
Di sebuah pagi yang basah di Tayan, Sanggau, kabut yang tumbuh dari tanah merah Kalimantan Barat itu tampak seperti uap yang ditinggalkan oleh sebuah eksperimen kimiawi raksasa — yang memang, dalam pengertian tertentu, demikianlah adanya. Di bawah hutan-hutan yang sudah tipis dan jalan-jalan tambang yang basah berlumpur, terkubur bauksit: batuan kemerahan yang nyaris tidak punya kegunaan dalam wujud aslinya, tetapi menyimpan, dalam ikatan kimianya, salah satu substansi paling konsekuen dalam peradaban modern. Dari empat ton bauksit yang dikeringkan, lahir kira-kira dua ton alumina; dari dua ton alumina, satu ton aluminium. Rasio itu, sederhana di atas kertas, menyembunyikan sebuah sejarah panjang tentang energi, kuasa, dan kehendak negara — sejarah yang kini memutar kembali ke Indonesia dengan urgensi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Aluminium, kata para insinyur, adalah “logam yang ditangkap dari listrik”: tidak ada elektrolisis, tidak ada aluminium. Dan itulah, pada akhirnya, yang menjadikan kisah industri aluminium Indonesia bukan sekadar kisah pertambangan, melainkan kisah tentang bagaimana sebuah negara memutuskan apa yang ingin dijadikannya dari bumi yang ia warisi.
Indonesia, menurut data USGS yang dikutip Statista dan diperkuat oleh Fastmarkets, adalah pemilik cadangan bauksit terbesar keenam di dunia, dengan estimasi sekitar satu miliar ton — jauh di belakang Guinea (sekitar 7,4 miliar ton) dan Australia (3,5 miliar ton), namun cukup signifikan untuk mengubah peta global jika diolah dengan benar. Estimasi domestik, sebagaimana dipublikasikan oleh Petromindo dan dikutip Asosiasi Profesi Pertambangan Indonesia (PERHAPI) dalam materi konferensi Indonesia Miner, justru lebih ekspansif: total sumber daya 6,2 miliar ton dan cadangan 3,2 miliar ton. Hampir 83 persen dari cadangan itu berada di Kalimantan Barat, sementara sisanya tersebar di Kepulauan Riau dan Kalimantan Tengah. Dengan asumsi tingkat permintaan saat ini, PERHAPI memperkirakan endurance cadangan bauksit Indonesia bisa melampaui seratus tahun. Angka itu — seabad — adalah jenis horizon waktu yang jarang sungguh-sungguh dibayangkan oleh perencana industri mana pun, tetapi ia mengingatkan kita pada ironi geologis yang mendasar: bauksit, yang kita perlakukan seolah-olah komoditas, sesungguhnya adalah hasil pelapukan tropis selama jutaan tahun, sebuah akumulasi waktu yang dipadatkan ke dalam satuan ton per tahun.
Selama dua dekade terakhir, ekspor bauksit Indonesia adalah cerita tentang kemurahan yang nyaris membingungkan. Sebelum 2014, pelabuhan-pelabuhan kecil di Kapuas dan Ketapang menjadi terminal bagi tongkang-tongkang yang berlabuh di Tiongkok, di mana kilang-kilang alumina pesisir timur — yang cadangan bauksit domestiknya kian menipis — mengandalkan pasokan dari Kalimantan untuk lebih dari 70 persen kebutuhan mereka. Aluminum Market Update mencatat, dalam analisis “the third coming of Indonesia in aluminum”, bahwa volume ekspor itu menembus 20 juta ton metrik per tahun. Indonesia, dengan kata lain, mengirimkan tanahnya — secara harfiah — ke pelabuhan-pelabuhan asing untuk diolah menjadi sesuatu yang nilainya berlipat ganda di tempat lain. Hingga tahun 2022, sebagaimana diberitakan IEEFA berdasarkan data Bloomberg, ekspor bauksit Indonesia masih mencapai sekitar 24,6 juta ton dengan nilai sekitar 580 juta dolar AS, atau hanya sekitar 23,5 dolar per ton — angka yang, jika dibandingkan dengan harga alumina ekspor Australia di sekitar 359 dolar per ton tahun yang sama, mengungkap sebuah jurang nilai sebesar 16 kali lipat. Inilah hitungan yang menjengkelkan presiden ketujuh Indonesia, Joko Widodo, dan yang akhirnya memicu pelarangan ekspor bijih bauksit mentah pada Juni 2023, sebuah keputusan yang kemudian dikonfirmasi melalui UU No. 3/2020. Estimasi presiden saat itu, sebagaimana dikutip Nikkei Asia dan IEEFA, menyebut nilai ekspor bauksit dapat melonjak tiga kali lipat menjadi sekitar 4,1 miliar dolar bila bauksit diolah dulu di dalam negeri.
Larangan itu, yang dalam wacana pemerintah disebut sebagai “hilirisasi”, adalah pernyataan filosofis sebanyak ia adalah keputusan ekonomi. Ia mengikuti logika yang sama dengan larangan ekspor bijih nikel pada 2020, dan ia berdiri di atas keyakinan — yang tidak sepenuhnya bebas dari romantisme — bahwa nilai tambah, jika dikerjakan di tanah air, akan meninggalkan endapan kemakmuran yang tidak mungkin dihasilkan oleh ekspor mentah. Dalam dokumen visi pembangunan jangka panjang yang dikenal sebagai “Indonesia Emas 2045” dan dibahas Fastmarkets, hilirisasi adalah pilar utama untuk menjadikan Indonesia ekonomi terbesar kelima dunia. Pertanyaannya, sebagaimana selalu pada momen ambisi struktural seperti ini, bukan apakah idenya benar — banyak ekonom pembangunan, dari Ha-Joon Chang hingga Justin Yifu Lin, membela tesis intervensi industri — melainkan apakah pelaksanaannya berdiri di atas fondasi yang jujur dengan dirinya sendiri.
Realitas rantai nilai itu, sejauh ini, masih timpang. PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), yang oleh Wikipedia dan situs resmi inalum.id dijelaskan sebagai pelopor industri peleburan aluminium di Indonesia sejak 1976, lahir dari investasi Jepang sebesar 411 miliar yen — sebuah keputusan strategis Jepang pasca-krisis minyak 1970-an, untuk mengekspor energi ke luar negeri dalam wujud logam, sebagaimana dijelaskan Aluminum Market Update. Hingga 2024, Inalum masih merupakan satu-satunya peleburan aluminium primer Indonesia yang sungguh-sungguh produktif, dengan kapasitas terpasang sekitar 250–300 ribu ton per tahun, dan produksi 2024 mencapai 274 ribu ton — naik 27,6 persen tahun-on-tahun, menurut HP Carbon Machine yang mengutip laporan internal Inalum. Di sisi alumina, dua kilang yang beroperasi adalah PT Indonesia Chemical Alumina di Tayan, milik PT Antam, dengan kapasitas keluaran sekitar 300 ribu ton chemical-grade alumina per tahun, dan PT Well Harvest Winning di Ketapang yang dioperasikan oleh Harita Group — satu-satunya produsen smelter-grade alumina (SGA) hingga belakangan ini, sebagaimana didokumentasikan Chain Reaction Research. Pada 2024, kilang baru SGAR Mempawah Fase I — joint venture Inalum dan Antam dengan kapasitas 1 juta ton alumina per tahun — mulai commissioning, dengan target operasi komersial penuh pada Q2 2025. Mysteel melaporkan bahwa SGAR Mempawah mengonsumsi lebih dari 3 juta ton bauksit setiap tahun, dan Fase II dengan tambahan kapasitas 1–2 juta ton sedang menunggu keputusan investasi final yang menurut HP Carbon Machine ditargetkan Desember 2025.
Yang lebih dramatis terjadi di hilir. Adaro Minerals, melalui anak perusahaannya PT Kalimantan Aluminium Industry, sedang membangun smelter di Kawasan Industri Kalimantan Industrial Park Indonesia (KIPI) di Kalimantan Utara, dengan target kapasitas akhir 1,5 juta ton aluminium per tahun yang dibagi ke dalam tiga fase masing-masing 500 ribu ton, sebagaimana dikonfirmasi S&P Global pada Maret 2025. Adaro berbagi proyek ini dengan Harita Group dan Lygend, produsen nikel asal Tiongkok. Discovery Alert mencatat, dalam tinjauan ekspansi aluminium Tiongkok di Indonesia, bahwa daftar smelter yang sedang dirancang kini mencapai sebelas proyek dengan total target sekitar 13 juta ton aluminium primer per tahun — dari mana sekitar 84 persen disokong modal Tiongkok. Nama-nama besar industri logam Tiongkok yang dulu hanya bermain di Shandong dan Xinjiang kini muncul di peta Kalimantan: China Hongqiao, East Hope (lewat PT Westerfield Alumina Indonesia, dengan rencana 2,4 juta ton), Weiqiao bersama Halida, Xinfa, Huafeng/Tsingshan, dan Shandong Nanshan. Bersama Inalum yang sendiri merencanakan smelter 600 ribu ton di Mempawah dengan opsi ekspansi ke 900 ribu hingga 1,05 juta ton, gambar besarnya jelas: Indonesia, yang pada 2024 hanya memproduksi sekitar 815 ribu ton aluminium primer, sedang bersiap melipatgandakan kapasitasnya hampir dua kali lipat ke sekitar 1,6 juta ton pada 2026, dan jauh lebih banyak lagi sebelum dekade ini berakhir.
Mengapa sekarang? Jawabannya berdiri di atas dua pondasi: sebuah pasar global yang kelaparan, dan sebuah Tiongkok yang kehabisan ruang. International Aluminium Institute memproyeksikan permintaan aluminium global naik sekitar 40 persen pada 2030, dari 86,2 juta ton pada 2020 menjadi 119,5 juta ton — pertumbuhan yang didorong oleh elektrifikasi transportasi, transisi energi, kemasan, dan urbanisasi Asia. Mobil listrik adalah katalis besar: data Aluminum Association yang dikutip noxmetals.co menunjukkan bahwa kandungan aluminium di kendaraan ringan Amerika Utara akan tumbuh dari sekitar 501 pon per kendaraan pada 2022 menjadi sekitar 556 pon pada 2030, dengan light-truck listrik seperti Ford F-150 Lightning rata-rata menggunakan lebih dari 644 pon. Trafigura, sebagaimana dikutip Fastmarkets, memperkirakan transisi energi memerlukan tambahan 15 hingga 22 juta ton aluminium pada 2030, dan 25 hingga 42 juta ton pada 2050. Setiap megawatt panel surya menelan kira-kira 21 ton aluminium. Dalam wacana minerals strategis, aluminium kini berdiri sejajar dengan tembaga dan litium — dengan keuntungan tambahan: ia bisa didaur ulang nyaris tanpa kehilangan kualitas. Sementara itu, Tiongkok telah memberlakukan pagu produksi aluminium primer domestik sebesar 45 juta ton dan tampaknya tidak akan menggesernya, sehingga investasi mereka mengalir ke luar — terutama ke Indonesia, yang menggabungkan tiga atribut langka: bauksit yang berlimpah, batu bara yang murah, dan negara yang ramah pada modal industri.
Tetapi pasar yang kelaparan tidak otomatis membuat semua orang kenyang. Pasar domestik Indonesia sendiri masih menjadi pengingat ironis akan jurang kapabilitas. Direktur Pengembangan Bisnis Inalum, Melati Sarnita, dalam Indonesia’s Aluminum Forum 2025 yang dilaporkan Discovery Alert, menyebut bahwa konsumsi aluminium Indonesia diproyeksikan tumbuh sekitar 600 persen dalam tiga dekade ke depan, didorong terutama oleh kendaraan listrik dan energi terbarukan. Sebanyak 54 persen kebutuhan aluminium nasional saat ini, sebagaimana dilaporkan Discovery Alert dan terkonfirmasi data Badan Pusat Statistik yang dikutip Indonesia Miner, masih dipasok lewat impor: Indonesia rata-rata mengimpor sekitar 700 ribu ton aluminium dan turunannya per tahun, dengan nilai impor kumulatif 2018–2022 mencapai sekitar 9,9 miliar dolar AS. Sebuah bangsa yang tidur di atas miliaran ton bauksit, tetapi membayar miliaran dolar untuk membeli kembali turunannya — itulah definisi paling padat dari apa yang oleh para ekonom struktural disebut sebagai paradoks resource curse, dan apa yang oleh para filsuf mungkin disebut sebagai bentuk keterasingan tertentu antara tanah, kerja, dan nilai.
Di sinilah cerita ini menjadi rumit, dan reflektif. Sebab industri aluminium, lebih dari hampir semua industri lain, adalah praktik yang menyatukan dua bumi yang seakan terpisah: bumi sebagai cadangan mineral, dan bumi sebagai sistem ekologis yang hidup. Aluminium adalah logam yang dijuluki “energi terkonsentrasi”: untuk menghasilkan satu ton aluminium melalui proses Hall-Héroult dibutuhkan sekitar 13.000–15.000 kWh listrik. IEEFA, dalam laporannya tahun 2023 berjudul “Indonesia: The Coal Cost of Aluminum”, menghitung bahwa smelter Adaro fase pertama di Kaltara saja akan menambahkan sekitar 5,2 juta ton emisi CO₂ per tahun — setara sekitar 0,8 persen dari total emisi Indonesia 2021 — karena sumber listriknya adalah pembangkit listrik tenaga uap captive berbasis batu bara berkapasitas 1.100 MW. Dialogue Earth dan MINING.com, mengutip studi PNAS oleh tim Universitas Wina, melaporkan bahwa Indonesia menyumbang 58,2 persen dari kerusakan hutan langsung akibat pertambangan industrial di seluruh negara tropis yang dikaji antara 2000 dan 2019. Mighty Earth, dalam laporan “The Impact of the Bauxite Boom” tahun 2024, mendokumentasikan bahwa satu lokasi tambang bauksit di Kalimantan Barat saja telah merusak sekitar 2.144 hektare lahan sejak 2017, di mana sekitar 1.500 hektarenya adalah hutan; warga setempat melaporkan ruam kulit pada anak-anak yang mereka kaitkan dengan limpasan logam berat dari tambang. Pada 2020, gubernur Kalimantan Barat menuding tambang sebagai pemicu — atau setidaknya pemberat — banjir mematikan di provinsi itu.
Maka kita sampai pada paradoks pusat dari ambisi aluminium Indonesia: aluminium dipromosikan sebagai logam transisi energi — bahan kendaraan listrik yang lebih ringan, kabel transmisi yang menggantikan tembaga, sasis turbin angin — tetapi proses kelahirannya di Indonesia, sejauh ini, ditenagai oleh batu bara, bahan bakar yang transisi energi itu hendak ditinggalkan. IEEFA menyebut ini “a green metal made dirty”. Bank-bank global utama — DBS, Standard Chartered, sebagaimana dirinci IEEFA — sudah enggan membiayai smelter dengan power captive berbasis batu bara; pada 2023, Indonesia Business Post bahkan melaporkan beberapa bank menolak proyek Adaro. Pemerintah Indonesia merespons dengan langkah yang khas: pada 2023, OJK merevisi taksonomi hijau nasional untuk memungkinkan PLTU baru dikategorikan “hijau” jika mereka memasok smelter yang menghasilkan logam transisi. Definisi, dengan kata lain, dimodifikasi agar realitas dapat tetap dipanggil dengan nama yang ia inginkan. Inilah momen di mana ambisi industrialisasi bertabrakan dengan sintaksis dunia keuangan internasional, dan di mana pertanyaan-pertanyaan filosofis lama — kapan sebuah cara untuk mendapatkan sesuatu menjadi tidak lagi sebanding dengan apa yang didapat? — menjadi pertanyaan teknokratis yang sangat mendesak.
Tantangan lain bertumpuk di atasnya. Pertama, oversupply: Mysteel dan Goldman Sachs, dalam laporan akhir 2025, memprediksi bahwa kapasitas baru Indonesia, bersama ekspansi India, dapat menciptakan surplus aluminium global sebesar 1,5 juta ton pada 2026 dan 2 juta ton pada 2027, menekan harga LME dari sekitar 2.873 dolar per ton menjadi mungkin 2.350 dolar per ton pada Q4 2026. Untuk smelter Indonesia yang dibiayai dengan capex tinggi dan listrik batu bara — yang oleh IEEFA payback period-nya sudah dihitung 8 hingga 11 tahun pada harga batas atas — penurunan harga itu adalah ujian struktural. Kedua, mismatch logistik: rantai bauksit-alumina-aluminium membutuhkan integrasi geografis yang ketat. Petromindo mencatat bahwa pada 2023 produksi bauksit Indonesia anjlok sekitar 38 persen pasca-larangan ekspor karena kapasitas alumina domestik belum siap menyerap. Ketiga, ketergantungan pada satu mitra: bila 84 persen kapasitas baru disokong modal Tiongkok, Indonesia memasuki era baru ketergantungan strategis di mana pasar tujuan ekspor — bahkan untuk barang yang diolah di tanah sendiri — sebagian besar akan ditentukan oleh kalkulasi industri Tiongkok. Aluminum Market Update mencatat tujuan ekspor utama Indonesia pada 2024 adalah Meksiko, Tiongkok, Malaysia, Italia, dan Korea Selatan; CRU mengonfirmasi Indonesia kini telah menjadi net exporter aluminium primer.
Ada kualitas hampir teologis dalam cara industri-industri ekstraktif memaksakan paradoks pada bahasa kita. Hilirisasi, yang dalam metafora hidrologisnya berarti menerima dan memurnikan apa yang mengalir dari hulu, dalam praktik bauksit Indonesia berarti mengeluarkan, melebur, mengirim. Logam yang ringan menjadi berat dengan konsekuensi politik dan ekologis. Negara yang ingin menegaskan kedaulatannya atas sumber dayanya sendiri menemukan kedaulatan itu dimediasi oleh kapital asing, teknologi asing, dan permintaan asing. Ini bukan kontradiksi yang khas Indonesia. Pada era yang sama, Guinea berusaha mendirikan kilang alumina, Australia memburu listrik nol-karbon untuk smelter-nya, dan Eropa, melalui Carbon Border Adjustment Mechanism, berusaha mengekspor standar lingkungannya kembali ke pasar global. Apa yang khas Indonesia adalah skala dan kecepatan: keputusan untuk membangun belasan smelter dalam lima tahun, di tengah lanskap keuangan yang skeptis, di atas pulau-pulau yang juga merupakan rumah bagi sebagian hutan tropis paling beragam di Bumi. Antara 2025 dan 2030, Indonesia akan, secara harfiah, mendefinisikan ulang dirinya sendiri di pasar logam global. Bagaimana ia melakukannya — apakah ia membangun rantai nilai yang sungguh-sungguh tertanam, atau menjadi enclave manufaktur asing dengan bayaran sosial dan ekologis lokal — akan menjadi salah satu eksperimen pembangunan paling besar di abad ini.
Maka kembali ke pagi di Tayan, dan ke pertanyaan yang tidak pernah benar-benar dijawab oleh statistik: apa artinya sebuah masyarakat memutuskan menjadi pengolah dunia? Aluminium, sejak ditemukan sebagai logam yang terisolasi pada awal abad ke-19, selalu berkonotasi modernitas — sayap pesawat, kaleng minuman, sasis mobil, foil dapur. Ia adalah substansi yang membuat barang menjadi ringan, dan dengan demikian membuat dunia tampak lebih mudah dipindahkan. Indonesia kini sedang mencoba memasuki produksinya dengan bauksit yang ia miliki, batu bara yang ia bakar, sungai-sungai yang ia keruhkan, dan modal yang ia pinjam. Bila proyek ini berhasil dengan jujur — dengan transisi ke listrik bersih, dengan reklamasi tambang yang serius, dengan pembagian nilai yang adil bagi pekerja dan masyarakat lingkar tambang, dengan kapabilitas teknik yang sungguh-sungguh internalisasi — maka aluminium Indonesia akan menjadi salah satu cerita paling instruktif tentang bagaimana negara berkembang menavigasi transisi energi tanpa mengulang kesalahan industrialisasi abad ke-20. Bila ia berhasil hanya secara akuntansi — mengganti angka ekspor bauksit dengan angka ekspor aluminium, sambil menyimpan biaya lingkungan dan sosial dalam neraca off-balance-sheet — maka kita akan menyaksikan apa yang oleh ekolog Vandana Shiva pernah disebut “monoculture of the mind” diterjemahkan ke dalam logam dan listrik. Dalam kedua skenario, dunia akan tetap mendapatkan aluminium yang ia inginkan. Yang bertaruh, sebagaimana selalu pada akhirnya, adalah lanskap dan generasi yang harus tinggal di lanskap itu setelah turbinnya berhenti berputar dan kalengnya didaur ulang ke sirkuit lain. Bauksit, kita ingat, adalah produk pelapukan tropis selama jutaan tahun. Kita sekarang sedang mengekstrak waktu itu dengan kecepatan yang ditentukan oleh siklus pasar. Apakah kita pantas? Pertanyaan itu, di luar kapasitas semua spreadsheet, tetap harus diajukan.
—
**Referensi**
– USGS, *Mineral Commodity Summaries 2024 — Bauxite and Alumina*: https://pubs.usgs.gov/periodicals/mcs2024/mcs2024-bauxite-alumina.pdf
– USGS, *Mineral Commodity Summaries 2025 — Bauxite and Alumina*: https://pubs.usgs.gov/periodicals/mcs2025/mcs2025-bauxite-alumina.pdf
– USGS, *The Mineral Industry of Indonesia in 2023*: https://pubs.usgs.gov/myb/vol3/2023/myb3-2023-indonesia.pdf
– Statista, “Indonesia: bauxite reserves 2023”: https://www.statista.com/statistics/1480694/indonesia-bauxite-reserves/
– Petromindo, “Indonesian Bauxite and Aluminum Outlook” (Pandu Setiabudi): https://www.petromindo.com/storage/files/research/Indonesian-Bauxite_and_Aluminum_Outlook.pdf
– Petromindo, “Indonesia’s aluminium output surpasses domestic demand, says CRU”: https://www.petromindo.com/news/article/indonesia-s-aluminium-output-surpasses-domestic-demand-says-cru
– IEEFA, *Indonesia: The Coal Cost of Aluminum* (October 2023): https://ieefa.org/sites/default/files/2023-10/IEEFA%20Report%20-%20Indonesia%20The%20Coal%20Cost%20of%20Aluminum%20Oct2023.pdf
– Mighty Earth, *The Impact of the Bauxite Boom on People and Planet*: https://mightyearth.org/wp-content/uploads/2024/06/Bauxite-Report-Final-06032024.pdf
– Fastmarkets, “Indonesia vows to invest more in aluminium supply chain”: https://www.fastmarkets.com/insights/indonesia-vows-to-invest-more-in-aluminium-supply-chain-in-strategy-for-critical-metals/
– Fastmarkets, “Aluminium demand to benefit from under-appreciated role in energy transition”: https://www.fastmarkets.com/insights/aluminium-demand-to-benefit-from-under-appreciated-role-in-energy-transition/
– Aluminum Market Update / CRU Group, “The third coming of Indonesia in aluminum”: https://www.aluminummarketupdate.crugroup.com/global-trade/indonesia-aluminum-china-exports-imports-smelters/
– Mysteel, “Indonesia’s rising aluminum output threatens the $3,000 price outlook for 2026”: https://www.mysteel.net/news/5105846-indonesias-rising-aluminum-output-threatens-the-3-000-price-outlook-for-2026
– S&P Global, “Indonesian Adaro aluminum smelter to commission first production phase by end-2025”: https://www.spglobal.com/energy/en/news-research/latest-news/energy-transition/032125-indonesian-adaro-aluminum-smelter-to-commission-first-production-phase-by-end-2025
– Discovery Alert, “Key Takeaways from Indonesia’s Aluminum Forum 2025”: https://discoveryalert.com.au/news/indonesia-aluminum-forum-2025-growth-market-shifts/
– Discovery Alert, “Chinese Aluminum Expansion Transforms Indonesia’s Industrial Landscape”: https://discoveryalert.com.au/chinese-strategic-expansion-indonesia-aluminum-2025/
– International Aluminium Institute, “Report Reveals Global Aluminium Demand To Reach New Highs”: https://international-aluminium.org/report-reveals-global-aluminium-demand-to-reach-new-highs-after-covid/
– The Aluminum Association, “Auto Aluminum Growth in an Era of Electrification”: https://www.aluminum.org/auto-aluminum-growth-era-electrification
– Dialogue Earth, “Indonesia gambles on bauxite mining”: https://dialogue.earth/en/pollution/indonesia-gambles-bauxite/
– Dialogue Earth, “Coal extraction in Indonesia is driving deforestation”: https://dialogue.earth/en/forests/coal-extraction-in-indonesia-is-driving-deforestation/
– MINING.com, “Indonesia accounts for over 50% of deforestation caused by large-scale mining”: https://www.mining.com/indonesia-accounts-for-over-50-of-deforestation-caused-by-large-scale-mining/
– PNAS, *A pantropical assessment of deforestation caused by industrial mining*: https://www.pnas.org/doi/10.1073/pnas.2118273119
– Chain Reaction Research, “Several Large Indonesian Palm Oil Companies Also Have Risky Mining Businesses”: https://chainreactionresearch.com/report/indonesian-palm-oil-mining-deforestation/
– The Jakarta Post, “Inalum to focus on aluminum smelting after MIND ID spin-off”: https://www.thejakartapost.com/opinion/2023/04/05/analysis-inalum-to-focus-on-aluminum-smelting-after-mind-id-spin-off.html
– Inalum: https://www.inalum.id/en
– MIND ID, History: https://mind.id/en/pages/history
– Indonesia Miner, “Inalum Increases Aluminium Production Capacity”: https://indonesiaminer.com/news/detail/2023-11-22141413-inalum-increases-aluminium-production-capacity
– Indonesia Miner, “Adaro Minerals Unit Targets Aluminium Smelter Start-up by End of 2025”: https://indonesiaminer.com/news/detail/adaro-minerals-unit-targets-aluminium-smelter-start-up-by-end-of-2025
– HP Carbon Machine, “Inalum Aluminum Industry in Indonesia continues to expand”: https://www.hpcarbonmachine.com/news/inalum-aluminum-industry-in-indonesia-continues-to-expand/
– Asianmetal / INALUM, *Indonesia Aluminium Industry Growth* (presentation): https://www.asianmetal.com/Events_2024/2024ARMS/report/reporten5.pdf
– Carbon Credits, “Aluminum Prices Hit 3-Year High”: https://carboncredits.com/aluminum-prices-hit-3-year-high-is-it-the-next-key-metal-in-the-clean-energy-shift/
– Nox Metals, “Aluminum in Electric Vehicles: How the EV Transition Is Reshaping Demand”: https://noxmetals.co/blog/aluminum-ev-demand-trends
