
Di sampul buku itu, wajah tua Rabindranath Tagore menatap tanpa berkedip. Janggut putihnya jatuh seperti sungai yang sudah terlalu lama melewati musim. Matanya tidak marah, tidak pula lembut. Ia tampak seperti seseorang yang telah terlalu jauh berjalan untuk masih percaya pada teriakan. Judulnya sederhana: Agama Manusia. Dalam bahasa Indonesia, judul itu terdengar sekaligus agung dan akrab, seolah agama bukan lagi rumah ibadah, bukan kitab, bukan pula ritual, melainkan sesuatu yang melekat pada manusia sendiri, seperti napas, luka, dan kerinduan.
Di zaman sekarang, ketika agama sering tampil sebagai pagar, Tagore justru membayangkannya sebagai jendela.
Itulah inti buku ini. Dan mungkin juga sebab mengapa buku ini terasa ganjil sekaligus perlu dibaca hari-hari ini.
Tagore bukan nabi. Ia penyair. Dan justru karena itu ia mencurigai segala sesuatu yang terlalu pasti. Penyair hidup dari keraguan yang tekun. Ia tahu bahwa manusia sering lebih besar daripada sistem yang dibuatnya sendiri. Dalam Agama Manusia, Tagore tidak sedang mendirikan agama baru. Ia juga tidak sedang membongkar agama-agama lama dengan amarah seorang revolusioner. Ia melakukan sesuatu yang lebih sunyi: ia mencoba mencari titik tempat manusia bisa bertemu sebelum identitas saling menikam.
Kita hidup di masa ketika kata “agama” sering datang bersama statistik, partai politik, sensor moral, dan perang komentar di media sosial. Orang lebih cepat tersinggung daripada mendengar. Lebih mudah menghafal dalil daripada memahami kesedihan orang lain. Di tengah suasana seperti itu, membaca Tagore terasa seperti duduk di tepi sungai setelah lama berada di pasar yang bising.
Ia menulis dengan keyakinan bahwa inti spiritual manusia bukanlah ketakutan, melainkan keterhubungan.
Tagore percaya manusia memiliki dorongan mendalam untuk melampaui dirinya sendiri. Bukan melampaui dalam arti menjadi suci atau sakti, tetapi melampaui ego yang sempit. Ada sesuatu dalam diri manusia yang selalu ingin menyentuh yang lebih luas: keindahan, cinta, musik, pengorbanan, persahabatan, bahkan kesunyian. Dan dari situlah agama lahir. Bukan pertama-tama dari hukum, melainkan dari rasa takjub.
Mungkin itu sebabnya buku ini terasa sangat puitis. Tagore tidak berbicara seperti ahli teologi yang sedang menyusun argumen. Ia bergerak seperti seseorang yang berjalan pelan di taman, menunjuk bunga, langit sore, wajah seorang miskin, lalu bertanya: “Bukankah di sana juga ada sesuatu yang suci?”
Ada satu ketegangan menarik dalam buku ini. Tagore menghormati tradisi, tetapi ia takut ketika tradisi membatu. Ia lahir di India yang penuh ritual dan hierarki. Ia menyaksikan kolonialisme Inggris, nasionalisme yang tumbuh, serta kebangkitan identitas yang kadang berubah menjadi fanatisme. Dalam situasi seperti itu, ia melihat bagaimana manusia sering kehilangan kemanusiaannya justru saat merasa paling religius.
Ini kritik yang masih terasa tajam sampai hari ini.
Kita mengenal banyak orang yang rajin beribadah tetapi sulit berbelas kasih. Kita mengenal masyarakat yang gemar membangun rumah ibadah tetapi gagal membangun keadilan. Tagore seperti ingin mengatakan: agama kehilangan maknanya ketika ia berhenti memuliakan manusia.
Tetapi ia tidak jatuh pada humanisme kosong yang menyingkirkan Tuhan. Di sinilah Tagore berbeda dari banyak pemikir modern Barat. Ia tetap berbicara tentang Yang Tak Terbatas, tentang kehadiran ilahi yang hidup dalam semesta. Hanya saja, Tuhan bagi Tagore bukan penguasa yang duduk jauh di langit sambil menghitung dosa. Tuhan hadir dalam relasi. Dalam perjumpaan. Dalam kemampuan manusia mencintai sesuatu di luar dirinya sendiri.
Membaca Tagore mengingatkan kita pada suara-suara tua dari berbagai peradaban yang percaya bahwa spiritualitas sejati selalu dekat dengan kelembutan. Dalam sufisme ada itu. Dalam Zen ada itu. Dalam ajaran Yesus yang paling sederhana juga ada itu. Tetapi sejarah manusia sering lebih tertarik pada institusi ketimbang kelembutan. Kita lebih suka membangun menara daripada menjaga hati.
Tagore tampaknya sedih melihat hal itu.
Namun kesedihannya tidak pahit. Ia tidak menulis dengan nada sinis. Ada harapan besar dalam bukunya: bahwa manusia, betapapun rusaknya sejarah, tetap memiliki kemungkinan untuk saling memahami. Dan kemungkinan itu lahir dari kesadaran bahwa di balik segala perbedaan, manusia berbagi kebutuhan yang sama untuk dicintai, diakui, dan merasa berarti.
Pandangan ini mungkin terdengar naif bagi dunia modern yang terbiasa dengan sinisme. Tetapi justru di situlah keberanian Tagore. Ia tetap percaya pada manusia setelah melihat begitu banyak kebodohan manusia.
Kita bisa membandingkannya dengan banyak pemikir abad ke-20 yang lahir setelah perang dunia. Mereka kehilangan keyakinan terhadap manusia. Tagore, sebaliknya, tetap memelihara api kecil itu. Ia percaya bahwa seni, pendidikan, dan pengalaman spiritual dapat memperhalus jiwa manusia. Bukan membuat manusia sempurna, tetapi membuatnya kurang buas.
Barangkali karena itulah pendidikan menjadi bagian penting dari pemikirannya. Tagore mendirikan Santiniketan, sebuah sekolah yang mencoba membebaskan belajar dari sekadar hafalan. Ia percaya pendidikan harus membuat manusia merasa hidup, bukan sekadar menjadi mesin kerja. Dalam konteks itu, Agama Manusia juga bisa dibaca sebagai kritik terhadap peradaban modern yang terlalu memuja efisiensi.
Hari ini kita hidup dalam dunia yang menghitung segala sesuatu. Produktivitas diukur per jam. Popularitas diukur per klik. Bahkan empati kadang berubah menjadi konten. Di tengah budaya seperti itu, Tagore terdengar hampir seperti suara dari planet lain. Ia berbicara tentang kontemplasi, keindahan, dan hubungan batin. Hal-hal yang sekarang dianggap tidak praktis.
Tetapi mungkin justru karena dunia terlalu praktis, manusia menjadi semakin kosong.
Ada bagian menarik ketika Tagore membicarakan individualitas. Ia tidak ingin manusia larut dalam kolektivitas yang menindas. Tetapi ia juga tidak memuja individualisme ekstrem. Manusia baginya adalah makhluk yang menjadi dirinya sendiri justru ketika terhubung dengan orang lain. Ada semacam paradoks indah di sana: kita menemukan diri kita ketika keluar dari diri kita.
Ini mengingatkan pada pengalaman sederhana yang sering terlupakan. Misalnya ketika seseorang mendengarkan musik dan tiba-tiba merasa lebih luas daripada tubuhnya sendiri. Atau ketika seseorang menolong orang lain tanpa alasan dan justru merasa dirinya lebih utuh. Tagore percaya pengalaman seperti itu bukan sekadar emosi sesaat. Itu petunjuk tentang hakikat manusia.
Maka agama, dalam pengertian Tagore, bukanlah sistem yang mengecilkan manusia dengan rasa takut terus-menerus. Agama adalah pengalaman keterhubungan dengan kehidupan yang lebih besar.
Di titik ini, buku ini terasa sangat relevan bagi masyarakat Indonesia. Kita adalah negeri yang sangat religius sekaligus sangat mudah terpecah. Orang bisa bertengkar karena tafsir, simbol, atau pilihan politik, sambil lupa bahwa agama pada mulanya lahir dari usaha manusia mencari makna hidup bersama.
Tagore mungkin akan heran melihat bagaimana agama modern sering berubah menjadi identitas administratif. Ia akan bertanya: apakah manusia masih sungguh mencari kebijaksanaan, atau hanya mencari kelompok untuk merasa paling benar?
Pertanyaan itu tidak nyaman.
Tetapi buku yang baik memang sering tidak nyaman.
Ia membuat kita sadar bahwa mungkin selama ini kita terlalu sibuk menjaga agama sampai lupa menjaga manusia.
Menarik pula bahwa Tagore tidak menawarkan jawaban sederhana. Ia tahu manusia tetap membutuhkan simbol, ritual, dan tradisi. Ia tidak meminta semua orang menjadi mistikus universal tanpa akar budaya. Yang ia kritik adalah ketika simbol menjadi lebih penting daripada kasih, ketika ritual kehilangan jiwa.
Dan bukankah sejarah selalu berulang di situ?
Orang membangun aturan untuk mendekatkan diri kepada yang suci. Lama-lama aturan itu sendiri dianggap suci. Akhirnya manusia takut melanggar aturan, tetapi tidak takut menyakiti sesama.
Tagore mencoba memulihkan pusat gravitasi itu kembali kepada manusia.
Namun “manusia” dalam pemikiran Tagore bukan manusia yang pongah. Bukan manusia yang merasa menjadi pusat alam semesta. Justru sebaliknya. Manusia yang baik adalah manusia yang sadar dirinya bagian kecil dari keseluruhan yang besar. Ada kerendahan hati kosmis dalam pemikirannya. Sesuatu yang mungkin lahir dari kedekatannya dengan alam, puisi, dan musik.
Membaca buku ini perlahan membuat kita sadar bahwa modernitas telah membuat manusia semakin terputus: dari alam, dari sesama, bahkan dari dirinya sendiri. Kita hidup cepat tetapi sulit hadir penuh. Kita tahu banyak hal tetapi jarang benar-benar memahami. Dalam kondisi seperti itu, gagasan Tagore tentang agama terasa seperti undangan untuk pulang.
Bukan pulang ke masa lalu. Tetapi pulang kepada kemanusiaan yang lebih utuh.
Mungkin itulah sebabnya wajah tua di sampul buku itu tampak begitu tenang. Tagore seolah sudah tahu bahwa dunia akan terus gaduh. Akan selalu ada orang yang memakai Tuhan untuk membenci. Akan selalu ada ideologi yang merasa paling murni. Tetapi ia juga tahu bahwa di balik semua itu, manusia tetap menyimpan kerinduan yang sama: ingin dicintai tanpa syarat, ingin dipahami, ingin merasa hidupnya berarti.
Dan agama, bila masih punya makna, seharusnya membantu manusia menuju ke sana.
Bukan menjauhinya.
