
Ada sebuah jenis buku yang tak pernah selesai dibaca meski halaman terakhirnya telah ditutup. Ia tinggal sebagai gema. Kadang muncul saat mendengar pidato pejabat yang terlalu rapi, kadang hadir dalam antrean panjang warga di kantor layanan publik, kadang menyelinap ketika kita menyaksikan republik berjalan seperti mesin tua yang berderit tetapi enggan dibongkar. Buku seperti itu bukan hanya menyampaikan gagasan. Ia menanamkan kegelisahan. Dan Menuju Republik Indonesia karya Tan Malaka termasuk di antaranya.
Buku itu ditulis jauh sebelum Indonesia lahir sebagai negara merdeka. Bahkan ketika kata “Indonesia” sendiri masih lebih sering menjadi istilah geografis ketimbang identitas politik. Namun di tangan Tan Malaka, Indonesia berubah menjadi sesuatu yang konkret: sebuah cita-cita yang harus dipikirkan, diperjuangkan, dan dibangun dengan kesadaran sejarah. Ia bukan sekadar tanah jajahan yang ingin bebas dari Belanda. Ia adalah proyek besar tentang manusia.
Membaca Tan Malaka selalu terasa seperti duduk di gerbong kereta bersama seseorang yang tak bisa berhenti berpikir. Ia melompat dari ekonomi ke filsafat, dari politik ke logika, dari nasib buruh hingga soal pendidikan rakyat. Kalimat-kalimatnya kadang keras, kadang seperti manifesto, kadang terasa terlalu percaya diri, tetapi selalu hidup. Ia menulis bukan untuk menyenangkan pembaca, melainkan untuk mengguncang mereka.
Dan yang paling menarik dari Menuju Republik Indonesia bukan sekadar gagasan tentang kemerdekaan, melainkan keberanian membayangkan republik ketika republik itu sendiri belum punya bentuk.
Pada awal abad ke-20, banyak tokoh pergerakan Indonesia sebenarnya masih bergerak dalam horizon kompromi. Ada yang berharap otonomi lebih luas dari pemerintah kolonial. Ada yang percaya pendidikan Barat perlahan akan melahirkan kesetaraan. Ada pula yang berpikir kemerdekaan terlalu jauh untuk dibicarakan. Tetapi Tan Malaka melangkah lebih radikal. Ia berbicara tentang republik penuh, tentang pemerintahan rakyat, tentang kemerdekaan total dari imperialisme.
Di sinilah inti penting buku itu: kemerdekaan bukan hadiah sejarah. Ia adalah hasil kesadaran politik.
Tan Malaka tampaknya memahami sesuatu yang sering luput dalam perjuangan bangsa-bangsa terjajah: kolonialisme bukan hanya soal pendudukan wilayah, melainkan pembentukan mentalitas. Penjajahan membuat rakyat kehilangan rasa percaya diri untuk menentukan nasib sendiri. Karena itu, perjuangan kemerdekaan harus dimulai dari pembebasan cara berpikir.
Maka pendidikan menjadi tema penting dalam gagasannya. Tetapi pendidikan yang dimaksud Tan Malaka bukan sekadar sekolah formal atau kemampuan membaca. Ia berbicara tentang pendidikan politik. Tentang rakyat yang mengerti mengapa mereka miskin, mengapa tanah mereka dikuasai asing, mengapa tenaga mereka diperas, dan mengapa kekuasaan kolonial selalu tampak sah padahal berdiri di atas ketimpangan.
Dalam banyak bagian, buku ini terasa seperti percakapan antara Marxisme dan nasionalisme Asia. Tan Malaka membaca Marx, Lenin, revolusi Rusia, dan dinamika gerakan buruh dunia. Tetapi ia juga sadar bahwa Indonesia bukan Eropa. Struktur masyarakatnya berbeda. Tradisinya berbeda. Bahkan cara rakyat memandang kekuasaan pun berbeda. Karena itu, revolusi Indonesia tak bisa sekadar menyalin revolusi negara lain.
Di sini Tan Malaka menarik. Ia bukan pengikut dogma yang patuh sepenuhnya pada buku teks ideologi. Ia lebih seperti seorang penyusun strategi yang terus mencoba membaca kenyataan. Ia tahu petani Indonesia tak hidup dalam dunia industri seperti proletariat Eropa. Ia tahu agama memiliki pengaruh besar dalam kehidupan rakyat. Ia tahu nasionalisme lebih mudah menyatukan massa dibanding teori kelas yang terlalu abstrak.
Maka dalam pikirannya, republik Indonesia harus dibangun di atas persatuan luas rakyat tertindas: buruh, tani, kaum miskin kota, dan kelompok nasionalis anti-kolonial. Kemerdekaan politik menjadi langkah pertama sebelum transformasi sosial yang lebih besar.
Namun seperti banyak pemikir revolusioner lain, Tan Malaka juga menyimpan paradoks. Ia sangat percaya pada rakyat, tetapi kadang berbicara seolah hanya segelintir orang tercerahkan yang mampu memimpin rakyat menuju kesadaran. Ia membenci penindasan, tetapi retorika revolusi sering membuka kemungkinan kekerasan sebagai jalan sejarah. Ia mendambakan kebebasan, tetapi sangat percaya pada disiplin politik.
Paradoks semacam itu sebenarnya bukan kelemahan pribadi semata. Ia lahir dari zaman yang brutal. Dunia ketika itu sedang bergerak liar. Imperialisme Eropa masih kuat. Fasisme tumbuh. Revolusi Rusia mengguncang tatanan lama. Perang dunia mengintai. Dalam situasi seperti itu, banyak pemikir percaya sejarah hanya bisa diubah melalui benturan besar.
Tetapi justru di situlah buku ini terasa relevan hari ini. Bukan karena kita harus mengulang revolusi, melainkan karena kita bisa melihat bagaimana republik dibayangkan sejak awal sebagai sesuatu yang lebih besar dari sekadar pergantian bendera.
Tan Malaka membayangkan republik sebagai alat pembebasan rakyat biasa. Republik bukan gedung parlemen. Bukan serangkaian upacara kenegaraan. Bukan slogan patriotik. Republik adalah kondisi ketika rakyat memiliki kendali atas hidup mereka sendiri.
Dan di titik ini, membaca Menuju Republik Indonesia pada abad ke-21 bisa terasa agak menyakitkan.
Sebab republik yang lahir kemudian sering tampak bergerak menjauh dari cita-cita itu. Kemerdekaan politik memang tercapai, tetapi ketimpangan ekonomi tetap menganga. Elite berganti, tetapi pola kekuasaan kadang terasa mirip. Rakyat masih sering menjadi objek pembangunan, bukan subjeknya. Nasionalisme kadang berubah menjadi seremoni kosong yang mudah dipakai untuk menutupi kegagalan negara memenuhi keadilan sosial.
Tan Malaka tampaknya sudah mengantisipasi bahaya itu. Ia berkali-kali menekankan bahwa kemerdekaan formal tidak otomatis berarti kemerdekaan nyata. Sebuah bangsa bisa merdeka secara hukum tetapi tetap tergantung secara ekonomi dan mental.
Kalimat itu terasa sangat kontemporer sekarang. Kita hidup dalam zaman ketika penjajahan tidak selalu hadir lewat tentara asing. Ia bisa hadir lewat utang, lewat dominasi korporasi global, lewat ketergantungan teknologi, bahkan lewat budaya konsumsi yang membuat sebuah bangsa kehilangan keberanian menentukan arah sendiri.
Namun buku ini bukan sekadar dokumen politik. Ada sesuatu yang lebih manusiawi di dalamnya: keyakinan bahwa sejarah bisa diubah oleh keberanian berpikir.
Tan Malaka hidup sebagai pelarian hampir sepanjang hidupnya. Ia berpindah-pindah negara, menggunakan nama samaran, diburu aparat kolonial, dituduh macam-macam oleh lawan maupun kawan. Dalam sejarah Indonesia, ia sering muncul seperti bayangan: penting tetapi tak sepenuhnya diakui. Bahkan setelah kemerdekaan, nasibnya tragis. Ia ditembak oleh sesama bangsa yang sedang kacau menentukan arah revolusi.
Mungkin itu ironi terbesar republik ini. Salah satu orang yang paling awal membayangkan Indonesia justru mati di tangan Indonesia sendiri.
Tetapi sejarah memang jarang adil pada orang-orang yang terlalu jauh melihat ke depan. Mereka sering dianggap berbahaya karena pikirannya melampaui kenyamanan zamannya.
Gaya tulisan Tan Malaka sendiri mencerminkan wataknya: penuh energi, argumentatif, kadang meledak-ledak. Ia tidak menulis dengan jarak dingin seorang akademisi. Ia menulis seperti seseorang yang merasa waktu terus mengejarnya. Ada urgensi dalam setiap halaman. Seolah ia sadar bahwa rakyat yang terlalu lama menunggu akan kehilangan masa depan.
Dan mungkin memang begitu.
Kolonialisme bekerja bukan hanya dengan senjata, tetapi juga dengan penundaan. “Belum waktunya merdeka” adalah mantra yang selalu dipakai penjajah di berbagai belahan dunia. Tan Malaka menolak logika itu. Baginya, kemerdekaan justru menjadi syarat agar sebuah bangsa bisa belajar berdiri.
Pandangan itu kemudian terbukti. Indonesia lahir dalam keadaan kacau, miskin, dan penuh konflik. Tetapi tak ada bangsa yang pernah benar-benar siap untuk merdeka. Kesiapan sering kali justru lahir setelah kemerdekaan itu sendiri.
Di luar semua debat ideologisnya, inti terdalam buku ini mungkin sederhana: manusia tidak boleh hidup sebagai objek kekuasaan.
Karena itu, Menuju Republik Indonesia sebenarnya bukan hanya buku tentang Indonesia. Ia adalah buku tentang martabat manusia. Tentang hak menentukan nasib sendiri. Tentang keberanian mengatakan bahwa rakyat biasa layak menjadi pemilik sejarahnya sendiri.
Dan di zaman sekarang, ketika politik sering terasa dangkal dan cepat, membaca Tan Malaka menghadirkan pengalaman yang hampir asing: seseorang benar-benar memikirkan bangsa ini dengan keseriusan total. Ia tidak sedang membangun citra. Tidak sedang mengejar algoritma. Tidak sedang menyusun slogan kampanye. Ia sedang mencoba menjawab pertanyaan paling mendasar: seperti apa Indonesia seharusnya berdiri?
Kita tentu tidak harus sepakat dengan semua gagasannya. Beberapa idenya mungkin terasa usang. Beberapa terlalu romantik terhadap revolusi. Beberapa terlalu percaya pada narasi besar sejarah. Tetapi justru karena itu ia menarik. Buku besar selalu lahir dari keberanian mengambil risiko intelektual.
Dan republik yang sehat mungkin memang membutuhkan orang-orang semacam itu: mereka yang bersedia berpikir melampaui kepentingan sesaat.
Pada akhirnya, membaca Menuju Republik Indonesia seperti menatap cermin tua. Di sana kita melihat wajah awal republik: penuh harapan, kemarahan, keberanian, juga ilusi. Sebagian mimpi itu tercapai. Sebagian lagi gagal. Sebagian mungkin masih menunggu.
Tetapi pertanyaan yang diajukan Tan Malaka tetap menggantung sampai hari ini: apakah republik ini benar-benar milik rakyat?
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun seperti semua pertanyaan penting, ia tak pernah selesai dijawab.
