Pada suatu malam yang mungkin terlalu sunyi untuk ukuran kota modern, Rudolf Otto duduk memikirkan sesuatu yang nyaris tak bisa dipikirkan. Ia bukan sedang memikirkan Tuhan dalam pengertian gereja, bukan pula dogma yang dibangun para teolog dengan batu bata logika. Yang ingin disentuh Otto justru sesuatu yang lebih tua dari agama, lebih liar dari sistem moral, dan lebih dalam dari bahasa. Sesuatu yang, ketika muncul, membuat manusia menggigil tanpa tahu sebabnya. Sesuatu yang membuat orang merasa kecil, terlempar, terpaku, sekaligus tertarik mendekat. Dalam The Idea of the Holy, buku yang terbit pada 1917 itu, Otto menyebut pengalaman tersebut sebagai the numinous. Yang-numinus. Yang menggetarkan.
Kata itu terdengar seperti kabut.
Dan memang demikianlah ia bekerja.
Ada banyak buku tentang agama yang mencoba menjelaskan Tuhan seperti seorang guru matematika menjelaskan rumus. Otto tidak. Ia justru memulai dari pengakuan bahwa ada bagian dalam pengalaman religius yang tidak bisa dijinakkan oleh konsep-konsep rasional. Bagian itu bukan sekadar “percaya kepada Tuhan”. Sebab percaya adalah urusan pikiran, sementara yang dibicarakan Otto adalah pengalaman yang datang sebelum pikiran sempat menyusun kalimat. Sejenis ledakan batin. Sejenis keterperanjatan purba.
Mungkin seperti Musa di depan semak yang menyala. Mungkin seperti seorang peziarah Jawa yang tiba-tiba menangis di makam Sunan Kalijaga tanpa tahu kenapa. Mungkin seperti seseorang yang berdiri sendirian di tengah laut malam dan mendadak merasa dunia terlalu besar untuk dipahami.
Otto menolak reduksi agama menjadi sekadar etika. Ini penting. Sebab sejak Pencerahan Eropa, agama perlahan-lahan dipreteli dari misterinya. Agama dipuji sejauh ia mengajarkan moralitas, ketertiban sosial, dan kebajikan universal. Tuhan menjadi semacam kepala sekolah kosmis yang mengawasi perilaku manusia. Dalam dunia modern, terutama setelah Immanuel Kant, agama semakin sering dibaca sebagai sistem akal budi praktis.
Otto merasa ada sesuatu yang hilang dari proses itu.
Yang hilang adalah rasa gentar.
Ia menulis bahwa inti pengalaman religius bukan pertama-tama “yang baik”, melainkan “yang kudus”. Dan yang kudus bukan kategori moral. Ia bukan sekadar lawan dari dosa. Yang kudus adalah sesuatu yang sama sekali lain, wholly other, sesuatu yang berada di luar jangkauan pengalaman biasa manusia.
Dalam bahasa Otto yang terkenal, pengalaman religius adalah mysterium tremendum et fascinans.
Sebuah misteri yang menggentarkan sekaligus memikat.
Kalimat Latin itu seperti mantra. Dan mungkin memang dimaksudkan begitu.
“Tremendum” adalah rasa takut yang bukan takut biasa. Bukan takut pada pencuri, bukan takut gagal ujian, bukan takut kehilangan uang. Ini rasa takut eksistensial. Ketika manusia menyadari dirinya rapuh di hadapan sesuatu yang tak terukur. Ketika Nabi Yesaya berkata, “Celakalah aku!” setelah melihat kemuliaan Tuhan, di situlah tremendum bekerja. Ketika orang Jawa menyebut suatu tempat wingit, ada gema kecil dari pengalaman yang sama.
Tetapi mysterium itu sekaligus fascinans. Ia menarik manusia mendekat. Ada daya pikat yang aneh dalam yang kudus. Orang bisa gemetar di hadapan Tuhan, tetapi juga merindukan-Nya. Seperti ngengat yang mendekati api.
Di sinilah Otto menarik garis besar yang kelak memengaruhi hampir seluruh studi agama modern. Ia mengatakan bahwa pengalaman religius tidak dapat dipahami hanya lewat rasio karena ia pada dasarnya non-rasional. Bukan irasional, bukan anti-akal, melainkan melampaui kategori akal.
Kata “non-rasional” sering disalahpahami. Otto tidak sedang mengajak orang meninggalkan logika lalu tenggelam dalam kabut mistik murahan. Ia hanya ingin mengatakan bahwa ada wilayah pengalaman manusia yang tak bisa sepenuhnya diterjemahkan ke dalam konsep. Sama seperti cinta tidak habis dijelaskan oleh biologi hormon. Sama seperti musik Bach tidak selesai dipahami lewat teori akustik.
Ada sesuatu yang tersisa.
Dan sisa itulah yang dianggap Otto sebagai pusat agama.
Membaca The Idea of the Holy hari ini terasa seperti mendengar suara dari dunia yang sudah lama dikalahkan modernitas. Dunia kita sekarang begitu terobsesi pada penjelasan. Semua harus bisa diukur, dihitung, diprediksi, diverifikasi. Bahkan spiritualitas pun sering dipasarkan seperti aplikasi kesehatan mental: meditasi untuk produktivitas, yoga untuk kualitas tidur, doa untuk stabilitas emosi.
Yang sakral direduksi menjadi fungsi.
Otto menolak semua itu.
Baginya, pengalaman religius justru dimulai ketika fungsi runtuh. Ketika manusia berhenti merasa menguasai dunia. Ketika bahasa tersendat. Ketika seseorang tiba-tiba sadar bahwa realitas lebih besar dari dirinya.
Mungkin karena itu buku Otto terasa sangat relevan di abad ke-21, justru ketika agama sering berubah menjadi identitas politik atau komoditas industri motivasi. Kita hidup dalam zaman yang aneh: agama ada di mana-mana, tetapi rasa takjub semakin langka. Orang berdebat tentang Tuhan sepanjang hari di media sosial, tetapi sedikit sekali yang sungguh merasa berhadapan dengan misteri.
Padahal Otto berbicara tentang sesuatu yang nyaris biologis dalam diri manusia. Ia percaya bahwa kapasitas mengalami yang numinus adalah bagian mendasar dari kesadaran manusia. Seperti rasa estetis. Seperti kemampuan menangis mendengar musik.
Karena itu, pengalaman religius tidak selalu muncul di rumah ibadah. Ia bisa datang di gunung, di laut, di kamar sunyi, bahkan dalam bencana. Ada momen ketika dunia sehari-hari tiba-tiba retak, dan dari celah retakan itu muncul sesuatu yang tak bisa dinamai.
Dalam tradisi Islam, mungkin pengalaman itu dekat dengan konsep haibah, rasa gentar di hadapan keagungan Ilahi. Dalam tradisi Hindu, ia mungkin bergaung dalam pengalaman darshan ketika seseorang merasa “dilihat” oleh yang ilahi. Dalam mistisisme Kristen, ia muncul pada Santa Teresa dari Ávila yang menggambarkan ekstase religius sebagai luka yang manis sekaligus menyakitkan.
Otto tertarik pada pola universal ini.
Namun ia juga sadar bahwa pengalaman religius tidak tinggal dalam bentuk mentahnya. Lama-kelamaan manusia mencoba menjinakkannya lewat simbol, ritual, teologi, dan institusi. Agama resmi lahir dari upaya memberi bentuk pada pengalaman yang pada dasarnya liar.
Di titik ini, The Idea of the Holy bukan hanya buku teologi. Ia juga semacam antropologi kesadaran manusia.
Sebab Otto melihat bahwa manusia adalah makhluk yang terus-menerus mencoba menafsirkan ketergetarannya sendiri.
Dan bukankah sejarah kebudayaan memang bisa dibaca seperti itu?
Candi-candi dibangun karena manusia merasa ada sesuatu yang terlalu besar untuk dibiarkan tanpa bentuk. Musik gereja diciptakan karena kata-kata biasa tidak cukup. Puisi sufistik lahir karena bahasa literal gagal menampung pengalaman batin. Bahkan filsafat mungkin bermula dari rasa takjub yang sama.
Tetapi modernitas perlahan mengikis ruang bagi rasa takjub itu.
Max Weber, sezaman dengan Otto, menyebut dunia modern sebagai dunia yang mengalami disenchantment, kehilangan pesona. Alam tidak lagi dihuni roh atau misteri; ia menjadi objek kalkulasi. Hutan adalah data ekonomi. Sungai adalah sumber energi. Langit malam adalah kumpulan partikel fisika.
Di tengah dunia yang makin terukur itu, Otto datang seperti seseorang yang mengetuk pintu dan berkata: tunggu dulu, manusia tidak hidup hanya dengan rasio.
Ada bagian dalam diri manusia yang membutuhkan kekagetan.
Dan tanpa itu, agama berubah menjadi administrasi moral belaka.
Menarik bahwa Otto menulis bukunya pada masa Eropa sedang hancur oleh Perang Dunia I. Sebuah zaman ketika keyakinan pada rasionalitas modern mulai retak. Peradaban yang mengklaim dirinya paling maju ternyata mampu menciptakan pembantaian industri dalam skala yang belum pernah ada sebelumnya. Mesin, sains, birokrasi, nasionalisme: semua alat modernitas bersatu menghasilkan kuburan massal.
Mungkin dalam konteks itulah Otto merasa perlu mengingatkan kembali dimensi non-rasional manusia. Sebab rasio ternyata tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan.
Tetapi Otto juga bukan romantikus anti-modern. Ia tidak meminta manusia kembali hidup dalam takhayul. Ia hanya menolak kesombongan rasionalisme yang mengira seluruh realitas dapat dimasukkan ke dalam kotak konsep.
Dalam hal ini, Otto memiliki kedekatan tertentu dengan para penyair.
Penyair tahu bahwa ada pengalaman yang hancur justru ketika dijelaskan terlalu terang. Ada hal-hal yang lebih tepat didekati dengan metafora, musik, jeda, atau keheningan. Yang kudus, bagi Otto, termasuk jenis pengalaman semacam itu.
Maka jangan heran bila The Idea of the Holy sering terasa lebih seperti karya sastra ketimbang risalah akademik. Otto berulang kali memakai gambaran, nuansa, dan sugesti. Ia sadar bahwa bahasa analitis punya batas.
Dan mungkin memang itu paradoks utama agama.
Bahwa manusia terus berbicara tentang sesuatu yang tak bisa sepenuhnya dibicarakan.
Di Indonesia, pembacaan Otto menjadi menarik karena masyarakat kita sebenarnya masih hidup dekat dengan pengalaman numinus, meski sering tak disadari. Orang masih percaya pada tempat keramat, malam tertentu, firasat, aura, atau kekuatan gaib. Modernitas datang, tetapi tidak sepenuhnya menghapus lapisan kesadaran lama.
Kadang itu muncul dalam bentuk yang banal. Orang kota yang sangat rasional di siang hari bisa mendadak takut melewati pohon besar tengah malam. Seorang pejabat yang bicara soal investasi digital tetap mencari hari baik untuk menikahkan anaknya. Bahkan politik modern sering diam-diam meminjam energi sakral: massa berkumpul seperti ritual, tokoh dipuja seperti figur mesianik.
Otto membantu kita melihat bahwa semua itu bukan sekadar irasionalitas primitif. Ada kebutuhan mendalam dalam diri manusia untuk merasa terhubung dengan sesuatu yang melampaui dirinya.
Tentu kebutuhan itu bisa disalahgunakan. Sejarah penuh dengan manipulasi rasa sakral demi kekuasaan. Fasisme pun sering bekerja lewat aura numinus: simbol besar, ritual massa, pemimpin yang diperlakukan hampir seperti makhluk suci.
Otto sadar akan bahaya itu, tetapi ia tampaknya percaya bahwa menghapus dimensi sakral dari hidup manusia justru lebih berbahaya. Sebab manusia yang kehilangan rasa hormat pada misteri bisa berubah menjadi makhluk yang merasa dirinya pusat alam semesta.
Dan mungkin itulah penyakit modern terbesar.
Bukan ateisme.
Melainkan kesombongan.
Kesombongan bahwa manusia dapat mengendalikan segalanya.
Padahal pandemi, perang, gempa bumi, dan kematian terus mengingatkan betapa rapuhnya kita.
Pada akhirnya, The Idea of the Holy bukan buku yang memberi jawaban final tentang Tuhan. Bahkan Otto tampaknya tidak terlalu tertarik pada definisi Tuhan dalam arti dogmatis. Yang ia kejar adalah pengalaman batas: titik ketika manusia bersentuhan dengan sesuatu yang membuatnya sadar bahwa realitas lebih luas daripada dunia sehari-hari.
Pengalaman itu bisa melahirkan agama. Bisa melahirkan seni. Bisa melahirkan filsafat. Kadang juga melahirkan keheningan.
Dan mungkin di situlah inti buku Otto yang paling penting: bahwa manusia bukan hanya homo sapiens, makhluk berpikir. Ia juga makhluk yang gemetar.
Makhluk yang, di suatu malam tertentu, dapat tiba-tiba merasa kecil di bawah langit, lalu diam-diam memahami bahwa tidak semua hal harus diterangkan untuk menjadi nyata.