
Di sebuah rak buku yang tenang, di antara jilid-jilid yang mungkin lebih sering dibeli daripada dibaca, buku Phil Zuckerman itu tampak seperti sebuah provokasi yang dibungkus sopan. Sampulnya marun gelap, lambang-lambang agama membentuk siluet kepala manusia, lalu judul yang berdiri seperti pengumuman: Masyarakat Tanpa Tuhan. Sebuah frasa yang di negeri-negeri tertentu akan terdengar biasa saja, tetapi di Indonesia sering kali terasa seperti mengetuk sarang lebah. Kita hidup dalam masyarakat yang nyaris tak memberi ruang bagi kemungkinan bahwa moral bisa hidup tanpa doa, bahwa solidaritas bisa tumbuh tanpa ancaman neraka, bahwa manusia mungkin dapat berlaku baik bukan karena diawasi langit, melainkan karena menyadari sesama manusia sama rapuhnya dengan dirinya sendiri.
Phil Zuckerman tidak menulis buku ini sebagai manifesto kemarahan. Ia tidak sedang berdiri di podium sambil mengejek orang beriman. Nada bukunya lebih mirip seorang peneliti sosial yang duduk di sudut kafe, mengamati manusia dengan rasa ingin tahu yang panjang. Ia pergi ke Denmark dan Swedia, dua negara yang dalam statistik modern sering disebut sebagai masyarakat paling sekuler di dunia. Orang-orang di sana jarang pergi ke gereja, jarang berbicara tentang Tuhan, dan banyak yang bahkan tak merasa agama penting dalam hidup mereka. Tetapi anehnya, negeri-negeri itu justru memiliki tingkat kriminalitas rendah, kesejahteraan tinggi, angka korupsi kecil, layanan kesehatan baik, dan kualitas hidup yang sering membuat bangsa-bangsa religius memandang iri.
Di titik itulah buku ini mulai mengganggu asumsi lama yang begitu mapan: benarkah tanpa agama manusia akan jatuh ke jurang moralitas?
Pertanyaan itu sebenarnya lebih tua daripada negara-negara modern. Ia lahir sejak manusia mulai membangun kota dan hukum. Hampir semua peradaban besar percaya bahwa keteraturan sosial membutuhkan sesuatu yang transenden. Raja memerlukan legitimasi ilahi. Hukum membutuhkan aura suci. Bahkan sumpah pengadilan memakai nama Tuhan. Seolah-olah manusia tidak cukup dapat dipercaya bila hanya bersandar pada kesepakatan sesama manusia.
Namun Zuckerman menemukan sesuatu yang paradoksal. Di Skandinavia, orang-orang tidak terlalu memikirkan keselamatan akhirat, tetapi mereka membayar pajak dengan tertib. Mereka tidak terlalu rajin mendengar khotbah, tetapi menjaga fasilitas publik seolah itu milik bersama yang sakral. Mereka mungkin tak hafal ayat kitab suci, tetapi negara mereka menjadi tempat yang aman bagi anak-anak, perempuan, orang tua, dan kaum minoritas. Ini bukan utopia. Tentu masih ada depresi, alkoholisme, kesepian, bahkan xenofobia. Tetapi secara umum, masyarakat sekuler itu justru menunjukkan tingkat empati sosial yang tinggi.
Buku ini menjadi menarik karena ia tidak jatuh pada simplifikasi murahan. Zuckerman tidak berkata bahwa agama adalah akar segala masalah. Ia juga tidak mengklaim ateisme otomatis membuat manusia tercerahkan. Ia hanya memperlihatkan bahwa hubungan antara religiusitas dan moralitas ternyata jauh lebih rumit daripada slogan-slogan mimbar.
Dan mungkin di situlah inti paling penting buku ini: moralitas manusia tidak lahir dari satu sumber tunggal.
Kita sering membayangkan etika seperti kabel listrik yang harus tersambung ke langit. Padahal dalam kenyataan sosial, manusia belajar berlaku baik dari banyak hal: keluarga, pendidikan, budaya malu, rasa empati, hukum yang adil, pengalaman menderita, bahkan dari sekadar menyadari bahwa hidup bersama lebih nyaman daripada saling melukai. Anak kecil tidak pertama-tama belajar kasih sayang dari teologi. Ia belajar dari pelukan.
Maka ketika Zuckerman melihat masyarakat Denmark atau Swedia yang relatif damai tanpa religiusitas kuat, ia sedang menunjukkan bahwa solidaritas sosial bisa dibangun melalui institusi yang sehat. Negara yang memberi jaminan kesehatan, pendidikan murah, dan perlindungan sosial menciptakan rasa aman kolektif. Orang tidak terlalu takut besok akan kelaparan. Ketika rasa takut berkurang, kebutuhan akan pelarian metafisik juga berubah.
Ini tentu bukan argumen bahwa agama hanya lahir dari kecemasan ekonomi. Itu terlalu dangkal. Tetapi ada sesuatu yang menarik: masyarakat yang stabil cenderung lebih santai terhadap pertanyaan religius. Sebaliknya, masyarakat yang penuh ketidakpastian sering kali menjadi sangat religius. Di tempat-tempat yang hidupnya keras, Tuhan bukan sekadar konsep filosofis, melainkan tempat bergantung terakhir.
Indonesia mungkin contoh yang menarik untuk dibandingkan. Kita negeri yang sangat religius dalam statistik. Masjid penuh, rumah ibadah bertambah, slogan-slogan spiritual mudah ditemukan di mana-mana. Tetapi dalam waktu yang sama kita juga akrab dengan korupsi, intoleransi, kekerasan simbolik, dan kebencian politik yang dibungkus ayat. Tentu tidak adil menyalahkan agama atas semua itu. Namun setidaknya pengalaman Indonesia memperlihatkan bahwa tingginya religiusitas tidak otomatis menghasilkan masyarakat yang adil.
Kadang-kadang agama di negeri seperti Indonesia lebih mirip identitas sosial daripada laku etis. Ia menjadi penanda kelompok, bendera kultural, alat legitimasi politik. Orang dapat sangat saleh dalam ritual sekaligus sangat kejam dalam urusan publik. Kita melihat pejabat yang rajin umrah tetapi mencuri uang rakyat. Kita melihat orang menangis saat mendengar ceramah tetapi ringan menyebar fitnah di media sosial. Seolah ada jurang antara kesalehan simbolik dan keberanian moral.
Di sinilah buku Zuckerman terasa seperti cermin yang tidak nyaman.
Ia memaksa pembaca bertanya: apakah kita benar-benar baik karena memahami kemanusiaan, atau hanya karena takut dihukum? Dan bila rasa takut itu hilang, apakah kita masih akan menolong orang lain?
Pertanyaan itu mengingatkan pada filsuf Immanuel Kant yang pernah berkata bahwa tindakan moral sejati justru lahir ketika manusia memilih yang baik bukan demi hadiah atau ancaman. Ada sesuatu yang lebih luhur ketika seseorang jujur bukan karena takut dosa, melainkan karena ia tahu kebohongan merusak martabat manusia.
Tetapi dunia nyata tidak sesederhana ruang kuliah filsafat. Agama, bagaimanapun, telah memberi banyak hal pada sejarah manusia. Ia menciptakan seni, musik, arsitektur, komunitas, penghiburan bagi orang berduka, bahkan gerakan pembebasan sosial. Banyak orang bertahan hidup karena iman memberi mereka harapan. Dalam penjara, di rumah sakit, di medan perang, manusia sering membutuhkan sesuatu yang melampaui logika statistik.
Zuckerman tampaknya memahami itu. Karena itulah bukunya tidak bernada triumfal. Ia hanya menunjukkan bahwa masyarakat modern ternyata bisa membangun etika publik tanpa bergantung sepenuhnya pada institusi agama.
Dan mungkin itu sebabnya buku ini terasa lebih penting sekarang, di zaman ketika identitas religius sering dipakai sebagai senjata politik. Di banyak negara, termasuk Indonesia, agama semakin sering hadir bukan sebagai jalan sunyi menuju kebijaksanaan, melainkan sebagai pengeras suara. Orang berlomba terlihat paling benar. Kesalehan dipertontonkan seperti iklan. Media sosial mengubah iman menjadi performa.
Padahal sebagian besar kebajikan manusia justru bekerja diam-diam.
Perawat yang menjaga pasien semalaman tidak selalu melakukannya karena ayat tertentu. Seorang ayah yang bekerja keras demi anaknya mungkin tidak sedang memikirkan pahala. Tetangga yang membantu korban banjir kadang bergerak hanya karena melihat manusia lain menderita. Empati sering muncul sebelum doktrin sempat bicara.
Di salah satu bagian yang paling menarik, Zuckerman mencatat bahwa banyak warga Skandinavia bahkan tidak terlalu peduli mendefinisikan diri sebagai ateis. Mereka sekadar hidup tanpa menjadikan agama pusat kehidupan sehari-hari. Ini penting. Sebab di banyak tempat, ateisme dipahami sebagai ideologi agresif yang antiagama. Padahal bagi sebagian orang, ketiadaan iman hanyalah keadaan biasa, sama seperti seseorang tidak memikirkan astrologi atau mitologi Yunani dalam rutinitasnya.
Tetapi masyarakat tanpa Tuhan bukan berarti masyarakat tanpa makna.
Manusia tetap mencari arti hidup melalui cinta, pekerjaan, seni, persahabatan, keluarga, atau pengabdian sosial. Kekosongan metafisik tidak otomatis melahirkan kehampaan moral. Kadang justru karena hidup dianggap satu-satunya kesempatan yang ada, manusia menjadi lebih menghargai sesama.
Di titik ini, buku Zuckerman terasa seperti percakapan panjang tentang kedewasaan manusia modern. Bisakah manusia bertanggung jawab atas hidupnya sendiri tanpa terus-menerus menyerahkan keputusan moral pada otoritas suci? Bisakah masyarakat membangun solidaritas berdasarkan rasa kemanusiaan universal, bukan hanya loyalitas kelompok?
Pertanyaan itu belum selesai dijawab. Barangkali memang tak akan pernah selesai.
Karena pada akhirnya manusia bukan makhluk yang sepenuhnya rasional. Kita tetap menyimpan kebutuhan akan misteri. Bahkan di masyarakat paling sekuler pun orang masih mencari ritual baru: yoga, meditasi, komunitas spiritual, self-help, festival musik, fandom budaya pop. Ketika agama formal surut, kerinduan akan makna sering muncul dalam bentuk lain.
Mungkin memang yang tak pernah benar-benar hilang bukan Tuhan, melainkan kebutuhan manusia untuk merasa hidupnya berarti.
Dan di luar segala perdebatan tentang iman atau ateisme, buku ini sebenarnya berbicara tentang sesuatu yang lebih sederhana sekaligus lebih sulit: bagaimana manusia hidup bersama tanpa saling menghancurkan.
Itu saja.
Bukan surga. Bukan neraka. Bukan kemenangan ideologi.
Hanya kehidupan sehari-hari yang layak dijalani manusia dengan sedikit lebih adil, sedikit lebih jujur, sedikit lebih berbelas kasih.
Di rak buku itu, Masyarakat Tanpa Tuhan tampak diam. Tetapi seperti banyak buku yang baik, ia diam-diam mengguncang sesuatu yang selama ini kita anggap pasti.
