Kepada siapa sebuah industri berutang—pemegang saham, pekerja, komunitas sekitar, generasi mendatang, atau ekosistem—dan bagaimana klaim-klaim itu ditimbang ketika bertabrakan?

Bayangkan seorang manajer keberlanjutan—sebut saja namanya Rahmi—berdiri di tepi sebuah kawasan pengolahan nikel di pesisir timur Sulawesi, menjelang petang. Cerobong di belakangnya mengeluarkan asap yang, tergantung arah angin, bisa terlihat seperti kabut sore yang jinak atau seperti sesuatu yang lebih sulit dimaafkan. Di tangannya ada laporan triwulan yang harus ia tandatangani besok pagi. Laporan itu memuji efisiensi produksi yang naik delapan persen. Ia tahu, di balik angka delapan persen itu, ada perpanjangan jam kerja yang tak pernah benar-benar dirundingkan, ada sungai yang mulai berubah warna di musim hujan, ada keluarga-keluarga nelayan yang kini menempuh jarak dua kali lipat untuk menemukan ikan, dan ada para pemegang saham di kota lain—mungkin di benua lain—yang membaca angka itu dengan kepuasan yang wajar, karena uang mereka memang dipertaruhkan di sini.

Rahmi tidak sedang menghadapi soal teknis. Ia menghadapi sebuah pertanyaan yang setua kapitalisme industrial itu sendiri, dan barangkali lebih tua: kepada siapa sebenarnya tempat kerja ini berutang? Kepada mereka yang menanamkan modal? Kepada mereka yang menjual sebagian besar jam hidup mereka untuk membuatnya berjalan? Kepada komunitas yang tanahnya dipinjam—atau diambil? Kepada anak-anak yang belum lahir dan yang akan mewarisi laut yang ini? Atau kepada ekosistem itu sendiri, yang tidak punya pengacara, tidak punya saham, tidak bisa mengirim delegasi ke ruang rapat?

Pertanyaan ini tampak abstrak sampai seseorang seperti Rahmi harus menjawabnya dengan tanda tangan. Dan inilah yang membuatnya filosofis dalam arti yang paling jujur: ia bukan teka-teki yang menunggu jawaban benar, melainkan medan tempat klaim-klaim yang sah saling bertabrakan, dan tabrakan itu tidak bisa dihindari dengan kepintaran konseptual semata. Setiap pihak punya alasan yang masuk akal. Itulah persoalannya. Bukan bahwa satu pihak benar dan yang lain keliru, melainkan bahwa beberapa pihak benar sekaligus, dan kebenaran mereka tidak muat dalam ruang yang sama.

## **Utang yang Tidak Pernah Ditandatangani**

Kata “berutang” sendiri menyimpan jebakan yang perlu kita bongkar lebih dulu. Utang dalam arti hukum mensyaratkan kontrak: dua pihak yang sepakat, syarat yang jelas, dan momen di mana kewajiban itu lahir. Pemegang saham berutang dibayar dividen karena mereka membeli saham; pekerja berutang upah karena mereka menandatangani kontrak kerja. Tetapi sebagian besar utang yang membebani sebuah industri tidak pernah ditandatangani oleh siapa pun. Komunitas di sekitar kawasan industri tidak menandatangani persetujuan untuk menghirup partikulat. Generasi mendatang tidak hadir di meja perundingan. Ekosistem tidak punya tanda tangan.

Maka kita berhadapan dengan dua pengertian “utang” yang berbeda secara mendasar. Yang pertama adalah utang transaksional, lahir dari persetujuan, dan dengan demikian relatif mudah diukur. Yang kedua adalah utang yang oleh para filsuf moral kadang disebut sebagai kewajiban yang muncul bukan dari janji melainkan dari relasi—dari fakta bahwa tindakan kita memengaruhi orang lain, baik mereka menyetujuinya maupun tidak. Filsuf seperti Iris Marion Young, dalam karyanya tentang tanggung jawab atas ketidakadilan struktural, berargumen bahwa kita terikat pada orang-orang yang hidupnya terjalin dengan tindakan kita melalui proses sosial, bahkan ketika kita tidak pernah secara sengaja merugikan mereka. Sebuah pabrik tidak perlu berniat mencemari untuk berutang pada mereka yang tercemar.

Pengertian inilah yang membuat pertanyaan kita tidak bisa diselesaikan oleh departemen hukum. Hukum cenderung hanya mengakui utang jenis pertama. Tetapi intuisi moral kita—intuisi yang membuat Rahmi tidak bisa tidur—justru bersikeras pada jenis kedua.

## **Mazhab Pemilik: Kejernihan yang Menggoda**

Mari kita mulai dari posisi yang paling sering dicaci dan paling jarang dipahami secara adil: doktrin keutamaan pemegang saham. Versi populernya dikaitkan dengan Milton Friedman dan kalimatnya yang terkenal bahwa satu-satunya tanggung jawab sosial bisnis adalah meningkatkan labanya. Tetapi mereduksi posisi ini menjadi keserakahan adalah bentuk kemalasan intelektual. Argumen terkuatnya bukanlah argumen ekonomi melainkan argumen tentang legitimasi dan kejujuran.

Dalam pembacaan yang lebih murah hati, posisi keutamaan pemegang saham bertumpu pada gagasan tentang hak milik dan tentang batas wewenang. Manajer, kata argumen ini, mengelola uang yang bukan miliknya. Ketika seorang manajer memutuskan untuk mengorbankan laba demi tujuan sosial yang ia sendiri pilih, ia sebenarnya sedang memungut “pajak” dari pemegang saham tanpa mandat—dan membelanjakannya menurut preferensi moralnya sendiri, yang belum tentu lebih baik dari preferensi orang lain. Siapa yang memilih manajer untuk menjadi hakim atas kebaikan publik? Dalam logika ini, keutamaan pemegang saham justru merupakan bentuk kerendahan hati: manajer mengakui bahwa ia tidak punya wewenang demokratis untuk mendistribusikan kembali kekayaan orang lain. Biarkan pekerja memperjuangkan kepentingannya melalui serikat dan kontrak, biarkan komunitas memperjuangkan kepentingannya melalui hukum dan politik, dan biarkan perusahaan melakukan satu hal yang menjadi keahliannya.

Ada keindahan tertentu dalam kejernihan ini. Ia memberi tolok ukur tunggal yang bisa diaudit. Ia menghindari fiksi bahwa manajer adalah filsuf-raja yang bijaksana. Dan ia, secara mengejutkan, kompatibel dengan banyak kebaikan sosial—karena memperlakukan pekerja dengan buruk, mencemari lingkungan, dan dibenci komunitas semuanya berbiaya, dan biaya itu pada akhirnya menggerus laba.

Namun kejernihan ini menyembunyikan tiga asumsi rapuh. Pertama, ia mengandaikan bahwa pihak-pihak lain benar-benar punya saluran efektif untuk memperjuangkan kepentingan mereka—padahal di banyak kawasan industri, terutama di Selatan global, serikat lemah, pengadilan jauh, dan negara sering berpihak pada modal. Kedua, ia mengandaikan bahwa biaya-biaya yang ditimbulkan perusahaan akan kembali sebagai biaya yang ditanggung perusahaan; padahal eksternalitas justru didefinisikan oleh kegagalan mekanisme ini—polusi adalah biaya yang berhasil dialihkan kepada orang lain. Ketiga, dan ini yang paling dalam, ia mengandaikan bahwa hak milik atas saham memberi hak atas seluruh nilai yang dihasilkan perusahaan, padahal nilai itu diproduksi bersama oleh pekerja, dimungkinkan oleh infrastruktur publik, dan disubsidi oleh alam yang tidak menagih.

## **Mazhab Pemangku Kepentingan: Kelapangan yang Mengaburkan**

Sebagai jawaban atas kesempitan model pemilik, R. Edward Freeman pada 1984 memformalkan apa yang kini menjadi ortodoksi di sekolah-sekolah bisnis: teori pemangku kepentingan. Definisinya elegan—pemangku kepentingan adalah siapa pun yang dapat memengaruhi atau dipengaruhi oleh pencapaian tujuan organisasi. Pekerja, pelanggan, pemasok, komunitas, dan ya, pemegang saham, semuanya punya kepentingan yang sah, dan tidak ada satu kelompok pun yang secara otomatis lebih utama dari yang lain.

Daya tarik moral teori ini sangat besar. Ia menolak fiksi bahwa hanya penyedia modal yang berisiko; pekerja yang menanamkan dua puluh tahun hidupnya di sebuah pabrik juga mempertaruhkan sesuatu yang tidak bisa didiversifikasi seperti portofolio investor. Ia mengembalikan martabat pada relasi-relasi yang oleh model pemilik direduksi menjadi sekadar biaya. Dan ia menggambarkan dengan lebih jujur bagaimana perusahaan sebenarnya menciptakan nilai—melalui jaring ketergantungan timbal balik, bukan melalui satu pahlawan tunggal bernama pemegang saham.

Tetapi di sinilah ironi yang jarang diakui para pendukungnya. Justru karena teori pemangku kepentingan mengakui semua klaim sebagai sah, ia menjadi nyaris tak berdaya ketika klaim-klaim itu bertabrakan—yang merupakan satu-satunya saat di mana kita benar-benar membutuhkannya. Mengatakan bahwa pekerja, komunitas, dan pemegang saham semuanya penting tidak memberi tahu Rahmi apa yang harus ia lakukan ketika menyenangkan yang satu berarti mengkhianati yang lain. Kritik tajam terhadap Freeman adalah bahwa “keseimbangan kepentingan” tanpa prinsip pembobotan hanyalah cara yang sopan untuk mengatakan bahwa manajer boleh memutuskan apa pun yang ia mau, lalu membungkusnya dalam retorika keseimbangan. Akuntabilitas terhadap semua orang dengan mudah merosot menjadi akuntabilitas terhadap tidak seorang pun.

Ada pula kritik dari arah berlawanan, yang menarik untuk dipikirkan. Sebagian pengkritik berargumen bahwa karena dalam praktik kelompok pemangku kepentingan memperoleh perhatian sesuai dengan kekuasaan yang mereka miliki, teori pemangku kepentingan justru berisiko memperkuat yang kuat dan menelantarkan yang lemah—nelayan yang tak terorganisir akan selalu kalah salience dibanding pemasok besar. Tanpa komitmen normatif yang eksplisit terhadap yang paling rentan, kelapangan teori ini bisa menjadi cermin yang memantulkan kembali distribusi kekuasaan yang sudah ada.

## **Mazhab Keadilan: Bagaimana Kalau Kita Mulai dari yang Paling Lemah**

Di sinilah tradisi filsafat politik menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki teori manajemen: prinsip pembobotan. John Rawls tidak menulis tentang industri nikel, tetapi alat pikirnya bekerja dengan menggetarkan di sini. Bayangkan, kata Rawls, kita merancang aturan main sebuah perusahaan dari balik selubung ketidaktahuan—kita tidak tahu apakah kita akan terlahir sebagai pemegang saham di Singapura atau sebagai buruh kontrak di Morowali atau sebagai anak nelayan yang lautnya tercemar. Aturan apa yang akan kita pilih?

Prinsip perbedaan Rawls memberi jawaban yang jelas: ketimpangan hanya dapat dibenarkan jika ia menguntungkan mereka yang paling tidak beruntung. Diterapkan pada industri, ini membalik beban pembuktian. Pertanyaannya bukan lagi “berapa banyak yang harus kita berikan kepada pekerja dan komunitas setelah pemegang saham puas,” melainkan “apakah pengaturan ini bisa dibenarkan di mata pihak yang paling lemah di dalamnya.” Tabrakan klaim tidak diselesaikan dengan menimbang semua secara setara, melainkan dengan memberi bobot lebih pada suara yang paling mudah diabaikan.

Amartya Sen dan Martha Nussbaum memperdalam ini melalui pendekatan kapabilitas. Yang penting, kata mereka, bukan sekadar berapa banyak yang dimiliki seseorang, melainkan apa yang sungguh-sungguh bisa ia lakukan dan jadi—apakah seorang pekerja punya kapabilitas untuk hidup sehat, untuk beristirahat, untuk berserikat, untuk membayangkan masa depan bagi anaknya. Dari sudut pandang ini, sebuah pabrik yang menaikkan upah tetapi menghancurkan kemampuan komunitas untuk mencari nafkah dari laut belum tentu meningkatkan kesejahteraan; ia mungkin hanya memindahkan satu bentuk ketergantungan ke bentuk lain. Pendekatan kapabilitas menolak agregasi yang menyembunyikan: dua puluh juta rupiah tambahan bagi seratus pekerja tidak otomatis menebus hilangnya mata pencaharian seribu nelayan, karena yang hilang dan yang didapat tidak berada dalam mata uang yang sama.

Kelemahan tradisi keadilan ini, harus diakui, terletak pada operasionalitasnya. Selubung ketidaktahuan adalah eksperimen pikiran yang indah tetapi tidak memberi rumus. Siapa yang dihitung sebagai “paling tidak beruntung” ketika ada banyak kelompok rentan yang kepentingannya sendiri berbenturan—buruh yang butuh pekerjaan melawan komunitas yang butuh lingkungan bersih? Tradisi ini memberi arah moral tetapi tidak memberi algoritma, dan kadang arah saja tidak cukup bagi seseorang yang harus menandatangani sesuatu besok pagi.

## **Mazhab Waktu: Suara dari Mereka yang Belum Ada**

Sejauh ini semua mazhab berdebat tentang orang-orang yang hidup sekarang. Tetapi sebagian utang terberat sebuah industri ekstraktif justru ditujukan kepada mereka yang belum lahir. Nikel yang ditambang hari ini tidak akan tumbuh kembali. Karbon yang dilepas akan menghangatkan bumi yang akan dihuni cucu-cucu kita. Bagaimana kita menimbang klaim dari pihak yang bahkan belum ada?

Di sinilah filsafat menemui salah satu teka-tekinya yang paling memusingkan. Derek Parfit menunjukkan apa yang ia sebut Problem Identitas Non-Identitas: kebijakan kita hari ini tidak hanya memengaruhi kesejahteraan generasi mendatang, tetapi juga menentukan siapa yang akan lahir sama sekali. Sebuah keputusan industrial yang berbeda akan menghasilkan orang-orang yang berbeda di masa depan. Maka kita tidak bisa dengan mudah berkata “kita merugikan generasi mendatang,” karena tanpa keputusan itu, individu-individu spesifik tersebut tidak akan pernah ada untuk dirugikan. Teka-teki ini terdengar seperti sofisme, tetapi ia menusuk tepat ke jantung cara kita biasa berpikir tentang kerugian sebagai sesuatu yang menimpa individu tertentu.

Hans Jonas menempuh jalan lain. Dalam apa yang ia sebut prinsip tanggung jawab, ia berargumen bahwa kekuatan teknologi modern telah menciptakan jenis kewajiban baru yang belum pernah dikenal etika tradisional: kewajiban terhadap keberlangsungan kehidupan manusia di masa depan. Karena taruhannya kini adalah eksistensi itu sendiri, Jonas mengusulkan semacam heuristik ketakutan—dalam ketidakpastian, kita harus memberi bobot lebih pada ramalan buruk daripada ramalan baik, karena yang dipertaruhkan tidak tergantikan. Ini adalah kebalikan dari optimisme teknologis yang sering menjadi bahasa resmi industri.

Yang membuat klaim generasi mendatang begitu sulit ditimbang adalah bahwa mereka secara struktural tidak bisa membalas. Mereka tidak bisa mogok, tidak bisa menggugat, tidak bisa memboikot. Seluruh leverage yang membuat klaim pekerja dan komunitas didengar tidak tersedia bagi mereka. Maka jika kita hanya mendengar klaim yang punya kekuatan untuk menekan, kita pasti akan menulikan diri terhadap masa depan. Dan ironisnya, justru utang inilah yang paling tidak bisa dilunasi belakangan—sebuah teluk yang mati tidak bisa dihidupkan kembali dengan dividen retroaktif.

## **Mazhab Bumi: Ketika yang Berutang Bukan Lagi Manusia**

Lalu ada langkah yang paling radikal: bagaimana kalau ekosistem itu sendiri adalah pihak yang berutang dibayar, bukan sekadar latar tempat utang antarmanusia diselesaikan? Etika lingkungan dalam (deep ecology), yang dirumuskan Arne Næss, menolak antroposentrisme yang menganggap alam hanya bernilai sejauh berguna bagi manusia. Sungai, hutan, dan terumbu karang, dalam pandangan ini, memiliki nilai intrinsik—mereka layak dipertimbangkan demi diri mereka sendiri, bukan hanya demi jasa yang mereka berikan pada kita.

Gagasan ini terdengar mistis bagi telinga korporat, tetapi ia mulai memperoleh tubuh hukum. Beberapa yurisdiksi kini mengakui hak-hak alam: sungai Whanganui di Selandia Baru memperoleh status hukum sebagai entitas, dan konstitusi Ekuador mengakui hak Pachamama. Christopher Stone, dalam esai klasiknya yang bertanya apakah pohon seharusnya punya kedudukan hukum, telah lama berargumen bahwa kita pernah memperluas lingkaran moral kita berkali-kali—dari hanya laki-laki pemilik tanah, menjadi mencakup perempuan, anak-anak, dan kelompok yang dulu tak punya suara hukum—dan tidak ada alasan prinsipil mengapa perluasan itu harus berhenti pada batas spesies manusia.

Kekuatan mazhab ini adalah ia menolak trik akuntansi yang paling licik dalam seluruh perdebatan: mereduksi alam menjadi “modal alam” yang bisa dipertukarkan dengan modal lain. Jika sebuah terumbu karang bisa diganti dengan sejumlah uang yang cukup, maka tidak ada terumbu karang yang sungguh-sungguh dilindungi—semuanya hanya menunggu harga yang tepat. Etika ekosentris bersikeras bahwa beberapa hal tidak bisa diperjualbelikan tanpa kehilangan maknanya.

Kelemahannya juga nyata. Jika segala sesuatu punya nilai intrinsik yang tak tergantikan, bagaimana kita hidup sama sekali, mengingat eksistensi manusia mau tak mau mengubah lingkungan? Etika lingkungan dalam berisiko terjebak dalam paralisis, atau—lebih buruk—dalam bentuk misantropi yang halus, di mana kebutuhan manusia miskin yang mencari nafkah dipandang sebagai gangguan terhadap alam yang murni. Ketegangan antara keadilan ekologis dan keadilan sosial ini bukan ilusi; di banyak konflik agraria, perlindungan hutan justru dipakai untuk mengusir komunitas adat yang telah hidup berdampingan dengan hutan itu selama berabad-abad.

## **Mengapa Klaim-Klaim Itu Tidak Bisa Dibariskan dalam Satu Antrean**

Setelah berkeliling melalui lima mazhab, kita tergoda mencari sintesis—semacam rumus master yang menempatkan setiap klaim pada bobotnya yang tepat. Godaan ini perlu ditolak, dan menolaknya bukan kemalasan melainkan kejujuran filosofis.

Persoalan terdalam adalah inkomensurabilitas: nilai-nilai yang dipertaruhkan tidak bisa diukur dengan satu mistar yang sama. Isaiah Berlin menghabiskan hidupnya memperingatkan bahwa nilai-nilai manusiawi yang sama-sama sahih—kebebasan dan kesetaraan, keadilan dan belas kasih, kemakmuran dan kelestarian—sungguh-sungguh bisa saling bertabrakan, dan bahwa keyakinan akan adanya harmoni final di mana semua nilai baik bisa diwujudkan sekaligus bukan hanya keliru tetapi berbahaya, karena ia membenarkan pengorbanan apa pun atas nama harmoni yang dijanjikan itu. Tabrakan antara dividen pemegang saham dan kesehatan komunitas bukan kegagalan kalkulasi yang menunggu komputer lebih cepat; ia adalah pertemuan dua jenis kebaikan yang tidak punya penyebut bersama.

Inilah mengapa setiap mazhab, ketika didorong sampai batasnya, mengkhianati sesuatu. Model pemilik mengkhianati mereka yang tak punya kekuatan tawar. Teori pemangku kepentingan mengkhianati kejelasan dan, secara diam-diam, yang lemah. Keadilan Rawlsian mengkhianati operasionalitas. Etika generasi mendatang berbenturan dengan paradoks identitas. Ekosentrisme berbenturan dengan keadilan sosial. Tidak ada satu pun yang menang bersih, dan itu bukan karena kita belum cukup pintar, melainkan karena dunia moral memang berbentuk demikian—plural, tegang, dan tak bisa diratakan.

## **Kembali kepada Rahmi**

Maka mari kita kembali ke tepi kawasan industri itu, ke laporan yang belum ditandatangani, ke petang yang semakin gelap. Apa yang sebenarnya dialami Rahmi bukanlah ketidaktahuan tentang teori—ia hafal kelima mazhab itu, ia pernah mempresentasikannya dalam pelatihan. Yang ia alami adalah sesuatu yang lebih dalam: kegamangan batin dari seseorang yang menyadari bahwa apa pun yang ia putuskan, ia akan kehilangan sesuatu yang sungguh-sungguh berharga.

Jika ia menandatangani laporan itu apa adanya, ia menjadi kaki tangan sebuah pengalihan biaya yang halus—efisiensi delapan persen yang sebagiannya dibayar oleh paru-paru orang lain dan oleh laut yang tak bisa protes. Tetapi jika ia menahan tanda tangan, jika ia mengangkat keberatan, ia tahu konsekuensinya tidak abstrak: ada target produksi, ada atasan, ada kemungkinan ia digantikan oleh seseorang yang tidak akan ragu sama sekali—dan dengan demikian keraguannya sendiri menjadi sia-sia, bahkan kontraproduktif, karena yang tersisa hanyalah mesin tanpa hati nurani sama sekali. Ada pula para pekerja yang gajinya bergantung pada kawasan ini terus berputar; idealisme yang menutup pabrik tidak otomatis berpihak pada yang lemah—ia mungkin justru menghancurkan satu-satunya pendapatan yang mereka punya.

Inilah tekstur sebenarnya dari pertanyaan filosofis itu ketika ia turun dari ruang seminar ke dalam tubuh seseorang. Rahmi tidak sedang memilih antara benar dan salah; ia sedang memilih kerugian mana yang sanggup ia tanggung, kepada siapa ia bersedia berutang lebih banyak, dan kekhianatan mana yang akan ia bawa pulang malam ini. Ia merasakan, mungkin, apa yang oleh Bernard Williams disebut sisa moral (moral remainder)—perasaan bahwa bahkan ketika kita memilih dengan sebaik-baiknya, sesuatu yang kita langgar tetap berhak atas penyesalan kita. Memilih dengan baik tidak menghapus utang kepada pihak yang kita kalahkan; ia hanya membuat utang itu bisa ditanggung.

Dan barangkali di situlah letak satu-satunya hal yang bisa dikatakan tanpa kepalsuan. Pertanyaan “kepada siapa industri berutang” tidak menuntut jawaban final melainkan menuntut sikap—kesediaan untuk tetap merasakan beratnya setiap klaim, untuk menolak kenyamanan rumus yang menutup mata, untuk membuat keputusan sambil tetap terluka oleh apa yang dikorbankannya. Seorang manajer, pemimpin, atau warga negara yang sehat secara moral bukanlah orang yang telah menyelesaikan tabrakan ini, melainkan orang yang menolak berpura-pura bahwa tabrakan itu tidak ada. Kejernihan yang paling jujur, pada akhirnya, mungkin adalah kejernihan tentang betapa keruhnya pertanyaan ini—dan kesediaan untuk tetap menandatangani, atau menahan tanda tangan, dengan mata terbuka terhadap segala sesuatu yang tidak akan pernah benar-benar terlunaskan.

Petang itu Rahmi tidak menemukan jawaban. Ia hanya menemukan bahwa ia masih sanggup merasa berat—dan ia mulai curiga bahwa keberatan itu, jika dijaga agar tidak menumpul menjadi sinisme atau mengeras menjadi fanatisme, adalah satu-satunya kompas yang tidak menipu di medan tanpa utara yang pasti ini.



**Bacaan Lanjutan**

Siapa pun yang ingin menelusuri perdebatan ini dari sumbernya sebaiknya memulai dari dua kutub klasiknya. Milton Friedman merumuskan pembelaan paling tajam atas keutamaan pemegang saham dalam esainya yang singkat namun berpengaruh, *The Social Responsibility of Business Is to Increase Its Profits* (1970), sebuah teks yang lebih sering dicaci daripada dibaca dengan saksama. Sebagai bandingannya, R. Edward Freeman meletakkan fondasi teori pemangku kepentingan dalam *Strategic Management: A Stakeholder Approach* (1984), dan memperbaruinya bersama beberapa kolega dalam *Stakeholder Theory: The State of the Art* (2010); pembaca yang ingin melihat bagaimana perdebatan ini berlanjut hingga kini akan menemukan bahwa para pengkritik mutakhir, seperti Lenore Palladino, justru menuduh kerangka Freeman secara diam-diam masih melayani pemegang saham—sebuah putaran ironis yang menunjukkan betapa licinnya istilah “kepentingan” itu.

Untuk landasan keadilannya, *A Theory of Justice* karya John Rawls (1971) tetap tak tergantikan, meski pembaca yang merasa gentar oleh tebalnya bisa memulai dari bab tentang posisi asali dan prinsip perbedaan. Pendekatan kapabilitas paling jernih diuraikan Amartya Sen dalam *Development as Freedom* (1999) dan diperdalam Martha Nussbaum dalam *Creating Capabilities* (2011), yang keduanya menulis dengan keanggunan yang jarang ditemui dalam filsafat akademis.

Mereka yang tertarik pada utang kepada masa depan harus bergulat dengan *Reasons and Persons* karya Derek Parfit (1984)—khususnya bagian akhirnya tentang paradoks non-identitas, yang akan mengubah cara Anda memikirkan kerugian selamanya—serta *The Imperative of Responsibility* karya Hans Jonas (terbit dalam bahasa Jerman 1979, Inggris 1984), sebuah karya yang ditulis dengan urgensi seorang nabi. Untuk perluasan lingkaran moral hingga ke alam, esai Christopher Stone yang menggugah, *Should Trees Have Standing?* (1972), masih menjadi titik masuk terbaik, sementara pemikiran Arne Næss tentang ekologi dalam paling baik didekati melalui kumpulan tulisannya yang kemudian diterbitkan dengan judul *Ecology, Community and Lifestyle*.

Akhirnya, bagi siapa pun yang ingin memahami mengapa pertanyaan ini tidak punya jawaban rapi, dua penulis tak tergantikan. Isaiah Berlin, terutama dalam esai *Two Concepts of Liberty* dan *The Pursuit of the Ideal*, menjelaskan pluralisme nilai dengan kejernihan yang menyembuhkan. Dan Bernard Williams, dalam esai-esai yang terkumpul dalam *Moral Luck* (1981), memberi kita bahasa untuk apa yang tersisa setelah pilihan moral yang sulit—sisa, penyesalan, dan keberatan yang justru menandai kedalaman moral seseorang. Untuk konteks tanggung jawab struktural yang membingkai pembukaan esai ini, *Responsibility for Justice* karya Iris Marion Young (2011) menawarkan kerangka yang sangat relevan bagi siapa pun yang bekerja di dalam sistem yang lebih besar daripada niat pribadinya.

Discover more from bolakayu.id

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading