Bagaimana industri seharusnya mendefinisikan hubungan antara manusia dan mesin; Apakah teknologi adalah alat pembebasan atau instrumen subordinasi baru?

Tubuh yang Diperintah Mesin

Setiap pagi, di lantai produksi sebuah pabrik pengolahan nikel di pesisir timur Sulawesi Tengah, ribuan orang masuk melewati pintu pemindai dan menyerahkan diri pada sebuah tatanan yang bukan mereka rancang. Lampu menyala menurut jadwal yang dihitung mesin. Tungku peleburan menuntut suhu yang tak boleh turun, dan karena tungku tak bisa menunggu, manusia yang harus menyesuaikan ritme tidurnya, jam makannya, bahkan kesabaran tubuhnya, pada nyala api yang tak pernah padam. Tanyakan pada seorang operator di sana siapa yang bekerja untuk siapa, dan ia mungkin tertawa kecil sebelum menjawab. Pertanyaannya terdengar naif. Tentu saja ia bekerja untuk pabrik. Tetapi di kedalaman pertanyaan itu tersembunyi sebuah teka-teki yang sudah menghantui filsafat sejak revolusi industri pertama: ketika manusia membangun mesin untuk meringankan kerjanya, mengapa hasilnya begitu sering berupa manusia yang justru tunduk pada irama mesin?

Pertanyaan itu tampak sederhana hanya jika kita menolak menatapnya lama-lama. Industri, sejak kelahirannya, selalu menjanjikan pembebasan. Mesin uap akan membebaskan kita dari kerja kasar; ban berjalan akan membebaskan kita dari kelelahan berulang; otomasi akan membebaskan kita dari pekerjaan yang membosankan; dan kini kecerdasan buatan, kabarnya, akan membebaskan kita dari beban berpikir itu sendiri. Namun di setiap babak janji itu, sejarah menyodorkan ironi yang sama. Mesin yang seharusnya melayani manusia berakhir dengan menata ulang manusia menurut kebutuhannya. Maka pertanyaan filosofis yang ingin saya telusuri dalam esai ini bukanlah pertanyaan teknis tentang efisiensi atau produktivitas, melainkan pertanyaan tentang martabat: bagaimana seharusnya industri mendefinisikan hubungan antara manusia dan mesin? Apakah teknologi adalah alat pembebasan, atau instrumen subordinasi dalam bentuk baru?

Saya tidak berniat menjawabnya dengan ketuk palu. Justru sebaliknya. Saya akan menunjukkan bahwa pertanyaan ini telah dijawab dengan amat berbeda oleh tradisi-tradisi pemikiran yang sama-sama serius dan sama-sama tajam, dan bahwa ketegangan di antara mereka bukanlah cacat yang harus diselesaikan melainkan struktur dari persoalan itu sendiri. Pada akhirnya saya ingin tinggal di dalam ketegangan itu, bukan keluar darinya.

## **Janji Lama tentang Tangan yang Dibebaskan**

Mari kita mulai dari sisi yang paling cerah, karena ia bukan sekadar propaganda korporat melainkan sebuah keyakinan yang punya akar intelektual yang dalam. Gagasan bahwa teknologi membebaskan manusia setua peradaban itu sendiri. Aristoteles, dalam *Politik*, pernah membayangkan sesuatu yang nyaris mirip fiksi ilmiah: seandainya alat tenun bisa menenun sendiri dan petikan kecapi bisa memetik sendiri, maka para tuan tak lagi membutuhkan budak, dan para perajin tak lagi membutuhkan pelayan. Bagi Aristoteles ini bukan utopia kosong, melainkan pengakuan akan logika mendasar: kerja yang dilakukan oleh alat adalah kerja yang dibebaskan dari tubuh manusia. Mesin, dalam pengertian ini, adalah pembebas karena ia mengambil alih kerja yang sebelumnya membelenggu.

Pandangan ini menemukan bentuknya yang paling matang dalam tradisi liberal dan Pencerahan. Bagi para ekonom klasik, mesin adalah pengganda produktivitas yang membebaskan masyarakat dari kelangkaan. Adam Smith memang mencatat dengan cemas bahwa pembagian kerja yang ekstrem bisa menumpulkan akal pekerja, tetapi keyakinan umum pada masanya adalah bahwa mesin pada akhirnya memperluas kemakmuran dan memperpendek jam kerja yang dibutuhkan untuk bertahan hidup. Pada abad kedua puluh, John Maynard Keynes menulis esai termasyhur tentang “kemungkinan ekonomi bagi cucu-cucu kita”, di mana ia meramalkan bahwa pada awal abad kedua puluh satu, kemajuan teknologi akan membuat masalah ekonomi pada dasarnya terselesaikan, dan manusia hanya perlu bekerja lima belas jam seminggu, lalu menghabiskan sisanya untuk seni, kontemplasi, dan kehidupan yang baik. Mesin, bagi Keynes, adalah jalan menuju waktu luang yang bermartabat.

Versi kontemporer dari optimisme ini hidup di kalangan teknolog dan ekonom yang memandang otomasi sebagai pembebas dari pekerjaan yang oleh antropolog David Graeber pernah disebut “pekerjaan omong kosong” — pekerjaan yang bahkan pelakunya pun diam-diam tahu tak bermakna. Jika mesin bisa mengambil alih pekerjaan yang menumpulkan, repetitif, dan berbahaya, bukankah itu pembebasan dalam pengertian yang paling konkret? Seorang penambang yang digantikan oleh ekskavator otomatis tidak lagi menghirup debu silika yang merusak paru-parunya. Seorang juru ketik yang digantikan perangkat lunak tidak lagi menghabiskan hidupnya menyalin angka. Dalam kerangka ini, subordinasi pada mesin hanyalah fase transisi yang menyakitkan menuju kebebasan yang lebih besar — sebuah harga yang sepadan dengan pembebasan akhir dari kerja yang merendahkan.

Yang membuat posisi ini kuat bukanlah optimismenya, melainkan kenyataan empiris yang menopangnya. Harapan hidup manusia naik berlipat sejak industrialisasi. Jam kerja rata-rata di negara industri maju turun drastis dibanding abad kesembilan belas. Penyakit akibat kerja yang dulu lazim kini langka di sektor yang terotomasi. Menolak ini sama saja menolak fakta. Maka siapa pun yang ingin berargumen bahwa teknologi adalah instrumen subordinasi harus terlebih dulu berhadapan dengan tuntutan yang serius ini: bahwa secara agregat, dalam rentang panjang, mesin tampaknya memang telah meringankan beban manusia. Pertanyaannya kemudian bukan apakah klaim pembebasan ini benar, melainkan apakah ia menceritakan keseluruhan kisahnya.

## **Mesin sebagai Tuan yang Tak Terlihat**

Di sinilah tradisi kritis masuk, dan ia masuk dengan pisau yang tajam. Karl Marx, yang membaca lantai pabrik abad kesembilan belas dengan ketelitian seorang ahli anatomi, melihat sesuatu yang luput dari para optimis. Dalam *Kapital*, ia menulis kalimat yang sampai hari ini terasa seperti deskripsi langsung tentang pabrik modern: di dalam pabrik, bukan pekerja yang menggunakan alat kerja, melainkan alat kerja yang menggunakan pekerja. Mesin tidak melayani buruh; buruh menjadi pelayan mesin, sebuah pelengkap hidup dari mekanisme mati. Bagi Marx, pembebasan yang dijanjikan teknologi adalah ilusi selama mesin dimiliki oleh segelintir dan dioperasikan demi akumulasi modal, bukan demi pembebasan mereka yang menjalankannya. Mesin yang secara teknis mampu memperpendek hari kerja justru, di bawah logika kapital, dipakai untuk memperpanjang dan mengintensifkannya.

Inti dari kritik Marxian bukanlah bahwa mesin itu jahat, melainkan bahwa pertanyaan “membebaskan atau memperbudak” tak bisa dijawab dengan menatap mesin itu sendiri. Yang menentukan adalah relasi kepemilikan dan kuasa yang mengelilinginya. Ekskavator yang sama bisa membebaskan penambang dari debu, atau memecat seribu penambang sekaligus dan menyerahkan keuntungannya pada pemegang saham di benua lain. Teknologi, dalam pandangan ini, tidak pernah netral karena ia selalu tertanam dalam struktur sosial tertentu. Maka menanyakan apakah teknologi membebaskan atau menundukkan tanpa menanyakan *siapa yang mengendalikannya* adalah seperti menanyakan apakah pisau itu baik atau buruk tanpa menanyakan di tangan siapa ia berada.

Namun ada tradisi kritis lain yang melangkah lebih jauh dan justru menggugat asumsi kenetralan itu sampai ke akarnya. Bagi Martin Heidegger, masalahnya bukan pada siapa yang memiliki mesin, melainkan pada cara teknologi modern membuat kita memandang dunia. Dalam esainya tentang teknologi, Heidegger berargumen bahwa esensi teknologi modern adalah apa yang ia sebut *Gestell* — sebuah penataan atau pembingkaian yang mengubah segala sesuatu, termasuk manusia, menjadi “cadangan tetap” (*Bestand*) yang siap dieksploitasi. Sungai tak lagi dipandang sebagai sungai, melainkan sebagai sumber tenaga listrik. Hutan tak lagi hutan, melainkan stok kayu. Dan manusia, pada gilirannya, tak lagi dipandang sebagai manusia, melainkan sebagai sumber daya manusia — istilah yang kini begitu lazim sampai kita lupa betapa mengerikan implikasinya. Subordinasi yang dilihat Heidegger jauh lebih halus dan lebih dalam daripada eksploitasi ekonomi: ia adalah penyempitan cara kita memahami keberadaan itu sendiri.

Jika Heidegger berbicara tentang ontologi, Jacques Ellul berbicara tentang sistem. Bagi Ellul, masyarakat modern dikuasai oleh *la technique* — bukan sekadar mesin-mesin, melainkan logika efisiensi yang merasuki seluruh bidang kehidupan dan menuntut bahwa segala sesuatu dilakukan dengan cara yang paling efisien, terlepas dari nilai-nilai lain. Yang menakutkan dari analisis Ellul adalah klaimnya bahwa logika ini bersifat otonom: tak ada seorang pun yang benar-benar mengendalikannya, bahkan para pemilik modal pun pada akhirnya tunduk pada tuntutan efisiensi yang sama. Subordinasi, dalam pandangan ini, bukan lagi hubungan antara manusia dan manusia lewat perantaraan mesin, melainkan tunduknya seluruh kemanusiaan pada satu standar tunggal yang tak bisa ditawar.

Tradisi ini menemukan pembaruannya yang paling tajam pada zaman kita lewat karya Shoshana Zuboff tentang apa yang ia sebut kapitalisme pengawasan. Mesin-mesin kontemporer, dalam analisisnya, tidak sekadar menggantikan otot atau bahkan otak, melainkan memanen perilaku manusia sebagai bahan mentah, memprediksinya, dan akhirnya membentuknya demi keuntungan. Byung-Chul Han menambahkan lapisan yang lebih gelap lagi: dalam masyarakat kinerja kontemporer, subordinasi tak lagi datang dari luar berupa mandor atau majikan, melainkan terinternalisasi. Kita menjadi pengusaha atas diri kita sendiri, mengeksploitasi diri secara sukarela atas nama kebebasan, optimasi, dan produktivitas — sebuah perbudakan yang begitu sempurna sampai si budak menyangka dirinya bebas dan menyalahkan dirinya sendiri ketika kelelahan.

## **Pertanyaan yang Salah Dibingkai?**

Sampai di sini, kita seakan berhadapan dengan dua kubu yang berhadapan tegak lurus: yang satu melihat pembebasan, yang lain melihat subordinasi. Tetapi ada tradisi ketiga yang menolak bingkai pertanyaan itu sendiri, dan menurut saya tradisi ini layak diberi tempat yang setara karena ia mengganggu kenyamanan kedua kubu sekaligus.

Filsuf teknologi Prancis, Gilbert Simondon, berargumen bahwa baik para teknofil maupun teknofob sama-sama keliru karena keduanya memperlakukan mesin sebagai objek mati yang sepenuhnya tunduk pada manusia atau sepenuhnya menundukkan manusia. Bagi Simondon, mesin punya cara berada yang khas, sebuah “modus eksistensi objek teknis” yang tak bisa direduksi menjadi sekadar alat maupun sekadar tuan. Justru karena kita gagal memahami mesin secara mendalam — karena kita memperlakukannya sebagai budak atau sebagai berhala — kita teralienasi darinya. Solusi Simondon bukan menolak mesin atau memujanya, melainkan membangun *kebudayaan teknis* di mana manusia memahami dan berdialog dengan mesin sebagai mitra dalam sebuah ansambel, bukan sebagai tuan atas budak. Hubungan yang ideal, baginya, bukanlah dominasi melainkan apa yang ia sebut sebagai semacam orkestrasi — manusia sebagai konduktor di tengah ansambel mesin, bukan di atas maupun di bawahnya.

Tradisi fenomenologis pasca-Heidegger, terutama dalam karya Don Ihde dan para pemikir postfenomenologi, menawarkan jalan lain lagi. Mereka berargumen bahwa teknologi tidak pernah sekadar membebaskan atau menundukkan, melainkan *memediasi* — ia mengubah cara kita mengalami dunia, memperbesar sebagian persepsi sambil memperkecil sebagian lain. Kacamata membebaskan mata yang rabun sekaligus membuat kita lupa bagaimana dunia tampak tanpanya. Setiap teknologi membawa serta apa yang disebut struktur “memperkuat-mereduksi”: ia membuka kemungkinan baru sambil menutup yang lama. Dalam kerangka ini, pertanyaan “membebaskan atau menundukkan” terlalu kasar, karena setiap teknologi selalu melakukan keduanya sekaligus, dan tugas kita adalah menelaah dengan cermat apa yang diperkuat dan apa yang direduksi dalam setiap kasus konkret.

Bernard Stiegler, murid yang melampaui sekaligus mengkhianati Heidegger, merangkum ketegangan ini dalam istilah yang ia pinjam dari mitos Yunani: teknologi adalah *pharmakon* — sekaligus obat dan racun. Tulisan, kata Plato lewat mulut Socrates, melemahkan ingatan; tetapi tulisan juga memungkinkan peradaban menyimpan pengetahuan yang melampaui satu generasi. Setiap teknologi, bagi Stiegler, adalah pharmakon: ia bisa menyembuhkan atau meracuni, dan yang menentukan bukanlah teknologi itu sendiri melainkan bagaimana ia ditanamkan dalam praktik sosial, pendidikan, dan kelembagaan. Racun dalam dosis dan konteks yang tepat menjadi obat; obat yang disalahgunakan menjadi racun. Hannah Arendt, dari sudut yang berbeda, mengingatkan kita untuk membedakan antara *labor* (kerja yang sekadar mempertahankan hidup biologis), *work* (kerja yang menciptakan dunia objek yang bertahan), dan *action* (tindakan politik yang membuat kita menjadi manusia sepenuhnya) — dan kecemasannya bukan pada otomasi itu sendiri, melainkan pada masyarakat yang mengelu-elukan pembebasan dari kerja namun tak tahu lagi apa yang harus dilakukan dengan kebebasan itu, masyarakat buruh tanpa kerja yang tersisa.

## **Tubuh-Tubuh yang Hilang dari Perdebatan**

Sebelum melangkah lebih jauh, ada kejujuran yang harus saya sampaikan tentang seluruh perdebatan yang baru saja saya rangkum. Hampir semua suara di atas — Marx, Heidegger, Ellul, Arendt, Zuboff, Han — berbicara dari dan tentang dunia industri Barat. Lantai pabrik yang mereka bayangkan adalah lantai pabrik Manchester, Detroit, atau Rhineland. Mesin yang mereka analisis adalah mesin yang lahir dari sejarah kapitalisme Eropa dan Amerika. Dan ketika analisis itu dipindahkan begitu saja ke konteks seperti Morowali, ada sesuatu yang tergelincir dan hilang.

Sebab di kawasan industri di Selatan global, hubungan manusia dan mesin tak pernah sesederhana cerita Barat tentang petani yang menjadi buruh pabrik lalu menjadi kelas pekerja yang terorganisir. Di Morowali, mesin peleburan nikel berdiri di atas tanah yang baru kemarin adalah kebun dan hutan. Para pekerjanya bukan keturunan buruh pabrik selama tiga generasi, melainkan seringkali generasi pertama yang berpindah dari ekonomi agraris atau dari kerja informal yang ritmenya ditentukan oleh musim dan bukan oleh tungku. Subordinasi yang mereka alami bukan hanya subordinasi pada mesin, melainkan subordinasi ganda: pada mesin sekaligus pada sebuah model akumulasi industrial yang dikendalikan dari jauh, yang memperlakukan kawasan mereka sebagai zona pengecualian tempat aturan-aturan yang berlaku di tempat lain bisa ditangguhkan demi laju produksi.

Literatur filsafat teknologi yang dominan nyaris bisu tentang realitas semacam ini. Ia tak banyak bicara tentang buruh yang transisi dari sawah ke tungku, tentang ekonomi gig yang ritmenya diatur algoritma aplikasi namun tak pernah masuk hitungan sebagai “kerja pabrik”, tentang jutaan pekerja informal yang hidup di celah antara dunia pra-industri dan pasca-industri tanpa pernah benar-benar menghuni dunia industri itu sendiri. Ketika kita bertanya “bagaimana industri seharusnya mendefinisikan hubungan manusia dan mesin”, kita harus jujur bahwa kata “manusia” dalam pertanyaan itu terlalu sering berarti pekerja kerah biru Barat yang terlembagakan, dan bukan tubuh-tubuh yang sesungguhnya paling banyak menanggung beban industrialisasi global hari ini. Saya menyebut ini bukan untuk membuang seluruh tradisi tadi, melainkan untuk mengingatkan bahwa pisau analitis mereka, betapapun tajamnya, ditempa untuk mengiris bahan yang berbeda.

## **Kegamangan Seorang Operator**

Biarkan saya meninggalkan ketinggian abstraksi sejenak dan turun ke satu tubuh, satu pikiran, satu malam. Bayangkan seorang lelaki — sebut saja Ardi, meski ia bisa siapa saja di antara puluhan ribu yang seperti dia. Ardi berusia dua puluh sembilan tahun, mengendalikan panel di ruang kontrol sebuah lini peleburan. Pekerjaannya, secara teknis, jauh lebih ringan daripada pekerjaan ayahnya yang dulu membelah batu di tambang dengan tangan. Ardi duduk di ruang ber-AC, menatap layar, sesekali menekan tombol. Mesin melakukan kerja berat; ia hanya mengawasi. Menurut cerita pembebasan, Ardi adalah bukti hidup kemenangan teknologi: tubuhnya tak lagi remuk, paru-parunya tak lagi menghirup debu, dan upahnya beberapa kali lipat dari yang pernah dibayangkan ayahnya.

Tetapi di larut malam, saat shift-nya yang ketiga belas berturut-turut, ada sesuatu yang menggerogoti Ardi yang tak bisa ia namai. Ia merasa, dengan cara yang tak bisa ia jelaskan pada istrinya, bahwa ia tidak benar-benar bekerja — bahwa ia hanya hadir untuk berjaga-jaga seandainya mesin keliru, sebuah cadangan biologis untuk kesalahan yang jarang datang. Hari-harinya diisi kewaspadaan tanpa tindakan, perhatian tanpa keterampilan yang ia banggakan. Ayahnya pulang dengan tubuh hancur tetapi dengan cerita: batu yang ia taklukkan, longsor yang ia hindari, keahlian membaca tanah. Ardi pulang dengan tubuh utuh tetapi tanpa cerita. Layar tak memberinya kisah. Dan ia bertanya-tanya, dalam keheningan yang tak ia ungkapkan pada siapa pun, apakah ia telah dibebaskan atau justru telah dikosongkan.

Yang membuat kegamangan Ardi begitu tajam adalah karena ia tak bisa memihak salah satu jawaban dengan sepenuh hati. Ketika ia mengingat ayahnya yang batuk darah, ia bersyukur pada mesin yang menyelamatkan paru-parunya — ia tahu, dengan kepastian tubuh, bahwa cerita pembebasan itu bukan dusta. Tetapi ketika ia menatap layar selama dua belas jam dan menyadari bahwa ia bisa digantikan oleh siapa pun, bahwa keterampilannya tak terakumulasi menjadi apa pun yang ia miliki, bahwa ritme tidurnya kini ditentukan oleh tungku yang tak boleh padam dan bukan oleh matahari atau tubuhnya sendiri, ia merasakan kebenaran cerita subordinasi itu juga dengan kepastian yang sama. Ia tidak bingung karena ia bodoh. Ia gamang karena kedua cerita itu benar sekaligus, dan ia hidup di persimpangannya, di tubuhnya sendiri, setiap malam.

Mungkin yang paling menyiksa bagi Ardi bukanlah beban fisik maupun beban ekonomi, melainkan beban makna. Ia diberitahu, oleh dunia dan oleh dirinya sendiri, bahwa ia seharusnya bersyukur — dan ia memang bersyukur. Tetapi rasa syukur itu tak menyingkirkan rasa hampa, dan rasa hampa itu membuatnya merasa bersalah, seakan keluhannya adalah pengkhianatan terhadap pengorbanan ayahnya. Di sinilah analisis Byung-Chul Han menemukan tubuhnya yang konkret: Ardi mengeksploitasi dirinya sendiri dengan kewaspadaan tanpa henti, lalu menyalahkan dirinya sendiri ketika lelah, karena ia telah menelan keyakinan bahwa ia bebas dan karenanya bertanggung jawab penuh atas kekosongannya sendiri. Mesin tak pernah memerintahnya dengan suara keras. Ia memerintah lewat keheningan, lewat ritme, lewat janji yang terlalu meyakinkan untuk dibantah.

## **Apa yang Dipertaruhkan ketika Kita Salah Memilih**

Sebelum menutup dengan refleksi, ada baiknya menegaskan mengapa pertanyaan ini bukan sekadar latihan intelektual. Cara sebuah industri — dan sebuah masyarakat — mendefinisikan hubungan manusia dan mesin akan menentukan keputusan yang sangat konkret. Jika kita menerima sepenuhnya cerita pembebasan, kita cenderung membiarkan otomasi berjalan tanpa pertanyaan, percaya bahwa pasar akan mengurus dampaknya, dan menganggap setiap keluhan sebagai keengganan menghadapi kemajuan. Risikonya adalah kita memproduksi jutaan Ardi yang dibebaskan dari beban fisik namun dikosongkan dari makna, dan masyarakat yang kaya namun anomik.

Sebaliknya, jika kita menerima sepenuhnya cerita subordinasi, kita berisiko jatuh pada romantisme pra-industri yang berbahaya — mengelu-elukan kerja tangan yang melukai tubuh, melupakan bahwa nostalgia akan keaslian kerja seringkali datang dari mereka yang tak pernah harus membelah batu untuk bertahan hidup. Penolakan total pada teknologi adalah kemewahan yang hanya bisa dibayar oleh mereka yang sudah aman dari kelangkaan. Determinisme teknologis dalam dua arahnya — baik yang merayakan maupun yang mengutuk — sama-sama berbahaya karena keduanya melepaskan tanggung jawab manusia atas pilihan-pilihan yang sebetulnya masih terbuka.

Inilah sebabnya tradisi ketiga — Simondon, Stiegler, postfenomenologi — terasa begitu penting, bukan karena ia memberikan jawaban yang lebih nyaman, melainkan karena ia mengembalikan beban pilihan ke pundak manusia. Jika teknologi adalah pharmakon, maka pertanyaannya bukan lagi “membebaskan atau menundukkan” melainkan “dalam kondisi seperti apa, dengan kelembagaan macam apa, di bawah kepemilikan dan kendali yang bagaimana, ia condong ke arah yang satu atau yang lain”. Dan pertanyaan itu tak bisa dijawab sekali untuk selamanya; ia harus dijawab berulang kali, di setiap pabrik, di setiap kebijakan, di setiap shift malam yang dijalani Ardi.

## **Refleksi: Tinggal di dalam Pertanyaan**

Saya berjanji di awal bahwa saya tak akan menutup dengan ketuk palu, dan saya akan menepatinya, meski godaan untuk memihak begitu kuat. Setelah menyusuri tradisi-tradisi ini, saya tidak sampai pada kesimpulan bahwa teknologi adalah pembebas, dan tidak pula pada kesimpulan bahwa ia instrumen subordinasi. Saya sampai pada sesuatu yang lebih sulit untuk hidup dengannya: keyakinan bahwa pertanyaan itu sendiri mungkin dirancang untuk tak terjawab, dan bahwa kebijaksanaan tidak terletak pada memilih salah satu sisi melainkan pada belajar menahan keduanya sekaligus tanpa runtuh.

Ada sesuatu yang menggangu dalam keinginan kita untuk jawaban final. Kita ingin tahu apakah harus optimis atau pesimis, apakah harus mengadopsi atau menolak, apakah Ardi telah dibebaskan atau diperbudak — karena jawaban final akan membebaskan kita dari beban menimbang terus-menerus. Tetapi mungkin justru beban menimbang itulah yang membuat kita manusia. Mesin tak menimbang; ia mengeksekusi. Logika efisiensi yang dicemaskan Ellul justru adalah logika yang menghapus penimbangan, yang mengganti pertanyaan “apa yang seharusnya” dengan perhitungan “apa yang paling efisien”. Maka barangkali tindakan paling manusiawi yang tersisa bagi kita bukanlah menemukan jawaban atas pertanyaan ini, melainkan menolak untuk berhenti menanyakannya.

Saya membayangkan Ardi lagi, di akhir shift-nya, berjalan keluar melewati pintu pemindai yang sama yang ia lewati pagi tadi. Mesin di belakangnya terus menyala, tak peduli ia pergi atau tinggal. Dan saya pikir kegamangan yang ia rasakan — rasa tak nyaman yang tak bisa ia namai itu — bukanlah tanda kelemahannya, melainkan justru tanda bahwa sesuatu dalam dirinya menolak untuk sepenuhnya menjadi cadangan tetap, menolak untuk sepenuhnya menjadi *Bestand*. Ketidaknyamanannya adalah bentuk perlawanan yang paling sunyi: bukti bahwa manusia di dalam dirinya belum sepenuhnya tunduk pada definisi yang dipaksakan mesin atasnya. Sepanjang ia masih bisa bertanya “apakah aku dibebaskan atau dikosongkan”, ia belum sepenuhnya kalah.

Mungkin itulah satu-satunya jawaban yang jujur yang bisa saya tawarkan, dan ia bukan jawaban melainkan sikap. Industri seharusnya mendefinisikan hubungan manusia dan mesin bukan dengan menetapkan sekali untuk selamanya bahwa mesin adalah pelayan atau tuan, melainkan dengan menjaga agar ruang untuk bertanya itu tetap terbuka — agar para Ardi tak hanya diperlakukan sebagai cadangan biologis, melainkan sebagai makhluk yang penimbangan dan kegamangannya justru adalah hal paling berharga yang tak bisa, dan tak boleh, diserahkan pada mesin mana pun. Pembebasan sejati, jika kata itu masih punya makna, mungkin bukanlah pembebasan dari kerja, melainkan terjaganya kemampuan kita untuk terus bertanya tentang kerja, tentang mesin, dan tentang diri kita sendiri di antara keduanya. Pertanyaan yang tetap terbuka adalah satu-satunya rumah yang layak bagi makhluk yang menolak menjadi mesin.

## **Catatan untuk Bacaan Lanjutan**

Bagi pembaca yang ingin menyusuri sendiri jalan-jalan pemikiran yang saya lewati, beberapa karya layak menjadi teman perjalanan. Kisah Aristoteles tentang alat tenun yang menenun sendiri ada dalam buku pertama *Politik*-nya, sebuah bacaan yang mengejutkan karena betapa modern kecemasan dan harapannya terasa. Untuk sisi optimisme, esai pendek John Maynard Keynes berjudul *Economic Possibilities for Our Grandchildren* (1930) tetap menjadi dokumen yang memikat sekaligus memilukan, mengingat betapa meleset ramalannya tentang lima belas jam kerja seminggu; sementara *Bullshit Jobs* karya David Graeber menawarkan pembaruan kontemporer yang getir atas pertanyaan tentang kerja yang bermakna.

Jantung kritik atas mesin tetap berdetak paling kuat dalam jilid pertama *Das Kapital* karya Karl Marx, khususnya bab tentang mesin dan industri besar, di mana kalimat tentang alat kerja yang menggunakan pekerja itu pertama kali muncul. Bagi yang ingin masuk ke kedalaman ontologis, esai Martin Heidegger *Die Frage nach der Technik* (lazim diterjemahkan sebagai *The Question Concerning Technology*) adalah teks yang sulit namun tak tergantikan, tempat lahirnya konsep *Gestell* dan *Bestand*. Sejajar dengannya, *La Technique* karya Jacques Ellul memperluas kecemasan itu ke seluruh sistem masyarakat. Untuk pembaruan kritik ini ke abad kita, *The Age of Surveillance Capitalism* karya Shoshana Zuboff adalah karya monumental tentang bagaimana perilaku manusia sendiri kini menjadi bahan mentah, sementara *Müdigkeitsgesellschaft* (atau *The Burnout Society*) karya Byung-Chul Han, sebuah buku yang nyaris setipis pamflet, menusuk tepat ke kondisi eksploitasi diri yang dirasakan Ardi.

Mereka yang merasa kedua kubu itu terlalu sempit sebaiknya menemui Gilbert Simondon lewat *Du mode d’existence des objets techniques*, sebuah karya yang lama terabaikan namun kini diakui sebagai salah satu pemikiran paling orisinal tentang mesin; gagasannya tentang manusia sebagai konduktor ansambel teknis layak direnungkan lama-lama. Bernard Stiegler mengembangkan warisan ini dalam seri *Technics and Time* dan dalam tulisan-tulisannya tentang teknologi sebagai *pharmakon*, sementara Don Ihde dalam *Technology and the Lifeworld* memperkenalkan cara postfenomenologis memandang teknologi sebagai mediasi yang sekaligus memperkuat dan mereduksi. Untuk kerangka yang membedakan jenis-jenis kerja dan mempertanyakan apa yang tersisa setelah otomasi, *The Human Condition* karya Hannah Arendt tetap tak tergantikan, terutama bab-bab tentang *labor*, *work*, dan *action*.

Akhirnya, sebuah pengakuan tentang apa yang absen dari daftar ini, dan ini penting. Hampir seluruh karya di atas ditulis dari dan untuk dunia industri Atlantik Utara. Pembaca yang ingin memahami hubungan manusia dan mesin di kawasan seperti Morowali, Weda Bay, atau zona-zona industri Selatan global lainnya akan menemukan bahwa literatur kanonik ini, betapapun dalamnya, harus dibaca dengan kritis dan dilengkapi dengan kajian-kajian tentang ekonomi politik ekstraksi, tentang buruh transisi agraris, dan tentang ekonomi informal — sebuah bidang yang sayangnya masih jauh dari matang, dan yang menunggu para pemikir untuk menuliskannya dari dalam, bukan dari menara di benua lain.



## **Catatan tentang Keterbatasan Esai Ini**

Sebuah esai yang menuntut kejujuran epistemik dari orang lain wajib menerapkannya pada dirinya sendiri. Beberapa keterbatasan harus saya akui terus terang. Pertama, sebagaimana telah saya singgung, kerangka teoretis yang saya gunakan bertumpu hampir seluruhnya pada tradisi filsafat Barat, dan upaya saya untuk menjembatani ke konteks Indonesia lewat figur Ardi tetaplah jembatan yang rapuh — sebuah ilustrasi, bukan kajian empiris. Saya tidak melakukan wawancara, tidak mengumpulkan data lapangan, dan figur Ardi adalah komposit imajinatif, bukan potret seseorang yang nyata. Pembaca berhak skeptis terhadap seberapa setia komposit itu pada pengalaman aktual para pekerja.

Kedua, esai ini secara sadar menghindari kuantifikasi. Klaim-klaim tentang naiknya harapan hidup atau turunnya jam kerja saya sampaikan secara umum tanpa angka spesifik, sebagian karena pilihan gaya, sebagian karena data semacam itu sangat bervariasi antarnegara, antarsektor, dan antarperiode, sehingga generalisasi apa pun pasti menyederhanakan. Pembaca yang menginginkan dasar empiris yang kokoh harus menggali sumber-sumber statistik yang lebih spesifik daripada yang bisa ditawarkan esai filosofis seperti ini.

Ketiga, dan ini mungkin yang paling fundamental, dengan memilih untuk “tinggal di dalam pertanyaan” alih-alih menjawabnya, esai ini berisiko dituduh sebagai pengelakan — sebuah cara elegan untuk menghindari tanggung jawab mengambil sikap. Saya menerima tuduhan itu sebagai kemungkinan yang sah. Pembelaan saya hanyalah bahwa ada pertanyaan-pertanyaan yang dirusak oleh jawaban yang terlalu cepat, dan saya menduga ini salah satunya. Tetapi saya bisa keliru, dan pembaca yang merasa bahwa keadaan menuntut keberpihakan yang lebih tegas — terutama mereka yang hidup di lantai pabrik dan tak punya kemewahan untuk merenung — memiliki alasan yang kuat untuk menolak kenyamanan ambiguitas yang saya tawarkan dari kursi yang jauh lebih empuk daripada kursi Ardi.

Discover more from bolakayu.id

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading