Apakah teknologi memiliki logika internal yang menentukan arah perkembangannya, atau ia sepenuhnya plastis terhadap kehendak sosial?

Ada satu malam yang tidak bisa saya lupakan, meskipun yang terjadi di dalamnya begitu kecil sehingga hampir tidak pantas disebut peristiwa. Seorang insinyur muda — sebut saja namanya Raka — duduk di teras sebuah rumah dinas di Morowali, memandang nyala obor pabrik peleburan nikel yang tidak pernah padam di kejauhan. Ia baru saja menyelesaikan shift, dan di tangannya ada secangkir kopi yang sudah dingin. Raka bukan filsuf. Ia lulusan teknik metalurgi, dan sehari-hari ia mengurus kalibrasi tungku yang suhunya menembus seribu enam ratus derajat Celsius. Tetapi malam itu ia mengajukan kepada saya sebuah pertanyaan yang, bila ditelusuri sampai ke akar-akarnya, telah membelah para pemikir selama lebih dari satu abad.

“Apakah semua ini,” katanya, menunjuk dengan dagunya ke arah cahaya pabrik, “memang harus terjadi seperti ini? Maksud saya, apakah teknologi punya jalannya sendiri, dan kita cuma ikut? Atau kita yang memilih, dan kalau kita memilih lain, semuanya bisa berbeda?”

Saya tidak menjawabnya malam itu. Atau lebih tepatnya, saya menjawab dengan kalimat-kalimat yang saya tahu tidak memuaskan, karena pertanyaan itu sendiri menyimpan sebuah kegamangan yang tidak bisa diredakan dengan jawaban yang rapi. Raka sedang merasakan sesuatu yang oleh para filsuf teknologi disebut dengan berbagai nama, tetapi yang pada dasarnya adalah perasaan terjepit di antara dua kemungkinan yang sama-sama menakutkan: bahwa ia adalah penumpang dalam kendaraan yang kemudinya sudah dikunci, atau bahwa ia adalah pengemudi yang sebenarnya bebas tetapi terus-menerus berpura-pura tidak punya pilihan.

Pertanyaan Raka, bila diterjemahkan ke dalam bahasa yang lebih kaku, berbunyi begini: apakah teknologi memiliki logika internal yang menentukan arah perkembangannya, ataukah ia sepenuhnya plastis terhadap kehendak sosial? Dan barangkali alasan mengapa pertanyaan itu terasa begitu mendesak di teras rumah dinas, di bawah bayang-bayang obor pabrik, adalah karena ia bukan sekadar teka-teki akademis. Ia adalah pertanyaan tentang seberapa besar tanggung jawab yang masih bisa dipikul oleh manusia atas dunia yang sedang dibangunnya.

## **Determinisme dan godaan air terjun**

Mari kita mulai dari kemungkinan pertama, yang paling tua dan, dalam banyak hal, paling memikat: gagasan bahwa teknologi memang punya logika internalnya sendiri.

Pada penghujung abad kesembilan belas, ada satu ungkapan yang sering dikutip untuk merangkum posisi ini. Karl Marx, dalam *The Poverty of Philosophy*, menulis kalimat yang nyaris menjadi semboyan determinisme teknologi: kincir tangan memberi Anda masyarakat dengan tuan feodal; kincir uap memberi Anda masyarakat dengan kapitalis industri. Kalimat itu, bila dibaca secara harfiah, menyiratkan bahwa alat produksi tertentu seolah-olah memerintahkan bentuk masyarakat tertentu, seakan ada panah sebab-akibat yang mengarah dari mesin ke struktur sosial. Para penafsir Marx sendiri kelak berdebat panjang tentang apakah ia benar-benar memaksudkan determinisme sekeras itu — banyak yang berargumen tidak — tetapi kalimat itu telah telanjur menjadi titik tolak.

Yang lebih radikal datang dari seorang teolog dan sosiolog Prancis, Jacques Ellul. Dalam *La Technique* (yang diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai *The Technological Society* pada 1964), Ellul mengajukan tesis yang nyaris membuat sesak napas: bahwa apa yang ia sebut *la technique* — bukan sekadar mesin, melainkan keseluruhan cara berpikir yang menundukkan segala sesuatu pada perhitungan efisiensi — telah menjadi kekuatan yang otonom. Teknik, bagi Ellul, berkembang menurut hukumnya sendiri. Ia tidak menunggu izin dari nilai-nilai manusia. Setiap masalah yang ditimbulkan oleh teknik akan dijawab dengan lebih banyak teknik, sehingga manusia tidak pernah benar-benar keluar dari lingkaran itu; mereka hanya bergerak lebih dalam ke dalamnya. Yang paling menggetarkan dari Ellul bukanlah pesimismenya, melainkan klaimnya bahwa kebebasan untuk memilih jalan lain sudah lama menguap — kita hanya tidak menyadarinya karena teknik juga menyediakan ilusi kebebasan.

Di sebelah Ellul berdiri Martin Heidegger, yang dalam esainya *Die Frage nach der Technik* (Pertanyaan tentang Teknologi) tidak tertarik pada mesin-mesin tertentu melainkan pada Teknologi dengan huruf besar — sebuah cara memandang dan menyingkapkan realitas. Bagi Heidegger, esensi teknologi modern adalah apa yang ia sebut *Gestell*, biasanya diterjemahkan sebagai “kerangka” atau “pengerahan”. Di bawah cengkeraman *Gestell*, segala sesuatu menampakkan diri sebagai *cadangan tetap* (*Bestand*) — sungai menjadi sumber tenaga listrik, hutan menjadi stok kayu, manusia menjadi sumber daya manusia. Yang menakutkan bagi Heidegger bukanlah teknologi itu sendiri, melainkan bahwa cara menyingkap yang satu ini cenderung menutup semua cara menyingkap yang lain, sehingga kita lupa bahwa pernah ada cara lain untuk hadir di dunia.

Bila kita berjalan lebih jauh, kita menemukan para pemikir yang merumuskan determinisme dengan cara yang lebih konkret. Langdon Winner, dalam *Autonomous Technology* (1977) dan kemudian dalam esainya yang termasyhur, “Do Artifacts Have Politics?” (1980), berargumen bahwa artefak teknologi tidak pernah netral: ia membawa muatan politis di dalam bentuknya sendiri. Contoh yang paling sering ia ulang adalah jembatan-jembatan rendah di jalan layang Long Island yang dirancang Robert Moses — terlalu rendah untuk dilewati bus umum, sehingga, entah sengaja atau tidak, ia menyaring siapa yang bisa mencapai pantai. Bagi Winner, sekali sebuah teknologi dipilih dan dibangun, ia mulai mengikat — ia menjadi semacam undang-undang yang membentuk pola dasar aktivitas manusia, jauh setelah niat para perancangnya terlupakan.

Apa yang menyatukan keluarga pemikir ini — dari Marx yang ambigu sampai Ellul yang nyaris fatalistik — adalah satu intuisi yang sulit ditampik bila kita jujur. Ada sesuatu pada teknologi yang terasa seperti air terjun: begitu air mulai mengalir ke arah tertentu, ia mengukir lembah, dan lembah itu kemudian memaksa air berikutnya mengikuti jalur yang sama. Logika ini, dalam bahasa para sejarawan, disebut *path dependency* — ketergantungan jalur. Keyboard QWERTY adalah contoh klasik: dirancang untuk mesin tik abad kesembilan belas dengan alasan yang sudah lama usang, ia bertahan bukan karena ia yang terbaik, melainkan karena terlalu banyak yang sudah terkunci di dalamnya. Sekali sebuah standar menang, ia membentuk medan tempat pilihan-pilihan berikutnya dibuat.

## **Plastisitas dan pemberontakan para sosiolog**

Tetapi tepat di titik determinisme terasa paling meyakinkan, sekelompok pemikir lain mengangkat tangan dan berkata: tunggu dulu. Air terjun itu, kata mereka, bukan hukum alam. Ia adalah hasil dari ribuan keputusan manusia yang kemudian kita lupakan, lalu kita salah baca sebagai keniscayaan.

Inilah yang oleh Trevor Pinch dan Wiebe Bijker dirumuskan pada pertengahan 1980-an sebagai *Social Construction of Technology* — Konstruksi Sosial atas Teknologi, atau SCOT. Tesis intinya tegas dan, pada awalnya, terasa membebaskan: determinisme teknologi adalah sebuah mitos yang muncul ketika kita memandang ke belakang dan keliru meyakini bahwa jalan yang ternyata kita tempuh adalah satu-satunya jalan yang mungkin. Pinch dan Bijker menggunakan sejarah sepeda sebagai contoh kanonis. Sepeda, sebelum menjadi bentuk yang kita kenal sekarang, melewati fase di mana ia memiliki roda depan raksasa — *penny-farthing* — yang berbahaya dan hanya cocok untuk pemuda pemberani. Bentuk akhir sepeda bukan ditentukan oleh logika teknis yang lebih unggul, melainkan oleh negosiasi antara kelompok-kelompok sosial yang berbeda: para olahragawan muda, perempuan dengan rok panjang, kaum tua yang menginginkan keamanan. Teknologi, dalam pandangan ini, memiliki apa yang mereka sebut *interpretive flexibility* — fleksibilitas tafsir. Tidak ada “yang terbaik” yang berdiri di luar masyarakat; “yang terbaik” selalu didefinisikan oleh seseorang, untuk kepentingan tertentu, dengan menyingkirkan kepentingan yang lain.

Yang penting dari pemberontakan ini bukan sekadar koreksi historis. Ia adalah klaim moral yang terselubung. Bila teknologi adalah produk pilihan sosial, maka pertanyaan “teknologi apa yang kita inginkan?” menjadi pertanyaan politis yang sah — sesuatu yang seharusnya diperdebatkan secara terbuka oleh khalayak yang lebih luas, bukan diserahkan kepada hukum perkembangan yang seolah tak terhindarkan. Trevor Pinch pernah menulis bahwa tidak ada logika perkembangan yang niscaya; yang ada adalah pilihan, dan pilihan itulah yang menarik perhatian kita pada teknologi-teknologi yang tidak pernah kita dapatkan — alternatif-alternatif yang dikalahkan, ditekan, atau tak pernah diberi kesempatan.

Posisi ini diperdalam, dengan cara yang lebih radikal lagi, oleh Bruno Latour dan apa yang kemudian dikenal sebagai *Actor-Network Theory*. Latour menolak pemisahan tegas antara “yang sosial” dan “yang teknis”. Baginya, manusia dan benda sama-sama merupakan *aktor* dalam jaringan yang saling membentuk. Sebuah polisi tidur — gundukan aspal di jalan — adalah “polisi” yang dibekukan ke dalam materi: ia memaksa pengemudi melambat tanpa perlu kehadiran manusia. Tetapi gundukan itu sendiri adalah hasil dari niat, peraturan, anggaran, dan keputusan teknis. Tidak ada teknologi murni, dan tidak ada masyarakat murni; yang ada adalah anyaman *sosioteknis* yang tak bisa diurai menjadi dua benang terpisah.

Andrew Feenberg, dalam *Questioning Technology* (1999) dan karya-karya lainnya, menarik garis dari kritik ini menuju sebuah harapan politis yang ia sebut “demokratisasi teknologi”. Feenberg menerima bahwa teknologi sarat nilai dan kekuasaan — sejauh itu ia setuju dengan Heidegger dan Ellul. Tetapi ia menolak fatalisme mereka. Bila teknologi dibentuk oleh kepentingan, maka ia dapat dibentuk ulang oleh kepentingan yang berbeda. Desain selalu menyimpan apa yang ia sebut “margin manuver” — ruang gerak yang bisa direbut kembali oleh mereka yang selama ini dikecualikan. Contoh kesukaannya adalah bagaimana para penderita AIDS pada 1980-an memaksa pengubahan protokol uji klinis obat — para pasien, yang seharusnya menjadi objek pasif dari mesin medis, justru turut merancang ulang teknologi itu sendiri.

## **Di mana garis itu sebenarnya terletak**

Sampai di sini, godaan terbesar adalah memilih satu kubu dan menulis sisa esai ini sebagai pembelaan. Tetapi setiap kali saya mencoba, saya teringat pada wajah Raka di teras itu, dan saya sadar bahwa baik determinisme keras maupun konstruktivisme murni sama-sama gagal menangkap apa yang sebenarnya ia rasakan.

Determinisme keras, dalam versi Ellul yang paling pekat, menghapus terlalu banyak. Bila teknik benar-benar otonom dan kebebasan kita sekadar ilusi, maka tidak ada gunanya Raka bertanya sama sekali — pertanyaannya sendiri akan menjadi gejala dari penyakit yang ia keluhkan, sekadar bunyi roda yang berputar tanpa mengubah arah. Tetapi kenyataannya, teknologi yang sama sering melahirkan masyarakat yang sangat berbeda. Telepon genggam di Jepang, di Finlandia, dan di pedalaman Sulawesi Tengah bukan benda yang sama dalam hidup penggunanya, meskipun sirkuitnya identik. Determinisme tak bisa menjelaskan keragaman ini.

Sebaliknya, konstruktivisme murni, dalam versi yang paling optimistik, menghapus terlalu sedikit. Bila teknologi sepenuhnya plastis terhadap kehendak sosial, mengapa begitu sulit untuk membelokkannya? Mengapa Raka, dan ribuan orang seperti dia, merasakan beban sebuah sistem yang seolah-olah bergerak terlepas dari kehendak siapa pun yang berada di dalamnya — termasuk para pemilik modal, yang juga merasa harus terus berlari hanya untuk tetap di tempat? Ada inersia dalam teknologi yang nyata, yang tidak bisa direduksi menjadi sekadar “negosiasi antarkelompok”.

Di sinilah seorang sejarawan teknologi bernama Thomas P. Hughes menawarkan sesuatu yang, bagi saya, paling jujur secara intelektual. Hughes mengamati sistem-sistem teknologi besar — jaringan listrik, misalnya — dan memperkenalkan konsep *technological momentum*, momentum teknologi. Tesisnya begini: hubungan antara teknologi dan masyarakat tidak statis, melainkan berubah seiring waktu. Ketika sebuah sistem masih muda, ia sangat plastis — dibentuk oleh pilihan sosial, kepentingan politik, dan negosiasi, persis seperti yang dikatakan kaum konstruktivis. Tetapi ketika sistem itu tumbuh besar, ketika ia mengakar dalam institusi, kebiasaan, investasi, dan keterampilan jutaan orang, ia memperoleh inersia. Ia mulai bergerak dengan caranya sendiri dan menjadi semakin sulit dibelokkan — ia mulai berperilaku, dalam praktiknya, seolah-olah deterministik.

Dengan kata lain, jawaban Hughes atas pertanyaan Raka adalah: keduanya benar, tetapi pada momen yang berbeda. Konstruktivisme adalah kebenaran tentang teknologi yang masih muda. Determinisme adalah kebenaran tentang teknologi yang sudah tua. Dan tragedi terbesar manusia adalah bahwa kita cenderung baru mengajukan pertanyaan filosofis tentang sebuah teknologi setelah ia melewati ambang itu — setelah lembahnya terukir terlalu dalam.

Konsep Hughes ini memiliki saudara dekat dalam apa yang oleh para ekonom disebut *path dependency*, dan dalam apa yang oleh para sejarawan ekonomi seperti Paul David diilustrasikan lewat kisah QWERTY. Tetapi ia juga punya bayangan gelap yang lebih tua: gagasan Lewis Mumford tentang perbedaan antara teknik “demokratik” yang tersebar dan dapat dikendalikan secara lokal, dan teknik “otoriter” yang tersentralisasi — seperti, dalam istilahnya yang provokatif, “megamesin” yang membangun piramida Mesir. Bagi Mumford, persoalannya bukan teknologi versus masyarakat, melainkan teknologi macam apa yang memperbesar atau menyusutkan ruang bagi otonomi manusia.

## **Apa yang sesungguhnya membuat Raka gamang**

Saya kira sudah waktunya kembali ke teras itu, karena ada lapisan dalam kegamangan Raka yang belum saya sentuh, dan lapisan itulah yang membuat seluruh perdebatan ini bukan sekadar urusan akademis.

Ketika Raka bertanya apakah teknologi punya jalannya sendiri, ia sebetulnya sedang bertanya tentang dirinya sendiri. Sebab bila jawabannya adalah determinisme — bila obor pabrik itu memang harus menyala dan akan terus menyala terlepas dari apa pun yang ia lakukan — maka ada semacam kelegaan yang muncul, kelegaan yang berbahaya. Ia tidak perlu merasa bersalah. Ia hanya seorang teknisi yang menjalankan tugasnya dalam sebuah sistem yang lebih besar dari siapa pun. Tangannya bersih karena tangannya tidak pernah benar-benar memegang kemudi.

Tetapi bila jawabannya adalah plastisitas — bila semua ini adalah hasil dari pilihan, dan pilihan yang berbeda akan menghasilkan dunia yang berbeda — maka tiba-tiba Raka menjadi bertanggung jawab. Bukan dalam arti bahwa ia, seorang diri, bisa mengubah jalannya industri nikel global. Melainkan dalam arti yang lebih menusuk: bahwa ia adalah bagian dari sebuah “kita” yang sedang memilih, setiap hari, lewat ribuan keputusan kecil yang masing-masing terasa tak berarti, untuk meneruskan dunia ini ketimbang membayangkan yang lain. Tanggung jawab itu tidak bisa diserahkan kepada hukum sejarah, karena hukum sejarah ternyata adalah nama lain bagi keengganan kolektif untuk memilih secara berbeda.

Inilah jepitan yang sebenarnya. Determinisme menawarkan ketenangan tanpa martabat: Anda tidak bersalah, tetapi Anda juga tidak penting. Plastisitas menawarkan martabat tanpa ketenangan: Anda penting, tetapi karena itu Anda tidak pernah benar-benar tak bersalah. Dan kebanyakan dari kita, seperti Raka, menghabiskan hidup dengan berayun di antara keduanya — mengaku deterministik ketika kita ingin tidur nyenyak, dan mengaku bebas ketika kita ingin merasa hidup kita bermakna.

Yang membuat momentum teknologi Hughes terasa begitu pedih dalam konteks Raka adalah ini: kawasan industri seperti tempatnya bekerja adalah contoh sempurna dari sistem yang telah melewati ambang plastisitas. Ketika keputusan-keputusan awal dibuat — di mana membangun, teknologi peleburan mana yang dipakai, model ketenagakerjaan apa yang diadopsi, dari negara mana modal dan tenaga ahli didatangkan — ruang pilihan masih terbuka lebar. Tetapi sekali tungku dibangun, sekali puluhan ribu pekerja bergantung pada upah dari sana, sekali rantai pasok global mengunci nikel itu ke dalam baterai mobil listrik di belahan dunia lain, sistem itu memperoleh momentumnya. Dan Raka memasuki cerita justru pada titik ketika sistem itu sudah hampir tak terbelokkan — ketika satu-satunya pilihan yang tampak tersisa adalah menjalankannya dengan baik atau menjalankannya dengan buruk, bukan apakah menjalankannya sama sekali.

Maka kegamangannya bukanlah kebingungan intelektual yang bisa diobati dengan membaca buku yang tepat. Ia adalah pengalaman otentik tentang berdiri di sebuah titik dalam waktu di mana kebebasan dan keniscayaan saling menyamar satu sama lain, sehingga mustahil tahu mana yang sedang Anda hadapi.

## **Suara-suara dari pinggir yang jarang terdengar**

Ada satu keberatan yang harus saya ajukan terhadap seluruh perdebatan yang baru saja saya paparkan, dan keberatan ini penting justru karena para tokoh yang saya kutip nyaris semuanya berbicara dari pusat dunia industri Atlantik Utara.

Hampir seluruh kerangka — Ellul, Heidegger, Winner, Pinch, Feenberg, Hughes — dibangun dengan membayangkan pekerja pabrik yang formal, warga negara yang punya akses pada proses politik, dan teknologi yang dirancang serta dikonsumsi dalam masyarakat yang relatif kaya. Tetapi mayoritas manusia yang hidup di bawah bayang-bayang teknologi industri tidak menempati posisi itu. Di Morowali, dan di ribuan tempat seperti Morowali di Selatan global, ada lapisan pekerja yang bersifat agraris-transisional — orang-orang yang baru saja meninggalkan ladang dan belum sepenuhnya menjadi proletar industri. Ada ekonomi informal yang melingkari setiap kawasan industri seperti cincin: pedagang kaki lima, ojek, buruh harian lepas yang tidak pernah masuk ke dalam statistik mana pun. Dan kini ada pula realitas ekonomi gig berbasis platform, di mana algoritma — sebuah teknologi yang sangat baru — sudah memperoleh momentumnya sendiri dengan kecepatan yang membuat konsep Hughes tampak lambat.

Bagi orang-orang ini, pertanyaan “apakah teknologi plastis terhadap kehendak sosial” memiliki nada yang berbeda. Kehendak sosial siapa? Para perancang algoritma berada di benua lain. Para pemilik modal peleburan berbicara dalam bahasa yang tidak mereka mengerti. Plastisitas yang dirayakan Feenberg — gagasan bahwa kelompok yang dikecualikan bisa merebut kembali margin manuver — mengandaikan adanya saluran untuk merebut, adanya ruang publik tempat negosiasi bisa terjadi. Di banyak tempat, saluran itu tipis atau tidak ada sama sekali. Maka bagi mereka, teknologi terasa deterministik bukan karena ia secara metafisik otonom, melainkan karena kekuasaan yang membentuknya berada terlalu jauh untuk dijangkau. Determinisme, dalam hal ini, adalah nama yang keliru bagi ketimpangan kekuasaan.

Pengamatan ini tidak menyelesaikan perdebatan filosofis. Tetapi ia memutarnya. Ia menyarankan bahwa pertanyaan “logika internal atau plastisitas sosial” mungkin keliru sejak awal, karena ia membayangkan sebuah “masyarakat” yang utuh dan setara, yang kehendaknya bisa bertabrakan dengan logika mesin. Padahal yang sesungguhnya ada adalah masyarakat yang terbelah, di mana kehendak sebagian orang membeku menjadi teknologi yang lalu mengikat sebagian yang lain. Teknologi tidak otonom dari masyarakat; ia otonom dari sebagian masyarakat sambil menjadi alat bagi sebagian yang lain.

## **Batas-batas dari apa yang baru saja saya tulis**

Kejujuran menuntut saya untuk menunjuk pada lubang-lubang dalam esai ini sendiri, sebab tidak ada yang lebih mencurigakan daripada sebuah renungan tentang keniscayaan yang menyajikan dirinya sebagai tak terbantahkan.

Pertama, saya telah memperlakukan “teknologi” sebagai satu hal, padahal ia bukan. Sebuah jembatan, sebuah algoritma rekomendasi, sebuah tungku peleburan, dan sebuah vaksin tidak mungkin tunduk pada satu teori yang sama. Mungkin saja determinisme benar untuk infrastruktur berat yang padat modal, sementara plastisitas benar untuk perangkat lunak yang bisa ditulis ulang dalam semalam. Esai yang lebih baik akan membedakan jenis-jenis teknologi alih-alih berbicara tentang Teknologi dengan huruf besar — sebuah kebiasaan yang saya warisi dari Heidegger dan Ellul, dan yang barangkali adalah jebakan retoris ketimbang wawasan.

Kedua, konsep momentum teknologi Hughes, yang saya jadikan jangkar, bisa dituduh sebagai sekadar penundaan masalah. Mengatakan bahwa teknologi “mula-mula plastis lalu menjadi deterministik” tidak menjelaskan *mengapa* dan *kapan* tepatnya ambang itu dilewati. Tanpa teori yang lebih tajam tentang ambang itu, momentum berisiko menjadi metafora yang nyaman ketimbang penjelasan yang sesungguhnya.

Ketiga, dan ini yang paling mengganggu saya: saya tidak punya cara untuk membuktikan, bahkan kepada diri sendiri, bahwa perasaan Raka tentang ketakterhindaran adalah ilusi atau kenyataan. Setiap data yang bisa saya kumpulkan tentang “pilihan yang tersedia” sudah tercemar oleh fakta bahwa saya mengumpulkannya dari dalam sistem yang sedang dipertanyakan. Ini bukan kerendahan hati yang dibuat-buat; ini batas epistemologis yang sesungguhnya. Kita tidak bisa melangkah keluar dari sejarah untuk memeriksa apakah ia bisa berjalan dengan cara lain.

## **Renungan, bukan jawaban**

Maka saya tidak akan menutup dengan sebuah pernyataan, karena pernyataan akan mengkhianati seluruh esai ini.

Saya hanya akan kembali sekali lagi ke teras itu, ke kopi yang sudah dingin di tangan Raka, ke obor pabrik yang menyala di kejauhan seperti sebuah jawaban yang menolak diberikan. Saya pikir, sekarang, bahwa kesalahan saya malam itu adalah mencoba menjawab. Pertanyaan Raka bukanlah pertanyaan yang menunggu jawaban; ia adalah pertanyaan yang menunggu untuk *ditinggali*.

Sebab inilah yang perlahan saya pahami. Teknologi barangkali tidak memiliki logika internal dalam pengertian metafisik — ia bukan makhluk hidup, ia tidak bermimpi, ia tidak menginginkan apa pun. Tetapi ia *memperoleh* sesuatu yang menyerupai logika internal melalui cara kita memperlakukannya: melalui investasi yang kita kunci, kebiasaan yang kita biarkan mengeras, alternatif yang kita lupa untuk bayangkan. Logika itu nyata, tetapi ia adalah logika yang kita pinjamkan, bukan logika yang ia miliki sejak lahir. Dan justru karena ia dipinjamkan, ia secara prinsip bisa ditarik kembali — meskipun, dalam praktiknya, menariknya kembali sering kali menuntut harga yang tak sanggup dibayar oleh mereka yang paling menanggung bebannya.

Jadi mungkin yang sebenarnya dirasakan Raka bukanlah determinisme dan bukan pula kebebasan, melainkan sesuatu di antara keduanya yang tidak punya nama yang bagus: kesadaran bahwa kita hidup di tengah-tengah air terjun yang kita ukir sendiri, terlalu lambat untuk menyadarinya sedang terbentuk, dan terlalu cepat tertangkap di dalamnya begitu ia mengeras. Kebebasan kita bukanlah kebebasan untuk berdiri di luar dan memilih dari awal. Ia adalah kebebasan yang jauh lebih sederhana dan jauh lebih sulit: kebebasan untuk tetap mengajukan pertanyaan Raka, justru ketika sistem di sekeliling kita bersikeras bahwa pertanyaan itu sudah tidak relevan.

Obor itu masih menyala. Raka menghabiskan kopinya yang dingin dan kembali masuk untuk shift berikutnya. Tetapi ia telah bertanya. Dan barangkali, dalam dunia yang dirancang untuk membuat kita lupa bahwa pertanyaan itu mungkin, tindakan bertanya itu sendiri adalah satu-satunya potongan kebebasan yang belum sempat dibekukan menjadi mesin.



## **Catatan bacaan lanjutan**

Bagi pembaca yang ingin menelusuri lebih jauh kegamangan yang saya gambarkan di sini, ada beberapa jalan yang bisa ditempuh. Titik berangkat yang paling menggetarkan tetaplah *The Technological Society* karya Jacques Ellul, terbit dalam bahasa Inggris pada 1964 dari aslinya yang berbahasa Prancis, *La Technique* — sebuah buku yang membaca seperti vonis, dan yang akan membuat siapa pun yang menerimanya secara penuh kesulitan tidur. Untuk lapisan yang lebih dalam dan lebih sulit, esai Martin Heidegger, “The Question Concerning Technology” (tersedia dalam terjemahan William Lovitt), adalah teks yang harus dibaca berkali-kali; gagasannya tentang *Gestell* dan dunia sebagai “cadangan tetap” akan terus membayangi cara Anda memandang sungai dan hutan setelahnya.

Pembalikan terhadap para pemikir murung itu paling baik dimulai dari esai pendek Langdon Winner, “Do Artifacts Have Politics?”, yang terbit di jurnal *Daedalus* pada 1980 dan tetap menjadi salah satu tulisan paling tajam dan paling mudah diakses dalam seluruh bidang ini; menariknya, Winner sendiri sebenarnya berdiri lebih dekat ke kubu yang skeptis terhadap kendali kita atas teknologi, sebagaimana terbaca dalam bukunya yang lebih awal, *Autonomous Technology* (1977). Untuk argumen konstruktivis dalam bentuknya yang paling utuh, kumpulan esai yang disunting Wiebe Bijker, Thomas Hughes, dan Trevor Pinch, *The Social Construction of Technological Systems* (1987), adalah dokumen pendirinya — di sanalah kisah sepeda dan tesis “fleksibilitas tafsir” dirumuskan, dan di sanalah pula, dalam esai Hughes, konsep *technological momentum* yang menjadi tulang punggung renungan saya pertama kali dipaparkan secara penuh.

Mereka yang tertarik pada jalan tengah yang berwatak politis akan menemukan teman dalam Andrew Feenberg, terutama *Questioning Technology* (1999), yang berusaha menyelamatkan harapan akan demokratisasi teknologi tanpa jatuh ke dalam naivitas. Untuk perspektif yang melarutkan batas antara manusia dan benda sama sekali, karya Bruno Latour layak didekati, meski pembaca sebaiknya bersiap menghadapi prosa yang licin dan istilah yang berputar — *Reassembling the Social* (2005) adalah pintu masuk yang paling sistematis ke dalam Actor-Network Theory. Dan bagi yang ingin menggali akar historis dari seluruh kecemasan ini, dua jilid *The Myth of the Machine* karya Lewis Mumford, terutama gagasannya tentang “megamesin” dan tentang teknik yang demokratik versus yang otoriter, tetap menjadi sumber yang kaya dan, anehnya, semakin terasa relevan seiring usianya.

Satu peringatan terakhir untuk pembaca dari Selatan global, atau bagi siapa pun yang membaca dengan kawasan industri seperti Morowali dalam benaknya: hampir seluruh karya di atas ditulis dari dan untuk pusat dunia industri Atlantik Utara. Belum ada kanon yang setara yang sungguh-sungguh berangkat dari pengalaman buruh agraris-transisional, ekonomi informal, atau ekonomi gig di kawasan periferi — dan kekosongan itu sendiri, saya kira, adalah salah satu pertanyaan filosofis yang paling mendesak dan paling belum tergarap di zaman kita.

Discover more from bolakayu.id

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading