
Di Antara Ya dan Tidak
Ada satu jenis pertanyaan yang selalu membuat manusia gelisah, dan justru karena kegelisahan itulah ia bertahan ribuan tahun. Pertanyaan itu sederhana: apakah Tuhan ada? Namun kesederhanaannya hanya tampak di permukaan, seperti laut yang terlihat rata dari pantai padahal menyimpan jurang gelap di bawahnya. Kita hidup dikelilingi orang-orang yang merasa punya jawaban pasti. Sebagian berkata ya dengan keyakinan yang kukuh seperti batu. Sebagian lain berkata tidak dengan nada yang sama tegaknya. Tetapi di sela dua kubu itu ada wilayah remang-remang yang jarang dirayakan. Di sana tinggal orang-orang yang tidak tergesa memberi putusan. Mereka bertanya, meragukan, mengira-ngira, lalu bertanya lagi. Mereka tidak nyaman dengan kepastian yang terlalu cepat. Dan justru di wilayah itulah Lesley Hazleton menempatkan dirinya.
Buku Agnostik: Sebuah Manifesto Penuh Gairah bukanlah buku yang ingin memenangkan perdebatan. Ia tidak datang sebagai pengkhotbah yang mengetuk meja dan meminta orang segera memilih kubu. Hazleton malah terdengar seperti seseorang yang duduk di beranda saat malam mulai turun, memandangi langit yang terlalu luas untuk disimpulkan. Ia berbicara tentang keraguan bukan sebagai kelemahan pikiran, melainkan sebagai bentuk kejujuran intelektual. Di tangan Hazleton, agnostisisme bukan sikap malas untuk berpikir, tetapi justru keberanian untuk tinggal lebih lama di dalam pertanyaan.
Kita hidup di zaman yang aneh. Informasi berlimpah seperti hujan musim penghujan, tetapi kesabaran untuk merenung semakin tipis. Orang ingin jawaban cepat, slogan singkat, kutipan motivasi yang bisa ditempel di media sosial. Bahkan agama sering diperlakukan seperti aplikasi navigasi: cukup masukkan tujuan, lalu ikuti petunjuk tanpa perlu lagi bertanya. Dalam suasana seperti itu, keraguan dianggap gangguan. Padahal sejarah pemikiran manusia justru bergerak karena keraguan. Socrates bertanya. Descartes meragukan. Al-Ghazali mengguncang keyakinannya sendiri sebelum menemukan pijakan baru. Bahkan dalam tradisi keagamaan, para nabi sering digambarkan sebagai manusia yang bergulat dengan kecemasan dan kesunyian.
Hazleton tampaknya memahami sesuatu yang sering hilang dari percakapan modern tentang iman: bahwa misteri bukan musuh pengetahuan. Kita dibesarkan dengan anggapan bahwa segala sesuatu pada akhirnya harus bisa dijelaskan. Sains memberi rasa percaya diri luar biasa kepada manusia modern. Kita bisa mengirim satelit ke orbit, membaca kode genetika, memprediksi cuaca, bahkan membuat mesin meniru bahasa manusia. Tetapi semakin banyak yang diketahui, semakin jelas pula betapa kecil wilayah yang benar-benar dipahami.
Ada momen ketika ilmu pengetahuan berhenti pada ambang tertentu, lalu hanya bisa berkata: kami belum tahu.
Bagi Hazleton, kalimat “kami belum tahu” bukan kekalahan. Itu justru bentuk kerendahan hati paling masuk akal. Agnostisisme dalam bukunya terasa seperti upaya menyelamatkan manusia dari kesombongan epistemologis, dari keyakinan bahwa akal sanggup menelan seluruh semesta. Ia tidak memusuhi agama. Ia juga tidak tunduk pada ateisme yang terlalu percaya diri. Ia berdiri di tengah, tetapi “tengah” di sini bukan kompromi hambar. Ini semacam posisi aktif, sebuah kesiapan untuk terus mencari.
Mungkin karena itu buku ini terasa lebih dekat dengan esai-esai reflektif ketimbang traktat filsafat. Hazleton tidak berbicara dengan nada akademik yang dingin. Ia bergerak dari pengalaman pribadi, sejarah, psikologi, bahkan humor kecil yang membuat pembaca merasa sedang mendengar cerita seorang teman lama. Ia menulis seperti seseorang yang pernah sangat ingin percaya, tetapi juga terlalu jujur untuk memalsukan keyakinan.
Ada bagian menarik ketika ia menyinggung bagaimana manusia sering terobsesi pada kepastian tentang kematian. Kita ingin tahu apa yang terjadi setelah hidup berakhir. Surga atau neraka. Kekosongan atau keabadian. Tetapi sebenarnya obsesi itu mungkin lebih banyak bicara tentang ketakutan manusia sendiri ketimbang tentang alam semesta. Kematian adalah batas yang membuat kita sadar bahwa hidup tidak sepenuhnya berada dalam kendali.
Di titik ini, Hazleton seperti sedang mengajak pembaca menerima bahwa tidak semua pertanyaan harus ditutup rapat dengan jawaban final. Ada pertanyaan yang justru menjadi sumber energi batin karena ia tetap terbuka. Dalam dunia modern yang terobsesi efisiensi, gagasan seperti ini terdengar nyaris subversif. Kita diajarkan untuk menyelesaikan semuanya. Menentukan posisi. Menutup debat. Padahal beberapa hal paling penting dalam hidup justru bertahan sebagai teka-teki.
Cinta, misalnya.
Tak ada rumus yang benar-benar bisa menjelaskan mengapa seseorang rela menunggu orang lain selama bertahun-tahun, atau mengapa kehilangan bisa terasa lebih nyata daripada kehadiran. Kita menerima misteri cinta tanpa terlalu marah karenanya. Tetapi ketika berbicara tentang Tuhan, manusia sering menjadi sangat tidak sabar.
Hazleton tampaknya ingin mengatakan bahwa spiritualitas tidak harus lahir dari kepastian mutlak. Ada jenis kekhusyukan yang justru tumbuh dari kesadaran akan keterbatasan manusia. Ini mengingatkan pada tradisi mistik dalam banyak agama. Para sufi berbicara tentang Tuhan dengan metafora yang kabur dan puitis, seolah bahasa selalu gagal menangkap pengalaman rohani. Dalam tradisi Kristen pun ada apa yang disebut “negative theology”, gagasan bahwa Tuhan lebih mudah dipahami lewat apa yang tidak bisa dikatakan tentang-Nya.
Maka agnostisisme Hazleton bukan sekadar posisi intelektual. Ia juga semacam sikap eksistensial. Cara berada di dunia tanpa tergesa menutup misteri.
Di Indonesia, buku seperti ini mungkin akan memancing salah paham. Kata “agnostik” sering segera dicurigai sebagai penolakan terhadap agama. Padahal Hazleton tidak sedang mengajak orang meninggalkan iman. Ia justru mengkritik fanatisme yang terlalu yakin telah memahami semuanya. Dalam masyarakat yang makin mudah tersulut oleh identitas, keraguan sering dianggap ancaman. Orang diminta memilih kubu dengan cepat, lalu setia tanpa banyak pertanyaan.
Padahal pertanyaan adalah bagian penting dari kemanusiaan.
Anak kecil bertanya terus-menerus bukan karena mereka kurang ajar, melainkan karena rasa ingin tahu adalah naluri dasar manusia. Yang ironis, semakin dewasa seseorang, semakin sedikit ia bertanya. Bukan karena semuanya sudah dipahami, melainkan karena lingkungan sering menghukum keraguan. Kita hidup dalam budaya yang memuja ketegasan bahkan ketika ketegasan itu dibangun di atas pengetahuan yang rapuh.
Hazleton mengingatkan bahwa sejarah penuh dengan bencana yang lahir dari kepastian absolut. Perang agama, ideologi totaliter, fanatisme politik, semuanya sering dimulai dari keyakinan bahwa hanya ada satu kebenaran dan pemiliknya adalah “kami”. Dalam konteks itu, agnostisisme menjadi penting bukan semata sebagai posisi filosofis, tetapi sebagai etika kerendahan hati.
Kerendahan hati intelektual.
Kesediaan untuk berkata: mungkin aku salah.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi dalam praktiknya sangat sulit. Manusia membangun identitas dari keyakinannya. Menggoyang keyakinan terasa seperti menggoyang diri sendiri. Karena itu banyak orang lebih memilih mempertahankan kepastian meski rapuh daripada memasuki wilayah ragu yang tidak nyaman.
Namun justru di wilayah tak nyaman itulah pemikiran tumbuh.
Hazleton sendiri menarik karena latar hidupnya. Ia seorang Yahudi yang pernah tertarik menjadi rabbi, pernah sekolah di biara Katolik, lalu menulis banyak buku tentang Islam dan sejarah Timur Tengah. Hidupnya seperti perjalanan panjang melintasi berbagai tradisi keimanan. Mungkin itu sebabnya ia tidak melihat agama sebagai bangunan tunggal yang kaku, melainkan sebagai upaya manusia memahami sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya.
Ia tampaknya percaya bahwa manusia membutuhkan makna, tetapi makna tidak harus selalu hadir dalam bentuk dogma final. Ada orang yang menemukan makna lewat ritual agama. Ada yang menemukannya dalam seni, cinta, sains, atau kesunyian. Agnostisisme Hazleton membuka ruang bagi semua kemungkinan itu.
Yang menarik, buku ini tidak terasa muram meski berbicara tentang ketidakpastian. Justru ada semacam gairah hidup di dalamnya. Mungkin karena Hazleton melihat pencarian sebagai pengalaman yang hidup, bukan masalah yang harus buru-buru diselesaikan. Ia seperti mengingatkan bahwa menjadi manusia berarti hidup bersama pertanyaan yang tak seluruhnya terjawab.
Dan mungkin memang itu inti kedewasaan.
Bukan kemampuan memberi jawaban atas segala sesuatu, melainkan kemampuan bertahan di tengah ketidakpastian tanpa kehilangan rasa ingin tahu.
Dalam salah satu suasana paling sunyi dalam hidup manusia, mungkin ketika malam terlalu larut dan semua suara mulai mengecil, pertanyaan-pertanyaan besar sering datang diam-diam. Tentang hidup, tentang mati, tentang apakah semua ini punya makna. Sebagian orang segera menutup pertanyaan itu dengan doa. Sebagian lagi dengan teori. Sebagian memilih hiburan agar tak perlu memikirkannya terlalu lama.
Hazleton memilih duduk bersama pertanyaan itu.
Tidak untuk menaklukkannya. Tidak pula untuk melarikan diri darinya.
Hanya duduk bersama.
Dan mungkin, di zaman yang terlalu bising oleh jawaban instan, sikap seperti itu justru terdengar radikal.
Buku ini pada akhirnya bukan semata tentang agnostisisme. Ia tentang keberanian menjadi manusia yang sadar batas. Tentang menerima bahwa kehidupan tidak selalu hadir sebagai persamaan matematika yang selesai dihitung. Ada kabut yang tak sepenuhnya tersibak. Ada misteri yang mungkin memang diciptakan untuk tetap menjadi misteri.
Tetapi bukankah justru karena itu hidup terasa memikat?
Seperti langit malam yang tidak pernah benar-benar selesai dipandangi, pertanyaan tentang Tuhan dan makna hidup mungkin tidak ada untuk ditutup sekali dan selamanya. Ia ada agar manusia terus bergerak, terus mencari, terus merasa kecil sekaligus takjub.
Lesley Hazleton, melalui buku ini, tampaknya sedang mengajukan satu kemungkinan sederhana namun jarang diberi tempat: bahwa keraguan bukan lawan iman. Kadang-kadang ia justru napas yang membuat pencarian tetap hidup.
Dan mungkin manusia memang lebih manusiawi ketika ia berani berkata, dengan jujur dan tenang: aku belum tahu.
