Talal Asad’s Genealogies of Religion (1993)

Book cover of Genealogies of Religion by Talal Asad with subtitle Discipline and Reasons of Power in Christianity and Islam

Di sebuah ruang kuliah yang dingin di New York pada akhir abad kedua puluh, Talal Asad pernah mengajukan pertanyaan yang tampaknya sederhana: bagaimana agama menjadi sesuatu yang tampak begitu jelas bagi dunia modern? Pertanyaan itu terdengar biasa saja, bahkan nyaris seperti pertanyaan mahasiswa tahun pertama antropologi. Tetapi seperti semua pertanyaan yang baik, ia bekerja diam-diam, menggoyang fondasi sesuatu yang selama ini dianggap mapan. Dalam Genealogies of Religion, Asad tidak sedang mencoba mendefinisikan agama. Ia justru curiga pada obsesi modern untuk mendefinisikan. Sebab definisi, dalam sejarah modern, hampir selalu lahir bersama kekuasaan.

Buku itu muncul pada 1993, ketika dunia akademik Barat masih cukup percaya diri bahwa sekularisme adalah semacam garis evolusi yang tak terhindarkan. Bahwa masyarakat akan bergerak dari magi menuju rasio, dari iman menuju administrasi, dari ritual menuju hukum. Seolah sejarah adalah jalan satu arah dengan Eropa sebagai papan petunjuknya. Asad datang seperti seseorang yang menyalakan lampu di ruangan yang terlalu lama diterangi oleh satu sudut pandang saja. Ia tidak berteriak. Tidak pula berkhotbah. Kalimat-kalimatnya tenang, bahkan kadang terlalu tenang. Tetapi justru di situ daya rusaknya bekerja.

Kata “genealogi” yang dipakainya bukan sekadar metode sejarah biasa. Itu warisan Michel Foucault. Genealogi bukan pencarian asal-usul murni, melainkan pelacakan bagaimana sebuah konsep terbentuk melalui relasi kuasa, konflik, disiplin, dan kebiasaan sosial. Jadi ketika Asad menulis tentang agama, ia tidak bertanya: “Apa hakikat agama?” Ia bertanya: “Bagaimana agama dibentuk sehingga tampak seperti sesuatu yang universal?” Perbedaan kecil itu mengubah segalanya.

Di tangan sarjana modern, terutama sejak abad kesembilan belas, agama sering dipahami sebagai soal keyakinan batin. Sesuatu yang personal, spiritual, privat. Agama menjadi urusan hati. Clifford Geertz, antropolog besar yang sangat dihormati itu, misalnya, mendefinisikan agama sebagai sistem simbol yang membangun suasana hati dan motivasi kuat dalam diri manusia. Definisi yang indah, nyaris puitis. Tetapi bagi Asad, definisi itu terlalu dipengaruhi pengalaman Kristen modern, khususnya Protestanisme Barat. Seolah agama di mana pun selalu tentang iman internal, tentang kesadaran personal.
Padahal tidak semua tradisi bekerja seperti itu.

Dalam Islam klasik, misalnya, disiplin tubuh jauh lebih penting daripada sekadar pengakuan batin. Cara berdiri saat salat, cara berwudu, cara membaca, cara menghafal, cara mengendalikan lidah, bahkan cara makan. Tubuh dilatih. Waktu diatur. Kebiasaan dibentuk. Agama bukan sekadar keyakinan yang mengendap di dalam hati, tetapi praktik yang mengolah manusia secara konkret. Asad melihat bahwa modernitas Barat cenderung mencurigai bentuk-bentuk disiplin seperti itu. Sebab modernitas lebih menyukai subjek yang otonom: individu yang memilih keyakinannya sendiri secara bebas.

Tetapi benarkah manusia modern sungguh bebas?

Pertanyaan itu menghantui seluruh buku ini.

Sebab di balik narasi kebebasan modern, Asad melihat hadirnya bentuk disiplin lain yang justru lebih halus. Negara modern mengatur tubuh melalui sekolah, birokrasi, rumah sakit, penjara, statistik, bahkan konsep kewarganegaraan. Sekularisme bukan absennya kekuasaan agama. Ia adalah cara baru mengelola agama. Negara menentukan mana agama yang dianggap sah, mana yang disebut ekstrem, mana ritual yang boleh tampil di ruang publik, mana simbol yang harus disembunyikan.

Dengan kata lain, sekularisme bukan ruang netral.
Ia punya tata moralnya sendiri.

Di sini Asad berbeda dari para pengkritik agama ala Pencerahan yang melihat sekularisme sebagai pembebasan total dari dogma. Baginya, sekularisme adalah proyek historis yang sangat spesifik, lahir dari pengalaman Eropa, terutama setelah perang-perang agama dan bangkitnya negara modern. Ia bukan hukum alam. Ia bukan takdir sejarah manusia. Ia hanyalah satu bentuk pengaturan kehidupan sosial yang kemudian dipaksakan tampil universal.

Mungkin karena itulah membaca Asad terasa seperti membuka mesin jam dan menemukan bahwa jarum-jarum yang selama ini bergerak anggun ternyata ditopang pegas yang rumit, kadang bengkok, kadang penuh karat sejarah kolonial.
Kolonialisme memang bayangan besar dalam buku itu. Ketika Eropa menjajah Asia dan Afrika, mereka tidak hanya membawa tentara atau jalur dagang. Mereka juga membawa kategori-kategori pengetahuan. Mereka memisahkan “agama” dari “budaya”, dari “politik”, dari “hukum”, seolah semua masyarakat harus mengikuti pembagian modern Barat. Di banyak wilayah Muslim, misalnya, hukum Islam perlahan dipersempit menjadi urusan keluarga dan ritual pribadi. Politik diambil alih negara kolonial. Ekonomi diatur pasar kolonial. Agama dipaksa masuk ke ruang privat.

Proses itu tidak netral. Ia mengubah cara umat memahami agamanya sendiri.

Di Indonesia, gema persoalan itu terasa akrab. Kita hidup dalam negara yang secara resmi bukan negara agama, tetapi juga bukan negara sekuler murni. Negara mengakui agama sekaligus mengatur agama. Ada kementerian agama. Ada kolom agama di kartu identitas. Ada definisi resmi tentang apa yang disebut “agama”. Ada batas tentang keyakinan mana yang dianggap menyimpang. Dalam situasi seperti itu, tesis Asad terasa bukan sekadar perdebatan akademik, melainkan semacam cermin yang membuat kita sadar bahwa hubungan agama dan negara selalu dinegosiasikan melalui kekuasaan.

Tetapi Genealogies of Religion bukan manifesto politik murahan. Buku ini bergerak lebih subtil. Asad menulis seperti seseorang yang sangat hati-hati terhadap bahasa. Ia tahu kata-kata sering menyembunyikan sejarah panjang di belakangnya. Maka ia membongkar istilah demi istilah, asumsi demi asumsi. Kadang pembaca merasa tersesat. Kalimatnya padat. Argumennya melingkar. Tetapi justru di situ ia memaksa kita berhenti mengonsumsi konsep secara instan.

Ada semacam etika intelektual di sana: jangan terlalu cepat percaya pada sesuatu yang tampak universal.
Sebab universalitas sering lahir dari kemenangan sejarah tertentu.
Dalam salah satu bagian paling penting, Asad membahas soal penderitaan dan disiplin dalam tradisi Kristen abad pertengahan. Modernitas cenderung melihat rasa sakit sebagai sesuatu yang harus dihindari. Tetapi dalam tradisi tertentu, penderitaan justru dipahami sebagai latihan moral dan spiritual. Di sini lagi-lagi Asad menunjukkan bahwa emosi manusia tidak berdiri di luar sejarah. Cara kita memahami rasa sakit, kebahagiaan, ketulusan, bahkan cinta kepada Tuhan, dibentuk oleh tradisi sosial tertentu.

Manusia modern suka mengira dirinya spontan. Padahal ia juga hasil latihan.

Mungkin itu sebabnya buku ini terasa relevan hari ini, ketika dunia dipenuhi debat tentang identitas, fundamentalisme, kebebasan berekspresi, dan politik tubuh. Kita sering berbicara seolah ada garis tegas antara agama dan sekularisme. Padahal dalam praktiknya, keduanya saling membentuk. Negara sekuler tetap memiliki ritualnya sendiri: upacara nasional, penghormatan bendera, kultus terhadap konstitusi, keyakinan pada kemajuan. Bahkan pasar modern memiliki liturginya sendiri: iklan, konsumsi, hasrat yang terus diperbarui.

Asad membantu kita melihat bahwa modernitas bukan hilangnya iman, melainkan perpindahan bentuk iman.
Dan mungkin, di titik itu, ia terdengar agak muram.

Sebab jika semua tatanan dibentuk kekuasaan, di mana ruang kebebasan manusia?

Asad tidak memberi jawaban heroik. Ia bukan penulis yang menawarkan revolusi romantik. Tidak ada ajakan menghancurkan negara. Tidak ada nostalgia naif pada masa lalu religius. Ia hanya menunjukkan bahwa cara hidup manusia selalu dibentuk sejarah dan disiplin sosial tertentu. Kesadaran itu tidak otomatis membebaskan kita, tetapi setidaknya membuat kita lebih waspada terhadap klaim-klaim universal yang terlalu percaya diri.

Membaca Genealogies of Religion hari ini terasa seperti mendengar seseorang berbicara pelan di tengah dunia yang gemar berteriak. Di media sosial, agama sering direduksi menjadi slogan identitas. Sekularisme juga sering diperlakukan seperti agama baru yang merasa dirinya paling rasional. Semua pihak bicara dengan keyakinan mutlak. Asad justru mengajak kita curiga pada kemutlakan semacam itu.

Ia mengingatkan bahwa konsep-konsep besar yang kita pakai setiap hari lahir dari sejarah yang panjang, kadang berdarah, kadang kolonial, kadang penuh kompromi yang dilupakan.

Dan mungkin memang begitu cara berpikir yang paling diperlukan sekarang: bukan cara berpikir yang tergesa menyimpulkan, melainkan yang bersedia duduk lebih lama bersama kerumitan.

Di ujung buku, tidak ada kesimpulan megah. Tidak ada resep masa depan. Hanya semacam kesadaran yang perlahan tumbuh bahwa agama, sekularisme, tubuh, moralitas, dan negara ternyata tidak pernah sesederhana yang diajarkan buku teks modern. Mereka adalah hasil tawar-menawar sejarah yang terus berlangsung.

Barangkali itulah inti paling penting dari Talal Asad: bahwa manusia selalu hidup di dalam jaringan praktik dan kuasa yang membentuk cara ia merasa, percaya, dan berbicara. Dan tugas berpikir bukanlah mencari kemurnian, melainkan membaca jejak-jejak pembentukan itu dengan sabar.
Seperti seseorang yang berjalan di kota tua setelah hujan reda, memperhatikan retak-retak tembok yang selama ini tertutup cahaya siang.

Discover more from bolakayu.id

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading