Mengapa fragmentasi—antar pekerja, antar serikat, antar lokasi—begitu konsisten menyertai akumulasi industrial; apakah ia efek samping atau prasyarat?

Ada sebuah pemandangan yang, bila Anda pernah berdiri cukup lama di gerbang sebuah kawasan industri, terasa hampir wajar sampai-sampai berhenti tampak sebagai sesuatu yang perlu dijelaskan. Ribuan orang masuk dan keluar dari pintu yang sama, mengenakan seragam dengan warna yang membedakan kontraktor satu dari kontraktor lain, perusahaan inti dari perusahaan turunan, pekerja smelter dari pekerja konstruksi dari sopir truk pengangkut bijih. Mereka tinggal di mes yang dipisahkan menurut perusahaan, makan di kantin yang dipisahkan menurut kewarganegaraan, dan pulang—jika mereka pulang—ke kampung-kampung yang berjarak ratusan hingga ribuan kilometer satu sama lain. Mereka bekerja, secara harfiah, di bawah atap yang sama, untuk satu aliran komoditas yang sama, demi satu mata rantai nilai global yang sama. Dan mereka nyaris tidak saling mengenal sebagai sebuah kelompok.

Pertanyaan yang ingin saya ajukan dalam esai ini sederhana untuk diucapkan dan sulit untuk dijawab: mengapa fragmentasi—keterpecahan antar pekerja, antar serikat, antar lokasi geografis—begitu konsisten menyertai akumulasi industrial? Mengapa, di mana pun modal terkonsentrasi dalam skala besar, kita hampir selalu menemukan tenaga kerja yang terbelah-belah, terdistribusi, terstratifikasi, dan sulit menyatu? Apakah keterpecahan itu sekadar efek samping yang tidak diinginkan dari proses produksi yang kompleks—gesekan yang muncul karena banyak orang harus dikoordinasikan—ataukah ia, sebaliknya, sebuah prasyarat: sesuatu yang harus ada lebih dahulu, yang secara aktif diproduksi dan dipelihara, agar akumulasi itu sendiri dapat berlangsung?

Perbedaan antara kedua kemungkinan itu bukan main-main. Jika fragmentasi adalah efek samping, maka ia adalah persoalan teknis yang pada prinsipnya dapat dikoreksi: dengan komunikasi yang lebih baik, dengan regulasi yang lebih bijak, dengan kesadaran kolektif yang lebih tinggi. Tapi jika fragmentasi adalah prasyarat, maka kita berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih gelap—sebuah arsitektur yang dirancang agar keterpisahan menjadi fondasi, dan setiap upaya menyatukan akan berhadapan bukan dengan kesalahpahaman melainkan dengan kepentingan struktural yang justru hidup dari keterpecahan itu.

Saya tidak yakin saya bisa memberi Anda jawaban yang memuaskan. Tapi saya cukup yakin bahwa pertanyaan itu layak ditahan cukup lama, dipandang dari beberapa sudut yang berbeda, sebelum kita memutuskan ia jenis persoalan apa.

## **Lebih dulu mana, mesin atau perpecahan**

Mari mulai dengan intuisi yang paling polos. Sebuah pabrik baja membutuhkan ribuan tugas yang berbeda. Seseorang menambang bijih, seseorang melebur, seseorang mengoperasikan tungku, seseorang mengelola logistik, seseorang membersihkan, seseorang mencatat. Pembagian kerja ini, kata intuisi polos kita, adalah keniscayaan teknis: tidak mungkin satu orang melakukan semuanya, dan karenanya pekerjaan harus dipecah. Fragmentasi, dalam pandangan ini, hanyalah nama lain dari spesialisasi, dan spesialisasi adalah harga yang harus dibayar untuk produktivitas.

Adam Smith, di halaman-halaman pembuka *The Wealth of Nations*, memberi kita gambar yang paling terkenal tentang ini: pabrik peniti, di mana seorang pekerja yang mengerjakan seluruh proses sendirian mungkin menghasilkan sepuluh atau dua puluh peniti sehari, sementara sepuluh pekerja yang masing-masing mengerjakan satu tahap kecil dapat menghasilkan puluhan ribu. Pembagian kerja melipatgandakan output. Ini adalah salah satu wawasan paling fundamental dalam ekonomi, dan ia benar.

Tetapi Smith sendiri, dengan kejujuran yang sering dilupakan oleh para pewarisnya, melihat sisi gelapnya. Di bagian yang jauh lebih jarang dikutip dari karya yang sama, ia menulis bahwa seorang manusia yang seumur hidup mengerjakan satu operasi sederhana yang berulang akan kehilangan kapasitasnya untuk berpikir, menjadi “sebodoh dan setolol yang mungkin bisa terjadi pada makhluk manusia.” Pembagian kerja, bagi Smith, bukan hanya soal efisiensi. Ia juga soal pengerdilan. Dan di sinilah celah pertama dalam intuisi polos kita mulai terbuka: jika spesialisasi murni soal teknis, mengapa ia begitu konsisten menghasilkan bukan hanya produktivitas yang lebih tinggi tetapi juga manusia yang lebih mudah dikendalikan?

Pertanyaan itulah yang membawa kita ke garis pemikiran yang sama sekali berbeda.

## **Membaca pabrik sebagai strategi, bukan sekadar mesin**

Bagi tradisi Marxis, dan terutama bagi para pemikir yang memperluasnya pada abad kedua puluh, kekeliruan intuisi polos terletak pada asumsi bahwa pembagian kerja dirancang semata-mata untuk efisiensi produksi. Apa yang luput dari pandangan itu adalah dimensi kekuasaan.

Stephen Marglin, dalam sebuah esai yang judulnya sendiri sudah merupakan provokasi—”Apa yang Dilakukan Para Mandor?”—mengajukan argumen yang mengganggu. Ia menunjukkan bahwa sistem pabrik tidak menang atas sistem kerja rumahan (di mana pengrajin bekerja di rumah masing-masing dengan ritme sendiri) terutama karena lebih efisien secara teknis. Ia menang karena ia memberi pemilik modal kendali. Ketika pekerja tersebar di rumah-rumah mereka, mereka mengatur sendiri kapan dan bagaimana bekerja, dan mereka memegang pengetahuan tentang proses produksi. Ketika mereka dikumpulkan di bawah satu atap dan tugas mereka dipecah menjadi fragmen-fragmen yang tak satu pun di antaranya mencakup keseluruhan, sesuatu yang krusial berpindah tangan: pengetahuan tentang bagaimana memproduksi pindah dari pekerja ke manajemen. Tidak ada satu pekerja pun yang lagi memiliki gambaran utuh. Hanya yang di atas yang melihat keseluruhannya.

Fragmentasi, dalam pembacaan ini, bukan efek samping pembagian kerja. Ia adalah tujuannya. Atau, lebih tepatnya, kendali adalah tujuannya, dan fragmentasi adalah mekanismenya.

Harry Braverman, dalam *Labor and Monopoly Capital* (1974), membawa argumen ini lebih jauh dengan konsep yang ia pinjam dan radikalisasi dari Frederick Taylor sendiri: pemisahan antara konsepsi dan eksekusi. Manajemen ilmiah ala Taylor, kata Braverman, secara sistematis memisahkan pekerjaan berpikir dari pekerjaan tangan. Insinyur dan manajer merancang; pekerja melaksanakan. Pemisahan ini terdengar seperti rasionalisasi yang netral, tetapi efeknya adalah deskilling—pengikisan keterampilan—yang membuat pekerja semakin mudah digantikan dan semakin sulit menuntut. Seorang ahli yang menguasai seluruh kerajinan punya daya tawar. Seorang pelaksana satu gerakan berulang yang dapat dilatih dalam setengah hari tidak punya apa-apa. Fragmentasi keterampilan adalah fragmentasi daya tawar.

Dan dari sini kita sampai pada bentuk fragmentasi yang lebih luas, yang melampaui pabrik tunggal menuju geografi dan demografi tenaga kerja secara keseluruhan. Karl Marx sendiri, dalam pembahasannya tentang “tentara cadangan industrial,” sudah menunjukkan bahwa kapitalisme membutuhkan surplus pekerja yang menganggur—massa orang yang siap menggantikan mereka yang bekerja—untuk menekan upah dan mendisiplinkan tenaga kerja. Keberadaan orang-orang di gerbang yang menunggu kesempatan adalah ancaman yang terus-menerus terhadap mereka yang di dalam. Tetapi yang lebih halus, dan lebih relevan untuk pertanyaan kita, adalah bagaimana tenaga kerja itu sendiri disegmentasi.

Para teoretikus pasar tenaga kerja tersegmentasi—Michael Reich, David Gordon, Richard Edwards di antaranya—berargumen pada 1970-an dan 1980-an bahwa kapitalisme maju secara aktif membelah kelas pekerja menjadi segmen-segmen yang berbeda: pasar tenaga kerja primer dengan upah tinggi dan keamanan kerja, dan pasar sekunder dengan upah rendah dan ketidakpastian. Pembelahan ini sering kali berjalan menurut garis ras, gender, kewarganegaraan, dan status migran. Dan inilah inti argumennya: segmentasi ini bukan kebetulan sosiologis. Ia berfungsi. Ia membuat solidaritas lintas-segmen menjadi sulit, karena pekerja primer punya kepentingan untuk mempertahankan keistimewaan mereka, dan pekerja sekunder dipandang sebagai ancaman, bukan saudara seperjuangan. Devide et impera bukan hanya doktrin kolonial. Ia adalah, dalam pembacaan ini, logika operasional modal.

Jika garis pemikiran ini benar, maka jawaban atas pertanyaan kita sudah jelas: fragmentasi adalah prasyarat. Modal tidak mengakumulasi *meskipun* ada fragmentasi; modal mengakumulasi *karena* dan *melalui* fragmentasi. Keterpecahan tenaga kerja adalah kondisi yang memungkinkan ekstraksi nilai lebih tanpa perlawanan yang terorganisir.

Tetapi kita harus berhenti di sini, sebelum terbawa, dan bertanya: apakah pembacaan ini terlalu rapi? Apakah ia memberi modal terlalu banyak kecerdasan dan terlalu banyak niat?

## **Apakah benar ada yang merencanakan ini**

Tradisi liberal dan neoklasik akan menjawab: ya, terlalu banyak. Bagi seorang ekonom dalam tradisi ini, melihat fragmentasi sebagai konspirasi yang dirancang adalah kekeliruan kategoris—sebuah upaya menemukan niat di tempat yang sebenarnya hanya berisi mekanisme tak bertuan.

Pertimbangkan penjelasan alternatifnya. Fragmentasi tenaga kerja, dalam pandangan ini, adalah hasil agregat dari jutaan keputusan terdesentralisasi yang masing-masing rasional pada tingkatnya sendiri. Perusahaan melakukan outsourcing bukan untuk memecah belah pekerja tetapi karena spesialisasi vendor lebih murah. Mereka menggunakan kontraktor karena fleksibilitas mengurangi risiko. Mereka merekrut migran karena di situlah tenaga kerja tersedia dengan harga yang bersaing. Tidak ada dalang. Hanya ada harga, insentif, dan respons terhadap insentif. Ronald Coase, dalam teorinya tentang sifat perusahaan, sudah menunjukkan bahwa batas-batas perusahaan ditentukan oleh biaya transaksi: perusahaan akan melakukan sendiri apa yang lebih murah dilakukan sendiri, dan menyerahkan ke pasar apa yang lebih murah dibeli. Fragmentasi rantai pasok, dari sudut ini, hanyalah peta biaya transaksi yang membeku menjadi struktur organisasi.

Ada kekuatan dalam pandangan ini yang tidak boleh diremehkan. Penjelasan yang mengandaikan koordinasi jahat berskala besar harus menjelaskan bagaimana koordinasi itu dicapai tanpa terungkap, tanpa pengkhianat, tanpa kegagalan. Penjelasan yang hanya mengandaikan insentif terdesentralisasi tidak menanggung beban itu. Ia lebih hemat, dan kehematan adalah kebajikan dalam penjelasan.

Lebih dari itu, tradisi liberal akan menunjuk pada fakta yang merepotkan bagi pembacaan Marxis: tidak semua fragmentasi merugikan pekerja, dan tidak semua pekerja menginginkan penyatuan. Seorang pekerja terampil mungkin memang lebih suka kontrak individual yang menghargai keterampilannya ketimbang ditarik ke dalam tawar-menawar kolektif yang meratakan upah. Mobilitas, fleksibilitas, dan diferensiasi bisa menjadi sumber kebebasan, bukan hanya alat penindasan. Friedrich Hayek akan menambahkan bahwa justru ketersebaran pengetahuan—fakta bahwa tidak ada satu pun pusat yang tahu segalanya—adalah keunggulan epistemik pasar, bukan cacatnya. Apa yang oleh seorang Marxis tampak sebagai fragmentasi yang melumpuhkan, bagi seorang Hayekian adalah desentralisasi yang memberdayakan.

Namun di sinilah saya merasa harus jujur tentang keterbatasan pandangan ini juga. Mengatakan bahwa tidak ada dalang tidak sama dengan mengatakan bahwa tidak ada pola, dan tidak ada keuntungan sistematis dari pola itu. Sebuah sistem dapat menghasilkan hasil yang seolah-olah dirancang tanpa ada perancang—ini justru wawasan inti teori evolusi maupun teori pasar. Tetapi jika hasil yang “tak dirancang” itu secara konsisten menguntungkan satu pihak dan melemahkan pihak lain, dan jika pihak yang diuntungkan punya kekuasaan untuk mempertahankan kondisi yang menghasilkannya, maka membedakan antara “efek samping” dan “prasyarat” mulai kehilangan ketajamannya. Sesuatu bisa berawal sebagai efek samping dan dipelihara sebagai prasyarat. Niat tidak harus ada di awal untuk muncul di tengah jalan.

## **Bukan modal yang memecah, tapi peradaban itu sendiri**

Ada cara lain memandang persoalan ini, yang menolak baik kerangka Marxis maupun kerangka liberal, dan yang menurut saya layak diberi ruang justru karena ia mengganggu kedua belah pihak.

Bagi tradisi yang berakar pada Max Weber dan kemudian diradikalisasi oleh Jacques Ellul, fragmentasi bukan terutama soal modal melawan tenaga kerja. Ia adalah ciri intrinsik dari rasionalisasi itu sendiri—dari kecenderungan modernitas untuk memecah setiap proses menjadi langkah-langkah yang dapat dikalkulasi, distandarisasi, dan dikontrol. Weber melihat ini dalam birokrasi: pembagian yurisdiksi, hierarki jabatan, pemisahan peran dari pribadi yang memegangnya. Birokrasi memfragmentasi tanggung jawab sehingga tidak ada satu orang pun yang memegang keseluruhan keputusan—dan inilah, secara mengganggu, sumber efisiensinya sekaligus sumber ketidakmanusiawiannya. “Kandang besi” rasionalitas instrumental tidak peduli siapa pemiliknya. Ia akan memfragmentasi sama saja di bawah kapitalisme, sosialisme negara, atau korporasi mana pun.

Ellul mendorong ini sampai ke kesimpulan yang nyaris fatalistis. Bagi Ellul, *la technique*—teknik, dalam arti seluruh ansambel metode rasional yang mengejar efisiensi maksimal—adalah kekuatan otonom yang mengatasi niat manusia mana pun. Fragmentasi adalah cara teknik beroperasi: ia membelah dunia menjadi masalah-masalah yang dapat dipecahkan, dan dalam proses itu ia membelah pula manusia yang menanganinya. Pertanyaan “siapa yang diuntungkan?” menjadi hampir tidak relevan, karena tidak ada subjek yang mengendalikan; ada hanya logika sistem yang mereproduksi dirinya sendiri.

Pandangan ini punya implikasi yang berat untuk pertanyaan kita. Jika Ellul benar, maka memperdebatkan apakah fragmentasi adalah efek samping atau prasyarat *akumulasi* adalah salah alamat—karena fragmentasi mendahului dan melampaui akumulasi kapitalis. Ia adalah konsekuensi dari memilih efisiensi rasional sebagai nilai pengatur, titik. Akumulasi industrial hanyalah satu wadah di mana logika yang lebih dalam itu mengekspresikan dirinya.

Saya merasa pandangan ini menangkap sesuatu yang luput dari Marxis—kemampuan fragmentasi untuk bertahan bahkan ketika kepemilikan berubah, fakta bahwa pabrik-pabrik di bawah negara sosialis pun mengenal pembagian kerja yang mengasingkan. Tetapi saya juga merasa ia menyerah terlalu cepat pada fatalisme. Dengan menyatakan teknik otonom dan tak terhindarkan, Ellul mengeluarkan kekuasaan dari persamaan justru di titik di mana kekuasaan paling menentukan. Bahwa rasionalisasi cenderung memfragmentasi tidak berarti bahwa *bentuk spesifik* fragmentasi—siapa yang dipisahkan dari siapa, dengan garis apa, demi keuntungan siapa—ditentukan oleh teknik semata. Garis-garis itu, saya kira, masih ditarik oleh tangan manusia, dan tangan-tangan itu punya kepentingan.

## **Yang dirampas bukan hanya upah, tapi kemampuan untuk merasa bersama**

Ada satu tradisi lagi yang ingin saya hadirkan, karena ia memindahkan pertanyaan dari ranah ekonomi politik ke ranah pengalaman hidup, dan saya kira tanpa pemindahan itu kita kehilangan separuh persoalan.

Bagi tradisi fenomenologis dan eksistensial—di sini saya memikirkan Hannah Arendt, dan dengan cara yang berbeda Simone Weil—fragmentasi yang paling dalam bukanlah fragmentasi struktur ekonomi melainkan fragmentasi dunia yang dialami. Arendt membedakan antara *labor* (kerja yang sekadar mereproduksi kehidupan, siklus konsumsi yang tak pernah menghasilkan sesuatu yang bertahan), *work* (pembuatan benda-benda dunia yang bertahan), dan *action* (tindakan politik di ruang publik di antara sesama). Tragedi masyarakat industrial modern, baginya, adalah bahwa ia mereduksi semakin banyak kehidupan menjadi labor murni—aktivitas yang terisolasi, repetitif, tanpa ruang bagi action, tanpa “dunia bersama” yang menghubungkan orang dalam kesetaraan dan perbedaan sekaligus. Tanpa dunia bersama itu, manusia menjadi “massa” yang kesepian—bukan publik, melainkan agregat individu-individu yang terisolasi yang justru karena keterisolasiannya menjadi mudah dimobilisasi dan dikendalikan.

Simone Weil, yang menghabiskan satu tahun bekerja di pabrik untuk memahami kondisi buruh dari dalam, menulis dengan kepedihan yang jarang ada bandingannya tentang apa yang ia sebut *malheur*—penderitaan yang menghancurkan jiwa. Yang paling ia takutkan dari kerja pabrik bukanlah keletihan fisik melainkan cara ia mengikis kemampuan untuk berpikir, untuk merasa terhubung, untuk hadir bagi orang lain. Pekerja yang habis oleh ritme mesin, tulisnya, tidak punya energi tersisa untuk solidaritas. Fragmentasi, di tingkat ini, bukan soal organisasi serikat yang gagal menyatu; ia soal manusia yang dikuras sedemikian rupa sehingga kapasitas batiniah untuk solidaritas itu sendiri terkikis.

Wawasan ini, menurut saya, mengisi celah penting. Ia menjelaskan sesuatu yang baik Marxis maupun liberal kesulitan menjelaskan: mengapa, bahkan ketika kepentingan objektif jelas-jelas sama, penyatuan begitu sulit. Bukan hanya karena ada hambatan struktural, atau karena insentif terdesentralisasi. Tapi karena pengalaman hidup di bawah produksi terfragmentasi menghasilkan subjektivitas yang terfragmentasi—orang-orang yang, di tingkat kapasitas batin untuk merasa-bersama, telah dilemahkan terlebih dahulu. Fragmentasi struktur eksternal dan fragmentasi pengalaman internal saling menguatkan dalam lingkaran yang sulit diputus.

## **Sebuah kasus konkret untuk menahan abstraksi**

Saya khawatir abstraksi ini, bila dibiarkan, akan terbang terlalu jauh dari tanah. Maka izinkan saya turun ke satu kasus, bukan untuk membuktikan tesis mana pun, melainkan untuk menguji apakah tesis-tesis itu masih bermakna ketika menyentuh kehidupan.

Bayangkan—dan ini adalah komposit, bukan satu orang tertentu—seorang lelaki yang saya sebut saja Rusli. Ia berusia tiga puluh empat tahun, berasal dari sebuah desa di Sulawesi bagian lain, dan kini bekerja sebagai operator di sebuah kawasan pengolahan logam. Ia bukan pegawai perusahaan inti. Ia dipekerjakan oleh sebuah kontraktor yang menyediakan tenaga kerja untuk perusahaan turunan yang memasok jasa kepada perusahaan inti. Di mesnya, ia tinggal bersama orang-orang dari kontraktor yang sama. Di lini produksi, ia bekerja bersisian dengan pekerja dari perusahaan lain yang ia tahu menerima upah berbeda untuk pekerjaan yang ia nilai sama beratnya. Di kantin, ada sekat yang tak tertulis antara pekerja lokal sepertinya dan pekerja asing yang ia dengar mendapat fasilitas berbeda, meski ia tidak pernah benar-benar bicara dengan mereka karena bahasa, karena giliran kerja yang berbeda, karena entah apa.

Suatu malam, seorang teman mengajaknya ikut dalam pertemuan untuk membicarakan tuntutan upah. Dan di sinilah kegamangan itu dimulai—bukan kegamangan teoretis, melainkan kegamangan yang menempel di tubuh, yang membuat tidur sulit.

Sebagian dari Rusli tahu, dengan kejernihan yang tidak bisa ia bantah, bahwa ia dan pekerja-pekerja lain itu berada di perahu yang sama. Mereka semua menjual jam-jam hidup mereka demi aliran logam yang sama, yang akan menjadi entah baterai mobil di benua lain entah apa, untuk keuntungan yang tidak pernah ia lihat angkanya. Logika kebersamaan itu jelas. Jika mereka semua menuntut bersama, mereka tak terabaikan. Jika sendiri-sendiri, masing-masing dapat diganti besok pagi oleh salah satu dari orang-orang yang menunggu di gerbang.

Tetapi ada sebagian lain dari Rusli yang menarik mundur, dan suara itu tidak kalah masuk akal. Ia punya kontrak melalui kontraktornya; pekerja perusahaan inti punya kepentingan yang berbeda, mungkin tak peduli pada nasibnya. Ikut menuntut berarti namanya tercatat, dan ia tahu—semua orang tahu—apa yang bisa terjadi pada nama yang tercatat. Ada cicilan yang harus dibayar. Ada adik yang ia sekolahkan. Ada jarak ribuan kilometer antara dirinya dan kampung tempat ia bisa mundur jika semuanya runtuh. Dan ada keletihan itu, keletihan Weil, yang membuat seluruh urusan terasa terlalu berat dipikul setelah shift dua belas jam.

Yang menyiksa Rusli bukan ketidaktahuan. Ia bukan tidak paham bahwa ia sedang dipecah. Justru sebaliknya: ia paham, dan pemahaman itu tidak membebaskannya. Ia bisa melihat geometri keterpisahan yang mengurungnya—sekat antar perusahaan, antar status, antar kewarganegaraan, antar kampung asal—dan ia bisa melihat bahwa setiap sekat itu menguntungkan seseorang yang bukan dirinya. Tapi melihat penjara bukanlah keluar dari penjara. Setiap pilihan rasional pada tingkat dirinya sendiri—jangan menonjol, lindungi pekerjaanmu, kirim uang ke rumah—adalah persis pilihan yang, bila diambil oleh semua orang, memastikan tak satu pun dari mereka pernah cukup kuat untuk mengubah apa pun.

Inilah, saya kira, wajah hidup dari pertanyaan filosofis kita. Bagi Rusli, perdebatan apakah fragmentasi adalah efek samping atau prasyarat bukanlah persoalan akademis. Ia adalah pertanyaan tentang apakah keterpisahan yang ia rasakan adalah sesuatu yang bisa ia lawan bersama orang lain, atau sesuatu yang sudah ditenun begitu rapat ke dalam kondisinya sehingga melawannya berarti melawan struktur dari realitas yang ia tempati. Dan ia tidak tahu jawabannya. Tidak ada yang memberitahunya. Ia hanya merasakan tarikan ke dua arah, dan tahu bahwa apa pun yang ia putuskan, ia akan kehilangan sesuatu.

## **Mengapa saya menolak menutup dengan jawaban**

Saya telah berjanji pada diri sendiri, di awal esai ini, untuk tidak menutupnya dengan sebuah pernyataan. Godaan untuk melakukannya besar. Akan rapi sekali untuk mengatakan: fragmentasi adalah prasyarat, dan inilah buktinya, maka berserikatlah. Atau sebaliknya: fragmentasi adalah efek samping yang tak terhindarkan dari kompleksitas, maka berhentilah mencari dalang. Keduanya akan memberi Anda perasaan tuntas yang menyenangkan. Dan keduanya, saya kira, akan mengkhianati apa yang sebenarnya telah kita temukan.

Yang telah kita temukan, kalau saya jujur, adalah bahwa pertanyaan “efek samping atau prasyarat” mungkin mengandaikan sebuah pemisahan yang tidak sungguh-sungguh ada. Pikirkan kembali. Bagi Marglin dan Braverman, fragmentasi adalah prasyarat kendali. Bagi tradisi liberal, ia adalah efek samping insentif terdesentralisasi. Bagi Weber dan Ellul, ia adalah konsekuensi struktural rasionalisasi yang mendahului pertanyaan kepemilikan. Bagi Arendt dan Weil, ia adalah kondisi pengalaman yang menggerogoti kapasitas untuk menyatu. Masing-masing benar tentang sesuatu. Dan justru karena masing-masing benar tentang sesuatu, tidak ada satu pun yang berhak atas keseluruhan.

Mungkin yang sebenarnya terjadi adalah ini: fragmentasi lahir sebagai efek samping—dari pembagian kerja, dari biaya transaksi, dari geografi sumber daya—dan kemudian, begitu ia ada, ditemukan menguntungkan, dipelihara, diintensifkan, sampai pada titik di mana ia menjadi prasyarat bukan karena seseorang merancangnya sebagai prasyarat sejak awal, melainkan karena tak seorang pun yang diuntungkan punya alasan untuk menghapusnya. Sebuah kebetulan yang mengeras menjadi kebutuhan. Sebuah gesekan yang, setelah ditemukan berguna, dijaga agar tetap ada. Dalam pengertian itu, oposisi antara “efek samping” dan “prasyarat” bukanlah pilihan antara dua jawaban, melainkan deskripsi dari dua momen dalam satu proses: bagaimana sesuatu yang tak diniatkan dapat, melalui kepentingan yang menumpang padanya, memperoleh seluruh bobot dari sesuatu yang diniatkan.

Tetapi saya tidak ingin menutup bahkan dengan sintesis yang rapi itu, karena ia pun terlalu rapi. Ada sesuatu yang tersisa, yang tidak terselesaikan oleh formula mana pun, dan sesuatu itu adalah Rusli. Tidak ada teori—Marxis, liberal, Weberian, fenomenologis—yang dapat memberitahu Rusli apa yang harus ia lakukan malam itu. Setiap teori menerangi satu dinding dari ruangan tempat ia berdiri, dan ruangan itu tetap gelap di tengah. Mungkin itulah pelajaran yang paling jujur yang bisa ditawarkan filsafat di sini: bukan peta keluar, melainkan penerangan yang cukup untuk melihat bahwa keterpisahan yang kita rasakan bukanlah takdir alamiah dan bukan pula sekadar kesalahpahaman, melainkan sesuatu yang dibuat—dan karena dibuat, secara prinsip dapat dibuat berbeda, sekalipun kita tidak tahu, dari tempat kita berdiri sekarang, bagaimana caranya.

Saya mendapati diri saya kembali ke gerbang itu, ke ribuan orang yang masuk dan keluar dari pintu yang sama tanpa saling mengenal sebagai sebuah kelompok. Pertanyaan yang tersisa di benak saya bukan lagi “efek samping atau prasyarat.” Pertanyaan yang tersisa adalah yang lebih sunyi: apa yang akan dibutuhkan—bukan secara teori, tetapi dalam tubuh dan waktu dan keberanian orang-orang seperti Rusli—agar mereka yang berdiri di bawah atap yang sama dapat, suatu hari, memandang satu sama lain dan melihat bukan sekat melainkan cermin? Saya tidak tahu jawabannya. Saya tidak yakin jawaban itu berbentuk pernyataan. Mungkin ia berbentuk perbuatan, dan perbuatan itu menunggu di suatu tempat di luar jangkauan kalimat ini.



## **Catatan untuk yang ingin menelusuri lebih jauh**

Pembaca yang ingin menyusuri kembali jejak-jejak yang menuntun esai ini sebaiknya mulai dari tempat yang tak terduga: dengan Adam Smith sendiri. *The Wealth of Nations* (1776) terkenal karena pabrik penitinya, tetapi bagian yang sungguh menggetarkan ada jauh di Buku Kelima, di mana Smith—sang nabi pembagian kerja—mengakui dengan getir betapa kerja terfragmentasi mengerdilkan jiwa manusia. Membaca kedua bagian itu berdampingan adalah cara terbaik merasakan ambivalensi yang menghantui seluruh persoalan ini sejak awal.

Untuk argumen bahwa fragmentasi adalah soal kendali dan bukan sekadar efisiensi, esai Stephen Marglin “What Do Bosses Do?” (terbit di *Review of Radical Political Economics*, 1974) tetap menjadi titik masuk yang paling tajam dan paling banyak diperdebatkan; ia ditulis untuk memprovokasi, dan ia berhasil. Pasangannya yang lebih sistematis adalah *Labor and Monopoly Capital* karya Harry Braverman (1974), buku yang memperkenalkan banyak pembaca pada gagasan deskilling dan pemisahan konsepsi dari eksekusi—sebuah karya yang, meski telah dikritik tajam karena dianggap meremehkan agensi pekerja, mengubah cara orang membaca lantai pabrik. Akar dari semua ini, tentu saja, ada pada Karl Marx, terutama bagian-bagian *Capital* Jilid Satu tentang pembagian kerja, mesin, dan tentara cadangan industrial; mereka yang merasa Marx terlalu menakutkan untuk didekati langsung dapat memulai dari pembahasan keterasingan dalam *Manuskrip Ekonomi-Filosofis 1844*, yang lebih muda, lebih puitis, dan lebih langsung menyentuh persoalan pengalaman.

Mereka yang ingin memahami bagaimana tenaga kerja dibelah-belah bukan hanya di dalam pabrik tetapi di seluruh pasar tenaga kerja sebaiknya mencari karya para teoretikus segmentasi—*Segmented Work, Divided Workers* karya David Gordon, Richard Edwards, dan Michael Reich (1982) adalah pernyataan paling utuhnya. Buku itu berusaha menunjukkan, dengan bukti sejarah Amerika, bagaimana pembelahan kelas pekerja menurut garis ras dan gender bukanlah residu masa lalu melainkan struktur yang terus diproduksi.

Bagi sudut pandang yang sama sekali berbeda—yang melihat fragmentasi bukan sebagai siasat modal melainkan sebagai nasib modernitas itu sendiri—Max Weber adalah sumber mata airnya; bacalah esai-esainya tentang birokrasi dan bagian penutup *The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism* dengan metafora “kandang besi”-nya yang termasyhur. Jacques Ellul membawa kecurigaan ini sampai ke ujungnya yang nyaris putus asa dalam *The Technological Society* (terbit dalam bahasa Prancis 1954, Inggris 1964); ia adalah teman bicara yang menjengkelkan tetapi tak terhindarkan, karena ia memaksa kita bertanya apakah mengganti pemilik akan mengubah apa pun bila logika efisiensi tetap berkuasa.

Tetapi jika hanya satu arah yang dapat ditempuh pembaca, saya akan mengarahkannya ke tradisi yang mengembalikan tubuh dan jiwa ke dalam persamaan. *The Human Condition* karya Hannah Arendt (1958) menawarkan kosakata—labor, work, action—yang sekali dipelajari sulit dilupakan, dan bab-babnya tentang kebangkitan “yang sosial” serta hilangnya dunia bersama terasa semakin relevan, bukan kurang, seiring berlalunya waktu. Dan di atas segalanya, untuk siapa pun yang ingin merasakan dan bukan sekadar memahami apa artinya kerja yang memfragmentasi jiwa, tidak ada pengganti bagi tulisan-tulisan Simone Weil yang terkumpul dalam *La Condition ouvrière*—sebagiannya tersedia dalam bahasa Inggris dalam antologi seperti *The Simone Weil Reader*. Weil tidak menulis dari kursi; ia menulis dari lini produksi tempat ia memaksakan dirinya bekerja, dan kalimat-kalimatnya membawa beban yang tak bisa dipinjam dari teori.

Akhirnya, bagi yang penasaran pada wajah kontemporer persoalan ini—rantai pasok global, kerja platform, geografi tenaga kerja migran—karya-karya David Harvey tentang geografi akumulasi dan tulisan-tulisan terbaru tentang “kerja logistik” menawarkan jembatan dari para pemikir klasik ke kawasan-kawasan industri seperti yang menjadi latar bayangan esai ini. Tetapi itu, sebagaimana kebiasaan dikatakan, adalah cerita untuk lain waktu.

Discover more from bolakayu.id

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading