Hilirisasi Kopi Indonesia di Tengah Bayang-Bayang Vietnam dan Brasil

## I. Sebuah Pemandangan dari Pelabuhan

Di dermaga Tanjung Priok, kontainer-kontainer berwarna abu-abu dimuat ke kapal yang akan berlayar ke Filipina, Amerika Serikat, dan Mesir. Sebagian besar berisi biji kopi robusta yang belum disangrai—komoditas mentah yang nilainya, di pasar global akhir 2025, berkisar antara empat hingga lima dolar per kilogram. Beberapa hari kemudian, di pelabuhan yang sama, kontainer-kontainer berwarna senada akan tiba dari Hai Phong, Vietnam, membawa kopi instan dalam kemasan retail yang akan dijual di gerai-gerai modern Jakarta dengan harga setara dua puluh hingga tiga puluh dolar per kilogram. Sebagian dari biji yang menjadi bahan baku kopi instan Vietnam itu, ironisnya, mungkin berasal dari ladang yang sama dengan biji yang baru saja diekspor Indonesia—sebab Vietnam adalah salah satu importir kopi robusta Indonesia.

Pemandangan ini bukan sekadar anekdot. Ia adalah ringkasan visual dari sebuah kenyataan ekonomi yang telah menjadi keluhan nasional selama lebih dari satu dekade: Indonesia, produsen kopi terbesar keempat dunia, mengekspor biji mentah dan mengimpor produk olahan. Ketika Presiden Prabowo Subianto, dalam sebuah diskusi dengan jurnalis dan ekonom di kediamannya di Hambalang awal 2026, mempertanyakan mengapa Indonesia—negeri pemilik kopi terbaik dunia—justru mengimpor produk berbasis kopi, ia sesungguhnya mengulang pertanyaan yang telah diajukan sejak era Menteri Perindustrian MS Hidayat pada 2011 (Disbun Kaltim, 2011; Antara News, 2026).

Pertanyaan itu, lima belas tahun kemudian, tetap relevan. Dan jawabannya, sebagaimana akan ditunjukkan dalam analisis ini, jauh lebih kompleks daripada sekadar persoalan kemauan politik atau insentif fiskal.



## II. Anatomi Sebuah Industri: Apa yang Sebenarnya Diekspor Indonesia?

Untuk memahami posisi hilirisasi kopi Indonesia, mari kita mulai dari angka. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang dikutip oleh Kementerian Pertanian, produksi kopi nasional pada 2024 mencapai sekitar 813 ribu ton kopi berasan (Ditjenbun Kementan, 2026). Ekspor kopi Indonesia pada tahun yang sama menembus 316,7 ribu ton dengan nilai lebih dari USD 1,63 miliar (Idxchannel, 2026; Kabarbaik, 2026). Angka ini, meski terdengar menggembirakan, menyimpan sebuah komposisi yang menentukan: dari total nilai ekspor tersebut, ekspor kopi olahan—termasuk roasting, ekstrak, dan kopi instan—hanya mencapai USD 647,8 juta atau sekitar 39 persen dari total nilai (Liputan6, 2025; Kompas, 2025).

Komposisi ini menjadi lebih jelas bila dilihat melalui kode tarif (HS). Berdasarkan data yang diolah Pusat Kebijakan Ekspor-Impor dan Perdagangan (PuskaEIPP) Kementerian Perdagangan untuk periode Januari–Oktober 2025, kopi robusta mentah (HS 09011130) menyumbang 61,18 persen nilai ekspor, diikuti kopi arabika mentah (HS 09011120) sebesar 17,08 persen, dan ekstrak/konsentrat kopi (HS 21011291) sebesar 11,05 persen (Bkperdag Kemendag, 2025). Dengan kata lain, hampir 80 persen pendapatan ekspor kopi Indonesia masih berasal dari biji mentah—komoditas yang oleh para ekonom pembangunan disebut sebagai *unprocessed primary commodity*, kelas terbawah dalam piramida nilai tambah.

Sementara itu, di sisi sebaliknya, terjadi sebuah fenomena yang sering luput dari perhatian. Pada 2024, nilai impor kopi olahan Indonesia (HS 21011) melonjak 66,17 persen menjadi USD 200 juta, dari USD 120,4 juta pada 2023 (Liputan6, 2025). Lonjakan ini, bila ditelusuri lebih jauh, sebagian besar berasal dari Vietnam. Data BPS untuk Januari–September 2024 menunjukkan Indonesia mengimpor 67,65 ribu ton kopi senilai USD 319,84 juta, dengan Vietnam sebagai pemasok terbesar (47,27 ribu ton), diikuti Brasil (13,04 ribu ton) (Tirto, 2024). Sebagian impor ini adalah biji robusta murah untuk pabrik kopi instan dalam negeri, tetapi sebagian lainnya adalah produk jadi—ekstrak, instan, dan campuran—yang masuk ke rak-rak supermarket Indonesia.

Inilah paradoks struktural yang mendefinisikan industri kopi Indonesia: surplus volume di hulu, defisit nilai di hilir. Produsen besar yang menjadi konsumen produknya sendiri secara tidak sempurna—karena yang dikonsumsi adalah kopi yang sudah diolah di tempat lain.



## III. Membandingkan dengan Tetangga: Pelajaran dari Vietnam

Tidak ada perbandingan yang lebih telak daripada Vietnam. Pada awal 1990-an, Vietnam bahkan belum masuk daftar sepuluh besar produsen kopi dunia. Tiga dekade kemudian, Vietnam adalah produsen kopi terbesar kedua di dunia setelah Brasil dan eksportir robusta nomor satu. Yang lebih penting untuk diskusi hilirisasi: Vietnam mencatatkan nilai ekspor kopi mencapai sekitar USD 9 miliar pada 2025 (Vietnamnet, 2026; SGGP, 2026), atau sekitar 5,5 kali nilai ekspor kopi Indonesia.

Sebagian besar perbedaan ini memang disebabkan oleh harga global yang melambung—harga ekspor rata-rata Vietnam naik dari di bawah USD 2.000 per ton pada 2021 menjadi USD 5.660 per ton pada 2025 (SGGP, 2026). Namun, di balik harga itu, terjadi transformasi struktural yang lebih dalam. Ekspor kopi olahan Vietnam pada 2025 mencapai rekor USD 1,78 miliar, naik 50,4 persen dibandingkan 2024 (Vietnamnet, 2026). Ini berarti nilai ekspor kopi olahan Vietnam saja sudah melampaui total nilai ekspor kopi Indonesia—biji mentah dan olahan digabungkan.

Bagaimana Vietnam sampai ke titik ini? Ada beberapa elemen yang patut dicatat. Pertama, struktur produksi. Produktivitas kopi Vietnam mencapai sekitar 2,5 hingga 3 ton per hektar, hampir tiga kali lipat produktivitas Indonesia yang stagnan pada 0,8 ton per hektar (Maspul, 2026; BSIP Perkebunan, 2025). Produktivitas tinggi ini bukan kebetulan: ia adalah hasil konsolidasi lahan, mekanisasi, dan adopsi varietas unggul yang didorong oleh negara melalui kebijakan jangka panjang sejak akhir 1980-an (Maspul, 2026).

Kedua, dan ini lebih relevan untuk diskusi hilirisasi, Vietnam menarik investasi asing langsung skala besar ke sektor pengolahan. Nestlé Vietnam saat ini menguasai 22,5 persen pasar ekspor kopi olahan, diikuti Outspan Vietnam (14,6 persen) dan Iguacu Vietnam (9,4 persen). Sepuluh perusahaan terbesar—sebagian besar merupakan perusahaan dengan investasi asing—menguasai 85,3 persen ekspor kopi olahan Vietnam (SGGP, 2026). Vinacafé, perusahaan negara yang berdiri sejak 1995 dan mengelompokkan puluhan perkebunan, telah mendaftarkan merek instan “3-in-1”-nya di 60 negara (Wikipedia, 2026). Trung Nguyên Legend pada Maret 2025 meluncurkan varian Legend Gold Freeze-Dried Coffee dan mengumumkan pembangunan pabrik baru di Buon Ma Thuot untuk memperkuat pengolahan bernilai tambah, sembari memperluas kafe mereka ke AS dan China dengan target 3.000 gerai global pada 2025 (Mordor Intelligence, 2026).

Ketiga, dan ini sering luput dari diskusi publik di Indonesia, Vietnam memanfaatkan perjanjian perdagangan bebas dengan agresif. Akses preferensial ke pasar Uni Eropa melalui EVFTA (European Union–Vietnam Free Trade Agreement) memungkinkan ekspor kopi olahan Vietnam masuk dengan tarif yang lebih rendah dibandingkan pesaing dari ASEAN lainnya, termasuk Indonesia (Vietnamnet, 2026).

Namun, gambaran Vietnam ini tidak boleh diromantisasi. Bahkan di Vietnam, proporsi kopi olahan terhadap total ekspor masih moderat—USD 1,78 miliar dari USD 9 miliar berarti sekitar 20 persen, hanya sedikit lebih tinggi dari Indonesia (Vietnam.vn, 2026). Direktur Cat Que Production and Trading Co., Pham Thang, menyatakan bahwa meski Vietnam adalah eksportir robusta terbesar, mereknya belum mempunyai posisi yang jelas di pasar internasional, dan produknya masih lebih banyak menjadi bahan baku bagi perusahaan roasting asing (Vietnam.vn, 2026). Dengan kata lain, Vietnam telah memenangkan pertempuran volume olahan, tetapi belum sepenuhnya memenangkan pertempuran nilai merek.



## IV. Brasil: Hilirisasi Berbasis Skala dan Tradisi

Jika Vietnam adalah cerita transformasi cepat, Brasil adalah cerita konsolidasi panjang. Sebagai produsen kopi terbesar dunia—dengan ekspor 45,589 juta karung 60 kilogram pada tahun panen 2024/25 senilai USD 14,728 miliar (Cultivar Magazine, 2025)—Brasil menempati posisi yang sama sekali berbeda dalam piramida nilai global.

Yang menarik untuk dicermati adalah komposisinya. Pada tahun panen 2024/25, kopi arabika menyumbang 76,4 persen dari total ekspor Brasil, robusta (canephora) 14,4 persen, kopi instan (soluble) 9,1 persen, dan kopi sangrai serta sangrai-giling hanya 0,1 persen (Cultivar Magazine, 2025). Pada November 2024, Brasil menjadi eksportir kopi instan terbesar di dunia dengan pengiriman 0,38 juta karung pada bulan itu saja (ICO, 2024). Total ekspor ekstrak kopi Brasil pada 2024 mencapai USD 864 juta untuk volume 91 ribu ton, dengan AS, Argentina, dan Jepang sebagai tujuan utama (IndexBox, 2025).

Yang membuat industri kopi Brasil unik adalah integrasi vertikalnya yang ekstrem. Perkebunan kopi Brasil sebagian besar besar dan termekanisasi—berbeda total dengan struktur smallholder Indonesia. Konsumsi domestik kopi *roasted* di Brasil pada 2024 berkontribusi 52,3 persen dari pangsa pasar nilai—menunjukkan pasar domestik yang matang menyerap produksi olahan dengan baik (Grand View Research, 2026). Negara ini juga menjadi importir bahan baku—Indonesia sendiri terdaftar sebagai salah satu negara yang menerima ekspor ekstrak kopi Brasil (IndexBox, 2025), sebuah ironi yang menggambarkan posisi struktural Indonesia dalam rantai pasok global.

Tetapi pelajaran utama dari Brasil bukanlah skala. Bahkan dengan skala raksasa, ekspor kopi sangrai Brasil pada 2024 hanya bernilai USD 35 juta, dengan Meksiko sebagai tujuan terbesar (Comex Stat dalam Statista, 2025). Brasil memenangkan permainan di segmen ekstrak dan *soluble*, tetapi gagal di segmen kopi sangrai retail bermerek—yang masih didominasi oleh perusahaan multinasional dari Italia, Swiss, dan AS.



## V. Kolombia: Strategi Berbeda, Hasil Berbeda

Kolombia menawarkan model ketiga yang berbeda lagi. Sebagai produsen arabika berkualitas tinggi dengan kontribusi sekitar 7 persen terhadap PDB nasional (xlIII Coffee, 2024), Kolombia tidak pernah serius mengejar segmen kopi instan massal. Strategi mereka berbeda: membangun “Colombian coffee” sebagai merek payung kualitas premium, dikoordinasikan oleh Federación Nacional de Cafeteros (FNC) yang berdiri sejak 1927.

FNC adalah entitas yang menarik dari sudut pandang kebijakan industri. Berdasarkan delegasi pemerintah Kolombia (Resolusi Regulasi No. 05/2015 Komite Nasional Petani Kopi), FNC bertanggung jawab atas pendaftaran eksportir, regulasi roaster, *miller*, dan pabrik kopi *soluble* (Federación Nacional de Cafeteros, 2025). FNC memiliki lengan ilmiah, Cenicafé, dan layanan penyuluhan dengan lebih dari 1.500 pekerja lapangan yang berkonsultasi dengan petani soal manajemen tanah, teknik pengolahan, seleksi varietas, dan pencegahan penyakit (Cafe Imports, 2025).

Pada Februari 2024, FNC meluncurkan Cafix, platform perdagangan dan logistik yang memungkinkan pengiriman langsung dari petani ke pembeli internasional dengan batasan 60 kilogram *green coffee* atau 50 kilogram *processed coffee* per pengiriman (Daily Coffee News, 2025). Program ini saat ini melayani 548 keluarga petani kopi. Strategi Kolombia—yang sebagian berhasil meskipun bukan tanpa kritik karena dianggap meredam pengembangan *microlot super-specialty* (Cafe Imports, 2025)—menunjukkan bahwa hilirisasi tidak selalu berarti pabrik instan raksasa. Ia juga bisa berarti membangun infrastruktur pemasaran dan kualitas yang memungkinkan kopi tetap dijual sebagai biji mentah, tetapi dengan premium harga yang signifikan.

Tabel 1 di bawah ini merangkum perbandingan empat negara produsen utama. Angka-angka ini—meski perlu dibaca dengan hati-hati karena perbedaan metodologi dan tahun—memberikan gambaran kasar tentang posisi struktural Indonesia.

| Indikator | Indonesia (2024) | Vietnam (2025) | Brasil (2024/25) | Kolombia (2023) |
|—|—|—|—|—|
| Total nilai ekspor kopi | USD 1,63 miliar | USD 9 miliar | USD 14,73 miliar | ~USD 2,6 miliar |
| Nilai ekspor kopi olahan | USD 647,8 juta | USD 1,78 miliar | ~USD 1,3 miliar (soluble) | Sangat kecil |
| Pangsa kopi olahan thd total | ~39% | ~20% | ~9% | <5% |
| Produktivitas (ton/ha) | 0,8 | 2,5–3,0 | 1,5–2,0 | 1,0–1,2 |
| Struktur kepemilikan | 96–98% smallholder | Smallholder + estate | Estate besar dominan | Smallholder + koperasi kuat |

*Sumber: Disusun penulis dari Ditjenbun Kementan (2026), Vietnamnet (2026), Cultivar Magazine (2025), xlIII Coffee (2024), Maspul (2026), BSIP Perkebunan (2025).*

Yang menarik dari tabel ini, dan sering disalahpahami: pangsa kopi olahan terhadap total ekspor Indonesia (~39%) sebenarnya lebih tinggi daripada Vietnam (~20%), Brasil (~9%), atau Kolombia. Lantas, mengapa hilirisasi kopi Indonesia tetap dianggap gagal?

Jawabannya terletak pada *nilai absolut* dan *kedalaman pengolahan*. Pangsa hanya bermakna dalam konteks volume produksi total. Indonesia memproses persentase produksi yang lebih besar, tetapi dari basis produksi yang stagnan dan produktivitas rendah, sehingga nilai absolut tetap kecil. Selain itu, “kopi olahan” Indonesia sebagian besar adalah produk dengan kandungan nilai tambah yang relatif rendah—ekstrak konsentrat dengan tambahan gula dan kopi instan *bulk*—bukan produk konsumen final bermerek yang berkompetisi di rak supermarket internasional.



## VI. Akar Persoalan: Mengapa Hilirisasi Sulit?

Pertanyaan yang sering muncul adalah: jika negara-negara lain bisa melakukannya, mengapa Indonesia tidak? Analisis literatur menunjukkan setidaknya empat faktor struktural yang saling memperkuat.

### 1. Produktivitas Rendah dan Struktur Smallholder

Sekitar 96–98 persen perkebunan kopi Indonesia dikelola oleh petani kecil, dengan rata-rata kepemilikan lahan 0,6 hektar per petani (Effendi et al., 2019 dalam FFTC, 2023; World Coffee Research, 2025). Produktivitas rata-rata sekitar 0,8 ton per hektar—hanya sepertiga dari potensi teoretis 3 ton per hektar yang dicapai melalui *replanting* dengan bibit unggul (ICCRI, 2019 dalam FFTC, 2023). Bandingkan dengan Vietnam di mana 62 persen petani mengelola 1–2 hektar (Anh et al., 2019 dalam MDPI, 2024).

Struktur ini memiliki konsekuensi langsung untuk hilirisasi. Industri pengolahan modern membutuhkan pasokan bahan baku yang konsisten dalam kualitas dan volume. Pasokan yang berasal dari ratusan ribu petani kecil dengan teknik pasca-panen yang heterogen menciptakan masalah konsistensi yang serius. Wakil Menteri Pertanian pada 2013 secara terbuka mengakui bahwa “dalam hal kuantitas dan kualitas, kopi Indonesia kalah dibanding kopi dari Vietnam” (Disbun Kaltim, 2013)—dan sebagian besar persoalan ini belum terselesaikan satu dekade kemudian.

Lebih jauh, harga kopi yang tinggi—pada Februari 2025 mencapai rekor 440,85 sen per pon atau sekitar USD 9,70 per kilogram (BSIP Perkebunan, 2025)—secara paradoks menghambat *replanting*. Petani enggan menebang pohon produktif (meski sudah tua) karena *replanting* berarti kehilangan pendapatan selama tiga tahun masa pertumbuhan tanaman baru (MDPI, 2024). Kopi hanya menyumbang sekitar 40 persen pendapatan tahunan petani, sehingga insentif untuk reinvestasi tetap lemah.

### 2. Kelangkaan Investasi Skala Industri di Hilir

Industri pengolahan kopi modern—terutama untuk produk instan *freeze-dried* dan ekstrak yang menjadi segmen pertumbuhan tertinggi—membutuhkan investasi modal yang sangat besar. Pabrik instan komersial skala menengah membutuhkan investasi USD 30–100 juta, dengan teknologi *spray-drying* atau *freeze-drying* yang harus disesuaikan dengan profil kopi tropis.

Indonesia memang memiliki pemain domestik yang signifikan. Kapal Api Group, melalui PT Santos Jaya Abadi, mengoperasikan salah satu mesin *roasting* kopi terbesar di dunia dengan kapasitas 5 ton per jam (Indonesian Coffee, 2007/2025). Kapal Api juga mengelola perkebunan, *roasting*, dan distribusi terintegrasi—model bisnis yang mirip dengan Trung Nguyên di Vietnam. Mayora Group dengan merek Torabika dan ABC President dengan ABC Kopi Susu juga merupakan pemain kuat di pasar Asia Tenggara. Namun, dibandingkan dengan Nestlé Vietnam yang mendominasi 22,5 persen ekspor kopi olahan Vietnam (SGGP, 2026), kehadiran multinasional dengan investasi besar di pengolahan kopi di Indonesia jauh lebih terbatas. Nestlé memang memiliki pabrik di Indonesia, tetapi skala dan orientasi ekspornya tidak setara dengan operasi Vietnam.

Mengapa? Sebagian alasannya adalah keekonomian. Bahan baku robusta Vietnam, sebelum lonjakan harga global, secara historis lebih murah daripada robusta Indonesia—dan lebih konsisten kualitasnya. Hal ini menjelaskan mengapa Indonesia sendiri mengimpor robusta Vietnam untuk pabrik instan dalam negeri (Tirto, 2024). Sebuah laporan Fortune (2024) mencatat bahwa Indonesia dan Vietnam keduanya “lebih suka mengekspor produksi kopi mereka sembari mengimpor untuk konsumsi domestik—karena biji mereka sendiri lebih mahal daripada biji Brasil” (Fortune, 2024).

### 3. Distorsi Pasar dan Insentif yang Terbalik

Kebijakan perdagangan Indonesia mengandung kontradiksi struktural. Di satu sisi, pemerintah secara retoris mendorong hilirisasi—tema ini menjadi salah satu agenda utama Presiden Prabowo Subianto (Antara News, 2026). Di sisi lain, tidak ada disinsentif yang signifikan untuk ekspor biji mentah, sebagaimana yang pernah diterapkan untuk kakao melalui bea keluar progresif. Tanpa disinsentif fiskal yang nyata, dan dengan harga kopi global yang sedang melonjak, eksportir biji mentah memiliki insentif kuat untuk tetap berada di lapis hulu.

Selain itu, persyaratan SNI yang ditetapkan Permenperin No. 4 Tahun 2025—mewajibkan kopi instan memenuhi SNI 2983:2024 (Kampus Kopi, 2025)—meskipun bertujuan baik, dapat menjadi hambatan masuk bagi UMKM kopi yang ingin bergerak ke pengolahan. Sertifikasi SNI membutuhkan investasi peralatan dan dokumentasi yang signifikan, dan dalam praktiknya cenderung menguntungkan pemain skala besar yang sudah mapan.

### 4. Permintaan Domestik yang Lambat Mendewasa

Konsumsi domestik Indonesia memang tumbuh—USDA memproyeksikan 4,8 juta karung untuk 2024/25, atau sekitar 1,1 kg per kapita per tahun (Daily Coffee News, 2024). Namun angka ini masih jauh di bawah Vietnam, yang konsumsi per kapitanya naik dari 1,7 kg pada 2015 menjadi 3 kg pada 2026 (SGGP, 2026), atau Brasil yang mendekati 6 kg per kapita. Daya beli konsumen Indonesia yang relatif lemah—sebagaimana dicatat StoneX bahwa pertumbuhan konsumsi 2024/25 tertahan oleh daya beli konsumen yang lemah (Coffee Intelligence, 2025)—membatasi ukuran pasar domestik untuk produk kopi premium.

Pasar *specialty* memang sedang *booming*. Indonesia memiliki sekitar 4.500–5.000 kedai kopi *specialty* pada 2024 (Skylight Strategic, 2025), dan rantai lokal seperti Fore Coffee, Kopi Kenangan, Tomoro, dan Janji Jiwa berekspansi cepat. Fore Coffee melakukan IPO dengan raihan Rp 353,44 miliar (sekitar USD 21 juta) pada 2025, dan launching gerai konsep baru di Panglima Polim, Jakarta Selatan, yang menyajikan kopi *single origin* (Perfect Daily Grind, 2026). Namun, sebagaimana dicatat Willy Yanto Wijaya, “industri kopi *specialty* saja terlalu kecil untuk mendorong pertumbuhan konsumsi secara signifikan” (Coffee Intelligence, 2025). Pasar instan dan RTD (*ready-to-drink*) tetap menjadi penyerap volume terbesar—dan di kedua segmen ini, persaingan dengan produk impor sangat ketat.



## VII. EUDR dan Kompleksitas Baru di Cakrawala

Pada Desember 2025, EU Deforestation Regulation (EUDR) mulai berlaku penuh, dengan implementasi efektif dimulai akhir 2025 setelah penundaan dua belas bulan. Regulasi ini mewajibkan importir di Uni Eropa untuk membuktikan bahwa setiap pengiriman kopi yang masuk ke pasar UE bersifat *deforestation-free*, diproduksi secara legal, dan dapat ditelusuri hingga plot lahan berkoordinat geografis (TraceX, 2025).

Bagi Indonesia, ini adalah tantangan dengan dua wajah. Di satu sisi, EUDR dapat menjadi katalis hilirisasi: eksportir kopi olahan dengan rantai pasok yang sudah terlacak akan memiliki keunggulan kompetitif di pasar UE. Di sisi lain, ia mengancam akses pasar bagi *smallholder* yang dominan dalam struktur produksi Indonesia. Pengiriman ke negara-negara anggota UE pada 2023/24 sudah hanya menyumbang 14 persen total ekspor kopi Indonesia—turun 66 persen dari tahun sebelumnya, sebagian karena antisipasi EUDR (USDA FAS, 2024).

Penelitian Fauzi dan Mugume (2025) yang diterbitkan Economic Policy Research Centre (EPRC) Uganda dengan dukungan Southern Voice menyoroti bahwa biaya tinggi implementasi *traceability* EUDR akan membuat petani kecil semakin sulit berinvestasi dalam peningkatan produktivitas (Southern Voice, 2025). Rekomendasi kebijakannya mencakup kemitraan dengan sektor swasta untuk praktik agronomi yang meningkatkan produktivitas dan pengembangan sistem *traceability* kopi.

Inisiatif seperti yang dijalankan Dimitra dan Surveyor Indonesia—kampanye nasional untuk mendaftarkan hingga tiga juta petani kopi dan kakao ke dalam proses kepatuhan EUDR, dengan fokus area berisiko tinggi seperti Kerinci di Sumatera dan Sulawesi Tengah (AgTech Navigator, 2025)—menunjukkan bahwa solusi sedang dibangun. Namun, sebagaimana dicatat dalam laporan tersebut, area-area ini “lebih terpencil, dengan infrastruktur internet yang lebih buruk dan seringkali tanpa hak atas tanah yang formal, yang membuat aktivitas seperti pemetaan dan dokumentasi lebih sulit, memakan waktu, dan lebih mahal” (AgTech Navigator, 2025).

Apa artinya bagi hilirisasi? EUDR menggeser arena kompetisi. Negara-negara yang dapat menggabungkan kapasitas pengolahan dengan *traceability* terverifikasi akan menjadi pemenang. Indonesia memiliki keuntungan reputasi (kopi *single-origin* dari Gayo, Mandailing, Toraja, Kintamani) tetapi menghadapi tantangan eksekusi—mengubah ratusan ribu plot *smallholder* menjadi sistem yang dapat ditelusuri secara digital adalah pekerjaan multi-tahun yang membutuhkan koordinasi negara, swasta, dan komunitas yang belum sepenuhnya terbangun.



## VIII. Dinamika Lain: Tarif AS, Konsolidasi Pasar, dan Geopolitik Kopi

Selain EUDR, satu lagi dinamika yang membentuk lanskap industri kopi Indonesia adalah ketidakpastian kebijakan perdagangan AS. Setelah pengumuman tarif baru pada awal 2025, pengiriman kopi dari Indonesia ke AS sempat terhenti (Coffee Geography, 2025). Eksportir tetap khawatir tentang pengenaan ulang tarif 32 persen pada kopi Indonesia yang masuk AS setelah Juli 2025 (Daily Coffee News, 2025). Mengingat AS adalah pasar tunggal terbesar untuk kopi Indonesia—dengan nilai USD 307,41 juta pada 2024 (Kompas, 2025)—konsentrasi pasar ini menjadi sumber kerentanan struktural.

Diversifikasi pasar ke kawasan Afrika, Timur Tengah, dan Asia Selatan menjadi agenda yang berulang dalam wacana kebijakan (Kompas, 2025). Mesir, misalnya, sudah menjadi pasar besar—mengkonsumsi 11–12 persen ekspor kopi Indonesia pada 2023/24. Pasar Asia Selatan dan Afrika menawarkan potensi karena dua alasan: pertumbuhan konsumsi kopi yang cepat dan preferensi untuk robusta yang menjadi keunggulan komparatif Indonesia.

Namun, dinamika pasar yang lebih dalam adalah konsolidasi industri global. Pemain besar dunia—Nestlé, JDE Peet’s, Starbucks, Lavazza, Illy, Tchibo, Strauss—mengendalikan sebagian besar segmen retail dan *foodservice* global. Bagi Indonesia, masuk ke segmen ini berarti bersaing dengan perusahaan-perusahaan yang memiliki kapasitas R&D dan pemasaran ratusan juta dolar per tahun. Strategi yang lebih realistis, sebagaimana ditunjukkan pertumbuhan rantai kopi domestik, mungkin adalah membangun merek regional untuk pasar Asia Tenggara terlebih dahulu, baru kemudian melompat ke pasar global.



## IX. Kerangka Kritis: Apakah “Hilirisasi” adalah Tujuan yang Tepat?

Sampai pada titik ini, analisis telah mengikuti kerangka kebijakan yang dominan: hilirisasi sebagai jalur keluar dari “perangkap komoditas.” Namun, sebuah kerangka kritis perlu dipertimbangkan: apakah hilirisasi adalah jawaban yang tepat untuk kopi Indonesia?

Pandangan mainstream—yang berakar pada teori pembangunan ekonomi struktural à la Prebisch-Singer—mengasumsikan bahwa nilai tambah terbesar terletak di hilir, dan bahwa kemampuan suatu negara untuk naik ke segmen yang lebih bernilai tinggi adalah ukuran keberhasilan pembangunan. Dalam logika ini, mengekspor biji mentah adalah “kemalangan komoditas” yang harus dihindari.

Namun, ada perspektif tandingan yang patut didengar. Pertama, segmen biji hijau (*green bean*) *specialty* justru sering memiliki margin yang sangat menarik. Kopi Gayo Specialty Grade 1 dari Aceh, atau Toraja Sapan, atau Kintamani Arabika, dapat dijual dengan harga 2–10 kali lipat harga komoditas (Those Coffee People, 2020). Penelitian Hariance dkk. (2023) tentang penyuluhan peningkatan kualitas kopi robusta di KUPS Payuang Sirukam menunjukkan bahwa peningkatan kualitas di tingkat petani—tanpa harus masuk ke pengolahan industrial—dapat memberikan peningkatan pendapatan yang signifikan (Jurnal Hilirisasi IPTEKS, 2023). Pengalaman Aliansi Petani Indonesia di tiga desa di Malang (Srimulyo, Sukodono, Baturetno) menunjukkan peningkatan pendapatan petani sebesar 53,78 persen—dari Rp 27.800.000 menjadi Rp 42.750.000 per hektar per tahun—melalui peningkatan produktivitas, perbaikan pengolahan pasca-panen, dan akses pemasaran (Asian Farmers Association, 2026).

Kedua, segmen kopi instan massal—yang sering menjadi target retorika hilirisasi—justru adalah segmen dengan margin tipis. Margin di segmen ini lebih banyak dinikmati oleh pemilik merek global daripada negara asal bahan baku. Investasi besar untuk masuk ke segmen ini, tanpa kepemilikan merek dan jaringan distribusi global, berisiko menjadi *value trap*.

Ketiga, ada argumen kesejahteraan petani yang sering hilang dalam diskusi hilirisasi. Hilirisasi yang dijalankan melalui pabrik besar dengan modal asing dapat justru memperluas jurang antara petani dan industri, bukan menyempitkan. Model Kolombia—di mana FNC menjadi koordinator antara petani, eksportir, dan *miller*, dengan jaminan harga dan ekstensi teknis—mungkin lebih sesuai dengan struktur *smallholder* Indonesia daripada model Vietnam yang sangat bergantung pada FDI besar.

Dengan kata lain, “hilirisasi” sebagai konsep tunggal mungkin terlalu kasar. Setidaknya tiga jenis hilirisasi perlu dibedakan: (1) hilirisasi industrial massal (kopi instan, ekstrak); (2) hilirisasi *specialty* (kopi sangrai bermerek, kopi *single-origin*); dan (3) hilirisasi peningkatan kualitas tanpa pemindahan tahap (peningkatan *grading*, sertifikasi, *traceability*). Setiap jenis memiliki implikasi yang berbeda untuk kebijakan, struktur industri, dan distribusi kesejahteraan.



## X. Kembali ke Pelabuhan: Apa yang Mungkin Berubah?

Kembali ke pemandangan di Tanjung Priok. Apakah dalam sepuluh tahun ke depan, kontainer-kontainer yang berlayar dari sana akan lebih banyak berisi produk olahan? Beberapa indikator memberi alasan untuk optimisme moderat.

Pertama, pertumbuhan konsumsi domestik—meski lambat—menciptakan basis pasar yang akan mendorong investasi pengolahan. Indonesia adalah pasar besar dengan demografi muda. Apabila konsumsi per kapita dapat mendekati 2 kg per tahun dalam satu dekade, ukuran pasar akan tumbuh signifikan dan akan menarik investasi yang lebih besar dalam kapasitas pengolahan domestik.

Kedua, generasi pengusaha kopi domestik yang sedang muncul—dari Fore Coffee hingga Tomoro Coffee, dari Common Grounds hingga Crematology—membangun kapasitas pemasaran, *branding*, dan rantai pasok yang sebelumnya tidak ada. IPO Fore Coffee pada 2025 menandai institusionalisasi industri kopi *specialty* domestik (Perfect Daily Grind, 2026). World of Coffee Jakarta yang diselenggarakan pada Mei 2025—untuk pertama kalinya WoC *trade show* diadakan di Indonesia—memberikan platform pemasaran internasional yang sebelumnya tidak ada (Perfect Daily Grind, 2026).

Ketiga, keberhasilan Mikael Jasin meraih gelar World Barista Champion 2024 memberi modal simbolis yang berharga untuk *repositioning* kopi Indonesia di pasar global premium (Daily Coffee News, 2024). Ini bukan sekadar pencapaian individual; ia adalah bukti kapasitas teknis komunitas barista Indonesia yang telah berkembang.

Namun, optimisme ini perlu dibatasi oleh realisme. Hilirisasi yang berarti—yang sungguh menggeser komposisi ekspor secara substansial—membutuhkan koordinasi kebijakan jangka panjang yang Indonesia, dengan siklus politiknya yang lima-tahunan, kerap kesulitan menjaga. Vietnam membutuhkan tiga dekade dari titik nol untuk mencapai posisi hari ini, dengan negara yang relatif konsisten dalam arah kebijakan. Brasil membangun dominasinya selama lebih dari satu abad. Kolombia membutuhkan satu abad untuk membangun FNC menjadi institusi yang efektif.

Yang dibutuhkan Indonesia, secara kasar, adalah kombinasi dari: (a) peningkatan produktivitas dramatis melalui *replanting* massal—kebijakan yang ambisius dan mahal; (b) konsolidasi kapasitas pengolahan domestik melalui kombinasi insentif fiskal, FDI selektif, dan dukungan untuk pemain domestik; (c) infrastruktur *traceability* yang memenuhi standar EUDR dan persyaratan pasar premium lainnya; (d) diversifikasi pasar ekspor yang sistematis; dan (e) penguatan pasar domestik untuk produk kopi premium.

Tidak ada satupun dari ini yang mudah. Dan tidak ada satupun yang dapat dicapai dalam satu atau dua siklus pemerintahan. Yang mungkin paling berbahaya adalah dorongan untuk solusi cepat—misalnya, pemberlakuan larangan ekspor biji mentah secara serampangan, sebagaimana yang sempat dilakukan untuk nikel dan menimbulkan friksi perdagangan. Komoditas kopi, dengan struktur *smallholder*-nya yang menyangga jutaan kehidupan, jauh lebih sensitif terhadap guncangan kebijakan dibandingkan komoditas mineral.



## XI. Catatan Akhir: Sebuah Industri yang Belajar

Ada sebuah anekdot dari sejarah Kapal Api yang patut direnungkan. Pada 1986, pemerintah Indonesia menawarkan kepada Kapal Api untuk mengambil alih perkebunan kopi tua di Gunung Kalosi, Sulawesi Tengah. Sebagai imbalannya, Kapal Api harus melakukan pengembangan kawasan—membangun infrastruktur, jalan, jembatan. Sejak saat itu, Kapal Api menjadi perusahaan kopi terintegrasi penuh—dari kebun hingga *roasting* hingga distribusi (Indonesian Coffee, 2007/2025). Mereka membangun ratusan kilometer jalan dan 26 jembatan di Sulawesi.

Cerita ini mengandung pelajaran yang sering hilang dalam debat hilirisasi modern: pembangunan industri bukan hanya soal pabrik, melainkan soal infrastruktur, koordinasi jangka panjang, dan kepercayaan jangka panjang antara negara dan swasta. Kapal Api hari ini adalah pemain regional, bukan global; kapasitasnya terbatas dibandingkan Trung Nguyên atau Nestlé Vietnam. Namun ia adalah bukti bahwa Indonesia *bisa* membangun perusahaan kopi terintegrasi—dan bahwa cetak biru untuk melakukannya pernah ada.

Pertanyaan untuk masa depan bukanlah apakah hilirisasi kopi Indonesia mungkin—jawabannya jelas iya—tetapi seberapa serius negara, industri, dan masyarakat sipil mau berkomitmen pada pekerjaan jangka panjang yang membosankan: pendaftaran lahan petani, pengembangan varietas unggul, pembiayaan *replanting*, sertifikasi *traceability*, pembangunan merek, dan ratusan keputusan administratif kecil yang membentuk apakah sebuah industri matang atau tetap terjebak di tahap awalnya.

Di pelabuhan Tanjung Priok, kontainer-kontainer akan terus berlayar. Apa yang ada di dalamnya, dalam satu dekade ke depan, akan menjadi indikator paling jujur dari apakah Indonesia telah benar-benar belajar—atau hanya mengulang debat yang sama dengan kata-kata yang berbeda.



## Catatan tentang Keterbatasan Analisis

Analisis ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diakui. Pertama, data ekspor dan impor yang dirujuk berasal dari berbagai sumber dengan metodologi dan periode pelaporan yang berbeda—BPS Indonesia, USDA FAS, ICO, lembaga pemikir negara-negara mitra, dan publikasi industri. Perbandingan langsung antara angka-angka ini perlu dilakukan dengan kehati-hatian.

Kedua, kategorisasi “kopi olahan” sendiri ambigu. HS 21011 mencakup spektrum produk yang sangat beragam—dari ekstrak konsentrat *bulk* hingga kopi instan retail bermerek—dengan kandungan nilai tambah yang sangat berbeda. Data agregat sering menyembunyikan komposisi yang lebih nuansa.

Ketiga, perbandingan negara dilakukan dalam kondisi pasar yang sangat dinamis (lonjakan harga 2023–2025), yang dapat mendistorsi kesimpulan jangka panjang. Vietnam mencapai USD 9 miliar ekspor pada 2025 sebagian besar karena harga, bukan transformasi struktural radikal.

Keempat, analisis ini menekankan dimensi ekonomi dan kebijakan industrial, tetapi dimensi sosiologis—dinamika kekuasaan dalam koperasi petani, gender dalam tenaga kerja kopi, hubungan ekologis dengan deforestasi dan perubahan iklim—tidak dibahas secara mendalam. Sebuah analisis yang lengkap akan membutuhkan integrasi disipliner yang lebih luas.

Kelima, penulis tidak mewawancarai pelaku industri, petani, atau pengambil kebijakan untuk analisis ini. Pandangan yang disajikan adalah sintesis dari literatur publik dan data sekunder, bukan hasil riset primer. Beberapa kesimpulan yang disampaikan, terutama tentang dinamika investasi dan keputusan korporat, perlu diuji ulang melalui riset etnografis dan wawancara mendalam.

Akhirnya, perspektif “pengamat luar” yang diadopsi dalam tulisan ini, sembari memberikan jarak analitis tertentu, juga menyembunyikan kompleksitas konteks lokal yang hanya dapat ditangkap dari kedekatan dengan komunitas-komunitas yang menjadi subjek analisis. Petani kopi di Gayo, pekerja pabrik di Surabaya, dan barista di Jakarta memiliki suara yang tidak terwakili sepenuhnya dalam analisis berbasis data sekunder ini.



## Daftar Pustaka

AgTech Navigator. (2025, August 25). *Inclusive compliance: How digital tools empower smallholders at risk of being ‘sidelined’ by EUDR*. https://www.agtechnavigator.com/Article/2025/08/25/eudr-compliance-digital-tools-empower-smallholders-at-risk-of-being-sidelined/

Antara News. (2026, March 26). *Dari komitmen ke dampak: hilirisasi yang membumi*. https://www.antaranews.com/berita/5494198/dari-komitmen-ke-dampak-hilirisasi-yang-membumi

Asian Farmers Association for Sustainable Rural Development. (2026, February 13). *INDONESIA – Strengthening smallholder welfare through coffee value addition*. https://asianfarmers.org/indonesia-api-strengthening-smallholder-welfare-through-coffee-value-addition/

Badan Kebijakan Perdagangan, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. (2025, December). *Kinerja ekspor kopi dan produk turunannya: Laporan PuskaEIPP*. https://bkperdag.kemendag.go.id/storage/publikasi/yD6ZonYdFb8SGqslT6dG4uKda4UHBikVoGCvD7Iu.pdf

Balai Standardisasi Instrumen Perkebunan, Kementerian Pertanian. (2025, March 10). *Dinamika industri kopi Indonesia*. https://perkebunan.bsip.pertanian.go.id/berita/dinamika-industri-kopi-indonesia

Cafe Imports. (2025). *Colombia*. https://www.cafeimports.com/north-america/colombia

Coffee Geography Magazine. (2025, May 21). *Indonesia’s coffee production and trade outlook for 2025/26*. https://coffeegeography.com/2025/05/21/indonesias-coffee-production-and-trade-outlook-for-2025-26/

Coffee Geography Magazine. (2026, January 17). *Vietnam’s coffee industry transformation drives record $8.6B export year in 2025*. https://coffeegeography.com/2026/01/17/vietnams-coffee-industry-transformation-drives-record-8-6b-export-year-in-2025/

Coffee Intelligence. (2025, December 2). *Indonesia’s rise as a coffee powerhouse*. https://intelligence.coffee/2025/12/indonesias-rise-as-a-coffee-powerhouse/

Cultivar Magazine. (2025). *Brazil’s coffee exports set record revenue in 2024/25*. https://revistacultivar.com/news/Brazilian-coffee-exports-have-record-revenue-in-2024-25

Daily Coffee News. (2024, May 22). *Indonesia coffee report: Production and consumption on the rise*. https://dailycoffeenews.com/2024/05/22/indonesia-coffee-report-production-and-consumption-on-the-rise/

Daily Coffee News. (2025). *Colombia’s FNC launches direct trade export platform Cafix*. https://dailycoffeenews.com/2024/02/27/colombias-fnc-launches-direct-trade-export-platform-cafix/

Daily Coffee News. (2025, June 4). *Indonesia coffee report: Exports up though tariffs and EUDR linger*. https://dailycoffeenews.com/2025/06/04/indonesia-coffee-report-exports-up-though-tariffs-and-eudr-linger/

Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (2026, February). *Ekspor tembus US$1,63 miliar: Kementan perkuat hulu hingga hilir, pacu hilirisasi kopi Indonesia*. https://ditjenbun.pertanian.go.id/ekspor-tembus-us163-miliar-kementan-perkuat-hulu-hingga-hilir-pacu-hilirisasi-kopi-indonesia/

Dinas Perkebunan Kalimantan Timur. (2011, May 25). *Pemerintah siapkan regulasi hilirisasi kopi*. https://disbun.kaltimprov.go.id/artikel/pemerintah-siapkan-regulasi-hilirisasi-kopi

Dinas Perkebunan Kalimantan Timur. (2013, September 14). *Kualitas menurun, kopi Indonesia dikalahkan Vietnam*. https://disbun.kaltimprov.go.id/artikel/kualitas-menurun-kopi-indonesia-dikalahkan-vietnam

Effendi, Z., et al., dalam Food and Fertilizer Technology Center (FFTC). (2023). *Accelerating coffee productivity through farm, farmers, and agribusiness developments in Indonesia*. https://ap.fftc.org.tw/article/3465

Fauzi, A., & Mugume, R. (2025). Potential impacts of EU Deforestation Regulation on smallholder coffee farmers: Evidence from Indonesia and Uganda. *Southern Voice/Economic Policy Research Centre*. http://southernvoice.org/wp-content/uploads/2025/05/Smallholders-Farm-EUDRC-Article-YTT-GSP-Fauzi-Mugume-2025.pdf

Federación Nacional de Cafeteros de Colombia. (2025). *Export*. https://federaciondecafeteros.org/wp/export/?lang=en

Fortune. (2024, March 2). *Coffee Indonesia Vietnam sourcing beans from Brazil*. https://fortune.com/asia/2024/03/02/coffee-indonesia-vietnam-sourcing-beans-from-brazil

Grand View Research. (2026, January 14). *Brazil coffee market size & outlook, 2030*. https://www.grandviewresearch.com/horizon/outlook/coffee-market/brazil

Hariance, R., Hakimi, R., Astuti, N. B., Hidayat, R., & Yulinda, Y. (2023). Penyuluhan peningkatan kualitas mutu tanaman kopi robusta pada KUPS Payuang Sirukam Kecamatan Payung Sekaki Kabupaten Solok. *Jurnal Hilirisasi IPTEKS*, *6*(3). https://doi.org/10.25077/jhi.v6i3.676

IDX Channel. (2026, February 16). *Mentan dorong percepatan hilirisasi kopi lokal*. https://www.idxchannel.com/economics/mentan-dorong-percepatan-hilirisasi-kopi-lokal

IndexBox. (2025, March 26). *Brazil sets new benchmark with $736 million in coffee extract exports for 2024*. https://www.indexbox.io/blog/brazil-coffee-extract-exports-2024/

Indonesian Coffee. (2025). *Kapal Api*. https://indonesian.coffee/2007/07/kapal-api/

Indonesian Coffee. (2025). *Coffee statistics*. https://indonesian.coffee/

International Coffee Organization. (2024, December). *Coffee market report – December 2024*. https://www.ico.org/documents/cy2024-25/cmr-1224-e.pdf

Kabarbaik.co. (2026, February 16). *Ekspor kopi Indonesia tembus USD 1,63 miliar, Kementan perkuat hilirisasi*. https://kabarbaik.co/ekspor-kopi-indonesia-tembus-usd-163-miliar-kementan-perkuat-hilirisasi/

Kampus Kopi. (2025, October 28). *Regulasi pemerintah tentang kopi di Indonesia*. https://kampuskopi.com/2025/10/28/regulasi-pemerintah-tentang-kopi-di-indonesia/

Kompas Money. (2025, October 5). *Menguatkan kopi Nusantara di dunia*. https://money.kompas.com/read/2025/10/05/083120726/menguatkan-kopi-nusantara-di-dunia

Liputan6. (2025, May 28). *Ekspor olahan kopi Indonesia tembus USD 647,8 juta di 2024*. https://www.liputan6.com/bisnis/read/6036278/ekspor-olahan-kopi-indonesia-tembus-usd-6478-juta-di-2024

Maspul, K. A. (2026, January 3). Indonesia’s coffee industry deserves better and so do its farmers. *Medium*. https://dikurniawanarif.medium.com/indonesias-coffee-industry-deserves-better-and-so-do-its-farmers-fc922c506d3c

MDPI Economies. (2024, December 17). *Partnership development of smallholder coffee cultivation: A model for social capital in the global value chain*. https://www.mdpi.com/2227-7099/12/12/349

Mordor Intelligence. (2026, January 9). *Vietnam coffee market report: Industry analysis, size & forecast*. https://www.mordorintelligence.com/industry-reports/vietnam-coffee-market

Perfect Daily Grind. (2026, March 25). *Indonesia’s specialty coffee market is thriving*. https://perfectdailygrind.com/2026/03/indonesia-specialty-coffee-market-growth/

Saigon Giai Phong (SGGP) English Edition. (2026, April 25). *Coffee industry keen on enhancing value of Vietnamese coffee beans*. https://en.sggp.org.vn/coffee-industry-keen-on-enhancing-value-of-vietnamese-coffee-beans-post125769.html

Skylight Strategic. (2025, November 24). *Indonesia coffee industry: Market trends, production dynamics, and future outlook*. https://skylight-strategic.com/indonesia-coffee-industry-market-trends-production-dynamics-and-future-outlook/

Statista. (2025, May 15). *Value of roasted coffee exported from Brazil in 2024, by country of destination* [based on Comex Stat Brazil data]. https://www.statista.com/statistics/1017995/roasted-coffee-export-value-brazil-country

Those Coffee People. (2020, April 14). *A guide to sourcing & exporting coffee from Colombia*. https://thosecoffeepeople.com/exporting-coffee-from-colombia/

Tirto. (2024, October 15). *BPS: Ekspor kopi tembus US$1,49 M pada Januari-September 2024*. https://tirto.id/bps-ekspor-kopi-tembus-us149-m-pada-januari-september-2024-g4Mw

TraceX Technologies. (2025, November 13). *EUDR DDS for coffee supply chain in Indonesia*. https://tracextech.com/eudr-dds/coffee-supply-chain-indonesia/

United States Department of Agriculture Foreign Agricultural Service. (2024). *Indonesia: Coffee Annual* (Report ID2024-0016). https://apps.fas.usda.gov/newgainapi/api/Report/DownloadReportByFileName?fileName=Coffee+Annual_Jakarta_Indonesia_ID2024-0016.pdf

United States Department of Agriculture Foreign Agricultural Service. (2024). *Indonesia: Coffee Semi-annual* (Report ID2024-0040). https://apps.fas.usda.gov/newgainapi/api/Report/DownloadReportByFileName?fileName=Coffee+Semi-annual_Jakarta_Indonesia_ID2024-0040.pdf

Vietnam.vn. (2026). *Vietnam’s coffee exports*. https://www.vietnam.vn/en/xuat-khau-ca-phe-viet-nam

Vietnamnet. (2026, March 26). *Deep processing lifts Vietnam’s coffee close to US$9 billion*. https://vietnamnet.vn/en/deep-processing-lifts-vietnam-s-coffee-close-to-us-9-billion-2492047.html

Wikipedia. (2026). *Vinacafe*. https://en.wikipedia.org/wiki/Vinacafe

World Coffee Research. (2025, September 10). *Indonesia*. https://worldcoffeeresearch.org/countries/indonesia

xlIII Coffee. (2024, September 30). *The complete essence of Colombia’s specialty coffee region*. https://xliiicoffee.com/en/journal/how-did-colombia-specialty-coffee-become-famous/

Discover more from bolakayu.id

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading