Apakah Kesiapan SDM Menentukan Arah Investasi ke Indonesia?


Pada suatu Selasa pagi di Karawang, di sebuah hanggar industri seluas tiga puluh dua hektare, sekelompok insinyur Indonesia di bawah usia tiga puluh tahun mengenakan jubah anti-debu, masuk ke ruang bersih, dan menyusun lapisan-lapisan sel baterai litium-ion satu per satu—sebuah proses yang, sebelum 2024, belum pernah dilakukan di kawasan Asia Tenggara mana pun. Pabrik milik PT HLI Green Power itu—usaha patungan Hyundai Motor Company, LG Energy Solution, dan PT Indonesia Battery Corporation—merupakan investasi senilai USD 9,8 miliar, yang oleh Kementerian Investasi disebut sebagai “investasi baterai kendaraan listrik terintegrasi pertama di dunia” (Kementerian Investasi/BKPM, 2024a). Hong Woo Pyoung, direktur utamanya, di hadapan pejabat pemerintah, mengucapkan sebuah kalimat yang sebenarnya jauh lebih politis daripada terdengar di telinga awam: “Kami telah melatih para insinyur Indonesia selama setahun. Mereka cerdas, rajin, dan sangat kompeten.”

Kalimat itu bukan sekadar basa-basi diplomatik. Itu adalah jawaban atas pertanyaan yang menggantung di kepala setiap kepala investasi multinasional yang sedang menimbang Asia Tenggara: ketika modal mengalir keluar dari Tiongkok, ketika Vietnam mulai kepenuhan, ketika India terlalu rumit—apakah orang Indonesia *siap*?

Pada tahun 2024, Indonesia mencatat realisasi investasi sebesar Rp 1.714,2 triliun, dengan penanaman modal asing menyumbang Rp 900,2 triliun atau 52,5 persen dari totalnya (Kementerian Investasi/BKPM, 2025). Singapura kembali menjadi negara pengirim investasi terbesar, disusul Hong Kong, Tiongkok, Malaysia, dan Amerika Serikat. Investasi itu menyerap sekitar 2,45 juta tenaga kerja—naik 34,7 persen dibanding tahun sebelumnya. Angka-angka itu, di permukaan, terlihat seperti narasi sukses. Tapi mereka juga, sekaligus, menyembunyikan sebuah paradoks: dari pangsa Indonesia atas investasi asing langsung di ASEAN, kontribusinya hanya sekitar 14 persen dari total USD 240 miliar di kawasan (Kementerian Investasi/BKPM, 2025). Indonesia adalah ekonomi terbesar ASEAN. Tapi dalam menarik modal asing, ia kalah dari Singapura yang penduduknya seperlima puluh empat kali lebih kecil.

Apa yang menjelaskan jarak itu?



### Modal Manusia: Kuantitas vs. Kualitas

Salah satu hipotesis paling jernih dalam ekonomi pembangunan adalah ini: modal manusia menentukan ke mana modal finansial pergi. Hipotesis itu, secara empiris, terus diuji. Studi kuantil yang diterbitkan Goh, Trinugroho, Law, dan Rusdi (2024) di *International Journal of Social Economics*, menggunakan data Indonesia dari 1984 hingga 2019, menemukan bahwa di kuantil-kuantil tinggi distribusi kemiskinan, baik aliran FDI maupun pembangunan modal manusia memberikan dampak signifikan dan saling memperkuat. Implikasinya tajam: FDI bernilai tinggi—yang berbeda dari FDI ekstraktif sederhana—hanya bisa diserap secara produktif oleh ekonomi yang sudah membangun lebih dulu kapasitas manusianya.

Pertanyaannya, lalu, sejauh apa Indonesia sudah membangunnya?

Bank Dunia, dalam edisi terbaru Human Capital Index, memberi Indonesia skor 0,54—artinya seorang anak yang lahir di Indonesia hari ini hanya akan mencapai 54 persen dari produktivitas penuh yang bisa ia capai seandainya pendidikan dan kesehatannya optimal (World Bank, 2020). Skor itu, mungkin mengejutkan, secara mengecewakan bertahan: hampir tidak berubah sejak 2010 ketika nilai HCI Indonesia adalah 0,50. Sebagai pembanding, rata-rata negara-negara Asia Timur dan Pasifik adalah 0,61. Rata-rata ASEAN: 0,59. Singapura, yang bertengger di puncak global, mencatat 0,88. Dengan kata lain, ketika seorang anak Indonesia masuk pasar kerja, ia membawa sekitar 60 persen dari kekuatan kognitif dan fisik yang dimiliki anak Singapura sebayanya. Itu, dalam bahasa ekonomi, adalah selisih produktivitas yang permanen.

Indeks PISA 2022 memberikan tekstur pada angka HCI. Pelajar Indonesia usia 15 tahun memperoleh rata-rata 366 poin di matematika, 359 poin di membaca, dan 383 poin di sains—dibandingkan rata-rata OECD masing-masing 472, 476, dan 485 (OECD, 2023). Indonesia menempati peringkat 70 dari 81 negara untuk matematika, 71 untuk membaca, dan 67 untuk sains. Yang lebih mencemaskan: hanya 18 persen pelajar Indonesia yang mencapai sekurangnya tingkat kompetensi 2 di matematika (rata-rata OECD: 69 persen), dan “hampir tidak ada” pelajar yang mencapai level performa atas (OECD, 2023). Singapura, di ujung lain skala, mencetak 575 di matematika—jurang yang terjemahkan, dalam riset pendidikan, sebagai sekitar lima tahun pembelajaran formal.

Ada juga peringkat tahunan dari INSEAD dan IMD yang mengukur “talent competitiveness”—kapasitas suatu negara menarik, menumbuhkan, dan mempertahankan bakat. Pada Global Talent Competitiveness Index 2023, Indonesia menempati peringkat 75 dari 134 negara, naik 14 peringkat dalam satu dekade—peningkatan kedua tercepat di dunia setelah Albania (Lanvin & Monteiro, 2023). Tapi, seperti yang dicatat dengan ironi oleh *South China Morning Post* (Indonesia shoots up, 2023), Indonesia masih tertinggal 73 peringkat di belakang Singapura. IMD World Talent Ranking 2024 menempatkan Indonesia di posisi 46 dari 67 ekonomi—naik satu peringkat dari tahun sebelumnya, tetap di bawah Malaysia (33) meskipun di atas Thailand (47) (IMD, 2024).



### Di Mana Indonesia Kuat

Setiap perusahaan multinasional yang bersiap membuka pabrik di luar negeri pertama-tama mengajukan pertanyaan yang sangat sederhana: berapa banyak orang yang bisa kami pekerjakan, berapa upahnya, dan apakah mereka cukup terampil untuk pekerjaan yang akan diberikan?

Indonesia menawarkan keunggulan komparatif di beberapa sektor.

Pertama, **industri ekstraktif dan hilirisasi mineral**. Pada 2024, sektor logam dasar dan turunannya menjadi tujuan FDI nomor satu di Indonesia, dengan realisasi mencapai sekitar Rp 60,4 triliun pada kuartal IV 2024 saja (Kementerian Investasi/BKPM, 2025). Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, dan tenaga kerja yang dibutuhkan untuk smelting, refining, hingga proses precursor dan katoda baterai dapat dilatih dalam hitungan bulan dengan pelatihan vokasional yang tepat sasaran. PT HLI Green Power adalah contoh paradigmatik: lulusan SMK dan politeknik Indonesia, setelah satu tahun pelatihan terstruktur, terbukti mampu mengoperasikan jalur produksi sel baterai berstandar global.

Kedua, **manufaktur padat karya tingkat menengah**—garmen, alas kaki, perakitan elektronik. Sebuah studi panel oleh Saputro dan Siregar (2018) yang dipublikasikan di *Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi*, mengamati 19 industri manufaktur Indonesia dari 2001–2014, menemukan bahwa produktivitas tenaga kerja, upah, dan kinerja ekspor adalah faktor signifikan yang menarik FDI. Indonesia masih kompetitif karena upahnya, secara historis, lebih rendah daripada Tiongkok dan beberapa negara ASEAN lain, sementara basis tenaga kerjanya—153 juta orang per awal 2025 (BPS, 2025)—adalah salah satu yang terbesar di dunia.

Ketiga, **pertanian, minyak sawit, dan perikanan**. Tradisi pengetahuan agronomis dan pesisir di Indonesia, ditambah skala lahan, membuat sektor minyak sawit/oleokimia mampu menyerap Rp 67,1 triliun investasi pada 2024 (Kementerian Investasi/BKPM, 2025). Di sini, “kesiapan SDM” tidak diukur dengan ijazah, melainkan pengetahuan lokal yang turun-temurun.

Keempat, **pariwisata dan ekonomi kreatif**. Sektor yang seringkali kurang mendapat perhatian dalam diskusi FDI ini sebenarnya menyimpan keunggulan kultural yang sulit direplikasi: keramahan, multilingualisme regional, dan industri kerajinan yang sudah memiliki pasar ekspor terbentuk.

Kelima, **sektor energi terbarukan tingkat awal**, terutama tenaga surya dan panas bumi. Indonesia berada di “Ring of Fire” dan memiliki potensi geotermal terbesar kedua di dunia, dan jumlah lulusan teknik perminyakan dan geologi yang relatif memadai mempersiapkan basis tenaga kerja untuk sektor ini.



### Di Mana Indonesia Tertinggal

Berlawanan dengan zona-zona kekuatan itu, terdapat lanskap yang lebih suram.

Yang paling kasat mata adalah **ekonomi digital dan teknologi tinggi**. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno, pada simposium di Jakarta pada 2025, mengakui bahwa Indonesia menghadapi proyeksi kekurangan 3–6 juta talenta digital pada 2030 (OpenGov Asia, 2025). Studi Bank Dunia, yang dirujuk dalam serangkaian penelitian sebelumnya, memperkirakan kebutuhan tambahan sekitar 9 juta pekerja TIK terampil dan semi-terampil hingga 2030 (Pakpahan, 2023). Sebagai konteks, profesional TIK saat ini hanya menyumbang sekitar 0,8 persen dari total angkatan kerja Indonesia—fraksi kecil bagi negara yang penduduknya menembus 280 juta. Pakpahan (2023), dalam analisis Bayesian yang diterbitkan di *Sustainability*, menemukan bahwa meskipun jumlah lulusan STEM dan bidang TIK terkait diproyeksikan melampaui permintaan kuantitatif sekitar 600.000 per tahun, masalah utamanya bukan jumlah, melainkan ketidaksesuaian kompetensi: lulusan tidak memiliki keterampilan teknis dan lunak yang industri butuhkan.

Yang kedua adalah **manufaktur tingkat lanjut dan otomasi**. Indonesia memiliki rasio insinyur per kapita yang rendah dibandingkan tetangganya. Sebuah survei sektor menemukan bahwa hanya sekitar 8 lulusan STEM per 10.000 penduduk—angka yang menempatkan Indonesia jauh di belakang Vietnam, apalagi Korea Selatan atau Taiwan (Mardiana et al., 2025). Konsekuensinya nyata: ketika perusahaan elektronik global mencari lokasi pabrik chip atau modul kompleks, mereka cenderung memilih Vietnam atau Malaysia.

Yang ketiga adalah **layanan keuangan terampil dan fintech tingkat tinggi**. Studi Theodora (2023), yang dikutip dalam analisis pasar kerja manufaktur Indonesia, mencatat “kelangkaan signifikan pekerja di fintech, khususnya di analisis data, pemrograman back-end, desain antarmuka pengguna, dan manajemen risiko.”

Yang keempat adalah **riset dan pengembangan**. Indonesia menempati peringkat rendah di indeks penelitian global, dan rasio mahasiswa-dosen di institusi tersier publik mencapai 55,4—hampir empat kali lipat rata-rata OECD sebesar 14,4 (OECD, 2025). Untuk program sarjana, master, dan doktoral di institusi publik, rasio itu naik ke 57,0.

Kelima, dan mungkin yang paling struktural: **kesesuaian keterampilan secara umum**. Tinjauan OECD memperkirakan sekitar 51,5 persen pekerja Indonesia *underqualified* untuk peran mereka dan 8,5 persen *overqualified* (OECD, 2023; Elitez, 2026). Studi Bank Dunia menemukan bahwa hanya sekitar separuh lulusan universitas Indonesia bekerja di bidang yang sesuai dengan jurusan mereka (Kruse, di Gropello, & Tandon, 2011). Hanya 12,66 persen angkatan kerja Indonesia yang memegang ijazah sarjana (BPS, 2025).



### Jendela yang Mulai Menutup

Ada sebuah konsep dalam demografi ekonomi yang dikenal sebagai “bonus demografi”: periode di mana rasio penduduk usia kerja terhadap dependen mencapai puncaknya, menciptakan jendela peluang untuk akumulasi tabungan dan investasi. Bagi Indonesia, jendela itu—menurut proyeksi BPS dan Bappenas—akan berlangsung dari sekitar 2012 hingga 2035, dengan puncaknya pada 2020–2030 (Bappenas, 2015). Apa yang terjadi di dalam jendela itu menentukan apakah Indonesia berhasil naik ke pendapatan menengah-atas yang stabil atau terperangkap di tingkat menengah selama beberapa dekade mendatang.

Felipe Monteiro, direktur akademik GTCI di INSEAD, merangkumnya: jika Indonesia berhasil meningkatkan daya saing talenta, upah, dan produktivitas dengan populasi sebesar ini, ia bisa memetik bonus demografisnya (Indonesia shoots up, 2023). Kuncinya ada di kata “jika.”

Hipotesis yang dikemukakan oleh Goh dkk. (2024)—bahwa FDI bernilai tinggi membutuhkan modal manusia tingkat lanjut—saat ini menjadi semakin relevan karena, sebagaimana dicatat oleh ekonom pembangunan dalam analisis *Asia Times* baru-baru ini, “model pembangunan tradisional, yang berbasis penyerapan surplus tenaga kerja ke manufaktur berbiaya rendah, tidak lagi seefektif dahulu” (Asia Times, 2026). Rantai pasok terfragmentasi. Otomasi menjadi lebih murah. Perusahaan besar makin memprioritaskan ketahanan dan teknologi alih-alih upah murah.

Yang berarti: jika Indonesia tetap bertumpu pada keunggulan biaya, ia akan menemukan dirinya bersaing dengan robot, bukan negara lain.



### Pertanyaan Itu, Kembali

Apakah kesiapan SDM menjadi faktor penentu dalam investasi ke Indonesia?

Jawabannya, melihat hasil-hasil empiris dan pola realisasi investasi terkini, adalah: ya, tetapi tidak secara seragam di seluruh sektor. Untuk FDI yang mencari basis tenaga kerja besar dengan upah moderat dan keterampilan dasar—garmen, perakitan, smelting—Indonesia masih kompetitif. Untuk FDI yang mencari talenta digital terampil, insinyur dengan kompetensi tinggi, atau peneliti kelas dunia, Indonesia masih jauh dari medan tempur.

Investor kategori kedua itulah yang membayar premi terbesar, menciptakan rantai nilai paling tinggi, dan menjadi mesin utama transformasi ekonomi negara-negara yang berhasil keluar dari perangkap pendapatan menengah. Mereka, sejauh ini, sebagian besar memilih tempat lain.

Di Karawang, di ruang bersih yang dingin dan disinari neon putih, para insinyur muda itu—yang sedang menyusun lapisan sel baterai—mewakili sebuah kemungkinan. Mereka adalah bukti hidup bahwa, dengan investasi pelatihan terstruktur, tenaga kerja Indonesia dapat mencapai standar global. Mereka juga, sekaligus, mewakili pertanyaan: mengapa pelatihan semacam itu masih harus dilakukan setelah lulus, bukan selama dua belas tahun pendidikan formal yang seharusnya menyiapkan mereka?

Jawaban atas pertanyaan itulah yang, dalam dekade berikutnya, akan menentukan ke mana modal global mengalir—dan apakah ia melewati kepulauan ini, atau berhenti, akhirnya, untuk membangun di sini.



## Daftar Referensi

Asia Times. (2026, March 19). *Indonesia’s closing window for a demographic dividend*. https://asiatimes.com/2026/03/indonesias-closing-window-for-a-demographic-dividend/

Badan Pusat Statistik. (2025). *Keadaan ketenagakerjaan Indonesia Februari 2025*. BPS-Statistics Indonesia. https://www.bps.go.id

Bappenas. (2015). *Indonesia population projection 2010–2035*. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional & Badan Pusat Statistik.

Elitez. (2026, February 8). *Talent shortage in Indonesia: Skills, not headcount*. https://www.elitez.asia/talent-shortage-indonesia-skills-not-headcount/

Goh, L. T., Trinugroho, I., Law, S. H., & Rusdi, D. (2024). Institutional quality, FDI inflows, human capital development and poverty: A case of Indonesia. *International Journal of Social Economics*, *51*(8), 1023–1045. https://doi.org/10.1108/IJSE-09-2023-0733

IMD World Competitiveness Center. (2024). *IMD world talent ranking 2024: The socio-economic implications of AI in the workplace*. International Institute for Management Development. https://www.imd.org/centers/wcc/world-competitiveness-center/rankings/world-talent-ranking/

Indonesia shoots up global talent rankings, still lags 73 places behind Singapore. (2023, December 5). *South China Morning Post*. https://www.scmp.com/news/asia/southeast-asia/article/3243884

Kementerian Investasi/BKPM. (2024a, March 9). *Tangible proof of nickel downstreaming: Indonesia ready for mass production of electric vehicle batteries in April 2024* [Press release]. Kementerian Investasi dan Hilirisasi Republik Indonesia. https://www.bkpm.go.id/en/info/press-release/

Kementerian Investasi/BKPM. (2025, January 31). *Investment realization reaches IDR 1,714 trillion, absorbs 2.4 million workers* [Press release]. Kementerian Investasi dan Hilirisasi Republik Indonesia. https://www.bkpm.go.id/en/info/press-release/investment-realization-reaches-idr-1-714-trillion-absorbs-2-4-million-workers

Kruse, A., di Gropello, E., & Tandon, P. (2011). *Skills for the labor market in Indonesia: Trends in demand, gaps, and supply*. World Bank Publications. https://doi.org/10.1596/978-0-8213-8614-9

Lanvin, B., & Monteiro, F. (2023). *The global talent competitiveness index 2023: What a difference ten years make—What to expect for the next decade*. INSEAD, Portulans Institute, & Human Capital Leadership Institute. https://www.insead.edu/global-talent-competitiveness-index

Mardiana, S., Setiawan, A., & Rahmawati, F. (2025). Psychometric evidence of a science, technology, engineering, and mathematics career interest survey of Indonesian high school students. *Scientific Reports*, *15*, Article 7421. https://doi.org/10.1038/s41598-025-87421-w

OECD. (2023). *PISA 2022 results (Volume I): The state of learning and equity in education*. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/53f23881-en

OECD. (2025). *Education at a glance 2025: OECD indicators—Indonesia country note*. OECD Publishing. https://gpseducation.oecd.org/CountryProfile?primaryCountry=IDN

OpenGov Asia. (2025, June 18). *Indonesia’s strategy to bridge the digital talent divide*. https://opengovasia.com/indonesias-strategy-to-bridge-the-digital-talent-divide/

Pakpahan, R. (2023). The Indonesian digital workforce gaps in 2021–2025. *Sustainability*, *15*(1), Article 754. https://doi.org/10.3390/su15010754

Saputro, A. W., & Siregar, H. (2018). Labor productivity and foreign direct investment in the Indonesian manufacturing sector. *Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi*, *7*(2), 245–262. https://doi.org/10.15408/sjie.v7i2.7836

SMERU Research Institute. (2024). *Digital upskilling for Indonesia*. The SMERU Research Institute. https://smeru.or.id/en/research/digital-upskilling-indonesia

Theodora, R. (2023). Labour absorption in manufacturing industry in Indonesia: Anomalous and regressive phenomena. *arXiv*. https://arxiv.org/abs/2311.01787

World Bank. (2020). *The human capital index 2020 update: Human capital in the time of COVID-19*. World Bank Group. https://openknowledge.worldbank.org/handle/10986/34432

World Bank. (2024). *Indonesia human capital country brief*. Human Capital Project, World Bank Group. https://humancapital.worldbank.org/en/economy/IDN

Discover more from bolakayu.id

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading