Hans Rosling’s Factfulness

Di rak-rak toko buku, ada jenis buku yang datang seperti tamparan. Ia tidak menawarkan hiburan, tidak juga semacam petuah motivasi murahan yang menggelembungkan harapan seperti balon ulang tahun. Ia datang dengan nada yang lebih dingin, hampir seperti seorang dokter yang menunjuk hasil rontgen sambil berkata: “Kita salah melihat tubuh kita sendiri.” Buku itu adalah Factfulness karya Hans Rosling bersama Ola Rosling dan Anna Rosling Rönnlund. Sampulnya merah menyala, huruf-huruf putih besar memenuhi hampir seluruh bidang, seperti alarm kebakaran. Tetapi anehnya, isi buku itu justru mencoba memadamkan kepanikan.

Di zaman ketika manusia hidup dengan notifikasi, dengan kecemasan yang diperbarui setiap detik, Rosling menulis sesuatu yang terdengar nyaris tidak sopan: dunia sebenarnya jauh lebih baik daripada yang kita kira.

Kalimat itu mudah dicurigai. Terutama di negeri-negeri yang terbiasa menganggap pesimisme sebagai bentuk kecerdasan. Kita diajari bahwa orang yang sinis tampak lebih realistis. Orang yang curiga dianggap lebih matang. Sedangkan optimisme sering diperlakukan seperti anak kecil yang belum mengerti tagihan listrik.

Rosling tahu itu. Karena itu ia tidak memulai bukunya dengan khotbah. Ia memulai dengan tes sederhana. Ia memberi pertanyaan tentang kemiskinan global, angka harapan hidup, pendidikan perempuan, vaksinasi, populasi dunia. Hasilnya mengejutkan: sebagian besar orang, termasuk mereka yang berpendidikan tinggi, menjawab lebih buruk daripada kenyataan. Bahkan simpanse yang memilih jawaban secara acak sering lebih akurat daripada manusia modern.

Ada sesuatu yang ironis di sana. Di era data melimpah, manusia justru makin salah memahami dunia. Kita hidup dalam banjir informasi, tetapi pikiran kita masih memakai peralatan zaman purba. Otak kita dibentuk untuk bereaksi terhadap ancaman yang dekat: suara di semak-semak, wajah marah, api, darah. Maka berita buruk selalu lebih kuat mengguncang dibanding kabar baik. Seekor pesawat jatuh terasa lebih nyata daripada jutaan penerbangan yang mendarat selamat. Satu kerusuhan lebih mudah diingat daripada seribu hari damai.

Media tahu itu. Politik tahu itu. Algoritma media sosial tahu itu lebih baik daripada siapa pun.

Mungkin karena itu dunia modern terasa seperti lorong alarm yang tak pernah berhenti berbunyi.

Rosling menyebut kecenderungan ini sebagai “dramatic instinct”. Naluri dramatis. Kita suka membelah dunia menjadi dua kutub: kaya-miskin, maju-tertinggal, Barat-Timur, baik-jahat. Kita membayangkan dunia seperti peta lama dengan garis tegas antara negara maju dan negara berkembang. Padahal, kata Rosling, garis itu sudah lama kabur.

Ia lalu menunjukkan sesuatu yang sederhana tetapi mengguncang: sebagian besar manusia kini hidup di tengah. Tidak kaya raya, tetapi tidak juga miskin ekstrem. Banyak keluarga di Asia dan Afrika kini memiliki akses listrik, pendidikan dasar, vaksin, dan telepon genggam. Mereka tidak hidup dalam gambaran hitam-putih yang sering diproduksi iklan lembaga bantuan internasional atau pidato politik.

Ini bukan berarti dunia sudah adil. Rosling bukan nabi kemajuan yang buta. Ia tahu perang masih ada, ketimpangan masih brutal, krisis iklim mengancam, dan jutaan orang tetap hidup menderita. Tetapi ia menolak cara berpikir yang melihat dunia seolah semuanya memburuk sekaligus. Sebab cara berpikir seperti itu melahirkan keputusasaan, dan keputusasaan sering lebih berbahaya daripada kebodohan.

Ada bagian menarik dalam buku itu ketika Rosling berbicara tentang ketakutan. Ia mengatakan bahwa manusia cenderung melebih-lebihkan hal-hal yang menakutkan: terorisme, bencana alam, wabah. Padahal statistik sering menunjukkan ancaman yang lebih besar justru datang dari hal-hal biasa: sanitasi buruk, kemiskinan, penyakit yang bisa dicegah. Tetapi rasa takut tidak bekerja berdasarkan angka. Ia bekerja berdasarkan imajinasi.

Dan manusia adalah makhluk yang sangat pandai membayangkan kiamat.

Barangkali karena itu buku ini terasa penting bukan hanya sebagai buku statistik, melainkan sebagai buku tentang kerendahan hati intelektual. Rosling tidak berkata bahwa data adalah segalanya. Ia justru mengingatkan bahwa pikiran manusia terlalu mudah terjebak dalam cerita yang sederhana. Kita suka narasi cepat. Kita ingin pahlawan dan penjahat. Kita ingin dunia yang mudah dipetakan. Data sering mengganggu kenyamanan itu.

Di titik ini, Factfulness terasa seperti kritik halus terhadap zaman kita sendiri. Zaman ketika opini diproduksi lebih cepat daripada pemahaman. Ketika orang membaca judul berita lalu merasa sudah memahami geopolitik. Ketika kemarahan menjadi industri.

Media sosial mempercepat semuanya. Kita tidak lagi mengonsumsi kenyataan, melainkan potongan-potongan emosi. Foto banjir, video perang, grafik krisis ekonomi, kutipan kemarahan. Semua datang bertubi-tubi tanpa konteks. Dunia terlihat seperti ruang tunggu kiamat.

Padahal, jika mundur sedikit dan melihat dalam rentang puluhan tahun, banyak hal justru membaik secara historis. Angka kematian anak turun drastis. Akses pendidikan meningkat. Kelaparan global berkurang dibanding abad sebelumnya. Penyakit-penyakit mematikan yang dulu membunuh jutaan orang kini bisa dicegah dengan vaksin murah.

Kemajuan sering tidak terasa karena ia bergerak pelan. Ia tidak punya efek dramatis seperti ledakan bom atau kerusuhan politik. Tidak ada musik latar dalam keberhasilan sanitasi publik. Tidak ada breaking news ketika jutaan anak berhasil bertahan hidup karena imunisasi.

Barangkali kemajuan memang membosankan.

Tetapi justru karena membosankan, ia sering dilupakan.

Di sini Rosling seperti sedang mengingatkan manusia modern agar tidak mabuk oleh pesimisme. Sebab pesimisme yang terus-menerus bisa berubah menjadi semacam narsisme moral: keyakinan bahwa zaman kita adalah zaman paling buruk, paling rusak, paling kacau dibanding semua generasi sebelumnya. Padahal sejarah manusia penuh dengan perang besar, wabah mematikan, kelaparan massal, perbudakan, dan kekerasan sistematis yang jauh lebih brutal daripada banyak hal yang kita hadapi sekarang.

Namun manusia selalu punya ingatan selektif. Kita meromantisasi masa lalu sekaligus membenci masa kini.

Mungkin itu sebabnya Factfulness terasa seperti latihan bernapas. Ia mengajak pembacanya berhenti sejenak dari hiruk-pikuk ketakutan kolektif. Melihat dunia bukan dengan kepanikan, melainkan dengan rasa ingin tahu. Tidak naif, tetapi juga tidak tenggelam dalam paranoia.

Yang menarik, Rosling tidak meminta pembacanya menjadi optimis. Ia lebih memilih istilah “possibilist”. Seseorang yang percaya perbaikan mungkin terjadi karena bukti menunjukkan hal itu pernah dan sedang terjadi. Ini penting. Sebab optimisme tanpa data bisa berubah menjadi propaganda. Tetapi pesimisme tanpa data juga sama berbahayanya.

Di negeri seperti Indonesia, gagasan Rosling punya gema tersendiri. Kita hidup di tengah budaya yang sering bergerak dari euforia ke kepanikan dalam hitungan jam. Hari ini merasa bangsa paling ramah. Besok merasa negara di ambang kehancuran. Kita jarang nyaman dengan kenyataan yang rumit.

Padahal kenyataan memang rumit.

Kemiskinan menurun, tetapi ketimpangan tetap tajam. Pendidikan meluas, tetapi kualitasnya timpang. Teknologi membuka peluang, tetapi juga menciptakan kecanduan dan polarisasi. Dunia tidak bergerak lurus menuju utopia ataupun distopia. Ia bergerak zig-zag, penuh kontradiksi.

Rosling tampaknya memahami bahwa manusia sulit menerima kompleksitas. Karena itu ia berkali-kali mengajak pembaca mempertanyakan instingnya sendiri. Ketika merasa dunia makin buruk, tanyakan: dibanding kapan? berdasarkan data apa? seberapa luas? siapa yang diuntungkan oleh ketakutan ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana. Tetapi di zaman banjir informasi, kemampuan bertanya mungkin lebih penting daripada kemampuan menjawab.

Ada kesedihan tersendiri ketika mengetahui bahwa Hans Rosling meninggal tak lama setelah menyelesaikan buku ini. Seolah ia buru-buru meninggalkan semacam surat wasiat intelektual. Ia tahu dunia akan makin bising. Ia tahu manusia akan makin mudah dimanipulasi oleh rasa takut. Maka ia meninggalkan sesuatu yang sederhana: kebiasaan memeriksa fakta sebelum panik.

Tetapi tentu saja, fakta saja tidak cukup menggerakkan manusia. Dunia tidak berubah hanya karena statistik benar. Politik tetap digerakkan emosi. Pasar bergerak oleh ketakutan dan harapan. Media bertahan hidup dari perhatian. Dan perhatian manusia selalu tertarik pada drama.

Karena itu Factfulness sesungguhnya bukan buku tentang angka. Ia buku tentang cara melihat. Tentang disiplin berpikir di tengah dunia yang terus memancing reaksi impulsif.

Dan mungkin di situlah kekuatan terbesarnya.

Ia mengingatkan bahwa kecemasan bukan selalu tanda kepedulian. Kadang ia hanya kebiasaan. Kadang ia dipelihara oleh industri informasi yang membutuhkan ketakutan agar roda ekonomi perhatian tetap berputar.

Rosling seperti berdiri di tengah keramaian itu sambil berkata pelan: lihat lebih teliti.

Kalimat itu tampak sederhana, tetapi justru itulah yang makin sulit dilakukan manusia modern. Kita terlalu cepat menyimpulkan. Terlalu cepat marah. Terlalu cepat percaya bahwa dunia runtuh hanya karena layar ponsel kita penuh kabar buruk.

Padahal dunia nyata sering lebih luas, lebih lambat, dan lebih rumit daripada linimasa.

Dan mungkin, setelah menutup buku ini, kita tidak otomatis menjadi lebih optimis. Tetapi setidaknya kita menjadi sedikit lebih hati-hati terhadap ketakutan kita sendiri.

Discover more from bolakayu.id

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading