
## I. Sebuah Hari di Bulan September
Pada 23 September 2024, dua pesawat terbang dari arah berlawanan turun di dua bandara yang dipisahkan jarak hampir seribu kilometer. Yang satu mendarat di Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Yang lain berhenti di Surabaya, Jawa Timur. Di dua tempat itu, dalam waktu beberapa jam saja, Presiden Joko Widodo meresmikan dua fasilitas industri terbesar yang pernah dibangun untuk mengolah satu komoditas tertentu di Indonesia: smelter tembaga PT Amman Mineral Nusa Tenggara di Sumbawa Barat, dengan investasi sekitar Rp21 triliun, dan smelter PT Freeport Indonesia di Gresik, dengan investasi sekitar Rp56 triliun (Antaranews, 2024a; Jawa Pos, 2024).
Itu adalah peresmian yang dirancang untuk menjadi pernyataan politik. Dalam sambutannya, Jokowi menempatkan dua proyek itu di tengah narasi besar yang sudah ia ulang selama hampir satu dekade: bahwa Indonesia akan berhenti mengirim sumber daya alamnya ke luar dalam bentuk mentah, bahwa industrialisasi pengolahan mineral adalah “pondasi ekonomi baru kita”, dan bahwa produk domestik bruto Indonesia—yang sampai sekarang masih sekitar 56 persen ditopang konsumsi domestik—akan dibalik strukturnya menjadi ekonomi produktif (Antaranews, 2024a). Pada peresmian smelter Freeport, presiden mengatakan, “Pembangunan smelter ini merupakan usaha kita menyongsong Indonesia menjadi negara industri maju yang mengolah sumber daya alamnya sendiri dan tidak ekspor bahan mentah atau raw material” (Detik Finance, 2024).
Tiga minggu kemudian, pada 14 Oktober 2024, unit asam sulfat smelter Freeport di Gresik terbakar. Api itu menghentikan operasi smelter—yang oleh manajemen Freeport disebut sebagai smelter tembaga *single line* terbesar di dunia—selama sekitar tujuh bulan (Kompas.id, 2025). Pada saat yang sama, di Sumbawa, smelter Amman yang baru beroperasi sedang dalam tahap *commissioning* hati-hati. Dan setahun kemudian, pada 8 September 2025, sekitar 800 ribu ton lumpur menerobos masuk ke terowongan bawah tanah tambang Grasberg di Papua Tengah, menewaskan dua pekerja, menghilangkan lima lainnya, dan memaksa Freeport-McMoRan mendeklarasikan *force majeure* atas kontrak pasokan tembaga internasionalnya (Mining Technology, 2025; The Oregon Group, 2025).
Tiga peristiwa itu—peresmian seremonial, kebakaran teknis, dan bencana tambang—menentukan kondisi hilirisasi tembaga Indonesia memasuki paruh kedua dekade ini. Di permukaan, Indonesia telah berhasil mencapai apa yang selama dua dekade dijanjikan: bahwa konsentrat tembaga, yang sebelumnya hampir seluruhnya diekspor ke pabrik-pabrik peleburan di Tiongkok, Jepang, India, dan Korea Selatan, kini sebagian besar diolah di dalam negeri menjadi katoda tembaga. Di permukaan, Indonesia tampak sudah memasuki, dalam kata-kata Jokowi, “babak baru” dalam rantai pasok tembaga global (Antaranews, 2024b).
Tetapi di bawah permukaan, kondisi industrinya jauh lebih ambigu. Indonesia membangun kapasitas pemurnian tembaga di saat yang sama ketika harga pemrosesan global jatuh ke titik terendah dalam sejarah industri modern, ketika tambang utamanya menghadapi gangguan operasional yang serius, dan ketika pertanyaan tentang siapa sebenarnya yang menyerap katoda tembaga itu—pabrik kabel domestik, pabrik baterai, atau pasar ekspor regional yang sama yang dulu menyerap konsentrat—masih belum sepenuhnya terjawab. Hilirisasi tembaga adalah salah satu eksperimen kebijakan industri paling ambisius di dunia berkembang dewasa ini. Apakah ia berhasil atau tidak, akan sangat bergantung pada hal-hal yang tidak diucapkan dalam pidato peresmian.
## II. Geologi sebagai Takdir
Untuk memahami mengapa hilirisasi tembaga di Indonesia begitu mendesak secara politik dan rumit secara teknis, perlu dimulai dari geologi.
Indonesia, dalam data tahun 2024, adalah produsen tembaga terbesar ketujuh di dunia, dengan output sekitar 1,1 juta metrik ton—naik 21 persen secara tahunan, melampaui Amerika Serikat dan Rusia (NAI 500, 2025). Hampir seluruh produksi itu berasal dari dua tambang: Grasberg di Mimika, Papua Tengah, yang dioperasikan PT Freeport Indonesia, dan Batu Hijau di Sumbawa Barat, yang dioperasikan PT Amman Mineral Nusa Tenggara. Pada 2014, dua tambang ini menyumbang 97 persen produksi tembaga nasional (Wikipedia, 2024a), dan konsentrasi itu pada dasarnya tidak banyak berubah sejak.
Grasberg adalah anomali geologis. Tambang ini memiliki cadangan emas terbesar tunggal yang diketahui di dunia dan cadangan tembaga terbesar kedua, dengan cadangan terbukti dan kemungkinan per akhir 2022 mencapai 14 juta ton tembaga dan 808 ton emas (Wikipedia, 2024b). Pada 2024, ia memproduksi 816,4 kilo-ton tembaga, menjadikannya tambang tembaga terbesar kedua di dunia (Project Blue, 2025). Batu Hijau, lebih kecil tetapi tetap signifikan, adalah deposit porfiri tembaga-emas kelas dunia di lengkung pulau, dengan cadangan bijih sekitar 803 juta ton pada akhir 2022 dengan kadar 0,37 persen tembaga (Wikipedia, 2024c). Amman menargetkan produksi 833 ribu ton konsentrat tembaga kering pada 2024, naik 54 persen dari tahun sebelumnya, didukung bijih kadar tinggi dari Fase 7 (Mining.com, 2024).
Yang luar biasa tentang dua tambang ini bukan hanya skalanya, tetapi konfigurasi kepemilikannya. Grasberg, setelah negosiasi panjang dan akuisisi 51,2 persen saham oleh Mining Industry Indonesia (MIND ID) pada 2018, kini secara nominal mayoritas milik negara—meskipun Freeport-McMoRan tetap menjadi operator dengan 48,8 persen saham (Mining Technology, 2020). Batu Hijau, awalnya dimiliki Newmont, telah didivestasi sepenuhnya ke perusahaan domestik dan kini di bawah Amman Mineral Internasional Tbk, sebuah perusahaan publik yang dikendalikan kelompok Medco-Salim. Konfigurasi ini—sumber daya yang luar biasa, kepemilikan yang sebagian besar telah dinasionalisasi, dan ketergantungan teknis pada mitra asing—adalah latar geopolitik dari seluruh perdebatan hilirisasi.
Selama hampir tiga dekade, dari produksi komersial Grasberg pada 1990-an hingga awal 2010-an, hampir seluruh konsentrat tembaga Indonesia diekspor ke smelter-smelter di Asia Timur—terutama Tiongkok dan Jepang. Satu-satunya pengecualian adalah PT Smelting di Gresik, sebuah perusahaan patungan yang didirikan pada Februari 1996 antara Mitsubishi Materials Corporation, PT Freeport Indonesia, Mitsubishi Corporation, dan Nippon Mining and Metals. Konstruksi dimulai pada 1996, selesai pada Agustus 1998, dengan operasi komersial pada Mei 1999, dan kapasitas desain 200 ribu ton katoda tembaga per tahun (Wijaya, 2006). PT Smelting, untuk waktu yang sangat lama, adalah satu-satunya fasilitas peleburan tembaga di Indonesia. Ia adalah produk dari Kontrak Karya II Freeport, yaitu hasil tawar-menawar yang dirumuskan jauh sebelum gagasan “hilirisasi” memasuki kosakata kebijakan resmi.
Sampai 2024, kapasitas PT Smelting telah diperluas empat kali—pada 2004, 2006, 2009, dan terakhir 2023—mencapai 342 ribu ton katoda tembaga per tahun (PT Smelting, 2024). Pada Juni 2024, kepemilikan mayoritasnya berpindah dari Mitsubishi Materials ke PT Freeport Indonesia. Itu adalah pergeseran simbolik: smelter pertama Indonesia, yang dibangun karena tekanan kontraktual seperempat abad lalu, kini secara formal menjadi aset perusahaan tambang Indonesia yang dimiliki mayoritas oleh BUMN.
## III. Bagaimana Kebijakan Bergerak
Pergeseran ini—dari satu fasilitas peleburan kecil yang melayani Freeport ke janji infrastruktur pemrosesan nasional—dimulai sebagai upaya kebijakan sekitar 2009, dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Undang-undang itu mengharuskan perusahaan pertambangan membangun fasilitas pengolahan domestik atau menghadapi larangan ekspor lima tahun kemudian (CSIS, 2025). Pada Januari 2014, larangan itu diberlakukan, mengejutkan industri pertambangan, hampir menghentikan kegiatan tambang nikel dan bauksit, dan secara signifikan mengurangi ekspor pada tahun pertamanya (Chintan, 2025). Tembaga diberikan pengecualian menit terakhir; Freeport dan Newmont mendapat kelonggaran untuk terus mengekspor konsentrat sementara mereka, secara teoretis, membangun smelter (Inside Indonesia, 2017).
Yang terjadi selanjutnya adalah pola yang akan diulangi berulang kali selama satu dekade berikutnya: pengetatan kebijakan, kelonggaran pragmatis, pengetatan ulang. Pada Januari 2017, Jokowi—yang sebelumnya mendukung larangan secara penuh—membalikkannya untuk tembaga, sebuah keputusan yang oleh pengamat ditafsirkan sebagai upaya untuk memfasilitasi negosiasi divestasi Freeport (Inside Indonesia, 2017). Pada 2019, larangan diperketat lagi melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2019, menjadi salah satu kebijakan kunci dalam apa yang oleh para akademisi disebut sebagai “resource nationalism” Indonesia (Natapradja, 2023).
Untuk tembaga, tenggat efektif larangan ekspor jatuh pada pertengahan 2023, kemudian diperpanjang ke Mei 2024, kemudian Desember 2024, kemudian—setelah kebakaran Freeport—diperpanjang lagi sampai pertengahan 2025, lalu September 2025 (Kompas.id, 2025; Liputan6, 2025). Setiap perpanjangan adalah tindakan keseimbangan: antara kredibilitas politik dari kebijakan hilirisasi, kebutuhan teknis untuk menjaga arus kas perusahaan tambang selama smelter dibangun, dan tekanan fiskal dari kehilangan pendapatan negara yang signifikan jika tambang harus dihentikan. Pada saat kebakaran Freeport pada Oktober 2024, perkiraan dampaknya pada penerimaan negara mencapai Rp65 triliun (Katadata, 2024).
Pola ini—di mana setiap insiden teknis atau bencana operasional memicu kembali negosiasi politik antara kementerian, BUMN, dan operator asing—mencerminkan apa yang disebut oleh seorang peneliti Inside Indonesia sebagai “ketidakjelasan regulasi yang intractable” yang telah menjadi karakteristik tata kelola sektor sumber daya Indonesia (Inside Indonesia, 2017). Tidak ada larangan yang benar-benar mutlak; tidak ada izin ekspor yang benar-benar permanen. Yang ada hanyalah serangkaian kontrak waktu yang dapat diperbarui, masing-masing tergantung pada keadaan teknis dan politik saat itu.
Untuk konteks regional, pendekatan Indonesia ini secara struktural berbeda dari kebijakan pertambangan negara-negara penghasil tembaga utama lainnya. Chili, produsen tembaga terbesar di dunia dengan 5,3 juta metrik ton pada 2024 atau sekitar 23 persen produksi global (NAI 500, 2025), telah lama mempertahankan rezim yang menggabungkan peran kuat BUMN (Codelco) dengan investasi swasta internasional yang besar, tanpa larangan ekspor konsentrat. Justru sebaliknya: Chile telah melihat penurunan kapasitas peleburan domestiknya dalam beberapa tahun terakhir, dengan penutupan smelter Ventanas milik Codelco pada 2023 (kapasitas 400 ribu ton refined copper per tahun) dan penangguhan operasi di smelter Hernan Videla Lira milik Enami (kapasitas 300 ribu ton), keduanya karena tingginya biaya dan masalah lingkungan (Fastmarkets, 2024). Pada Desember 2025, Codelco menandatangani memorandum of understanding dengan Glencore untuk membangun smelter baru di Wilayah Antofagasta yang baru akan beroperasi antara 2032 dan 2033 (BNamericas, 2025; Wikipedia, 2024d).
Kontras antara Indonesia dan Chili sangat instruktif. Chili, dengan lebih dari satu abad pengalaman industri tembaga, sebenarnya sedang bergerak ke arah berlawanan dari hilirisasi: pada 2024, konsentrat tembaga yang tidak dimurnikan mewakili 50,9 persen nilai ekspor pertambangan Chili, sementara tembaga olahan dari smelter Chili menyumbang 33 persen (Wikipedia, 2024d). Indonesia, dalam tiga tahun terakhir, telah memilih jalan kebalikan—membangun kapasitas peleburan pada saat banyak negara produsen sedang menutup atau menundanya.
## IV. Geometri Kapasitas Global
Untuk memahami mengapa keputusan Indonesia ini berisiko, bermanfaat untuk memetakan distribusi kapasitas peleburan tembaga global, yang merupakan salah satu industri paling terkonsentrasi di sektor logam dasar.
Pada 2024, produksi tembaga olahan global mencapai 27,5 juta ton, dengan kapasitas pemurnian global mencapai 32,6 juta ton dan tingkat utilisasi kapasitas 84,3 persen (Scrap Monster, 2025). Tetapi distribusi kapasitas ini sangat tidak merata. Asia memimpin dunia dengan 14,59 juta ton kapasitas peleburan tembaga, atau 59,1 persen dari total global. Dalam Asia, Tiongkok sendiri memiliki kapasitas 9,14 juta ton—62,6 persen dari total Asia dan 37 persen dari total global. Jepang berada di posisi kedua di Asia dengan 1,87 juta ton (12,8 persen dari Asia). Eropa menyumbang 4,207 juta ton (17 persen global), dengan Rusia, Polandia, dan Jerman sebagai kontributor utama. Amerika Selatan terkonsentrasi di Chile (1,71 juta ton) dan Peru (430 ribu ton). Australia memiliki 550 ribu ton kapasitas (Copperepc, 2025).
Indonesia, dengan kapasitas teoretis baru—342 ribu ton di PT Smelting, 480 ribu ton di smelter Manyar Freeport baru (dengan kapasitas penuh 900 ribu ton katoda dari 1,7 juta ton konsentrat per tahun), dan 220 ribu ton di smelter Amman—berpotensi mencapai sekitar 1,04 juta ton kapasitas pemrosesan tembaga, atau sekitar 4 persen dari kapasitas peleburan tembaga dunia (Antaranews, 2024a; Liputan6, 2025; Kpler, 2025). Itu menjadikan Indonesia, dalam basis kapasitas, mitra peer dari Polandia atau Zambia—tidak dalam liga yang sama dengan Tiongkok, tetapi cukup signifikan untuk menjadi pemain regional.
Yang membuat angka ini menjadi rumit, dan inilah yang seharusnya mengkhawatirkan para pembuat kebijakan, adalah konteks ekonomi global yang Indonesia masuki. Selama 2024 dan 2025, treatment and refining charges (TC/RC) global—biaya yang dibayar penambang kepada smelter untuk memproses konsentrat menjadi logam murni—jatuh ke level terendah dalam sejarah industri. TC/RC adalah ukuran ekonomi terbalik: ketika konsentrat tersedia melimpah relatif terhadap kapasitas smelter, biaya naik dan smelter mendapat margin yang sehat; ketika konsentrat langka relatif terhadap kapasitas smelter, biaya turun, kadang menjadi negatif, dan smelter membayar untuk mendapatkan bahan baku.
Pada Februari 2024, TC spot di Tiongkok telah jatuh ke US$19,8 per ton, terendah sejak 2013 (FXStreet, 2024). Selama 2025, biaya itu memburuk secara dramatis. Indeks mingguan Fastmarkets mengukur TC konsentrat tembaga, CIF Asia-Pasifik, pada minus US$66,60 per ton pada 10 Oktober 2025 (Fastmarkets, 2025). Pada Desember 2025, penambang Chili Antofagasta menyetujui untuk benchmark 2026 dengan smelter Tiongkok pada angka nol—turun dari US$21,25 per ton dan 2,125 sen per pon pada 2025 (Discovery Alert, 2025a). Pada Desember 2025, China secara terbuka menyatakan oposisinya terhadap TC negatif dan mengumumkan telah menghentikan sekitar 2 juta ton kapasitas peleburan ilegal yang sedang dibangun atau direncanakan (Mining.com, 2025).
Asal mula krisis ini sederhana dan struktural: perluasan cepat kapasitas peleburan Tiongkok bertemu dengan serangkaian gangguan tambang global—termasuk penutupan Cobre Panama, ramp-up Quebrada Blanca yang lebih lambat dari perkiraan, penurunan output Codelco, dan terbaru, bencana Grasberg. Bagi smelter, ini adalah krisis margin. Bagi penambang—termasuk perusahaan-perusahaan Indonesia yang sekarang dipaksa menjual konsentrat secara domestik karena larangan ekspor—ini adalah lingkungan harga komposit yang lebih baik untuk konsentrat itu sendiri tetapi ekonomi yang sangat tidak menarik untuk integrasi hilir.
Di sinilah pertanyaan strategis menjadi mendesak. Indonesia membangun kapasitas peleburan domestik—suatu jenis industri yang, di tempat lain di dunia, sekarang sedang ditekan dengan margin negatif—dengan menggunakan modal yang sangat besar, hampir Rp80 triliun gabungan investasi smelter Freeport dan Amman saja (Antaranews, 2024c). Pertanyaan apakah keputusan itu bijak secara ekonomi tidak dapat dijawab dengan baik tanpa menanyakan dua pertanyaan lain: untuk siapa katoda tembaga itu, dan dengan harga berapa.
## V. Pasar yang Tidak Ada
Ini adalah pertanyaan yang paling jarang dibahas dalam pidato peresmian, tetapi paling penting secara analitis: ke mana katoda tembaga yang akan diproduksi smelter Indonesia akan dijual?
Pasar domestik Indonesia untuk katoda tembaga adalah, dibanding dengan kapasitas baru, kecil. Asosiasi Pabrik Kabel Indonesia (Apkabel) memperkirakan kebutuhan industri kabel domestik untuk tembaga mencapai 800 ribu ton per tahun pada masa puncak sebelum pandemi, turun menjadi sekitar 500 ribu ton setelahnya (Tambang, 2022). Industri kabel terdiri dari sekitar 45 pabrik, dari mana 15 memiliki fasilitas pengolahan tembaga atau menghasilkan rod tembaga. Akan tetapi—dan ini adalah poin penting—asosiasi sendiri mengakui bahwa banyak dari kebutuhan ini secara historis dipenuhi melalui impor, bukan dari produsen domestik, karena kebijakan dukungan untuk *down-downstream* (industri pengguna tembaga) belum sekuat dukungan untuk *upstream* pemrosesan.
Per Juni 2025, ketika smelter Manyar Freeport baru pulih dari kebakaran dengan kapasitas naik bertahap dari 40 persen ke 100 persen pada akhir tahun, manajemen Freeport secara eksplisit mengakui bahwa serapan domestik bukan tujuan utama. Industri di dalam negeri yang dapat menyerap katoda—kabel, *copper foil*—diakui ada, tetapi tidak sebanding dengan output (CNBC Indonesia, 2025). Sebagian besar katoda direncanakan untuk diekspor ke pasar Asia Tenggara yang sama—Malaysia, Thailand, Singapura, Vietnam, Taiwan—yang dulu menyerap konsentrat sebelum dimurnikan di Indonesia (Wijaya, 2006).
Pergeseran dari konsentrat ke katoda secara teknis adalah perubahan nilai tambah; tetapi sebagai strategi industri, ia adalah pergeseran dari ekspor satu produk antara ke ekspor produk antara yang lain. Dan inilah kritik yang sering diabaikan: hilirisasi yang menghasilkan katoda murni tidak sama dengan hilirisasi yang menghasilkan kabel listrik, motor elektrik, atau komponen baterai. Sebuah analisis kebijakan yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara pada Desember 2025 mengakui hal ini secara langsung: meskipun ekspor nikel Indonesia melonjak dari US$3,3 miliar pada 2017 menjadi US$33,8 miliar pada 2023, “pencapaian ini masih bersifat parsial karena didominasi produk setengah jadi” dan plat baja, billet aluminium, dan kawat tembaga “masih didatangkan dari luar negeri, sehingga biaya produksi meningkat 20–30 persen” (Direktorat Jenderal Minerba, 2025).
Pengakuan itu—diterbitkan oleh kementerian yang sama yang merancang larangan ekspor konsentrat—adalah indikator yang lebih jujur dari batas-batas hilirisasi seperti yang sekarang dirumuskan daripada hampir semua yang muncul di media populer. Itu mengakui bahwa nilai tambah yang ditangkap di tahap peleburan, meskipun substansial dibanding ekspor konsentrat mentah, masih jauh dari batas atas dari rantai nilai logam tembaga. Yang harus dibangun, jika ambisi industri sejati harus tercapai, adalah industri material maju—pabrik kawat tembaga berkualitas tinggi, copper foil untuk baterai litium-ion, magnet permanen, paduan tembaga untuk industri pertahanan. Smelter membangun pondasi yang diperlukan tetapi tidak cukup.
## VI. Pelajaran Nikel
Untuk memahami apa yang bisa salah—dan apa yang bisa benar—dengan eksperimen tembaga, perlu melihat kembali pengalaman Indonesia dengan nikel.
Hilirisasi nikel sering dikutip oleh para pendukungnya sebagai bukti konsep yang menentukan. Pada 2024, Indonesia menghasilkan sekitar 50 persen dari output nikel mentah global, naik dari 28 persen pada 2020, dan menurut Outlook Mineral Kritis Global yang diterbitkan Badan Energi Internasional, Indonesia bersama Tiongkok diperkirakan akan menyumbang 65 persen output nikel olahan global ke depan (Chintan, 2025). Itu adalah keberhasilan industri yang luar biasa dengan ukuran apa pun yang masuk akal: dari posisi marginal sebagai eksportir bijih mentah dua dekade lalu menjadi simpul kritis dalam rantai pasok kendaraan listrik global hari ini.
Tetapi pengalaman nikel juga adalah peringatan. Dominasi modal Tiongkok adalah salah satu pengalaman yang paling terdokumentasi: banyak proyek hilirisasi nikel di Sulawesi dan Halmahera dimiliki atau dikendalikan oleh perusahaan Tiongkok, sering didukung pendanaan dari bank-bank komersial milik pemerintah Tiongkok di bawah inisiatif Belt and Road (AEER, 2024). Situasi “negara dalam negara” telah dilaporkan secara luas di lokasi-lokasi industri hilir nikel, dengan pengaturan kerja, pasokan tenaga, dan jaringan logistik yang sebagian besar dikelola di luar kerangka regulasi Indonesia standar (Jakarta Book Review, 2024).
Konsekuensi lingkungan dan sosial telah serius. Industri pengolahan nikel di Sulawesi Tengah dan Maluku Utara mengandalkan PLTU batubara *captive* sekitar 9.000 MW, menciptakan jejak karbon yang sangat tinggi—paradoks yang dalam, mengingat nikel yang dihasilkan ditujukan untuk pasar kendaraan listrik global yang seharusnya mengurangi emisi (AEER, 2024). Masyarakat sekitar tambang mengalami banjir, sengketa tanah, pencemaran air, dan perubahan penggunaan lahan yang menggusur petani dan nelayan. Standar kesehatan dan keselamatan kerja yang buruk telah membuat Morowali dan Morowali Utara menjadi situs kematian terkait kecelakaan kerja yang serius (AEER, 2024).
Yang paling relevan untuk perdebatan tembaga, dominasi modal Tiongkok di sektor nikel telah menciptakan ketergantungan rantai pasok tunggal yang berbahaya. Seorang pengamat industri menulis di Detik bahwa “tanpa diversifikasi pasar akan terjadi kerentanan bila terjadi kontraksi ekonomi di China akan berpengaruh besar pada dampak turunan di domestik mengingat dominasi suplai chain pada sindikasi keuangan tunggal,” dan menggambarkan upaya pemerintah Jokowi untuk membawa investor Jepang, Korea, Eropa, Timur Tengah, dan Amerika sebagai “bukan perkara mudah” karena “industri-industri lanjutan ini terbiasa menikmati suplai material murah dari china, dan mengolahnya menjadi produk bernilai tinggi di negaranya” (Detik, 2024).
Yang penting tentang konfigurasi tembaga adalah bahwa ia, sejauh ini, terlihat sangat berbeda dari nikel. Modal Tiongkok tidak hadir secara dominan di smelter tembaga Indonesia. Smelter Freeport adalah investasi dari operator tambangnya sendiri, perusahaan Amerika, dengan beberapa porsi kepemilikan negara melalui MIND ID. Smelter Amman adalah investasi domestik, dimiliki perusahaan publik Indonesia. PT Smelting menggunakan teknologi Mitsubishi tetapi sekarang dimiliki mayoritas Freeport Indonesia. Lansekap modal di hilirisasi tembaga, dalam kata lain, jauh lebih beragam dan kurang dipusatkan ke satu negara mitra daripada di nikel.
Apakah ini pencapaian yang disengaja dari arsitektur kebijakan, atau hanya kecelakaan struktural—karena perusahaan-perusahaan Tiongkok lebih tertarik pada nikel untuk kebutuhan baterai mereka daripada pada tembaga di mana mereka sudah memiliki kapasitas peleburan domestik yang masif—adalah pertanyaan yang harus dipertimbangkan dengan hati-hati. Namun konsekuensinya jelas: hilirisasi tembaga Indonesia membawa risiko geopolitik yang lebih sedikit dari nikel, tetapi risiko ekonomi yang lebih besar, karena pasar global untuk katoda tembaga sedang penuh dan margin pemrosesan sedang dalam tekanan ekstrem.
## VII. Tahun yang Sulit
Untuk siapa pun yang berinvestasi dalam smelter tembaga Indonesia, periode antara Oktober 2024 dan akhir 2025 adalah pelajaran yang mahal tentang risiko operasional yang tertanam dalam industri pemrosesan logam berskala besar.
Kebakaran 14 Oktober 2024 di unit asam sulfat smelter Freeport adalah peristiwa pendefinisian. Asam sulfat adalah produk sampingan kritis dari peleburan tembaga; tanpanya, proses peleburan utama tidak dapat berlanjut, karena gas SO2 yang dihasilkan dari pemanasan konsentrat tidak dapat ditangani secara lingkungan. Kebakaran itu, yang oleh investigasi resmi diklasifikasikan sebagai *force majeure* dan bukan kesalahan pekerja (CNBC Indonesia, 2025a), merusak infrastruktur pembersihan gas yang penting dan menghentikan seluruh jalur produksi katoda di “smelter single line terbesar di dunia” itu (Kompas.id, 2025).
Untuk memulihkan operasi, Freeport menggunakan langkah-langkah luar biasa: pengiriman material melalui pesawat Boeing 747 dan tiga perjalanan dengan pesawat Antonov AN-124. Smelter baru mulai beroperasi kembali pada minggu ketiga Mei 2025, dengan produksi katoda dimulai pekan keempat Juni 2025—sekitar tujuh bulan setelah kebakaran (Kompas.id, 2025). Kapasitas naik bertahap: 40 persen pada Juni-Juli, 50 persen pada Agustus, dan rencana mencapai 100 persen pada Desember 2025 (CNBC Indonesia, 2025b). Pada Agustus 2025, gangguan terkait di PT Smelting menyebabkan tambahan 100 ribu ton konsentrat tembaga tidak dapat diproses, dengan masalah startup yang mempengaruhi keseluruhan kapasitas pemurnian PT Smelting sebesar 1,3 juta ton per tahun (Liputan6, 2025).
Kemudian, pada 8 September 2025, datanglah mud rush Grasberg. Sekitar 800 ribu ton material basah mengalir ke beberapa tingkat tambang, menewaskan dua pekerja dan menghilangkan lima lainnya. Freeport-McMoRan mendeklarasikan force majeure, dan revisi panduan menunjukkan tidak ada produksi signifikan dari Grasberg Block Cave hingga Q4 2025 dan sebagian besar 2026, dengan restart bertahap dimulai awal 2026 dan tingkat produksi normal tidak diharapkan sampai 2027 (Discovery Alert, 2025b). Grasberg Block Cave alone menyumbang sekitar 70 persen output PT Freeport Indonesia hingga 2029 (Project Blue, 2025). Pada paruh pertama 2025, produksi Grasberg telah turun ke 297,1 kilo-ton tembaga, turun 56 persen tahun-ke-tahun, mencerminkan kadar bijih yang lebih rendah dan tingkat operasi yang berkurang—bahkan sebelum kecelakaan September (Project Blue, 2025).
Konsekuensi rantai pasoknya langsung. Pada November 2025, dengan smelter Manyar Freeport masih beroperasi pada kapasitas yang lebih rendah dari target dan Grasberg dalam force majeure, Amman Mineral mulai melanjutkan ekspor konsentrat dari Batu Hijau—pengiriman pertama sejak Desember 2024—dengan kargo menuju Qingdao, Tiongkok (Kpler, 2025). Itu adalah pembalikan praktis dari larangan ekspor: smelter domestik tidak dapat menyerap pasokan, jadi konsentrat tetap mengalir ke smelter Tiongkok seperti yang selalu terjadi sebelumnya. Indonesia, dalam frasa analis Kpler, memiliki “kapasitas untuk memproduksi lebih dari 1 juta ton katoda tembaga” tetapi pada saat yang sama menghadapi “kekurangan pasokan” karena tidak adanya pengiriman konsentrat ke Gresik dan utilisasi rendah smelter Batu Hijau 220 ribu ton (Kpler, 2025).
Skenario ini tidak ada dalam pidato peresmian September 2024. Dalam narasi pemerintah, smelter adalah infrastruktur yang akan beroperasi dengan andal, menyerap konsentrat domestik, menghasilkan katoda untuk industri hilir domestik, dan membangun kapasitas industri Indonesia. Dalam kenyataan operasional, smelter adalah aset modal raksasa yang sensitif terhadap gangguan teknis, dan ketika tambang umpan mereka terganggu, mereka menjadi infrastruktur yang menganggur. Asuransi mengkover sebagian kerugian—Freeport-McMoRan mengonfirmasi polis senilai hingga US$700 juta untuk kerugian bawah tanahnya (E&MJ, 2025)—tetapi rantai nilai politis yang seharusnya dibangun di sekitar smelter tidak dapat diasuransikan dengan cara yang sama.
## VIII. Pertanyaan tentang Waktu
Yang membuat kasus tembaga Indonesia begitu sulit dianalisis adalah bahwa berbagai garis waktu yang harus diukur saling bertentangan.
Pada satu sisi, ada garis waktu permintaan global, dan ini menguntungkan. Badan Energi Internasional memproyeksikan bahwa permintaan tembaga olahan global akan tumbuh dari sekitar 26,7 juta ton pada 2024 menjadi sekitar 31,3 juta ton pada 2030 dan 34,1 juta ton pada 2040, dengan transisi energi sebagai pendorong utama (Rapid-MFG, 2026). Berdasarkan pipeline proyek pertambangan yang ada dan diumumkan, industri menghadapi defisit pasokan 30 persen pada 2035 di bawah skenario Stated Policies, melebar menjadi 35 persen di bawah skenario Announced Pledges dan lebih dari 40 persen di bawah skenario Net Zero (Crux Investor, 2025). Wood Mackenzie memperkirakan bahwa permintaan tembaga terkait kendaraan listrik akan berlipat ganda pada 2035, dengan pusat data yang didorong AI menambah inelastic demand sekitar 1,1 juta ton per tahun pada 2030 (Wood Mackenzie, 2025).
Bagi negara yang baru memasuki industri pemrosesan tembaga, ini adalah waktu yang baik untuk masuk pasar dari perspektif permintaan jangka panjang. Tembaga sangat sentral untuk transisi energi: rata-rata kendaraan listrik menggunakan sekitar 53 kilogram tembaga, sekitar 2,4 kali lebih banyak dari mobil pembakaran konvensional, dan infrastruktur energi terbarukan membutuhkan 2,5 hingga 7 kali lebih banyak tembaga daripada teknologi berbasis bahan bakar fosil, tergantung pada apakah instalasi anginnya di darat atau lepas pantai (Sprott, 2024). Cadangan tembaga primer global menyusut: kadar bijih telah turun 40 persen sejak 1991, jangka waktu pengembangan tambang sekarang rata-rata 17 tahun, dan hanya 14 deposit tembaga baru ditemukan dalam dekade terakhir, dibanding dengan 225 dalam 23 tahun sebelumnya (Crux Investor, 2025).
Pada sisi lain, ada garis waktu kapasitas peleburan global, dan ini tidak menguntungkan. Kapasitas pemurnian global pada 2024 adalah 32,6 juta ton, jauh lebih besar daripada permintaan 27,4 juta ton, dengan tingkat utilisasi 84,3 persen (Scrap Monster, 2025). Tiongkok terus memperluas kapasitas pemurnian, didorong oleh kebijakan industri dan kebutuhan strategis. Negara-negara dengan smelter yang sudah ada—Jepang, Korea Selatan, Spanyol—telah mengeluarkan pernyataan bersama tingkat pemerintah pada Oktober 2025 untuk menolak penurunan TC/RC, indikator yang langka dari intervensi pemerintah ke dalam mekanisme penentuan harga komersial (Discovery Alert, 2025c). Pernyataan tersebut adalah bukti bahwa bahkan smelter terlama di dunia menganggap ekonomi pemrosesan sekarang sangat sulit.
Bagi investor smelter baru, ini adalah waktu yang sulit untuk memasuki pasar dari perspektif ekonomi pemrosesan. Pertanyaan kunci kemudian adalah: dapatkah smelter Indonesia tetap menguntungkan dalam lingkungan TC/RC yang tertekan, mengingat skala investasi yang sudah ditanam?
Jawabannya tergantung pada empat faktor yang saling terkait. Pertama, *byproduct credits*—pendapatan dari emas, perak, dan asam sulfat yang dihasilkan sebagai produk sampingan dari peleburan tembaga. Smelter Freeport Manyar dirancang untuk menghasilkan 50 ton emas dan 210 ton perak per tahun pada kapasitas penuh (Antaranews, 2024c); smelter Amman 18 ton emas, 55 ton perak, dan 850 ribu ton asam sulfat (Detik Finance, 2024). Pada harga emas yang tinggi yang terus berlanjut hingga 2026, *byproduct credits* ini secara material membantu ekonomi peleburan, dan eksekutif industri secara terbuka mengakui bahwa kredit ini memungkinkan smelter “menavigasi lingkungan negatif TC/RC dengan relatif baik” pada 2025 (Fastmarkets, 2025).
Kedua, integrasi dengan tambang induk. Smelter yang dimiliki atau diintegrasikan vertikal dengan tambang induk—seperti Freeport-Grasberg-Manyar dan Amman-Batu Hijau—dapat menyerap volatilitas TC/RC secara internal melalui ekonomi vertikal terintegrasi. Ini adalah keuntungan struktural Indonesia: kedua smelter besar baru adalah anak perusahaan operator tambang yang mereka layani, bukan smelter komersial independen seperti yang dominan di Tiongkok atau Jepang.
Ketiga, biaya struktural. Indonesia memiliki upah tenaga kerja yang relatif rendah dan posisi geografis yang relatif baik untuk pelayaran Asia Tenggara, tetapi juga menghadapi biaya energi yang tidak kompetitif untuk industri padat energi seperti peleburan tembaga. Apakah biaya struktural Indonesia memungkinkan kompetitif secara global tidak akan jelas sampai smelter beroperasi penuh untuk beberapa tahun.
Keempat, dan ini adalah faktor yang paling sulit dijawab, kebijakan domestik. Apakah pemerintah Indonesia akan memberikan dukungan kebijakan seperti tarif impor pada katoda asing untuk melindungi smelter domestik? Apakah akan ada insentif pajak untuk industri kabel dan komponen yang menyerap katoda domestik? Apakah pengadaan pemerintah—untuk proyek infrastruktur listrik PLN, telekomunikasi, transportasi—akan diprioritaskan untuk menggunakan tembaga olahan domestik? Sejarah industri kabel Indonesia menunjukkan bahwa selama bertahun-tahun, pabrik kabel domestik mengeluh tentang impor murah yang merusak ekosistem domestik (Tambang, 2022). Apakah peresmian dua smelter raksasa ini akan disertai pergeseran rezim kebijakan terhadap *down-downstream* yang sebanding adalah pertanyaan terbuka.
## IX. Gambar yang Lebih Besar
Hilirisasi tembaga Indonesia perlu dilihat sebagai apa adanya: bagian dari proyek transformasi ekonomi yang lebih besar yang telah didorong dengan keras oleh tiga pemerintahan berturut-turut—Yudhoyono yang merancang larangan 2009, Jokowi yang melaksanakan dan memperdalamnya, dan sekarang Prabowo yang mewarisinya. Itu adalah, dalam istilah yang dipakai oleh Mondaq, “ongoing strategy” yang dimulai dengan nikel, kemudian bauksit, kemudian tembaga, dan kini meluas ke timah dan komoditas lain (Mondaq, 2023).
Klaim besar untuk strategi ini cukup jelas. Pendapatan negara dari tambang yang sebelumnya mengirim konsentrat dengan tarif royalti rendah akan meningkat jika nilai tambah ditangkap di Indonesia. Investasi modal masuk untuk pembangunan smelter—dalam kasus tembaga, sekitar Rp80 triliun untuk dua smelter besar saja, sebelum menghitung perluasan PT Smelting (Antaranews, 2024c)—menciptakan pekerjaan konstruksi sementara dan, jika operasi berhasil, pekerjaan operasional jangka panjang. Pendapatan Domestik Regional Bruto provinsi-provinsi tuan rumah, seperti Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur, akan meningkat dari aktivitas yang dulu hanya menghasilkan output di Papua dan Sumbawa tanpa nilai tambah lokal yang berarti.
Klaim-klaim ini sebagian besar masuk akal. Indonesia, dalam dua dekade terakhir, telah secara berhasil mengubah dirinya dari pemasok bijih nikel mentah ke kekuatan menengah dalam rantai pasok nikel olahan global. Pengulangan model yang sama dengan tembaga tampak masuk akal sebagai aspirasi.
Tetapi kritik analitis yang serius perlu memperhatikan beberapa hal yang sering hilang dalam debat publik. Pertama, biaya peluang dari modal yang terkunci dalam smelter. Ringkasan Rp80 triliun untuk dua smelter, ditambah perluasan PT Smelting senilai US$250 juta dan berbagai biaya pendukung infrastruktur (jalan, pelabuhan, energi, perumahan pekerja), mewakili sumber daya yang dialokasikan untuk satu segmen tertentu dari rantai nilai. Modal yang sama, jika digunakan untuk pendidikan vokasi, infrastruktur transmisi listrik, atau penelitian dan pengembangan material maju, mungkin menghasilkan return yang lebih tinggi atau lebih luas distribusinya. Tidak ada cara mudah untuk membuat perbandingan kontrafaktual ini secara empiris, tetapi pertanyaannya jujur dan tetap relevan.
Kedua, kerapuhan struktural dari konsentrasi sektoral. Indonesia memiliki dua tambang yang menyumbang 97 persen produksi tembaga; kini ia memiliki tiga smelter besar yang sepenuhnya tergantung pada pasokan dari dua tambang yang sama. Setiap gangguan operasional di Grasberg atau Batu Hijau—kebakaran, mud rush, sengketa tanah, banjir, masalah teknis—segera meningkat menjadi krisis ekonomi yang lebih luas. Diversifikasi sumber pasokan, baik melalui pengembangan tambang baru (Wetar, Big Gossan, Kucing Liar) atau impor konsentrat, akan menjadi syarat penting untuk ketahanan jangka panjang industri ini.
Ketiga, dan ini adalah kelemahan paling serius dari strategi hilirisasi seperti yang sekarang dikonseptualisasikan, ketiadaan strategi down-downstream yang sebanding. Smelter menghasilkan katoda. Katoda bukan produk akhir; ia adalah bahan input untuk produsen kabel, foil, pipa, dan komponen. Jika Indonesia ingin menangkap lebih banyak nilai tambah, perlu ada paket kebijakan yang sebanding kuatnya untuk membangun industri kabel berkualitas tinggi, copper foil baterai, dan komponen tembaga industri. Larangan ekspor konsentrat tanpa dukungan untuk produsen down-downstream berisiko menghasilkan ekspor katoda yang menggantikan ekspor konsentrat—pergeseran kategori tetapi bukan transformasi struktural.
Keempat, dan ini adalah pertanyaan yang paling jarang diajukan, apa yang dimaksud dengan “kedaulatan sumber daya” di era ketika rantai pasok adalah jaringan global yang saling terkait? Indonesia mengontrol cadangan tembaga lewat divestasi Freeport dan kepemilikan Amman. Tetapi teknologi peleburan—proses *double flash*, proses Mitsubishi, sistem refining ISA—berasal dari Jepang, Finlandia, dan Australia. Pembeli akhir katoda terutama di Asia Timur dan Asia Tenggara. Demand drivers jangka panjang—kendaraan listrik, pusat data, grid listrik—ditentukan oleh kebijakan iklim global dan keputusan investasi yang dibuat di Beijing, Brussels, dan Washington. Indonesia, dalam susunan ini, memiliki sumber daya tetapi tidak teknologi maupun pasar; ia adalah simpul perantara yang penting tetapi tidak menentukan. Apakah ini “kedaulatan” atau hanya bentuk ketergantungan struktural baru yang lebih halus adalah pertanyaan filosofi politik ekonomi yang terbuka.
## X. Catatan Penutup
Hilirisasi tembaga Indonesia adalah eksperimen kebijakan yang serius. Ia tidak boleh diberhentikan, seperti yang kadang-kadang dilakukan pengamat skeptis, sebagai retorika nasionalis tanpa substansi. Pada akhir 2025, Indonesia memang memiliki tiga smelter tembaga yang beroperasi atau dalam tahap commissioning, dengan kapasitas total mendekati 1 juta ton katoda per tahun. Itu adalah pencapaian infrastruktur yang nyata, dibangun dengan modal sekitar Rp80 triliun dari satu peresmian saja, dan mewakili pergeseran nyata dari era sebelumnya ketika konsentrat tembaga Indonesia diekspor mentah ke Asia Timur.
Tetapi pencapaian ini juga tidak boleh dilebih-lebihkan, seperti yang kadang-kadang dilakukan oleh para pendukung kebijakan dalam pidato seremonial. Indonesia memasuki industri yang sedang dalam tekanan ekonomi yang serius, di mana smelter di seluruh dunia—Jepang, Korea Selatan, Spanyol, Chili—sedang menutup, menunda ekspansi, atau secara terbuka mempertanyakan viabilitas mereka. Industri pemrosesan yang dibangun Indonesia berisiko menemukan dirinya, dalam beberapa tahun ke depan, menghasilkan output yang lebih besar daripada yang dapat diserap oleh pasar domestik atau dijual menguntungkan ke pasar regional.
Beberapa hal akan menentukan apakah investasi ini akan menjadi pijakan untuk transformasi industri jangka panjang atau monumen mahal untuk kebijakan industri yang melampaui jangkauan ekonominya. Pertama, apakah industri tembaga down-downstream Indonesia—kabel, foil, komponen—akan berkembang dengan dukungan kebijakan yang setara intensifnya dengan dukungan yang diberikan kepada upstream pemrosesan. Kedua, apakah arsitektur kepemilikan yang relatif beragam di sektor tembaga (Freeport-Amerika, Amman-Indonesia, Mitsubishi-Jepang) dapat dipertahankan, atau apakah ia akan bergeser ke dominasi modal tunggal seperti yang terjadi di nikel. Ketiga, apakah dampak lingkungan dan sosial—jejak karbon dari operasi peleburan, manajemen tailings dan slag, kondisi kerja di kompleks smelter—akan dikelola pada standar internasional yang lebih ketat daripada yang dicapai di sektor nikel.
Keempat, dan ini adalah pertanyaan yang paling fundamental, apakah Indonesia akan menggunakan pengalaman tembaga untuk memperbaiki tata kelola hilirisasi secara umum—dengan mekanisme yang lebih jelas dan lebih dapat diprediksi untuk perpanjangan izin, dengan standar lingkungan yang lebih konsisten ditegakkan, dengan transparansi yang lebih besar tentang biaya dan manfaat fiskal, dengan strategi diversifikasi pasar dan teknologi yang lebih sengaja. Pelajaran nikel menunjukkan bahwa kebijakan industri dapat menarik investasi dan membangun kapasitas; tetapi juga menunjukkan bahwa kapasitas tanpa tata kelola yang baik menghasilkan eksternalitas yang serius dan ketergantungan baru.
Pidato peresmian September 2024 adalah momen retorika. Kebakaran Oktober 2024 dan mud rush September 2025 adalah momen kenyataan. Antara dua jenis momen ini terletak masa depan hilirisasi tembaga Indonesia. Yang penting untuk diingat, dan yang sering hilang ketika industri seperti ini didiskusikan dalam istilah politik, adalah bahwa hasil akhirnya tidak akan ditentukan dalam satu peresmian, satu kebakaran, atau satu bencana tambang. Itu akan ditentukan, secara bertahap dan agak diam-diam, oleh ribuan keputusan teknis, komersial, dan regulasi selama dekade berikutnya. Pada saat dekade ini berakhir, mungkin akan jelas apakah September 2024 adalah awal dari sesuatu yang permanen, atau hanya katalog ambisi yang lebih luas yang berlaku di Indonesia sepanjang abad ini—bahwa nilai tambah, kedaulatan sumber daya, dan transformasi industri lebih mudah diumumkan daripada dibangun.
Sementara itu, di Sumbawa Barat dan Gresik, smelter beroperasi. Konsentrat datang, kadang dari tambang sendiri, kadang—seperti pada akhir 2025—dari kapal yang tidak pernah datang. Katoda diproduksi, dengan kapasitas yang fluktuatif. Industri tumbuh. Sejarah panjang antara geologi, kebijakan, dan ekonomi pasar yang membentuk apa yang terjadi pada tembaga Indonesia masih dalam proses ditulis.
—
## Referensi
AEER. (2024). *Perusahaan multinasional dan hilirisasi nikel di Indonesia*. Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat. https://www.aeer.or.id/perusahaan-perusahaan-multinasional-dan-hilirisasi-nikel-di-indonesia/
Antaranews. (2024a, September 23). *Presiden Jokowi resmikan smelter tembaga AMNT*. https://www.antaranews.com/berita/4351679/presiden-jokowi-resmikan-smelter-tembaga-amnt
Antaranews. (2024b, September 23). *Presiden sebut peresmian smelter AMNT-Freeport bukti adanya hilirisasi*. https://www.antaranews.com/berita/4352547/presiden-sebut-peresmian-smelter-amnt-freeport-bukti-adanya-hilirisasi
Antaranews. (2024c, September 23). *Jokowi: Investasi smelter Gresik tambah pendapatan negara Rp80 triliun*. https://www.antaranews.com/
BNamericas. (2025, December 4). *New Codelco–Glencore alliance redefines smelting capacity in Chile*. https://www.bnamericas.com/en/features/new-codelcoglencore-alliance-redefines-smelting-capacity-in-chile
Chintan. (2025, May 29). *Resource nationalism for economic policy and strategic leverage: Indonesia as a case study*. India Foundation. https://chintan.indiafoundation.in/articles/resource-nationalism-for-economic-policy-and-strategic-leverage-indonesia-as-a-case-study/
CNBC Indonesia. (2025a, February 17). *Investigasi kebakaran smelter Freeport tuntas, ini hasilnya*. https://www.cnbcindonesia.com/news/20250217084607-4-611105/investigasi-kebakaran-smelter-freeport-tuntas-ini-hasilnya
CNBC Indonesia. (2025b, June 12). *2 pabrik tembaga RI beroperasi, domestik cuma bisa serap segini*. https://www.cnbcindonesia.com/news/20250612132757-4-640399/2-pabrik-tembaga-ri-beroperasi-domestik-cuma-bisa-serap-segini
Copperepc. (2025, September 8). *Analysis of global copper mine and smelting capacity*. PRS. https://copperepc.com/analysis-of-global-copper-mine-and-smelting-capacity/
Crux Investor. (2025, June 26). *How copper supply deficits are reshaping the critical minerals landscape*. https://www.cruxinvestor.com/posts/how-copper-supply-deficits-are-reshaping-the-critical-minerals-landscape
CSIS. (2025, January 31). *Diversifying investment in Indonesia’s mining sector*. Center for Strategic and International Studies. https://www.csis.org/analysis/diversifying-investment-indonesias-mining-sector
Detik. (2024, October 9). *Tantangan hilirisasi pada era transisi*. https://news.detik.com/kolom/d-7579677/tantangan-hilirisasi-pada-era-transisi
Detik Finance. (2024, September 24). *Buktikan hilirisasi, Jokowi resmikan smelter Freeport & Amman dalam sehari*. https://finance.detik.com/energi/d-7554805/buktikan-hilirisasi-jokowi-resmikan-smelter-freeport-amman-dalam-sehari
Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara. (2025, December 1). *Perspektif tata kelola industri hulu–hilir mineral Indonesia*. Kementerian ESDM. https://www.minerba.esdm.go.id/berita/minerba/detil/20251201-perspektif-tata-kelola-industri-hulu-hilir-mineral-indonesia
Discovery Alert. (2025a, December 20). *Antofagasta zero copper processing charges with China*. https://discoveryalert.com.au/copper-processing-economics-treatment-refining-charges-2025/
Discovery Alert. (2025b, September 30). *Force majeure at Grasberg mine: Implications for global copper supply*. https://discoveryalert.com.au/news/force-majeure-grasberg-impact-global-copper-markets-2025/
Discovery Alert. (2025c, November 27). *Japanese copper smelters challenge China’s 2026 TC/RC grip*. https://discoveryalert.com.au/japanese-copper-smelters-2026-tcrcs-challenge/
E&MJ. (2025, December 26). *Freeport discusses the Grasberg mud rush incident*. Engineering and Mining Journal. https://www.e-mj.com/features/freeport-discusses-the-grasberg-mud-rush-incident/
Fastmarkets. (2024, May 1). *Chilean govt to press ahead with plans to build copper smelters, increase state role in lithium production*. https://www.fastmarkets.com/insights/chilean-govt-to-press-ahead-with-plans-to-build-copper-smelters/
Fastmarkets. (2025, October 15). *Copper smelters face tight margins but stay resilient in 2025*. https://www.fastmarkets.com/insights/copper-smelters-not-yet-at-peak-pain-despite-tight-concentrate-market-mercuria-says/
FXStreet. (2024, February 27). *The commodities feed: Copper TCs plunge to decade lows*. https://www.fxstreet.com/analysis/the-commodities-feed-copper-tcs-plunge-to-decade-lows-202402271309
Inside Indonesia. (2017, October 19). *The life and death of Indonesia’s mineral export ban*. https://www.insideindonesia.org/the-life-and-death-of-indonesia-s-mineral-export-ban
Jakarta Book Review. (2024, November 25). *Hilirisasi nikel di Indonesia: Peluang keberlanjutan atau ancaman jangka panjang?* https://jbr.id/kolom/hilirisasi-nikel-di-indonesia-peluang-keberlanjutan-atau-ancaman-jangka-panjang-8689/
Jawa Pos. (2024, September 23). *Peresmian smelter Amman dan Freeport, Presiden Jokowi sebut bukti hilirisasi: Bisa dilihat sendiri*. https://www.jawapos.com/energi/015119630/peresmian-smelter-amman-dan-freeport-presiden-jokowi-sebut-bukti-hilirisasi-bisa-dilihat-sendiri
Katadata. (2024). *Dampak berantai kebakaran smelter Freeport di Gresik*. https://katadata.co.id/analisisdata/6780ceb5cc6ba/dampak-berantai-kebakaran-smelter-freeport-di-gresik
Kompas.id. (2025, May 28). *Menanti produksi katoda tembaga smelter Freeport pascakebakaran*. https://www.kompas.id/artikel/menanti-produksi-katoda-tembaga-smelter-freeport-pascakebakaran-2/
Kpler. (2025, November 18). *Indonesian copper smelters at a standstill as Batu Hijau resumes concentrate exports*. https://www.kpler.com/blog/indonesian-copper-smelters-at-a-standstill-as-batu-hijau-resumes-concentrate-exports
Liputan6. (2025, August 21). *Gangguan smelter Gresik, Freeport gagal proses 100 ribu ton konsentrat tembaga*. https://www.liputan6.com/bisnis/read/6138239/gangguan-smelter-gresik-freeport-gagal-proses-100-ribu-ton-konsentrat-tembaga
Mining.com. (2024, March 28). *Indonesian miner Amman asks for copper export ban delay*. https://www.mining.com/web/amman-targets-higher-copper-concentrate-output-in-2024/
Mining.com. (2025, November 26). *China ‘firmly opposes’ negative copper treatment charges*. https://www.mining.com/web/china-firmly-opposes-negative-copper-treatment-charges/
Mining Technology. (2020, June 24). *Grasberg open pit copper mine, Tembagapura, Irian Jaya, Indonesia*. https://www.mining-technology.com/projects/grasbergopenpit/
Mining Technology. (2025, September 25). *Freeport announces force majeure at Grasberg mine in Indonesia*. https://www.mining-technology.com/news/freeport-announces-force-majeure-at-grasberg-mine/
Mondaq. (2023, February 17). *Indonesia’s ongoing strategy to ban the exportation of raw minerals: Jokowi to ban the exportation of copper following nickel and bauxite*. https://www.mondaq.com/mining/1283832/
NAI 500. (2025, February 27). *Which countries lead the world in copper production? (USGS and MDO data)*. https://nai500.com/blog/2025/02/which-countries-lead-the-world-in-copper-production-usgs-and-mdo-data/
Natapradja, R. (2023, March 31). *Indonesia resource nationalism: Opportunities and challenges*. Medium. https://medium.com/@rafinatap/indonesia-resource-nationalism-opportunity-and-challenges-43e83a6fa5dd
Project Blue. (2025, September 30). *Freeport-McMoRan declares force majeure at Grasberg mine*. https://projectblue.com/blue/news-analysis/1326/freeport-mcmoran-declares-force-majeure-at-grasberg-mine
PT Smelting. (2024). *Overview*. https://www.ptsmelting.com/overview
Rapid-MFG. (2026). *Why are new energy vehicles driving a surge in copper demand?* https://rapid-mfg.com/blog/new-energy-vehicles-copper-demand
Scrap Monster. (2025, October 16). *World Copper Factbook 2025: Essential takeaways and market insights*. https://www.scrapmonster.com/news/copper/world-copper-factbook-2025-essential-takeaways-and-market-insights-2025-10-16/97572
Sprott. (2024). *Copper: Wired for the future*. https://sprott.com/insights/copper-wired-for-the-future/
Tambang. (2022, December 6). *Industri kabel domestik jamin serap hasil hilirisasi tembaga, tapi ada syaratnya*. https://www.tambang.co.id/industri-kabel-domestik-jamin-serap-hasil-hilirisasi-tembaga-tapi-ada-syaratnya
The Oregon Group. (2025, September 25). *Freeport declares force majeure at Grasberg after deadly mud rush*. https://theoregongroup.com/commodities/copper/freeport-declares-force-majeure-at-grasberg-after-deadly-mud-rush/
Wijaya, M. (2006). The construction and start up operation of Gresik smelter and refinery. *Shigen-to-Sozai, 118*(8), 525. https://www.jstage.jst.go.jp/article/shigentosozai/118/8/118_8_525/_article/-char/en
Wikipedia. (2024a). *Copper mining in Indonesia*. https://en.wikipedia.org/wiki/Copper_mining_in_Indonesia
Wikipedia. (2024b). *Grasberg mine*. https://en.wikipedia.org/wiki/Grasberg_mine
Wikipedia. (2024c). *Batu Hijau mine*. https://en.wikipedia.org/wiki/Batu_Hijau_mine
Wikipedia. (2024d). *List of copper smelters in Chile*. https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_copper_smelters_in_Chile
Wood Mackenzie. (2025, October 15). *Soaring copper demand an obstacle to future growth*. https://www.woodmac.com/press-releases/soaring-copper-demand-an-obstacle-to-future-growth/
