
Di sebuah ruang kelas di Amerika, seorang guru bertanya kepada murid-muridnya tentang agama. Jawaban yang datang nyaris seragam, seperti potongan iklan layanan masyarakat yang terlalu sering diputar: semua agama pada dasarnya sama. Semua mengajarkan cinta. Semua menuju Tuhan yang satu. Yang berbeda cuma bungkusnya. Selebihnya identik. Kita pernah mendengar kalimat itu di mana-mana, juga di Indonesia, bahkan mungkin mengucapkannya sendiri pada suatu sore ketika percakapan tentang keyakinan mulai terasa berbahaya. Kalimat itu terdengar sopan, damai, dan modern. Tapi Stephen Prothero, dalam God Is Not One (2010), justru memulai bukunya dengan kecurigaan: bagaimana kalau anggapan itu keliru?
Buku itu lahir di zaman ketika dunia makin terhubung, tetapi juga makin mudah tersinggung. Orang bepergian lebih jauh, informasi bergerak lebih cepat, dan agama tidak lagi tinggal di kampungnya masing-masing. Namun yang terjadi bukan cuma perjumpaan. Kadang benturan. Kadang salah paham yang dibungkus keramahan. Prothero melihat ada kecenderungan aneh di Barat, terutama di Amerika: keinginan untuk menyamakan semua agama demi menjaga harmoni sosial. Ia menyebutnya sebagai semacam “kesepakatan sentimental.” Semua agama dianggap mendaki gunung yang sama dari jalur berbeda. Tuhan satu. Tujuan satu. Manusia cuma berbeda bahasa.
Tapi Prothero mengatakan: tidak sesederhana itu.
Ia tidak sedang mengajak orang berperang. Justru sebaliknya. Menurutnya, perdamaian yang dibangun di atas kesalahpahaman hanya akan rapuh. Kita tidak bisa memahami agama lain kalau sejak awal kita memaksa mereka menjadi versi samar dari agama kita sendiri. Agama-agama besar dunia, kata Prothero, memang sama-sama mencoba menjawab persoalan manusia. Tetapi mereka berbeda secara mendasar tentang apa masalah utama manusia itu, apa tujuan hidup, dan bagaimana cara mencapainya.
Di sinilah buku itu menjadi menarik. Prothero tidak menulis seperti seorang pendeta yang berkhotbah atau akademisi yang tenggelam dalam jargon. Ia menulis seperti seorang pemandu museum yang berjalan perlahan dari satu ruangan ke ruangan lain, menunjukkan bahwa tiap agama membawa semesta sendiri. Dan tiap semesta punya logikanya sendiri.
Dalam Kekristenan, misalnya, masalah utama manusia adalah dosa. Solusinya keselamatan. Caranya melalui iman kepada Yesus Kristus. Dalam Buddhisme, problem manusia bukan dosa melainkan penderitaan yang lahir dari keinginan. Tujuannya bukan surga, melainkan nirwana, pembebasan dari lingkaran derita.
Dalam Islam, persoalan utamanya adalah lupa dan pembangkangan terhadap kehendak Tuhan. Jalan keluarnya adalah kepasrahan, hidup sesuai petunjuk Allah. Dalam Hindu, problemnya keterikatan pada dunia fana dan siklus kelahiran kembali.
Dalam Konghucu, masalahnya kekacauan sosial dan moral. Dalam Yoruba, agama tradisional Afrika yang juga dibahas Prothero, problem hidup lebih konkret: bagaimana menjaga harmoni antara manusia, roh, leluhur, dan kekuatan kosmis.
Perbedaan itu bukan kosmetik. Ia mendasar. Bahkan tentang apa itu “Tuhan,” agama-agama tidak selalu sepakat. Buddhisme, dalam banyak bentuknya, bahkan tidak menempatkan Tuhan personal sebagai pusat. Maka mengatakan semua agama sama, menurut Prothero, mirip mengatakan sepak bola, catur, dan renang sebenarnya permainan identik karena sama-sama melibatkan manusia dan aturan.
Ada sesuatu yang ironis dalam kecenderungan modern untuk menyamakan agama. Di satu sisi, dunia hari ini sangat menghargai identitas. Orang ingin dikenali dalam keunikannya: budaya, gender, bahasa, sejarah. Tetapi ketika berbicara tentang agama, kita sering justru tergesa-gesa menghapus perbedaan. Kita takut konflik. Maka kita memilih keseragaman buatan. Padahal mungkin penghormatan sejati justru dimulai dari keberanian mengakui bahwa orang lain sungguh berbeda.
Di Indonesia, gagasan Prothero terasa ganjil sekaligus akrab. Sejak kecil kita dibesarkan dengan slogan kerukunan. Di sekolah ada pelajaran agama yang dipisah menurut keyakinan masing-masing, tetapi di upacara kenegaraan semua agama disebut bersama-sama seperti anggota keluarga besar yang diwajibkan tersenyum di depan kamera. Ada niat baik di sana. Namun kadang kerukunan berubah menjadi tata krama yang gugup. Orang diajarkan toleransi tanpa benar-benar mengenal isi keyakinan tetangganya.
Akibatnya, agama sering dipahami hanya sebagai identitas administratif. Seperti kolom di KTP. Bukan cara memandang kenyataan.
Prothero mengingatkan bahwa agama bukan sekadar kumpulan ritual atau simbol budaya. Ia adalah sistem makna. Cara menjelaskan mengapa manusia menderita, apa arti hidup, dan apa yang harus dilakukan sebelum mati. Karena itu agama tidak mudah dicampur begitu saja menjadi sup universal bernama “spiritualitas.”
Menariknya, Prothero juga mengkritik kecenderungan pop-spirituality di Barat. Ia menyebut tokoh-tokoh seperti Deepak Chopra atau Oprah Winfrey yang mempromosikan gagasan bahwa semua agama pada dasarnya berbicara tentang cinta universal dan kedamaian batin. Menurut Prothero, pendekatan seperti ini memang nyaman, tetapi dangkal. Ia menghapus sejarah, konflik, doktrin, bahkan tragedi yang membentuk agama-agama itu sendiri.
Dan memang, agama tidak pernah steril. Ia selalu bergerak bersama politik, kekuasaan, dan ambisi manusia. Kadang menjadi sumber belas kasih, kadang menjadi alasan pembantaian. Tetapi Prothero tampaknya ingin mengatakan bahwa kita tidak bisa memahami peran agama di dunia modern kalau kita terus menganggap semua keyakinan identik. Bagaimana mungkin memahami konflik di Timur Tengah, misalnya, jika agama hanya dianggap variasi dekoratif dari pesan moral yang sama?
Di titik ini, buku God Is Not One terasa seperti kritik terhadap optimisme liberal yang terlalu sederhana. Dunia tidak otomatis damai hanya karena orang sepakat berkata “semua agama baik.” Sebab konflik sering muncul bukan karena orang terlalu memahami agamanya, melainkan karena mereka memahami agama lain secara karikatural.
Namun Prothero juga tidak jatuh menjadi fundamentalis. Ia tidak sedang membela superioritas satu agama. Ia justru meminta pembaca belajar lebih serius. Mengenali agama-agama sebagai tradisi intelektual dan spiritual yang kompleks. Ada nada pedagogis dalam bukunya, seolah ia kecewa karena masyarakat modern tahu terlalu banyak tentang teknologi tetapi terlalu sedikit tentang keyakinan yang membentuk miliaran manusia.
Dan mungkin memang demikian. Kita hidup di zaman ketika orang bisa menjelaskan cara kerja algoritma media sosial tetapi tidak tahu beda konsep keselamatan dalam Kristen dan pembebasan dalam Buddhisme. Padahal agama, suka atau tidak, masih menjadi salah satu mesin paling kuat dalam sejarah manusia. Ia menggerakkan perang, amal, revolusi, seni, hukum, bahkan cinta.
Di luar argumen utamanya, ada lapisan lain yang membuat buku ini penting: keberanian untuk menolak kenyamanan klise. Dunia modern menyukai slogan yang mudah dibagikan. “Semua agama sama” adalah salah satunya. Kalimat itu memberi ilusi kedewasaan moral tanpa menuntut kerja intelektual yang serius. Kita merasa toleran tanpa perlu membaca kitab suci lain, memahami sejarah lain, atau mendengar pengalaman spiritual orang lain secara sungguh-sungguh.
Padahal memahami perbedaan adalah pekerjaan yang melelahkan.
Mungkin itu sebabnya buku Prothero kadang terasa mengganggu. Ia mencabut karpet dari bawah kaki pembaca yang terbiasa berpikir seragam. Tetapi justru di sana letak nilainya. Ia mengingatkan bahwa pluralisme bukan berarti meniadakan perbedaan, melainkan hidup bersama di tengah perbedaan yang nyata.
Ada satu hal yang diam-diam mengendap setelah membaca buku itu: kemungkinan bahwa manusia memang tidak pernah benar-benar sepakat tentang hakikat hidup. Dan mungkin memang tidak harus sepakat. Agama-agama besar lahir dari pengalaman sejarah yang berbeda, lanskap budaya yang berbeda, dan kecemasan eksistensial yang berbeda. Mengapa kita berharap semuanya menghasilkan jawaban identik?
Dalam banyak tradisi Timur, kebenaran sering dianggap seperti jalan panjang yang dilalui dengan disiplin batin. Dalam tradisi Abrahamik, kebenaran lebih sering hadir sebagai wahyu, pesan Tuhan kepada manusia. Ada agama yang menekankan keselamatan personal, ada yang lebih sibuk menjaga harmoni sosial. Ada yang mencari pembebasan dari dunia, ada yang justru memuliakan keterlibatan dalam sejarah.
Dan semua itu membentuk peradaban.
Barangkali inti terdalam God Is Not One bukan sekadar tentang agama, melainkan tentang cara manusia menghadapi perbedaan. Kita sering berpikir bahwa menghormati orang lain berarti mengatakan mereka sama dengan kita. Prothero membalik logika itu. Menghormati orang lain justru berarti mengakui bahwa mereka mungkin sungguh berbeda, dan tetap memilih mendengar mereka.
Itu sikap yang lebih sulit. Tetapi mungkin lebih jujur.
Di akhir pembacaan, kita tidak otomatis menjadi religius. Juga tidak otomatis menjadi skeptis. Yang berubah mungkin justru cara memandang dunia: bahwa keyakinan manusia bukan katalog slogan universal, melainkan hutan gagasan yang tumbuh dari sejarah panjang pencarian makna. Dan di tengah dunia yang makin bising oleh identitas, mungkin kemampuan untuk memahami perbedaan secara mendalam adalah bentuk kedewasaan yang paling langka.
