
Bagaimana setiap goyangan rupiah dan rentetan keputusan kebijakan moneter membentuk—atau menghapus—keuntungan modal asing di Indonesia.
Pada Selasa siang, 12 Mei 2026, di salah satu lantai gedung perkantoran di kawasan Sudirman, sebuah layar Bloomberg menyala dengan angka yang membuat setidaknya satu orang menghela napas: USD/IDR 17.516,80. Rupiah baru saja menutup sesi dengan pelemahan 0,55%, dan dalam dua belas bulan terakhir telah kehilangan 5,47% nilainya terhadap dolar—lebih lemah, dalam denominasi nominal, dibandingkan titik terburuk Krisis Moneter 1998 (Trading Economics, 2026a). Pers lokal melaporkan bahwa hari itu Presiden Prabowo Subianto menegur Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo soal pelemahan kurs yang berkepanjangan, sementara tujuh paket pengetatan kebijakan valas baru dirilis untuk menahan tekanan (Trading Economics, 2026a).
Di lantai atas yang sama, seorang manajer portofolio dari dana ekuitas Singapura barangkali sedang menghitung apa artinya angka itu bagi bukunya. Investasi langsung asing (FDI) ke Indonesia—Rp900,9 triliun sepanjang 2025, setara 46,6% dari total realisasi investasi nasional—telah mengalir deras meskipun rupiah terus tergelincir (Databoks, 2026). Pertanyaannya, dan ini pertanyaan yang membuat departemen riset Bank Indonesia, ratusan ekonom akademik, dan ribuan investor terjaga di malam hari: dalam ekonomi yang menjanjikan pertumbuhan PDB 4,9%–5,7% pada 2026 tetapi mata uangnya terus tergelincir, apakah masuknya investasi asing itu menghasilkan keuntungan—atau erosi senyap?
## Sebuah Teori Tentang Diskon
Hubungan antara nilai tukar dan investasi asing bukan persoalan baru. Pada 1991, Kenneth Froot dan Jeremy Stein menerbitkan sebuah karya di *Quarterly Journal of Economics* yang sejak itu menjadi salah satu acuan paling sering dikutip dalam literatur. Argumen mereka, dalam bentuk paling sederhananya, bersifat kontra-intuitif: dalam pasar modal yang tidak sempurna—di mana pendanaan internal lebih murah daripada pendanaan eksternal karena asimetri informasi—depresiasi mata uang tuan rumah justru bisa menarik FDI, karena investor asing yang memegang aset berdenominasi mata uang kuat menjadi relatif lebih kaya, dan bisa membeli aset domestik dengan harga “diskon” (Froot & Stein, 1991).
Tetapi teori itu, seperti banyak teori ekonomi yang elegan, memiliki bayangan. Ketika depresiasi tidak datang sebagai goyangan sesekali tetapi sebagai gelombang volatilitas berkelanjutan—ketika fluktuasi itu sendiri menjadi karakter mata uang—ceritanya berbalik. Untuk investor yang harus mengembalikan keuntungan ke mata uang induk, volatilitas adalah pajak yang tidak terlihat. Ulasan komprehensif Nguyen (2024) atas data lintas pasar berkembang yang diterbitkan di *International Journal of Finance & Economics* menemukan bahwa volatilitas nilai tukar secara konsisten berfungsi sebagai disinsentif bagi FDI di ekonomi berkembang. Lebih halus lagi, Nguyen menunjukkan bahwa komposisi arus modal—apakah ia masuk sebagai portofolio yang gesit (FPI) atau investasi langsung yang lebih lengket (FDI)—memengaruhi real effective exchange rate dengan cara yang berbeda, dan dengan demikian membentuk lingkungan profitabilitas selanjutnya.
Studi yang lebih lama oleh Lily dan rekan-rekannya, yang menganalisis data Asia Timur, menemukan bahwa nilai tukar riil membawa tanda negatif signifikan terhadap FDI, sebagian besar karena biaya translasi dan transaksi yang menggerus arus investasi (Lily et al., 2010). Pola yang lebih nuanced muncul dari Rasheed et al. (2018) yang menggunakan data panel 1995–2016 untuk negara-negara di sepanjang Belt and Road. Efek volatilitas terhadap FDI, mereka menemukan, bergantung pada apakah investasi tersebut bersifat *market-seeking* atau *resource-seeking*, dan pada apakah pendanaan dilakukan secara domestik atau lintas batas. Yıldırım dan tim, dalam karya yang lebih baru di *Eastern European Economics*, melaju lebih jauh: menggunakan model NARDL nonlinier untuk 14 ekonomi berkembang, mereka mendokumentasikan dampak asimetris yang signifikan dari volatilitas nilai tukar terhadap aktivitas merger dan akuisisi maupun FDI greenfield (Yıldırım et al., 2025). Apresiasi dan depresiasi, ternyata, tidak diolah secara setara oleh pasar. Goncangan besar tidak diserap dengan cara yang sama dengan goncangan kecil. Inilah, dalam beberapa hal, justru tantangan paling sulit untuk dimodelkan—dan untuk dilindungi.
## Indonesia: Sebuah Studi Kasus yang Bercabang Dua
Untuk Indonesia, gambaran empirisnya tidak kalah rumit. Fadli dan rekan-rekannya menemukan, dalam studi tentang FDI ke Indonesia, bahwa depresiasi rupiah berkorelasi dengan peningkatan FDI dari Singapura—pola yang konsisten dengan hipotesis kekayaan relatif Froot dan Stein (Fadli et al., 2022). Tetapi Thorbecke, dalam artikel di *Journal of Social and Economic Development* yang meninjau pelemahan rupiah 50% antara Juli 2011 dan Februari 2020, menyimpulkan bahwa depresiasi tersebut tidak konsisten menstimulasi ekspor Indonesia dan menempatkan perbankan domestik dalam posisi rentan terhadap eksposur valas (Thorbecke, 2021). Dengan kata lain: depresiasi menarik beberapa kelas investor sambil mengikis kondisi makro yang membuat investasi itu menguntungkan di tempat pertama.
Bahkan data terdekat menggambarkan ketegangan ini. Realisasi FDI Indonesia 2025 mencapai Rp900,9 triliun, dengan Singapura mempertahankan dominasinya (30,1% dari total), diikuti Hong Kong (USD 10,6 miliar), Tiongkok (USD 7,5 miliar), Malaysia (USD 4,5 miliar), dan Jepang (USD 3,1 miliar) (Databoks, 2026). Industri logam dasar—cerminan langsung dari kebijakan hilirisasi pemerintah—menyerap 26% dari total, diikuti pertambangan (8,4%), jasa lain (8%), serta industri kimia dan farmasi (BKPM, 2026). Namun di balik angka-angka yang meyakinkan ini, ada cerita lain: pada kuartal pertama 2025, Indeks Harga Saham Gabungan Jakarta sempat anjlok sekitar 14% dalam denominasi dolar, sebagian besar karena arus keluar portofolio asing yang masif (EBC Financial Group, 2025). Bagi investor jenis ini—mereka yang masuk lewat saham, obligasi, dan instrumen pasar uang—pengembalian dalam dolar jauh lebih buruk daripada yang disarankan oleh kurva indeks saham domestik.
Kerentanan ini bukan abstraksi. Herho, Kaban, dan Nugraha (2025), menggunakan jendela simetris 100 hari di sekitar pelantikan Presiden AS Januari 2025 dengan metode statistik non-parametrik dan bootstrap 10.000 iterasi, menemukan depresiasi rupiah pasca-pelantikan sebesar 3,61% yang signifikan secara statistik dengan ukuran efek besar (Cliff’s Delta = -0,9224). Indonesia, mereka menulis, mempertahankan kebutuhan pembiayaan eksternal yang signifikan dan pasar keuangan domestik yang relatif tipis—kombinasi yang memperkuat transmisi guncangan global ke kondisi finansial lokal. Rupiah, dengan kata lain, tidak hanya mencerminkan fundamental domestik; ia juga berfungsi sebagai sebuah pita seismografik yang merekam getaran politik dan kebijakan dari Washington.
## Asuransi yang Mahal
Lindung nilai—instrumen yang seharusnya melindungi investor dari risiko valas—sendiri membawa biaya. Bank Indonesia, sejak 2018, telah mengembangkan pasar *Domestic Non-Deliverable Forward* (DNDF) untuk memberikan akses lindung nilai onshore. Volume rata-rata harian transaksi rupiah, menurut data IMF, telah tumbuh dari sekitar USD 4 miliar menjadi USD 27 miliar dalam satu dekade, dengan arus modal kotor meningkat lebih dari 200% antara 2007 dan 2019 (International Monetary Fund [IMF], 2021). Tetapi seperti dicatat dalam ulasan IMF terhadap pasar valas Indonesia, struktur harga onshore DNDF berbeda dari kontrak NDF luar negeri yang ditentukan oleh broker yang berbasis di Singapura, dengan keterbatasan integrasi penuh di antara kedua pasar (IMF, 2021). Bagi investor besar, ini berarti biaya transaksi nyata dan, kadang-kadang, *basis risk* yang sulit dieliminasi. Untuk investor lebih kecil—dan ada banyak dari mereka di pasar negara berkembang—biaya lindung nilai sederhana saja bisa cukup untuk meniadakan keuntungan riil dari investasi yang sebelumnya tampak menarik.
## Tiga Roda yang Berputar Bersama
Tetapi nilai tukar hanyalah satu variabel dalam persamaan profitabilitas yang lebih besar. Inflasi, suku bunga, dan kebijakan fiskal—tiga roda yang berputar bersama-sama—membentuk lingkungan investasi yang sebenarnya.
Pada April 2026, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di 4,75% untuk pertemuan ketujuh berturut-turut, posisi terendah sejak Oktober 2022, dengan Deposit Facility di 3,75% dan Lending Facility di 5,50% (Bank Indonesia, 2026a). Tingkat inflasi turun menjadi 3,48% pada Maret 2026 dari 4,76% pada Februari—dalam koridor target 1,5%–3,5% Bank Indonesia (Trading Economics, 2026b). Pertumbuhan PDB 5,39% (yoy) pada Q4 2025 adalah yang tertinggi sejak Q3 2022 (Trading Economics, 2026b). Cadangan devisa berada di USD 148,2 miliar pada akhir Maret 2026 (Bank Indonesia, 2026b). Dari kejauhan, fundamental makroekonomi Indonesia terlihat solid.
Tetapi narasi itu berlubang. Pada Maret 2025, rupiah jatuh ke 16.640 per dolar di tengah kekhawatiran investor tentang program-program fiskal pemerintahan Prabowo, termasuk skema makan bergizi gratis yang diperkirakan menelan biaya USD 28–44 miliar per tahun, dan pembentukan dana abadi sovereign baru (EBC Financial Group, 2025). Société Générale, dalam catatan analis baru-baru ini, memperingatkan tentang *slippage* fiskal yang berkelanjutan dan merekomendasikan posisi bearish terhadap aset Indonesia (MEXC, 2026). Risiko premi atas obligasi pemerintah Indonesia meningkat. Ketika MSCI dan Moody’s mempertimbangkan kemungkinan downgrade, investor asing menghadapi penghitungan ulang: bukan hanya soal nilai tukar yang merosot, tetapi soal probabilitas bahwa nilai tukar akan terus merosot.
Studi Elian et al. (2025) di *International Journal of Economics and Financial Issues*, yang menerapkan pengujian kointegrasi dan kausalitas pada negara-negara BRICS, menemukan pola yang berguna untuk konteks Indonesia: pertumbuhan ekonomi adalah determinan FDI yang positif dan signifikan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, sementara volatilitas nilai tukar memiliki dampak negatif yang tidak signifikan dalam jangka pendek—dengan nilai tukar level menunjukkan hubungan positif signifikan dalam jangka panjang. Implikasinya menyentuh: yang penting bukan goyangan harian, tetapi tren struktural. Investor jangka panjang dapat mentoleransi volatilitas; yang tidak bisa mereka toleransi adalah depresiasi struktural berkelanjutan tanpa kompensasi pertumbuhan yang sepadan.
## Perhitungan Sunyi
Bagaimana, sebenarnya, seorang investor asing menghitung untung-rugi di lingkungan seperti ini? Pertimbangkan seorang investor langsung—katakanlah, sebuah perusahaan Korea Selatan yang membangun pabrik nikel di Sulawesi Tengah. Investasi awalnya, mungkin USD 500 juta, dikonversi ke rupiah pada kurs hari pertama. Selama empat tahun konstruksi, rupiah melemah 15%. Beban pendanaan dolar, yang harus dibayar dengan pendapatan rupiah masa depan, terus meningkat dalam istilah rupiah. Margin operasional, ketika pabrik akhirnya beroperasi, mungkin sehat dalam rupiah—tetapi dalam dolar, terjemahannya bisa mengecewakan.
Studi *decoding exchange rate* di Pakistan oleh tim peneliti yang menerbitkan di *Heliyon* menunjukkan dinamika yang menarik: FDI sebenarnya cenderung memperkuat nilai tukar dalam jangka panjang—aliran masuk modal mendukung apresiasi mata uang, yang pada gilirannya membantu profitabilitas (Akhtar et al., 2025). Tetapi efek positif ini bekerja paling baik ketika fundamental makro lain—terutama inflasi dan stabilitas pasar saham—juga konstruktif. Inflasi yang naik dan penurunan pasar saham, mereka temukan, berkorelasi dengan depresiasi mata uang yang signifikan. Dengan kata lain, FDI tidak melindungi mata uang ketika landasan makro retak. Ia adalah sebuah jangkar, tetapi jangkar yang membutuhkan dasar laut yang stabil.
Ada juga, dalam laporan Bank Dunia yang lebih luas tentang volatilitas nilai tukar, sebuah temuan yang sering luput dari diskusi populer: keterbukaan finansial cenderung *memperkuat* volatilitas nilai tukar riil, bergantung pada komposisi liabilitas asing. Negara dengan pangsa ekuitas yang lebih besar dalam liabilitas asingnya cenderung mengalami volatilitas yang lebih rendah; negara dengan pangsa utang yang lebih besar mengalami yang sebaliknya (World Bank, 2007). Indonesia, dengan rasio utang dolar yang signifikan dan ketergantungan pada arus portofolio yang gesit, berada pada sisi yang lebih rentan dari spektrum tersebut.
## Apa yang Tersisa Pada Akhirnya
Apa yang menjelaskan persistensi FDI Indonesia di tengah pelemahan rupiah yang terus-menerus? Beberapa faktor: cadangan devisa yang masih kuat; kebijakan hilirisasi yang mengikat investor pada proyek-proyek jangka panjang berbasis sumber daya yang sulit dialihkan; pasar konsumen domestik 280 juta orang yang relatif terisolasi dari guncangan valas (LMI Consultancy, 2025); dan, secara penting, fakta bahwa Indonesia berkontribusi 40% terhadap ekonomi ASEAN sementara hanya menyerap 14–15% dari FDI kawasan—sebuah celah yang oleh Menteri Investasi Rosan Roeslani dilihat sebagai ruang pertumbuhan, bukan sebagai tanda bahaya (BKPM, 2025).
Tetapi ada juga, dalam data, sebuah peringatan halus. Pada Q2 2025, pertumbuhan FDI Indonesia melambat untuk pertama kalinya, terutama karena kompetisi global yang semakin ketat dan tren repatriasi modal oleh ekonomi maju seperti Amerika Serikat (LMI Consultancy, 2025). Pelemahan rupiah, dalam konteks ini, bukan hanya merupakan persoalan akuntansi untuk investor yang sudah ada—itu adalah sinyal kepada calon investor bahwa profitabilitas dolar mereka berisiko bahkan sebelum mereka melangkah masuk.
Pada akhirnya, hubungan antara fluktuasi rupiah, kondisi makroekonomi, dan profitabilitas investasi asing bukan sebuah persamaan elegan dengan satu jawaban. Itu adalah sebuah ekosistem—di mana suku bunga BI yang ditahan di 4,75% untuk menjaga rupiah, inflasi yang dilonggarkan dengan koordinasi pemerintah, kebijakan fiskal yang ekspansif, dan persepsi pasar global tentang independensi bank sentral semuanya saling memengaruhi, kadang-kadang saling menguatkan, lebih sering saling membatalkan. Untuk manajer portofolio di Singapura yang mengamati layar Bloomberg pada Selasa siang itu, persamaan tersebut mungkin selesai dalam selembar Excel. Untuk Indonesia, ia masih ditulis—setiap hari, setiap pergerakan kurs, setiap keputusan kebijakan yang sebenarnya menentukan apakah arus modal yang masuk membawa kemakmuran atau erosi senyap.
—
## Referensi
Akhtar, R., Bashir, S., Rasul, F., Aslam, S., Mahmood, H., & Akhtar, A. (2025). Decoding exchange rate in emerging economy: Financial and energy dynamics. *Heliyon*. https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2025.e42095
Bank Indonesia. (2026a). *BI-Rate held at 4.75%: Strengthening economic growth, maintaining stability* [Press release]. https://www.bi.go.id/en/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_2725025.aspx
Bank Indonesia. (2026b). *Foreign exchange reserves and policy mix statement*. https://www.bi.go.id/en/default.aspx
BKPM (Kementerian Investasi dan Hilirisasi). (2025). *Investment realization reaches IDR 1,714 trillion, absorbs 2.4 million workers* [Press release]. https://www.bkpm.go.id/en/info/press-release/investment-realization-reaches-idr-1-714-trillion-absorbs-2-4-million-workers
BKPM (Kementerian Investasi dan Hilirisasi). (2026). *Q3 2025 investment realization reaches IDR 491.4 trillion: Downstreaming and domestic investment drive growth* [Press release]. https://www.bkpm.go.id/en/info/press-release/q3-2025-investment-realization-reaches-idr-491-4-trillion-downstreaming-and-domestic-investment-drive-growth
Databoks. (2026, January 19). *Top 5 foreign investor countries in Indonesia 2025, Singapore dominates*. Pusat Data Ekonomi dan Bisnis Indonesia. https://databoks.katadata.co.id/en/economics-macro/statistics/696d7cb740188/top-5-foreign-investor-countries-in-indonesia-2025-singapore-dominates
EBC Financial Group. (2025, December 9). *Why is Indonesia currency so weak against the US dollar?* https://www.ebc.com/forex/why-is-indonesia-currency-so-weak-against-the-us-dollar
Elian, M. I., Sokhanvar, A., Lau, C. K., & Anil Duman, A. (2025). Impact of economic growth and exchange rate volatility on FDI inflows: Cointegration and causality tests for the BRICS countries. *International Journal of Economics and Financial Issues, 15*(1). https://strathprints.strath.ac.uk/91703/
Fadli, F., Sumantri, V. D. S., Maski, G., Devanto, S., & Kaluge, D. (2022). *Foreign direct investment in Indonesia: Exchange rate, GDP, and investment promotion*. Reference Press. https://refpress.org/wp-content/uploads/2022/06/Faishal-Fadli_REF.pdf
Froot, K. A., & Stein, J. C. (1991). Exchange rates and foreign direct investment: An imperfect capital markets approach. *The Quarterly Journal of Economics, 106*(4), 1191–1217. https://doi.org/10.2307/2937961
Herho, S. H. S., Kaban, S. N., & Nugraha, C. (2025). *100-day analysis of USD/IDR exchange rate dynamics around the 2025 U.S. presidential inauguration* (arXiv preprint No. 2506.18738). https://arxiv.org/pdf/2506.18738
International Monetary Fund. (2021). Foreign exchange markets and instruments in Indonesia. *IMF Country Report*. https://www.elibrary.imf.org/view/journals/002/2021/047/article-A005-en.xml
Lily, J., Kogid, M., Mulok, D., Sang, L. T., & Asid, R. (2010). Exchange rate volatility and foreign direct investment: Evidence from East Asian countries. *International Business & Economics Research Journal, 9*(7), 79–94.
LMI Consultancy. (2025, November 20). *Indonesia foreign direct investment realisation by province in 2024 & FDI outlook in 2025*. https://www.lmiconsultancy.com/indonesia-foreign-direct-investment-realisation-by-province-in-2024-fdi-outlook-in-2025/
MEXC. (2026, May). *Indonesia fiscal slippage sustains bearish bias, warns Societe Generale*. https://www.mexc.co/en-PH/news/1075064
Nguyen, T. P. T. (2024). Exchange rate dynamics of emerging and developing economies: Not all capital flows are alike. *International Journal of Finance & Economics, 29*(2), 1456–1478. https://doi.org/10.1002/ijfe.2724
Rasheed, R., Yaqub, R. M. S., Ammar, M., Khan, M. A. K., & Khan, A. M. (2018). The effect of exchange rate volatility on international trade and foreign direct investment (FDI) in developing countries along “One Belt and One Road”. *International Journal of Financial Studies, 6*(4), 86. https://doi.org/10.3390/ijfs6040086
Thorbecke, W. (2021). The weak rupiah: Catching the tailwinds and avoiding the shoals. *Journal of Social and Economic Development, 23*(S3), 521–539. https://doi.org/10.1007/s40847-020-00111-3
Trading Economics. (2026a). *Indonesian rupiah*. Retrieved May 12, 2026, from https://tradingeconomics.com/indonesia/currency
Trading Economics. (2026b). *Indonesia interest rate*. Retrieved April 2026, from https://tradingeconomics.com/indonesia/interest-rate
World Bank. (2007). *Exchange rate volatility and FDI inflows* [Policy Research Working Paper]. World Bank Open Knowledge Repository. https://openknowledge.worldbank.org/entities/publication/7b182b02-6b81-59a0-8b85-944965301451
Yıldırım, S., Karul, Ç., & Selçuk, B. (2025). The impact of exchange rate volatility and production capacity index on types of foreign direct investment: Evidence from selected emerging economies. *Eastern European Economics*. https://doi.org/10.1080/00128775.2025.2536016
