Tentang Hidup, Kerja & AI

Mengapa ada penderitaan jika Tuhan baik dan maha kuasa?

Di sebuah rumah sakit di Gaza, seorang ayah duduk di lantai sambil memegang tubuh anaknya yang dibungkus kain putih. Di sebuah biara di Tibet, seorang biksu tua berkata bahwa hidup memang adalah dukkha: penderitaan yang tak bisa dielakkan. Di sebuah laboratorium neurologi di Stanford, seorang peneliti menunjukkan citra otak manusia yang berubah ketika seseorang kehilangan orang yang dicintainya. Dan di sebuah gereja kecil di pedalaman Jawa, seorang ibu tetap berdoa setelah anaknya meninggal karena leukemia. Ia tak marah pada Tuhan. Atau mungkin marah, tapi diam-diam. Lalu tetap berdoa.

Pertanyaan tentang penderitaan tampaknya selalu datang dari tempat yang sama: dari luka yang terlalu nyata untuk dijawab dengan teori. Dan karena itu, semua jawaban filsafat sering terdengar agak terlambat.

“Jika Tuhan baik dan maha kuasa, mengapa ada penderitaan?”

Pertanyaan itu sudah berumur ribuan tahun. Ia muncul dalam Kitab Ayub, dalam tragedi Yunani, dalam dialog-dialog filsafat India, dalam surat-surat Epicurus. Dan setiap zaman mengulangnya dengan bahasa berbeda. Sesudah Auschwitz, filsuf Yahudi Theodor Adorno berkata bahwa menulis puisi setelah Auschwitz adalah barbarisme. Sesudah Hiroshima, banyak orang mulai curiga bahwa gagasan tentang kemajuan moral manusia hanyalah dongeng modern. Sesudah pandemi COVID-19, pertanyaan lama itu muncul lagi, kini dalam bentuk statistik kematian dan grafik epidemi.

Epicurus, filsuf Yunani abad ke-3 sebelum Masehi, merumuskannya dengan tajam: jika Tuhan mau menghapus kejahatan tapi tidak bisa, berarti Ia tidak maha kuasa. Jika Ia bisa tapi tidak mau, berarti Ia tidak baik. Jika Ia bisa dan mau, mengapa kejahatan masih ada?

Itu disebut problem of evil. Problem kejahatan. Salah satu persoalan paling keras dalam teologi dan filsafat.

Tetapi menarik bahwa agama-agama besar tidak pernah benar-benar memberikan jawaban tunggal. Mereka justru menghasilkan berbagai cara untuk memandang penderitaan, seolah-olah manusia memang tak pernah selesai berdebat dengan rasa sakit.

Dalam tradisi Kristen, misalnya, ada beberapa pendekatan yang saling berbeda. Santo Agustinus mengatakan bahwa kejahatan bukanlah sesuatu yang “diciptakan” Tuhan, melainkan ketiadaan kebaikan, privatio boni. Seperti gelap yang bukan benda, melainkan absennya cahaya. Tuhan menciptakan manusia bebas, dan dari kebebasan itu lahirlah dosa serta penderitaan.

Namun penjelasan ini dikritik. Jika Tuhan sudah tahu manusia akan jatuh dalam dosa, mengapa Ia tetap menciptakan dunia seperti ini?

Pada abad ke-2, Ireneus menawarkan pandangan berbeda. Dunia yang penuh penderitaan bukan kesalahan desain, melainkan tempat pembentukan jiwa. Soul-making. Manusia tidak diciptakan selesai, melainkan ditempa. Tanpa rasa sakit, tak ada keberanian. Tanpa kehilangan, tak ada belas kasih.

Pandangan ini diam-diam hidup sampai hari ini, terutama dalam spiritualitas modern yang sering mengatakan bahwa trauma bisa membuat seseorang bertumbuh. Tetapi kritiknya juga keras: apakah penderitaan anak kecil, perang, atau genosida bisa dianggap “alat pendidikan”? Bukankah itu terdengar terlalu kejam?

Dalam tradisi Calvinis, ada gagasan tentang kedaulatan mutlak Tuhan. Bahwa bahkan penderitaan berada dalam rencana ilahi yang tak sepenuhnya dapat dipahami manusia. Di sini misteri menjadi jawaban. Bukan karena orang menyerah berpikir, tetapi karena dianggap ada batas yang tak bisa ditembus akal manusia.

Sementara dalam tradisi Islam, problem ini juga melahirkan perdebatan panjang. Kaum Mu’tazilah, aliran rasionalis Islam awal, menekankan keadilan Tuhan. Menurut mereka, manusia memiliki kehendak bebas penuh, sebab tak mungkin Tuhan yang adil menciptakan kejahatan lalu menghukum manusia karenanya.

Sebaliknya, mazhab Asy’ariyah menegaskan kekuasaan absolut Tuhan. Apa pun yang terjadi, termasuk penderitaan, berada dalam kehendak-Nya. Tetapi mereka juga menambahkan bahwa manusia tetap memiliki “kasb”, semacam partisipasi dalam tindakan moralnya.

Perdebatan itu sebenarnya bukan soal teknis teologi semata. Ia adalah pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab atas rasa sakit di dunia.

Dalam sufisme, penderitaan kadang dipandang lebih intim. Jalaluddin Rumi menulis bahwa luka adalah tempat cahaya masuk ke dalam dirimu. Ada semacam keyakinan bahwa kehancuran ego justru membuka jalan menuju kedekatan dengan Yang Ilahi. Tetapi ini juga mengandung bahaya romantisasi penderitaan, seolah semua luka otomatis membawa hikmah.

Tradisi Buddhisme mengambil jalur yang sangat berbeda. Buddha tidak terlalu tertarik menjelaskan mengapa penderitaan “diizinkan” oleh Tuhan, sebab dalam Buddhisme tak ada Tuhan personal maha kuasa seperti dalam agama Abrahamik. Pertanyaan utamanya bukan “mengapa Tuhan membiarkan penderitaan” melainkan “mengapa manusia menderita dan bagaimana mengakhirinya.”

Empat Kebenaran Mulia dimulai dari pengakuan sederhana: hidup adalah dukkha. Penderitaan muncul karena keterikatan, hasrat, dan ilusi tentang diri yang permanen. Maka jalan keluarnya bukan membela Tuhan, melainkan membebaskan kesadaran.

Di sini tampak perbedaan mendasar antara tradisi teistik dan nonteistik. Yang satu mencoba mendamaikan penderitaan dengan kebaikan Tuhan. Yang lain mencoba memahami penderitaan sebagai struktur eksistensi itu sendiri.

Lalu datang modernitas, dan sains mulai ikut campur dalam pembicaraan yang selama ribuan tahun dianggap wilayah agama

Psikologi evolusioner, misalnya, menunjukkan bahwa kemampuan manusia untuk merasakan sakit memiliki fungsi biologis penting. Rasa takut membuat spesies bertahan hidup. Kesedihan memperkuat ikatan sosial. Bahkan empati terhadap penderitaan orang lain berkaitan dengan perkembangan sistem saraf tertentu.

Penelitian neurosains dalam dua dekade terakhir menemukan bahwa rasa sakit emosional dan rasa sakit fisik berbagi jalur neurologis yang mirip. Naomi Eisenberger dari UCLA menunjukkan bahwa penolakan sosial dapat mengaktifkan area otak yang sama dengan luka fisik. “Broken heart” ternyata bukan sekadar metafora puitik.

Tetapi penjelasan ilmiah hanya menjelaskan mekanisme penderitaan, bukan maknanya. Sains bisa menerangkan bagaimana depresi bekerja di otak, tetapi tidak bisa menjawab mengapa kehilangan terasa begitu menghancurkan bagi seseorang yang baru menguburkan ibunya.

Di titik itulah filsafat eksistensial masuk.

Albert Camus, dalam The Myth of Sisyphus, menulis bahwa persoalan filsafat paling serius hanyalah satu: bunuh diri. Sebab jika hidup penuh absurditas dan penderitaan, mengapa manusia harus tetap hidup?

Camus menolak jawaban religius yang menurutnya terlalu mudah. Tetapi ia juga menolak nihilisme total. Bagi Camus, manusia harus memberontak terhadap absurditas, tetap hidup, tetap mencintai, meski dunia tak memberi jaminan makna.

Sementara Viktor Frankl, penyintas kamp konsentrasi Nazi, mengambil arah berbeda. Dalam Man’s Search for Meaning, ia mengatakan bahwa manusia bisa bertahan terhadap hampir semua penderitaan jika menemukan makna di dalamnya. Logoterapi Frankl lahir dari pengalaman melihat orang-orang di Auschwitz kehilangan segalanya kecuali kemampuan memilih sikap terhadap penderitaan mereka sendiri.
Tetapi lagi-lagi, pertanyaan sulit muncul: apakah semua penderitaan harus dimaknai? Atau ada penderitaan yang memang hanya brutal dan kosong?

Di sinilah mungkin kita perlu berhati-hati terhadap kecenderungan zaman sekarang yang terlalu cepat mengubah luka menjadi motivasi. Media sosial penuh kutipan tentang “healing”, “growth”, dan “inner strength”, seolah semua tragedi otomatis membawa pelajaran hidup. Padahal kadang-kadang penderitaan hanya meninggalkan kehancuran. Tidak semua orang keluar dari trauma sebagai pribadi yang lebih bijaksana. Sebagian keluar dengan kecemasan kronis, insomnia, atau kehilangan kemampuan percaya kepada siapa pun.

Filsuf Susan Neiman pernah menulis bahwa modernitas mencoba menggantikan problem kejahatan teologis menjadi problem moral-politik. Dulu orang bertanya mengapa Tuhan membiarkan Auschwitz. Kini orang bertanya mengapa manusia melakukannya.
Mungkin itu sebabnya banyak pemikir kontemporer mulai menggeser fokus dari “mengapa Tuhan membiarkan penderitaan” menjadi “apa tanggung jawab manusia terhadap penderitaan.”

Emmanuel Levinas mengatakan bahwa wajah orang lain yang menderita adalah panggilan etis pertama. Sebelum bicara tentang metafisika, manusia pertama-tama dipanggil untuk merespons tangisan sesamanya.

Dan mungkin di situ letak sesuatu yang sering hilang dalam debat filsafat tentang Tuhan: bahwa penderitaan jarang selesai oleh argumen.

Seorang anak yang kelaparan tidak membutuhkan teodise. Ia membutuhkan makanan.
Seorang ibu yang kehilangan anak tidak sedang meminta silogisme metafisik. Kadang ia hanya membutuhkan seseorang duduk di sampingnya tanpa banyak bicara.
Kitab Ayub sendiri menarik karena pada akhirnya Tuhan tidak benar-benar menjelaskan alasan penderitaan Ayub. Yang datang justru kehadiran, bukan argumentasi. Dan teman-teman Ayub yang paling bijaksana justru ketika mereka diam selama tujuh hari sebelum mulai memberi ceramah.

Mungkin memang ada batas di mana filsafat berhenti dan belas kasih mulai bekerja.

Tetapi manusia tetap akan bertanya. Sebab bertanya adalah cara kita melawan absurditas. Dan selama masih ada gempa bumi, kanker anak, perang, pengkhianatan, kesepian, dan kematian, pertanyaan itu akan terus muncul dalam berbagai bahasa.
Mengapa ada penderitaan jika Tuhan baik dan maha kuasa?

Tak ada jawaban yang sepenuhnya memuaskan. Agama memberi tafsir. Filsafat memberi kerangka berpikir. Sains memberi penjelasan biologis. Tetapi luka manusia selalu lebih besar daripada teori.
Namun mungkin justru di sana sesuatu yang paling manusiawi muncul: bahwa di tengah ketidakmengertian, manusia tetap menolong sesamanya, tetap berdoa, tetap mencintai, tetap menyalakan lilin di ruang yang gelap meski tahu malam tak akan benar-benar hilang.
Barangkali iman bukan keyakinan bahwa penderitaan punya penjelasan yang rapi.

Barangkali iman hanyalah keberanian untuk tetap hidup di dunia yang retak.

Discover more from bolakayu.id

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading