Di awal abad ke-20, ketika listrik mulai menerangi kota-kota besar Amerika dan mesin-mesin pabrik menggantikan otot manusia dengan ritme besi yang monoton, seorang profesor dari Harvard duduk di depan meja kayunya dan mencoba memahami sesuatu yang tak bisa diukur oleh laboratorium: pengalaman religius manusia. Ia bukan pastor. Ia juga bukan nabi. William James adalah seorang psikolog, filsuf, sekaligus pengamat yang curiga pada segala bentuk kepastian. Dalam dunia yang mulai percaya bahwa sains dapat menjelaskan segalanya, James justru menoleh pada wilayah yang paling sulit dijelaskan: rasa gentar di hadapan Tuhan, bisikan batin ketika seseorang merasa diselamatkan, kesepian seorang mistikus, dan kegembiraan aneh ketika seseorang merasa “lahir kembali”.
Buku The Varieties of Religious Experience, yang terbit pada 1902, bukan kitab teologi. Ia lebih mirip perjalanan panjang melewati lorong-lorong jiwa manusia. James tidak bertanya apakah agama itu benar atau salah. Ia bertanya: apa yang sebenarnya terjadi pada manusia ketika ia mengalami agama?
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tapi di sanalah seluruh kerumitan dimulai.
Agama, dalam pandangan James, bukan pertama-tama soal gereja, dogma, ritual, atau institusi. Ia tidak terlalu tertarik pada agama sebagai sistem sosial. Yang menarik baginya adalah pengalaman personal. Ia mendefinisikan agama sebagai “perasaan, tindakan, dan pengalaman manusia individual dalam kesendiriannya, sejauh mereka memahami dirinya berhubungan dengan sesuatu yang dianggap ilahi.”
Kata pentingnya di sini adalah “kesendirian”.
James tampaknya percaya bahwa pengalaman religius paling jujur justru terjadi ketika manusia sendirian. Bukan ketika ia berada dalam kerumunan massa yang berseru-seru, bukan pula ketika ia menghafal doktrin. Dalam kesendirian itu, manusia berhadapan dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri, sesuatu yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh bahasa.
Dan mungkin memang demikian. Sebab agama, sebelum menjadi institusi, mula-mula lahir sebagai getaran batin.
Kita bisa melihat bagaimana James mendekati tokoh-tokoh religius dengan cara yang nyaris seperti wartawan New Yorker menulis profil seorang eksentrik di Brooklyn: teliti, simpatik, tapi juga menjaga jarak. Ia mengutip surat, catatan harian, kesaksian orang-orang biasa, juga pengalaman para santo dan mistikus. Ia membaca mereka bukan sebagai orang suci yang harus disembah, melainkan sebagai manusia yang sedang mencoba memahami luka dan harapannya sendiri.
Di tangan James, agama menjadi sesuatu yang sangat manusiawi.
Ia tertarik pada orang-orang yang merasa hidupnya retak. Mereka yang depresi, cemas, putus asa, lalu tiba-tiba mengalami semacam pencerahan. Ada sesuatu yang modern dalam cara James melihat pengalaman religius. Ia tidak menertawakan orang yang mendengar suara Tuhan. Tapi ia juga tidak buru-buru menyebutnya mukjizat. Ia menempatkan pengalaman religius di wilayah abu-abu antara psikologi dan metafisika.
Dan justru di situlah buku ini terasa hidup sampai sekarang.
James membedakan dua tipe jiwa manusia: healthy-minded dan sick soul. Yang pertama adalah mereka yang memandang hidup dengan optimisme. Mereka percaya dunia pada dasarnya baik. Dalam tradisi Amerika, tipe ini mudah ditemukan dalam khotbah-khotbah motivasional, gerakan self-help, atau spiritualitas yang penuh afirmasi positif. Dunia dianggap tempat yang masuk akal. Kejahatan hanyalah gangguan sementara.
Tapi James tampaknya lebih tertarik pada tipe kedua: jiwa yang sakit.
Mereka adalah orang-orang yang melihat dunia sebagai tempat yang retak. Mereka sadar hidup penuh penderitaan, kematian, kehilangan, absurditas. Dalam kelompok ini, James memasukkan tokoh seperti Leo Tolstoy yang pernah mengalami krisis eksistensial hebat. Tolstoy, meskipun terkenal dan kaya, tiba-tiba merasa hidupnya tak berarti. Ia dihantui pertanyaan sederhana: untuk apa semua ini?
Pertanyaan semacam itu terdengar akrab bagi manusia modern.
Mungkin sebab itu buku James terasa seperti ditulis bukan untuk abad ke-20, melainkan untuk zaman ketika orang-orang mengalami kecemasan diam-diam di kamar apartemen kecil sambil menatap layar ponsel. Kita hidup di era yang penuh informasi tapi miskin makna. Orang tahu cara meningkatkan produktivitas, tapi tak tahu mengapa harus terus produktif. Di tengah dunia seperti itu, James tampak relevan kembali.
Sebab ia memahami bahwa manusia bukan sekadar makhluk rasional.
Ada bagian dalam diri manusia yang lapar akan makna, bahkan ketika logika tak mampu memberikannya.
James menulis tentang pertobatan dengan cara yang menarik. Baginya, pertobatan bukan sekadar perubahan keyakinan intelektual. Ia adalah reorganisasi energi jiwa. Seseorang yang tercerai-berai mendadak menemukan pusat baru dalam dirinya. Ada momen ketika hidup yang semula terasa kacau tiba-tiba menjadi utuh.
Dalam banyak kisah religius, momen itu muncul seperti kilat.
Saulus jatuh dari kuda dan menjadi Paulus. Agustinus mendengar suara anak kecil berkata, “Ambillah dan bacalah.” Seorang pecandu alkohol mendadak merasa disentuh rahmat dan berhenti minum. James tidak menolak kisah-kisah itu sebagai ilusi. Tapi ia juga tidak sibuk membuktikan bahwa Tuhan benar-benar turun tangan. Yang penting baginya adalah efek psikologisnya: manusia berubah.
Dan perubahan itu nyata.
Di sini James tampak sangat pragmatis. Sebagai filsuf pragmatisme, ia percaya nilai suatu keyakinan dapat dilihat dari akibatnya dalam kehidupan nyata. Jika sebuah pengalaman religius membuat seseorang lebih kuat, lebih damai, lebih mampu menghadapi hidup, maka pengalaman itu memiliki kebenaran praktis.
Bukan kebenaran metafisik mutlak. Tapi kebenaran yang bekerja.
Ini mungkin bagian paling kontroversial dari pemikiran James. Ia tidak terlalu peduli apakah Tuhan “benar-benar ada” dalam pengertian filosofis yang ketat. Ia lebih tertarik pada apa yang terjadi ketika seseorang percaya pada Tuhan.
Agama, dengan kata lain, dinilai dari daya hidupnya.
Pendekatan semacam ini membuat James dicintai sekaligus dicurigai. Kaum religius menganggapnya terlalu psikologis. Kaum ilmuwan menganggapnya terlalu lunak terhadap mistisisme. Tapi mungkin justru karena itulah bukunya bertahan. Ia tidak sepenuhnya berada di pihak mana pun.
Ia seperti seseorang yang duduk di tepi sungai, memperhatikan arus tanpa tergesa-gesa menyimpulkan.
Salah satu bagian paling indah dalam buku itu adalah pembahasan tentang mistisisme. James menyebut pengalaman mistik memiliki empat ciri: tak terlukiskan, bersifat intuitif, sementara, dan pasif. Pengalaman itu sulit dijelaskan dengan bahasa biasa. Orang yang mengalaminya merasa memperoleh pengetahuan mendalam, meskipun tak bisa membuktikannya secara logis.
Kita mungkin pernah mengalami versi kecil dari itu.
Barangkali manusia, di berbagai tempat dan zaman, memang sama-sama mencari sesuatu yang tak bisa sepenuhnya mereka sebutkan.
Namun James juga sadar agama memiliki sisi gelap. Ia tahu fanatisme ada. Ia tahu agama dapat melahirkan kekerasan, histeria massa, bahkan kegilaan. Tapi ia membedakan antara pengalaman religius yang otentik dan institusi yang membeku menjadi kekuasaan.
Ada semacam skeptisisme lembut dalam dirinya.
Ia tidak percaya pada agama yang terlalu yakin.
Dalam banyak hal, James tampak seperti intelektual modern yang diam-diam iri pada orang-orang beriman. Ia tahu rasionalitas penting. Tapi ia juga sadar logika tak selalu cukup untuk menopang hidup manusia. Ada saat ketika manusia membutuhkan lompatan iman, meski tak bisa membuktikan apa pun.
Di sinilah buku James terasa sangat Amerika sekaligus sangat universal.
Amerika pada masa James adalah negeri yang sedang mabuk optimisme. Industrialisasi melaju cepat. Kapitalisme berkembang. Tapi di balik kemajuan itu ada kekosongan spiritual. Orang mulai kehilangan pegangan lama. James menulis di tengah perubahan besar itu, dan bukunya seperti upaya memahami bagaimana manusia tetap mencari makna ketika dunia berubah terlalu cepat.
Hari ini, lebih dari seabad kemudian, situasinya terasa anehnya mirip.
Kita hidup di zaman algoritma, kecerdasan buatan, terapi digital, dan ekonomi perhatian. Tapi kecemasan tetap ada. Orang masih merasa kesepian. Masih bertanya tentang tujuan hidup. Masih mencari pengalaman yang membuat hidup terasa nyata.
Dan mungkin itulah sebabnya The Varieties of Religious Experience belum usang. Ia bukan buku tentang agama dalam arti sempit. Ia buku tentang manusia yang mencoba bertahan dari kehampaan.
Dalam salah satu bagian, James menulis bahwa alam bawah sadar mungkin menjadi pintu masuk pengalaman religius. Gagasan ini terdengar biasa sekarang, setelah Freud dan Jung. Tapi pada zamannya, itu radikal. James membuka kemungkinan bahwa kesadaran manusia jauh lebih luas daripada yang tampak di permukaan.
Manusia, dalam pandangannya, bukan mesin rasional yang stabil. Kita adalah makhluk berlapis-lapis, penuh dorongan tersembunyi, ketakutan, harapan, dan pengalaman yang kadang muncul tanpa bisa dijelaskan.
Ada sesuatu yang puitik dalam cara James melihat jiwa manusia.
Ia tidak menyederhanakannya menjadi rumus ilmiah. Tapi ia juga tidak menyerah pada mistik murahan. Ia berdiri di tengah, mencoba jujur pada kompleksitas pengalaman manusia.
Mungkin karena itu membaca James terasa seperti mendengar seseorang berpikir keras dengan tulus.
Bukan khotbah. Bukan propaganda. Tapi pencarian.
Dan pencarian itu terasa penting di zaman sekarang, ketika orang cenderung terjebak dalam dua kubu ekstrem: mereka yang percaya agama harus diterima mentah-mentah, dan mereka yang menganggap agama sekadar ilusi biologis. James menawarkan jalan lain. Ia tidak memaksa kita percaya. Ia hanya meminta kita memperhatikan pengalaman manusia dengan serius.
Kadang itu sudah cukup radikal.
Sebab modernitas sering membuat manusia malu mengakui kebutuhan spiritualnya. Kita diajarkan menjadi efisien, produktif, rasional. Tapi rasa kagum, takut, takjub, atau pengalaman akan misteri tetap muncul diam-diam. Orang mungkin tak lagi pergi ke gereja, tapi mereka mencari makna lewat meditasi, yoga, konser musik, komunitas fandom, bahkan perjalanan jauh ke pegunungan.
Kebutuhan dasarnya tetap sama: ingin merasa terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.
James memahami itu jauh sebelum istilah “krisis makna” menjadi populer.
Dan mungkin warisan terpenting buku ini bukanlah teori tentang agama, melainkan kerendahan hati intelektualnya.
James tahu manusia tidak sepenuhnya memahami dirinya sendiri. Ia tahu ada wilayah pengalaman yang tak bisa direduksi menjadi data statistik.
Di tengah zaman yang obsesif pada kepastian, sikap semacam itu terasa langka.
Kita hidup dalam budaya yang ingin segala sesuatu segera diberi label: benar atau salah, ilmiah atau irasional, progresif atau konservatif. James menolak kesederhanaan semacam itu. Ia memilih mendengarkan cerita manusia satu per satu, dengan segala kontradiksinya.
Ada kualitas sastra dalam pendekatannya.
Ia menulis filsafat seperti seseorang yang sedang mendengarkan pengakuan di kereta malam.
Dan mungkin karena itu The Varieties of Religious Experience bertahan bukan hanya sebagai karya akademik, melainkan sebagai buku yang terus dibaca orang-orang yang sedang mencari sesuatu. Tidak selalu Tuhan. Kadang hanya makna.
Kadang hanya alasan untuk bangun esok pagi.
Di⁰i akhir buku, James tidak memberi jawaban final. Ia tidak menyimpulkan bahwa agama pasti benar. Ia juga tidak mengatakan semua pengalaman mistik hanyalah gangguan psikologis. Ia membiarkan pertanyaan tetap terbuka.
Mungkin karena hidup sendiri memang terbuka.
Dan di situlah kekuatan buku ini: ia tidak mencoba menutup misteri manusia terlalu cepat.
Momen ketika mendengar musik tertentu lalu merasa dunia tiba-tiba terbuka. Atau ketika berdiri di depan laut saat malam dan mendadak merasa diri begitu kecil sekaligus begitu terhubung dengan sesuatu yang luas. James tampaknya percaya bahwa pengalaman religius tumbuh dari wilayah semacam itu: pengalaman yang melampaui bahasa.
Menariknya, James tidak menganggap pengalaman mistik monopoli agama tertentu. Ia menemukan pola serupa dalam Kristen, Islam, Hindu, Buddhisme. Di sini ia tampak mendahului zamannya. Ia melihat bahwa inti pengalaman religius sering kali lebih universal dibanding doktrin yang membungkusnya.