
Di sebuah desa yang barangkali sudah hilang dari peta, atau mungkin tak pernah benar-benar ada selain dalam ingatan kolektif manusia, orang-orang dahulu percaya bahwa dunia tidak dimulai begitu saja. Ada titik pusat. Ada pohon besar. Ada gunung yang lebih tinggi dari gunung lain. Ada mata air yang tak sekadar mengalirkan air, melainkan juga waktu. Di sekitarnya hidup manusia, dan di luar lingkar itu terbentang kekacauan: hutan gelap, roh jahat, malam tanpa nama. Dunia belum menjadi “dunia” sebelum disentuh oleh yang sakral.
Mircea Eliade, sejarawan agama asal Rumania yang menghabiskan sebagian besar hidup intelektualnya di pengasingan, membuka The Sacred and the Profane dengan semacam kegelisahan sederhana: mengapa manusia kuno selalu membagi realitas ke dalam dua wilayah yang berbeda, yakni yang sakral dan yang profan? Mengapa ada ruang yang dianggap biasa saja, dan ada ruang lain yang membuat orang menunduk, melepas alas kaki, atau sekurang-kurangnya menahan suara?
Buku itu pertama kali terbit pada 1957, di tengah dunia modern yang sedang mabuk teknologi, perang dingin, dan janji kemajuan. Tetapi Eliade tampaknya justru bergerak ke arah sebaliknya. Ia menoleh ke belakang, ke dunia mitos, ke masyarakat tradisional, ke ritual-ritual yang oleh modernitas sering dianggap tak lebih dari sisa-sisa takhayul. Namun di tangan Eliade, semua itu bukan residu keterbelakangan. Itu adalah cara manusia memahami keberadaan.
Dan barangkali di situlah daya tarik buku ini tetap bertahan sampai hari ini: ia tidak sedang mengajak orang kembali menjadi primitif, melainkan memperlihatkan bahwa bahkan manusia modern yang merasa dirinya rasional tetap hidup dengan sisa-sisa kerinduan akan yang sakral.
Kita hidup di zaman yang mengukur hampir segala hal dengan fungsi. Sebuah rumah adalah properti. Sebuah jalan adalah akses. Sebuah pohon adalah oksigen atau komoditas kayu. Tetapi manusia purba, kata Eliade, tidak melihat dunia seperti itu. Dunia bagi mereka bukan benda netral. Dunia berbicara. Dunia penuh tanda.
Sebuah batu bisa menjadi pusat kosmos. Sebuah gua bisa menjadi mulut dunia bawah. Sebuah gunung bisa menjadi tangga menuju langit.
Yang sakral, dalam pengertian Eliade, bukan semata-mata soal agama formal. Ia bukan hanya gereja, kitab suci, atau upacara liturgi. Yang sakral adalah pengalaman tentang sesuatu yang sepenuhnya lain, sesuatu yang memutus aliran keseharian dan menghadirkan rasa gentar sekaligus kagum. Rudolf Otto pernah menyebutnya mysterium tremendum et fascinans: misteri yang menakutkan sekaligus memikat. Eliade mengambil gagasan itu, lalu membawanya lebih jauh ke dalam antropologi kebudayaan.
Ia memakai istilah hierophany: penampakan yang sakral. Ketika sesuatu yang biasa tiba-tiba menjadi jendela menuju sesuatu yang melampaui dirinya. Sebatang pohon tetaplah pohon, tetapi pada saat yang sama ia menjadi simbol kehidupan kosmis. Sebuah batu tetaplah batu, tetapi juga menjadi tempat berdiam para dewa.
Modernitas cenderung menertawakan cara pandang seperti ini. Kita menganggapnya animisme, fetisisme, atau sekadar proyeksi psikologis. Namun Eliade tampaknya ingin mengatakan bahwa manusia tidak pernah benar-benar hidup hanya dalam dunia material. Kita selalu membutuhkan makna yang lebih dalam daripada sekadar kegunaan.
Maka ruang, bagi manusia religius, tidak homogen. Ada ruang yang biasa, ada ruang yang “terbuka.” Ketika Musa melihat semak yang menyala tetapi tak terbakar, tanah di sekitarnya berubah. “Lepaskan kasutmu,” demikian suara dari dalam api itu, “sebab tempat engkau berdiri adalah tanah suci.” Yang berubah bukan geografinya, melainkan kualitas keberadaannya.
Dan manusia, sejak dahulu, selalu mencari titik seperti itu.
Di kota-kota modern, kita mungkin tak lagi membangun kuil di puncak gunung. Tetapi lihatlah bagaimana orang tetap mencari “pusat.” Monumen nasional, makam pahlawan, stadion sepak bola, kampus ternama, bahkan pusat perbelanjaan terbesar. Semua itu diam-diam bekerja sebagai semacam axis mundi modern, poros yang memberi orientasi psikologis pada hidup kolektif.
Bedanya, kita jarang mengakuinya.
Eliade menulis bahwa manusia religius hidup dalam kerinduan untuk tinggal sedekat mungkin dengan pusat dunia. Sebab pusat adalah tempat komunikasi antara langit, bumi, dan dunia bawah berlangsung. Dalam banyak kebudayaan, kuil dibangun sebagai tiruan gunung kosmis. Rumah pun didirikan mengikuti pola yang sama. Ada upaya terus-menerus untuk mengubah kekacauan menjadi kosmos.
Kosmos: sebuah kata Yunani yang berarti keteraturan.
Lawan dari kosmos bukan sekadar kekacauan fisik, melainkan ketidakbermaknaan.
Mungkin karena itu manusia takut pada ruang asing. Di luar batas desa terdapat hutan liar, wilayah tanpa hukum, tanpa nama. Sebelum ditempati, tanah harus “dikuduskan” terlebih dahulu. Harus ada ritual. Harus ada penandaan. Sebab tanpa itu manusia merasa hidup di tengah kekacauan.
Di titik ini Eliade seperti sedang membicarakan sesuatu yang lebih dalam daripada agama. Ia sedang berbicara tentang kebutuhan eksistensial manusia untuk merasa bahwa hidup ini memiliki struktur.
Tetapi modernitas datang dengan palu besar bernama sekularisasi. Tuhan perlahan dipensiunkan dari ruang publik. Alam semesta dijelaskan oleh fisika. Waktu menjadi linear. Sejarah menjadi progres. Dunia tak lagi penuh roh, melainkan penuh data.
Namun Eliade curiga: manusia modern tidak sungguh-sungguh berhasil membunuh yang sakral.
Ia hanya menyamarkannya.
Perhatikan bagaimana orang modern memperlakukan tanggal tertentu. Tahun baru, ulang tahun, hari kemerdekaan, final Piala Dunia. Ada semacam ritus pengulangan. Ada waktu-waktu yang dianggap berbeda dari hari biasa. Kita berdandan berbeda, berbicara berbeda, bahkan merasa berbeda.
Padahal, menurut jam mekanis, semua hari terdiri dari dua puluh empat jam yang sama.
Di sinilah salah satu gagasan paling menarik dari Eliade muncul: tentang waktu sakral.
Bagi manusia modern, waktu bergerak lurus. Kemarin lewat, hari ini hadir, besok menunggu. Tetapi bagi manusia tradisional, waktu religius bersifat siklik. Ritual bukan sekadar peringatan simbolik, melainkan pengulangan aktual atas peristiwa primordial. Ketika umat Kristen merayakan Paskah, misalnya, mereka bukan hanya mengenang kebangkitan Kristus; dalam pengertian religius, mereka masuk kembali ke dalam momen suci itu.
Demikian pula dalam banyak mitos kuno. Tahun baru sering dipahami sebagai penciptaan ulang dunia. Kekacauan lama dibersihkan. Kosmos diperbarui.
Manusia rupanya selalu ingin memulai lagi.
Dan bukankah itu juga yang kita lakukan sekarang, meskipun tanpa bahasa religius? Resolusi tahun baru, detox digital, pindah kota, memulai hubungan baru, mengganti identitas daring. Kita menciptakan ritual-ritual sekuler untuk memperoleh ilusi kelahiran kembali.
Barangkali modernitas tidak menghapus mitos. Ia hanya mengganti kostum mitos.
Eliade melihat bahwa bahkan orang yang mengaku ateis tetap membawa pola-pola religius dalam bawah sadar budaya mereka. Novel, film, ideologi politik, bahkan revolusi sosial sering bekerja seperti mitologi terselubung. Ada tokoh penyelamat, ada zaman keemasan, ada janji keselamatan kolektif.
Komunisme, misalnya, pernah menjanjikan surga historis. Kapitalisme menjanjikan penebusan lewat konsumsi. Teknologi Silicon Valley menjanjikan keabadian digital. Semua itu, dalam cara tertentu, adalah bentuk-bentuk eskatologi modern.
Dan manusia terus mencari keselamatan, meskipun nama Tuhannya berubah.
Namun Eliade bukan tanpa kritik. Banyak sarjana sesudahnya menuduh pendekatannya terlalu romantik terhadap masyarakat tradisional. Ia dianggap terlalu menggeneralisasi pengalaman religius manusia. Ada pula yang menyoroti kedekatannya, pada masa muda, dengan gerakan politik sayap kanan di Rumania. Di dunia akademik hari ini, Eliade sering dibaca dengan sikap waspada.
Tetapi buku ini tetap bertahan bukan terutama karena ketepatan antropologisnya, melainkan karena kekuatan intuisinya.
Ia memahami sesuatu yang sering dilupakan modernitas: manusia bukan makhluk yang puas hidup dalam dunia datar.
Kita membutuhkan kedalaman.
Bahkan di kota yang dipenuhi beton dan iklan LED, orang masih mencari tempat hening. Orang masih menyalakan lilin bagi yang meninggal. Orang masih datang ke makam orang tua menjelang lebaran. Orang masih merasa bahwa ada rumah tertentu yang “angker,” ada pohon tertentu yang “berisi,” ada malam tertentu yang terasa berbeda.
Rasionalitas tidak pernah sepenuhnya berhasil mengusir simbol.
Dan mungkin memang tak bisa.
Dalam salah satu bagian paling menarik, Eliade membahas bagaimana rumah tradisional dibangun sebagai miniatur kosmos. Tiang utama rumah sering dianggap sebagai penghubung dunia atas dan dunia bawah. Ambang pintu punya makna ritual. Bahkan tindakan pindah rumah dahulu dilakukan dengan upacara tertentu.
Kini rumah menjadi produk kredit bank dan desain interior Pinterest. Tetapi anehnya, manusia tetap membawa ritual kecil ke dalamnya: doa syukuran, peletakan foto keluarga, arah kiblat, tanaman tertentu di depan rumah, meja makan sebagai pusat pertemuan. Sesuatu dalam diri manusia tampaknya menolak hidup di ruang yang sepenuhnya kosong makna.
Kita ingin merasa “berdiam,” bukan sekadar “tinggal.”
Di situlah Eliade terasa begitu kontemporer, meskipun bukunya ditulis hampir tujuh puluh tahun lalu. Dunia modern mengalami krisis makna justru ketika ia mencapai puncak kemampuan teknologinya. Orang bisa berbicara lintas benua dalam hitungan detik, tetapi merasa kesepian. Kita bisa memetakan galaksi, tetapi tak tahu mengapa harus bangun pagi.
Dan ketika makna runtuh, yang kembali dicari sering kali bukan fakta, melainkan ritus.
Lihatlah ledakan spiritualitas populer hari ini: meditasi, yoga, tarot, retret kesadaran, self-healing, astrologi digital. Banyak di antaranya hadir bukan sebagai agama formal, melainkan sebagai upaya merebut kembali pengalaman yang sakral dalam dunia yang terlalu administratif.
Tentu saja Eliade tidak sedang menawarkan solusi politik atau terapi psikologis. Ia lebih mirip pengamat yang berdiri di tepi zaman, memperhatikan bagaimana manusia, dari gua prasejarah sampai apartemen metropolitan, terus-menerus mengulang pola yang sama: mencari pusat, mencari keteraturan, mencari hubungan dengan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Dan mungkin memang itu nasib manusia.
Kita adalah makhluk yang tak pernah sepenuhnya betah di dunia profan.
Bahkan bahasa sehari-hari kita penuh jejak religius. Kita berkata “momen sakral” untuk kelahiran anak. Kita menyebut cinta sebagai sesuatu yang “suci.” Kita berdiri khidmat saat lagu kebangsaan diputar. Kita mengheningkan cipta. Kita membuat monumen. Kita menyimpan benda peninggalan orang tercinta seperti relik.
Modernitas boleh saja mengklaim bahwa dunia hanyalah materi yang bergerak menurut hukum fisika. Tetapi pengalaman manusia terus memberontak terhadap reduksi itu.
Ada sesuatu yang ingin kita hormati.
Di akhir pembacaan The Sacred and the Profane, orang mungkin tidak serta-merta menjadi religius. Eliade bukan pengkhotbah. Ia tidak sedang membuktikan keberadaan Tuhan. Ia hanya menunjukkan bahwa sepanjang sejarah, manusia hidup seakan-akan dunia memiliki lapisan yang tak terlihat.
Dan tanpa lapisan itu, hidup terasa tipis.
Mungkin sebab itu buku ini tetap relevan. Ia hadir bukan sebagai nostalgia terhadap masa lalu, melainkan sebagai pengingat bahwa di balik segala kemajuan, manusia tetap makhluk simbolik. Kita hidup bukan hanya dari roti, data, dan algoritma, tetapi juga dari cerita, ritus, dan rasa kagum.
Di dunia yang semakin bising, gagasan Eliade terdengar seperti gema tua dari peradaban yang hampir lupa cara menunduk kepada sesuatu.
Dan barangkali, justru karena itulah ia penting dibaca sekarang.
