
Di rak-rak buku sejarah Indonesia, ada banyak judul yang ingin tampak ilmiah dengan cara menebalkan istilah, mengeraskan teori, dan memperbanyak catatan kaki. Tetapi buku Pengantar Ilmu Sejarah karya Kuntowijoyo justru bergerak dari arah sebaliknya. Ia tidak memulai sejarah sebagai museum tanggal dan nama besar, melainkan sebagai kebutuhan manusia untuk mengerti dirinya sendiri. Sejarah, bagi Kuntowijoyo, bukan sekadar catatan masa lampau, melainkan cara manusia menyusun makna atas hidup yang bergerak.
Kalimat di sampul buku itu sederhana, hampir seperti bisikan: “sejarah terus ditulis orang, di semua peradaban dan di sepanjang waktu.” Seakan-akan Kuntowijoyo hendak berkata: jika manusia tidak membutuhkan sejarah, mengapa ia terus-menerus menulisnya? Mengapa setiap bangsa menciptakan kisah asal-usul? Mengapa setiap kekuasaan buru-buru membangun monumen? Mengapa setiap keluarga menyimpan album foto?
Barangkali karena manusia takut hilang.
Dan sejarah, sejak awal, adalah cara manusia melawan kepunahan.
Di tangan Kuntowijoyo, sejarah tidak diperlakukan sebagai dongeng kejayaan. Ia justru dibedah sebagai ilmu. Tetapi menariknya, ketika ia berbicara tentang “ilmu”, nadanya tidak dingin seperti laboratorium. Ada semacam kehangatan seorang guru yang tahu bahwa pembacanya mungkin baru pertama kali berhadapan dengan pertanyaan besar: apa sebenarnya sejarah itu?
Ia menjelaskan bahwa sejarah memiliki dua wajah sekaligus. Pertama, sejarah sebagai peristiwa. Kedua, sejarah sebagai cerita tentang peristiwa. Di sinilah letak persoalan yang sering luput dipahami. Masa lalu memang sudah terjadi, tetapi cerita tentang masa lalu selalu ditulis dari masa kini. Artinya, sejarah tidak pernah sepenuhnya netral. Sejarawan memilih fakta, menimbang sumber, menentukan sudut pandang. Dengan kata lain, sejarah bukan tumpukan data mati. Ia adalah hasil pergulatan pikiran.
Di titik ini, Kuntowijoyo tampak ingin menjauhkan sejarah dari mitos negara.
Karena terlalu lama sejarah sering dipakai seperti pengeras suara kekuasaan. Pada masa kolonial, sejarah ditulis untuk membenarkan penjajahan. Pada masa nasionalisme, sejarah dijadikan alat membangun identitas bangsa. Pada masa rezim otoriter, sejarah dipaksa menjadi narasi tunggal. Tokoh dipilih, peristiwa disusun, tragedi dihapus. Anak-anak sekolah menghafal tanpa sempat bertanya.
Kuntowijoyo tidak sedang membuat manifesto politik secara terang-terangan. Tetapi dari cara ia menekankan metode, verifikasi, dan kritik sumber, terasa sekali bahwa ia ingin sejarah dibebaskan dari sekadar propaganda.
Sejarah harus bisa diuji.
Dan karena itu sejarah harus bersedia diragukan.
Di banyak tempat, buku ini terasa seperti percakapan panjang tentang disiplin berpikir. Kuntowijoyo menjelaskan bahwa sejarah memiliki metode: heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Kata-kata itu mungkin terdengar akademis, tetapi sebenarnya sederhana. Sejarawan mencari sumber, memeriksa keaslian, menafsirkan makna, lalu menuliskannya. Ada semacam etika intelektual di sana: jangan tergesa percaya.
Menariknya, ketika membaca bagian-bagian itu, kita seperti sedang membaca pelajaran tentang hidup sehari-hari. Sebab bukankah manusia modern juga dibanjiri informasi yang perlu diverifikasi? Bukankah media sosial penuh dengan “sejarah” versi potongan video dan amarah komentar? Bukankah sekarang kebohongan bisa menyebar lebih cepat daripada arsip?
Mungkin karena itu buku ini terasa tetap relevan, bahkan di zaman algoritma.
Kuntowijoyo tampaknya sadar bahwa sejarah bukan cuma urusan masa lampau. Ia juga soal cara masyarakat memandang masa kini. Ketika sebuah bangsa kehilangan kemampuan berpikir historis, ia mudah terjebak histeria. Segala sesuatu dianggap baru, padahal pernah terjadi sebelumnya. Orang marah tanpa konteks. Orang memuja tokoh tanpa kritik. Orang mengutuk generasi terdahulu tanpa memahami keadaan zamannya.
Sejarah memberi jarak.
Dan jarak sering kali adalah syarat kebijaksanaan.
Namun Kuntowijoyo tidak berhenti pada teknis penulisan sejarah. Ia juga berbicara tentang perubahan. Ini bagian penting dari buku tersebut. Sejarah, katanya, adalah ilmu tentang perubahan dalam dimensi waktu. Kalimat ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya besar sekali implikasinya. Sebab kalau sejarah adalah perubahan, maka tidak ada masyarakat yang benar-benar tetap. Tidak ada kekuasaan yang abadi. Tidak ada kebudayaan yang steril dari pengaruh luar.
Pandangan seperti ini diam-diam menggugat banyak romantisme.
Sering kali bangsa-bangsa menciptakan masa lalu yang suci: masa ketika semuanya dianggap murni, luhur, tanpa konflik. Padahal sejarah justru bergerak melalui percampuran, benturan, dan negosiasi. Indonesia sendiri lahir dari persilangan panjang: Hindu-Buddha, Islam, kolonialisme Eropa, kapitalisme global, nasionalisme modern. Tidak ada identitas yang jatuh dari langit dalam bentuk final.
Kuntowijoyo mengajak pembacanya menerima sejarah sebagai proses.
Bukan altar.
Ada bagian lain yang menarik: pembahasan tentang hubungan sejarah dengan ilmu sosial. Ini mungkin salah satu ciri penting pemikiran Kuntowijoyo. Ia tidak ingin sejarah hanya menjadi daftar kronologi. Ia ingin sejarah mampu menjelaskan struktur masyarakat. Karena itu ia membuka pintu bagi sosiologi, antropologi, ekonomi, bahkan politik untuk membantu membaca masa lalu.
Di sini terasa pengaruh dunia akademik modern. Sejarah bukan lagi cerita raja-raja semata. Yang penting bukan hanya siapa naik takhta, tetapi bagaimana rakyat hidup. Bagaimana petani bertahan. Bagaimana pasar bekerja. Bagaimana agama membentuk mentalitas sosial.
Dengan pendekatan seperti itu, sejarah menjadi lebih manusiawi.
Ia turun dari istana ke dapur.
Turun dari pidato ke sawah.
Turun dari monumen ke tubuh manusia biasa.
Mungkin inilah sebabnya membaca Kuntowijoyo memberi pengalaman yang berbeda dibanding membaca buku pelajaran sekolah. Ia tidak sibuk memuliakan tokoh. Ia lebih tertarik memahami gerak masyarakat. Bahkan ketika membahas objektivitas sejarah, ia tampak realistis. Objektivitas sempurna hampir mustahil, sebab sejarawan tetap manusia yang hidup dalam zamannya sendiri. Tetapi itu bukan alasan untuk menyerah pada relativisme. Justru karena subjektivitas selalu mengintai, metode ilmiah menjadi penting.
Ada kerendahan hati dalam gagasan itu.
Bahwa pengetahuan manusia selalu sementara.
Bahwa sejarah bukan kitab suci.
Dan mungkin karena itu pula sejarah selalu ditulis ulang.
Buku ini juga memberi kesan bahwa menjadi sejarawan bukan sekadar profesi akademik. Ada dimensi moral yang samar tetapi terasa. Sejarawan bekerja menjaga ingatan kolektif. Ia seperti penjaga nyala kecil di tengah kecenderungan manusia untuk lupa. Sebab lupa sering kali menguntungkan kekuasaan.
Kita tahu, banyak tragedi justru dimulai ketika masyarakat kehilangan ingatan historis. Ketika propaganda menggantikan fakta. Ketika kebencian diwariskan tanpa pemeriksaan. Ketika masa lalu dipelintir demi kepentingan hari ini.
Dalam konteks Indonesia, pemikiran Kuntowijoyo terasa penting sekali. Negeri ini terlalu sering gaduh oleh tafsir sejarah. Setiap kelompok ingin menjadi pewaris paling sah bangsa. Setiap rezim ingin menulis ulang narasi nasional. Kadang sejarah dipakai seperti senjata identitas: untuk membanggakan diri atau menyingkirkan yang lain.
Tetapi Kuntowijoyo mengingatkan bahwa sejarah yang sehat justru membuka kompleksitas. Ia tidak menyederhanakan manusia menjadi hitam-putih. Dalam sejarah, pahlawan bisa salah. Penjahat bisa punya alasan. Revolusi bisa melahirkan harapan sekaligus luka.
Sejarah yang matang tidak mencari kesucian.
Ia mencari pemahaman.
Dan mungkin itu yang membuat buku ini terasa tenang. Tidak meledak-ledak, tetapi perlahan mengubah cara pembaca melihat waktu. Setelah membacanya, orang mungkin mulai sadar bahwa hidup sehari-hari pun sebenarnya sedang bergerak menjadi sejarah. Percakapan hari ini, konflik politik hari ini, bahkan unggahan media sosial hari ini, suatu saat akan menjadi arsip tentang siapa kita.
Pertanyaannya: arsip macam apa yang sedang kita tinggalkan?
Di era ketika informasi bergerak terlalu cepat, buku seperti ini terasa seperti ajakan untuk memperlambat diri. Untuk memeriksa sumber. Untuk memahami konteks. Untuk tidak buru-buru percaya pada narasi yang paling nyaring. Karena sejarah, pada akhirnya, bukan hanya soal masa lalu. Ia adalah latihan berpikir.
Dan barangkali di situlah inti paling dalam dari buku Kuntowijoyo.
Bahwa sejarah bukan sekadar hafalan tentang apa yang telah terjadi.
Melainkan upaya manusia memahami perubahan, memahami dirinya sendiri, dan memahami mengapa dunia menjadi seperti sekarang.
Ada sesuatu yang hampir puitis dalam gagasan itu. Manusia hidup hanya sebentar, tetapi ia terus berusaha menyusun cerita yang lebih panjang daripada umurnya sendiri. Ia menulis sejarah agar hidupnya tidak lenyap begitu saja. Agar penderitaan punya jejak. Agar kemenangan punya saksi. Agar generasi sesudahnya tidak berjalan sepenuhnya dalam gelap.
Dan di tengah dunia yang semakin bising oleh opini instan, Kuntowijoyo seperti mengingatkan pelan-pelan: berpikirlah secara historis.
Karena tanpa sejarah, manusia mudah menjadi fanatik.
Tanpa sejarah, bangsa mudah mabuk oleh mitos.
Tanpa sejarah, kekuasaan terlalu mudah memalsukan ingatan.
Tetapi dengan sejarah, setidaknya manusia masih punya kemungkinan untuk belajar.
