Hilirisasi Udang Indonesia

Pada suatu pagi di Februari 2026, Yochanes Agung, Kepala Bidang Perikanan Budi Daya Dinas Lingkungan Hidup dan Kelautan Perikanan Kebumen, menggambarkan kondisi proyek percontohan nasional hilirisasi udang Indonesia dengan satu kata: vakum. Tambak Budi Daya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) Kebumen — seluas 100 hektare, terdiri dari 149 petak tambak modern lengkap dengan instalasi pengolahan air limbah, laboratorium, dan jalan produksi — telah berhenti beroperasi sejak Juli 2025. Tidak ada uang. Pengelolanya, Badan Layanan Umum di Karawang, kehabisan dana. Sebuah rencana pengambilalihan oleh PT Agrinas Jalandri Nusantara, BUMN baru di bawah lembaga investasi Danantara, belum kunjung dieksekusi (Jaring.id, 2026a).

Tiga tahun sebelumnya, di lahan yang sama, Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengangkat seember udang vaname dan menyatakan tambak itu sebagai “pelopor budidaya udang modern” yang akan diduplikasi ke seluruh negeri (Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, 2023). Produktivitasnya saat itu 40–45 ton per hektare per siklus, angka yang membuat para pejabat kementerian percaya bahwa Indonesia akhirnya menemukan formula untuk melompat dari produksi udang berskala kecil ke industri terintegrasi kelas dunia. Dua setengah tahun setelahnya, di pantai yang sama, sampel air laut yang diambil oleh tim Departemen Oseanografi Universitas Diponegoro menunjukkan konsentrasi nitrat dan fosfat yang tinggi, gumuk pasir yang merupakan bagian dari geopark dan habitat penyu lekang telah rata oleh alat berat, dan tambak yang seharusnya menjadi model itu kini menjadi monumen kebuntuan birokrasi (Jaring.id, 2026b).

Kisah BUBK Kebumen adalah miniatur dari sebuah persoalan yang jauh lebih besar. Indonesia adalah salah satu dari lima produsen udang budidaya terbesar dunia, dengan luas pantai dan kondisi iklim yang—di atas kertas—seharusnya membuatnya tak terkalahkan. Pada 2024, total produksi udang budidaya Indonesia diperkirakan mencapai 287.962 ton, dengan 202.464 ton di antaranya diekspor (Aqua Culture Asia Pacific, 2025). Nilai ekspornya menembus USD 1,68 miliar, atau 28,2% dari total ekspor perikanan nasional (Databoks, 2025). Pemerintah, melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Kementerian Investasi/BKPM, telah menempatkan udang sebagai salah satu dari empat komoditas perikanan dalam peta jalan hilirisasi nasional hingga 2040 (World Resources Institute Indonesia, 2024).

Tetapi membandingkan angka-angka itu dengan Ekuador—negara yang pada 2024 mengekspor sekitar 1,21 juta metrik ton udang—memberikan gambaran yang lebih jujur tentang posisi Indonesia. Ekuador mengekspor enam kali lipat volume udang Indonesia. Dengan nilai ekspor perikanan dan akuakultur mencapai USD 9,2 miliar pada 2024, Ekuador menjadi negara ketiga terbesar dunia dalam ekspor produk perikanan, di bawah Tiongkok dan Norwegia (FAO GLOBEFISH, 2025; Vietdata, 2026). Kesenjangan ini bukan masalah skala alam. Indonesia memiliki garis pantai yang jauh lebih panjang dari Ekuador. Yang membedakan adalah arsitektur industri yang dibangun di atasnya—dan di sinilah cerita tentang hilirisasi udang Indonesia menjadi sebuah studi kasus tentang ambisi yang bertabrakan dengan keterbatasan struktural.

## I. Statistik Sebagai Cermin

Untuk memahami posisi Indonesia, ada baiknya menempatkan angka-angkanya dalam konteks regional. Pada 2018, ketika data komparatif terakhir yang relatif komprehensif dirilis, produksi udang budidaya global mencapai 6,004 juta ton (Boyd et al., 2021). Pada 2023, angka itu naik menjadi sekitar 5,6 juta ton, dan diproyeksikan tumbuh ke 5,88 juta ton pada 2024. Lima negara—Ekuador, Tiongkok, India, Vietnam, dan Indonesia—menyumbang sekitar 74% dari total produksi (Aquaculture Magazine, 2025).

Yang menarik adalah lintasan masing-masing negara dalam dekade terakhir. Sejak 2000, Ekuador mencatatkan pertumbuhan ekspor udang sebesar 2.977%—dari 38.905 ton menjadi 1,21 juta ton pada 2024 (The Fish Site, 2025). Kesenjangan pasokan antara Ekuador dan India, eksportir terbesar kedua, melebar dari 117.700 ton pada 2021 menjadi lebih dari 503.000 ton pada 2023 (FAO, 2024). Pada paruh pertama 2024, ekspor India tumbuh 5% YoY, mengukuhkan posisinya di urutan kedua dengan total ekspor sekitar 713.000 ton tahun sebelumnya (SeafoodSource, 2024). Vietnam, eksportir terbesar keempat secara keseluruhan untuk produk perikanan, mencatat nilai ekspor USD 8,3 miliar pada 2024 untuk seluruh sektor perikanannya (FAO GLOBEFISH, 2025).

Indonesia, sebaliknya, telah mengalami kontraksi tiga tahun berturut-turut. Dari puncak 241.101 ton pada 2021, ekspor udang Indonesia turun menjadi 202.464 ton pada 2024—sekitar 1% di atas tingkat 2019. Nilai totalnya merosot dari puncak USD 2,2 miliar pada 2021 ke USD 1,6 miliar pada 2024, dengan harga rata-rata per kilogram turun dari rekor USD 9,07 pada 2022 menjadi USD 7,93 pada 2024 (Shrimp Insights, 2025a).

Ada sedikit titik terang pada 2025. Antara Januari hingga Mei, Indonesia mengekspor 89.224 ton udang senilai USD 756 juta—tumbuh 15% dalam volume dan 26% dalam nilai dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (Shrimp Insights, 2025b). Tetapi sebagian besar pertumbuhan ini bersifat oportunistik: para eksportir mempercepat pengiriman ke Amerika Serikat sebelum keputusan akhir tarif anti-dumping dijatuhkan pada 1 Agustus 2025. Lonjakan ini menyembunyikan kerentanan struktural yang lebih dalam.

Yang paling mengkhawatirkan adalah ketergantungan pasar. Sekitar 63,7% ekspor udang Indonesia pada 2024 ditujukan ke Amerika Serikat (Tempo English, 2025). Pada bulan-bulan tertentu, angka itu menyentuh dua pertiga. Tidak ada eksportir besar lain yang seterkonsentrasi seperti ini. Ekspor Ekuador, sebagai perbandingan, terdiversifikasi: Tiongkok 48,18%, AS 19,42%, dan Eropa 22,89% pada Januari–Oktober 2025 (Vietdata, 2026). India, meskipun bergantung pada AS, juga memiliki Kanada dan Eropa sebagai pasar utama. Konsentrasi pasar ini menjadi titik kerentanan dramatis pada Desember 2024, ketika Departemen Perdagangan AS menjatuhkan margin anti-dumping sebesar 6,3% terhadap udang Indonesia, dan kembali memburuk pada Agustus 2025 ketika FDA menarik produk PT Bahari Makmur Sejati setelah deteksi isotop radioaktif Cesium-137 di kontainer pengiriman di empat pelabuhan utama AS (Federal Register, 2024; Tempo English, 2025).

Setelah penarikan itu, akses ekspor udang Indonesia ke AS sempat tertutup. Baru pada Desember 2025, setelah pemerintah membangun sistem sertifikasi bebas radiasi yang diakui otoritas AS, pengiriman dapat dilanjutkan. Sepanjang Desember 2025, total ekspor diproyeksikan mencapai 292 kontainer atau 5.070 ton senilai USD 54,74 juta (JALA, 2025). Episode itu, lebih dari segalanya, menyoroti kerentanan sebuah industri yang—setelah dua dekade modernisasi—masih bergantung pada satu pintu pasar yang dapat ditutup hanya dengan satu kontaminan.

## II. Anatomi Ekuador

Jika ada satu studi banding yang paling sering dirujuk oleh para pelaku industri Indonesia, itu adalah Ekuador. Pertanyaannya: bagaimana negara dengan luas kurang dari sepersepuluh Indonesia bisa menjadi raksasa udang dunia?

Jawabannya berlapis, tetapi tiga elemen paling konsisten muncul dalam literatur: integrasi vertikal, genetika lokal, dan konsolidasi industri.

Pertama, soal struktur perusahaan. Industri udang Ekuador didominasi oleh perusahaan-perusahaan terintegrasi vertikal—satu perusahaan memiliki hatchery (pembenihan), tambak, dan pabrik pengolahan sekaligus. Sebuah laporan Seafood Watch (2025) mencatat bahwa lima perusahaan ekspor udang bertanggung jawab atas 43% volume ekspor negara, dan banyak perusahaan lain juga terintegrasi vertikal mencakup hatchery, produksi, pengolahan, dan distribusi. Konsentrasi semacam ini memungkinkan pengambilan keputusan yang cepat. “Itulah sebabnya Ekuador dapat dengan cepat menyesuaikan penawaran dan merespons perubahan pasar ketika terjadi pergeseran besar dalam permintaan atau masalah besar seperti Covid-19,” tulis The Fish Site (2025) dalam analisis komparatifnya. Di Indonesia, sebaliknya, industri udang sebagian besar didorong oleh pengusaha perseorangan atau bisnis keluarga.

Kedua, soal genetika. Sebelum tahun 2000, Ekuador menghadapi serangkaian wabah penyakit yang menghancurkan: seagull syndrome pada 1989, sindrom Taura pada 1994, dan virus white spot pada 1999—semuanya disebabkan oleh penggunaan benur tangkapan liar atau nauplii impor. Pelajaran yang diserap industri Ekuador adalah membangun program genetika lokal yang ketat. Kini, sebagian besar broodstock Ekuador dikembangkan secara domestik dan tahan terhadap penyakit utama (The Fish Site, 2025).

Ketiga, soal model produksi. Berbeda dengan citra populer tentang akuakultur intensif Asia, Ekuador justru bertahan dengan model semi-intensif dengan tambak besar dan kepadatan tebar rendah. Hasil rata-rata tahunan, berdasarkan survei 101 tambak, adalah 7,03 ton per hektare per tahun (Boyd, 2021). Angka itu jauh di bawah produktivitas intensif Indonesia—yang bisa mencapai 40 ton per hektare dalam tambak modern—tetapi keunggulan Ekuador terletak pada konsistensi: hampir semua tambak yang ditebar berhasil dipanen. Failure rate di Asia, sebaliknya, jauh lebih tinggi karena tekanan penyakit dan kepadatan tebar (Aqua Culture Asia Pacific, 2021).

Yang sering luput dari diskusi publik adalah satu detail teknis penting: pada 2018, hanya 46,5% tambak Ekuador yang menggunakan aerasi mekanis—pompa, kincir, atau perangkat lain untuk menyuplai oksigen ke air (Aquaculture Magazine, 2022). Dengan kata lain, separuh industri Ekuador berproduksi dengan input energi yang lebih rendah dari rata-rata tambak intensif Asia, tetapi tetap mempertahankan hasil panen yang kompetitif. Model semi-intensif yang ekstensif ini memungkinkan biaya produksi yang rendah—suatu hal yang krusial dalam komoditas seperti udang, di mana margin sangat tipis.

Ekuador juga memetik manfaat dari ekosistem industri yang matang. Asosiasi Akuakultur Nasional (Cámara Nacional de Acuacultura) berfungsi sebagai juru bicara industri dengan kekuatan lobi yang signifikan. Perusahaan pakan multinasional seperti Skretting dan Cargill telah membangun pabrik produksi di Ekuador dengan kapasitas yang dirancang untuk pasar yang terus tumbuh, dengan total kapasitas pakan udang nasional diproyeksikan mencapai 2,5 juta ton pada 2033 (IMARC Group, 2025). Inisiatif sustainability seperti Sustainable Shrimp Partnership (SSP) memberikan jaminan reputasional kepada pembeli premium di Eropa dan Amerika Utara, sebuah aset reputasional yang sulit dibeli dengan uang (Aquafeed, 2025a).

Inilah arsitektur yang tidak dimiliki Indonesia: industri terkonsolidasi, terintegrasi vertikal, didukung oleh program genetika dalam negeri yang matang, dengan asosiasi industri yang kuat dan reputasi sustainability yang sudah lama dibangun.

## III. Anatomi Indonesia

Struktur industri udang Indonesia adalah kebalikan dari Ekuador. Sekitar 80% tambak udang Indonesia masih beroperasi dengan sistem tradisional, dengan adopsi teknologi yang terbatas, kepadatan tebar yang rendah, dan kerentanan yang lebih tinggi terhadap penyakit (Aquafeed, 2026). Sistem semi-intensif dan intensif, di mana produktivitas per hektare jauh lebih tinggi, masih menjadi minoritas.

Sebuah survei farm management di Pulau Jawa yang diterbitkan di jurnal Frontiers (Sukma et al., 2023) menemukan bahwa rata-rata produksi tambak adalah 1,6 kg/m² atau sekitar 16 ton per hektare per siklus—angka yang tampak mengesankan, tetapi sampel tersebut diambil dari tambak kecil-menengah yang relatif terorganisir. Untuk tambak tradisional di luar Jawa, produktivitas bisa serendah 0,2–0,5 ton per hektare per tahun. Sebuah program upgrading ke skema “tradisional plus” yang diinisiasi UNIDO dan Forum Udang Indonesia menargetkan kenaikan ke 0,8–2 ton per hektare per tahun—target yang menunjukkan betapa jauh jaraknya dari benchmark internasional (The Fish Site, 2024).

Hambatan adopsi teknologi sangat terkait dengan kepemilikan aset. Sebuah studi yang diterbitkan di *Aquaculture* (Rubel et al., 2017) menemukan bahwa adopsi pakan formulasi memiliki threshold yang kuat di luas tambak setengah hektare. Petani yang miskin modal—tanpa pompa, tanpa aerator—cenderung terjebak dalam apa yang disebut peneliti sebagai “low-productivity trap”: mereka hanya bisa membudidayakan *Penaeus monodon* (udang windu) tanpa input eksternal, padahal pasar global telah lama bergeser ke *Litopenaeus vannamei* (udang vaname) yang lebih produktif.

Tantangan kedua adalah penyakit. EHP (*Enterocytozoon hepatopenaei*) atau Hepatopancreatic Microsporidiosis muncul sebagai penyakit paling meluas pada 2024. Tambak kategori menengah yang terkena EHP mencatat tingkat kelangsungan hidup (survival rate) hanya 62,7%, dibandingkan 74,18% pada 10% tambak teratas (Aqua Culture Asia Pacific, 2025). EHP bukan masalah baru—penyakit ini pertama kali dilaporkan di Thailand pada 2004 dan kini tersebar di seluruh Asia—tetapi pengobatan yang efektif masih terbatas, dan kerugian akumulatifnya signifikan. Sebagai perbandingan, infeksi EHP di tambak India saja diperkirakan menyebabkan kehilangan produksi 0,77 juta ton dengan kerugian pendapatan USD 567,62 juta (Pradhan et al., 2024).

Tantangan ketiga adalah infrastruktur cold chain. Indonesia memiliki “high disparity” antara lokasi produksi dan pengolahan, dengan biaya logistik rata-rata 27% dari PDB pada periode 2004–2011—dibandingkan 25% di Vietnam, 20% di Thailand, dan 13% di Malaysia (Suadi & Kusano, 2019). Kapasitas industri cold chain Indonesia, menurut beberapa estimasi, baru mencapai sekitar 50% dari kebutuhan nasional (Capricorn Indonesia Consult, 2019). Pasar cold chain logistics Indonesia bernilai USD 5,08 miliar pada 2023 dan diproyeksikan tumbuh sekitar 10% per tahun (ASDF.ID, 2025), tetapi pertumbuhan ini berlomba dengan permintaan yang juga melonjak. Di pelabuhan internasional Indonesia, hanya sekitar 60% dari total kontainer berpendingin yang dapat dikelola secara efisien. Untuk industri udang yang produknya harus dijaga di bawah -18°C dari panen hingga pengiriman ke pasar luar negeri, ini adalah masalah eksistensial.

Yang juga sering kurang disadari adalah persoalan distribusi geografis. Berbeda dari Ekuador yang sentra produksinya terkonsentrasi di lima provinsi pesisir Pasifik—El Oro, Esmeraldas, Guayas, Manabi, dan Santa Elena (Boyd, 2021)—tambak udang Indonesia tersebar di belasan provinsi, dari Aceh hingga Papua, dari Lampung hingga Sulawesi Selatan. Sentralisasi industri Ekuador memungkinkan economy of scale dalam infrastruktur pengolahan, sertifikasi, dan logistik ekspor. Indonesia, dengan ekonomi kepulauannya, harus menyebarkan investasi tersebut.

## IV. Mimpi “Shrimp Estate” dan Kenyataannya

Sejak 2020, KKP telah mempromosikan konsep “shrimp estate” sebagai jalan keluar dari fragmentasi industri. Idenya elegan: bangun kawasan budidaya berskala besar di mana hulu dan hilir berada dalam satu lokasi yang terintegrasi—hatchery, tambak, instalasi pengolahan air limbah, gudang pakan, fasilitas pasca-panen, dan akses logistik—semuanya dikelola dengan teknologi modern dan standar lingkungan yang seragam. Konsep ini dipresentasikan sebagai jawaban Indonesia atas model Ekuador, tetapi diadaptasi dengan struktur kelembagaan negara yang lebih kuat (Klinik Agromina Bahari UGM, 2021).

Proyek percontohan pertama adalah BUBK Kebumen, ditandatangani pada Agustus 2021 dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada Maret 2023. Lahan 100 hektare itu terdiri dari 149 petak tambak, dilengkapi water intake, tandon, saluran IPAL, laboratorium, gudang pakan, rumah genset, dan jalan produksi. Pada panen perdana Juni 2023, produktivitasnya dilaporkan 40–45 ton per hektare per siklus—angka yang membuat pejabat optimis (Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, 2023).

Tetapi kurang dari dua tahun setelah panen perdana itu, BUBK Kebumen vakum. Investigasi kolaboratif Jaring.id, Tempo, dan Bloomberg Businessweek yang dipublikasikan pada Februari 2026 menggambarkan kegagalan multi-dimensi: pengelolaan oleh Badan Layanan Umum Karawang mandek karena ketiadaan dana sejak Juli 2025, rencana pengambilalihan oleh PT Agrinas Jalandri Nusantara—BUMN di bawah Danantara—belum dieksekusi, target produksi tidak tercapai, dan petambak mengalami kerugian (Jaring.id, 2026a).

Yang lebih mengkhawatirkan adalah dampak lingkungan. Sampel air laut di Pantai Kaliratu, yang diuji oleh Departemen Oseanografi Universitas Diponegoro pada Agustus 2023—setahun setelah peresmian—menunjukkan konsentrasi nitrat dan fosfat yang tinggi sebagai indikator pencemaran. Guru Besar Ilmu Kelautan Undip, Muhammad Zainuri, menyatakan dalam wawancara Desember 2025 bahwa “buangan industri pertambakan ikut menyumbang” pencemaran tersebut (Jaring.id, 2026b). Gumuk pasir di kawasan itu—bagian dari Geopark Kebumen dengan tipe barchan yang hanya ada dua di dunia (Indonesia dan Meksiko)—telah diratakan oleh alat berat antara 2022 hingga 2025, menghilangkan habitat penyu lekang yang sebelumnya menetaskan telurnya di sana.

Meski Kebumen mengalami kebuntuan, KKP tetap melaju dengan ekspansi: proyek shrimp estate di Sumba Timur seluas 2.150 hektare dengan target produksi 55.000 ton, anggaran Rp 7,2 triliun—sekitar Rp 7 triliun di antaranya dari pinjaman luar negeri (VOI, 2024; Jaring.id, 2026a). Pertanyaan kritis yang mengemuka di kalangan pengamat: jika model 100 hektare tidak berhasil dikelola, atas dasar apa keyakinan bahwa model 2.150 hektare akan berhasil?

Hilirisasi, dalam visi pemerintah, bukan sekadar soal volume produksi tetapi juga nilai tambah. Roadmap hilirisasi Kementerian Investasi mencakup 21 komoditas hingga 2040, empat di antaranya dari sektor perikanan: udang, ikan, rajungan, dan rumput laut (World Resources Institute Indonesia, 2024). Untuk udang, peta jalan ini mengisyaratkan diversifikasi produk—dari udang beku mentah ke produk bernilai tambah seperti udang masak, udang breaded, dan ekstraksi kitin dari cangkang udang untuk industri farmasi dan kosmetik.

Pergeseran ke produk bernilai tambah memang mulai terlihat. Pada Mei 2025, ekspor udang cooked and marinated Indonesia mencapai 5.951 ton, naik 61% YoY—segmen tercepat pertumbuhannya. Ekspor kumulatif Januari–Mei untuk kategori ini mencapai 26.248 ton, naik 37% YoY (Shrimp Insights, 2025b). Ini adalah perkembangan signifikan, tetapi posisi Indonesia tetap rentan: nilai per kilogram udang Indonesia rata-rata USD 7,93 pada 2024, turun dari USD 9,07 pada 2022 (Shrimp Insights, 2025a). Pergeseran ke produk bernilai tambah ternyata belum cukup mengkompensasi tekanan harga dari oversupply global yang dipimpin Ekuador.

## V. Persoalan Lingkungan yang Tak Pernah Selesai

Hilirisasi udang Indonesia tidak bisa dipisahkan dari satu warisan historis yang berat: kehancuran mangrove. Antara 1970 hingga 2003, sekitar 800.000 hektare mangrove dibuka untuk akuakultur, dipicu oleh kebijakan pemerintah pada 1980-an dan ledakan harga udang selama krisis keuangan Asia 1997 (Ilman et al., 2016; Mongabay, 2021). Sebagian besar dari lahan itu kini berupa tambak abandoned dengan produktivitas rendah—konsekuensi langsung dari ledakan ekstensif tanpa rencana berkelanjutan.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2019) menunjukkan mangrove cover Indonesia berkurang 430.000 hektare dari 1985 hingga 2019, dengan laju deforestasi 12.647 hektare per tahun. Studi yang dipublikasikan di *Land Use Policy* (Ilman et al., 2016) memperingatkan tambahan 700.000 hektare mangrove dapat hilang dalam dua dekade berikutnya jika tidak ada intervensi.

Persoalan ini menempatkan industri udang Indonesia dalam dilema yang sulit dengan pasar premium. Pembeli di Eropa, AS, dan Jepang semakin sensitif terhadap jejak deforestasi mangrove dalam rantai pasok seafood. Standar seperti Aquaculture Stewardship Council (ASC), Best Aquaculture Practices (BAP), dan Global G.A.P. mewajibkan sertifikasi bahwa tambak tidak dibangun di atas lahan mangrove yang dikonversi setelah tahun tertentu. Indonesia, dengan rekam jejak konversi mangrove yang panjang, menghadapi rintangan reputasional yang substansial.

Sebuah pertanyaan akademis yang menarik telah diajukan dalam studi terbaru di *Aquaculture International*: apakah konservasi mangrove sebenarnya mendukung produktivitas akuakultur jangka panjang? Analisis spatial yang dilakukan di Berau, Kalimantan Timur, menemukan bahwa mangrove yang sehat di sekitar tambak tradisional meningkatkan produktivitas ekonomi melalui penyediaan layanan ekosistem—pemurnian air, perlindungan dari erosi, dan habitat untuk pakan alami (Quevedo et al., 2025). Temuan ini secara teoretis mendukung model silvofishery—tambak yang dikombinasikan dengan tegakan mangrove—tetapi adopsinya tetap terbatas karena ekonomi jangka pendek lebih menguntungkan tambak intensif yang sepenuhnya mengkonversi lahan.

Regulasi terbaru Permen LHK Nomor 1 Tahun 2025 tentang Pengolahan Air Limbah Pertambakan Udang menetapkan baku mutu limbah dan kewajiban sistem pengolahan air buangan yang lebih terstandar (Suhana, 2025). Tenggat penyesuaian hingga Maret 2026 memberikan periode transisi, tetapi implikasinya signifikan: petambak kecil yang tidak mampu membangun IPAL mandiri akan kesulitan memenuhi standar baru. Tanpa skema pembiayaan hijau atau bantuan infrastruktur klaster, regulasi ini berisiko mengkonsolidasi industri ke arah pelaku besar—sebuah outcome yang mungkin mendekatkan Indonesia ke model Ekuador, tetapi dengan biaya sosial yang berat bagi petambak rakyat.

## VI. Pasar yang Bergeser

Konteks global makin tidak mudah. Tarif impor AS terhadap produk India pada 2025 telah menciptakan tekanan yang besar bagi eksportir India dan membuka ruang bagi negara lain untuk merebut pangsa pasar. Indonesia secara teoretis seharusnya menjadi penerima manfaat, tetapi insiden Cesium-137 dan tarif anti-dumping 6,3% justru membatasi kemampuan Indonesia untuk memanfaatkan momentum tersebut (Tempo English, 2025).

Sementara itu, Ekuador terus tumbuh. Pada Januari–Oktober 2025, ekspor Ekuador mencapai 1,15 juta metrik ton, naik 15,5% YoY (Vietdata, 2026). Diversifikasi pasarnya—dengan Tiongkok sebagai pembeli terbesar—memberikan resiliensi yang tidak dimiliki Indonesia. Selama pemerintah Tiongkok memberikan stimulus konsumsi dan harga di Tiongkok tetap kompetitif, Ekuador akan terus melaju.

Pasar Tiongkok adalah cerita yang menarik tersendiri. Indonesia, secara historis, mengalami hubungan yang tidak stabil dengan pembeli Tiongkok—volume yang fluktuatif dan tidak terprediksi (SeafoodSource, 2024). Pada Juli 2025, ekspor Indonesia ke Tiongkok mencapai 1.421 ton, naik 247% YoY—lonjakan yang impresif tetapi dari basis yang sangat kecil (Shrimp Insights, 2025c). Membangun pasar Tiongkok yang stabil membutuhkan negosiasi government-to-government, jaringan importir, dan—yang paling penting—konsistensi kualitas dan pengiriman yang sulit dicapai dalam industri yang fragmentaris.

Pasar Eropa juga menjadi prioritas. Pada periode Januari–Juli 2025, ekspor ke Uni Eropa tumbuh dua digit setiap bulannya. Tetapi Eropa adalah pasar yang sangat ketat dalam hal sertifikasi sustainability dan jejak karbon. Penetrasi yang serius membutuhkan investasi dalam ASC certification, pengurangan ketergantungan ikan tangkap untuk pakan (fish-in fish-out ratio), dan transparansi rantai pasok—area di mana industri Ekuador, melalui SSP, telah menanam modal selama bertahun-tahun lebih dahulu.

Jepang, pasar tradisional Indonesia untuk produk bernilai tambah, juga menghadapi pergeseran. Permintaan Jepang untuk udang masak meningkat, tetapi industri Tiongkok—setelah dikenakan tarif AS yang lebih tinggi—mengalihkan produk bernilai tambah ke Jepang dengan harga kompetitif (FAO, 2025). Indonesia harus bersaing tidak hanya dengan negara-negara penghasil udang lain, tetapi juga dengan industri pengolahan negara ketiga yang membeli bahan baku dari mana saja dengan harga termurah.

## VII. Empat Skenario, Empat Pilihan

Hilirisasi udang Indonesia, jika dipotret secara jujur, sedang berada di persimpangan yang menentukan. Para pengamat industri dapat mengidentifikasi setidaknya empat skenario yang masuk akal untuk dekade mendatang.

**Pertama, skenario “Ekuador-isasi parsial”:** Indonesia berhasil mendorong konsolidasi industri melalui shrimp estate dan investasi swasta besar, dengan beberapa korporasi terintegrasi muncul sebagai pemain dominan. Petambak kecil sebagian besar akan terpinggirkan kecuali yang berhasil menggabungkan diri dalam koperasi atau menjadi penyedia kontrak. Hasilnya: produksi naik signifikan, posisi global membaik, tetapi biaya sosial—terutama di komunitas pesisir tradisional—akan tinggi.

**Kedua, skenario “status quo dengan perbaikan marginal”:** Investasi besar pada shrimp estate gagal karena masalah governance dan eksekusi (seperti Kebumen), tetapi sektor tradisional dan semi-intensif mengalami peningkatan bertahap melalui program seperti “tradisional plus”. Produksi tumbuh perlahan, ekspor stabil di kisaran 200.000–250.000 ton, dan Indonesia tetap berada di posisi keempat–kelima dunia tanpa lonjakan signifikan.

**Ketiga, skenario “kontraksi struktural”:** Regulasi lingkungan yang lebih ketat (seperti Permen LHK 1/2025) tanpa dukungan finansial yang memadai memaksa banyak petambak kecil keluar, sementara penghuni baru tidak masuk karena hambatan permodalan dan ketidakpastian pasar AS. Produksi Indonesia justru menurun, dan posisi global bergeser ke negara seperti Brasil dan Arab Saudi yang sedang membangun kapasitas.

**Keempat, skenario “diferensiasi premium”:** Daripada bersaing pada volume, Indonesia menempatkan diri sebagai produsen niche untuk pasar premium—udang organik, udang dengan jejak karbon rendah, udang dengan rantai pasok yang dapat ditelusuri sepenuhnya, atau produk turunan seperti chitosan dan kitin untuk industri biomedis. Volume tetap moderat, tetapi nilai per kilogram naik signifikan.

Tidak ada satu skenario pun yang dapat diprediksi dengan keyakinan tinggi. Yang dapat dikatakan adalah bahwa keempat skenario tersebut akan ditentukan oleh tiga variabel kunci: kualitas governance di proyek-proyek hilirisasi besar, kemampuan diversifikasi pasar di luar AS, dan keseriusan dalam mengatasi persoalan lingkungan struktural seperti kerusakan mangrove dan kerentanan penyakit.

## Catatan Akhir: Tentang Keterbatasan Analisis Ini

Sebuah analisis seperti ini, betapapun teliti, memiliki keterbatasan yang harus diakui secara terbuka.

Pertama, sebagian besar data komparatif tentang produktivitas tambak dan struktur industri yang tersedia secara publik bersumber dari studi 2018–2021, periode pra-pandemi yang mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi pasca-2022. Boyd et al. (2021) memberikan data resource use yang paling komprehensif untuk lima negara penghasil, tetapi data Indonesia dalam studi itu sebagian besar didasarkan pada survei tambak yang relatif terorganisir di Pulau Jawa, sehingga tidak sepenuhnya merepresentasikan kondisi tambak ekstensif di Sulawesi, Kalimantan, atau Papua.

Kedua, data statistik resmi Indonesia—dari BPS, KKP, dan Direktorat Jenderal Perikanan Budi Daya—memiliki diskrepansi dengan data perdagangan internasional yang dikumpulkan oleh sumber-sumber seperti Global Trade Tracker, FAO GLOBEFISH, dan Shrimp Insights. Perbedaan ini disebabkan oleh beberapa faktor: konversi unit, definisi produk (apakah udang olahan dimasukkan dalam “udang” atau dalam kategori lain), dan kesenjangan waktu antara produksi dan ekspor. Analisis ini cenderung menggunakan data ekspor yang lebih terverifikasi sebagai proxy untuk produksi komersial, tetapi pendekatan ini mengabaikan konsumsi domestik yang signifikan.

Ketiga, kerangka komparatif Ekuador-Indonesia memiliki batasan inheren. Ekuador adalah negara kontinental dengan satu garis pantai Pasifik, sementara Indonesia adalah kepulauan dengan kondisi oseanografi, sosio-ekonomi, dan regulasi yang sangat beragam antar provinsi. Pelajaran dari Ekuador tidak sepenuhnya transferable, dan saran “tiru Ekuador” yang sering didengungkan oleh pejabat dan konsultan harus dibaca dengan hati-hati.

Keempat, analisis tentang shrimp estate sebagian besar didasarkan pada satu kasus (Kebumen) yang dilaporkan oleh investigasi jurnalistik. Proyek Sumba Timur belum sepenuhnya beroperasi, dan kesimpulan tentang model shrimp estate secara umum—apakah inherently flawed atau hanya dieksekusi buruk di Kebumen—membutuhkan data yang belum tersedia.

Kelima, dimensi geopolitik perdagangan—khususnya hubungan AS-Tiongkok, kebijakan tarif Trump 2.0, dan negosiasi perjanjian dagang Indonesia dengan UE—berubah cepat dan dapat mengubah lanskap industri secara dramatis dalam hitungan bulan. Analisis ini menggambarkan kondisi sebagaimana adanya pada awal 2026, dan pembaca harus berhati-hati dalam mengekstrapolasinya ke masa depan.

Akhirnya, ada batas epistemologis yang lebih dalam. Hilirisasi sebagai konsep kebijakan—sebagaimana dipopulerkan dalam diskursus ekonomi Indonesia—mengandaikan bahwa nilai tambah industri dapat ditingkatkan melalui koordinasi negara yang aktif. Asumsi ini debatable. Pendukungnya, seperti kalangan developmental state, menunjuk pada keberhasilan hilirisasi nikel sebagai bukti. Kritikus, termasuk sebagian ekonom dari tradisi institusional, menunjuk bahwa industri seperti udang—dengan struktur pasar global yang kompetitif, sensitivitas tinggi terhadap penyakit, dan kebutuhan biosecurity yang ketat—berbeda secara fundamental dari komoditas mineral, dan intervensi negara yang berlebihan justru dapat memperburuk koordinasi pasar.

Kisah BUBK Kebumen, dengan tambak vakum dan gumuk pasir yang rata, mungkin terlalu spesifik untuk dijadikan vonis atas seluruh konsep hilirisasi. Tetapi ia adalah peringatan: ambisi besar membutuhkan eksekusi yang setara. Tanpa governance yang kapabel, tanpa diversifikasi pasar yang sungguh-sungguh, tanpa investasi dalam genetika dan biosecurity, dan tanpa pengakuan jujur akan kerusakan lingkungan yang menjadi warisan dekade-dekade sebelumnya, peta jalan 2040 akan menjadi koleksi target—bukan rencana.

Pesisir Indonesia masih panjang. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah industri yang dibangun di atasnya akan menjadi pesaing serius Ekuador pada 2040, atau akan menjadi catatan kaki dalam sejarah komoditas global—satu lagi sektor yang menjanjikan banyak tetapi mengirimkan sedikit.



## Daftar Pustaka

Aqua Culture Asia Pacific. (2021). Shrimp farming models in Asia vs Latin America. *Aquaculture Asia Pacific Magazine*, November/December 2021. https://issuu.com/aquacultureasiapacific/docs/aq21165_aap_novdec21_fa_lr

Aqua Culture Asia Pacific. (2025, 15 Agustus). Shrimp Outlook 2025: Indonesian shrimp industry’s performance, challenges, and market dynamics in 2024. https://aquaasiapac.com/2025/08/15/shrimp-outlook-2025-indonesian-shrimp-industrys-performance-challenges-and-market-dynamics-in-2024/

Aquaculture Magazine. (2022, 31 Januari). Comparison of resource use for farmed shrimp in Ecuador, India, Indonesia, Thailand, and Vietnam. https://aquaculturemag.com/2022/01/31/comparison-of-resource-use-for-farmed-shrimp-in-ecuador-india-indonesia-thailand-and-vietnam/

Aquaculture Magazine. (2025, 28 April). Global scenario of shrimp industry: Present status and future prospects. https://aquaculturemag.com/2025/04/28/global-scenario-of-shrimp-industry-present-status-and-future-prospects/

Aquafeed. (2025a, 12 Oktober). Ecuador, world shrimp epicenter and host of AquaExpo 2025. https://www.aquafeed.com/newsroom/editors-picks/ecuador-world-shrimp-epicenter-and-host-of-aquaexpo-2025/

Aquafeed. (2026, 24 Februari). Indonesia’s shrimp industry today: The promise and risks of integrated mega-farms. https://www.aquafeed.com/newsroom/editors-picks/indonesias-shrimp-industry-today-the-promise-and-risks-of-integrated-mega-farms/

ASDF.ID. (2025, 7 Januari). 9 Tantangan cold chain logistics dan solusinya. https://www.asdf.id/tantangan-cold-chain-logistics/

Boyd, C. E. (2021). Resource use in whiteleg shrimp *Litopenaeus vannamei* farming in Ecuador. *Journal of the World Aquaculture Society*, *52*(4), 772–788. https://doi.org/10.1111/jwas.12818

Boyd, C. E., Davis, R. P., & McNevin, A. A. (2021). Comparison of resource use for farmed shrimp in Ecuador, India, Indonesia, Thailand, and Vietnam. *Aquaculture, Fish and Fisheries*, *1*(1), 3–15. https://doi.org/10.1002/aff2.23

Capricorn Indonesia Consult. (2019). A cold chain study of Indonesia. In *ERIA Research Project Report 2018-11* (Chapter 4). Economic Research Institute for ASEAN and East Asia. https://www.eria.org/uploads/media/8_RPR_FY2018_11_Chapter_4.pdf

Databoks Katadata. (2025). Indonesia’s shrimp export trend to the United States during 2025. https://databoks.katadata.co.id/en/trade/statistics/68a824f9ccea1/indonesias-shrimp-export-trend-to-the-united-states-during-2025

FAO. (2024). *Quarterly shrimp analysis – June 2024: Quarterly species analysis – Shrimp*. Food and Agriculture Organization of the United Nations. https://openknowledge.fao.org/server/api/core/bitstreams/565f0b9d-1b7a-41e7-b4c8-34514ef4d8dc/content

FAO. (2025). *Quarterly shrimp analysis – February 2025: Quarterly species analysis – Shrimp*. Food and Agriculture Organization of the United Nations. https://openknowledge.fao.org/server/api/core/bitstreams/91dc11fb-8690-48bd-93eb-41dbc72df504/content

FAO GLOBEFISH. (2025). World fish trade fall in 2024. Food and Agriculture Organization. https://www.fao.org/in-action/globefish/news-events/news/news-detail/world-fish-trade-fall-in-2024/en

Federal Register. (2024, 26 Desember). Frozen warmwater shrimp from Indonesia: Antidumping duty order; Frozen warmwater shrimp from Ecuador, India, and the Socialist Republic of Vietnam: Countervailing duty orders. *Federal Register*, *89*(247), 104982–104985. https://www.federalregister.gov/documents/2024/12/26/2024-30694/

Ilman, M., Dargusch, P., Dart, P., & Onrizal. (2016). A historical analysis of the drivers of loss and degradation of Indonesia’s mangroves. *Land Use Policy*, *54*, 448–459. https://doi.org/10.1016/j.landusepol.2016.03.010

IMARC Group. (2025). *Ecuador shrimp feed market size, share and forecast 2025–2033*. https://www.imarcgroup.com/ecuador-shrimp-feed-market

JALA. (2025, 12 Desember). Indonesia shrimp exports reopen: A positive outlook for 2026 aquaculture. https://jala.tech/blog/shrimp-industry/indonesia-shrimp-exports-reopen

Jaring.id. (2026a, 22 Februari). Shrimp Estate: Target meleset, petambak merugi, dan IPAL yang serampangan. https://jaring.id/proyek-shrimp-estate-bubk-kebumen/

Jaring.id. (2026b, 27 Februari). Dampak Shrimp Estate: Penyu lekang tak bertandang, laut Kebumen tercemar tambak udang. https://jaring.id/dampak-shrimp-estate-penyu-lekang-tak-bertandang-laut-kebumen-tercemar-tambak-udang/

Klinik Agromina Bahari UGM. (2021, 12 November). Opini: Mengulik pembangunan shrimp estate di Indonesia. Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. https://kab.faperta.ugm.ac.id/2021/11/12/opini-mengulik-pembangunan-shrimp-estate-di-indonesia/

Mongabay. (2021, 17 November). Indonesia slashes 2021 mangrove restoration target, vows to make up in 2022. https://news.mongabay.com/2021/11/indonesia-slashes-2021-mangrove-restoration-target-vows-to-make-up-in-2022/

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. (2023, 26 Juni). Shrimp estate Kebumen dipanen, Gus Yasin: Pelopor budidaya udang modern di Indonesia. https://jatengprov.go.id/publik/shrimp-estate-kebumen-dipanen-gus-yasin-pelopor-budidaya-udang-modern-di-indonesia/

Pradhan, S. C., Patil, P. K., Sahoo, S., Behera, B. K., Das, A., Paria, A., & Das, B. K. (2024). *Ecytonucleospora hepatopenaei* (EHP) disease prevalence and mortality in *Litopenaeus vannamei*: A comparative study from Eastern India shrimp farms. *Aquaculture Reports*. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC11657822/

Quevedo, J. M. D., Uchiyama, Y., & Kohsaka, R. (2025). Conservation for production? The benefits of mangroves for sustainable shrimp aquaculture. *Aquaculture International*, *33*(4). https://doi.org/10.1007/s10499-025-02056-y

Rubel, H., Woods, W., Pérez, D., Felde, A. M. Z., Zielcke, S., Heid, S., & Stevenson, K. (2017). Shrimp aquaculture technology change in Indonesia: Are small farmers included? *Aquaculture*, *489*, 63–73. https://doi.org/10.1016/j.aquaculture.2017.05.034

Seafood Watch. (2025). *Warmwater shrimp social risk profile — Ecuador 2025*. Monterey Bay Aquarium. https://www.seafoodwatch.org/globalassets/sfw/pdf/global/ssrt-2025-ecu-wshrimp.pdf

SeafoodSource. (2024, 11 Juni). April 2024 US shrimp import figures show totals from Vietnam and Thailand rising, Ecuador dropping. https://www.seafoodsource.com/news/supply-trade/

Shrimp Insights. (2025a, 14 Februari). Indonesia’s exports in 2024 drop for third year to just above 200,000 MT. https://www.shrimpinsights.com/byte/indonesias-exports-2024-drop-third-year-just-above-200000-mt

Shrimp Insights. (2025b, 15 Juli). Indonesia’s strong May push drives double-digit YTD growth in shrimp exports. https://www.shrimpinsights.com/byte/indonesias-strong-may-push-drives-double-digit-ytd-growth-shrimp-exports

Shrimp Insights. (2025c). Indonesia shrimp exports pick up pace in July. https://www.shrimpinsights.com/byte/indonesia-shrimp-exports-pick-pace-july

Suadi, & Kusano, E. (2019). Indonesian seafood supply chain. In *ERIA Research Project Report 2018-05* (Chapter 6). Economic Research Institute for ASEAN and East Asia. https://www.eria.org/uploads/media/11.RPR_FY2018_05_Chapter_6.pdf

Suhana. (2025, 18 Desember). Maret 2026: Strategi petambak udang hadapi aturan limbah. https://suhana.web.id/2025/12/18/strategi-petambak-udang-hadapi-aturan-limbah/

Sukma, N. P. K., Hartono, R., Hammell, K. L., Delphino, M. K. V. C., & Thakur, K. K. (2023). Survey of farm management and biosecurity practices on shrimp farms on Java Island, Indonesia. *Frontiers in Aquaculture*, *2*. https://doi.org/10.3389/faquc.2023.1169149

Tempo English. (2025, 19 Agustus). Indonesian shrimp exports to U.S. reach US$287.34 million in Q1 2025. https://en.tempo.co/amp/2041822/indonesian-shrimp-exports-to-u-s-reach-us287-34-million-in-q1-2025

The Fish Site. (2024, 16 September). Could traditional-plus shrimp farms boost Indonesian production? https://thefishsite.com/articles/could-traditional-plus-shrimp-farms-boost-indonesian-production

The Fish Site. (2025, 19 Maret). What can Indonesia learn from Ecuador’s shrimp farming success? https://thefishsite.com/articles/what-can-indonesia-learn-from-ecuadors-shrimp-farming-success

Vietdata. (2026, 7 Januari). Global shrimp markets 2026: Supply surge from Ecuador vs. India’s tariff challenges. https://www.vietdata.vn/post/global-shrimp-markets-2026-supply-surge-from-ecuador-vs-india-s-tariff-challenges

VOI. (2024). Minister Trenggono targets shrimp estate in NTT to generate 55,000 tons of shrimp. https://voi.id/en/economy/441953

World Resources Institute Indonesia. (2024, 22 April). Menuju hilirisasi sektor perikanan Indonesia yang kuat dan berkelanjutan. https://wri-indonesia.org/en/insights/advancing-strong-and-sustainable-downstreaming-indonesias-fisheries-sector

Discover more from bolakayu.id

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading