
Pada suatu malam di Jakarta, seorang mahasiswa membuka aplikasi TikTok untuk mencari hiburan singkat sebelum tidur. Beberapa menit kemudian, algoritma membawanya ke ceramah seorang ustaz muda yang membahas kecemasan, kesepian, dan makna hidup. Di sisi lain layar, jutaan anak muda Indonesia melakukan hal serupa: sebagian mencari agama, sebagian mempertanyakannya, sebagian lagi mencoba merakit spiritualitas pribadi yang terasa lebih lentur dibanding institusi agama formal.
Fenomena ini bukan sekadar perubahan gaya hidup digital. Ia menandai pergeseran religiusitas generasi muda Indonesia. Pergeseran itu tidak berjalan dalam satu arah tunggal. Ada anak muda yang semakin religius dan konservatif, ada yang menjauh dari institusi agama, ada pula yang tetap percaya pada Tuhan namun menolak identitas keagamaan yang kaku. Indonesia bergerak mengikuti pola global, tetapi dengan warna lokal yang khas.
Dalam banyak survei internasional, generasi muda di berbagai negara menunjukkan kecenderungan menurunnya keterikatan terhadap institusi agama formal. Pew Research Center mencatat pertumbuhan populasi yang tidak berafiliasi dengan agama meningkat secara global dari 1,6 miliar pada 2010 menjadi 1,9 miliar pada 2020 (Pew Research Center, 2025). Di Amerika Serikat, generasi usia 18–29 tahun juga menjadi kelompok dengan tingkat afiliasi agama paling rendah dibanding generasi sebelumnya. (pewresearch.org)
Namun Indonesia menghadirkan paradoks menarik. Secara formal, identitas keagamaan masih sangat kuat. Negara tetap mengatur agama secara ketat melalui pendidikan, administrasi kependudukan, dan ruang publik. Tetapi di bawah permukaan statistik formal, cara anak muda mengalami agama mulai berubah.
Dari Agama sebagai Warisan Menuju Agama sebagai Pilihan
Selama beberapa dekade, agama di Indonesia diwariskan hampir seperti bahasa ibu. Seseorang lahir dalam keluarga Muslim, Kristen, Hindu, Buddha, atau Konghucu, lalu menjalani kehidupan religius sebagai kelanjutan tradisi sosial. Pilihan personal sering kali berada di posisi kedua.
Generasi muda hari ini hidup dalam situasi berbeda. Internet mengubah agama dari sesuatu yang diwariskan menjadi sesuatu yang dipilih, dibandingkan, bahkan dinegosiasikan.
Studi “Transitional Religiosity: The Religion of Generation Z” menggambarkan bahwa religiusitas Gen Z Indonesia bersifat transisional: mereka tidak selalu meninggalkan agama, tetapi mengubah cara menghayatinya (Setia, 2021). (eudl.eu) Banyak anak muda tetap menjalankan praktik ibadah, namun lebih individual dalam menentukan otoritas spiritual.
Fenomena ini tampak jelas di media sosial. Otoritas agama tradisional, seperti ulama senior atau institusi keagamaan formal, kini bersaing dengan podcaster, influencer spiritual, dan kreator konten motivasi religius. Anak muda tidak lagi hanya belajar agama di masjid, gereja, atau sekolah, tetapi juga melalui potongan video berdurasi satu menit.
Dalam konteks sosiologi agama, perubahan ini sering disebut sebagai “deinstitusionalisasi religiusitas”. Kepercayaan tidak hilang, tetapi institusi kehilangan monopoli atas makna.
Indonesia Tidak Sekuler, tetapi Mengalami Transformasi
Narasi populer sering menggambarkan dunia modern bergerak menuju sekularisasi total. Namun kenyataannya lebih rumit.
Indonesia masih termasuk negara dengan tingkat religiusitas publik tinggi. Studi perbandingan mengenai Gen Z Muslim Indonesia dan Inggris menemukan bahwa tingkat religiusitas Gen Z Indonesia mencapai 83 persen, sedikit lebih tinggi dibanding responden Inggris sebesar 79 persen (Jamilah et al., 2024). (ejournal.uin-suka.ac.id) Faktor pendidikan agama dan kultur sosial disebut sebagai penyebab utama.
Akan tetapi, religiusitas tinggi tidak selalu berarti stabilitas makna keagamaan. Penelitian Wardana (2026) menunjukkan bahwa kehidupan beragama Indonesia sejak 2000 hingga 2020 mengalami pola yang dapat dibaca sebagai bentuk sekularisasi jangka panjang, terutama dalam cara individu memisahkan moralitas personal dari otoritas agama formal. (pmc.ncbi.nlm.nih.gov)
Dengan kata lain, agama tetap hadir, tetapi fungsi sosialnya berubah.
Anak muda Indonesia kini lebih sering melihat agama sebagai sumber identitas psikologis dan pencarian makna personal daripada sekadar kewajiban komunal. Dalam survei mengenai toleransi generasi muda Indonesia, sebagian besar responden Gen Z dan milenial menunjukkan dukungan lebih tinggi terhadap keberagaman dan kebebasan beragama dibanding generasi sebelumnya (Dahlan, 2022). (infid.org)
Ini menghasilkan situasi yang tampak kontradiktif: religiusitas tetap tinggi, tetapi eksklusivisme institusional mulai melemah di sebagian kelompok urban terdidik.
Mengapa Pergeseran Ini Terjadi?
Ada beberapa faktor besar yang bekerja secara bersamaan.
1. Digitalisasi Kehidupan
Internet tidak hanya mengubah cara anak muda memperoleh informasi, tetapi juga cara mereka membangun identitas.
Generasi Z adalah generasi pertama yang tumbuh sepenuhnya bersama media digital. Studi mengenai karakter belajar Gen Z menunjukkan bahwa teknologi digital membentuk cara berpikir yang lebih cepat, visual, personal, dan berbasis jaringan (Alruthaya et al., 2021). (arxiv.org)
Konsekuensinya, agama juga dikonsumsi dengan logika digital: cepat, personal, emosional, dan kompetitif. Ceramah yang terlalu panjang kalah dari video singkat yang menawarkan jawaban praktis atas kecemasan hidup.
Di ruang digital, agama tidak lagi hanya berbicara tentang keselamatan akhirat. Ia bersaing dengan psikologi populer, self-help, terapi, mindfulness, dan budaya produktivitas.
2. Krisis Makna di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
Banyak anak muda Indonesia tumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi, kompetisi kerja, dan kecemasan sosial yang tinggi. Dalam kondisi seperti itu, agama dapat berfungsi sebagai sumber stabilitas emosional.
Fenomena serupa juga terlihat secara global. Sejumlah laporan di Amerika Serikat menunjukkan sebagian anak muda laki-laki mulai kembali tertarik pada agama sebagai sumber identitas dan komunitas di tengah meningkatnya rasa kesepian dan keterasingan sosial. (washingtonpost.com)
Indonesia mengalami dinamika yang mirip, meski dengan konteks budaya berbeda. Komunitas pengajian anak muda, retret spiritual, hingga kelas hijrah berkembang bukan hanya sebagai ruang ibadah, tetapi juga sebagai ruang sosial.
3. Pendidikan dan Paparan Global
Akses terhadap pendidikan tinggi dan informasi global memperluas kemungkinan berpikir kritis.
Anak muda Indonesia kini dapat membaca filsafat Barat, menonton debat ateisme di YouTube, mengikuti kajian tasawuf, lalu mendengarkan podcast psikologi dalam hari yang sama. Paparan seperti ini membuat identitas religius menjadi lebih reflektif.
Sebagian menjadi lebih religius karena menemukan argumen intelektual baru. Sebagian lain justru menjadi skeptis terhadap klaim absolut agama.
Pertarungan Gagasan dalam Filsafat Pendidikan
Pergeseran religiusitas anak muda Indonesia sebenarnya juga merupakan pertarungan diam-diam antar paradigma pendidikan.
Mazhab Humanisme: Agama sebagai Ruang Pertumbuhan Diri
Filsafat pendidikan humanistik, yang dipengaruhi pemikiran Abraham Maslow dan Carl Rogers, melihat pendidikan sebagai proses aktualisasi diri.
Dari perspektif ini, perubahan religiusitas generasi muda tidak selalu dianggap ancaman. Ketika anak muda menolak dogma yang terlalu otoriter tetapi tetap mencari makna spiritual, kaum humanis melihatnya sebagai tanda kedewasaan moral.
Agama dipahami bukan sekadar kepatuhan ritual, melainkan sarana membangun empati, refleksi diri, dan kesejahteraan psikologis.
Pandangan ini selaras dengan kecenderungan generasi muda urban yang lebih tertarik pada spiritualitas inklusif dibanding institusi yang kaku.
Mazhab Kritis: Agama dan Struktur Kekuasaan
Berbeda dengan humanisme, filsafat pendidikan kritis ala Paulo Freire memandang agama secara lebih ambivalen.
Di satu sisi, agama dapat menjadi kekuatan emansipatoris yang membela kaum tertindas. Di sisi lain, agama juga bisa menjadi alat reproduksi kekuasaan.
Kaum kritis akan melihat meningkatnya religiusitas digital dengan curiga: apakah ia sungguh membebaskan, atau justru menciptakan kepatuhan baru melalui influencer agama, algoritma, dan politik identitas?
Dalam konteks Indonesia, pertanyaan ini relevan ketika simbol-simbol agama semakin mudah dipolitisasi di media sosial.
Mazhab Konservatif: Krisis Otoritas dan Disiplin Moral
Kalangan pendidikan konservatif memandang perubahan religiusitas anak muda sebagai gejala melemahnya otoritas moral.
Bagi pendekatan ini, relativisme digital membuat generasi muda kehilangan fondasi etik yang stabil. Agama yang terlalu cair dianggap berbahaya karena menghasilkan moralitas serba pribadi.
Mereka melihat meningkatnya individualisme spiritual sebagai ancaman terhadap kohesi sosial dan tradisi.
Pandangan ini menjelaskan mengapa sebagian kelompok keagamaan di Indonesia mendorong penguatan kurikulum agama formal, disiplin moral, dan pembatasan pengaruh budaya global.
Mazhab Postmodern: Identitas yang Cair
Filsafat postmodern justru melihat perubahan ini sebagai sesuatu yang hampir tak terhindarkan.
Jean-François Lyotard pernah menulis tentang runtuhnya “narasi besar”. Dalam dunia postmodern, orang tidak lagi mempercayai satu kebenaran tunggal.
Dari sudut pandang ini, religiusitas generasi muda Indonesia memang akan menjadi lebih cair, campuran, dan personal. Seseorang bisa rajin beribadah sekaligus percaya pada meditasi, psikologi populer, atau spiritualitas nonformal.
Agama tidak hilang. Ia berubah bentuk.
Antara Kebangkitan dan Keletihan Spiritual
Menariknya, dunia hari ini menunjukkan dua arus yang berjalan bersamaan.
Arus pertama adalah menurunnya keterikatan terhadap institusi agama formal, terutama di negara-negara maju. Arus kedua adalah munculnya bentuk-bentuk religiusitas baru yang lebih personal dan emosional.
Indonesia tampaknya berada di tengah persimpangan dua arus tersebut.
Sebagian anak muda mengalami “kebangkitan religius” melalui gerakan hijrah, komunitas spiritual, atau kajian daring. Sebagian lain mengalami keletihan spiritual akibat politisasi agama dan tekanan moral di ruang publik.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan lagi apakah generasi muda Indonesia masih religius atau tidak.
Pertanyaan yang lebih relevan adalah: religiusitas seperti apa yang sedang mereka bangun?
Masa Depan Religiusitas Indonesia
Sejarah menunjukkan bahwa agama jarang benar-benar hilang dari masyarakat. Yang berubah adalah bentuk, medium, dan otoritasnya.
Kemungkinan besar Indonesia tidak akan menjadi negara sekuler seperti sebagian Eropa Barat. Namun religiusitas publik Indonesia akan semakin plural dalam bentuk ekspresi.
Institusi agama yang mampu berdialog dengan kecemasan generasi muda kemungkinan akan bertahan. Sebaliknya, institusi yang hanya mengandalkan otoritas formal mungkin kehilangan relevansi.
Di masa depan, ruang spiritual mungkin tidak lagi hanya berada di rumah ibadah. Ia juga hadir di kanal YouTube, grup Discord, podcast kesehatan mental, komunitas meditasi, dan ruang-ruang digital lain yang hari ini tampak biasa.
Anak muda Indonesia tidak sedang meninggalkan agama secara massal. Mereka sedang menegosiasikan ulang hubungan mereka dengan makna, otoritas, komunitas, dan diri sendiri.
Dan seperti semua negosiasi besar dalam sejarah, proses itu berlangsung diam-diam, di balik layar ponsel yang menyala hingga larut malam.
—
Referensi
Alruthaya, A., Nguyen, T.-T., & Lokuge, S. (2021). The application of digital technology and the learning characteristics of Generation Z in higher education. arXiv. https://arxiv.org/abs/2111.05991
Dahlan, A. P. (2022). Attitudes of millennials and Generation Z toward religious tolerance, diversity, and freedom in Indonesia. INFID.
Jamilah, J., et al. (2024). Gen Z’s religiosity level: A comparative study between Indonesia and the United Kingdom. Jurnal Pendidikan Agama Islam.
Pew Research Center. (2025). Religiously unaffiliated population change. Pew Research Center.
Pew Research Center. (2025). Religious identity in the United States. Pew Research Center.
Setia, P. (2021). Transitional religiosity: The religion of Generation Z. EAI Endorsed Transactions.
Wardana, A. (2026). Regulated religion, fading belief: How Indonesians’ religiosity changed from 2000 to 2020. Journal Article.
