Ada sesuatu yang aneh dengan zaman ini. Banyak orang hidup lebih lama dibanding generasi sebelumnya, akses informasi nyaris tanpa batas, teknologi bergerak dengan kecepatan yang dulu hanya ada di fiksi ilmiah, tetapi justru di tengah semua itu muncul perasaan kehilangan yang sulit dijelaskan. Bukan sekadar kehilangan pekerjaan, hubungan, atau masa muda. Yang hilang terasa lebih besar dari itu. Seolah kita sedang menyaksikan lenyapnya sesuatu yang mendasar dari dunia ini: keindahan, harapan, stabilitas, bahkan masa depan itu sendiri.
Mungkin untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, ada generasi yang hidup dengan kesadaran penuh bahwa dunia yang mereka warisi sedang memburuk secara sistematis. Bukan hanya dalam satu aspek, melainkan hampir di semua lini sekaligus. Hutan-hutan terbakar. Laut menghangat. Demokrasi di banyak negara berubah menjadi panggung oligarki. Ketimpangan ekonomi melebar sampai titik absurd. Kota-kota menjadi mahal dan melelahkan. Kehidupan sosial makin rapuh. Dan yang paling menghantui: semua itu terjadi sambil kita menyaksikannya secara real time di layar ponsel.
Dulu manusia takut pada kiamat sebagai sesuatu yang datang tiba-tiba. Sekarang kita hidup di dalam versi kiamat yang lambat. Tidak spektakuler, tidak meledak dalam sehari, melainkan merayap sedikit demi sedikit ke dalam kehidupan sehari-hari.
Ada istilah yang mulai sering muncul dalam penelitian psikologi dan filsafat lingkungan: ecological grief, kesedihan ekologis. Para peneliti dari University of Tasmania mendeskripsikannya sebagai bentuk duka yang muncul akibat kehilangan ekosistem, spesies, atau lanskap yang dicintai. Ini bukan metafora puitis. Orang-orang sungguhan mengalami depresi karena sungai yang mengering, musim yang berubah, atau hutan yang hilang. Para ilmuwan iklim melaporkan tingkat kecemasan eksistensial yang tinggi setelah bertahun-tahun meneliti kerusakan bumi.
Psikolog Glenn Albrecht bahkan memperkenalkan istilah solastalgia, rasa sakit emosional ketika rumah dan lingkungan tempat kita hidup berubah menjadi rusak sementara kita masih tinggal di dalamnya. Dulu nostalgia berarti rindu pada rumah yang jauh. Sekarang orang merindukan rumah yang masih mereka tempati, karena rumah itu sendiri sudah berubah.
Dan mungkin di situlah letak tragedi modern: kita bukan hanya kehilangan dunia, tetapi kehilangan keyakinan bahwa dunia bisa diperbaiki.
Dalam banyak periode sejarah, manusia hidup dalam penderitaan yang jauh lebih brutal dibanding sekarang. Wabah, perang, kelaparan, penjajahan, angka kematian anak yang tinggi. Namun ada satu perbedaan penting. Sebagian besar masyarakat masa lalu masih memiliki horizon harapan. Mereka percaya masa depan bisa lebih baik, atau setidaknya percaya bahwa penderitaan memiliki makna kosmis.
Petani abad pertengahan mungkin miskin, tetapi mereka masih percaya pada keselamatan spiritual. Buruh abad ke-19 hidup sengsara, tetapi banyak yang percaya revolusi akan datang. Generasi pasca perang percaya pembangunan akan membawa kemajuan. Bahkan modernitas sendiri dibangun di atas keyakinan bahwa sejarah bergerak menuju kondisi yang lebih baik.
Hari ini keyakinan itu retak.
Survei global dari Edelman Trust Barometer beberapa tahun terakhir menunjukkan penurunan kepercayaan publik terhadap institusi hampir di seluruh dunia. Anak muda di banyak negara percaya mereka akan hidup lebih buruk dibanding orang tua mereka. Penelitian Lancet tahun 2021 terhadap puluhan ribu anak muda menemukan mayoritas responden merasa masa depan “menakutkan”, dan banyak yang percaya pemerintah gagal melindungi mereka dari bencana iklim.
Kita tumbuh di zaman ketika optimisme tidak lagi terasa natural.
Krisis ini bukan hanya material, melainkan spiritual. Dunia modern berhasil meningkatkan kenyamanan, tetapi gagal memberi orientasi makna. Kita tahu cara membuat algoritma yang bisa meniru suara manusia, tetapi tidak tahu bagaimana membuat masyarakat yang sehat secara emosional. Kita bisa mengirim miliarder ke luar angkasa, tetapi tidak bisa menyediakan rumah layak untuk jutaan pekerja.
Karl Marx pernah menulis bahwa dalam kapitalisme, “all that is solid melts into air.” Semua yang kokoh mencair ke udara. Kalimat itu terasa semakin relevan hari ini. Pekerjaan menjadi kontrak sementara. Hubungan sosial menjadi cair. Kota berubah terlalu cepat. Tradisi kehilangan daya ikat. Bahkan identitas pribadi menjadi proyek tanpa akhir.
Akibatnya, manusia modern hidup dalam kondisi yang oleh sosiolog Zygmunt Bauman disebut liquid modernity, modernitas cair. Tidak ada lagi sesuatu yang benar-benar stabil. Kita dituntut terus beradaptasi, terus memperbarui diri, terus bergerak. Dunia menjadi seperti treadmill psikologis yang tidak pernah berhenti.
Tetapi di balik semua itu, ada pertanyaan yang lebih sulit: bagaimana seseorang tetap hidup dengan baik dan benar di dunia yang terasa sedang runtuh?
Pada akhirnya, setiap orang dipaksa memilih sudut pandangnya sendiri. Mau tidak mau, kita harus menentukan bagaimana memaknai kerusakan ini. Sebab manusia tidak bisa hidup tanpa orientasi. Bahkan sikap sinis sekalipun sebenarnya adalah bentuk keyakinan.
Di titik ini, berbagai mahzab filsafat dan aliran pemikiran menawarkan jawaban yang berbeda.
Kaum pesimis, misalnya, melihat kondisi sekarang sebagai bukti bahwa sejarah manusia memang bergerak menuju kehancuran. Arthur Schopenhauer percaya hidup pada dasarnya dipenuhi penderitaan karena manusia selalu dikuasai hasrat yang tidak pernah selesai. Dalam versi modernnya, pesimisme muncul dalam bentuk doomerism, keyakinan bahwa kerusakan ekologis, politik, dan ekonomi sudah terlalu parah untuk diperbaiki.
Pandangan ini terdengar gelap, tetapi punya daya tarik tertentu karena terasa jujur. Banyak orang diam-diam merasa optimisme hari ini justru tampak naif. Ketika melihat kebakaran hutan, korupsi politik, perang, atau spesies yang punah setiap hari, pesimisme terlihat seperti respons yang realistis.
Namun masalah dari pesimisme total adalah ia sering berujung pada kelumpuhan moral. Jika semuanya memang akan hancur, mengapa harus peduli?
Di sisi lain ada kaum optimis teknologi. Mereka percaya manusia selalu berhasil keluar dari krisis melalui inovasi. Energi terbarukan akan menggantikan bahan bakar fosil. AI akan meningkatkan efisiensi. Rekayasa genetika akan membantu ketahanan pangan. Kapitalisme hijau akan menyelesaikan perubahan iklim.
Pandangan ini punya dasar tertentu. Dalam sejarah, teknologi memang sering menyelesaikan masalah besar. Harapan hidup meningkat. Kemiskinan ekstrem secara global menurun dalam beberapa dekade terakhir. Banyak penyakit berhasil dikendalikan.
Tetapi optimisme teknologi sering dikritik karena terlalu percaya bahwa masalah manusia hanyalah persoalan teknis. Padahal banyak krisis modern justru berasal dari struktur kekuasaan, keserakahan, dan logika pertumbuhan tanpa batas. Teknologi yang sama yang membantu manusia juga mempercepat eksploitasi bumi.
Ada pula posisi eksistensialis. Filsuf seperti Albert Camus berangkat dari gagasan bahwa dunia memang absurd. Tidak ada jaminan sejarah akan berakhir baik. Tidak ada makna universal yang otomatis tersedia. Namun justru karena itu manusia harus menciptakan maknanya sendiri.
Camus menulis tentang Sisyphus, tokoh mitologi yang dihukum mendorong batu ke puncak gunung hanya untuk melihatnya jatuh lagi selamanya. Bagi Camus, manusia modern mirip Sisyphus. Kita tahu dunia tidak sempurna. Kita tahu penderitaan tidak akan selesai. Tetapi kita tetap memilih hidup, mencintai, bekerja, dan melawan ketidakadilan.
“Kita harus membayangkan Sisyphus bahagia,” tulis Camus.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sebenarnya radikal. Ia menolak dua ekstrem sekaligus: nihilisme total dan optimisme palsu.
Lalu ada tradisi stoisisme yang beberapa tahun terakhir kembali populer. Kaum stoik percaya manusia tidak bisa mengendalikan dunia luar, tetapi bisa mengendalikan respons batin terhadapnya. Marcus Aurelius, kaisar Romawi sekaligus filsuf stoik, menulis bahwa kita harus fokus pada tindakan yang benar, bukan pada hasil akhir yang sepenuhnya berada di luar kuasa kita.
Dalam konteks zaman sekarang, stoisisme menawarkan ketenangan tertentu. Dunia mungkin kacau, tetapi kita tetap bisa hidup bermartabat, jujur, dan penuh tanggung jawab.
Namun kritik terhadap stoisisme adalah ia terkadang terlalu individualistis. Jika dibawa terlalu jauh, orang bisa menjadi pasif terhadap ketidakadilan struktural.
Sementara itu, tradisi kiri ekologis menawarkan analisis yang berbeda. Mereka melihat krisis modern bukan sebagai kecelakaan, melainkan konsekuensi logis dari sistem ekonomi yang mengejar pertumbuhan tanpa batas di planet yang terbatas.
Pemikir seperti Naomi Klein atau Jason Hickel berargumen bahwa krisis iklim, kepunahan massal, dan ketimpangan ekonomi saling terkait. Dunia tidak rusak karena manusia semata, tetapi karena bentuk organisasi ekonomi tertentu.
Hickel dalam riset-risetnya tentang degrowth menantang asumsi bahwa pertumbuhan ekonomi tanpa akhir adalah ukuran utama kemajuan. Ia menunjukkan bahwa banyak negara kaya sudah melewati tingkat konsumsi yang berkelanjutan secara ekologis.
Namun kubu ini juga menghadapi pertanyaan sulit: apakah masyarakat modern benar-benar bersedia mengurangi konsumsi dan ambisi materialnya?
Lalu ada pendekatan religius. Di tengah krisis modern, banyak orang kembali mencari spiritualitas. Bukan selalu dalam bentuk agama formal, tetapi pencarian akan sesuatu yang lebih besar dari individu.
Agama menawarkan narasi yang tidak dimiliki modernitas sekuler: bahwa penderitaan punya makna, bahwa dunia bukan sekadar pasar, bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral terhadap ciptaan.
Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’ menulis kritik tajam terhadap budaya konsumsi dan eksploitasi lingkungan. Ia menyebut bumi sebagai “rumah bersama” yang sedang dirusak oleh kerakusan manusia.
Dalam Islam, konsep khalifah menempatkan manusia sebagai penjaga bumi, bukan penguasa absolut atasnya. Dalam Buddhisme, penderitaan muncul dari keterikatan dan keserakahan. Dalam tradisi-tradisi spiritual ini, krisis modern bukan hanya kegagalan politik, tetapi kegagalan moral dan batin.
Tetapi agama pun tidak otomatis memberi jawaban sederhana. Banyak institusi keagamaan juga terjebak dalam politik kekuasaan, nasionalisme, atau kapitalisme yang sama.
Jadi, mana yang benar?
Mungkin tidak ada jawaban final.
Mungkin inti dari hidup manusia memang bukan menemukan posisi yang sempurna, melainkan memilih cara memandang dunia yang memungkinkan kita tetap hidup secara jujur.
Karena pada akhirnya, manusia tidak pernah hidup berdasarkan fakta semata. Kita hidup berdasarkan cerita yang kita pilih untuk dipercaya.
Ada orang yang melihat dunia dan berkata: semuanya sia-sia.
Ada yang berkata: kemajuan akan menyelamatkan kita.
Ada yang berkata: yang penting menjaga kewarasan pribadi.
Ada yang berkata: kita harus melawan sistem.
Ada yang berkata: harapan adalah kewajiban moral.
Dan pilihan-pilihan itu akan menentukan bagaimana seseorang menjalani hidup sehari-hari.
Cara ia bekerja.
Cara ia mencintai.
Cara ia memperlakukan orang lain.
Cara ia membesarkan anak.
Cara ia menghadapi kematian.
Di tengah semua kerusakan ini, mungkin pertanyaan terpenting bukan “apakah dunia akan baik-baik saja?” melainkan “manusia seperti apa yang ingin kita jadi ketika dunia sedang tidak baik-baik saja?”
Pertanyaan itu penting karena sejarah menunjukkan bahwa manusia mampu beradaptasi dengan hampir apa pun, termasuk keburukan. Orang bisa terbiasa dengan ketidakadilan. Bisa terbiasa melihat kebohongan politik. Bisa terbiasa hidup di kota yang penuh polusi. Bisa terbiasa melihat perang di layar sambil makan malam.
Bahaya terbesar bukan hanya kehancuran dunia, tetapi normalisasi kehancuran.
Hannah Arendt pernah menulis tentang “banality of evil”, banalitas kejahatan. Kejahatan besar sering lahir bukan dari monster, tetapi dari manusia biasa yang berhenti berpikir secara moral.
Dalam konteks hari ini, mungkin kita menghadapi banalitas keruntuhan. Dunia memburuk bukan hanya karena adanya aktor jahat besar, tetapi karena jutaan orang merasa tidak punya pilihan selain mengikuti arus.
Karena itu memilih sudut pandang bukan perkara abstrak. Ia menentukan tindakan konkret.
Jika seseorang percaya manusia pada dasarnya egois dan dunia tidak bisa diselamatkan, ia mungkin memilih hidup sinis dan individualistis.
Jika seseorang percaya solidaritas masih mungkin, ia mungkin tetap membantu komunitas lokal, menjaga lingkungan, atau membangun hubungan yang bermakna meski tahu semua itu kecil.
Dan anehnya, sering kali justru tindakan kecil itulah yang membuat hidup terasa layak dijalani.
Seorang guru yang tetap mengajar dengan sungguh-sungguh.
Petani yang menjaga tanahnya.
Orang tua yang membesarkan anak dengan kasih sayang.
Tetangga yang saling membantu saat banjir.
Dokter yang tetap peduli pada pasien miskin.
Aktivis yang menanam pohon meski tahu satu pohon tidak akan menghentikan krisis iklim.
Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam tindakan-tindakan itu. Seolah manusia berkata: mungkin dunia tidak bisa diselamatkan sepenuhnya, tetapi aku menolak ikut memperburuknya.
Dan mungkin di situlah bentuk harapan yang paling realistis hari ini.
Bukan harapan besar bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Bukan optimisme kosong.
Melainkan keyakinan sederhana bahwa hidup tetap memiliki nilai meski rapuh.
Filsuf Amerika Jonathan Lear menggunakan istilah radical hope, harapan radikal. Harapan yang muncul justru ketika dunia lama runtuh dan masa depan belum jelas bentuknya. Harapan yang tidak bergantung pada kepastian.
Itu berbeda dari optimism.
Optimisme berkata: hasilnya akan baik.
Harapan radikal berkata: aku tetap akan hidup secara bermakna bahkan ketika hasil akhirnya tidak pasti.
Mungkin itu yang dibutuhkan generasi sekarang.
Karena kita memang generasi pertama yang berkabung atas masa depan.
Dulu orang takut tidak punya masa depan. Sekarang banyak orang takut masa depan itu sendiri akan menjadi tempat yang lebih buruk.
Namun di saat yang sama, kita juga generasi pertama yang benar-benar sadar bahwa seluruh kehidupan di bumi saling terhubung. Krisis iklim di satu tempat memengaruhi tempat lain. Kepunahan spesies memengaruhi rantai kehidupan global. Ketimpangan ekonomi di satu negara terkait dengan eksploitasi di negara lain.
Kesadaran itu menyakitkan, tetapi juga membuka kemungkinan baru tentang solidaritas.
Mungkin manusia akhirnya dipaksa tumbuh dewasa sebagai spesies.
Bukan lagi melihat bumi sebagai gudang sumber daya tanpa akhir, tetapi sebagai rumah yang rapuh.
Bukan lagi melihat hidup sebagai perlombaan akumulasi tanpa batas, tetapi sebagai hubungan yang harus dijaga.
Tentu saja ini tidak otomatis terjadi. Bisa jadi dunia justru bergerak ke arah yang lebih otoriter, lebih brutal, lebih terfragmentasi. Sejarah tidak punya kewajiban untuk bahagia.
Tetapi justru karena itulah pilihan moral menjadi penting.
Di dunia yang kehilangan banyak hal indah, menjaga sedikit keindahan yang tersisa bisa menjadi tindakan politik sekaligus spiritual.
Menjaga persahabatan.
Menanam pohon.
Membaca buku.
Merawat keluarga.
Membela orang lemah.
Menciptakan seni.
Berbicara jujur.
Semua itu mungkin tampak kecil dibanding skala krisis global. Tetapi hidup manusia memang selalu berlangsung dalam skala kecil.
Tidak ada seorang pun yang benar-benar menyelamatkan dunia sendirian. Yang bisa dilakukan manusia hanyalah memilih bagaimana ia hadir di dunia.
Dan mungkin itulah jawaban paling jujur untuk zaman ini.
Bahwa setiap orang pada akhirnya harus memilih opininya sendiri tentang hidup.
Memilih apa yang layak dicintai.
Memilih apa yang layak diperjuangkan.
Memilih apa yang tidak boleh dibiarkan mati di dalam dirinya.
Sebab dunia mungkin memang sedang kehilangan banyak keindahan.
Tetapi selama masih ada manusia yang mampu merasakan kehilangan itu, mungkin belum semuanya benar-benar hilang.