Apa hubungan filosofis antara kedaulatan nasional dan industrialisasi; Bisakah suatu negara benar-benar berdaulat tanpa basis industri strategis?

Apakah sebuah bangsa bisa memerintah dirinya sendiri jika ia tak bisa membuat apa pun sendiri?*

Pada suatu sore yang biasa-biasa saja, di sebuah ruang rapat dengan pendingin udara yang terlalu dingin di sebuah kementerian, seorang pejabat menengah—sebut saja namanya Raka—diminta menandatangani sebuah dokumen pengadaan. Isinya sederhana: negara akan membeli sistem persenjataan dari pemasok asing, lengkap dengan klausul bahwa setiap perbaikan, setiap pembaruan perangkat lunak, setiap suku cadang, harus melewati persetujuan pihak penjual. Raka tahu tanda tangannya hanya formalitas; keputusan sudah diambil jauh di atasnya. Tetapi malam itu, di perjalanan pulang yang macet, sebuah pikiran yang tidak nyaman menempel padanya dan tak mau pergi. Negaranya, yang ia layani dengan sungguh-sungguh, yang bendera dan lagu kebangsaannya membuat dadanya hangat setiap upacara, baru saja menukar sepotong kemampuannya untuk bertindak sendiri dengan sepotong keamanan yang dipinjam. Apakah itu masih kedaulatan? Atau apakah ia, tanpa sadar, baru saja menjadi juru tulis bagi sebuah kemerdekaan yang sebenarnya sudah lama tergadai?

Pertanyaan yang menghantui Raka bukan pertanyaan teknis. Ia tidak bisa dijawab dengan kalkulasi anggaran atau analisis rantai pasok. Ia adalah pertanyaan filosofis yang sudah setua negara modern itu sendiri, dan ia menyentuh urat nadi paling sensitif dari apa yang kita maksudkan ketika kita mengucapkan kata “berdaulat”: Apakah hubungan filosofis antara kedaulatan nasional dan industrialisasi? Bisakah suatu negara benar-benar berdaulat tanpa basis industri yang strategis? Pertanyaan ini terdengar abstrak, tetapi ia memiliki tubuh. Ia hidup di galangan kapal, di tungku peleburan nikel, di jalur perakitan semikonduktor, di laboratorium farmasi. Dan ia hidup, malam itu, di kepala seorang Raka yang tidak bisa tidur.

## **Dua kata yang menolak bertemu**

Untuk memahami mengapa pertanyaan ini begitu mengganggu, kita harus mulai dengan mengakui bahwa “kedaulatan” dan “industrialisasi” datang dari dua dunia konseptual yang sangat berbeda, dan keduanya, pada mulanya, tidak dirancang untuk bertemu.

Kedaulatan adalah konsep hukum dan teologis-politik. Ia lahir dari rahim Eropa yang berdarah-darah pada abad keenam belas dan ketujuh belas, dirumuskan dengan paling tajam oleh Jean Bodin dan kemudian Thomas Hobbes sebagai jawaban atas kekacauan perang agama. Kedaulatan, bagi Bodin, adalah *summa potestas*—kekuasaan tertinggi yang tidak tunduk pada kekuasaan lain, kemampuan untuk membuat hukum tanpa harus meminta izin. Ia adalah konsep tentang *kehendak*: siapa yang pada akhirnya berhak memutuskan. Pada 1648, Perdamaian Westphalia mengubah gagasan ini menjadi prinsip penataan dunia: setiap negara adalah tuan di rumahnya sendiri, dan tidak ada yang boleh ikut campur. Kedaulatan, dalam pengertian ini, adalah sesuatu yang dimiliki atau tidak dimiliki—sebuah status hukum, sebuah garis di peta, sebuah kursi di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Industrialisasi adalah konsep yang sama sekali lain. Ia bukan tentang kehendak melainkan tentang *kapasitas*. Ia adalah cerita tentang batu bara dan baja, tentang mesin uap dan jalur perakitan, tentang transformasi material dari masyarakat agraris ke masyarakat yang mampu menggandakan kekuatan otot manusia berlipat-lipat melalui mesin. Industrialisasi tidak peduli pada legitimasi atau pengakuan; ia peduli pada apa yang sesungguhnya bisa kau lakukan, kau buat, kau ubah. Sebuah negara bisa secara hukum berdaulat sepenuhnya dan secara industrial tidak berdaya sama sekali. Pertanyaannya yang sesungguhnya adalah: apakah kedua kata ini, yang lahir terpisah, ternyata diam-diam menikah?

Inilah ketegangan inti yang membuat Raka tidak bisa tidur. Di atas kertas, negaranya berdaulat penuh. Tetapi di lapangan, kehendaknya untuk bertindak—untuk memperbaiki sistem senjatanya sendiri, untuk memproduksi obatnya sendiri, untuk memberi makan rakyatnya tanpa bergantung pada belas kasihan pasar dunia—ternyata terbatas oleh apa yang tidak bisa ia buat. Apakah kedaulatan yang tidak bisa menjelma menjadi kapasitas hanyalah sebuah dokumen yang ditandatangani dengan tinta yang sudah kering?

## **Mazhab realis: kedaulatan adalah kemampuan untuk bertahan**

Tradisi pemikiran pertama yang menjawab pertanyaan Raka dengan paling lugas adalah tradisi yang bisa kita sebut realisme merkantilis, dan nabinya yang paling jelas adalah Friedrich List, ekonom Jerman abad kesembilan belas yang menulis *Sistem Nasional Ekonomi Politik* sebagai bantahan langsung terhadap perdagangan bebas Adam Smith.

Argumen List sederhana dan brutal. Kekayaan, katanya, bukanlah tujuan akhir; kemampuan untuk menciptakan kekayaan jauh lebih penting daripada kekayaan itu sendiri. Sebuah bangsa yang menjual bahan mentahnya dan membeli barang jadi mungkin terlihat makmur untuk sementara, tetapi ia telah menyerahkan “kekuatan produktif”-nya kepada bangsa lain. Dan kekuatan produktif itulah, bagi List, sumber sejati dari kemerdekaan politik. Negara yang tidak mampu memproduksi industri strategisnya sendiri akan selamanya menjadi vasal, betapapun megah istana kepresidenannya. List menulis untuk Jerman yang masih terpecah dan tertinggal dari Inggris, dan pesannya kepada bangsanya adalah: lindungi industri mudamu, bangun kapasitasmu, baru kemudian bicara tentang perdagangan bebas dari posisi yang setara.

Dalam tradisi yang sama, meski dengan nada yang lebih kelam, berdiri para pemikir geopolitik dan realis hubungan internasional. Bagi seorang realis sejati, kedaulatan tanpa kekuatan material adalah sekadar fiksi hukum yang akan diuji dan dihancurkan pada saat krisis pertama. Sejarah, kata mereka, adalah kuburan bagi negara-negara yang berdaulat di atas kertas tetapi tak berdaya di lapangan. Pikirkan negara-negara yang kehilangan kemampuan memproduksi pangan, energi, atau senjatanya sendiri—mereka mengetahui, pada saat embargo atau blokade, bahwa kedaulatan yang tidak ditopang oleh pabrik hanyalah undangan untuk pemerasan.

Pandangan kontemporer tentang “otonomi strategis” pada dasarnya adalah List yang berbicara dalam bahasa abad kedua puluh satu. Ketika Uni Eropa, setelah guncangan pandemi dan perang serta tekanan dagang, mulai berbicara tentang mendesain, memproduksi, dan mengamankan teknologi-teknologi kunci di dalam negeri atau di dalam jaringan yang terpercaya sebagai sesuatu yang kini vital bagi kekuatan nasional, mereka sedang mengulang argumen List. Begitu pula ketika para analis memperingatkan bahwa mengejar otonomi strategis datang dengan rangkaian tantangannya sendiri—ia bisa mahal dan rumit secara politis, kadang tidak efisien secara ekonomi. Bagi mazhab ini, jawaban atas pertanyaan Raka tegas: tidak, sebuah negara tidak bisa benar-benar berdaulat tanpa basis industri strategis, sebab kedaulatan pada hakikatnya adalah kemampuan untuk bertahan ketika dunia berubah memusuhimu.

## **Mazhab liberal: kedaulatan adalah hak, bukan otot**

Tetapi ada tradisi yang menolak keras kesimpulan ini, dan ia tidak kalah tua atau kalah mulia. Tradisi liberal, yang berakar pada Adam Smith dan David Ricardo dan terus hidup dalam pemikiran ekonomi arus utama, memandang obsesi terhadap industri domestik sebagai kekeliruan kategori yang mahal dan, pada akhirnya, melemahkan.

Logikanya berputar pada gagasan keunggulan komparatif Ricardo. Jika setiap negara memproduksi apa yang paling efisien ia produksi dan memperdagangkan sisanya, maka kesejahteraan total meningkat untuk semua. Memaksakan industrialisasi di sektor di mana sebuah negara tidak memiliki keunggulan alamiah berarti membakar sumber daya, menyubsidi inefisiensi, dan menghukum rakyat sendiri dengan barang yang lebih mahal dan lebih buruk. Bagi liberal, kedaulatan sejati justru terletak pada kemerdekaan untuk memilih—termasuk kemerdekaan untuk memilih saling bergantung. Ketergantungan yang dibangun di atas saling menguntungkan bukanlah perbudakan; ia adalah jaringan yang menstabilkan dunia.

Lebih jauh, tradisi liberal menunjukkan paradoks dalam argumen realis. Sebuah negara yang mengisolasi dirinya demi “kemandirian industri” sering kali justru menjadi lebih rapuh, bukan lebih kuat—terkunci dalam teknologi yang ketinggalan, terputus dari arus inovasi global, dibebani oleh industri zombi yang hanya hidup karena subsidi. Kedaulatan, dalam pandangan ini, bukanlah benteng melainkan kemampuan untuk berpartisipasi dalam dunia sebagai aktor yang dihormati. Para pendukung “otonomi strategis terbuka” mencoba menjembatani: gagasan bahwa kedaulatan teknologis tidak berarti keharusan mengejar otonomi teknologis yang lengkap yang menantang pembagian kerja internasional, melainkan sekadar mengurangi ketergantungan sepihak pada titik-titik yang paling kritis.

Bagi mazhab ini, kekhawatiran Raka adalah romantisme yang berbahaya. Tanda tangannya pada dokumen pengadaan bukanlah penyerahan kedaulatan; ia adalah pelaksanaan kedaulatan—keputusan rasional sebuah negara berdaulat untuk mengalokasikan sumber dayanya secara cerdas alih-alih membuang miliaran demi kebanggaan memproduksi sendiri sesuatu yang bisa dibeli lebih baik dan lebih murah dari orang lain.

## **Mazhab kritis: industrialisasi sebagai bentuk baru penjajahan**

Lalu datang sebuah suara yang mengganggu kedua kubu sebelumnya, suara yang lahir dari pengalaman dunia yang dijajah dan kemudian “dimerdekakan.” Tradisi kritis—dari teori ketergantungan Amerika Latin, dari analisis sistem-dunia, dari pemikiran pascakolonial—mengajukan pertanyaan yang lebih tajam: kedaulatan untuk siapa, dan industrialisasi atas dasar apa?

Para teoretikus ketergantungan seperti Raúl Prebisch dan Andre Gunder Frank mengamati bahwa tatanan ekonomi global tidak netral. Ia terbagi menjadi pusat yang memproduksi barang bernilai tinggi dan pinggiran yang memasok bahan mentah, dan pembagian ini terus mereproduksi dirinya sendiri. Sebuah negara pinggiran yang “diizinkan” berindustrialisasi sering kali hanya menjadi tempat perakitan—pabrik yang teknologinya, modalnya, dan keuntungannya dimiliki orang lain. Dalam pandangan ini, sekadar memiliki pabrik di tanahmu bukanlah kedaulatan; ia bisa jadi justru bentuk paling mutakhir dari ketergantungan, di mana tubuhmu lelah dan tanahmu rusak sementara nilai mengalir keluar.

Di sinilah pengalaman tempat seperti sabuk nikel di Sulawesi atau zona-zona ekonomi khusus di seluruh dunia berkembang menjadi sangat instruktif. Sebuah kawasan industri raksasa bisa berdiri megah di tanah sebuah negara berdaulat, mempekerjakan puluhan ribu orang, mengekspor bernilai miliaran dolar—dan tetap menjadi semacam enklave, di mana hukum bekerja secara berbeda, di mana modal dan teknologi dan keputusan strategis berada di tempat lain, dan di mana rakyat lokal menanggung biaya lingkungan dan sosial sementara surplus terbang melintasi lautan. Apakah ini kedaulatan industrial? Atau apakah ini kedaulatan yang disewakan?

Tradisi kritis juga mengingatkan kita pada sesuatu yang sering dilupakan baik oleh realis maupun liberal: bahwa kategori “industri strategis” itu sendiri dibentuk oleh struktur kekuasaan global. Negara-negara yang sudah maju mendefinisikan apa yang dianggap “strategis,” dan kemudian menggunakan rezim perdagangan, hak kekayaan intelektual, dan kontrol teknologi untuk memastikan bahwa pendatang baru tidak pernah benar-benar mengejar. Bagi mazhab ini, pertanyaan Raka harus diperluas: bukan hanya “bisakah kita berdaulat tanpa industri” tetapi “industri macam apa yang sungguh-sungguh memerdekakan, dan industri macam apa yang hanya memindahkan rantai dari pergelangan tangan ke leher.”

## **Mazhab republikan: kebebasan sebagai ketiadaan dominasi**

Ada satu tradisi lagi yang menawarkan, menurut saya, lensa paling tajam untuk memahami mengapa pertanyaan Raka terasa begitu mendesak secara moral, bukan hanya strategis. Itu adalah tradisi republikan, yang dihidupkan kembali dalam filsafat politik kontemporer oleh pemikir seperti Philip Pettit dan Quentin Skinner.

Bagi tradisi republikan, kebebasan bukanlah sekadar ketiadaan campur tangan—seperti yang dipikirkan kaum liberal—melainkan ketiadaan *dominasi*. Seorang budak yang kebetulan memiliki tuan yang baik hati dan tidak pernah mencampuri hidupnya tetaplah tidak bebas, sebab ia hidup di bawah kekuasaan sewenang-wenang orang lain yang sewaktu-waktu bisa berubah. Kebebasan sejati menuntut bahwa tidak ada yang memegang kemampuan untuk mendominasimu, terlepas dari apakah kemampuan itu sedang digunakan atau tidak.

Terapkan lensa ini pada pertanyaan Raka dan segalanya menjadi terang benderang. Negaranya mungkin tidak sedang dirugikan oleh pemasok asing itu. Hubungannya mungkin ramah, kontraknya mungkin adil. Tetapi selama negara lain memegang kemampuan untuk mematikan sistem senjatanya, menghentikan pasokan obatnya, atau memutus aliran komponen kritisnya—maka negara itu hidup dalam kondisi dominasi, persis seperti budak dengan tuan yang baik hati. Industrialisasi strategis, dalam kerangka ini, bukanlah soal otarki atau kebanggaan nasional. Ia adalah soal memastikan bahwa tidak ada kekuatan asing yang memegang kunci yang bisa, kapan pun mereka mau, mengubah dirimu dari mitra menjadi sandera.

Inilah, saya kira, sumber sebenarnya dari kegelisahan Raka. Ia tidak takut bahwa pemasok itu akan berkhianat besok. Ia merasa, secara samar tetapi mendalam, bahwa negaranya kini hidup di bawah bayang-bayang kemungkinan dominasi—dan bahwa ini, entah bagaimana, mencederai sesuatu yang lebih dalam daripada kalkulasi untung-rugi. Tanda tangannya bukan transaksi; ia adalah pengakuan, yang tertulis dengan tinta, atas sebuah ketergantungan yang ia tak punya kuasa untuk menolaknya.

## **Ketika kapasitas dan kehendak bertukar tempat**

Mari kita kembali sejenak pada ketegangan konseptual awal: kedaulatan sebagai kehendak, industrialisasi sebagai kapasitas. Apa yang membuat persoalan ini begitu sulit adalah bahwa dalam dunia nyata, keduanya terus-menerus saling mengubah bentuk satu sama lain.

Kapasitas yang tidak ada membatasi kehendak. Sebuah negara bisa secara hukum memutuskan apa saja, tetapi jika ia tidak bisa membuat vaksin pada saat pandemi, kehendaknya untuk melindungi rakyatnya menjadi mandul. Di sini, mazhab realis dan republikan benar: tanpa kapasitas, kedaulatan menyusut menjadi gestur kosong. Tetapi sebaliknya juga berlaku, dan inilah yang sering dilupakan: kapasitas yang menelan terlalu banyak kehendak juga merusak kedaulatan. Sebuah negara yang menggadaikan masa depan fiskalnya, menindas buruhnya, atau menghancurkan lingkungannya demi membangun industri strategis dengan segala cara, bisa berakhir dengan pabrik-pabrik megah tetapi rakyat yang tidak lagi bisa mengenali negara itu sebagai milik mereka. Kedaulatan, pada akhirnya, bukan hanya kedaulatan negara terhadap negara lain; ia juga kedaulatan rakyat atas negaranya sendiri.

Di sinilah keempat mazhab itu sebenarnya saling membutuhkan, meski mereka tampak bertengkar. Realis mengingatkan kita bahwa dunia keras dan kapasitas itu penting. Liberal mengingatkan bahwa isolasi membunuh dan saling-bergantung bisa menjadi kekuatan. Mazhab kritis mengingatkan bahwa tidak semua industri membebaskan, dan bahwa struktur global tidak netral. Dan republikan memberi kita ukuran moral untuk menilai semuanya: pertanyaannya bukan seberapa banyak yang kita buat, melainkan apakah ada orang lain yang memegang kuasa untuk mendominasi kita melalui apa yang tidak bisa kita buat.

## **Kegamangan yang tak terselesaikan**

Berbulan-bulan setelah malam tanpa tidur itu, Raka masih memikirkannya. Ia telah membaca, telah berdebat dengan dirinya sendiri, telah mencoba setiap mazhab seperti orang mencoba mantel di toko. Dan ia menemukan, dengan semacam keputusasaan yang aneh, bahwa setiap mazhab benar dalam sesuatu dan tak satu pun yang sepenuhnya menenangkan hatinya.

Ketika ia membaca List dan para realis, ia merasa darahnya bergolak: ya, bangsaku harus kuat, harus mampu, harus tak tergantung. Tetapi kemudian ia melihat anggaran—angka-angka yang akan diperlukan untuk membangun setiap kapasitas strategis dari nol, biaya yang akan ditanggung oleh sekolah-sekolah yang tak terbangun dan rumah sakit yang tak teralat—dan suara liberal dalam dirinya berbisik: bukankah ini kebanggaan yang dibayar dengan penderitaan rakyat? Lalu ketika ia hampir menyerah pada logika perdagangan bebas, suara mazhab kritis menamparnya: lihatlah enklave-enklave itu, lihatlah nilai yang terbang keluar, dan tanyakan apakah “saling bergantung” itu pernah benar-benar setara. Dan di tengah semua itu, suara republikan terus berdengung, dingin dan tak terbantah: selama orang lain memegang kuncinya, kau tidak bebas, betapapun nyaman penjaramu.

Yang paling mengganggu Raka bukanlah ketidaktahuannya, melainkan kesadaran bahwa pertanyaan ini mungkin tidak punya jawaban yang bersih. Bahwa menjadi pejabat sebuah negara berkembang di abad kedua puluh satu berarti hidup secara permanen di dalam ketegangan ini—terlalu lemah untuk mandiri sepenuhnya, terlalu sadar untuk percaya bahwa ketergantungan itu tak berbahaya, terlalu terikat pada rakyatnya untuk mengorbankan mereka demi abstraksi kedaulatan. Ia menyadari bahwa setiap tanda tangan yang ia bubuhkan adalah sebuah taruhan moral yang tidak bisa ia hitung sepenuhnya: berapa banyak kemandirian yang layak dibeli, dengan harga berapa, dan kemandirian dari siapa.

Mungkin, pikir Raka pada akhirnya, kedaulatan bukanlah sesuatu yang kau miliki atau tidak kau miliki, seperti yang diajarkan buku hukum. Mungkin ia lebih menyerupai kesehatan tubuh—sesuatu yang harus terus-menerus dirawat, yang tak pernah sempurna, yang selalu rentan, dan yang justru paling terasa keberadaannya ketika ia mulai hilang. Dan mungkin industrialisasi bukanlah jaminan kedaulatan maupun pengkhianatan terhadapnya, melainkan salah satu dari sekian banyak organ dalam tubuh itu—organ yang penting, bahkan vital, tetapi yang tidak bisa menggantikan jantung, yaitu kehendak sebuah rakyat untuk memerintah dirinya sendiri dengan cara yang mereka anggap layak.

Raka tidak menemukan jawaban malam itu, atau malam-malam sesudahnya. Tetapi ia menemukan sesuatu yang mungkin lebih jujur daripada jawaban: sebuah cara untuk tetap berdiri di dalam pertanyaan tanpa berpura-pura telah melampauinya. Ia belajar untuk memandang setiap dokumen pengadaan bukan sebagai formalitas, melainkan sebagai sebuah pertanyaan kecil yang mengandung pertanyaan besar—dan untuk menahan, dalam dirinya, ketidaknyamanan yang menolak diredam itu. Sebab barangkali itulah yang membedakan seorang pelayan negara yang sadar dari sekadar juru tulis: bukan kemampuan menjawab pertanyaan tentang kedaulatan, melainkan keberanian untuk terus merasakan beratnya.



## **Catatan untuk bacaan lanjutan**

Siapa pun yang ingin menyusuri persoalan ini lebih jauh sebaiknya mulai dari sumbernya yang paling tua. Gagasan kedaulatan sebagai kekuasaan tertinggi yang tak terbagi dirumuskan oleh Jean Bodin dalam *Six livres de la République* (1576) dan kemudian dipertajam oleh Thomas Hobbes dalam *Leviathan* (1651)—dua teks yang, meski berat, tetap menjadi fondasi bagi hampir semua perdebatan modern tentang siapa yang berhak memutuskan. Untuk memahami bagaimana kedaulatan menjadi prinsip penataan dunia melalui Perdamaian Westphalia, karya-karya sejarawan hubungan internasional seperti tulisan Stephen Krasner, terutama *Sovereignty: Organized Hypocrisy* (1999), memberi koreksi yang menyegarkan terhadap mitos Westphalia itu sendiri.

Argumen bahwa kapasitas produktif adalah syarat kemerdekaan politik menemukan ekspresinya yang paling berapi-api dalam *Das nationale System der politischen Ökonomie* (1841) karya Friedrich List—sebuah buku yang ditulis dengan semangat seorang patriot yang melihat bangsanya tertinggal, dan yang argumennya terus bergema dalam setiap kebijakan industri proteksionis hingga hari ini. Pembaca yang ingin melihat warisan List dalam pemikiran pembangunan kontemporer dapat menelusuri karya Ha-Joon Chang, khususnya *Kicking Away the Ladder* (2002), yang dengan jenaka menunjukkan bagaimana negara-negara kaya menendang jauh tangga yang dahulu mereka panjat sendiri.

Di kutub yang berseberangan berdiri tradisi liberal klasik. *The Wealth of Nations* (1776) karya Adam Smith dan *On the Principles of Political Economy and Taxation* (1817) karya David Ricardo tetap menjadi rujukan tak terhindarkan bagi siapa pun yang ingin memahami mengapa para ekonom begitu skeptis terhadap obsesi memproduksi segala sesuatu sendiri. Untuk versi kontemporer perdebatan ini—yang kini berlangsung dalam bahasa “otonomi strategis” dan “kedaulatan teknologis”—laporan dan tulisan dari lembaga seperti Atlantic Council tentang kedaulatan digital Eropa, serta debat akademis seputar konsep *open strategic autonomy* di jurnal-jurnal ekonomi industri, menawarkan peta yang baik tentang bagaimana ketegangan lama ini menjelma dalam kebijakan abad kedua puluh satu.

Mereka yang merasa kedua tradisi di atas terlalu nyaman dengan tatanan yang ada akan menemukan rumah pada tradisi kritis. Teori ketergantungan paling baik didekati melalui tulisan Raúl Prebisch dan karya provokatif Andre Gunder Frank, sementara kerangka yang lebih luas tersedia dalam *The Modern World-System* karya Immanuel Wallerstein. Untuk pembacaan yang lebih membumi pada pengalaman pinggiran—termasuk realitas buruh, zona enklave, dan ekstraksi sumber daya yang sering luput dari literatur yang didominasi perspektif Barat—karya David Harvey tentang akumulasi melalui perampasan dalam *The New Imperialism* (2003) memberi alat analisis yang tajam.

Akhirnya, bagi pembaca yang ingin alat untuk menilai semua ini secara moral dan bukan sekadar strategis, tradisi republikan tak tergantikan. *Republicanism: A Theory of Freedom and Government* (1997) karya Philip Pettit memberi rumusan paling jernih tentang kebebasan sebagai ketiadaan dominasi, sebuah gagasan yang, begitu kau pahami, akan mengubah cara kau membaca setiap kontrak, setiap aliansi, dan setiap ketergantungan—termasuk, barangkali, ketergantungan yang sedang kau tandatangani sendiri.



## **Pengakuan atas keterbatasan tulisan ini**

Esai ini, seperti semua esai yang mencoba memetakan medan yang luas, dibangun di atas penyederhanaan yang perlu diakui secara jujur. Pertama, ia memperlakukan empat “mazhab” seolah-olah mereka kubu yang rapi dan internally koheren, padahal di dalam masing-masing terdapat perdebatan sengit; tidak semua realis sependapat, tidak semua liberal seragam, dan tradisi kritis maupun republikan memuat percabangan yang tak sempat diuraikan di sini. Kategorisasi ini adalah alat bantu pikir, bukan peta yang akurat.

Kedua, esai ini berbicara tentang “negara” dan “kedaulatan” seolah-olah negara adalah aktor tunggal dengan satu kehendak, padahal dalam kenyataan negara adalah arena pertarungan kepentingan—antara elite dan rakyat, antara pusat dan daerah, antara modal dan buruh. Kegamangan Raka adalah kegamangan seorang individu di dalam birokrasi; ia tidak mewakili, dan tidak bisa mewakili, kompleksitas penuh dari bagaimana keputusan kedaulatan sesungguhnya dibuat dan untuk kepentingan siapa.

Ketiga, dan barangkali yang paling penting, esai ini lemah dalam dimensi empiris. Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan besar tetapi tidak menyajikan data komparatif sistematis tentang negara mana yang berhasil membangun kedaulatan melalui industrialisasi dan mana yang gagal, dengan biaya berapa, dan dalam kondisi struktural seperti apa. Pertanyaan tentang apakah industrialisasi strategis *benar-benar* menghasilkan kedaulatan, atau sekadar memindahkannya, pada akhirnya adalah pertanyaan empiris sebanyak ia pertanyaan filosofis—dan jawaban yang memadai menuntut studi kasus yang cermat yang berada di luar jangkauan refleksi ini.

Terakhir, ada suara-suara yang nyaris tak terdengar di sini: buruh informal, pekerja transisi agraris, mereka yang hidup di ekonomi gig digital, dan penduduk lokal yang tanahnya menjadi lokasi pembangunan tetapi suaranya jarang masuk dalam perhitungan “kepentingan nasional.” Setiap diskusi tentang kedaulatan dan industri yang tidak menempatkan mereka di pusat berisiko menjadi percakapan elite tentang nasib orang lain. Pengakuan ini tidak menebus ketiadaan mereka dalam esai ini—ia hanya menandainya, sebagai utang yang belum dibayar.

Discover more from bolakayu.id

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading