Bertand Russel’ Authority & Individual (terj)

Di sebuah zaman yang gemar pada pengeras suara, ketika opini diproduksi seperti mi instan dan kemarahan dipelihara seperti tanaman hias, membaca Bertrand Russell terasa seperti duduk di sebuah ruang yang tenang. Tidak sunyi, sebab pikirannya gaduh oleh pertanyaan. Tetapi tenang, karena ia tidak tergesa-gesa menghukum dunia. Buku Authority and the Individual bukan kitab revolusi. Ia juga bukan manual moral. Russell menulis seperti seseorang yang tahu bahwa manusia terlalu rumit untuk diselamatkan hanya dengan slogan.

Di sampul buku itu, wajah Russell tampak renta dan sedikit letih. Rambutnya yang putih seperti awan yang belum memutuskan akan turun hujan atau tidak. Ada tatapan seorang guru tua yang sudah terlalu lama menyaksikan manusia mengulangi kesalahan yang sama. Dan memang, ketika buku itu diterbitkan pada pertengahan abad ke-20, dunia baru saja keluar dari perang yang membuat manusia modern kehilangan hak untuk menyebut dirinya beradab dengan terlalu percaya diri.

Russell menulis setelah Hitler jatuh, tetapi sebelum manusia benar-benar belajar rendah hati. Ia hidup pada masa ketika teknologi berkembang lebih cepat daripada kebijaksanaan. Sebuah masa yang, jika dipikir-pikir, tidak terlalu berbeda dengan sekarang.

Inti buku ini sederhana, meskipun kesederhanaan sering menyamar sebagai sesuatu yang sulit: bagaimana menjaga kebebasan individu di tengah masyarakat modern yang makin terorganisasi, makin tersentralisasi, dan makin lapar pada kepatuhan.

Russell tidak pernah percaya pada romantisme massa. Ia curiga pada negara yang terlalu kuat, tetapi juga tidak sepenuhnya percaya pada individu yang dibiarkan liar tanpa struktur. Baginya, peradaban selalu berjalan di atas tali yang tegang: terlalu banyak kebebasan melahirkan kekacauan, terlalu banyak otoritas melahirkan penjara.

Di situlah ia berdiri. Di tengah. Tempat yang biasanya tidak disukai banyak orang.

Kita hidup pada zaman yang mencurigai posisi tengah. Orang diminta memilih kubu seperti memilih jersey sepak bola. Hitam atau putih. Nasionalis atau liberal. Agamis atau sekuler. Kanan atau kiri. Padahal Russell tampaknya tahu sesuatu yang sering terlupakan: manusia bukan makhluk yang cocok dimasukkan ke dalam kotak-kotak ideologi terlalu rapat. Di dalam diri seseorang bisa hidup kontradiksi yang tidak selesai. Bisa ada keberanian sekaligus ketakutan. Bisa ada cinta kebebasan sekaligus kebutuhan untuk dipimpin.

Russell memulai dari pengamatan yang tampaknya banal: masyarakat modern memerlukan organisasi besar. Tidak mungkin sebuah negara dengan jutaan penduduk berjalan tanpa birokrasi, aturan, institusi, dan pengawasan. Kereta api harus dijadwalkan. Rumah sakit harus diatur. Pajak harus dipungut. Pendidikan harus distandardisasi. Dunia modern tidak bisa hidup hanya dengan spontanitas.

Tetapi organisasi besar membawa risiko yang sama besar: manusia berubah menjadi angka.

Barangkali itu tragedi modernitas yang paling sunyi. Kita tidak lagi ditindas hanya oleh raja yang lalim atau tentara yang datang dengan senapan. Kita juga ditindas oleh formulir, oleh sistem, oleh prosedur, oleh statistik. Penjara modern sering kali tidak memiliki jeruji. Ia hadir sebagai administrasi.

Russell melihat gejala itu jauh sebelum era media sosial, algoritma, dan pengawasan digital. Ia sudah mencium bahaya ketika negara, industri, dan teknologi mulai membentuk manusia yang seragam. Individu perlahan kehilangan ruang untuk menjadi eksentrik.

Padahal, menurut Russell, kemajuan manusia justru lahir dari orang-orang yang sedikit menyimpang.

Galileo menyimpang. Socrates menyimpang. Bahkan Yesus, jika dilihat dari sudut pandang kekuasaan Romawi, hanyalah seorang pengacau kecil dari provinsi terpencil.

Masyarakat yang sehat, kata Russell dengan nada yang kadang terdengar seperti seorang ayah yang kecewa, adalah masyarakat yang memberi ruang bagi ketidakseragaman. Sebab kreativitas tidak lahir dari kepatuhan mutlak. Pikiran besar sering muncul dari orang-orang yang tidak terlalu pandai menyesuaikan diri.

Namun di sinilah paradoks muncul. Masyarakat juga membutuhkan keteraturan. Tidak semua pembangkangan menghasilkan filsafat; sebagian hanya menghasilkan kerusuhan.

Russell tampaknya paham bahwa manusia memiliki naluri purba untuk tunduk pada otoritas. Mungkin karena hidup terlalu melelahkan jika semua hal harus dipikirkan sendiri. Maka manusia mencari pemimpin, simbol, bendera, slogan, bahkan influencer, untuk dijadikan kompas moral. Ada rasa aman ketika keputusan sudah dibuatkan orang lain.

Di abad ke-20, otoritas itu datang dalam bentuk negara totaliter. Fasisme dan Stalinisme menjadi contoh bagaimana negara dapat menghisap individualitas manusia sampai kering. Tetapi hari ini, otoritas bekerja dengan cara yang lebih halus. Ia tidak selalu memaksa. Kadang ia menghibur.

Media sosial misalnya. Tempat yang konon memberi kebebasan berekspresi, tetapi justru sering menghasilkan keseragaman emosi. Orang marah bersama, tertawa bersama, membenci bersama. Algoritma menciptakan kerumunan digital yang bergerak seperti kawanan burung. Kita merasa unik sambil diam-diam meniru semua orang.

Russell mungkin akan tersenyum pahit melihat ini.

Ia percaya pendidikan seharusnya membentuk manusia yang mampu berpikir mandiri. Tetapi pendidikan modern sering justru melatih kepatuhan. Anak-anak diajarkan menjawab benar, bukan bertanya dengan benar. Nilai menjadi lebih penting daripada rasa ingin tahu. Sekolah menghasilkan pekerja yang efisien, tetapi belum tentu manusia yang merdeka.

Ada sesuatu yang nyaris melankolis dalam cara Russell membela individualitas. Ia tidak membela egoisme. Ia tidak sedang berkata bahwa setiap orang bebas melakukan apa saja. Yang ia bela adalah hak manusia untuk memiliki pikiran sendiri. Hak untuk ragu. Hak untuk tidak ikut bersorak ketika semua orang bersorak.

Di titik ini, Russell terasa sangat dekat dengan tradisi esai-esai panjang ala The New Yorker: reflektif, elegan, sedikit ironis, tetapi diam-diam menyimpan kegelisahan moral yang dalam. Ia tidak berkhotbah. Ia mengajak pembaca berjalan pelan menyusuri lorong sejarah dan psikologi manusia.

Dan semakin jauh kita berjalan, semakin tampak bahwa persoalan terbesar manusia bukan teknologi, bukan politik, melainkan ketakutan.

Manusia takut sendirian. Takut berbeda. Takut dikucilkan.

Karena itu otoritas selalu punya daya tarik. Otoritas menjanjikan kepastian. Dan manusia mencintai kepastian bahkan ketika kepastian itu palsu.

Russell menulis bahwa kebebasan berpikir hanya mungkin jika masyarakat cukup aman untuk mentoleransi perbedaan. Kelaparan, perang, dan ketakutan membuat manusia mudah menyerahkan kebebasannya kepada penguasa yang menjanjikan ketertiban. Maka demokrasi bukan hanya soal pemilu. Demokrasi membutuhkan kondisi sosial yang memungkinkan orang berpikir tanpa panik.

Ini pikiran yang relevan sekali hari ini.

Di banyak tempat, publik hidup dalam kecemasan permanen. Harga naik. Pekerjaan rapuh. Informasi berlebihan. Masa depan kabur. Dalam keadaan seperti itu, orang mudah percaya pada pemimpin yang berbicara dengan nada mutlak. Pemimpin yang menawarkan jawaban sederhana untuk masalah rumit.

Russell menolak kesederhanaan semacam itu. Ia tahu hidup tidak sesederhana slogan kampanye.

Yang menarik, Russell sendiri bukan manusia tanpa kontradiksi. Ia seorang bangsawan Inggris yang membela sosialisme. Seorang logikawan yang menulis dengan kepekaan sastra. Seorang rasionalis yang berkali-kali dipenjara karena aktivisme politik. Hidupnya menunjukkan bahwa berpikir bebas selalu punya harga.

Mungkin itu sebabnya buku ini terasa lebih jujur daripada banyak buku politik lain. Russell tidak menjual utopia. Ia tidak mengatakan bahwa suatu hari nanti manusia akan hidup harmonis tanpa konflik. Ia hanya berharap masyarakat bisa dibangun sedemikian rupa sehingga kreativitas manusia tidak dibunuh oleh mesin kekuasaan.

Ada nada getir dalam seluruh buku ini. Seolah Russell sadar bahwa sejarah manusia bergerak seperti pendulum: kadang terlalu bebas, kadang terlalu represif. Dan manusia tampaknya tidak pernah benar-benar belajar menjaga keseimbangan.

Tetapi justru di situlah nilai buku ini. Ia tidak menawarkan optimisme murahan. Ia menawarkan kewaspadaan.

Bahwa setiap zaman punya bentuk otoritarianismenya sendiri.

Kadang ia datang dengan seragam militer. Kadang dengan jas birokrat. Kadang dengan aplikasi di telepon genggam.

Dan individu, makhluk kecil yang rapuh itu, terus berusaha mempertahankan dirinya.

Membaca Authority and the Individual hari ini terasa seperti membaca surat tua yang ternyata ditulis untuk masa depan. Russell berbicara tentang radio dan industri, tetapi yang terbayang justru TikTok, kecerdasan buatan, big data, dan politik digital. Dunia berubah, tetapi kecenderungan manusia tetap sama: ingin aman, ingin diterima, ingin dipimpin.

Sementara kebebasan selalu menuntut sesuatu yang lebih berat: keberanian berpikir sendiri.

Barangkali itu inti terdalam buku ini. Kebebasan bukan hadiah. Ia kerja mental yang melelahkan. Tidak semua orang siap menanggungnya.

Di ujung buku, Russell tidak memberi kesimpulan yang megah. Ia tidak menutup dengan fanfare kemenangan individu atas negara. Sebab hidup memang tidak selesai dengan satu pidato.

Yang ia tinggalkan justru semacam pertanyaan terbuka: mungkinkah manusia membangun masyarakat modern yang efisien tanpa mengorbankan jiwa manusia itu sendiri?

Pertanyaan itu menggantung sampai hari ini.

Dan mungkin akan terus menggantung selama manusia masih menciptakan sistem yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Di luar sana, dunia terus bergerak dengan suara mesin, notifikasi, statistik, kampanye, dan kerumunan opini yang tak pernah tidur. Tetapi di sela semua kebisingan itu, Bertrand Russell seperti berbisik pelan dari halaman bukunya: jangan terlalu cepat menyerahkan pikiranmu kepada siapa pun.

Sebab begitu seseorang kehilangan kemampuan untuk berpikir sebagai individu, ia mungkin tetap hidup sebagai warga negara, pekerja, konsumen, atau anggota kelompok. Tetapi ada sesuatu yang pelan-pelan mati di dalam dirinya.

Sesuatu yang oleh Russell dianggap paling penting dalam peradaban: kebebasan batin manusia.

Discover more from bolakayu.id

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading