Di sebuah zaman ketika agama sering hadir sebagai spanduk, slogan, dan pekik kemenangan, Karen Armstrong datang dengan suara yang hampir berlawanan arah. Ia tidak berbicara seperti pendeta yang hendak mempertahankan iman, juga bukan seperti ilmuwan yang ingin membongkar agama sampai tinggal kerangka biologisnya. Dalam A History of God, ia justru bergerak seperti seorang pengelana tua yang sabar, berjalan dari padang pasir Ibrahim sampai lorong-lorong modernitas Barat, sambil bertanya dengan tenang: sebenarnya apa yang dicari manusia ketika ia menyebut nama Tuhan?
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi justru di situlah daya ledaknya. Sebab sepanjang sejarah, manusia lebih sering bertengkar tentang Tuhan ketimbang bertanya mengapa gagasan tentang Tuhan terus bertahan. Armstrong melihat bahwa ide tentang Tuhan bukan benda mati. Ia berubah, bergerak, menyesuaikan diri dengan ketakutan, kebutuhan, dan imajinasi manusia. Tuhan dalam sejarah bukan monumen batu. Ia lebih mirip sungai.
Dan seperti sungai, ia kadang jernih, kadang keruh.
Membaca A History of God terasa seperti memasuki perpustakaan besar yang lampunya remang-remang. Di sana ada nabi-nabi Yahudi yang marah kepada penyembahan berhala, ada para teolog Kristen yang mencoba menjelaskan Trinitas dengan bahasa filsafat Yunani, ada para sufi Islam yang berbicara tentang cinta ilahiah dengan nada puisi, dan ada pula para pemikir modern yang perlahan mulai bertanya apakah Tuhan memang masih diperlukan.
Armstrong tidak sedang menulis sejarah agama dalam pengertian kronologi semata. Ia lebih dekat kepada seorang arkeolog batin. Yang ia gali bukan hanya peristiwa, melainkan perubahan kesadaran manusia.
Barangkali itu sebabnya buku ini terasa berbeda dibanding banyak buku agama populer lain. Ia tidak tergesa-gesa menawarkan jawaban. Ia justru memperlihatkan bagaimana jawaban-jawaban lama lahir dari kecemasan zamannya masing-masing.
Kita bisa mulai dari satu hal penting yang menjadi inti buku itu: Tuhan bukan konsep yang statis.
Dalam tradisi Yahudi awal, Tuhan tampil keras, tribal, dekat dengan peperangan dan tanah perjanjian. Ia adalah Tuhan sebuah bangsa kecil yang hidup di tengah ancaman kerajaan besar. Tetapi setelah bangsa Yahudi mengalami pembuangan di Babilonia, gambaran tentang Tuhan berubah. Penderitaan memaksa refleksi. Tuhan tidak lagi sekadar pelindung suku, melainkan realitas yang melampaui sejarah politik.
Di titik itu, Armstrong memperlihatkan sesuatu yang sering dilupakan para fundamentalis modern: agama berkembang justru melalui krisis. Bukan melalui kepastian.
Hal serupa terjadi dalam Kekristenan. Ketika Yesus wafat, para pengikutnya tidak otomatis memiliki doktrin mapan tentang siapa dirinya. Perdebatan berlangsung berabad-abad. Konsili demi konsili diadakan. Kata demi kata dipertengkarkan. Apakah Kristus sepenuhnya manusia? Sepenuhnya Tuhan? Bagaimana menjelaskan Trinitas tanpa jatuh pada politeisme?
Hari ini, banyak orang mengira doktrin agama turun utuh dari langit. Armstrong menunjukkan bahwa kenyataannya jauh lebih manusiawi. Ada politik, ada filsafat, ada perebutan otoritas, ada ketakutan akan perpecahan.
Tetapi justru karena itu agama menjadi menarik. Ia bukan benda steril. Ia lahir dari pergulatan.
Dalam bagian tentang Islam, Armstrong tampak paling hangat. Ia menulis tentang Nabi Muhammad bukan sebagai tokoh eksotis Timur, melainkan sebagai pemimpin spiritual yang mencoba membangun masyarakat etis di tengah kultur kesukuan Arab yang keras. Ia menunjukkan bagaimana Islam mula-mula memiliki vitalitas intelektual yang luar biasa. Di Baghdad, Cordoba, dan Kairo, para filsuf Muslim membaca Aristoteles, mengembangkan matematika, astronomi, kedokteran, dan metafisika.
Ada momen dalam buku itu ketika Armstrong membahas para sufi seperti Jalaluddin Rumi dan Ibn Arabi. Di sana, Tuhan tidak lagi dipahami sekadar hakim kosmis yang mengawasi dosa manusia. Tuhan menjadi pengalaman cinta yang nyaris tak terkatakan. Bahasa agama berubah menjadi puisi.
Dan mungkin memang di situlah agama mencapai bentuknya yang paling indah: ketika ia sadar bahwa Tuhan terlalu besar untuk dipenjara dalam definisi.
Tetapi sejarah juga bergerak ke arah lain. Modernitas datang seperti badai panjang. Revolusi ilmiah mengubah cara manusia memahami alam. Galileo memperlihatkan bahwa bumi bukan pusat semesta. Newton menggambarkan kosmos sebagai mesin raksasa yang berjalan menurut hukum matematis. Darwin kemudian mengguncang keyakinan tentang penciptaan manusia.
Di hadapan sains modern, Tuhan perlahan kehilangan wilayah kekuasaannya.
Yang menarik, Armstrong tidak melihat konflik agama dan sains sebagai duel sederhana antara terang dan gelap. Ia lebih subtil. Menurutnya, masalah muncul ketika agama mulai memaksakan diri menjadi semacam ilmu pengetahuan primitif. Ketika kitab suci dibaca seperti buku fisika. Ketika mitos diperlakukan sebagai laporan jurnalistik.
Padahal dalam tradisi kuno, mitos tidak dimaksudkan untuk menjelaskan fakta empiris. Ia adalah bahasa simbolik untuk memahami penderitaan, kematian, cinta, dan keterbatasan manusia.
Di titik ini, A History of God sebenarnya sedang berbicara kepada zaman kita sendiri. Sebab kita hidup di era yang aneh: teknologi berkembang luar biasa cepat, tetapi kemampuan manusia untuk memahami makna justru sering tampak menyusut.
Kita bisa mengirim pesan ke belahan bumi lain dalam hitungan detik, tetapi tetap merasa kesepian.
Kita bisa memetakan genom manusia, tetapi tidak tahu bagaimana menghadapi kehilangan.
Kita punya data, statistik, algoritma, tetapi kegelisahan eksistensial tetap tinggal.
Dan di ruang kosong itulah pertanyaan tentang Tuhan terus muncul.
Armstrong tampaknya tidak terlalu tertarik membuktikan apakah Tuhan “ada” dalam pengertian ilmiah. Baginya, pertanyaan itu sendiri mungkin terlalu sempit. Tuhan, dalam sejarah panjang peradaban manusia, lebih sering berfungsi sebagai cara untuk menghadapi misteri kehidupan.
Di sini kita teringat pada Catatan Pinggir Goenawan Mohamad yang sering bergerak dari detail kecil menuju renungan besar. Sebuah kata, sebuah kejadian sederhana, lalu perlahan membuka lapisan-lapisan makna. Armstrong bekerja dengan cara serupa. Ia tidak memukul pembaca dengan tesis tunggal. Ia membiarkan sejarah berbicara perlahan.
Dan seperti banyak tulisan New Yorker yang baik, buku ini hidup justru karena nuansa. Ia tidak tergoda menjadi manifesto.
Mungkin itu yang membuat A History of God tetap relevan. Di tengah dunia yang semakin bising oleh kepastian ideologis, Armstrong menawarkan keraguan yang produktif. Ia mengingatkan bahwa tradisi agama besar lahir bukan dari jawaban mutlak, melainkan dari pencarian tanpa akhir.
Ada satu gagasan penting lain dalam buku itu: manusia menciptakan bahasa tentang Tuhan sesuai kapasitas zamannya.
Ketika hidup dikelilingi padang pasir dan peperangan, Tuhan tampil sebagai penguasa suku yang kuat. Ketika filsafat Yunani berkembang, Tuhan menjadi prinsip metafisis. Ketika mistisisme tumbuh, Tuhan berubah menjadi pengalaman cinta batin. Ketika modernitas datang, Tuhan mulai dipertanyakan seperti hipotesis ilmiah.
Dengan kata lain, sejarah tentang Tuhan juga sejarah tentang manusia.
Dan mungkin itulah inti terdalam buku Armstrong.
Bahwa ketika manusia berbicara tentang Tuhan, sesungguhnya ia sedang berbicara tentang dirinya sendiri: tentang rasa takutnya pada kematian, kerinduannya pada keadilan, keinginannya untuk dicintai, dan usahanya memahami dunia yang terlalu besar.
Tetapi apakah itu berarti Tuhan hanya ilusi psikologis?
Armstrong tampaknya sengaja tidak memberi jawaban final. Ia lebih tertarik menunjukkan bahwa bahkan ateisme modern pun tetap bergerak dalam kerangka religius tertentu. Banyak kritik terhadap Tuhan sebenarnya ditujukan kepada gambaran Tuhan yang sempit: Tuhan penghukum, Tuhan polisi moral, Tuhan mesin penjawab doa.
Nietzsche memproklamasikan “Tuhan telah mati,” tetapi yang mati mungkin memang Tuhan versi abad pertengahan. Bukan seluruh pengalaman spiritual manusia.
Di sini Armstrong dekat dengan tradisi mistik dari berbagai agama yang percaya bahwa Tuhan tak pernah sepenuhnya bisa dijelaskan. Dalam Islam ada konsep tanzih: Tuhan tak serupa dengan apa pun. Dalam Yudaisme, nama Tuhan bahkan dianggap terlalu suci untuk diucapkan. Dalam tradisi Kristen negatif, Tuhan justru dipahami lewat apa yang tidak bisa dikatakan tentang-Nya.
Ada paradoks menarik di sana: semakin serius seseorang mencari Tuhan, semakin ia sadar bahwa Tuhan melampaui bahasa.
Tetapi dunia modern tidak sabar terhadap paradoks. Kita hidup dalam budaya yang menuntut jawaban cepat. Media sosial mempercepat semuanya menjadi slogan. Agama pun sering direduksi menjadi identitas politik. Orang lebih sibuk membela simbol ketimbang merawat kedalaman spiritual.
Armstrong tampaknya sedih terhadap kecenderungan itu. Ia melihat fundamentalisme modern, baik di Barat maupun Timur, sebagai gejala ketakutan menghadapi dunia yang berubah terlalu cepat. Ketika modernitas terasa mengancam, sebagian orang mencari kepastian mutlak dalam tafsir agama yang kaku.
Padahal sejarah agama justru penuh perubahan.
Ironisnya, mereka yang paling keras mengklaim mempertahankan “agama asli” sering kali lupa bahwa tradisi selalu bergerak.
Di Indonesia, pembacaan terhadap buku seperti A History of God menjadi penting karena kita sering terjebak dalam dua kutub dangkal: religiusitas formal dan sinisme sekuler. Yang satu sibuk pada ritual tanpa refleksi, yang lain menertawakan agama tanpa memahami kompleksitas sejarahnya.
Padahal kehidupan manusia tidak sesederhana itu.
Seseorang bisa modern sekaligus spiritual. Bisa kritis tanpa kehilangan rasa takjub. Bisa religius tanpa menjadi fanatik.
Dan mungkin memang di situlah pelajaran terbesar dari Armstrong: kerendahan hati intelektual.
Bahwa tidak semua hal harus ditutup dengan kesimpulan final.
Bahwa iman dan keraguan kadang bukan musuh, melainkan dua cara berbeda menghadapi misteri.
Bahwa sejarah manusia bukan perjalanan lurus menuju kebenaran tunggal, melainkan percakapan panjang yang terus berubah.
Pada akhirnya, membaca A History of God terasa seperti duduk di tepi senja sambil mendengar seseorang bercerita tentang ribuan tahun pencarian manusia. Tidak semua cerita itu indah. Ada perang salib, inkuisisi, kekerasan sektarian, penindasan atas nama Tuhan. Tetapi ada juga puisi, belas kasih, musik, arsitektur, dan upaya tulus memahami makna hidup.
Agama, dalam sejarah manusia, selalu mengandung dua kemungkinan sekaligus: menjadi sumber kekerasan atau sumber welas asih. Dan pilihan itu tetap terbuka sampai hari ini.
Mungkin karena itu pertanyaan tentang Tuhan tak pernah benar-benar selesai. Ia muncul lagi dalam bentuk baru, di zaman baru, dengan bahasa baru. Kadang di masjid dan gereja, kadang di laboratorium, kadang di kamar sunyi ketika seseorang merasa hidupnya kehilangan arah.
Karen Armstrong tidak memberi kita Tuhan yang pasti. Ia memberi kita sejarah tentang pencarian.
Dan mungkin memang itu yang paling manusiawi.