yang sebenarnya; ia sendiri tunduk pada disiplin pasar yang kejam. Jika ia membayar Rahmat terlalu rendah, pesaing akan merebut tenaga kerja yang lebih baik; jika ia memproduksi terlalu mahal, pembeli akan berpaling. Sang pemilik, dalam pandangan ini, bukan tuan melainkan pelayan—pelayan permintaan konsumen, sandera dari preferensi pasar yang ia tidak kendalikan.
Hayek memperdalam argumen ini dengan menekankan persoalan pengetahuan. Tidak ada satu pun pikiran, betapapun cerdas, betapapun banyak datanya, yang mampu menampung seluruh informasi tersebar yang dibutuhkan untuk mengoordinasikan ekonomi modern—pengetahuan tentang kondisi lokal, preferensi yang berubah-ubah, kelangkaan yang muncul tiba-tiba. Justru karena itu, kata Hayek, upaya untuk memusatkan kekuasaan ekonomi di satu tangan—entah tangan negara atau tangan perencana—pasti gagal dan, lebih buruk lagi, pasti menindas. Sistem harga, dengan segala ketidaksempurnaannya, adalah satu-satunya mekanisme yang dapat menghimpun pengetahuan tersebar itu tanpa memaksanya melalui satu komando pusat. Maka, paradoksnya, ketiadaan pemegang kekuasaan tunggal bukanlah masalah yang harus dipecahkan, melainkan justru jaminan kebebasan yang harus dijaga.
Tradisi ini layak diberi pembelaan yang jujur, sebab ia menangkap sesuatu yang sungguh nyata dalam pengalaman Rahmat. Pemiliknya memang tidak sepenuhnya bebas; harga nikel di pasar dunia memang membatasi apa yang dapat ia lakukan; permintaan baterai global memang menentukan apakah pabrik ini buka atau tutup, apakah Rahmat punya pekerjaan atau tidak. Ada kebenaran dalam gagasan bahwa tidak ada seorang pun yang benar-benar memegang kemudi. Namun di sinilah para pengkritik akan menyela: mengatakan bahwa tidak ada yang memegang kekuasaan tidak sama dengan mengatakan bahwa kekuasaan tidak ada atau bahwa pengaruhnya merata. Pasar mungkin tak bertuan, tetapi ketaktertuanan itu sendiri bukan keadaan alamiah—ia adalah hasil dari aturan-aturan tertentu, hak milik yang ditegakkan dengan cara tertentu, kontrak yang berpihak pada pihak tertentu. Dan ketika “tangan tak terlihat” itu menjatuhkan beban risikonya, beban itu hampir selalu jatuh lebih berat di punggung Rahmat ketimbang di pundak pemegang saham yang jauh.
## **Pekerjaan, Vita Activa, dan Martabat yang Hilang**
Ada lagi sebuah jalur pemikiran yang jarang dipertemukan dengan ekonomi politik, tetapi yang justru menyentuh inti kegamangan Rahmat: tradisi yang bertanya bukan tentang siapa yang berkuasa, melainkan tentang apa yang dilakukan kekuasaan terhadap pengalaman manusia akan kerja itu sendiri. Hannah Arendt, dalam pembedaannya yang halus antara kerja, karya, dan tindakan, menawarkan kerangka untuk memahami mengapa Rahmat merasa terasing meski ia “hanya” menjalankan tugas yang disepakatinya.
Bagi Arendt, “labor” adalah aktivitas yang terikat pada siklus biologis kehidupan—bekerja untuk makan, makan untuk dapat bekerja lagi, tanpa jejak yang bertahan. “Work” adalah pembuatan benda-benda yang bertahan, yang membangun dunia objektif tempat manusia berdiam. Dan “action” adalah ranah politik, tempat manusia tampil sebagai pribadi yang unik di hadapan sesamanya. Tragedi modernitas industrial, menurut Arendt, adalah bahwa ia mereduksi semakin banyak kehidupan manusia menjadi sekadar “labor”—aktivitas yang tak berjejak, yang menguras tubuh demi siklus konsumsi yang tak pernah selesai. Rahmat, di tungku peleburannya, menghasilkan logam yang akan dikirim ke ujung dunia, menjadi bagian dari benda-benda yang tak akan pernah ia lihat atau miliki. Hasil kerjanya terlepas darinya seketika ia menghasilkannya. Inilah keterasingan dalam bentuknya yang paling mendasar—bukan sekadar keterasingan dari nilai lebih sebagaimana yang dirumuskan Marx, melainkan keterasingan dari makna, dari kemungkinan untuk melihat dirinya tercermin dalam dunia yang ia bantu bangun.
Pemikir kontemporer seperti David Graeber memperluas keresahan ini dengan caranya sendiri, mengamati bagaimana begitu banyak pekerjaan dalam ekonomi mutakhir kehilangan rasa keberartian, sementara pekerjaan yang sungguh-sungguh menopang kehidupan justru sering paling tidak dihargai. Byung-Chul Han, dari sudut yang lain, mengamati bahwa kekuasaan kontemporer tidak lagi terutama bekerja melalui larangan dan paksaan, melainkan melalui dorongan untuk berprestasi, untuk mengoptimalkan diri, sehingga manusia modern menjadi penindas bagi dirinya sendiri—mengeksploitasi diri dengan sukarela atas nama kebebasan dan pencapaian. Rahmat, jika ia naik jabatan, jika ia menjadi mandor, lalu supervisor, mungkin akan menemukan bahwa belenggu tidak hilang melainkan berubah bentuk, dari paksaan eksternal menjadi tuntutan internal yang tak pernah puas.
## **Kegamangan di Gerbang Pabrik**
Mari kita kembali ke Rahmat, yang masih berdiri di gerbang menunggu bus jemputannya. Kita telah mengelilingi pertanyaannya dengan berbagai kerangka, tetapi marilah kita masuk ke dalam dirinya, ke dalam kegamangan batin yang sesungguhnya, yang tidak terumuskan dalam bahasa para filsuf tetapi terasa nyata dalam dadanya.
Pada satu sisi, Rahmat tahu bahwa pekerjaan ini telah mengubah hidupnya. Sebelum pabrik datang, ia adalah nelayan kecil seperti ayahnya, dengan pendapatan yang bergantung pada cuaca dan keberuntungan. Kini ia memiliki upah yang tetap, dapat menyekolahkan anaknya, membangun rumah yang lebih layak. Ada bagian dalam dirinya yang bersyukur, yang memandang kawasan industri ini sebagai berkah, sebagai pintu menuju kehidupan yang dahulu mustahil. Ketika orang-orang dari luar—aktivis, peneliti, wartawan—datang dan berbicara tentang eksploitasi, ada sesuatu dalam dirinya yang menolak, yang merasa direndahkan, seolah-olah ia terlalu bodoh untuk menyadari penindasan yang menimpanya. “Mereka tidak tahu,” pikirnya, “bagaimana rasanya tidak punya apa-apa.”
Tetapi pada sisi lain, ada hari-hari ketika tubuhnya begitu lelah hingga ia tak sanggup bermain dengan anaknya, ketika debu di paru-parunya membuatnya batuk di tengah malam, ketika ia melihat rekannya terluka di tempat kerja dan menyadari betapa mudahnya tubuh manusia diganti seperti suku cadang yang aus. Pada hari-hari itu, Rahmat merasakan sesuatu yang tak dapat ia namai—semacam ketidakadilan yang menyusup, perasaan bahwa ia memberi terlalu banyak dan menerima terlalu sedikit, bahwa ada keuntungan besar yang mengalir entah ke mana sementara ia menukar usianya dengan upah yang terasa selalu kurang. Ia tidak tahu kepada siapa harus marah. Mandornya? Mandornya sama lelahnya, sama terjebaknya. Pemilik perusahaan? Ia bahkan tidak tahu wajahnya. Pemerintah, yang membuat aturan yang menjadikan kawasan ini mungkin? Pemerintah jauh, dan bukankah pemerintah juga yang membawa pekerjaan ini kepadanya?
Inilah inti kegamangan itu: Rahmat tidak dapat menemukan objek bagi kemarahannya, dan tanpa objek, kemarahan berubah menjadi sesuatu yang lebih merusak—keraguan pada dirinya sendiri. Mungkin akulah yang salah, pikirnya. Mungkin aku kurang bersyukur. Mungkin aku kurang bekerja keras. Mungkin perasaan tidak adil ini hanyalah kelemahanku sendiri. Dan di sinilah, dengan ironi yang pahit, semua kerangka filosofis tadi bertemu di tubuh satu orang. Foucault akan mengenali bagaimana kekuasaan telah merembes hingga Rahmat menyalahkan dirinya sendiri. Han akan mengenali bagaimana Rahmat telah menginternalisasi tuntutan untuk berprestasi hingga kelelahannya terasa sebagai kegagalan pribadi. Marx akan mengenali keterasingan yang membuat Rahmat tak mampu melihat struktur yang menentukan nasibnya. Para pembela pasar akan menunjuk pada upah dan kesempatan yang nyata dan bertanya, dengan tidak sepenuhnya keliru, apakah kita berhak menyebut sebagai korban seseorang yang hidupnya membaik. Dan Rahmat, yang tidak membaca satu pun dari mereka, menanggung seluruh perdebatan ini di dalam dadanya, sebagai kegamangan yang tak terucapkan.
Yang membuat kegamangan ini begitu khas pada zaman kita adalah hilangnya musuh yang jelas. Buruh pabrik abad kesembilan belas dapat menunjuk pada pemilik yang tinggal di rumah besar di seberang kota. Petani yang ditindas dapat menunjuk pada tuan tanah. Tetapi Rahmat menghadapi sebuah sistem yang tampaknya tak bertuan, yang setiap bagiannya dapat berkata dengan jujur, “Bukan aku yang berkuasa, aku hanya menjalankan peranku.” Pemegang saham berkata ia hanya mengikuti pasar. Manajer berkata ia hanya mengikuti target. Regulator berkata ia hanya mengikuti undang-undang. Konsumen di benua lain bahkan tidak tahu Rahmat ada. Setiap orang menunjuk ke tempat lain, dan kekuasaan, seperti bola yang terus dilempar, tidak pernah berhenti di satu tangan yang dapat diminta pertanggungjawaban.
## **Refleksi: Hidup di Antara Jawaban-Jawaban**
Maka kita tiba di penghujung, dan godaan untuk menutup dengan sebuah pernyataan tegas—sebuah putusan tentang siapa sebenarnya yang berkuasa—harus ditahan. Sebab barangkali kebenaran yang paling jujur tentang pertanyaan ini adalah bahwa ia tidak memiliki jawaban tunggal, dan bahwa setiap kerangka yang kita datangi menerangi sebagian sambil menggelapkan sebagian yang lain.
Ketika kita melihat melalui mata Marx, kita menangkap aliran nilai yang nyata, ketimpangan yang struktural, akumulasi yang tak terbendung—tetapi kita berisiko melewatkan momentum birokrasi yang tak terreduksi pada kepentingan kelas, dan kebebasan kecil yang Rahmat rasakan ketika upahnya memungkinkan anaknya bersekolah. Ketika kita melihat melalui mata Weber, kita menangkap sangkar besi rasionalitas yang mengurung kita semua—tetapi kita berisiko melupakan bahwa sangkar itu dibangun dengan bahan tertentu, untuk kepentingan tertentu, dan bahwa beberapa orang berdiam jauh lebih nyaman di dalamnya daripada yang lain. Ketika kita melihat melalui mata Foucault, kita menangkap betapa kekuasaan merembes ke dalam jiwa dan menjadikan kita kaki tangan bagi penaklukan diri sendiri—tetapi kita berisiko kehilangan kemampuan untuk membedakan, kehilangan tanah untuk berkata bahwa konfigurasi kuasa yang satu lebih adil daripada yang lain. Dan ketika kita melihat melalui mata para pembela pasar, kita menangkap kebijaksanaan dalam ketiadaan pusat, bahaya dalam memusatkan kendali—tetapi kita berisiko menjadikan ketaktertuanan sebagai alibi, melupakan bahwa di balik “tangan tak terlihat” selalu ada tangan-tangan nyata yang menulis aturan main.
Mungkin yang sesungguhnya dituntut dari kita bukanlah memilih satu kerangka dan membuang yang lain, melainkan kemampuan yang lebih sukar: memegang semuanya sekaligus dalam ketegangan, membiarkannya saling mengoreksi, menolak kenyamanan dari jawaban yang terlalu rapi. Sebab setiap kali kita merasa telah menemukan pemegang kekuasaan—di sana, itu dia, sang pemilik, sang birokrat, sang regulator, sang konsumen—jari telunjuk kita seolah dibelokkan ke tempat lain, dan kita menyadari bahwa kita sedang menunjuk pada sebuah relasi, bukan sebuah benda; pada sebuah proses, bukan sebuah orang.
Dan barangkali di sinilah letak nilai sejati dari pertanyaan ini—bukan pada jawaban yang ia hasilkan, melainkan pada kewaspadaan yang ia tuntut. Selama Rahmat, dan kita semua, terus bertanya “siapa yang berkuasa dan bagaimana kekuasaan itu dikendalikan,” kita menolak untuk menerima tatanan yang ada sebagai sesuatu yang alamiah dan tak terhindarkan. Pertanyaan itu, meski tak terjawab, adalah bentuk perlawanan yang paling sunyi: ia menjaga agar sangkar besi tidak pernah benar-benar terasa nyaman, agar kegamangan Rahmat di gerbang pabrik tidak pernah sepenuhnya mereda menjadi kepasrahan. Kegamangan itu, yang tampak seperti kelemahan, mungkin justru adalah tanda bahwa sesuatu dalam dirinya menolak untuk dikalahkan—menolak untuk berhenti bertanya, bahkan ketika jawaban tak kunjung tiba.
Bus jemputan akhirnya datang. Rahmat naik, kartunya berbunyi di pemindai, dan ia menempati tempat duduknya di antara rekan-rekannya yang diam. Pertanyaan itu tidak terjawab, tetapi ia tetap hidup, mengendap di suatu sudut yang tak tersentuh oleh ritme pabrik. Dan selama pertanyaan itu hidup, ada sesuatu dalam diri Rahmat yang tetap merdeka, betapapun kecilnya—sesuatu yang tidak dapat dimiliki siapa pun, tidak dapat dirasionalisasi oleh birokrasi mana pun, tidak dapat sepenuhnya didisiplinkan oleh kekuasaan mana pun. Mungkin itulah, pada akhirnya, satu-satunya jawaban yang dapat kita pegang: bukan tentang siapa yang berkuasa, melainkan tentang apa yang dalam diri manusia menolak untuk dikuasai.
—
## **Catatan Bacaan**
Bagi pembaca yang ingin menyusuri sendiri jalan-jalan pemikiran yang dijalin dalam esai ini, beberapa karya berikut menawarkan titik tolak yang baik. Untuk memahami inti analisis Marx tentang akumulasi dan nilai lebih, jilid pertama *Das Kapital* tetap tak tergantikan, meski pembaca yang baru memulai mungkin lebih nyaman mendekatinya melalui *Manuskrip Ekonomi dan Filsafat 1844* yang lebih muda dan lebih lirik, tempat gagasan keterasingan dirumuskan dengan kehangatan yang kemudian memudar dalam karya-karyanya yang lebih matang.
Pemikiran Max Weber tentang rasionalisasi dan birokrasi tersebar di banyak tempat, tetapi metafora sangkar besi yang termasyhur itu muncul dalam *Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme*, sebuah buku tipis yang argumennya jauh lebih licin daripada yang diakui banyak orang. Pembaca yang ingin menyelami konsep otoritas legal-rasional sebaiknya menyimak bagian-bagian relevan dari kumpulan tulisannya yang terbit dengan judul *Economy and Society*.
Untuk Michel Foucault, dua karya menjadi pintu masuk yang mesti dilewati. *Disiplin dan Hukum*—dikenal luas dengan judul terjemahan Inggrisnya, *Discipline and Punish*—menelusuri kelahiran masyarakat disipliner melalui transformasi penjara, dengan analisis tentang panoptikon yang telah menjadi rujukan abadi. Sementara jilid pertama *Sejarah Seksualitas* memuat rumusannya yang paling padat tentang kekuasaan sebagai relasi yang mengalir, bukan benda yang dimiliki.
Tradisi pembelaan pasar dapat ditelusuri mulai dari *Kekayaan Bangsa-Bangsa* karya Adam Smith, tempat tangan tak terlihat itu disebut—dengan catatan menarik bahwa frasa itu sebenarnya muncul hanya sekali dan secara sambil lalu, jauh lebih sederhana daripada beban makna yang kemudian ditumpukan padanya. Argumen Friedrich Hayek tentang pengetahuan tersebar dirumuskan paling tajam dalam esainya yang ringkas dan brilian, *The Use of Knowledge in Society*, sementara nada politiknya yang lebih lantang terdengar dalam *The Road to Serfdom*.
Untuk dimensi pengalaman dan martabat kerja, *The Human Condition* karya Hannah Arendt menawarkan pembedaan antara *labor*, *work*, dan *action* yang menjadi tulang punggung salah satu bagian esai ini. Pembaca kontemporer akan menemukan gema yang menggugah dalam *Bullshit Jobs* karya David Graeber, yang menggabungkan kemarahan moral dengan kejenakaan antropologis, serta dalam *The Burnout Society* karya Byung-Chul Han, sebuah risalah tipis tentang bagaimana kekuasaan zaman ini bekerja melalui dorongan untuk berprestasi ketimbang melalui larangan.
Akhirnya, bagi mereka yang ingin menempatkan semua ini dalam konteks industri ekstraktif dan ekonomi global mutakhir, karya-karya Shoshana Zuboff tentang kapitalisme pengawasan—terutama *The Age of Surveillance Capitalism*—memperluas analisis Foucault ke era data, sementara tulisan-tulisan Jason Moore dan para pemikir ekologi-politik menawarkan cara untuk memahami bagaimana tubuh pekerja seperti Rahmat dan tubuh bumi yang dikeruk terjalin dalam satu logika akumulasi yang sama.
—
## **Catatan tentang Keterbatasan Esai Ini**
Sebuah kejujuran intelektual menuntut esai ini mengakui apa yang tidak dilakukannya. Pertama, ia berpijak pada sosok Rahmat yang merupakan komposit, sebuah konstruksi naratif yang dirakit untuk menggerakkan refleksi filosofis—bukan hasil kerja etnografis dengan data lapangan yang teruji. Pengalaman buruh industri yang sesungguhnya jauh lebih beragam, lebih bertentangan, dan lebih kaya daripada yang dapat ditampung oleh satu figur tunggal, dan ada bahaya dalam menjadikan seseorang sebagai wadah bagi argumen.
Kedua, esai ini berat sebelah pada tradisi pemikiran Barat. Marx, Weber, Foucault, Arendt, Hayek—semuanya berbicara dari dalam pengalaman industrialisasi Eropa dan Amerika Utara. Realitas kerja di kawasan industri Asia Tenggara, dengan jalinan khasnya antara modal lintas negara, struktur agraria yang sedang bertransisi, dan bentuk-bentuk perlawanan yang tidak selalu menyerupai serikat buruh model Barat, kerap terbingkai secara kaku ketika dipaksa masuk ke dalam kerangka-kerangka itu. Buruh informal, pekerja musiman yang berpindah dari sawah ke pabrik dan kembali lagi, serta realitas ekonomi gig yang baru bermunculan, hampir sama sekali tak tersentuh dalam peta teoretis yang esai ini gunakan.
Ketiga, esai ini memilih untuk tidak menyelesaikan ketegangan antar-mazhab, dan pilihan ini sendiri dapat dipersoalkan. Ada yang akan berkata bahwa menolak menjawab adalah bentuk kepengecutan intelektual, sebuah cara untuk terdengar bijaksana sambil menghindari komitmen. Mungkin memang demikian. Refleksi yang menahan diri dari putusan dapat menjadi kearifan, tetapi dapat pula menjadi alibi bagi mereka yang tidak ingin berpihak ketika keberpihakan dibutuhkan. Esai ini memilih menahan diri dengan keyakinan bahwa pertanyaan itu sendiri lebih berharga daripada jawaban yang tergesa—tetapi pembaca berhak menimbang sendiri apakah keyakinan itu jujur atau hanya nyaman.
