Abdurrahman Wahid’s Tuhan Tidak Perlu Dibela

Di sebuah sampul yang muram dan nyaris teatrikal itu, wajah manusia tampak seperti baru keluar dari lorong panjang sejarah yang pengap. Mulutnya terbuka, bukan sedang berteriak, melainkan seperti menahan sesuatu yang lebih tua daripada kata-kata. Di bawahnya tercetak judul besar: Tuhan Tidak Perlu Dibela. Nama penulisnya: Abdurrahman Wahid. Dan seperti biasa, pada buku-buku Gus Dur, orang segera sadar: ini bukan sekadar kumpulan esai agama. Ini semacam upaya membebaskan Tuhan dari para pengawal-Nya sendiri.

Kalimat “Tuhan tidak perlu dibela” terdengar sederhana, bahkan seperti slogan. Tetapi justru di situlah bahayanya. Kalimat yang terlalu sederhana sering dianggap selesai dipahami, padahal ia baru saja membuka pintu ke ruang yang lebih rumit. Gus Dur tahu itu. Ia menulis bukan untuk memberi ketenangan, melainkan untuk mengganggu cara berpikir yang sudah mapan. Ia tidak sedang membela Tuhan. Ia sedang mempertanyakan manusia yang terlalu percaya diri menjadi juru bicara-Nya.

Dan sejarah Indonesia, kalau mau jujur, memang penuh orang-orang semacam itu.

Mereka hadir dengan suara keras, dengan keyakinan yang kokoh, dengan wajah yang merasa diberi mandat surgawi. Mereka bicara tentang moral, tentang akidah, tentang kemurnian iman. Tetapi sering kali, seperti dicatat Gus Dur dalam banyak tulisannya, yang sebenarnya sedang mereka bela bukan Tuhan, melainkan identitas kelompok, kekuasaan sosial, bahkan ego pribadi. Tuhan menjadi simbol yang dibawa ke mana-mana seperti bendera perang.

Di tangan orang-orang seperti itu, agama kehilangan keheningannya.

Padahal agama, dalam banyak tradisi besar, lahir justru dari pengalaman sunyi. Musa di padang pasir. Buddha di bawah pohon. Muhammad di Gua Hira. Yesus di padang sunyi. Semua pengalaman spiritual besar lahir dari kesendirian yang panjang, bukan dari keramaian slogan. Tetapi modernitas, terutama politik modern, mengubah agama menjadi pengeras suara. Ia dipakai untuk mengatur massa, menghakimi orang lain, bahkan menentukan siapa manusia yang layak hidup dengan tenang dan siapa yang pantas dicurigai.

Gus Dur menolak cara beragama semacam itu.

Dalam buku ini, yang sebenarnya merupakan kumpulan esai dan refleksi sosial-politik, kita melihat satu benang merah yang konsisten: kemanusiaan harus didahulukan daripada simbolisme agama. Ini bukan berarti agama tidak penting. Sebaliknya, justru karena agama penting, ia tidak boleh direduksi menjadi alat kebencian. Gus Dur percaya bahwa inti agama adalah memuliakan manusia. Ketika agama malah menghancurkan martabat manusia, ada sesuatu yang salah dalam cara memahaminya.

Pikiran itu terdengar biasa hari ini, terutama di ruang-ruang seminar atau unggahan media sosial yang penuh kutipan toleransi. Tetapi pada konteks zamannya, bahkan hingga sekarang, gagasan itu tetap dianggap mengganggu. Sebab banyak orang lebih nyaman dengan agama yang memberi kepastian ketimbang agama yang mengajak berpikir.

Gus Dur bukan tipe intelektual yang membangun argumen seperti benteng akademik. Ia bergerak lincah. Kadang meloncat dari humor ke politik, dari fikih ke sepak bola, dari cerita pesantren ke demokrasi modern. Membaca tulisannya seperti mendengar seseorang berpikir keras sambil tertawa kecil. Ada kecerdasan yang tidak merasa perlu tampil angkuh.

Mungkin itu sebabnya banyak orang salah mengira Gus Dur hanya tokoh humor.

Padahal humornya adalah strategi kebudayaan. Ia tahu bangsa yang terlalu tegang akan mudah pecah. Maka ia mencairkan ketegangan dengan lelucon, tetapi diam-diam memasukkan kritik yang tajam. Ketika ia berkata Tuhan tidak perlu dibela, ia sebenarnya sedang menyindir manusia yang merasa dirinya paling suci. Sebab Tuhan, kalau memang Maha Kuasa, tentu tidak membutuhkan pasukan pembela dari manusia yang bahkan tidak sanggup mengendalikan amarahnya sendiri.

Ada satu hal menarik dari cara berpikir Gus Dur: ia tidak takut pada pluralitas. Banyak orang melihat perbedaan sebagai ancaman. Gus Dur melihatnya sebagai kenyataan hidup yang tak bisa dihapus. Indonesia baginya bukan proyek menyeragamkan manusia. Indonesia adalah kesepakatan untuk hidup bersama di tengah ketidaksamaan.

Mungkin karena itu ia begitu keras membela kelompok minoritas.

Ia membela warga Tionghoa ketika banyak orang diam. Ia membela Ahmadiyah ketika itu tidak populer. Ia bicara tentang hak-hak non-Muslim tanpa rasa takut kehilangan legitimasi sebagai ulama. Dan justru di situ letak keberaniannya. Sebab yang paling sulit dalam masyarakat religius bukan menjadi orang saleh, melainkan menjadi orang adil.

Keadilan sering meminta kita membela orang yang tidak kita sukai.

Dan Gus Dur berkali-kali melakukan itu.

Dalam lanskap intelektual Indonesia, buku ini terasa penting karena ia datang dari tradisi pesantren, tetapi tidak terkurung di dalamnya. Gus Dur menunjukkan bahwa Islam tidak harus sempit. Bahwa tradisi bisa berdialog dengan modernitas tanpa kehilangan akar. Ia membaca kitab klasik, tetapi juga membaca dunia. Ia akrab dengan fikih sekaligus demokrasi. Kombinasi semacam ini jarang lahir karena membutuhkan keberanian intelektual sekaligus keluasan batin.

Yang menarik, Gus Dur tidak menawarkan utopia.

Ia tahu manusia tetap bisa fanatik. Tetap bisa brutal. Tetap bisa memakai agama sebagai alat politik. Tetapi ia percaya kebudayaan punya kemampuan memperhalus manusia. Maka dalam banyak esainya, kita menemukan perhatian besar pada seni, tradisi lokal, humor, sastra, dan dialog antariman. Semua itu dianggap penting bukan sebagai hiasan peradaban, melainkan sebagai penyangga kemanusiaan.

Tanpa kebudayaan, agama bisa menjadi kering.

Dan kekeringan adalah awal dari kekerasan.

Membaca buku ini hari ini terasa seperti membaca surat dari masa lalu yang ternyata belum selesai dibicarakan. Sebab problem yang dikritik Gus Dur masih hidup. Bahkan mungkin lebih bising sekarang. Media sosial menciptakan ilusi bahwa kemarahan adalah bentuk keberanian moral. Orang berlomba menunjukkan kesalehan di depan publik. Agama dipotong menjadi potongan-potongan pendek yang mudah viral. Nuansa hilang. Keraguan dianggap kelemahan. Padahal pemikiran besar selalu lahir dari kemampuan meragukan diri sendiri.

Gus Dur punya kemampuan itu.

Ia tidak sibuk tampil sempurna. Ia tidak membangun citra ulama tanpa cela. Ia manusia yang kadang kontroversial, kadang membingungkan, kadang melawan arus sampai orang sulit memahaminya. Tetapi justru di situ ia terasa otentik. Ia tidak sedang memainkan peran suci. Ia sedang berusaha menjadi manusia yang berpikir.

Dan berpikir, dalam masyarakat yang terlalu yakin pada dirinya sendiri, sering dianggap ancaman.

Ada aroma khas dalam tulisan-tulisan di buku ini: perpaduan antara keisengan intelektual dan kegelisahan moral. Gus Dur seperti orang yang tahu negeri ini rapuh, tetapi tetap percaya ia bisa diselamatkan oleh akal sehat dan welas asih. Itu optimisme yang tidak naïf. Sebab ia tahu sejarah Indonesia penuh luka: konflik agama, diskriminasi etnis, politik identitas, kekerasan atas nama mayoritas. Namun ia menolak menyerah pada sinisme.

Hari ini, ketika banyak orang memandang toleransi hanya sebagai jargon birokratis, buku ini mengingatkan bahwa toleransi sebenarnya adalah latihan batin. Ia menuntut kemampuan menerima bahwa orang lain punya jalan hidup berbeda. Dan penerimaan itu tidak lahir dari slogan, melainkan dari kedewasaan spiritual.

Di titik tertentu, buku ini sebenarnya bukan tentang Tuhan.

Ia tentang manusia.

Tentang bagaimana manusia berkali-kali gagal memahami keterbatasannya sendiri. Tentang godaan untuk merasa paling benar. Tentang kecenderungan menjadikan keyakinan sebagai alat menguasai orang lain. Gus Dur tampaknya ingin mengatakan: semakin seseorang merasa menjadi pemilik mutlak kebenaran, semakin ia jauh dari kebijaksanaan.

Karena kebijaksanaan selalu menyisakan ruang bagi kemungkinan bahwa kita bisa salah.

Barangkali itu sebabnya buku ini tetap hidup melampaui zamannya. Ia tidak bicara hanya kepada umat Islam. Ia bicara kepada siapa saja yang pernah tergoda mengubah keyakinan menjadi kesombongan. Dan bukankah itu penyakit universal manusia?

Pada akhirnya, membaca Tuhan Tidak Perlu Dibela memberi kesan seperti duduk di warung kopi bersama seorang tua yang cerdas, jenaka, tetapi diam-diam sedang membicarakan nasib peradaban. Ia tidak menggurui. Ia tidak membentak. Ia hanya mengajak berpikir dengan tenang: kalau Tuhan memang Maha Besar, mengapa manusia begitu sibuk merasa menjadi satpam-Nya?

Pertanyaan itu menggantung.

Dan mungkin memang harus dibiarkan menggantung.

Sebab beberapa pertanyaan tidak diciptakan untuk segera dijawab. Mereka ada untuk menjaga manusia tetap rendah hati.

Discover more from bolakayu.id

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading