
Di sebuah toko buku yang dingin oleh pendingin udara dan sunyi oleh orang-orang yang lebih banyak memotret rak daripada membaca isinya, buku itu tampak seperti sebuah bisikan yang dibungkus plastik. Putih, sederhana, tanpa ledakan visual. Di tengah sampulnya ada semacam irisan semangka yang menyerupai kubah. Di bawah nama dua penulis yang bahkan di abad ini masih dianggap mengganggu ketenteraman sebagian orang: Noam Chomsky dan Ilan Pappé. Judulnya pendek: On Palestine. Subjudul edisi Indonesianya lebih menyerupai slogan demonstrasi daripada kalimat pemasaran: “Kita banyak. Kita akan menang!”
Ada buku yang datang untuk memberi jawaban. Ada buku yang datang untuk memberi luka baru pada pertanyaan lama. Buku ini termasuk yang kedua.
Membaca On Palestine terasa seperti duduk di sebuah ruangan yang dindingnya perlahan dibongkar. Mula-mula kita mengira konflik Palestina-Israel adalah pertengkaran dua bangsa yang sama-sama keras kepala, sama-sama terluka, sama-sama benar menurut versinya masing-masing. Narasi semacam itu nyaman. Ia membuat dunia terasa seimbang. Tidak ada penjahat mutlak. Tidak ada korban mutlak. Semua abu-abu. Semua rumit.
Tetapi Chomsky dan Pappé tampaknya tidak tertarik pada kenyamanan moral semacam itu.
Mereka menulis bukan untuk membuat pembaca merasa tenteram, melainkan untuk memaksa kita melihat bahwa dalam sejarah, ketidakadilan sering kali justru disamarkan oleh bahasa yang tampak netral. Kata “konflik” misalnya. Kata itu terdengar seperti dua pihak yang saling menyerang dengan kekuatan sepadan. Padahal seekor tank dan seorang anak kecil yang melempar batu tidak sedang berada dalam “konflik”. Mereka berada dalam relasi kekuasaan.
Di sinilah buku itu bergerak.
Chomsky, dengan gaya analitisnya yang nyaris dingin, memperlihatkan bagaimana politik internasional bekerja bukan berdasarkan moralitas, melainkan kepentingan. Amerika Serikat, kata dia secara implisit berulang kali, bukan mediator netral dalam isu Palestina. Ia adalah sponsor utama status quo. Bantuan militer, perlindungan diplomatik, veto di Perserikatan Bangsa-Bangsa, semua itu membuat pendudukan Israel terhadap wilayah Palestina dapat berlangsung puluhan tahun tanpa konsekuensi berarti.
Chomsky menulis seperti seseorang yang lelah mengulang fakta yang sama selama setengah abad. Tidak ada kemarahan teatrikal dalam kalimat-kalimatnya. Justru karena itu ia terasa lebih menggigit. Ia seperti dosen tua yang tahu bahwa dunia tidak berubah oleh retorika, tetapi tetap bersikeras mencatat kebohongan satu per satu agar sejarah tidak sepenuhnya dimonopoli para pemenang.
Sementara itu, Pappé datang dari tempat yang lebih personal dan lebih berbahaya: ia seorang Israel yang memilih menulis sejarah bangsanya sendiri dari sisi korban. Dalam politik identitas modern, itu hampir dianggap pengkhianatan. Pappé termasuk sejarawan yang percaya bahwa pendirian negara Israel pada 1948 bukan sekadar “kelahiran sebuah bangsa”, tetapi juga tragedi pengusiran massal rakyat Palestina. Dalam banyak tulisannya di luar buku ini, ia menyebutnya sebagai ethnic cleansing. Pembersihan etnis.
Kata-kata semacam itu membuat banyak orang marah. Tetapi sejarah memang sering marah ketika dibuka dari sisi yang selama ini dikunci.
Yang menarik, On Palestine tidak dibangun sebagai manifesto revolusioner penuh slogan. Buku ini lebih menyerupai percakapan panjang antara dua orang yang sama-sama tahu bahwa dunia modern terlalu pandai memoles kekerasan menjadi administrasi. Rumah diratakan bukan oleh tentara yang berteriak, melainkan oleh surat izin. Tanah dicaplok bukan dengan deklarasi perang, melainkan oleh peta zonasi. Orang-orang diusir bukan dengan teriakan barbar, melainkan melalui istilah “keamanan nasional”.
Barangkali di sinilah inti paling mengganggu dari buku itu: kolonialisme modern tidak selalu tampil dengan wajah abad ke-19. Ia tidak selalu membawa topi baja dan kapal perang. Kadang ia hadir sebagai demokrasi yang dipuji media internasional. Kadang ia berbicara tentang hak membela diri sambil perlahan membuat kehidupan pihak lain mustahil dijalani.
Namun buku ini tidak semata berbicara tentang Israel. Itu akan terlalu sederhana. Sesungguhnya ia berbicara tentang dunia. Tentang bagaimana kekuasaan global bekerja. Tentang bagaimana media memilih kosa kata. Tentang bagaimana penderitaan satu kelompok manusia bisa dianggap tragedi universal, sementara penderitaan kelompok lain diperlakukan sebagai statistik.
Ada bagian-bagian dalam buku ini yang terasa seperti membaca catatan pinggir sejarah modern. Kita diingatkan bahwa opini publik dunia sebenarnya perlahan berubah. Bahwa dukungan tanpa syarat terhadap Israel tidak lagi sekuat dulu, terutama di kalangan muda. Tetapi perubahan opini tidak otomatis mengubah struktur kekuasaan. Dan di situlah pesimisme tipis menyelinap.
Karena sejarah sering kali tahu siapa yang benar, tetapi politik menentukan siapa yang menang.
Meski begitu, buku ini tidak sepenuhnya muram. Ada keyakinan yang terus muncul, terutama dari Pappé, bahwa solidaritas lintas negara dan gerakan masyarakat sipil dapat menggeser arah sejarah. Gerakan boikot, tekanan akademik, aktivisme mahasiswa, semua itu dianggap sebagai bagian dari perjuangan moral global. Palestina, dalam cara tertentu, bukan lagi sekadar nama geografis. Ia telah menjadi simbol tentang siapa yang dianggap manusia penuh dan siapa yang hidupnya bisa dinegosiasikan.
Dan mungkin karena itu pula Palestina selalu melampaui Palestina.
Di Jakarta, di London, di Johannesburg, di kampus-kampus Amerika, orang-orang yang tidak pernah melihat Gaza secara langsung tetap merasa memiliki hubungan emosional dengannya. Sebagian karena agama. Sebagian karena politik. Tetapi banyak juga karena ada sesuatu yang universal dalam melihat sebuah populasi hidup di bawah blokade, pendudukan, dan ketidakpastian tanpa akhir.
Buku ini mengajak pembaca memahami bahwa tragedi Palestina bukan peristiwa yang terjadi jauh di Timur Tengah sana, melainkan cermin dari dunia modern itu sendiri. Dunia yang begitu fasih berbicara tentang hak asasi manusia tetapi sangat selektif dalam menerapkannya.
Dalam gaya khas Chomsky, ada juga kritik terhadap media Barat. Bukan dalam bentuk teori konspirasi murahan, melainkan observasi tentang bagaimana bahasa dibentuk. Ketika warga Palestina terbunuh, berita sering menggunakan kalimat pasif: “meninggal dalam bentrokan.” Ketika warga Israel menjadi korban, pelaku disebut jelas, emosinya diangkat, kisah personalnya diceritakan. Bahasa ternyata tidak netral. Ia memilih siapa yang pantas dikasihani.
Mungkin itulah sebabnya membaca buku ini kadang terasa melelahkan. Bukan karena bahasanya rumit, tetapi karena ia memaksa kita mempertanyakan banyak asumsi yang sudah telanjur dianggap normal.
Dan di tengah dunia digital hari ini, ketika perang berubah menjadi konten, ketika penderitaan dapat dipotong menjadi video tiga puluh detik lengkap dengan musik latar, On Palestine terasa seperti upaya mengembalikan konteks yang hilang. Buku ini mengingatkan bahwa sejarah tidak dimulai dari roket yang ditembakkan kemarin sore. Ada puluhan tahun pendudukan, pengusiran, negosiasi gagal, ketimpangan militer, dan frustrasi kolektif yang mendahuluinya.
Tentu saja, orang bisa tidak setuju dengan Chomsky maupun Pappé. Banyak yang memang tidak setuju. Sebagian menilai mereka terlalu keras terhadap Israel dan terlalu lunak terhadap kekerasan Palestina. Kritik semacam itu sah. Buku yang baik memang seharusnya memancing keberatan, bukan sekadar tepuk tangan.
Tetapi bahkan jika seseorang menolak kesimpulan mereka, sulit menyangkal bahwa buku ini penting dibaca karena ia membuka ruang yang selama ini sering ditutup: ruang untuk melihat Palestina bukan sebagai headline sementara, melainkan sebagai persoalan sejarah dan kemanusiaan yang panjang.
Ada ironi yang terus mengendap setelah membaca buku ini. Di abad ketika manusia bisa mengirim gambar dari Mars dalam hitungan menit, kita masih gagal menyelesaikan persoalan paling purba: bagaimana hidup berdampingan tanpa menjadikan satu kelompok manusia lebih rendah daripada yang lain.
Dan mungkin memang itu sebabnya buku seperti On Palestine terus dibaca.
Bukan karena ia menawarkan solusi ajaib. Buku ini bahkan cukup pesimistis terhadap diplomasi internasional. Tetapi ia melakukan sesuatu yang lebih mendasar: menjaga ingatan agar tidak dipadamkan. Sebab kekuasaan paling efektif bukan hanya membungkam suara, melainkan membuat orang lupa bahwa suara itu pernah ada.
Di luar toko buku, kehidupan terus bergerak seperti biasa. Orang-orang memesan kopi, membuka media sosial, memperdebatkan skor pertandingan sepak bola, mengeluh soal macet. Dunia memang selalu punya kemampuan aneh untuk tetap normal di tengah tragedi yang belum selesai.
Namun di suatu tempat di Gaza atau Tepi Barat, sejarah masih berlangsung bukan sebagai bab buku, melainkan sebagai kehidupan sehari-hari.
Dan mungkin itu yang hendak dikatakan Chomsky dan Pappé sejak awal: Palestina bukan sekadar isu geopolitik. Ia adalah pertanyaan moral tentang dunia macam apa yang sedang kita bangun. Tentang apakah keadilan benar-benar universal atau hanya hak istimewa bagi mereka yang cukup kuat untuk mempertahankannya.
Sisanya, seperti biasa, akan ditentukan bukan hanya oleh para pemimpin negara, tetapi juga oleh ingatan manusia. Karena sejarah, pada akhirnya, bukan cuma milik mereka yang menang perang. Kadang ia bertahan diam-diam dalam buku tipis yang dibungkus plastik di rak toko, menunggu seseorang membukanya, lalu mulai merasa tidak nyaman.
