Bertrand Russel’s Bertuhan Tanpa Agama (terj)

Ada sebuah jenis keberanian yang tidak berisik. Ia tidak turun ke jalan sambil mengacungkan slogan. Ia juga tidak datang dengan amarah yang meledak-ledak. Keberanian jenis ini duduk tenang di meja kerja, menyalakan pipa tembakau, lalu mulai mengajukan pertanyaan yang sederhana tetapi mengganggu seluruh bangunan keyakinan manusia. Bertrand Russell memiliki keberanian semacam itu.

Dalam buku Bertuhan Tanpa Agama, Russell seperti seseorang yang berdiri di tepi samudra besar bernama iman, lalu berkata pelan: “Mari kita lihat air ini dengan jujur.” Ia tidak sedang memerangi Tuhan dengan pedang. Ia lebih mirip seorang dokter yang memeriksa tubuh peradaban manusia dan bertanya, di bagian mana agama menyembuhkan, dan di bagian mana ia justru melukai.

Kita hidup di zaman ketika keraguan sering dianggap cacat moral. Orang yang bertanya dianggap kurang iman. Orang yang menimbang dianggap tidak teguh. Di ruang-ruang publik kita, keyakinan sering tampil seperti identitas politik: keras, demonstratif, dan mudah tersinggung. Russell datang dari dunia yang berbeda. Dunia di mana akal dianggap alat yang layak dipercaya, bahkan ketika ia membawa manusia menuju kesimpulan yang tidak nyaman.

Membaca Russell hari ini seperti mendengar suara radio tua dari abad lain, tetapi anehnya justru terasa lebih segar dibanding banyak pidato modern. Ada kejernihan dalam cara ia berpikir. Ia menulis tanpa kebutuhan untuk memukau. Kalimat-kalimatnya tidak mengemis tepuk tangan. Ia hanya mencoba jujur.

Intisari buku ini sesungguhnya sederhana sekaligus mengguncang: manusia bisa hidup bermoral tanpa bergantung pada institusi agama. Dan lebih jauh lagi, rasa takjub terhadap kehidupan tidak otomatis membutuhkan dogma.

Di titik ini, banyak orang mungkin buru-buru salah paham. Russell bukan nabi ateisme yang mabuk penghinaan. Ia tidak menertawakan orang beriman dengan nada pongah. Justru yang menarik dari Russell adalah kesedihannya terhadap sejarah manusia. Ia melihat bagaimana agama, yang mula-mula lahir dari kebutuhan eksistensial manusia terhadap makna dan ketertiban kosmis, perlahan berubah menjadi instrumen kekuasaan. Agama yang semestinya membebaskan, dalam banyak peristiwa sejarah, malah ikut mengurung.

Russell menulis dari pengalaman sebuah abad yang penuh darah. Ia menyaksikan perang, nasionalisme, kolonialisme, juga fanatisme ideologis. Dan di tengah semua itu, ia melihat satu pola yang berulang: manusia terlalu mudah membunuh demi sesuatu yang dianggap mutlak benar.

Barangkali itulah sebabnya Russell begitu mencintai keraguan. Bagi dia, keraguan bukan kelemahan. Keraguan adalah rem bagi kesombongan manusia. Dunia menjadi berbahaya ketika seseorang merasa memiliki kebenaran absolut. Dari sana lahir sensor, pengadilan moral, pembakaran buku, bahkan perang.

Kita bisa mengingat betapa sejarah manusia sering dipenuhi ironi. Orang membunuh atas nama kasih. Orang menyiksa demi keselamatan jiwa. Orang mengutuk sambil merasa sedang menjalankan kehendak langit. Russell melihat ironi itu dengan getir, tetapi juga dengan kejernihan seorang filsuf yang menolak mabuk massa.

Ada satu kesan penting ketika membaca pemikiran Russell: ia percaya bahwa etika tidak harus lahir dari rasa takut kepada hukuman metafisik. Moralitas, baginya, dapat tumbuh dari empati, akal sehat, dan kesadaran bahwa manusia hidup bersama manusia lain. Dengan kata lain, seseorang bisa berbuat baik bukan karena takut neraka, melainkan karena memahami penderitaan sesamanya.

Di sini Russell sebenarnya sedang memindahkan pusat gravitasi moral dari langit ke bumi. Dari wahyu menuju tanggung jawab manusiawi.

Dan itu bukan gagasan kecil.

Sebab sepanjang sejarah, manusia terbiasa menyerahkan legitimasi moral kepada sesuatu di luar dirinya. Raja mengklaim mandat Tuhan. Negara mengaku dipilih sejarah. Pemimpin agama merasa menjadi juru bicara surga. Akibatnya, kritik menjadi dosa. Pertanyaan menjadi ancaman.

Russell menolak semua kemutlakan itu.

Tetapi menariknya, ia tidak jatuh menjadi nihilis. Ia tidak berkata bahwa hidup tak bermakna. Justru sebaliknya. Ia percaya bahwa karena hidup ini singkat dan rapuh, maka manusia harus menciptakan kasih, pengetahuan, dan keindahan dengan lebih sungguh-sungguh.

Ada nuansa humanisme yang kuat dalam seluruh pemikirannya. Semacam keyakinan bahwa manusia, meski penuh cacat, tetap memiliki kemampuan untuk tumbuh melalui pendidikan, kebebasan berpikir, dan belas kasih.

Di titik ini, Russell terasa sangat modern sekaligus sangat tua. Modern karena ia percaya pada rasionalitas. Tua karena nada moralnya mengingatkan pada filsuf-filsuf Yunani kuno yang melihat kebijaksanaan sebagai seni hidup, bukan sekadar kepatuhan ritual.

Namun buku ini tidak hanya berbicara tentang agama. Diam-diam ia berbicara tentang ketakutan manusia.

Russell memahami bahwa banyak keyakinan lahir dari kecemasan. Manusia takut mati. Takut kesepian. Takut kehilangan arah di alam semesta yang luas dan dingin. Agama lalu hadir sebagai rumah psikologis. Ia memberi struktur, jawaban, dan penghiburan.

Russell tidak menertawakan kebutuhan itu. Ia hanya bertanya: apakah kenyamanan selalu identik dengan kebenaran?

Pertanyaan itu terasa sangat mengganggu, sebab manusia sering lebih mencintai jawaban dibanding kejujuran. Kita ingin kepastian. Kita ingin dunia yang rapi. Padahal hidup sering tidak memberi semua itu.

Maka Russell memilih jalan yang sunyi: menerima ketidakpastian tanpa menyerah pada keputusasaan.

Ada semacam keberanian eksistensial di sana. Ia mengingatkan pada seseorang yang berjalan di malam hari tanpa peta, tetapi tetap memilih melangkah karena percaya bahwa martabat manusia justru lahir dari keberanian menghadapi kegelapan tanpa ilusi.

Tentu saja, banyak orang akan tidak setuju dengan Russell. Dan memang seharusnya begitu. Buku ini bukan kitab suci yang menuntut kepatuhan. Ia lebih mirip undangan untuk berpikir.

Justru di situlah nilainya.

Di masyarakat yang terlalu cepat menghakimi, Russell mengajarkan disiplin intelektual: mendengar argumen lawan sampai selesai. Ia percaya bahwa peradaban maju bukan karena semua orang sepakat, melainkan karena orang-orang berbeda bisa hidup tanpa saling memusnahkan.

Betapa relevannya itu hari ini.

Kita hidup di zaman algoritma, ketika kemarahan lebih laku dibanding perenungan. Media sosial mengubah opini menjadi peluru cepat. Orang membaca judul tanpa isi. Mengutuk tanpa memahami. Dalam iklim seperti ini, Russell terasa seperti tamu asing dari masa ketika berpikir lambat masih dianggap kebajikan.

Ia mengingatkan bahwa intelektualitas bukan perlombaan tampil paling benar. Intelektualitas adalah kesediaan mengoreksi diri.

Dan mungkin itu inti terdalam buku ini: kebebasan berpikir adalah bentuk tertinggi penghormatan terhadap kemanusiaan.

Sebab manusia yang bebas berpikir tidak mudah dijadikan alat. Ia tidak gampang ditakut-takuti. Ia tidak mudah dibakar oleh propaganda. Ia bisa berdiri di hadapan kekuasaan, tradisi, bahkan mayoritas, lalu berkata: “Saya ingin memeriksa ini sekali lagi.”

Tetapi ada juga sisi lain Russell yang sering terlupakan. Di balik logikanya yang tajam, ada kesepian. Banyak pemikir besar mengalami itu. Ketika seseorang terlalu jauh mempertanyakan fondasi hidup bersama, ia sering berakhir agak terasing. Dunia lebih menyukai kepastian dibanding kompleksitas.

Mungkin karena itu tulisan-tulisan Russell terasa dingin bagi sebagian orang. Ia tidak menawarkan pelukan spiritual. Ia menawarkan kejernihan. Dan kejernihan kadang memang dingin.

Namun bukankah ada keindahan tertentu dalam kejernihan?

Seperti udara pagi setelah hujan panjang. Tidak sentimental. Tidak dramatis. Tetapi membuat segala sesuatu tampak lebih nyata.

Di akhir pembacaan, kita mungkin tidak otomatis menjadi ateis. Mungkin juga tidak menjadi lebih religius. Tetapi ada kemungkinan lain yang lebih penting: kita menjadi lebih rendah hati terhadap keyakinan sendiri.

Russell mengajarkan bahwa menjadi manusia berarti hidup di antara ketidaktahuan. Dan dari sana, pilihan terbaik bukan fanatisme, melainkan rasa ingin tahu.

Ia seperti sedang berkata bahwa peradaban tidak dibangun oleh orang-orang yang selalu yakin, melainkan oleh mereka yang terus bertanya.

Maka Bertuhan Tanpa Agama sesungguhnya bukan buku tentang penolakan terhadap Tuhan. Ia adalah buku tentang keberanian manusia untuk berpikir tanpa pagar ketakutan. Tentang usaha mencari makna tanpa harus membenci yang berbeda. Tentang kemungkinan menjadi manusia bermoral tanpa menjadikan keyakinan sebagai senjata.

Dan mungkin, diam-diam, Russell sedang mengingatkan sesuatu yang sangat tua sekaligus sangat sederhana: bahwa kebaikan manusia tidak selalu lahir dari langit. Kadang ia lahir dari kemampuan melihat sesama manusia sebagai makhluk yang sama rapuhnya.

Di luar jendela, dunia terus gaduh. Orang bertengkar tentang surga. Tentang tafsir. Tentang siapa yang paling benar di mata Tuhan. Sementara Russell, dengan pipa tembakaunya, tampak duduk tenang di sudut waktu, lalu bertanya dengan suara pelan yang justru sulit diabaikan:

Jika manusia belum mampu mencintai sesamanya di bumi, untuk apa terlalu sibuk memperebutkan langit?

Discover more from bolakayu.id

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading