
Di sebuah sampul merah menyala, huruf-huruf putih itu tergantung seperti boneka kayu: FREE WILL. Ada tali-tali tipis yang menjulur dari atas, dari semacam tangan tak terlihat, seakan Sam Harris bahkan sebelum membuka halaman pertama sudah ingin mengganggu sesuatu yang selama ini dianggap paling pribadi dalam diri manusia: kehendak. Kebebasan memilih. Otonomi batin. “Aku memutuskan.” “Aku mau.” “Aku memilih.” Kalimat-kalimat kecil yang selama berabad-abad menjadi fondasi hukum, agama, cinta, penyesalan, dan mungkin juga puisi.
Buku itu tipis. Hampir terlalu tipis untuk tema sebesar itu. Seolah Harris tahu: jika terlalu tebal, argumennya akan kehilangan keberanian. Sebab gagasan utama buku ini sebenarnya sederhana, bahkan brutal dalam kesederhanaannya. Kita merasa bebas, tetapi kebebasan itu mungkin hanya ilusi neurologis yang dirasakan sangat nyata. Pikiran muncul begitu saja. Keinginan datang tanpa diundang. Pilihan lahir dari rangkaian sebab yang tak kita kendalikan.
Manusia, kata Harris, lebih mirip penonton daripada penguasa atas isi kepalanya sendiri.
Ada sesuatu yang mengganggu ketika membaca buku ini pada malam hari. Bukan karena ia ditulis dengan nada marah. Harris justru menulis dengan tenang, hampir dingin. Seperti seorang dokter yang menjelaskan hasil laboratorium. Tetapi justru di situlah letak terornya. Kita terbiasa menghadapi serangan terhadap keyakinan dengan emosi: agama diserang, kita marah; ideologi digugat, kita membela diri. Namun ketika seseorang dengan suara datar berkata bahwa mungkin tak ada “aku” yang benar-benar memilih, kita kehilangan tempat untuk bertahan.
Sebab seluruh hidup modern dibangun di atas asumsi tentang individu yang otonom.
Kita memberi penghargaan kepada orang rajin karena dianggap memilih disiplin. Kita menghukum kriminal karena dianggap memilih kejahatan. Kita mengagumi orang sukses karena mereka “bekerja keras”. Kita membenci koruptor karena mereka “memutuskan mencuri”. Dalam setiap pengadilan, setiap sekolah, setiap khotbah motivasi, ada keyakinan diam-diam bahwa manusia adalah nahkoda penuh atas dirinya sendiri.
Sam Harris datang seperti seseorang yang mengetuk meja lalu berkata: mungkin nahkodanya tidak pernah ada.
Ia memulai dari sesuatu yang sebenarnya dekat dengan pengalaman sehari-hari. Cobalah memilih satu kota secara acak, katanya. Jakarta. Tokyo. Lima. Mengapa satu nama muncul dan bukan yang lain? Apakah kita benar-benar menciptakan pilihan itu? Atau nama itu sekadar muncul dari bawah sadar, dari jaringan pengalaman, ingatan, asosiasi, dan aktivitas neuron yang bahkan tak kita pahami?
Pikiran muncul. Begitu saja.
Kalimat ini tampaknya biasa. Tetapi jika dipikirkan cukup lama, ia seperti lubang kecil yang perlahan menelan seluruh bangunan moral modern.
Karena kalau pikiran muncul begitu saja, dari mana tepatnya “kehendak bebas” bekerja?
Harris banyak meminjam temuan neurosains. Eksperimen Benjamin Libet yang terkenal pada 1980-an menjadi salah satu fondasi penting. Dalam eksperimen itu, aktivitas otak ternyata terdeteksi beberapa milidetik sebelum seseorang sadar bahwa ia “memutuskan” melakukan tindakan tertentu. Otak tampaknya sudah bergerak lebih dulu sebelum kesadaran merasa memilih.
Kesadaran terlambat datang ke pesta, tetapi tetap mengklaim dirinya tuan rumah.
Tentu, perdebatan tentang free will jauh lebih tua daripada laboratorium modern. Santo Agustinus pernah bergulat dengannya. Spinoza juga. Bahkan dalam tradisi Timur, terutama Buddhisme, gagasan tentang diri yang tetap dan berdaulat sudah lama dicurigai sebagai ilusi. Tetapi Harris memberi sentuhan kontemporer: ia membawa perdebatan metafisik itu ke ruang MRI, ke sinapsis, ke aktivitas korteks prefrontal.
Dan di sini buku itu menjadi menarik bukan hanya secara filsafat, tetapi juga secara moral-politik.
Sebab Harris tidak berhenti pada pertanyaan abstrak. Ia membawa implikasinya ke dunia nyata: bagaimana kita memandang kriminal? Pecandu? Orang gagal? Orang sukses?
Jika seseorang lahir dengan kecenderungan genetik tertentu, tumbuh di lingkungan penuh kekerasan, mengalami trauma masa kecil, lalu menjadi kriminal, sejauh mana ia “memilih” hidupnya? Sebaliknya, jika seseorang lahir cerdas, stabil secara emosional, dibesarkan dalam keluarga suportif, lalu menjadi miliarder sukses, seberapa besar itu murni hasil kehendaknya sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan ini terdengar berbahaya di zaman yang memuja meritokrasi. Dunia modern menyukai cerita tentang individu yang menaklukkan nasib. Narasi self-made man. Anak miskin menjadi konglomerat. Mahasiswa drop out jadi pendiri startup miliaran dolar. Kita menyukai kisah itu karena memberi rasa kontrol: kalau dia bisa, aku juga bisa.
Tetapi Harris seperti menyiramkan air dingin ke wajah optimisme neoliberal. Tidak semua orang memulai dari garis yang sama. Bahkan kemampuan untuk disiplin, fokus, tahan godaan, atau berpikir jernih sebagian besar diwariskan oleh genetika dan dibentuk lingkungan.
Dengan kata lain: kita lebih banyak “dibentuk” daripada “membentuk diri”.
Namun anehnya, buku ini tidak jatuh menjadi nihilisme murahan. Harris tidak berkata bahwa karena free will ilusi, maka semua boleh dilakukan. Justru sebaliknya. Ia melihat hilangnya keyakinan terhadap kehendak bebas sebagai peluang untuk menjadi lebih welas asih.
Seseorang yang benar-benar memahami bahwa manusia tidak sepenuhnya memilih dirinya mungkin akan lebih sulit membenci.
Ini bagian paling manusiawi dari buku itu. Dan mungkin paling penting.
Selama ini banyak sistem moral dibangun di atas kemarahan. Hukuman sebagai balas dendam. Penjara sebagai tempat menebus dosa. Kita menghukum bukan hanya untuk melindungi masyarakat, tetapi juga karena ingin melihat seseorang “menderita setimpal”.
Tetapi jika perilaku manusia muncul dari jaringan sebab yang kompleks, maka kemarahan absolut menjadi goyah. Kita masih perlu melindungi masyarakat dari orang berbahaya, kata Harris. Tetapi kebencian personal kehilangan dasar metafisiknya.
Seorang psikopat tetap perlu dipenjara. Sama seperti beruang liar perlu dikurung jika mengancam manusia. Tetapi kita tak membenci beruang karena menjadi beruang.
Pandangan ini mungkin terdengar dingin. Bahkan mekanistik. Tetapi diam-diam ia menyimpan belas kasih yang langka. Sebab ia mengurangi obsesi manusia untuk menghakimi.
Di titik ini, buku Harris mengingatkan pada nada tertentu dalam tulisan-tulisan Goenawan Mohamad di Catatan Pinggir: bahwa manusia sering terlalu yakin pada kategorinya sendiri. Baik-buruk. Bersalah-tidak bersalah. Rasional-irasional. Padahal hidup bergerak dalam wilayah yang lebih cair. Kesadaran manusia bukan ruang sidang dengan hakim tunggal. Ia lebih mirip pasar malam yang gaduh, tempat suara-suara muncul tanpa pusat komando yang jelas.
Dan mungkin memang begitu pengalaman batin kita sebenarnya.
Kita marah sebelum sadar sedang marah. Kita jatuh cinta sebelum sempat memutuskan. Kita iri, takut, cemas, rindu, bahkan sebelum bahasa datang memberi nama pada semuanya. Setelah itu barulah kesadaran muncul seperti juru bicara pemerintah: menjelaskan, merasionalisasi, menyusun narasi agar semuanya tampak logis.
“Aku memilih dia karena…” “Aku gagal karena…” “Aku membeli ini karena…”
Padahal mungkin keputusan itu sudah lahir jauh sebelumnya, di ruang bawah sadar yang gelap dan tak transparan.
Namun manusia modern sangat mencintai narasi tentang kontrol. Industri motivasi hidup dari sana. Buku-buku pengembangan diri menjanjikan bahwa kita bisa menjadi apa saja asal cukup mau. Bahkan media sosial penuh dengan estetika produktivitas: bangun jam lima pagi, mandi air dingin, meditasi, disiplin, kerja keras, optimasi diri.
Ada sesuatu yang nyaris religius dalam semua itu.
Dan Harris datang membawa kabar sesat: mungkin kemampuan untuk disiplin pun bukan pilihan bebas.
Tentu banyak kritik diarahkan kepadanya. Beberapa filsuf mengatakan Harris terlalu menyederhanakan konsep free will. Ada yang berargumen bahwa kebebasan bukan berarti bebas dari sebab-akibat, melainkan kemampuan bertindak sesuai motivasi internal tanpa paksaan eksternal. Ini posisi yang disebut kompatibilisme. Tetapi Harris menolaknya. Baginya, kalau motivasi internal itu sendiri bukan hasil pilihan sadar kita, maka kebebasan tetap problematis.
Perdebatan itu mungkin tak akan selesai.
Tetapi mungkin justru di situlah kekuatan buku ini: ia memaksa pembaca merasa tidak nyaman. Dan filsafat yang baik memang sering bekerja seperti batu kecil di sepatu. Ia mengganggu langkah sehari-hari.
Setelah membaca Free Will, seseorang mungkin tetap bekerja, tetap mencintai, tetap membuat keputusan. Dunia tidak runtuh. Tetapi ada retakan kecil dalam cara memandang diri sendiri. Kita menjadi sedikit kurang sombong terhadap keberhasilan, sedikit kurang kejam terhadap kegagalan orang lain.
Mungkin itu cukup.
Sebab pada akhirnya, pertanyaan tentang kehendak bebas bukan hanya soal metafisika. Ia soal bagaimana manusia memperlakukan manusia lain. Jika kita sungguh percaya bahwa setiap orang sepenuhnya pencipta nasibnya sendiri, kita cenderung memuja yang berhasil dan menghina yang jatuh. Tetapi jika kita sadar betapa banyak hidup dibentuk oleh faktor yang tak dipilih, kita mungkin akan lebih rendah hati.
Dan kerendahan hati adalah barang langka di abad ini.
Di luar jendela, dunia terus bergerak dengan keyakinan lama. Pengadilan tetap berjalan. Sekolah tetap memberi ranking. Perusahaan tetap mencari “talenta terbaik”. Orang tetap berkata, “Kalau mau, pasti bisa.”
Mungkin memang manusia membutuhkan ilusi tertentu agar kehidupan sosial tetap stabil. Barangkali kehendak bebas adalah salah satu mitos paling berguna yang pernah diciptakan peradaban.
Tetapi buku kecil Sam Harris itu tetap ada di rak, tipis dan merah, seperti gangguan kecil yang tak selesai. Huruf-hurufnya masih tergantung pada tali, digerakkan tangan tak terlihat. Dan setiap kali melihat sampulnya, kita seperti diingatkan pada kemungkinan yang tak nyaman itu: bahwa selama ini kita mungkin bukan dalang, melainkan wayang yang perlahan mulai sadar pada benang-benangnya sendiri.
