Ada sebuah momen kecil yang nyaris tak pernah kita perhatikan, dan barangkali justru karena tak kita perhatikan ia menyimpan seluruh persoalan. Momen itu terjadi ketika alarm berbunyi di pagi hari—bukan alarm matahari, bukan kokok ayam, bukan rasa lapar yang membangunkan tubuh dari dalam, melainkan sebuah perangkat yang kita atur sendiri agar membangunkan kita pada jam tertentu demi keperluan yang sebenarnya bukan milik tubuh kita. Kita bangun bukan karena kita sudah cukup tidur, melainkan karena pukul tujuh adalah pukul tujuh, dan pukul tujuh menuntut kehadiran kita di suatu tempat. Tubuh menyerah pada jadwal. Dan jadwal itu, bila kita telusuri sampai ke hulunya, bukanlah ritme alam atau kehendak personal kita, melainkan ritme produksi—denyut sebuah sistem besar yang membutuhkan kita berada di posisi tertentu pada waktu tertentu agar ia terus berjalan.
Pertanyaan yang ingin saya ajukan dalam esai ini sederhana dalam rumusannya namun mengganggu dalam implikasinya: apakah industri adalah sarana yang kita pakai untuk mencapai tujuan-tujuan manusiawi, ataukah ia telah menjelma menjadi tujuan, dan kitalah yang kini diatur sebagai sarananya? Pertanyaan ini terdengar seperti permainan logika, sebuah pembalikan yang elegan tapi mungkin kosong. Namun saya kira ia menyentuh sesuatu yang nyata, sesuatu yang kita rasakan di tubuh kita sendiri jauh sebelum kita mampu memikirkannya. Kita merasakannya dalam keletihan yang tak hilang dengan istirahat akhir pekan. Kita merasakannya dalam kebingungan ketika seseorang bertanya “apa yang kau inginkan dalam hidup” dan jawaban yang muncul ternyata seluruhnya bersifat instrumental—penghasilan lebih besar, jabatan lebih tinggi, rumah lebih luas—seolah keinginan kita sendiri telah lama dikolonisasi oleh logika sebuah mesin yang tujuannya bukan kita.
## **Pembalikan yang Tak Kita Sadari**
Mari kita perjelas apa yang dimaksud dengan pembalikan sarana dan tujuan, sebab di situlah letak seluruh ketegangannya. Dalam pengertian yang paling lugu, alat adalah sesuatu yang kita gunakan demi sesuatu yang lain. Palu ada demi paku tertancap, paku tertancap demi dinding berdiri, dinding berdiri demi rumah terwujud, rumah terwujud demi suatu kehidupan yang ingin kita jalani di dalamnya. Ada rantai panjang sarana yang, idealnya, bermuara pada sesuatu yang kita inginkan demi dirinya sendiri—sebuah tujuan akhir yang tak lagi melayani apa pun di luar dirinya. Aristoteles menyebut tujuan semacam itu *eudaimonia*, kehidupan yang berkembang penuh, yang tidak kita kejar demi apa pun selain dirinya. Seluruh aktivitas manusia, dalam gambaran ini, adalah anak tangga menuju puncak itu.
Pembalikan terjadi ketika sebuah sarana memutus rantai itu dan menjadikan dirinya sebagai muara. Industri, dalam tuduhan yang ingin saya periksa, bukan lagi anak tangga menuju kehidupan yang baik, melainkan telah menjadi sesuatu yang harus terus berjalan demi keberlangsungannya sendiri—dan kehidupan manusia, yang dulu menjadi tujuannya, kini direkrut sebagai bahan bakar. Pertumbuhan ekonomi tidak lagi diukur dengan pertanyaan “apakah manusia hidup lebih baik,” melainkan dengan pertanyaan “apakah produksi meningkat.” Produksi menjadi tujuan; manusia menjadi faktor produksi—sebuah istilah yang, bila kita renungkan, sudah mengandung seluruh pembalikan itu dalam tiga kata. Faktor. Produksi. Manusia disusutkan menjadi variabel dalam sebuah fungsi yang variabel bebasnya adalah keluaran sistem.
Tentu, ada keberatan langsung yang harus kita hormati. Bukankah industri memang melayani kita? Bukankah berkat industri kita hidup lebih lama, makan lebih kenyang, terlindung dari penyakit yang dulu memusnahkan separuh anak yang lahir? Tidakkah pembalikan yang saya gambarkan ini sekadar keluhan seorang yang kenyang, romantisme orang yang lupa betapa brutalnya kehidupan sebelum mesin? Keberatan ini sah, dan saya akan kembali kepadanya. Namun untuk sekarang, izinkan saya menahan jawaban dan membiarkan pertanyaan itu bekerja. Sebab justru ketika kita yakin industri melayani kita, di situlah pembalikan paling licin bersembunyi: ia membuat kita merasa bebas memilih, padahal pilihan-pilihan yang tersedia bagi kita telah ditentukan terlebih dahulu oleh apa yang menguntungkan sistem.
## **Tubuh yang Diserahkan pada Jadwal**
Sebelum kita memanggil para filsuf, ada baiknya kita tinggal sebentar pada pengalaman, sebab di sanalah persoalan ini pertama-tama menjadi nyata. Bayangkan seorang pekerja di sebuah kawasan industri pengolahan nikel di Sulawesi—dan saya tidak mengarang, sebab ratusan ribu orang menjalani hidup ini setiap hari. Ia bekerja dalam sistem dua belas jam, dua minggu siang lalu dua minggu malam, tubuhnya dipaksa menukar siang dan malam mengikuti rotasi tungku peleburan yang tidak boleh padam. Tungku itu, *furnace* yang menyala terus-menerus, adalah jantung sistem. Ia tak boleh berhenti, sebab menyalakannya kembali memakan biaya yang besar. Maka manusia diatur mengikuti irama tungku, bukan sebaliknya. Tubuh manusia—yang berevolusi selama jutaan tahun untuk tidur dalam gelap dan terjaga dalam terang—dipaksa membalik dirinya demi sebuah api yang tak boleh mati.
Di sinilah pembalikan itu berhenti menjadi abstraksi. Ada yang dilayani dan ada yang melayani, dan tungku itu menempati posisi yang dulu kita kira hanya pantas ditempati manusia. Sang pekerja, bila ditanya mengapa ia menjalani ini, akan menjawab dengan jujur: demi anak-anaknya, demi rumah, demi masa depan. Jawabannya manusiawi seutuhnya. Tujuan-tujuannya nyata dan mulia. Namun perhatikan strukturnya: tujuan-tujuan manusiawi itu hanya dapat dicapai dengan cara menyerahkan tubuh pada ritme yang sama sekali bukan manusiawi. Ia harus menjadi sarana bagi tungku agar tungku menjadi sarana baginya. Dan dalam pertukaran itu, sesuatu yang sulit dinamai telah bergeser. Waktu hidupnya—satu-satunya hal yang benar-benar miliknya—telah disewakan kepada sebuah proses yang tujuan akhirnya, akumulasi modal, sama sekali tak peduli pada anak-anaknya.
Inilah yang membuat pertanyaan kita tidak bisa diselesaikan dengan menunjuk pada manfaat. Tentu ada manfaat. Sang pekerja mendapat upah, dan upah itu nyata. Tetapi pertanyaannya bukan apakah ada manfaat, melainkan siapa yang pada akhirnya melayani siapa. Apakah sistem itu, secara keseluruhan, diorganisasikan demi berkembangnya kehidupan manusia, ataukah kehidupan manusia diorganisasikan demi berlangsungnya sistem, dengan manfaat-manfaat bagi manusia sekadar sebagai efek samping yang diperlukan agar manusia tetap bersedia melayani? Pertanyaan tentang siapa-melayani-siapa tidak sama dengan pertanyaan tentang siapa-mendapat-apa. Seorang budak pun mendapat makan. Yang membedakan budak dari orang merdeka bukanlah ada-tidaknya manfaat yang ia terima, melainkan apakah keberadaannya diperlakukan sebagai tujuan atau sebagai alat.
## **Marx dan Tungku yang Mengisap Kerja Hidup**
Tidak mungkin memikirkan persoalan ini tanpa Karl Marx, dan bukan karena alasan ideologis melainkan karena ia barangkali pemikir pertama yang merumuskan pembalikan ini sebagai struktur, bukan sebagai keluhan moral. Dalam analisis Marx, di bawah kapitalisme, hubungan antara manusia dan benda terbalik secara sistematis. Yang hidup—tenaga kerja manusia—diperlakukan sebagai sarana bagi yang mati—modal, mesin, akumulasi. Marx punya kalimat yang menghantui tentang ini: kapital adalah kerja yang mati, yang seperti vampir hanya hidup dengan mengisap kerja yang hidup. Tungku peleburan kita tadi adalah perwujudan harfiah dari metafora itu. Benda mati yang menyala dengan mengisap waktu hidup manusia.
Yang penting dipahami dari Marx adalah bahwa pembalikan ini bukan akibat kejahatan individu. Pemilik pabrik bukanlah orang jahat yang sengaja memperbudak; ia sendiri tunduk pada logika yang sama. Bila ia tak mengejar akumulasi, ia akan kalah oleh pesaing yang mengejarnya, dan ia akan tersingkir. Sistem itu memaksa semua orang—pekerja dan pemilik sama-sama—untuk melayani satu hal: ekspansi nilai. Inilah yang Marx sebut sebagai sifat objektif dari relasi kapital. Tujuannya bukan kebutuhan manusia melainkan nilai-yang-menggandakan-dirinya. Manusia, baik yang bekerja maupun yang memiliki, adalah pengemban topeng dari kategori-kategori ekonomi yang lebih besar dari mereka. Konsep alienasi pada Marx muda menangkap dimensi pengalamannya: pekerja terasing dari produk kerjanya, dari aktivitas kerjanya, dari sesama manusia, dan akhirnya dari hakikat kemanusiaannya sendiri—dari kapasitasnya untuk bekerja secara bebas, bermakna, dan mengenali dirinya dalam apa yang ia buat.
Namun Marx, dan ini sering dilupakan, bukanlah seorang yang anti-industri. Ia mengagumi kekuatan produktif yang dilepaskan kapitalisme; ia melihat dalam mesin potensi pembebasan manusia dari kerja keras yang membutakan. Bagi Marx, persoalannya bukan pada mesin itu sendiri melainkan pada relasi sosial yang menentukan untuk siapa mesin bekerja. Di tangan yang berbeda, dalam relasi yang berbeda, industri yang sama bisa menjadi sarana pembebasan alih-alih perbudakan. Pembalikan sarana-tujuan, bagi Marx, bersifat historis dan dapat dibalik kembali—bukan kutukan metafisik melainkan keadaan yang diproduksi oleh susunan kepemilikan tertentu, dan karenanya bisa diproduksi ulang secara berbeda. Optimisme ini akan menjadi titik perselisihan tajam dengan mazhab berikutnya.
## **Heidegger, Ellul, dan Hakikat Teknologi yang Membingkai**
Bila Marx melihat persoalannya pada relasi sosial, Martin Heidegger melihatnya jauh lebih dalam, pada cara teknologi modern menyingkapkan dunia. Bagi Heidegger, esensi teknologi sama sekali bukan sesuatu yang teknologis. Ia bukan soal mesin atau alat. Ia adalah suatu cara dunia hadir bagi kita—dan cara itu, yang ia sebut *Gestell* atau pembingkaian, membuat segala sesuatu tampak hanya sebagai persediaan, sebagai cadangan yang siap dipakai. Sungai tidak lagi tampak sebagai sungai melainkan sebagai sumber tenaga listrik. Hutan tidak tampak sebagai hutan melainkan sebagai cadangan kayu. Dan—inilah pukulan terberatnya—manusia pun pada akhirnya tampak sebagai persediaan, sebagai sumber daya manusia, frasa yang kita ucapkan setiap hari tanpa bergidik.
Yang membedakan Heidegger dari Marx adalah ini: bagi Heidegger, masalahnya tidak akan selesai dengan mengubah siapa yang memiliki pabrik. Sebab pembingkaian itu bukan soal kepemilikan melainkan soal cara berada, cara dunia membuka diri bagi manusia modern. Sosialisme dan kapitalisme, di mata Heidegger, adalah dua wajah dari *Gestell* yang sama—keduanya memandang alam dan manusia sebagai cadangan yang harus dioptimalkan. Pembalikan sarana-tujuan, dalam pembacaan ini, jauh lebih sulit dilawan, sebab ia bukan kebijakan melainkan takdir pengiriman makna, sesuatu yang terjadi pada kita lebih daripada sesuatu yang kita lakukan. Heidegger menutup dengan sebuah harapan yang samar, mengutip Hölderlin: di tempat bahaya tumbuh, tumbuh pula yang menyelamatkan. Tapi keselamatan itu, baginya, tidak datang dari tindakan teknis melainkan dari semacam perubahan dalam cara kita memandang—suatu kesediaan untuk membiarkan ada hadir tanpa langsung menjadikannya cadangan.
Jacques Ellul, sosiolog dan teolog Prancis, mempertajam kecemasan ini dengan caranya sendiri. Bagi Ellul, yang menentukan masyarakat modern bukanlah mesin melainkan apa yang ia sebut *la technique*—teknik, dorongan menyeluruh menuju efisiensi yang merasuki setiap bidang kehidupan, dari produksi hingga pendidikan, dari politik hingga rekreasi. Teknik, kata Ellul, telah menjadi otonom. Ia tak lagi melayani tujuan di luar dirinya; ia mengejar satu hal—cara yang paling efisien—dan terhadap itu segala pertimbangan manusiawi harus tunduk. Yang mengerikan dari analisis Ellul adalah determinismenya yang nyaris total: teknik tidak punya rem internal, sebab satu-satunya prinsipnya adalah efisiensi, dan efisiensi tak pernah berkata cukup. Di sini pembalikan sarana-tujuan mencapai bentuknya yang paling murni: efisiensi, yang seharusnya sekadar sifat dari sarana yang baik, telah menjadi tujuan tertinggi, dan manusia kini hidup untuk menjadi efisien alih-alih efisien demi hidup.
## **Arendt dan Hilangnya Dunia Tempat Tujuan Bersemayam**
Hannah Arendt menawarkan jalan masuk yang berbeda dan, menurut saya, sangat menerangi. Dalam *The Human Condition*, ia membedakan tiga modus aktivitas manusia: kerja (*labour*), karya (*work*), dan tindakan (*action*). Kerja adalah aktivitas yang melayani kelangsungan hidup biologis—kita makan agar bisa bekerja, kita bekerja agar bisa makan, sebuah siklus tanpa akhir dan tanpa hasil yang bertahan. Karya adalah pembuatan benda-benda yang bertahan, yang membangun dunia objektif tempat manusia tinggal: meja, rumah, karya seni, hukum—benda dan lembaga yang melampaui umur pembuatnya. Tindakan adalah aktivitas politik di antara manusia, tempat seseorang mengungkapkan siapa dirinya dan memulai sesuatu yang baru.
Tesis Arendt yang mengganggu adalah bahwa modernitas telah menjungkirkan hierarki ini. Masyarakat modern, katanya, adalah masyarakat pekerja—*a society of labourers*—di mana segala sesuatu dipandang melalui kacamata kerja dan konsumsi, siklus metabolik tanpa muara. Bahkan ketika kita tak lagi perlu bekerja sekeras dulu untuk bertahan hidup, kita tetap memandang seluruh hidup sebagai kerja, dan tak tahu apa yang harus dilakukan dengan waktu luang selain mengubahnya menjadi konsumsi. Dalam istilah pertanyaan kita: ketika kerja—yang secara hakikat bersifat instrumental dan siklis—menjadi modus dominan, maka tujuan menghilang dari cakrawala. Tak ada lagi sesuatu yang dilakukan demi dirinya sendiri; segala sesuatu menjadi demi sesuatu yang lain, dalam rantai instrumental yang tak pernah menyentuh tanah. Industri, dalam pembacaan Arendt, bukan sekadar mengeksploitasi manusia; ia mengikis dunia—jalinan benda dan lembaga bertahan tempat tujuan-tujuan manusiawi seharusnya bersemayam—dan menggantinya dengan aliran tak henti dari produksi-dan-konsumsi.
Yang berharga dari Arendt adalah ia menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata penderitaan, melainkan kehilangan makna pada tingkat yang lebih dalam. Bahkan andai semua pekerja diberi upah layak dan jam kerja manusiawi—andai eksploitasi dalam pengertian Marx dihapuskan—pertanyaan Arendt tetap berdiri: sudahkah kita kehilangan kapasitas untuk mengenali apa pun sebagai tujuan pada dirinya sendiri? Sudahkah seluruh hidup berubah menjadi sarana bagi sarana bagi sarana, dalam regresi tanpa akhir? Kemakmuran tidak menjawab pertanyaan ini. Boleh jadi ia justru memperdalamnya.
## **Suara-Suara Tandingan yang Harus Didengar**
Kejujuran intelektual menuntut kita memberi panggung sepenuhnya kepada mereka yang akan menolak seluruh kerangka di atas, dan menolaknya dengan argumen yang kuat, bukan dengan jerami yang mudah dirobohkan. Tradisi liberal-Pencerahan, yang bergema dari Adam Smith hingga para ekonom pembangunan masa kini, akan berkata begini: pembalikan yang Anda ratapi itu adalah ilusi seorang intelektual yang kekenyangan. Lihatlah angka-angkanya. Pada 1820, hampir sembilan dari sepuluh manusia di muka bumi hidup dalam kemiskinan ekstrem; hari ini kurang dari satu dari sepuluh. Harapan hidup berlipat ganda. Kematian ibu dan bayi yang dulu menjadi takdir kini menjadi pengecualian. Semua ini adalah buah industri. Berbicara tentang manusia sebagai sarana bagi tungku adalah kemewahan retoris yang hanya mungkin diucapkan oleh seseorang yang tungkunya telah memberinya makan, kesehatan, dan waktu luang untuk berfilsafat.
Lebih jauh, tradisi ini akan menunjuk pada otonomi yang justru diperluas oleh industri. Petani abad pertengahan tidak lebih bebas dari buruh pabrik; ia terikat pada tanah, pada tuan, pada musim, pada kelaparan yang datang setiap kali panen gagal. Modernitas industrial, dengan segala cacatnya, memberi manusia sesuatu yang belum pernah dimiliki sebagian besar leluhurnya: pilihan. Pilihan untuk pindah, untuk berganti pekerjaan, untuk membaca, untuk menjadi orang lain dari yang ditetapkan kelahiran. Friedrich Hayek akan menambahkan bahwa tatanan pasar, justru karena tak seorang pun mengaturnya menuju satu tujuan tunggal, melindungi kebebasan individu untuk mengejar tujuannya masing-masing—dan upaya menundukkan ekonomi pada satu “tujuan manusiawi” yang ditetapkan dari atas adalah jalan menuju perbudakan yang sesungguhnya. Pembalikan sarana-tujuan, bagi Hayek, justru terjadi ketika negara atau ideologi mengklaim mengetahui tujuan akhir bagi semua dan menundukkan jutaan individu pada rencananya.
Ada pula suara dari arah yang sama sekali berbeda—tradisi pragmatis dan humanis-teknologis yang menolak baik pesimisme Heidegger maupun nostalgia anti-industri. John Dewey akan berkata bahwa alat dan tujuan sebenarnya tak terpisah seperti yang kita bayangkan; mereka membentuk sebuah kontinum, di mana setiap tujuan yang tercapai menjadi sarana bagi tujuan berikutnya, dan inilah justru hakikat pertumbuhan manusia yang sehat, bukan patologi. Tidak ada “tujuan akhir” yang membeku; ada hanya proses tak henti dari pengalaman yang memperkaya pengalaman. Mengeluhkan bahwa industri tak membawa kita pada tujuan akhir, bagi Dewey, adalah salah memahami apa itu tujuan. Dan para humanis teknologi masa kini akan menambahkan: teknologi tidak punya esensi tunggal yang membingkai kita: ia plastis, dapat dibentuk, dan tugas kita bukan meratapinya melainkan merancangnya dengan lebih bijak. Determinisme Ellul dan Heidegger, kata mereka, adalah penyerahan diri yang berbahaya—ia melucuti tanggung jawab kita dengan berpura-pura bahwa tak ada yang bisa kita perbuat.
## **Mengadu Mazhab, Bukan Mendamaikannya**
Bila kita letakkan suara-suara ini berdampingan, yang muncul bukanlah satu jawaban melainkan sebuah medan ketegangan yang produktif, dan menahan ketegangan itu—alih-alih menyelesaikannya secara prematur—barangkali adalah satu-satunya sikap yang jujur. Marx dan kaum liberal sama-sama anak Pencerahan; keduanya percaya industri bisa membebaskan. Mereka berselisih bukan soal apakah pembalikan itu nyata, melainkan soal sebabnya: bagi Marx, relasi kepemilikan; bagi kaum liberal, justru campur tangan yang berusaha menaklukkan pasar pada satu tujuan. Keduanya, menariknya, menyimpan optimisme bahwa susunan yang tepat akan mengembalikan industri pada posisinya sebagai sarana.
Heidegger dan Ellul memutus optimisme itu. Bagi mereka, persoalannya bukan pada susunan melainkan pada hakikat—pada cara teknologi modern menyingkapkan dunia atau pada otonomi teknik yang tak terbendung. Tak ada penataan ulang kepemilikan, tak ada kebijakan, yang dapat menjangkau lapisan sedalam itu. Di sini mazhab kritis-fenomenologis bertabrakan keras dengan mazhab pragmatis: tempat Heidegger melihat takdir, Dewey melihat pilihan; tempat Ellul melihat otonomi teknik, para humanis melihat artefak yang menunggu dirancang ulang. Dan Arendt berdiri agak menyendiri, mengingatkan kita bahwa bahkan bila persoalan eksploitasi dan persoalan kepemilikan terpecahkan, masih tersisa persoalan yang lebih senyap: hilangnya kapasitas untuk mengenali tujuan sebagai tujuan, tergerusnya dunia tempat makna bisa berlabuh.
Saya kira kesalahan terbesar adalah memaksa salah satu mazhab menang. Sebab masing-masing menangkap sesuatu yang nyata. Kaum liberal benar bahwa industri telah meringankan penderitaan dalam skala yang tak tertandingi sejarah, dan mengabaikan ini adalah ketidakjujuran. Marx benar bahwa di balik kemakmuran agregat itu tersembunyi struktur yang memperlakukan manusia konkret sebagai sarana, dan bahwa siapa-mendapat-apa tak sama dengan siapa-melayani-siapa. Heidegger dan Ellul benar bahwa ada sesuatu dalam logika teknologi modern yang melampaui niat siapa pun, sesuatu yang membentuk persepsi kita sebelum kita sempat memilih. Dan Arendt benar bahwa bahaya terdalam bukanlah penderitaan melainkan kehampaan—dunia di mana segalanya berguna dan tak satu pun bernilai pada dirinya. Kebenaran-kebenaran ini tidak saling membatalkan. Mereka hidup berdampingan dalam ketegangan, dan barangkali pengalaman manusia industrial modern adalah pengalaman menghuni seluruh kebenaran ini sekaligus, tanpa bisa memilih.
## **Kegamangan Seorang Insinyur di Hadapan Tungku**
Izinkan saya menurunkan seluruh abstraksi ini ke dalam satu kesadaran tunggal, sebab di situlah pertanyaan filosofis menemukan beratnya yang sebenarnya. Bayangkan seorang insinyur—sebut saja namanya tak penting—yang bekerja merancang sistem efisiensi di sebuah kompleks pengolahan logam. Ia cerdas, terdidik, dan tak sinis. Ia percaya pada apa yang dikerjakannya: logam yang ia bantu olah akan menjadi baterai, baterai akan menggerakkan kendaraan listrik, kendaraan listrik akan mengurangi emisi, dan dunia akan sedikit lebih baik. Rantai tujuan itu nyata baginya, dan ia tak salah. Ada keindahan dalam pekerjaannya—keindahan sebuah sistem yang berjalan mulus, di mana setiap bagian menemukan tempatnya.
Namun pada suatu malam, ketika ia berdiri di lantai pabrik mengawasi rotasi shift, melihat tubuh-tubuh letih bergerak dalam ritme yang ia sendiri ikut rancang, sesuatu mengganggunya. Ia menyadari bahwa angka-angka efisiensi yang ia optimalkan—waktu siklus, keluaran per jam, pemanfaatan kapasitas—tak satu pun di antaranya mengandung kata “manusia.” Manusia masuk ke dalam perhitungannya hanya sebagai biaya tenaga kerja dan kendala keselamatan, dua variabel yang harus diminimalkan dan dipatuhi, bukan tujuan yang harus dilayani. Ia menyadari bahwa bila ia bisa mengganti seluruh pekerja dengan mesin yang lebih murah, kerangka kerjanya akan menuntutnya melakukan itu, dan ia akan dipuji karenanya. Tujuan yang ia layani, ketika ia jujur pada dirinya, bukanlah anak-anak para pekerja itu, bukan pula dunia yang lebih bersih—itu adalah cerita yang ia ceritakan pada dirinya sendiri di pagi hari. Tujuan yang sebenarnya ia layani, yang mengatur setiap keputusannya, adalah keluaran sistem itu sendiri.
Dan di sinilah kegamangannya menjadi tajam. Sebab ia tak bisa berhenti. Bila ia berhenti, sistem akan terus berjalan tanpa dia, mungkin dengan tangan yang kurang peduli. Bila ia mencoba memasukkan “manusia” ke dalam perhitungannya, ia akan kalah bersaing, dan kekalahannya tak akan menolong siapa pun. Ia terperangkap bukan oleh kejahatan melainkan oleh struktur—persis seperti yang dikatakan Marx, persis seperti otonomi teknik yang digambarkan Ellul. Ia melihat pembalikan itu dengan matanya sendiri, dan justru karena ia melihatnya, ia tahu betapa sulitnya melawannya. Pada saat yang sama, ia tak bisa sepenuhnya menyangkal suara liberal di dalam kepalanya: bukankah pekerja ini datang dengan sukarela, mengejar upah yang nyata-nyata memperbaiki hidup keluarganya? Bukankah ia, sang insinyur, memandang rendah otonomi mereka bila ia memutuskan dari menara gadingnya bahwa mereka sebenarnya tak bebas? Kegamangannya bukanlah ketidaktahuan tentang jawaban; ia tahu terlalu banyak jawaban, dan masing-masing membatalkan ketenangan yang ditawarkan yang lain.
Yang ingin saya tunjukkan lewat sosok ini adalah bahwa pertanyaan kita bukanlah teka-teki akademis yang bisa diselesaikan di kursi malas. Ia adalah luka yang dihidupi. Insinyur itu tidak menderita kekurangan—ia bergaji baik, dihormati, dan secara objektif termasuk yang beruntung. Penderitaannya, bila itu kata yang tepat, adalah penderitaan kesadaran yang menyaksikan dirinya menjadi sarana sekaligus menjadi agen yang menjadikan orang lain sarana, dan tak menemukan tempat berdiri di luar lingkaran itu. Ia adalah Marx, Heidegger, Arendt, dan Hayek yang bertengkar di dalam satu tengkorak, pada pukul tiga dini hari, di lantai sebuah pabrik yang tak pernah tidur.
## **Batas-Batas Renungan Ini Sendiri**
Sebelum menutup, kejujuran menuntut saya menunjuk pada keterbatasan esai ini, sebab esai yang berpura-pura telah menimbang segalanya justru telah menjadi sarana bagi keangkuhan penulisnya. Pertama, hampir seluruh kerangka pemikiran yang saya panggil lahir dari pengalaman industrial Barat—pabrik Manchester, perakitan Ford, birokrasi Eropa. Apakah kategori-kategori ini benar-benar pas untuk memikirkan kawasan industri di Sulawesi, di mana modal Tiongkok, hukum Indonesia, dan tenaga kerja yang baru kemarin agraris saling berkelindan dalam susunan yang tak persis seperti mana pun dari model Barat itu? Saya menduga tidak sepenuhnya pas, dan ketakpasan itu sendiri layak menjadi objek pemikiran yang belum saya lakukan di sini.
Kedua, esai ini berbicara tentang “manusia” dan “pekerja” dalam keumuman yang menyembunyikan perbedaan tajam. Pekerja tetap dengan kontrak dan pekerja harian tanpa jaminan menghuni dunia yang berbeda. Pekerja perempuan menanggung lapisan pembalikan yang tak saya sentuh. Dan seluruh ekonomi informal—pedagang, petani transisional, pekerja gig pada platform digital—yang di banyak negeri berkembang justru menjadi mayoritas, nyaris tak masuk ke dalam analisis yang dibangun di atas figur buruh pabrik. Pertanyaan tentang sarana dan tujuan boleh jadi berbeda bentuknya sama sekali bagi seorang pengemudi ojek daring yang algoritmanya mengatur tanpa pernah menjadi majikan dalam pengertian klasik.
Ketiga, dan ini paling mendasar, saya tak memiliki cara untuk membuktikan klaim sentral esai ini. “Industri telah menjadi tujuan” bukanlah proposisi yang bisa diuji dengan data. Ia adalah penafsiran, sebuah cara memandang, dan seseorang yang memandang dengan jujur dari sudut lain bisa melihat hal yang sebaliknya dengan keyakinan yang setara. Saya tidak berdiri di atas tanah yang lebih tinggi dari pembaca yang tidak setuju. Yang bisa saya tawarkan hanyalah undangan untuk melihat, bukan bukti yang memaksa.
## **Penutup: Sebuah Renungan, Bukan Putusan**
Maka saya tak akan menutup dengan jawaban, sebab pertanyaan ini bukan jenis pertanyaan yang ditutup dengan jawaban tanpa mengkhianati sifatnya sendiri. Saya akan menutup dengan kembali ke alarm di pagi hari, ke momen kecil tempat kita memulai.
Ketika alarm berbunyi besok pagi, barangkali kita bisa berhenti sejenak—satu detik saja, sebelum tangan meraih untuk mematikannya—dan bertanya: untuk siapa aku bangun? Pertanyaan itu tak menuntut jawaban yang benar. Ia hanya menuntut agar ditanyakan. Sebab boleh jadi pembalikan sarana dan tujuan yang paling dalam bukanlah yang terjadi di pabrik atau di pasar, melainkan yang terjadi di dalam diri kita ketika kita berhenti bertanya untuk apa kita melakukan apa yang kita lakukan—ketika hidup berjalan begitu mulus sebagai rangkaian sarana sehingga pertanyaan tentang tujuan terasa naif, terasa seperti kemewahan yang tak terjangkau, terasa seperti sesuatu yang dilakukan oleh orang lain di waktu lain.
Mungkin industri memang melayani kita. Mungkin ia memang telah menjadikan kita pelayannya. Mungkin—dan ini yang paling mengganggu—kedua hal itu benar sekaligus, dan kita menghuni keduanya tanpa pernah bisa berdiri di luar untuk menentukan mana yang lebih benar. Tungku itu memberi kita baterai dan mengisap waktu hidup kita; ia menyelamatkan anak-anak dari kemiskinan dan membalik siang-malam tubuh para ayah. Tak ada neraca yang bisa menjumlahkan ini menjadi satu angka bersih.
Yang tersisa, kalau begitu, bukanlah jawaban melainkan kewaspadaan. Suatu kesediaan untuk terus bertanya untuk siapa tungku menyala, walau pertanyaan itu tak pernah terjawab tuntas, walau ia membuat tidur kita kurang nyenyak. Sebab boleh jadi satu-satunya cara untuk tidak sepenuhnya menjadi sarana adalah dengan menolak berhenti bertanya apakah kita sedang menjadi sarana—dengan menjaga di dalam diri sebuah ruang kecil yang tak terjangkau efisiensi, tempat pertanyaan tentang tujuan masih boleh diucapkan, bahkan ketika seluruh dunia di sekeliling kita telah lama berhenti menanyakannya.
Alarm berbunyi. Kita bangun. Untuk siapa, hari ini, kita bangun?
—
## **Catatan untuk Bacaan Lanjutan**
Siapa pun yang ingin menyelami pembalikan antara kerja hidup dan kerja mati sebaiknya mulai dari Karl Marx sendiri, terutama jilid pertama *Capital*, tempat metafora vampir itu muncul, namun barangkali lebih mudah ditembus lewat *Economic and Philosophic Manuscripts of 1844* yang masih muda dan berapi-api, tempat konsep alienasi dirumuskan dengan kehangatan yang kelak memudar dalam karya-karya matangnya. Bagi yang ingin Marx yang dijernihkan untuk pembaca masa kini, esai-esai Harry Braverman dalam *Labor and Monopoly Capital* memperlihatkan bagaimana logika itu bekerja di lantai pabrik abad kedua puluh.
Untuk Heidegger, satu-satunya pintu masuk adalah esai pendeknya yang sukar namun tak tergantikan, *The Question Concerning Technology*, tempat konsep *Gestell* dan gambaran sungai-sebagai-cadangan-tenaga itu berasal. Esai ini menuntut kesabaran dan sebaiknya dibaca berulang; pembaca yang merasa tersesat bisa berpegangan pada pengantar Hubert Dreyfus yang dengan sabar menerjemahkan kerumitan Heidegger ke dalam bahasa yang lebih bersahabat. Berdampingan dengannya, *The Technological Society* karya Jacques Ellul memberikan versi yang lebih sosiologis dan, bagi banyak orang, lebih langsung menusuk—meski determinismenya yang gelap perlu dibaca dengan kewaspadaan kritis.
Hannah Arendt menulis *The Human Condition* sebagai salah satu meditasi paling tajam abad kedua puluh tentang apa yang hilang ketika kerja menelan karya dan tindakan; pembedaan antara *labour*, *work*, dan *action* yang saya pinjam berasal dari sana, dan saya hanya menyentuh permukaannya. Mereka yang tertarik pada gema kontemporer Arendt akan menemukan David Graeber dalam *Bullshit Jobs* membawa pertanyaannya ke dunia kerja kantoran masa kini dengan humor yang menyamarkan keseriusannya.
Di sisi seberang, tak ada pembelaan industri dan pasar yang lebih elegan daripada Friedrich Hayek dalam *The Road to Serfdom* dan, lebih dalam lagi, *The Constitution of Liberty*; membacanya adalah obat penawar yang sehat bagi siapa pun yang terlalu cepat yakin pada kritik anti-industri. Untuk gambaran besar tentang berapa banyak penderitaan yang diringankan industri, karya-karya pengumpul data seperti Max Roser dan kolaboratornya layak ditengok, meski angka selalu perlu dibaca bersama pertanyaan tentang apa yang tak terhitung. Dan bagi yang ingin keluar dari kebuntuan antara pesimisme Heidegger dan optimisme pasar, John Dewey dalam *Experience and Nature* serta para pemikir filsafat teknologi pasca-fenomenologis seperti Don Ihde dan Peter-Paul Verbeek menawarkan jalan ketiga yang memandang teknologi sebagai sesuatu yang masih bisa kita bentuk.
Akhirnya, bagi yang ingin memikirkan pertanyaan ini bukan dari Eropa melainkan dari tepian Asia tempat industri mendarat belakangan dan dengan caranya sendiri, masih sedikit sekali yang tertulis, dan kekosongan itu sendiri adalah undangan. Karya-karya tentang ekonomi politik nikel di Indonesia, tentang model akumulasi industrial Tiongkok di luar negerinya, dan tentang pengalaman buruh di kawasan-kawasan ekonomi khusus menunggu untuk dibaca berdampingan dengan para filsuf Barat di atas—bukan untuk menerapkan teori mereka secara mentah, melainkan untuk menguji sampai di mana teori itu patah dan di mana ia perlu ditulis ulang dari pengalaman yang belum pernah mereka kenal.
