Pada suatu sore di Morowali, seorang operator tungku peleburan—sebut saja namanya Ramli—berdiri di depan ladle berisi besi cair yang menyala jingga, dan untuk sepersekian detik ia merasakan sesuatu yang sulit ia namai. Bukan rasa takut, meski panas itu cukup untuk melelehkan tulang. Bukan pula kebanggaan, meski ia tahu logam yang mengalir di hadapannya akan menjadi baterai kendaraan listrik di Eropa atau di Tiongkok. Yang ia rasakan lebih menyerupai sebuah pertanyaan yang tidak punya bentuk: seolah-olah pabrik tempat ia bekerja sedang membayangkan dirinya, sedang menuntut Ramli menjadi orang tertentu—orang yang bangun pada jam tertentu, yang tubuhnya tunduk pada ritme tungku yang tak pernah padam, yang hidupnya disusun ulang oleh logika yang bukan miliknya. Ramli tidak membaca filsafat. Tetapi pertanyaan yang menggantung di udara panas itu adalah salah satu pertanyaan tertua dan paling membingungkan dalam pemikiran modern: sejauh mana bentuk pabrik tertentu mengandaikan—dan karena itu mereproduksi—bentuk masyarakat tertentu?
Pertanyaan ini terdengar abstrak, tetapi taruhannya sangat konkret. Jika sebuah pabrik hanyalah alat netral, kumpulan mesin yang bisa dimasukkan ke dalam masyarakat mana pun tanpa mengubahnya, maka politik kita boleh berkonsentrasi pada soal kepemilikan dan distribusi: siapa yang memiliki pabrik, bagaimana keuntungannya dibagi. Tetapi jika pabrik membawa serta sebuah cetak biru sosial—jika bentuk fisik dan organisasionalnya sudah memuat asumsi tentang siapa yang memerintah dan siapa yang patuh, tentang bagaimana waktu harus dipotong-potong, tentang apa artinya menjadi manusia yang berguna—maka mengganti pemiliknya saja tidak akan cukup. Kita akan terus mereproduksi masyarakat yang sama, hanya dengan bendera berbeda di atas gerbang. Inilah yang membuat pertanyaan Ramli bukan sekadar teka-teki intelektual, melainkan persoalan yang menentukan apakah pembebasan itu mungkin atau hanya ilusi.
## **Pabrik sebagai Argumen yang Tertulis dalam Baja**
Mari kita mulai dengan menolak intuisi yang paling nyaman: bahwa teknologi itu netral, dan hanya penggunaannya yang baik atau buruk. Intuisi ini begitu kuat sehingga hampir terasa seperti akal sehat. Pisau bisa memotong roti atau menusuk orang; yang penting niat penggunanya. Maka, kata argumen ini, pabrik pun begitu—ia hanya wadah, dan apa yang terjadi di dalamnya tergantung pada manusia yang mengelolanya.
Tetapi pabrik bukan pisau. Pisau tidak mensyaratkan sebuah masyarakat untuk eksis; sebilah pisau bisa dibuat dan dipakai oleh seorang penyendiri di gua. Pabrik, sebaliknya, adalah artefak yang hanya bisa ada jika ribuan orang telah lebih dulu disusun dalam pola tertentu. Untuk membangun satu tungku peleburan nikel, dibutuhkan rantai pasok global, hierarki manajerial, sistem hukum yang menjamin kontrak, disiplin tubuh yang membuat ribuan pekerja datang tepat waktu dan menyerahkan delapan hingga dua belas jam hidup mereka setiap hari. Pabrik, dengan kata lain, bukan benda yang dimasukkan ke dalam masyarakat; ia adalah masyarakat yang dipadatkan ke dalam benda. Bentuknya adalah sebuah argumen tentang bagaimana manusia seharusnya hidup bersama, hanya saja argumen itu ditulis bukan dalam kata-kata melainkan dalam tata letak ruang, dalam jadwal shift, dalam garis perakitan yang menentukan siapa berdiri di mana dan melakukan apa.
Pemikir pertama yang melihat ini dengan jernih adalah Karl Marx, meski warisannya kemudian sering disederhanakan menjadi sekadar soal kepemilikan. Bagi Marx muda, pabrik kapitalis bukan hanya tempat eksploitasi nilai lebih; ia adalah mesin yang memproduksi jenis manusia tertentu—manusia yang terasing dari produk kerjanya, dari proses kerjanya, dari sesama pekerja, dan akhirnya dari hakikat spesiesnya sendiri. Keterasingan ini bukan kecelakaan yang bisa diperbaiki dengan manajemen yang lebih baik; ia tertanam dalam struktur produksi itu sendiri. Ketika Marx kemudian, dalam *Das Kapital*, menggambarkan bagaimana mesin mengubah pekerja menjadi “embel-embel hidup” dari aparatus mati, ia sedang mengajukan tesis radikal: bahwa bentuk pabrik bukan sekadar mencerminkan relasi sosial kapitalis, melainkan secara aktif menghasilkannya kembali, hari demi hari, tubuh demi tubuh. Pabrik adalah sekolah tempat disiplin kapital diajarkan tanpa pernah perlu diucapkan.
## **Apakah Mesin Memilih Politik Kita?**
Namun di sinilah perdebatan menjadi tajam, dan di sinilah kita harus berhati-hati untuk tidak terburu-buru. Sebab klaim bahwa pabrik mereproduksi masyarakat bisa diartikan dalam dua cara yang sangat berbeda, dan kekeliruan untuk membedakannya telah menyesatkan banyak pemikiran.
Cara pertama adalah determinisme teknologi: keyakinan bahwa bentuk teknis suatu alat secara langsung menentukan bentuk sosial yang mengelilinginya. Versi paling terkenal dari posisi ini datang dari Langdon Winner, yang dalam esainya yang masyhur bertanya apakah artefak punya politik. Winner menunjuk pada contoh yang mengganggu: jembatan rendah di jalan layang Long Island yang dirancang Robert Moses, yang konon sengaja dibuat terlalu pendek agar bus umum—yang mengangkut warga miskin dan kulit hitam—tidak bisa lewat menuju pantai. Di sini, politik benar-benar tertanam dalam beton. Tetapi Winner juga membuat klaim yang lebih kuat dan lebih kontroversial: bahwa beberapa teknologi pada hakikatnya bersifat politis, bahwa mereka menuntut—bukan sekadar mengizinkan—bentuk organisasi sosial tertentu. Tenaga nuklir, ia berargumen, secara inheren menuntut hierarki tersentralisasi dan otoriter, karena bahaya dan kompleksitasnya tidak memberi ruang bagi pengelolaan yang demokratis dan tersebar. Sebaliknya, panel surya membuka kemungkinan bagi organisasi yang lebih egaliter dan terdesentralisasi. Bagi Winner, memilih sebuah teknologi adalah memilih sebuah cara hidup, sering kali tanpa kita sadari bahwa pilihan itu sedang dibuat.
Jika Winner benar, maka jawaban atas pertanyaan Ramli sederhana dan menakutkan: ya, pabrik nikel raksasa dengan tungku yang tak boleh padam memang mensyaratkan—dan karenanya akan terus melahirkan—sebuah masyarakat yang hierarkis, terpusat, dan menuntut kepatuhan tubuh pada ritme mesin. Tidak ada cara untuk memiliki tungku semacam itu sambil hidup dalam masyarakat yang horizontal dan santai. Bentuknya sendiri menolak kemungkinan itu.
Tetapi inilah jebakan determinisme yang harus kita lawan. Sebab di hadapan Winner berdiri sebuah tradisi yang sama kuatnya, yang menolak gagasan bahwa mesin bisa “menuntut” apa pun. Para sejarawan teknologi seperti David Edgerton mengingatkan kita bahwa teknologi yang sama dapat hidup di dalam susunan sosial yang sangat beragam, dan bahwa masyarakat sering kali membentuk teknologi jauh lebih banyak daripada sebaliknya. Sosiolog dalam tradisi konstruksi sosial atas teknologi—Wiebe Bijker dan Trevor Pinch di antaranya—menunjukkan bahwa tidak ada artefak yang maknanya tertutup; sepeda, bohlam, atau pabrik selalu merupakan hasil negosiasi antara kelompok-kelompok sosial yang berkepentingan, dan bentuk akhirnya bukan ditentukan oleh logika teknis melainkan oleh siapa yang menang dalam pergulatan itu. Dari sudut pandang ini, mengatakan bahwa “pabrik menuntut hierarki” adalah keliru secara mendasar: yang sebenarnya terjadi adalah bahwa kelompok-kelompok tertentu, demi kepentingan mereka, telah merancang pabrik sedemikian rupa sehingga hierarki tampak seolah-olah merupakan keniscayaan teknis. Mesin tidak memilih politik kita; manusia memilihnya, lalu menyembunyikan pilihan itu di balik tampilan ketakterhindaran.
## **Bukti dari Sejarah: Ketika Pabrik yang Sama Melahirkan Dunia yang Berbeda**
Pergulatan teoretis ini bukan sekadar adu argumen di ruang kuliah; ia dapat diuji terhadap sejarah, dan sejarah memberi jawaban yang tidak memihak sepenuhnya kepada salah satu kubu.
Pertimbangkan kasus yang sering dilupakan: ketika Uni Soviet mengimpor garis perakitan ala Ford pada 1930-an, kaum Bolshevik percaya bahwa mereka sedang mengambil teknologi netral dan menempatkannya dalam cangkang sosial yang baru—sosialis, bukan kapitalis. Lenin sendiri memuji sistem Taylorisme, manajemen ilmiah yang memecah kerja menjadi gerakan-gerakan terkecil yang dapat diukur, sebagai pencapaian ilmiah yang harus diadopsi terlepas dari asal-usul borjuisnya. Namun yang terjadi kemudian memberi pelajaran yang ambigu. Di satu sisi, kaum Bolshevik benar bahwa garis perakitan dapat berfungsi di bawah kepemilikan negara; pabrik traktor Stalingrad memang berproduksi. Tetapi di sisi lain, struktur disiplin, hierarki mandor, dan subordinasi tubuh pekerja pada ritme mesin ternyata mereproduksi banyak relasi kekuasaan yang persis sama dengan yang ada di Detroit—sedemikian rupa sehingga sebagian pengkritik kiri kelak menyebut Uni Soviet sebagai “kapitalisme negara”. Bentuk pabrik, tampaknya, membawa serta sebagian dari dunia sosialnya sendiri, meski tidak seluruhnya.
Eksperimen tandingannya sama mencerahkannya. Pada 1970-an, pabrik mobil Volvo di Kalmar, Swedia, mencoba membongkar garis perakitan yang dianggap sudah merupakan takdir teknis. Alih-alih ban berjalan yang memaksa setiap pekerja melakukan satu gerakan berulang, Volvo mengorganisir produksi ke dalam tim-tim kecil otonom yang merakit modul-modul utuh dengan ritme yang mereka atur sendiri. Eksperimen ini—yang lahir dari tekanan serikat buruh yang kuat dan budaya politik sosial-demokrat—menunjukkan bahwa bahkan jantung dari produksi massa, garis perakitan itu sendiri, bukanlah keniscayaan teknis melainkan pilihan sosial yang bisa diubah. Namun ada catatan penting yang sering diabaikan para optimis: pabrik Kalmar akhirnya ditutup, sebagian karena ia kurang efisien dalam kerangka kompetisi pasar global. Artinya, ruang untuk merancang ulang pabrik memang ada, tetapi ruang itu tidak gratis; ia dibatasi oleh tekanan sistemik yang lebih luas. Kebebasan untuk membentuk pabrik secara berbeda nyata, tetapi ia harus dibayar, dan harga itu sering kali ditentukan oleh masyarakat yang justru ingin kita ubah.
Sejarah, dengan demikian, menolak baik determinisme keras maupun voluntarisme yang naif. Pabrik tidak sepenuhnya menentukan masyarakat, tetapi ia juga bukan kanvas kosong. Ia lebih menyerupai sebuah kecenderungan—sebuah gravitasi sosial yang menarik relasi manusia ke arah tertentu, yang bisa dilawan tetapi hanya dengan upaya sadar dan biaya nyata.
## **Tubuh, Waktu, dan Disiplin: Warisan Foucault**
Untuk memahami mengapa gravitasi itu begitu kuat, kita perlu beralih dari pertanyaan tentang kepemilikan ke pertanyaan tentang tubuh. Di sinilah Michel Foucault memberi sumbangan yang mengubah seluruh percakapan.
Foucault menolak untuk berpikir tentang kekuasaan terutama sebagai sesuatu yang dimiliki—oleh kapitalis, oleh negara, oleh kelas penguasa. Baginya, kekuasaan modern bekerja jauh lebih halus dan lebih dalam: ia membentuk tubuh, kebiasaan, dan akhirnya jiwa, melalui disiplin yang tersebar dalam institusi-institusi sehari-hari. Pabrik, bersama penjara, sekolah, barak militer, dan rumah sakit, adalah salah satu laboratorium besar tempat manusia modern ditempa. Apa yang dipelajari tubuh di pabrik bukan hanya keterampilan teknis, melainkan sebuah cara untuk menjadi: untuk memandang waktu sebagai sesuatu yang dipotong-potong dan dijual, untuk menerima pengawasan sebagai kondisi normal, untuk menginternalisasi ritme yang bukan alami melainkan dipaksakan sampai ia terasa seperti milik sendiri.
Dari sudut pandang Foucault, pertanyaan Ramli memperoleh kedalaman baru yang mengerikan. Bukan hanya bahwa pabrik mereproduksi relasi ekonomi tertentu; pabrik mereproduksi sebuah jenis subjek—seorang individu yang telah dijinakkan, yang disiplinnya telah berpindah dari pengawas eksternal ke dalam pengaturan dirinya sendiri. Ketika lonceng pabrik berbunyi dan Ramli merasa cemas karena terlambat lima menit, kecemasan itu bukan dipaksakan oleh mandor yang berdiri di sampingnya; ia telah menjadi bagian dari Ramli. Inilah reproduksi yang paling dalam: bukan reproduksi struktur di luar kita, melainkan reproduksi struktur di dalam kita. Pabrik tidak hanya membentuk masyarakat tempat Ramli hidup; ia membentuk Ramli yang menghidupi masyarakat itu.
Namun Foucault, jika dibaca dengan cermat, juga membuka pintu yang sering tidak dilihat para pembacanya yang pesimistis. Sebab jika subjek dibentuk oleh kekuasaan, ia juga bisa dibentuk ulang; tidak ada hakikat manusia yang abadi di balik disiplin yang bisa kita kembalikan dengan sekadar menyingkirkan pabrik. Disiplin yang membentuk kita juga adalah disiplin yang memproduktifkan kita, yang memberi kita kapasitas yang sebelumnya tidak kita punya. Ramli yang cemas akan keterlambatan juga adalah Ramli yang mampu bekerja dalam koordinasi yang kompleks dengan ribuan orang lain—sebuah kapasitas yang, dalam susunan sosial yang berbeda, mungkin bisa diarahkan pada tujuan yang membebaskan, bukan menundukkan. Foucault tidak menawarkan jalan keluar yang mudah, tetapi ia menolak pula tahanan yang total.
## **Mesin Megalitik dan Persoalan Otonomi: Mumford, Ellul, Arendt**
Tiga pemikir lain memperkaya pergulatan ini dengan sudut pandang yang berbeda-beda, dan menempatkan mereka berdampingan membantu kita melihat betapa luasnya medan persoalan.
Lewis Mumford mengajukan gagasan tentang “megamesin”—bukan mesin dari logam, melainkan mesin yang tersusun dari manusia itu sendiri, yang piramida Mesir dan tembok besar adalah produknya. Bagi Mumford, jauh sebelum revolusi industri, manusia telah belajar mengorganisir diri menjadi mesin raksasa di bawah komando terpusat, dan pabrik modern hanyalah inkarnasi terbaru dari pola purba ini. Mumford membedakan antara teknik “politeknik” yang beragam, terdesentralisasi, dan ramah-hidup, dengan teknik “monoteknik” yang menuntut keseragaman, sentralisasi, dan subordinasi total demi kekuasaan. Pertanyaannya, bagi Mumford, bukan apakah kita punya teknologi, melainkan teknologi macam apa yang kita pilih untuk dipelihara—dan ia khawatir bahwa modernitas telah secara sistematis memilih yang monoteknik, yang mereproduksi masyarakat otoritarian bahkan ketika ia mengibarkan panji kebebasan.
Jacques Ellul mendorong kekhawatiran ini lebih jauh lagi sampai ke titik yang nyaris putus asa. Bagi Ellul, masalahnya bukan pabrik tertentu atau mesin tertentu, melainkan “la technique”—sebuah logika efisiensi total yang telah menjadi otonom, yang menundukkan setiap bidang kehidupan, termasuk politik dan budaya, pada pencarian cara yang paling efisien tanpa pernah bertanya untuk apa. Dalam pandangan Ellul, teknik modern bukan lagi alat di tangan manusia; ia telah menjadi lingkungan yang menentukan manusia. Pabrik, dari sudut pandang ini, hanyalah satu simpul dalam jaringan teknik yang jauh lebih besar, dan berharap bisa membebaskan diri dengan mereorganisasi pabrik sama saja dengan mengatur ulang perabot di dalam penjara. Ellul sering dituduh terlalu pesimistis, dan tuduhan itu tidak sepenuhnya salah; tetapi kekuatannya terletak pada kemampuannya membuat kita tidak nyaman dengan keyakinan mudah bahwa reformasi parsial akan menyelamatkan kita.
Hannah Arendt menawarkan sudut yang berbeda dan, dalam beberapa hal, lebih membebaskan. Dalam *The Human Condition*, ia membedakan antara kerja (*labor*), karya (*work*), dan tindakan (*action*). Kerja adalah aktivitas yang terikat pada siklus biologis kehidupan, yang produknya langsung dikonsumsi dan tidak meninggalkan jejak abadi. Karya adalah pembuatan benda-benda tahan lama yang membentuk dunia manusia yang stabil. Tindakan adalah aktivitas politik tertinggi, tempat manusia menampilkan dirinya yang unik di hadapan orang lain dan memulai sesuatu yang baru. Kecemasan Arendt terhadap modernitas adalah bahwa ia telah meninggikan kerja—aktivitas yang paling tidak manusiawi karena paling mendekati pengulangan hewani—ke puncak hierarki nilai, sehingga seluruh masyarakat menjadi “masyarakat pekerja” yang kehilangan kapasitas untuk karya dan tindakan. Pabrik, dalam kerangka ini, adalah kuil dari pemujaan terhadap kerja; ia mereproduksi sebuah masyarakat yang anggotanya semakin sulit membayangkan hidup yang bukan sekadar bekerja dan mengonsumsi. Tetapi Arendt, berbeda dari Ellul, tetap menyimpan harapan: kapasitas untuk tindakan, untuk memulai yang baru, tidak pernah bisa dipadamkan sepenuhnya, karena ia adalah konsekuensi dari fakta bahwa setiap manusia yang lahir adalah sebuah permulaan baru yang tak terduga.
## **Suara-Suara yang Sering Tak Terdengar: Pabrik di Selatan Global**
Ada satu kelemahan serius dalam hampir seluruh tradisi yang baru saja kita telusuri, dan kejujuran intelektual menuntut kita untuk menamainya. Marx menulis dengan pabrik Manchester di benaknya; Foucault dengan institusi Eropa; Mumford dan Ellul dan Arendt dengan modernitas Barat sebagai cakrawala. Mereka mengandaikan seorang pekerja yang, betapapun tertindasnya, sudah sepenuhnya menjadi proletar—yang hidupnya sudah seluruhnya dicakup oleh logika upah dan pabrik.
Tetapi Ramli di Morowali tidak sepenuhnya cocok dengan gambaran itu, dan ketidakcocokan ini penting. Ia mungkin masih punya ladang di kampung yang dikerjakan keluarganya. Ia mungkin berpindah antara kerja pabrik dan ekonomi informal, antara disiplin tungku dan ritme agraris yang sama sekali berbeda. Banyak pekerja di kawasan industri Selatan Global hidup dalam kondisi yang oleh sebagian sosiolog disebut “proletarianisasi yang tak tuntas”—setengah pekerja pabrik, setengah petani, dengan kaki di dua dunia yang ritmenya bertabrakan. Pabrik nikel yang dibangun dengan modal Tiongkok di tanah Sulawesi tidak menempa subjek di atas kanvas kosong; ia bertabrakan dengan susunan sosial yang sudah ada—dengan adat, dengan ekonomi subsisten, dengan jaringan kekerabatan yang punya logikanya sendiri.
Ini mengubah pertanyaan kita secara mendasar. Jika di Manchester abad sembilan belas pabrik mungkin betul-betul mereproduksi masyarakat dari nol, di Morowali abad dua puluh satu pabrik adalah satu kekuatan di antara banyak kekuatan, yang hasilnya bukan reproduksi yang mulus melainkan tabrakan, gesekan, dan formasi sosial hibrida yang belum punya nama. Literatur yang didominasi Barat cenderung melewatkan realitas ini: pekerja agraris-transisional, ekonomi informal yang menopang dan disubsidi oleh pabrik, kerja gig yang muncul di pinggiran kawasan industri. Maka jawaban atas pertanyaan Ramli mungkin tidak bisa dipinjam utuh dari Marx atau Foucault; ia harus ditulis ulang dari tempat Ramli berdiri, dengan tungku di hadapannya dan ladang di belakang punggungnya.
## **Kegamangan Batin Ramli**
Kembali ke sore itu, ke Ramli yang berdiri di depan besi cair. Mari kita masuki kegamangannya, sebab justru di dalam kebimbangan seseorang yang nyata, pertanyaan filosofis ini memperoleh berat yang sesungguhnya.
Ramli tahu bahwa pekerjaan ini telah mengubah hidupnya, dan ia tidak tahu apakah perubahan itu baik. Sebelum pabrik datang, hari-harinya diatur oleh matahari dan musim, oleh kapan ladang harus ditanami dan kapan dipanen. Ritme itu keras dan miskin, tetapi ia merasa ritme itu miliknya. Sekarang hidupnya diatur oleh shift, oleh sirine, oleh tungku yang tidak boleh padam sehingga ia harus bekerja saat orang lain tidur. Ia mengirim uang ke kampung, lebih banyak uang daripada yang pernah ia hasilkan dari ladang, dan keluarganya kini bisa menyekolahkan adiknya. Apakah ia harus bersyukur? Sebagian dirinya berkata ya. Tetapi ada bagian lain yang merasa ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang tidak bisa dibeli kembali dengan uang yang ia kirim—semacam kepemilikan atas waktunya sendiri, atas tubuhnya sendiri.
Yang membuat Ramli gamang bukan penderitaan yang jelas, melainkan justru ketidakjelasannya. Jika pabrik itu jelas-jelas jahat, ia bisa membencinya dengan tenang. Jika pabrik itu jelas-jelas baik, ia bisa mensyukurinya tanpa beban. Tetapi pabrik itu memberinya dan mengambil darinya secara bersamaan, dan ia tidak punya kerangka untuk menimbang yang satu terhadap yang lain. Ia mendengar para aktivis serikat berbicara tentang hak, tentang upah, tentang keselamatan kerja—dan ia setuju, ia ikut dalam aksi ketika ada kawan yang mati karena kecelakaan kerja. Tetapi pertanyaan yang menghantuinya lebih dalam dari soal upah. Pertanyaannya adalah: seandainya upah dinaikkan, seandainya keselamatan dijamin, seandainya pabrik ini dimiliki oleh koperasi pekerja alih-alih korporasi asing—apakah ia akan menjadi orang yang berbeda? Atau apakah tungku itu, dengan tuntutannya yang tak kenal lelah, akan tetap membentuk dirinya menjadi makhluk yang sama, hanya dengan sedikit lebih banyak uang di saku dan sedikit lebih sedikit rasa takut akan kematian?
Inilah kegamangan yang tidak punya nama dalam bahasa sehari-hari, tetapi yang merupakan inti dari pertanyaan filosofis kita. Ramli merasakan, tanpa bisa merumuskannya, ketegangan antara dua kebenaran yang sama-sama nyata: bahwa kondisinya bisa diperbaiki—dan bahwa perbaikan itu mungkin tidak menyentuh sesuatu yang lebih dalam, sesuatu dalam bentuk pabrik itu sendiri yang akan terus membentuknya selama tungku itu menyala. Ia berdiri di antara harapan akan reformasi dan kecurigaan bahwa reformasi tidak cukup, dan ia tidak tahu kaki mana yang harus ia percayai. Pada malam-malam tertentu, ketika ia pulang dengan tubuh letih dan kampung halaman terasa semakin jauh, ia merasa pabrik itu telah memenangkan sesuatu di dalam dirinya yang ia sendiri tidak sadar telah ia serahkan.
## **Batas-Batas Refleksi Ini**
Kejujuran menuntut saya mengakui apa yang esai ini tidak bisa lakukan. Pertama, kategori “pabrik” yang dipakai di sini terlalu lebar; sebuah pabrik tekstil dengan ribuan penjahit perempuan beroperasi dengan logika yang berbeda dari tungku peleburan nikel yang padat modal, dan menyamaratakannya berisiko mengaburkan perbedaan yang menentukan. Kedua, saya telah memperlakukan “masyarakat” seolah-olah ia entitas tunggal, padahal setiap masyarakat adalah medan pertarungan internal—pekerja melawan pemilik, lelaki melawan perempuan, pusat melawan pinggiran—sehingga pertanyaan tentang masyarakat mana yang direproduksi tidak pernah punya jawaban tunggal. Ketiga, dan ini yang paling penting, sosok Ramli adalah konstruksi naratif; ia berguna untuk memberi wajah pada abstraksi, tetapi ia bukan pengganti bagi suara pekerja yang sebenarnya, yang seharusnya didengar langsung alih-alih dibayangkan oleh seorang penulis. Setiap kali kita menyuarakan kegamangan orang lain, kita berisiko meminjamkan kepadanya kegamangan kita sendiri. Pembaca berhak waspada terhadap kemungkinan itu.
Ada pula data yang tidak saya punya. Kita tahu relatif sedikit, secara empiris dan longitudinal, tentang bagaimana persisnya bentuk pabrik membentuk subjektivitas pekerja di Selatan Global—berapa banyak yang berpindah antara dunia agraris dan industrial, bagaimana pengalaman itu berbeda antara generasi, bagaimana gender memotong seluruh persoalan ini. Tanpa data semacam itu, refleksi ini tetap sebagian besar filosofis, dan klaim apa pun tentang reproduksi sosial harus dipegang dengan tangan yang terbuka, siap melepaskannya ketika bukti menuntut.
## **Penutup yang Bukan Jawaban**
Maka, sejauh mana bentuk pabrik tertentu mengandaikan dan mereproduksi bentuk masyarakat tertentu? Saya telah berjanji untuk tidak menutup dengan pernyataan, dan saya akan menepatinya, sebab pertanyaan ini menolak penutupan—dan penolakan itu sendiri mungkin merupakan jawaban yang paling jujur.
Yang tersisa di benak saya bukanlah sebuah tesis melainkan sebuah gambar: gambar Ramli yang berdiri di antara tungku dan ladang, di antara harapan akan perbaikan dan kecurigaan bahwa perbaikan tidak menyentuh akar, di antara rasa syukur dan rasa kehilangan yang tidak bisa ia damaikan. Mungkin kebenarannya terletak justru pada ketidakmungkinan mendamaikan keduanya. Mungkin pabrik memang membawa serta sebuah gravitasi sosial—sebuah kecenderungan untuk mereproduksi hierarki, disiplin, dan subordinasi tubuh pada ritme mesin—dan pada saat yang sama gravitasi itu bukan takdir, melainkan medan yang bisa dilawan, meski perlawanan itu mahal dan tidak pernah tuntas. Mungkin pertanyaan yang benar bukan “apakah pabrik menentukan masyarakat” melainkan “berapa harga yang harus kita bayar, dan siapa yang membayarnya, untuk membentuk pabrik secara berbeda.”
Dan mungkin yang paling layak kita renungkan adalah ini: bahwa setiap kali kita berdiri di hadapan sebuah mesin besar dan merasa bahwa ia sedang membayangkan kita, menuntut kita menjadi orang tertentu, kita sedang menyentuh sebuah misteri yang lebih tua dari kapitalisme dan lebih dalam dari ekonomi. Sebab pertanyaan tentang apakah alat kita membentuk kita, atau kita yang membentuk alat kita, pada akhirnya adalah pertanyaan tentang apakah kita bebas—dan itu adalah pertanyaan yang tidak pernah, dan mungkin tidak boleh, ditutup. Ramli pulang malam itu tanpa jawaban. Mungkin kita pun harus belajar untuk pulang tanpa jawaban, sambil tetap menolak untuk berhenti bertanya.
—
## **Catatan Bacaan Lanjutan**
Pembaca yang ingin menelusuri ketegangan-ketegangan dalam esai ini sebaiknya memulai dari sumber pertikaiannya sendiri, yaitu Karl Marx. *Manuskrip Ekonomi-Filosofis 1844* memuat teori keterasingan yang menjadi fondasi gagasan bahwa pabrik membentuk jenis manusia tertentu, sementara bab tentang mesin dan industri besar dalam jilid pertama *Das Kapital* menunjukkan Marx yang lebih matang, yang melihat pekerja sebagai embel-embel hidup dari aparatus mati. Keduanya sebaiknya dibaca berurutan untuk merasakan bagaimana intuisi muda mengeras menjadi analisis sistematis.
Perdebatan tentang apakah teknologi punya politik paling tajam dirumuskan oleh Langdon Winner dalam esai “Do Artifacts Have Politics?” yang termuat dalam kumpulan tulisannya *The Whale and the Reactor* (1986)—sebuah tulisan pendek yang layak dibaca berkali-kali justru karena argumennya yang menggoda sekaligus rapuh. Sebagai penyeimbang, David Edgerton dalam *The Shock of the Old* (2007) membongkar banyak mitos tentang kebaruan teknologi dan mengingatkan betapa beragamnya cara masyarakat memakai alat yang sama, sementara tradisi konstruksi sosial atas teknologi dapat dimasuki lewat tulisan-tulisan Wiebe Bijker dan Trevor Pinch, yang menunjukkan bahwa bentuk sebuah artefak selalu hasil negosiasi sosial, bukan keniscayaan teknis.
Untuk memahami bagaimana pabrik membentuk tubuh dan jiwa, *Discipline and Punish* (1975) karya Michel Foucault tetap tak tergantikan; pembaca harus sabar dengan gaya tulisnya yang berliku, tetapi imbalannya adalah cara pandang yang sama sekali baru tentang bagaimana kekuasaan bekerja melalui institusi sehari-hari. Tema serupa, dari sudut yang lebih historis-peradaban, dapat ditemukan dalam dua jilid *The Myth of the Machine* karya Lewis Mumford, yang memperkenalkan gagasan megamesin dan membedakan teknik politeknik dari monoteknik.
Mereka yang ingin merasakan pesimisme yang paling tajam harus berhadapan dengan Jacques Ellul, terutama *The Technological Society* (terjemahan Inggris 1964), sebuah buku yang akan membuat tidak nyaman siapa pun yang berharap pada reformasi parsial. Sebagai penawar atas keputusasaan itu, *The Human Condition* (1958) karya Hannah Arendt menawarkan pembedaan antara kerja, karya, dan tindakan yang membuka kembali ruang bagi kebebasan manusia, meski dengan harga teoretis yang harus ditimbang dengan hati-hati.
Akhirnya, bagi pembaca yang merasa bahwa seluruh kanon ini terlalu Barat—dan kecurigaan itu beralasan—karya-karya tentang industrialisasi di Selatan Global menjadi penting. Tulisan-tulisan tentang “proletarianisasi yang tak tuntas” dalam sosiologi pembangunan, kajian-kajian etnografis tentang kawasan industri di Asia Tenggara, serta literatur kritis tentang model akumulasi industrial Tiongkok di luar negeri, semuanya membantu menempatkan sosok seperti Ramli dalam terang yang tidak bisa diberikan oleh Marx maupun Foucault. Di ranah ini kanon masih sedang ditulis, dan justru di situlah letak undangannya: bahwa pembaca sendiri mungkin yang akan menuliskan babnya.
