
Ada satu kalimat yang selalu kita dengar sejak kecil, diucapkan dengan nada yang terdengar pasti: sekolah itu untuk masa depan. Kalimat itu sederhana, bahkan nyaris tak terbantahkan. Tapi justru karena terlalu sering diulang, ia jarang dipertanyakan. Masa depan seperti apa? Dan siapa yang menentukan bentuknya?
Sejak hari pertama mengenal seragam, kita mulai masuk ke dalam sebuah ritme yang nyaris tak berubah: bangun pagi, duduk rapi, mendengar, mencatat, mengerjakan, diuji. Ada struktur yang jelas, ada aturan yang tegas, dan ada ukuran yang tampak objektif: nilai. Di sana, pelan-pelan, kita belajar bahwa hidup adalah soal memenuhi standar. Bahwa benar dan salah bisa ditentukan oleh kunci jawaban. Bahwa keberhasilan bisa diringkas dalam angka.
Di titik itu, sekolah tampak seperti tempat pembentukan. Tapi pembentukan menjadi apa?
Di satu sisi, ia menjanjikan kebebasan. Anak-anak didorong untuk bermimpi, untuk bercita-cita setinggi mungkin. “Kamu bisa jadi apa saja,” kata para guru, para orang tua, bahkan buku-buku motivasi. Namun di sisi lain, sistem yang sama bekerja dengan cara menyaring dan mengarahkan. Ada jalur-jalur yang dianggap lebih “cerah”, ada pilihan-pilihan yang dinilai lebih “realistis”. Seorang anak yang tidak unggul di matematika mulai diarahkan menjauh dari bidang tertentu. Yang tidak cocok dengan ritme kelas dianggap kurang disiplin. Yang terlalu banyak bertanya kadang justru dilabeli mengganggu.
Di sinilah sekolah mulai menunjukkan wajah gandanya: ia mengajarkan kebebasan, tetapi mengelola keterbatasan.
Seiring waktu, bahasa yang digunakan pun berubah. Belajar tidak lagi sekadar untuk memahami dunia, melainkan untuk “siap kerja”. Kurikulum mulai dibicarakan dalam konteks kebutuhan industri. Jurusan dipilih berdasarkan prospek pasar. Kampus diperingkat berdasarkan daya serap lulusan. Bahkan istilah “link and match” menjadi semacam mantra: pendidikan harus selaras dengan dunia kerja.
Tidak ada yang sepenuhnya salah dari itu. Dunia memang membutuhkan tenaga kerja. Ekonomi bergerak karena ada orang-orang yang bekerja di dalamnya. Tapi ketika seluruh arah pendidikan ditarik terlalu kuat ke sana, pertanyaan yang lebih mendasar mulai muncul: apakah sekolah hanya jalur distribusi tenaga kerja?
Jika kita melihat lebih dekat, kemiripannya dengan sebuah sistem produksi menjadi sulit diabaikan. Ada kurikulum yang berfungsi seperti lini perakitan, memecah pengetahuan menjadi unit-unit yang harus diselesaikan. Ada ujian sebagai mekanisme kontrol kualitas, menentukan siapa yang “lulus” dan siapa yang “perlu diperbaiki”. Ada standar kompetensi sebagai spesifikasi produk. Dan pada akhirnya, ada lulusan yang dilepas ke pasar kerja sebagai output.
Dalam logika seperti ini, manusia perlahan direduksi menjadi fungsi. Yang penting bukan lagi siapa dia, melainkan apa yang bisa ia lakukan—dan seberapa cepat ia bisa beradaptasi dengan kebutuhan sistem.
Namun sekolah tidak berhenti di situ. Ia juga menjadi alat legitimasi yang sangat halus. Ia menentukan siapa yang dianggap pintar, siapa yang disebut berprestasi, dan siapa yang diam-diam dikategorikan gagal. Semua itu dibungkus dalam bahasa yang tampak netral: nilai, ranking, akreditasi. Padahal, di balik angka-angka itu, ada struktur yang tidak selalu adil.
Seorang anak yang tumbuh di lingkungan dengan akses buku, dukungan belajar, dan ruang eksplorasi yang luas, tentu memiliki peluang lebih besar untuk “berhasil” dalam sistem sekolah. Sementara yang lain, yang harus berhadapan dengan keterbatasan sejak awal, seringkali harus bekerja lebih keras hanya untuk mencapai titik yang sama. Namun ketika hasilnya keluar, perbedaan itu jarang dibaca sebagai persoalan struktur. Ia lebih sering ditafsirkan sebagai soal usaha individu.
Di titik ini, sekolah memainkan peran yang paradoksal: ia mengklaim sebagai alat mobilitas sosial, tetapi dalam banyak kasus justru mereproduksi ketimpangan yang sudah ada.
Dan meskipun demikian, ada sesuatu yang membuat kita enggan sepenuhnya menolaknya.
Karena di sela-sela sistem yang kaku itu, selalu ada ruang-ruang kecil yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan. Ada guru yang mengajar dengan hati, yang melihat murid bukan sebagai angka, tetapi sebagai manusia. Ada percakapan di kelas yang membuka cara pandang baru. Ada buku yang ditemukan secara tidak sengaja di perpustakaan, yang kemudian mengubah arah hidup seseorang. Ada pertemanan, perdebatan, kegagalan, dan keberanian kecil yang tidak tercatat dalam rapor, tetapi justru membentuk siapa kita sebenarnya.
Di sana, sekolah berhenti menjadi mesin, dan kembali menjadi ruang.
Masalahnya, ruang itu seringkali hadir bukan karena sistem, melainkan meskipun ada sistem.
Lalu kita kembali ke pertanyaan awal: untuk apa sekolah itu?
Mungkin jawabannya tidak pernah tunggal. Sekolah adalah arena tarik-menarik antara berbagai kepentingan. Ia didorong oleh kebutuhan ekonomi, dibentuk oleh kebijakan, dan diisi oleh manusia-manusia dengan niat yang beragam. Ia bisa menjadi alat pembebasan, sekaligus alat penyeragaman. Ia bisa membuka kemungkinan, sekaligus menutup jalan lain.
Yang membuatnya problematis bukan semata-mata karena ia dekat dengan kapitalisme, tetapi karena kita sendiri, sebagai masyarakat, semakin melihat manusia melalui lensa produktivitas. Selama ukuran “berhasil” adalah seberapa besar kontribusi ekonomi seseorang, selama itu pula sekolah akan terus diarahkan untuk menghasilkan pekerja yang efisien, adaptif, dan patuh.
Dan di situlah letak ironi yang paling sunyi.
Kita ingin anak-anak menjadi manusia merdeka, tetapi kita menilai mereka dengan standar yang sempit. Kita mendorong kreativitas, tetapi mengujinya dengan jawaban yang seragam. Kita memuji keberanian berpikir, tetapi sering kali tidak memberi ruang bagi pertanyaan yang terlalu jauh.
Sekolah, pada akhirnya, adalah cermin. Ia memantulkan apa yang kita anggap penting. Jika yang kita kejar adalah efisiensi dan produktivitas, maka ia akan menjadi mesin yang rapi dan dingin. Tetapi jika kita sungguh-sungguh percaya bahwa manusia lebih dari sekadar alat produksi, maka sekolah bisa—dan seharusnya—menjadi tempat di mana seseorang belajar memahami dirinya, orang lain, dan dunia secara lebih utuh.
Pertanyaannya bukan lagi apakah sekolah itu mesin kapitalisme atau bukan. Pertanyaannya: kita ingin ia menjadi apa?

Leave a Reply