Bagaimana strategi industrialisasi berbasis nikel dapat bertahan jika terjadi perubahan teknologi baterai global?

Crowd of steel mill workers leaving a factory area with industrial buildings and smokestacks

## I. Premis yang Mulai Goyah

Selama hampir setengah dekade, narasi hilirisasi nikel Indonesia dibangun di atas satu asumsi yang terdengar nyaris pasti: dunia akan membutuhkan nikel dalam jumlah masif untuk menggerakkan transisi kendaraan listrik, dan Indonesia—pemilik cadangan terbesar di planet ini—berada pada posisi untuk menangkap nilai dari kebutuhan itu di dalam negeri. Asumsi tersebut tidak sepenuhnya keliru. Sejak larangan ekspor bijih nikel diberlakukan penuh pada 2020, perekonomian Indonesia tercatat tumbuh sekitar 32 persen hingga 2024, sementara pangsa negara ini dalam produksi nikel global melonjak hingga sekitar 58–60 persen (CSIS, 2025; Investing News Network, 2025). Investasi asing langsung melonjak, kawasan-kawasan industri tumbuh di Sulawesi dan Maluku Utara, dan istilah “hilirisasi” berpindah dari jargon teknokratik menjadi doktrin pembangunan nasional.

Namun di balik angka-angka yang mengesankan itu, fondasi strategis tersebut mulai memperlihatkan keretakan. Premis bahwa permintaan nikel untuk baterai akan tumbuh tanpa henti kini bertabrakan dengan satu kenyataan yang berkembang lebih cepat daripada yang diperkirakan banyak perencana: kimia baterai dunia sedang berubah, dan sebagian besar arah perubahannya justru menjauh dari nikel. Pertanyaan yang dahulu terasa hipotetis kini menjadi mendesak. Bagaimana strategi industrialisasi yang dibangun di atas satu komoditas dapat bertahan apabila justru keunggulan komoditas itu yang tergerus oleh inovasi teknologi?

Tulisan ini berupaya menelaah pertanyaan tersebut secara terstruktur—bukan sebagai ramalan, melainkan sebagai pemetaan terhadap kerentanan, asumsi, dan opsi-opsi adaptif yang tersedia. Analisis dibingkai dari perspektif pengamat: menyajikan data sektor, mengurai dinamika pasar global, dan mengevaluasi sejauh mana arsitektur kebijakan saat ini siap menghadapi guncangan teknologis yang sebagiannya sudah terjadi.

## II. Anatomi Sebuah Ketergantungan

Untuk memahami kerentanan, terlebih dahulu perlu dipahami struktur rantai nilai nikel itu sendiri. Rantai ini lazimnya dibagi menjadi tiga segmen: hulu berupa bijih dan konsentrat; tengah berupa *nickel matte* dan nikel olahan (*refined nickel*); serta hilir yang bercabang menjadi dua arah berbeda—baterai kendaraan listrik di satu sisi dan baja nirkarat (*stainless steel*) di sisi lain (Delfirman & Dzaki, 2025). Pembedaan ini penting karena kedua jalur hilir tersebut memiliki logika ekonomi dan tingkat kompleksitas teknologi yang sama sekali berbeda.

Jalur baja nirkarat memanfaatkan bijih saprolit berkadar tinggi yang diolah melalui teknologi *Rotary Kiln Electric Furnace* (RKEF) menjadi *nickel pig iron* (NPI) dan *feronikel*. Inilah jalur yang paling sukses dikembangkan Indonesia. Pada 2025, tercatat sekitar 49 *smelter* RKEF telah beroperasi di seluruh negeri (The Jakarta Post, 2026). Keberhasilan jalur ini relatif mudah dijelaskan: pembuatan baja nirkarat menuntut kapabilitas produksi yang tidak terlalu jauh dari kompetensi industri yang telah dimiliki Indonesia, sehingga lompatan teknologinya dapat dijembatani (Delfirman & Dzaki, 2025).

Jalur baterai menuntut lompatan yang jauh lebih lebar. Bijih yang dibutuhkan adalah limonit berkadar rendah, yang diolah melalui teknologi *High Pressure Acid Leaching* (HPAL) untuk menghasilkan *Mixed Hydroxide Precipitate* (MHP)—prekursor bagi material katoda baterai. HPAL adalah teknologi yang secara teknis rumit, padat modal, dan historis penuh dengan kegagalan proyek di berbagai belahan dunia. Di sinilah teori *product space* menjadi relevan: pembuatan baterai menuntut kapabilitas produksi yang jauh lebih maju daripada industri yang sudah ada di Indonesia, sehingga jaraknya dalam “ruang produk” jauh lebih sulit dijembatani ketimbang baja nirkarat (Delfirman & Dzaki, 2025).

Indonesia menetapkan ambisi besar untuk jalur ini. Negara ini mengumumkan tujuan membangun rantai pasok baterai dari hulu ke hilir dengan kapasitas tahunan 140 GWh pada 2030, sebagaimana dimandatkan dalam kerangka kebijakan kendaraan listrik (Huber, 2022). Namun ambisi tersebut, sebagaimana akan diuraikan, dibangun di atas asumsi permintaan yang kini sedang diuji oleh pasar.

Kerentanan paling fundamental dari struktur ini bersifat ganda. Pertama, ketergantungan pada Tiongkok. Demand untuk nikel Indonesia sangat bergantung pada produsen baterai Tiongkok, sementara kepemilikan Tiongkok—melalui penguasaan penuh atau mayoritas serta kerja sama dengan mitra lokal—mencakup sekitar 80 persen kapasitas pemurnian nikel Indonesia (Energy Shift Institute, 2025). Indonesia, dengan kata lain, bergantung pada Tiongkok baik pada sisi produksi hulu maupun konsumsi hilir (CSIS, 2025). Kedua, dan inilah inti persoalan tulisan ini, ketergantungan pada satu kimia baterai tertentu yang justru sedang kehilangan dominasinya.

## III. Pergeseran yang Sudah Terjadi: Bangkitnya LFP

Perubahan teknologi baterai sering dibayangkan sebagai peristiwa masa depan—sesuatu yang akan datang. Kenyataannya, pergeseran paling konsekuensial bagi Indonesia sudah berlangsung dan sebagian besar telah selesai. Baterai *Lithium Iron Phosphate* (LFP), yang tidak mengandung nikel sama sekali, kini memasok hampir setengah dari pasar mobil listrik global, naik tajam dari kurang dari 10 persen pada 2020, menggeser baterai *Nickel Manganese Cobalt* (NMC) yang sebelumnya dominan (IEA, 2025a). Pergeseran ini didorong oleh dua faktor sederhana namun menentukan: kinerja LFP yang membaik dan biayanya yang lebih rendah.

Implikasi pergeseran ini bagi Indonesia tampak paling tajam justru di pasar domestiknya sendiri. Pada 2025, lebih dari 90 persen mobil listrik yang terjual di Indonesia menggunakan baterai LFP alih-alih baterai berbasis nikel (The Jakarta Post, 2026). Terdapat ironi struktural yang patut dicermati di sini: negara yang membangun seluruh strategi industrinya di atas nikel untuk baterai justru memiliki konsumen yang sebagian besar memilih baterai tanpa nikel. Alasannya pun rasional dari sudut pandang konsumen—kendaraan berbaterai nikel lebih mahal sehingga kurang relevan bagi mayoritas pembeli, dan sebagai negara beriklim panas, penggunaan baterai berbasis nikel dapat menimbulkan risiko tambahan terkait stabilitas termal (The Jakarta Post, 2026).

Penting untuk tidak melebih-lebihkan kabar ini menjadi kematian nikel. Pasar tidak meninggalkan baterai berbasis nikel; pasar menggunakannya secara lebih selektif. LFP merebut segmen kendaraan murah dan pasar massal, sementara baterai berbasis nikel semakin terkonsentrasi pada segmen jarak-jauh, premium, dan berorientasi performa (The Jakarta Post, 2026). Bagi Indonesia, ini berarti baterai berbasis nikel masih memiliki masa depan, tetapi tidak lagi dapat diperlakukan sebagai satu-satunya masa depan industri kendaraan listrik.

Pergeseran menuju LFP juga membawa konsekuensi geopolitik yang sering luput. Rantai pasok LFP jauh lebih terkonsentrasi di Tiongkok dibandingkan rantai pasok berbasis nikel—lebih dari 98 persen material katoda LFP dan sel baterai LFP diproduksi di Tiongkok, dibandingkan kurang dari dua pertiga untuk material katoda berbasis nikel (IEA, 2025a). Artinya, sementara pergeseran ke LFP mengurangi relevansi nikel Indonesia, ia justru memperdalam dominasi Tiongkok atas rantai pasok baterai global secara keseluruhan. Bagi negara-negara Barat yang berupaya melepaskan diri dari ketergantungan pada Tiongkok, hal ini menciptakan tarikan berlawanan; bagi Indonesia, hal ini mempersempit ruang manuver karena mitra teknologi yang paling memungkinkan tetap berada di Beijing.

## IV. Gelombang Berikutnya: Sodium-Ion dan Solid-State

Jika LFP merepresentasikan guncangan yang sudah terjadi, dua teknologi lain merepresentasikan ketidakpastian yang membayangi cakrawala menengah: baterai *sodium-ion* dan baterai *solid-state*. Keduanya kerap disebut sebagai ancaman eksistensial terhadap nikel, tetapi penilaian yang cermat menunjukkan gambaran yang lebih bernuansa.

Baterai *sodium-ion*, yang mengganti litium dengan natrium yang jauh lebih melimpah dan murah, telah bergerak cepat menuju komersialisasi. Kendaraan listrik berbaterai sodium-ion mulai memasuki pasar Tiongkok pada akhir 2023, dan baterai penyimpanan stasioner berskala besar telah tersambung ke jaringan listrik pada 2024 (IEA, 2025b). Namun keunggulan kompetitifnya bersyarat. Baterai sodium-ion hanya dapat bersaing dengan LFP dari sisi biaya dalam konteks harga litium yang tinggi atau jika terjadi peningkatan kepadatan energi yang signifikan (IEA, 2025b). Pada 2025, harga litium yang rendah justru menggerus keunggulan biaya sodium-ion, dan ekspektasi para produsen terhadap teknologi ini mendingin seiring penurunan harga LFP yang berkelanjutan (BloombergNEF, 2025). Proyeksi industri memperkirakan bahwa pada 2030 NMC dan LFP masih akan menguasai masing-masing sekitar 42 dan 41 persen pasar, menyisakan ruang yang terbatas bagi kimia lain (Laserax, 2025). Yang patut dicatat sebagai kerentanan tambahan: Tiongkok diproyeksikan menguasai 95 persen kapasitas produksi sodium-ion global pada 2030, sehingga teknologi ini tidak menawarkan celah kompetitif bagi pendatang baru seperti Indonesia (IEA, 2025b).

Baterai *solid-state* menempati posisi yang lebih kompleks lagi—dan di sinilah analisis perlu menahan diri dari simplifikasi. Teknologi ini menjanjikan kepadatan energi lebih tinggi, keamanan lebih baik, dan jangkauan lebih jauh. BYD dari Tiongkok berencana menjual kendaraan listrik bertenaga baterai *all-solid-state* pertamanya mulai 2027, dengan produksi massal menyusul pada 2030; Toyota dari Jepang dan Samsung dari Korea menetapkan jadwal serupa (IEA, 2025b). Namun komersialisasi berskala besar tampaknya tidak akan terjadi sebelum 2030 (Mysteel, 2025).

Yang sering terlewat dalam diskusi populer adalah bahwa “solid-state” bukanlah satu teknologi tunggal yang otomatis menyingkirkan nikel. Sebaliknya, sejumlah desain solid-state terdepan justru tetap menggunakan katoda nikel kadar tinggi. Baterai *all-solid-state* BYD, misalnya, mengadopsi jalur teknis berupa elektrolit komposit sulfida dipadukan dengan katoda terner berkadar nikel tinggi dan anoda berbasis silikon, dengan target kepadatan energi sel mencapai 400 Wh/kg (Neware, 2026). Dalam skenario ini, transisi ke solid-state tidak menghapus permintaan nikel, melainkan dapat mempertahankan—bahkan memperdalam—permintaan untuk nikel kadar tinggi pada segmen kendaraan premium. Dengan kata lain, solid-state berpotensi menjadi ancaman bagi NMC konvensional sekaligus penyelamat bagi nikel kadar tinggi, bergantung pada jalur kimia mana yang akhirnya mendominasi. Ketidakpastian inilah—bukan kepastian akan kehancuran—yang menjadi tantangan perencanaan sesungguhnya.

## V. Guncangan yang Datang Lebih Dahulu: Pasar, Bukan Laboratorium

Sembari para perencana memantau ancaman teknologis di cakrawala, sebuah guncangan yang lebih segera telah menghantam dari arah yang berbeda: pasar harga nikel itu sendiri. Dan ironisnya, sumber utama guncangan ini bukanlah perubahan teknologi, melainkan keberhasilan Indonesia sendiri dalam membanjiri pasar.

Angka-angkanya berbicara dengan jelas. Harga nikel di London Metal Exchange (LME) yang tiga tahun lalu sempat melonjak di atas 25.000 dolar AS per ton—bahkan sesaat menembus 100.000 dolar AS per ton secara *intraday* dalam *short squeeze* 2022—telah surut ke kisaran 14.000–15.500 dolar AS per ton sepanjang 2025 (MMTA, 2025). Sepanjang tahun itu, harga LME turun dari pembukaan sekitar 15.365 dolar AS menjadi titik terendah 13.865 dolar AS, level terendah dalam hampir lima tahun (Shanghai Metal Market, 2025). Surplus nikel global diperkirakan mencapai 212.000 ton pada 2025 dan diproyeksikan membengkak menjadi 288.000 ton pada 2026, sementara persediaan di gudang LME melonjak hingga lebih dari 250.000 ton (Argus Media, 2025).

Penyebab struktural dari banjir pasokan ini adalah ekspansi kapasitas MHP Indonesia yang agresif. Produksi MHP Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar 482.000 ton setara nikel pada 2025, hampir 50 persen lebih tinggi dari 2024, dengan kapasitas diperkirakan nyaris berlipat ganda menjadi 862.000 ton per tahun pada 2026 seiring sejumlah proyek HPAL yang dijadwalkan beroperasi (Argus Media, 2025). Ekspansi pasokan yang melampaui pertumbuhan permintaan inilah yang menekan harga.

Konsekuensinya bersifat paradoks dan layak direnungkan secara mendalam. Strategi yang dirancang untuk menangkap nilai tambah justru, melalui keberhasilannya sendiri yang berlebihan, mengompresi nilai tambah itu. LME nikel kini diperdagangkan dalam rentang sempit di sekitar biaya marginal pengolahan bijih Indonesia menjadi katoda Kelas 1, yakni sekitar 15.000 dolar AS per ton (Quintessentially Nickel, 2025). Pada level harga ini, lebih dari 25 persen produsen nikel dunia beroperasi dalam kerugian, memaksa penutupan sejumlah aset Kelas 1 berbiaya tinggi (Shanghai Metal Market, 2025). Indonesia secara efektif telah mengubah dirinya menjadi penentu harga global—tetapi menentukan harga ke arah bawah, sedemikian rupa sehingga sebagian besar penyesuaian dirasakan oleh para penambang Indonesia sendiri melalui kompresi margin (Quintessentially Nickel, 2025).

Permintaan, sementara itu, melambat dari sisi yang seharusnya menjadi penopang. Pertumbuhan penjualan mobil listrik global melambat dari 26 persen pada 2024 menjadi 23 persen pada 2025, sementara permintaan baja nirkarat—yang masih menyumbang sekitar dua pertiga konsumsi nikel global—tertekan oleh friksi perdagangan, tarif, dan kondisi makroekonomi yang lemah (Argus Media, 2025; MMTA, 2025). Permintaan baterai litium-ion, sebagai penggunaan akhir terbesar kedua nikel pada sekitar 17 persen dari total pada 2025, sedang dibentuk ulang oleh pergeseran kimia baterai yang telah diuraikan sebelumnya (MMTA, 2025).

Terdapat dinamika menarik yang muncul pada awal 2026 yang memperlihatkan betapa sensitifnya pasar ini terhadap kebijakan. Setelah Indonesia memperketat kuota penambangan—memangkas kuota nasional hingga 120 juta ton untuk 2025 dan mengembalikan masa berlaku kuota RKAB menjadi satu tahun—harga nikel LME naik 37 persen dari akhir Desember 2025 hingga April 2026, dan neraca International Nickel Study Group bergeser dari surplus menjadi defisit kecil (Discovery Alert, 2026; Carbon Credits, 2025). Hal ini memperlihatkan bahwa Indonesia memang memegang tuas pengendali harga yang nyata. Namun ia juga memperlihatkan dilema: menahan pasokan menaikkan harga tetapi mengurangi volume dan dapat memicu substitusi lebih lanjut ke kimia non-nikel, sementara membanjiri pasokan menjaga volume tetapi menghancurkan harga. Tidak ada jalan keluar yang mudah dari paradoks ini.

## VI. Membaca Ulang Tiga Syarat Keberhasilan

Untuk menilai ketahanan strategi ini ke depan, berguna untuk meninjau kembali kondisi-kondisi yang membuatnya berhasil pada mulanya. Analisis dari Oxford Economics mengidentifikasi tiga syarat yang menjadikan rencana nikel Indonesia sukses: cadangan yang melimpah, permintaan yang kuat sebagai akibat transisi energi hijau, dan efek substitusi yang terbatas karena ketiadaan alternatif yang lebih murah (Fortune, 2025). Goldman Sachs bahkan menyimpulkan bahwa nikel kemungkinan merupakan pengecualian, bukan norma—sebuah peringatan implisit terhadap upaya mereplikasi model ini ke komoditas lain (Fortune, 2025).

Yang mencemaskan adalah bahwa dari ketiga syarat tersebut, dua di antaranya kini sedang tergerus secara bersamaan. Cadangan yang melimpah memang tetap menjadi keunggulan yang tidak tergoyahkan dalam jangka pendek hingga menengah—tidak ada tempat lain di dunia yang dapat menggantikan Indonesia dalam waktu dekat, dan Filipina sebagai produsen terbesar kedua memiliki kadar nikel yang lebih rendah (Fortune, 2025). Namun syarat kedua, permintaan yang kuat, sedang melemah seiring perlambatan pertumbuhan kendaraan listrik. Dan syarat ketiga, efek substitusi yang terbatas, telah runtuh secara nyata: LFP adalah substitusi, dan ia telah merebut hampir separuh pasar. Ketika dua dari tiga pilar pendukung melemah, ketahanan keseluruhan strategi patut dipertanyakan secara serius.

Implikasinya bagi agenda hilirisasi yang lebih luas—yang kini hendak diperluas Indonesia ke puluhan komoditas lain termasuk produk non-logam seperti minyak sawit dan rumput laut—cukup tajam. Nikel menikmati keuntungan langka berupa nilai yang berlipat ganda secara dramatis setelah diolah, berpotensi hingga delapan kali lipat menurut estimasi Goldman Sachs, sebuah keuntungan yang tidak dimiliki sebagian besar komoditas lain (Fortune, 2025). Mereplikasi model larangan ekspor pada komoditas tanpa karakteristik ini berisiko memicu retaliasi proteksionis tanpa manfaat penangkapan nilai yang sepadan (Fortune, 2025). Pelajaran dari nikel, dengan demikian, bukanlah validasi universal atas hilirisasi, melainkan justru ilustrasi tentang betapa spesifiknya kondisi yang dibutuhkan agar strategi semacam itu berhasil.

## VII. Arsitektur Ketahanan: Opsi-Opsi Adaptif

Jika premis lama telah goyah, pertanyaannya menjadi: opsi adaptif apa yang tersedia untuk membuat strategi ini lebih tahan terhadap guncangan? Setidaknya terdapat lima jalur yang dapat dievaluasi, masing-masing dengan trade-off tersendiri.

**Pertama, diversifikasi produk hilir di luar baterai.** Keunggulan struktural Indonesia sesungguhnya terletak pada jalur baja nirkarat, bukan baterai—di sinilah kapabilitas telah terbukti dan permintaan, meski melambat, tetap menjadi tumpuan utama konsumsi nikel global. Memperlakukan baterai sebagai satu di antara beberapa jalur hilir, alih-alih sebagai tujuan akhir tunggal, akan mengurangi eksposur terhadap risiko kimia baterai. Risikonya adalah bahwa baja nirkarat sendiri menghadapi permintaan yang lesu dan ancaman tarif perdagangan, sehingga diversifikasi ini bukan tanpa kerentanannya sendiri.

**Kedua, pendekatan jalur ganda (*dual-track*) antara nikel Kelas 1 dan Kelas 2.** Sejumlah analis mengusulkan agar Indonesia secara sadar menyeimbangkan investasi antara jalur saprolit-RKEF yang matang dan jalur limonit-HPAL yang lebih berisiko, alih-alih bertaruh penuh pada salah satunya (Energy Shift Institute, 2025). Pendekatan ini mengakui bahwa nikel kadar tinggi tetap relevan untuk segmen premium dan bahkan untuk sejumlah desain solid-state, sembari tidak meninggalkan basis pendapatan dari baja nirkarat.

**Ketiga, naik ke segmen rantai nilai yang lebih dalam—daur ulang dan integrasi penuh.** Beberapa proyek besar telah dirancang dengan logika ini. Proyek Indonesia Battery Integration Project senilai hampir 6 miliar dolar AS, yang melibatkan CATL melalui anak usahanya bersama Antam dan Indonesia Battery Corporation, dirancang untuk mencakup seluruh siklus hidup baterai dari penambangan hingga daur ulang, dengan pabrik di Karawang ditargetkan beroperasi komersial menjelang akhir 2026 (Energy Storage News, 2025; Indonesia Business Post, 2026). CATL juga berencana membangun sistem daur ulang dengan target tingkat pemulihan logam di atas 95 persen (ichongqing, 2025). Daur ulang menarik secara strategis karena memberikan ketahanan terhadap pergeseran kimia—logam yang dipulihkan dapat digunakan kembali terlepas dari teknologi sel yang berlaku. Namun perlu dicatat bahwa eksekusi proyek-proyek ini tidak mulus: keluarnya LG Energy Solution dari konsorsium baterai pada 2025 dan penggantiannya dengan mitra Tiongkok lain memperlihatkan kerapuhan komitmen investor di tengah ketidakpastian pasar (Metalnomist, 2026). Selain itu, kesenjangan antara ambisi dan eksekusi tetap mencolok—target 400.000 unit kendaraan listrik pada 2025 berhadapan dengan produksi domestik yang hanya sekitar 26.000 unit hingga pertengahan 2025 (Indonesia Business Post, 2026).

**Keempat, fleksibilitas teknologi melalui penguasaan kapabilitas, bukan sekadar kapasitas.** Kerentanan terdalam Indonesia bukanlah pada jenis bijih yang dimilikinya, melainkan pada fakta bahwa sekitar 80 persen kapasitas pemurniannya dikendalikan kepentingan asing dan teknologi inti tetap berada di tangan mitra Tiongkok (Energy Shift Institute, 2025). Selama Indonesia hanya menyediakan bahan baku dan lahan, ia tetap rentan terhadap keputusan teknologis yang diambil di tempat lain. Membangun kapabilitas riset dan rekayasa domestik—kemampuan untuk beradaptasi terhadap kimia apa pun yang menang—merupakan bentuk ketahanan yang paling fundamental, sekaligus yang paling sulit dan lambat dicapai. Konsep *technological leapfrogging* menawarkan kerangka teoretis, tetapi sejarah menunjukkan bahwa lompatan semacam itu menuntut investasi institusional jangka panjang yang melampaui siklus politik.

**Kelima, manajemen pasokan sebagai instrumen stabilisasi harga.** Sebagaimana terlihat pada awal 2026, Indonesia memiliki kapasitas nyata untuk memengaruhi harga global melalui pengetatan kuota (Discovery Alert, 2026). Digunakan secara hati-hati, instrumen ini dapat menstabilkan pendapatan dan memperpanjang umur cadangan. Digunakan secara berlebihan, ia berisiko mempercepat substitusi dan mengundang tuduhan distorsi pasar serta sengketa dagang—risiko yang telah terwujud dalam keputusan panel WTO sebelumnya terkait larangan ekspor nikel.

## VIII. Dimensi yang Tidak Boleh Diabaikan: Energi dan Lingkungan

Setiap diskusi tentang ketahanan strategi nikel akan timpang tanpa menyinggung satu kerentanan yang dapat membatalkan seluruh premis “hijau” dari industri ini: jejak karbon dan lingkungannya. Pengolahan nikel Indonesia, khususnya melalui HPAL dan smelter RKEF, sebagian besar ditenagai oleh pembangkit listrik tenaga batu bara *captive*, sehingga menciptakan emisi CO2, polusi, dan limbah dalam tingkat yang tinggi (Lowy Institute, n.d.; Delfirman & Dzaki, 2025). Keselamatan dan kesehatan pekerja juga dinilai belum terlindungi secara memadai, sementara kegagalan tata kelola memungkinkan kerugian lingkungan dan sosial yang sebenarnya dapat dicegah (Lowy Institute, n.d.).

Hal ini bukan sekadar persoalan etis, melainkan persoalan strategis yang berkaitan langsung dengan ketahanan pasar. Seiring “nikel hijau”—yang diproduksi di bawah standar lingkungan lebih tinggi—menjadi pembeda penting, dan seiring kerangka seperti *Critical Raw Materials Act* Uni Eropa yang berlaku sejak Mei 2024 menetapkan ambang kepatuhan, nikel Indonesia yang berjejak karbon tinggi berisiko menghadapi hambatan akses pasar di yurisdiksi yang paling peduli pada keberlanjutan (Carbon Credits, 2025; ORF, 2025). Dengan kata lain, kerentanan lingkungan dapat menjelma menjadi kerentanan komersial. Sebaliknya, dorongan menuju metode pemrosesan yang lebih bersih dapat menghasilkan kredit karbon berkualitas lebih tinggi dan membuka akses ke pasar premium (Carbon Credits, 2025). Dimensi keberlanjutan, dengan demikian, bukan beban yang terpisah dari strategi ekonomi, melainkan bagian integral dari ketahanannya.

## IX. Keterbatasan Analisis

Analisis ini memiliki sejumlah keterbatasan yang perlu diakui secara terbuka agar kesimpulannya dibaca dengan proporsional. Pertama, sebagian besar proyeksi pangsa pasar baterai dan harga nikel yang dirujuk berasal dari lembaga riset komersial dan think tank yang menggunakan asumsi dan metodologi berbeda-beda; angka-angka tersebut dapat menyimpang signifikan dari realisasi, terutama karena pasar baterai dan komoditas terkenal sangat volatil dan sensitif terhadap kejutan kebijakan. Kedua, jadwal komersialisasi teknologi seperti solid-state dan sodium-ion berasal sebagian besar dari klaim produsen, yang memiliki insentif untuk menyajikan jadwal optimistis; sejarah teknologi baterai penuh dengan tenggat yang meleset.

Ketiga, data produksi dan kapasitas resmi Indonesia—termasuk kapasitas MHP dan target kapasitas baterai—berpotensi tidak sepenuhnya merefleksikan realisasi di lapangan, mengingat kesenjangan yang berulang antara kapasitas terpasang dan produksi aktual. Keempat, analisis ini tidak melakukan pemodelan tekno-ekonomi orisinal terhadap titik impas proyek HPAL spesifik, sehingga penilaian terhadap viabilitas finansial bersifat kualitatif dan bergantung pada estimasi pihak ketiga. Kelima, dinamika geopolitik—termasuk arah kebijakan tarif AS, hubungan Indonesia-Tiongkok, dan implementasi kerangka regulasi Uni Eropa—bergerak terlalu cepat untuk ditangkap secara definitif dalam kerangka waktu penulisan, sehingga sejumlah kesimpulan bersifat sementara dan terbuka terhadap revisi.

## X. Penutup: Ketahanan sebagai Optionalitas, Bukan Kepastian

Pertanyaan yang membuka tulisan ini—bagaimana strategi industrialisasi berbasis nikel dapat bertahan jika terjadi perubahan teknologi baterai global—tidak memiliki jawaban tunggal yang memuaskan, dan upaya memaksakannya akan mengkhianati kompleksitas persoalan. Yang dapat disimpulkan justru lebih bersifat pemetaan trade-off ketimbang resep.

Perubahan teknologi baterai bukanlah ancaman tunggal yang seragam. LFP telah menjadi guncangan nyata yang menggerus relevansi nikel di segmen pasar massal, dan pergeseran ini sebagian besar sudah terjadi, bukan sekadar membayang. Sodium-ion merepresentasikan ancaman bersyarat yang relevansinya bergantung pada harga litium, dan saat ini ancamannya melemah. Solid-state, secara paradoks, dapat menjadi ancaman bagi NMC konvensional sekaligus penopang bagi nikel kadar tinggi, bergantung pada jalur kimia yang akhirnya menang—sebuah ketidakpastian yang justru menjadi inti tantangan perencanaan.

Yang lebih mendesak daripada ancaman teknologis adalah guncangan pasar yang sudah datang dari arah keberhasilan Indonesia sendiri: banjir pasokan MHP yang menekan harga ke titik di mana margin terkompresi dan nilai tambah yang menjadi tujuan awal hilirisasi justru menguap. Ironi ini layak menjadi bahan refleksi bagi para perencana: risiko terbesar dalam jangka pendek bukanlah bahwa dunia berhenti membutuhkan nikel Indonesia, melainkan bahwa Indonesia memproduksi terlalu banyak terlalu cepat.

Ketahanan, dalam konteks ini, paling tepat dipahami bukan sebagai jaminan kelangsungan model yang ada, melainkan sebagai *optionalitas*—kemampuan untuk beradaptasi terhadap berbagai skenario tanpa terkunci pada satu taruhan. Diversifikasi jalur hilir, penguasaan kapabilitas teknologi alih-alih sekadar kapasitas produksi, investasi pada daur ulang yang tahan terhadap pergeseran kimia, dekarbonisasi proses sebagai prasyarat akses pasar premium, dan penggunaan instrumen pasokan secara terukur—semuanya merupakan komponen dari arsitektur optionalitas semacam itu. Tidak satu pun di antaranya merupakan solusi tunggal, dan masing-masing membawa biaya serta risikonya sendiri.

Pada akhirnya, strategi yang dibangun di atas keyakinan akan satu masa depan teknologis yang pasti adalah strategi yang rapuh secara inheren, betapapun mengesankan angka-angka jangka pendeknya. Strategi yang tahan adalah strategi yang dirancang justru dengan mengasumsikan bahwa masa depan tidak dapat sepenuhnya diketahui. Sejauh mana Indonesia bersedia menukar kepastian semu hari ini dengan fleksibilitas yang lebih mahal namun lebih tahan untuk esok hari—itulah pertanyaan kebijakan yang sesungguhnya, dan jawabannya belum tertulis.



## Daftar Pustaka

Argus Media. (2025, December 19). *Viewpoint: Indonesia’s MHP surge to hit nickel prices*. https://www.argusmedia.com/en/news-and-insights/latest-market-news/2767821-viewpoint-indonesia-s-mhp-surge-to-hit-nickel-prices

BloombergNEF. (2025, June). *Global energy storage growth upheld by new markets*. https://about.bnef.com/insights/clean-energy/global-energy-storage-growth-upheld-by-new-markets/

Carbon Credits. (2025, November 17). *Nickel supply shock: Indonesia’s 120M ton cut and its ripple on carbon markets*. https://carboncredits.com/indonesian-government-reduces-national-nickel-mining-quotas-by-120-million-tons-impacting-global-supply/

Center for Strategic and International Studies. (2025, September 30). *Indonesian industrialization: Downstreaming up the value chain*. Charting Geoeconomics. https://www.csis.org/blogs/charting-geoeconomics/indonesian-industrialization-downstreaming-value-chain

Delfirman, & Dzaki, H. M. (2025). Stainless success, battery lag: Evaluation of Indonesia’s resource nationalism in nickel. *The Extractive Industries and Society, 23*, Article 101683. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S2214790X25000668

Discovery Alert. (2026). *Indonesia’s nickel policy tightening and rising HPAL costs in 2026*. https://discoveryalert.com.au/indonesia-nickel-policy-tightening-hpal-costs-acid-supply/

Energy Shift Institute. (2025, November). *A dual-track approach to mineral-led industrialisation in Indonesia*. https://energyshift.institute/wp-content/uploads/2025/11/Energy-Shift-Inst_IDN-Nickel-dual-track-dev_202511.pdf

Energy Storage News. (2025, July 7). *Indonesia: CATL in US$6 billion battery integration project*. https://www.energy-storage.news/catl-begins-us6-billion-complete-value-chain-battery-integration-project-in-indonesia/

Fortune. (2025, March 4). *Indonesia’s nickel strategy proved to be a ‘great success’—but overcapacity and tech shifts could challenge Jakarta’s ‘downstreaming’ hopes*. https://fortune.com/asia/2025/03/04/indonesia-nickel-exports-downstreaming-ev-battery

Huber, J. (2022). *Indonesia’s nickel industrial strategy*. [Sebagaimana dirujuk dalam Delfirman & Dzaki, 2025].

ichongqing. (2025, July 10). *CATL breaks ground on Indonesia nickel and battery industrial chain project*. https://www.ichongqing.info/2025/07/10/catl-breaks-ground-on-indonesia-nickel-and-battery-industrial-chain-project/

Indonesia Business Post. (2026, March 23). *Indonesia’s EV surge: Can ‘Project Dragon’ outrun its legal and social risks*. https://indonesiabusinesspost.com/6354/energy-and-resources/indonesia-s-ev-surge-can-project-dragon-outrun-its-legal-and-social-risks

International Energy Agency. (2025a). *Beyond NMC batteries: Supply chain issues for emerging battery technologies – Global critical minerals outlook 2025*. https://www.iea.org/reports/global-critical-minerals-outlook-2025/beyond-nmc-batteries-supply-chain-issues-for-emerging-battery-technologies

International Energy Agency. (2025b). *How can innovation help secure future battery markets and mineral supplies?* https://www.iea.org/commentaries/how-can-innovation-help-secure-future-battery-markets-and-mineral-supplies

Investing News Network. (2025, December 22). *Nickel price 2025 year-end review*. https://investingnews.com/daily/resource-investing/base-metals-investing/nickel-investing/nickel-price-update/

Laserax. (2025, July 1). *Sodium-ion battery vs. lithium-ion battery: Which one is better?* https://www.laserax.com/blog/sodium-ion-vs-lithium-ion-batteries

Lowy Institute. (n.d.). *The future of Indonesia’s green industrial policy*. https://www.lowyinstitute.org/publications/future-indonesia-s-green-industrial-policy

Metalnomist. (2026, April). *Indonesia battery ecosystem project moves forward with new Chinese partnership*. https://www.metalnomist.com/2026/04/indonesia-battery-ecosystem-project.html

Minerals & Metals Trading Association. (2025, October 7). *Nickel’s evolving market: Balancing Indonesian dominance, shifting demand and policy uncertainty*. https://mmta.co.uk/nickels-evolving-market-balancing-indonesian-dominance-shifting-demand-and-policy-uncertainty/

Mysteel. (2025, June 11). *Solid-state batteries: Paving the way beyond range and safety limits*. https://www.mysteel.net/analysis/5088905-solid-state-batteries-paving-the-way-beyond-range-and-safety-limits

Neware. (2026, February 27). *BYD’s timeline for all-solid-state battery: Installed in vehicles in 2027, and mass-produced on a large scale in 2030*. https://www.neware.net/news/byd-s-timeline-for-all-solid-state-battery/230/123.html

Observer Research Foundation. (2025, October 15). *Indonesia’s nickel strategy: Downstreaming and development*. https://www.orfonline.org/expert-speak/indonesia-s-nickel-strategy-downstreaming-and-development

Quintessentially Nickel. (2025, December 15). *Quintessentially Nickel market research* [Laporan]. Norilsk Nickel. https://nornik-upload.storage.yandexcloud.net/iblock/b88/b885707084c99b8c0a60aecdf4f19ab5/2025_12_15-Quintessentially-Nickel.pdf

Shanghai Metal Market. (2025, December 25). *2025 nickel market recap & 2026 outlook: Oversupply to weigh on prices*. https://news.metal.com/newscontent/103690997/

The Jakarta Post. (2026, March 10). *Indonesia’s nickel at a crossroads in the EV battery race*. https://www.thejakartapost.com/business/2026/03/10/indonesias-nickel-at-a-crossroads-in-the-ev-battery-race.html

Discover more from bolakayu.id

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading